Bercerita bagaimana mereka mengembangkan motor mereka, Honda dan Suzuki pakai kisah nyata, lalu Yamaha pakai kisah fiktif


Selama melakukan review terhadap teknologi motor, saya berusaha mencari tahu sebenarnya bagaimana pihak pabrikan mengembangkan motor mereka. Dan ternyata pihak pabrikan memberikan cara presentasi yang berbeda – beda untuk menjelaskan bagaimana mereka mengembangkan motor mereka.

Pabrikan motor Honda menggunakan cerita bagaimana peneliti mereka melakukan pengembangan dengan memberikan contoh pada CB1100 mereka. Ada yang soal desain:
Honda Worldwide | Design | Designers Talk | CB 1100

I like the metallic sound the engine makes as it cools… A motorcycle’s engine should have oil in it, not water… Just looking at the cooling fins inspires me… There is something about an air-cooled engine—a feeling you simply can’t get from the liquid-cooled engine in a high-performance bike. To me, a bike rider and a bike fan, a future without air-cooled engines just didn’t seem right. And I was certain I wasn’t the only one who felt this way!

Soal bodi dan mesin, menceritakan bagaimana para peneliti berdiskusi untuk mendapatkan hasil yang terbaik:
Honda Worldwide | CB1100 | Beyond the Plans: Building Emotions into the Bike

Sekiya:
You created a large-displacement air-cooled engine from scratch. Did you have to overcome new challenges to make the engine reliable?

Minami:
Our fundamental goals were output and reliability, and we didn’t have any problems attaining the output required for an attractive air-cooled 1100 cc engine. The difficulty was producing an air-cooled engine with the same – or superior – reliability as its water-cooled counterpart.
There was a lot of trial-and-error, but that didn’t mean we should produce an engine with old technologies, and anyway, we had a different perspective, as we were going out of our way to produce an air-cooled engine in the water-cooled age. So, we had to continue with the trial-and-error process to establish test parameters.

Doyama:
Well, that’s my field of expertise. The output curve in catalogs are graphs of the output per engine revs at full throttle, but we overlaid the output curve for every 1º between a closed and fully-open throttle. We then identified on the graphs ‘freehearted,’ ‘relaxed,’ and ‘deep rumble.’ We then road-tested the bike, finding that some times we’d have ‘deep rumble’ but no ‘relaxed,’ and so on. Our work entailed modifying the CB1100’s output characteristics from its base, the CB1300SF, and by this output distribution methodology, we can recreate on an air-cooled machine the feel of a water-cooled bike.
The engine feel for the 2014 model reflects and refines the opinions of our customers and the R&D Center, and we’ll refine it even further. Maybe it will be a process of going as far as we can, then coming back to the beginning.

Teranishi:
I was convinced. Even as the bike’s designer, I could definitely tell the difference in ‘ride’ by changing the hub shape. That’s why we repeated test after test to strike the balance between hub shape and performance. The finished hub’s shape and curve radius is the result of our repeated testing.

Diskusi yang dilakukan oleh para peneliti di atas membuat kita lebih mengerti bagaimana seriusnya peneliti untuk mendapat hasil yang diinginkan. Sementara proses urutan dari mulai desain sampai hasil akhir produksi ditunjukkan pada link berikut:
Honda Worldwide | Honda R&D | Motorcycle R&D Center
risethonda

 

Suzuki mengambil cara berbeda, dengan membuat video yang menunjukkan contoh pengembangan pada motor Suzuki Shooter mereka:

 

Yang paling berbeda adalah Yamaha, untuk menjelaskan tentang pengembangan Yamaha R25, mereka menggunakan cerita fiksi dengan tokoh tokoh hayalan dan cerita bohong bohongan:

Untuk yang suka anime, ada juga serial master of torque.

Terus terang untuk penjelasan model Yamaha, saya susah mengerti. Apakah berarti bahwa teknologi dari Yamaha memang sebenarnya fiktif? Artikel – artikel sebelumnya menunjukkan bahwa diasil silinder adalah implementasi dari teknologi alusil, YM-Jet FI juga tidak lebih efisien dari karburator, lalu Blue Core jelas bukan suatu teknologi tapi lebih ke ideologi.

Kadang kita akan lebih respek pada suatu produk bila kita tahu cara mengembangkannya. Honda dan Suzuki membuat kita lebih respek pada produk yang mereka contohkan. Kalau untuk Yamaha, mungkin bukan selera penulis, rasanya kok jadi seperti nggak serius, susah membedakan mana yang beneran dan mana yang cuma fiktif. Rasanya jadi seperti motornya Power Ranger atau satria Baja Hitam dipasarkan di dealer resmi. Mungkin cocok kalau bro jadi penggemar serialnya.

7 thoughts on “Bercerita bagaimana mereka mengembangkan motor mereka, Honda dan Suzuki pakai kisah nyata, lalu Yamaha pakai kisah fiktif

  1. gada yg komen ya….. gini deh coba bandingkan desain cbr dan inazuma yg katanya dari kisah nyata, sama r25 yg dari kisah fiktif….sama ninja ga tau kisah fiktif ga tuh? see?

    Suka

    • Nggak ah, masa R25 dibuat dari kisah fiktif. Yang terjadi adalah kisah fiktif dibuat dengan menggunakan R25, dibuat setelah R25 jadi.

      Inti dari artikel adalah tentang bagaimana pabrikan menceritakan proses pengembangan motor mereka. Jadi semua tentu ada kisah nyatanya. Yang jadi pertanyaan mengapa harus pakai kisah fiktif untuk menceritakan?

      Suka

  2. Semua itu bermula dari fiktif. Bisa jelaskan kenapa BMW i8 ada? Itu cuma karena ide liar si pencipta. Klo semua dari kisah nyata, kita akan terbelenggu. Semua berawal dari ide, dan semua yg masih di kepala (ide) itu semua fiktif.

    Suka

  3. Yamaha berbeda dengan Honda suzuki . Produk otomotif yg di kembangkan saat ini hanya sepeda motor walau sudah ada kabar prototype yamaha.., yang artinya jika yamaha mengembangkan motor asal2 an sama dengan bunuh diri karna tidak ada produk ptomotif lain selain motor,,

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s