Kondisi / warna busi nggak selalu bisa dipakai untuk mengetahui kondisi mesin bro!


Kita mungkin sering diinformasikan tentang bagaimana mengetahui kondisi kesehatan mesin berdasarkan pada warna busi. Banyak website yang sudah membahasnya, salah satunya adalah:

Sparkplug Guide, Motorcycle Sparkplug Maintenance Tips to keep your motorcycle at peak condition.
gambarbusi

Atau seperti berikut ini:
Auto Repair #13: Spark Your Car’s Performance Use the Proper Spark Plugs & Spark Plug Wires

Beberapa ada yang juga memakai kondisi busi untuk mengetahui campuran bahan bakar yang baik. Seperti website berikut ini:
HOW TO READ SPARK PLUGS
photo_spark_plug_reading

If you cannot perform this safely on a dyno, or at your local drag strip then take it to a shop. Use a fresh plug or one that has only a few passes on it. This works best in top gear or an upper gear on a slight uphill area. After running the engine at full throttle for about 8 to 10 seconds ( do not run up on the rev limiter as this will give a false reading of the plugs) do the following at the same time: pull in the clutch and stop the engine. DO NOT let the engine idle and DO NOT let the clutch out until the vehicle has come to a stop. Remove the spark plug and examine the INSULATOR (the porcelain) color. White is lean and black is rich. Best color is a tan to grayish-white. White means main jet is too small (lean) and black means main jet is too big (rich).

Sayangnya, kualitas bahan bakar di Indonesia akan membuat pengamatan bisa keliru. Tidak percaya? Lihat gambar berikut ini.
busipremium
busipertamax

Gambar diambil dari website cicakkreatip.com. Informasi lebih lengkap bisa dibaca di website tersebut atau di artikel sebelumnya. Gambar tersebut diambil dari kendaraan yang sama. Yang pertama adalah hasil pakai bensin premium. Yang kedua, yang lebih kotor, adalah hasil pakai bensin pertamax plus. Terlihat bahwa gara – gara pewarna yang tidak terbakar, busi terlihat kotor. Itu padahal hanya tes dari jarak 100km. Bisa dibayangkan nanti kalau sudah 10.000km?

Jadi bisa saja walau campuran bensin sudah pas, kondisi mesin baik, hasil akan lebih gelap dari yang seharusnya, bikin kita salah perkiraan dan membuat bensin justru terlalu irit misalnya.

Harus diingat bahwa oli mesin juga akan ikut mempengaruhi hasil. Oli mesin yang tidak bagus bisa membuat mesin berkerak. Ini juga akan membuat pengamatan keliru.

Dan untuk sebaliknya, bisa juga hasil busi akan menjadi lebih terang walau sudah disetel boros. Hasil ini bisa kita peroleh kalau kita memasang alat penambah tenaga. Ini saya alami waktu dulu saya masih pakai Supra Fit X dan dalam rangka eksperimen alat penghemat tenaga cemenite.

Maaf saya harus cerita dulu apa efek dari cemenite. Cemenite itu menambah tenaga, tapi efeknya jadi seperti campuran bensin diperkaya. Jadi untuk mendapatkan tenaga yang lebih banyak lagi, setelan bensin harus lebih diperirit. Bila tidak begitu, mesin bisa jadi mbrebet atau akselerasi tidak maksimal.

Lalu karena setelan lewat putaran pilot jet sepertinya sudah mentok, saat servis saya meminta agar kendaraan dibuat lebih irit lagi. Saat itu skrup main jet dan pilot jet sudah maksimal, sehingga saya berpikir untuk mengganti main jet dengan ukuran lebih kecil. Namun sang mekanik yang menangani memberi informasi yang kira – kira begini:
“Ini sudah terlalu ngirit mas! Businya warnanya terlalu cerah (saat itu kuning cerah hampir putih). Kalau ditambah irit sedikit lagi mesin bisa rusak!”

Sehingga akhirnya batal untuk menambah irit, jadinya mengalah untuk mengurangi kekuatan cemenite yang dipakai agar akselerasi jadi bertambah. Saat itu Supra Fit X yang 100cc performanya kira kira setara dengan empat tak 120cc, soalnya jelas lebih banter dari kelas 115cc seperti Smash 115cc atau Vega 110cc atau Jupiter Z 115cc.

Beberapa orang yang sudah mencoba cemenite ini juga memberikan informasi yang sama, busi jadi lebih putih. Menurut saya sih ini tanda pembakaran lebih sempurna, sehingga kerak berkurang, dan membuat tanda hitam jelaga berkurang.

Alat penambah tenaga yang lain juga memberikan informasi serupa. Sehingga saat kita sudah menggunakan alat penambah tenaga, kita sudah tidak bisa lagi berpatokan pada kondisi busi. Bisa saja oli jelek, seal bocor atau bensin kebanyakan pewarna yang seharusnya bikin kerak di mesin menjadi terbakar lebih sempurna karena bantuan dari alat penambah tenaga.

Bisa jadi ini juga akan mempengaruhi penilaian mesin kalau pakai uji keluaran O2. Ada beberapa bengkel yang mengandalkan uji keluaran O2 untuk mengeset mesin. Contohnya seperti ini:
[Belajar ECU bag-2] Belum Mampu Ngoprek ECU…. Ya Sudah Oprek Sensor O2-nya Saja. (Resep Ringan Upgrade Top Speed New Vixion Lightning)
astoich2
abentuk_gelombango2_sensor2

Kalau sudah pakai alat penambah tenaga, diagnose mereka bisa salah. Oleh karena itu, bila mau servis atau cek mesin dengan menggunakan kondisi busi, dilepas atau dimatikan dulu alat penambah tenaganya, agar hasil pengamatan bisa lebih sesuai dengan standar yang dibutuhkan.

42 thoughts on “Kondisi / warna busi nggak selalu bisa dipakai untuk mengetahui kondisi mesin bro!

  1. Itu cemenitenya diletakkan di mana yang optimal?, terus kalau dibandingkan dengan cic lebih kerasa yang mana efeknya? Bisa dikombinasikah pemakaian cemenite dan cic atau dengan booster yang lain?
    thxb4

    Suka

    • cemenite saja cukup kok. kalau kecil taruh selang bensin, kalau kebesaren taruh di jok kalau kebanyakan justru nggak bagus.

      Kalau dibanding dengan magnet, kira – kira 4 kali lebih kuat.

      Suka

  2. Mas klo untuk dimensi cemenite itu sndiri diameter harus slalu lbh besar ya dr pd tingginya? Klo untuk motor ukurannya kurang lbh segitu..
    Tp bisa ga mas klo dtaruh untuk perkebunan semacam kebun kelapa sawit? Semisal perlu ukuran berapa buat 2 hektarnya,atau perlu berapa biji?
    Maaf mas sblmnya,ane baru bgt mngenal istilah cemenite n orgon,awalnya sih susah dtrima nalar,tp ane lama2 bisa mencernanya..
    Smisal dlm pikiran “masa sih barang mati skecil itu bs mngendalikan cuaca?” hehehe..
    Tolong djawab ya mas yg untuk kebun td..

    Suka

    • Untuk cemenite sendiri memang diameter harus lebih besar dari tinggi, kalau tidak energinya bisa hilang atau terbalik.

      Kalau untuk motor, ukuran diameter 6cm termasuk kebesaren. Ciri kalau kebesaren itu torsi di rpm rendah bertambah atau susah dikontrol, tapi akselerasi terlalu halus, nggak nonjok. Kalau pas, torsi rpm rendah kuat dan akselerasi nonjok. Top speed biasanya sama kencangnya, cuma kalau kebesaren butuh waktu lebih lama. Kalau buatnya salah, top speednya turun.

      Kalau untuk tanaman, efek bisa terhalangi oleh daun atau dinding. Bila diatas permukaan tanah, radius efek kira – kira 2-3 meter. Bila ditanam, cuma tanaman yang akarnya nempel yang terpengaruh. Kalau untuk perkebunan kelapa sawit, jadinya sepertinya butuh satu cemenite ukuran kecil (diameter 6 cm atau kurang) untuk tiap pohonnya. taruh diatas permukaan tanah dekat batang.

      Suka

  3. Waaaah ajaib bgt ya cemenite ini ngoahahahaha..
    Oh iya mas,itu cuma ditaruh aja kn? Ga dikubur?
    Trs cemenite yg paling besar itu sberapa mas ukurannya? Smisal bwt kendalikan cuaca? Trs menaruhnya apa di atas genteng?
    Maaf mas aq tanya trs,biar ilmu ini bisa ane sosialisasikan hehehe..
    Btw makasih lo mas..

    Suka

    • he he.

      Kalau dikubur efeknya jadi tidak bisa jauh. cobakan ke pohon yang berbuah juga.

      untuk cuaca sebaiknya minimal diameter 8cm. dtaruh diatas permukaan tanah jangan terhalang. Kalau bisa di batu, semen, paving atau aspal agar tidak tertutup tanaman.

      Suka

  4. Mas, kenapa ngga bikin cemenite untuk dijual, kan bisa sekalian bantu2 orang yg belum bisa/blm sempat/ga ada waktu bikinnya… hehehe

    Suka

  5. Selamat malam mas
    Saya Ariel punya pertanyaan tentang cemenite sama orgonite efeknya ke kendaraan sama atau beda ya ?

    Saya orangnya walau cuman naik Supra fit tapi sangat menghargai yang namanya performa motor🙂
    Jadi kalo saya pakai orgonite (kalung) apakah bisa berefek pada motornya ?

    Suka

    • Kalau yang dari saya punya, orgonitenya justru mengurangi top speed supra fit saya dari asalnya 100km/h menjadi 90km/h. Suara mesin juga jadi lebih kasar. Biasanya efek orgonite itu kebalikan dari cemenite.

      Namun bisa jadi berbeda. Tinggal dicoba saja. Karena kalau ke motor resikonya suara mesin lebih kasar dan akselerasi berkurang, mending dicoba uji es dulu, taruh air lalu dibekukan. Kalau esnya munjung / nggak rata dan warna disekitar orgonitenya kemungkinan efeknya jelek ke motor.

      Suka

  6. Sekedar share, Busi punya Masa Break In juga gan,,,
    https://luqmanulhackim.wordpress.com/2016/06/22/masa-break-in-pada-busi-dan-sekilas-tentang-tafsir-busi/

    Saat masih baru, warna tidak akan muncul, tapi ketika digunakan lebih lama, warna busi akan muncul,,,

    Bagi yg sering bongkar ruang bakar, pasti menyadari kalau warna busi sama dengan warna pada Cylinder Head (ruang bakar bagian atas), makanya kita cek lewat busi aja, daripada bongkar cylinder kan ?

    karena AFR bisa dicek lewat warna pada cylinder head gan,,,

    Mengetahui kondisi AFR dari kondisi/warna busi itu udah mutlak gan, bahkan pihak NGK dan Denso pun mengamini akan hal itu.

    Kalau ternyata busi masih bersih putih, pada bagian insulator saat busi masih baru, itu wajar, tapi jika sudah lama masih sama, berarti AFR terlalu Lean.

    Tiap bagian busi pun punya arti masing-masing,,,

    Inner Ring untuk AFR Low RPM/Idle, dan mengetahui apakah Heat Range busi sudah tepat
    Insulator Nose untuk AFR Mid to High RPM / Full Throttle
    Side Electrode untuk Average AFR dari Low, Mid, High RPM.

    Jika Insulator dan Side Electrode sudah menghasilkan warna, misal coklat kekuningan, atau merah bata, tapi Inner Ring masih hitam dipenuhi carbon fouling, berarti salah menentukan Heat Range, solusinya ganti ke Heat Range lebih panas.

    Busi paling baik itu kayak gambar dibawah ini:

    perhatikan kondisi busi diatas, keseluruhan bagian busi berwarna merah bata, artinya AFR sudah sangat baik dari low, mid sampai high RPM,,, dan pemilihan Heat Range busi sudah tepat.

    Jika ternyata bagian center electrode meleh akibat heat range busi yang lebih panas, maka solusinya upgrade material center electrode ke platinum atau iridium, sedangkan heat range masih sama

    busi diatas itu NGK CPR6EA-9S (Nickel) pada Vario 125i, tapi problem nya adalah center electrode melelh, seperti gambar dibawah ini (zoom 20x)

    maka solusinya ganti ke busi Platinum NGK CPR6EAGP-9 atau Iridium NGK CPR6EAIX-9,,, ingat, kode harus sama yakni CPR EA dan heat range masih sama yakni 6, hanya material center electrode yg diupgrade jadi platinum GP atau Iridium IX.

    banyak orang yg salah gan, kondisi udh bagus kayak gambar diatas, tapi karena center electrode meleh, malah dia ganti heat range busi ke lebih dingin, misal ke NGK CPR9EA-9. Jadinya inner ring hitam penuh carbon fouling dan busi malah putih pucat,,, nah jika heat range salah pilih,,, bacaan warna busi juga tidak akurat seperti yg ente bilang.

    jadi, kalo mau baca kondisi AFR dari warna busi, hal utama yg dicari lebih dulu adalah Heat Range busi yg tepat,, indikator nya dari inner ring (inner ring itu bagian dimana side electrode disambungkan dengan cara di las, biasa disebut bibir busi).

    cara menentukan heat range pada motor injeksi, hidupkan mesin selama 1 jam di stasioner/idle,,, lalu dinginkan mesin,,, kemudian copot busi, jika busi basah apalagi hitam berarti butuh busi yg heat range nya lebih panas dari busi tersebut.

    patokannya selalu gunakan busi standard yg ditentukan enginer,, misal Vario 125 itu standard nya NGK CPR7EA-9, maka naik turun nya heat range adalah dimulai dari heat range level 7,, bisa ke 6, 5 lebih panas,,, atau 8, 9 lebih dingin,,,

    kenapa AHM memilih merevisi busi Vario 125 dari NGK CPR7EA-9 ke NGK CPR9EA-9 ?, karena AHM gk mungkin upgrade busi ke Iridium NGK CPR7EAIX-9 kan ?, kelas nya beda sob,,, lain kalo motor sport macam CBR250 yg busi standardnya adalah NGK Iridium Max SIMR8A-9,, nah CBR yg mesinnya 250 cc aja Heat Range cuma 8, masa Vario yg cuma 125 cc Heat Range 9 ?

    karena keputusan AHM tersebutlah, banyak pengguna Vario 125 yg mengeluh mesin motornya harus dipanasi lebih lama, jika kurang pemanasan, maka tarikan akan ngempos/lose power,,, wajar karena busi nya heat range 9 paling dingin.

    ironis nya, banyak pengguna yg menggunakan busi iridium tapi malah heat range 9, seperti NGK Iridium IX CPR9EAIX-9 atau Denso Iridium Powe IU-27,,,,

    jenis insulator juga diperhatikan,, projected insulator itu dia self-cleaning ability lebih baik daripada non projected insulator.

    sorry kalo panjang, blog ane sepi bro😀, entah SEO nya jelek banget atau gimana ane gk paham, makanya artikel ane kembalikan ke draft semuanya, ane share di forum dan di komentar blog-blog kondang macam blog ente😀

    Suka

    • Terima kasih banyak sharingnya, silahkan. Iya, banyak orang yang ngawur dalam pilih heat range busi. Kalau terlalu dingin bisa susah menyala mesinnya, bisa berabe kalau dipakai macet macetan tapi hujan deras di dataran tinggi, kalau terlalu panas bisa overheat mesinnya, bisa berabe kalau dipakai ngebut.

      Untuk contoh busi diatas, rasanya yang bikin meleleh itu salah bensinnya. Karena warna hitam, tapi kok ada butiran butiran, warna hitam pertanda pembakaran tidak sempurna (kegagalan pembakaran, misfire karena heat range kurang panas), tapi kok ada butiran pertanda knocking (overheat karena heat range kurang dingin). Ini bisa terjadi bila motor dengan kompresi tinggi filter udaranya dilepas, pakai knalpot racing, tapi bensinnya pakai premium. Pakai busi iridium atau inti tembaga yang heat rangenya lebih lebar bisa membantu tapi tidak tuntas.

      Suka

      • busi diatas itu pake bensin premium gan,, iya bener pre-ignation kayaknya,,,

        ane pake pertamax justru busi semakin panas, semakin mantap,,,

        buat jarak-jarak pendek, busi panas mantap,, buat jarak jauh, busi agak dingin, tapi jgn terlalu dingin,,,

        salah satu engine management dari ATPM agar bisa aman pake premium ya pake busi dengan heat range sangat dingin, misal standardnya 7 tapi untuk aman pake premium jadi 9,,,

        yg lucu itu, bensin udh pertamax, pake busi iridium, tapi masih mau-mau aja ngikutin heat range yg harusnya untuk bensin premium,,,, haha,,,

        Suka

        • Iya, setuju. Menurut saya bensin pertamina memang kualitasnya kurang sekali. Jadi heat range busi harus benar benar pas. Kalau sampai heat rangenya salah efeknya lebih parah.

          Banyak yang pakai busi dingin mengklaim lebih ok, tapi toh nyatanya masih mengalami engine overheat, tenaga di rpm atas ngedrop, kalau pagi mesin susah menyala. Perbedaan juga tidak bisa diukur baik dari sisi irit maupun performa. Begitu juga nggak curiga saat businya hitam.

          Suka

          • jgn digeneralisir juga,,, yg jelek itu cuma Premium gan,,, sedangkan Pertamax Series udah baik,, masalah cuma di zat pewarna, konsekuensi memilih warna biru dan merah,,, beda dengan warna kuning yg lebih mudah terbakar, sedangkan biru dan mera lebih sulit,,, tapi itu bisa jadi indikator mesin tidak mencapai suhu ideal nya, bisa karena pemilihan heat range busi terlalu dingin, ditambah riding style yg terlalu pelan dan jarak pendek (100 KM itu pendek).

            jika sebab ente menggeneralisir bensin Pertamina jelek, meskipun Pertamax Series sekalipun, dari artikel uji kebersihan di cicakkreatif, maka kurang bijak,,,

            soalnya bensin yg digunakan tidak sesuai rasio kompresi, dan sepertinya pengapian motor nya (meski baru) juga kurang baik,,,

            di Vario 125i ane, Pertamax Series gk meninggalkan pewarna di intake manifold maupun ruang bakar, udh ane buktikan sendiri dengan cara bongkar langsung gan,,, soalnya motor ane CR nya 11:1, jadi sesuai,,,

            kalo cuma karena pewarna, tidak lantas bisa dibilang jelek juga,,, soalnya pewarna itu cuma solvent dye doang,,,

            memang dalam dunia otomotif, satu kasus masalah bisa salah diagnosa akar penyebab masalah sebenarnya gan, misalnya solvent dye yg gk kebakar menandakan mesin gk mencapai suhu idealnya dan pengapian kurang powerful.

            sebenarnya yg patut disalahkan itu ATPM yg mengutak atik motor yg harusnya minum RON 92 / 95 agar bisa minum RON 88,,, jadinya konsumen yg pake bensin sesuai kompresi jadi serba salah,,,

            Suka

            • Soalnya begini, di grup Ayla selama ini yang diketahui kemampuan 0-100nya Ayla lebih dari 15 detik. Banyak orang juga bilang Ayla lambat untuk menyalip. Kemudian saya ada kesempatan tanya sama pemilik Wigo (sama ngeplek dengan Agya api di filipina) ternyata 0-100 Wigo bisa 13 detik. Jadi mesin, spesifikasi, sama persis, tapi 0-100 bisa beda 3 detik. Beda ini saya rasa karena bensinnya. Wigo diekspor dari Indonesia tapi performa di filipina jauh lebih bagus.
              Mobil Murah RI `Wigo` Ekspor Perdana ke Filipina

              Bensin alternatif selain pertamina adanya shell, sementara shell di Indonesia nggak jualan bensin bagus mereka VPower, yang dijual cuma yang biasa maksimal oktan 92. DI australia Vpower itu oktan 98. Juga di luar negeri orang tahunya bensin total yang bagus, lebih bagus dari shell. Orang Indonesia tidak punya perbandingan bensin yang tenaganya bagus.

              Pertanda lain, motor dan mobil yang pakai perubah sifat bensin pro capacitor tenaga bisa jauh meningkat. Efek tidak sebesar dari hasil percobaan dari rekan kerja yang di Thailand. Di Ayla saya sendiri pun performa jadi mendekati performa Wigo. Bila disamakan dari 80km/h, saat Ayla saya atau Wigo mencapai 110km/jam, Ayla/Agya perbandingan baru di 100km/jam, atau kalau modif masih di 105km/jam.

              Suka

            • Sebenarnya lebih ke formulasi aja, base fuel nya tetap sama,,,

              sama kayak oli mesin,,, sama-sama Base VHVI tapi beda merk beda performa, beda masa pakai, dsb

              soal kebersihan mesin, Pertamax Series dan Shell itu sama-sama pakai PEA (Polyetheramine), kesalahan Pertamina cuma warna aja, Solvent Dye warna Biru dan Merah memang punya masalah tersendiri dibandingkan warna kuning.

              Lucu memang, bensin terjelek di Indonesia justru namanya Premium, dan menggunakan warna terbaik yakni Kuning, mungkin untuk menyamarkan kejelekan Premium, coba Premium warna merah, bisa dibayangkan deh hasilnya gimana.

              Misi Pertamina untuk Pertamax Series memang “Green Product”, jadi performa nya emang gk sebaik produsen lain.

              Ane sih mengatasi masalah itu pakai Norival Fuel Enhancer, soalnya dia ngeboost RON, MON, dan Entalphy.

              Ane mau tanya gan,,,

              Pada mesin 125 cc, Rasio Kompresi 11:1 (Dinamic 10,5:1), apakah derajat timing pengapian 12° sebelum TMA itu Retard, Advanced, atau Normal ?

              Suka

            • Iya, mungkin rasio beda. Zat perwana juga bisa jadi penyebab, selain kerak juga mengurangi performa. Tidak yakin juga green product karena selain pertamina juga produk green tapi performa lebih bagus. Rasanya lebih ke problem ketinggalan teknologi dan profit.

              Nggak enaknya pakai aditif itu kalau rasio nggak pas jadi nggak maksimal, sehingga harus bisa mengkalkulasi rasio yang pas setiap kali isi bensin. Kalau sudah biasa sih no problem. Cuman dealer mobil biasanya bilang pakai aditif menggugurkan garansi.

              Soal kompresi rasanya itu advance banget. Sebagai perbandingan, Daihatsu Ayla kompresi 10.4:1 normal waktu pengapian 2-4 derajat. Kalau pakai premium bisa sampai 6 derajat SESUDAH TMA. makin telat, makin berkurang tenaganya. ditelatkan untuk mengurangi gejala pre ignition.

              Suka

            • Saya baca baca lagi ternyata kalau untuk motor pengapian memang maju sekali. 12 masih termasuk normal, tidak tahu apakah ini berlaku untuk kompresi berapa. sebaiknya cek busi juga, ada ata tidak butiran (baik kuning ataupun hitam).

              Data Kurva Derajat Pengapian Motor Standar dan Balap

              Pengapian pada motor standart bawaan pabrik umumnya terjadi Pada RPM rendah (1.000 – 3.000 RPM) loncatan api pada 8 – 15 derajat sebelum TMA dan Pada RPM tengah tinggi (4.000 ke atas) loncatan api pada 25 – 30 derajat sebelum TMA

              MAKSIMALKAN PENGAPIAN KUDA PACU BALAP

              ditinjau dari data timing pengapian, CDI New Smash lebih molor di 15 derajat sebelum TMA saat rpm 1500. Sedang CDI Satria-FU timing pengapiannya lebih rapat, yakni 5 derajat sebelum TMA. “Tapi ingat, makin awalnya timing pengapian, power bawah berpeluang terkuras dan top speed dipastikan ngedrop,” terang Gundul Speed di Tenggilis 69, Surabaya yang sukses menerapkan di Satria F.

              Mengatur Timing Pengapian secara Tepat!

              Tepi kenapa kita meletakkan titik nyala busi sebelum TMA ? Karena seiring putaran mesin semakin tinggi, gerak piston semakin cepat pula. Oleh karenanya titik pengapian yang berubah-ubah ( ter – program ) tidak terkunci secara tetap seperti cdi standard, diharapkan mampu mencegah kehilangan tenaga akibat ledakan terjadi namun piston sudah bergerak turun jauh. Oleh karenanya memajukan titik pengapian juga diperlukan. Kemudian bahan-bakar, oktan bahan-bakar semakin tinggi – berarti semakin dingin dan lambat terbakar, hal ini juga memerlukan titik pengapian maju. Karburator setingan kering, kecepatan pembakaran lambat, ini juga membutuhkan titik pengapian advance.

              Untuk detail mesin modifikasi / balap , fakt0r-faktor penting yang mempengaruhi titik ledak pengapian diantaranya adalah :
              Desain dan ukuran kubah ruang bakar
              Durasi noken as
              Posisi letak busi di kubah
              kadar kalori bahan bakar
              Emisi gas buang
              Suhu udara di intake
              Titik ledak aman sebelum terjadinya detonasi

              Suka

            • Data blog mobilmogok.com rata-rata 15 derajat ya untuk motor balap, soalnya rpm tinggi.

              15 derajat berarti retard / mundur ?

              sedangkan 12 derajat berarti advanced / maju ?

              berarti motor dengan kompresi 11:1 dengan derajat pengapian 12 derajat itu harus pakai RON 95 dong ?

              Suka

            • Dari daftar di blog tersebut, dipisahkan antara rpm rendah dengan yang tinggi. rpm rendah menengah 15 derajat, rpm tinggi 35 derajat.

              Karena sebelum TMA, maka di sebut advance. 35 derajat sebelum TMA lebih advance daripada 15 derajat sebelum TMA. Sepertinya untuk motor sudah didesain dengan pengapian yang advance.

              Kalau untuk bensinnya, sepertinya variant Vario memang tidak cocok premium, baik dari sisi tenaga ataupun halusnya mesin. Kecuali kalau bensinnya dikatrol. Contoh contoh di blog tersebut rasanya kompresi mesinnya dibawah Vario semua.

              Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s