Voltage stabilizer bisa tidak berguna dan ada yang berbahaya dan memperpendek umur komponen sensitif yang mahal


Mungkin bro pernah dengar tentang cara untuk meningkatkan performa kendaraan dengan voltage stabilizer. Dikatakan bahwa dengan memasang voltage stabilizer, maka tenaga akan meningkat dan sebagainya. Merek yang tersedia di pasaran banyak. Mulai dari VSA yang murah 200 ribuan sampai yang seperti UVS Hyper-D, JSONE Power Booster, D1 Spec Super Stabilizer, Pivot Mega Raizin, XCS-3 Hurricane yang 1.5 jutaan atau Qmax IVS Turbo GT3 yang 3 jutaan.

Contoh dari klaim voltage stabilizer adalah sebagai berikut:
QMAX

QMAX I.V.S TURBO memiliki kemampuan jauh melebihi tipe LV & GT3 digabung karena selain menstabilkan tegangan dan memadatkan arus listrik, tipe TURBO mampu memasok arus yang lebih sempurna.

TURBO terhubung langsung dengan alternator sebagai penyuplai arus. Oleh karena alternator berputar mengikuti putaran mesin maka TURBO secara otomatis mendapatkan pasokan arus secara terus-menerus sesuai dengan putaran mesin. Hasilnya adalah tenaga yang besar pada setiap RPM, RPM bawah sampai atas.

XCS3

XCS3 HURRICANE Telah terbukti mampu menstabilkan arus listrik yang bervariable.
XCS HURRICANE akan bekerja menstabilkan setiap arus yang datang dari alternator ke ACCU dan jika arus berlebihan XCS3 HURRICANE akan menyimpanya arus tersebut dan pada saat supply arus dari alternator berikutnya jika lemah / kurang, maka XCS HURRICANE akan mensupply ke ACCU sehingga arus selalu stabil.

Dengan Supply arus listrik yang stabil, maka Penganpian di Busi akan stabil dan besar, sehingga pembakaran semakin sempurna dan tenaga motor meningkat, Hemat BBM, busi lebih awet dan ruang mesin tetap bersih tidak ada timbunan Kerak karbon serta emisi gas buang lebih ramah lingkungan.

Contoh produk dari yang murah, VSA

Voltage Stabilizer Accu Mobil-VSA. Alat ini sangat berpengaruh dan membantu usia accu lebih tahan lama.VSA sebagai filter yang menstabilkan muatan volt yang berlebihan dari alternator, bisa dibuktikan dengan volt meter pembakaran lebih sempurna karena pengapian lebih stabil sekaligus jadi irit bahan bakar, akselerasi bertambah tentu saja.lampu lampu lebih lebih awet dan terang, bahkan dipakai untuk mobil yang sudah bertehnologi tinggi VVTi , Ecu, VTEC maupun Matic akan lebih sempurna.

 

Menambah kapasitas aki

Produk – produk voltage stabilizer diatas memberikan janji peningkatan performa mesin yang lumayan. Karena penasaran, penulis mencoba mencari informasi tentang kemungkinan membuat sendiri voltage stabilizer. ternyata ada. berikut beberapa contohnya. Klik gambar untuk menuju ke website yang menjelaskan tentang cara pembuatannya:
Saft7 – Bikin Voltage Stabilizer untuk Mobil/Motor:
volstab-03

DIY Voltage Stabilizer buat Motor ^^:
2_mfnsyuwqtm_volt_stabilizer

DIY Car voltage stabilizer:
voltage-stabilizer

(diy)voltage stabilizer:
volta1580b1b7

Terlihat dari beberapa skema diagram untuk voltage stabilizer bahwa alat ini intinya adalah kapasitor. Dari produk yang dijual memang beberapa mencantumkan nilai kapasitas dari kapasitor yang dipergunakan. Makin tinggi biasanya makin mahal harganya. Jadi produk voltage stabilizer ini kebanyakan implementasinya adalah memparalel kapasitor dengan aki.

Berikut contoh alat voltage stabilizer yang dibongkar:
DSC015092

Bila bro berminat untuk membuat rangkaian diatas, harus diingat bahwa voltage rating atau batas kemampuan voltase dari kapasitor bergantung pada voltage rating kapasitor yang paling kecil secara keseluruhan. Jadi misalnya ada yang 12V, 25V dan 50V, maka voltase rating keseluruhan adalah 12V. Sangat disarankan voltage rating yang dipakai adalah 2 kali dari sumber voltase. Karena voltase dinamo amper bisa mencapai 17V, sebaiknya pakai kapasitor yang ratingnya 50V lebih.

 

Yang penulis herankan adalah mengapa kok kapasitornya diparalel. Dari pelajaran di sekolah sampai kuliah, yang penulis tahu kalau kapasitor diparalel nilai kapasitasnya nambah. Mengapa kok nggak sekalian pakai kapasitor besar yang harganya jadi lebih murah daripada beli kecil – kecil tapi banyak.

Dengan alasan itu maka penulis mencoba dengan menggunakan kapasitor 10000uF/50V yang kebetulan penulis punyai:
10000

Nggak pakai LED atau apa, langsung gigi buaya untuk disambung ke aki. Penulis kebetulan punya osciloscope DS2 Nano dihadiahkan orang tapi ternyata untuk bisa mengetahui ripple / variasi dari tegangan aki susah, sehingga penulis hanya mengandalkan pada feeling saja.

Setelah dipasang, terus terang penulis tidak merasakan bedanya. Seandainya benar ada perbedaan, efeknya terlalu kecil untuk bisa penulis rasakan.

Apakah teknologi ini hoax atau bohongan? rasanya tidak. Penjelasannya begini, aki itu mempunyai batas arus maksimal yang bisa dimanfaatkan. Besar dari arus maksimal ini tergantung dari ukuran atau kapasitas dari aki tersebut. Angkanya biasanya sama, jadi aki dengan kapasitas 4.5Ah (seperti yang dipakai di kebanyakan sepeda motor) maka pemakaian arus maksimal yang disarankan / yang mampu disuplai adalah 4.5 Ampere. Angka ini bisa berbeda untuk tipe aki berbeda, bila penasaran, silahkan baca link ini:
Battery University – Lead Based Battery

 

Terus apa hubungannya dengan voltage stabilizer?
Kapasitor yang diparalel dengan aki akan membantu suplai arus yang dibutuhkan saat pemakaian arus sudah mepet dengan kapasitas maksimal yang didukung oleh aki. Jadi alat kelistrikan tidak akan hanya mengambil dari aki, tapi juga dari kapasitor. Dengan begitu alat kelistrikan dijamin akan mendapat pasokan arus yang cukup. Sehingga kerja dari alat kelistrikan tersebut tidak terganggu.

Terus mengapa kok penulis gagal mendapatkan manfaat? Disaat bagaimana voltage stabilizer tidak membantu?
Voltage stabilizer bisa tidak berguna bila suplai arus dari alternator (penghasil listrik di sepeda motor) dan aki sudah lebih dari cukup. Karena aki dan alternator mampu, maka penambahan voltage stabilizer jadi tidak terasa. Begitu pula pada kondisi ekstrem sebaliknya, yaitu bila alternator tidak mampu untuk mensuplai kebutuhan arus dari alat kelistrikan, sehingga walau ditambahi voltage stabilizer, efek tetap tidak terasa karena arus dari sumber sudah habis terpakai.

Terus disaat bagaimana voltage stabilizer bisa membantu?
Bila alternator mampu mensuplai arus tapi akinya kurang kuat atau tekor atau soak penggunaan voltage stabilizer akan sangat membantu. Kapasitor pada alat voltage stabilizer akan membantu aki yang soak / kurang kuat dengan berfungsi sebagai alternatif sumber daya arus ketika dibutuhkan. Syaratnya adalah sumber daya utama, alternator, harus punya cukup tenaga untuk juga mengisi kapasitor pada alat voltage stabilizer. Sehingga saat misalnya bagian koil membutuhkan suplai arus besar mendadak, maka alat akan bisa mendapatkannya dari alternator, aki dan kapasitor dari alat voltage stabilizer.

 

Memperbesar kemampuan suplai arus

Sering dikatakan bahwa penggunaan voltage stabilizer bisa lebih terasa pada kendaraan yang kelistrikannya di modifikasi, terutama bagian pengapian. Ini karena pengapian modifikasi sering membutuhkan arus mendadak yang lebih besar dari normal. Arus ini bisa lebih besar dari kemampuan aki, namun bila dirata – rata masih didalam kemampuan alternator untuk mensuplainya. Dalam hal ini penggunaan voltage stabilizer akan menjamin bagian pengapian mendapatkan arus yang cukup. Bila alternator nggak mampu, maka efek voltage stabilizer berkurang.

Jadi pemasangan dari voltage stabilizer bukanlah suatu hal yang ajaib, masih ada keterbatasan. Voltage stabilizer tidak bisa mengatasi aki yang tekor akibat pemasangan alat kelistrikan yang memakan arus lebih banyak dari yang bisa disuplai oleh alternator. Jadi kalau pasang lampu depan wattnya terlalu besar, kalau aki jadi tekor, pasang voltage stabilizer pun aki tetap tekor. Kecuali kalau itu gara – gara akinya sudah soak.

 

Mengurangi hambatan ground

Beberapa pemasangan voltage stabilizer juga menambahkan grounding tambahan. Grounding tambahan dilakukan dengan menarik kabel dengan kapasitas arus yang besar langsung dari kutub negatif aki menuju titik titik di bodi yang lokasinya dekat dengan komponen mobil yang groundingnya menempel ke bodi. Seperti kita tahu, hambatan kabel tembaga jauh lebih kecil daripada hambatan bodi mobil atau mesin mobil. Hambatan tembaga lebih kecil daripada besi (bodi mobil) ataupun aluminium / dural / iron block (mesin mobil). Dengan berkurangnya hambatan otomatis arus yang mengalir ke komponen tersebut menjadi lebih besar. Karena arus yang lebih besar maka otomatis bunga api lebih besar, tenaga bertambah, lampu lebih terang, dst.

Jadi efek yang dikatakan terjadi karena voltase distabilkan terjadi karena penambahan grounding, bukan karena voltage stabilizernya. Dan ini bisa jadi akan merusak komponen bila arus yang mengalir melebihi toleransi dari desain pabriknya. Oleh karena itu sudah diwanti wanti oleh pihak pabrikan bahwa garansi bisa hangus bila ada penambahan terutama di komponen kelistrikan. Lampu lampu bisa gampang mati, komponen seperti CDI atau ECU atau kiprok bisa rusak hangus kepanasan.

 

Memperbesar voltase kendaraan (cara berbahaya)

Ada lagi penjelasan lain, yang ini jauh lebih beresiko merusak komponen. Semoga saja tidak ada voltage stabilizer bekerja dengan cara berikut.

Saya pernah baca suatu voltage stabilizer memperpanjang umur aki dengan menghentikan pengisian ke aki bila aki sudah penuh. Memang betul ini akan memperpanjang umur aki, persoalannya adalah, suplai arus yang tersisa akan dibuang kemana?

Bila kelebihan arus dialirkan ke komponen lain maka jelas lampu akan lebih terang, ac lebih dingin, tenaga mesin nambah. Namun persoalannya, apakah penambahan arus ini baik? dengan bertambahnya suplai arus otomatis voltase naik juga. alternator mampu menghasilkan listrik hingga 17V. Normalnya voltase saat mobil berjalan adalah 14.2V. Apakah komponen mobil aman dijalankan di voltase 17V?

Tipe yang ini biasanya ditandai dengan bertambahnya performa bila kendaraan dipakai kencang atau di jalan tanpa hambatan. Biasanya mengklaim performa kendaraan akan sangat meningkat pada kondisi tersebut.

Saat berjalan pelan di rpm rendah, listrik yang dihasilkan oleh alternator keluar pas pasan. Cukup untuk memberi tenaga pada peralatan, dan cukup untuk mengisi aki juga. Di rpm tinggi alternator akan selalu mampu mensuplai kebutuhan semua peralatan, sehingga akan terjadi kelebihan arus. Oleh pabrik aki dipakai sebagai sarana untuk membuang kelebihan arus. Jadi misalkan arus terjadi secara berlebihan, maka akinya yang terlebih dahulu rusak.

Bila saat kencang dan aki sudah penuh lalu pembuangan arus ke aki dimatikan, maka kelebihan arus akan jadi dialirkan ke komponen yang bisa jadi bisa berlebihan. Arus dan voltase yang mengalir ke komponen akan meningkat. Peningkatan ini tentu tidak dalam perhitungan pabrik, sehingga bisa jadi peningkatan ini berada di luar batas toleransi kemampuan alat. Memang lampu jadi lebih terang, tapi jadi lebih gampang mati. Memang AC lebih dingin, namun kompressor bisa gampang rusak. Memang pengapian jadi lebih besar, namun CDI atau ECU atau kiprok bisa jadi overheat dan rusak. Suara mungkin lebih bulat dan kencang, namun sistem Audio beserta GPS, MID dan komponen sensitif lainnya bisa rusak.

Dari pengalaman yang pakai motor yang akinya mati, termasuk penulis, memang tenaga jadi ok, tapi lampu lampu dan komponen kelistrikan seperti kiprok atau CDI jadi pada rusak semua. Yang motornya injeksi justru lebih parah, ECU yang harganya mahal banget pun jadi rusak.

Memutuskan suplai arus ke aki saat aki sudah penuh memang memperpanjang umur aki, tapi akan sangat memperpendek umur komponen kelistrikan yang lain. Jangan heran bila garansi hangus, karena komponen kelistrikan kendaraan tidak didesain untuk jalan tanpa aki.

Bila saat aki penuh listrik dari alternator diputus, maka tenaga bisa bertambah karena beban mesin berkurang, namun tidak ada penambahan tenaga, lampu tidak tambah terang, ac tidak lebih dingin, dst. Jadi yang perlu dicurigai adalah hanya yang menambah tenaga dan juga bikin lampu tambah terang.

 

Arus pengisian aki yang paling efektif

Bila ada yang mengaku ngaku bahwa pengisian aki bisa lebih baik bila arusnya stabil maka itu jelas bohong. Bahkan ada penelitiannya. Disebutkan bahwa pengisian aki dengan metode pulse charging akan bisa membuat aki lebih panjang umur, lebih cepat pengisiannya dan tidak memanaskan aki sebagaimana bila dilakukan dengan arus yang stabil.
http://www.vershv.narod.ru/sdarticle.pdf

• pulsed-current charging techniques can exert highly advantageous effects – not only in terms of accelerating battery recharge but also with respect to extending the cycle-life performance of low-maintenance batteries;
• recharging time can be reduced by an order or magnitude, i.e., ~ 10 to ~ 1 h;
• cycle life can be increased by a factor of three to four;
• the application of pulsed-current charging to a cycled battery (capacity = 80% initial value) can evoke a recovery in battery capacity;

 

Walau voltage stabilizer bisa berguna, bila aki sudah tekor, mending beli aki baru daripada beli voltage stabilizer. Kalau bisa pasang aki lebih besar, mending beli aki yang lebih besar. Bila alternator sudah lemah, voltage stabilizer tidak akan bisa membantu. Daripada beli voltage stabilizer yang ratusan ribu, mending coba dulu dengan kapasitor besar beli di toko elektronik.

 

Bila ingin meningkatkan efisiensi listrik, hal lain yang biasa digabungkan dengan voltage stabilizer adalah grounding. Grounding adalah teknik dimana semua alat yang membutuhkan listrik negatif dari aki tidak dihubungkan ke bodi tapi langsung di tarik kabel ke kutub negatif aki. Ini tentu saja akan meningkatkan efisiensi sistem kelistrikan karena bodi motor yang dari besi tentu saja daya hantarnya kalah jauh dengan kabel tembaga. Bodi hambatannya lebih tinggi dari tembaga. Dengan menggunakan kabel grounding langsung ke alat yang membutuhkan kelistrikan, maka kerugian karena hambatan dari penghantar akan berkurang, sehingga efisiensi akan meningkat.

 

High frequency filtering

Berdasarkan link berikut kapasitor yang diparalel bisa mempunyai fungsi MENSTABILKAN tegangan (membutuhkan kapasitor dengan kapasitas besar) dan MENGHILANGKAN voltase dengan frekuensi yang terlalu tinggi (membutuhkan kapasitor dengan kapasitas 0.1uF, 1uF dan 10uF). Disebut juga kapasitor punya kemampuan mengalirkan arus yang lebih baik dari batre.
Decoupling (Bypass) Capacitors, Power Supply Filtering, Signal Filtering

While it seems like this might create a short from power to ground, only high-frequency signals can run through the capacitor to ground. The DC signal will go to the IC, just as desired. Another reason these are called bypass capacitors is because the high frequencies (in the kHz-MHz range) bypass the IC, instead running through the capacitor to get to ground.

When physically placing decoupling capacitors, they should always be located as close as possible to an IC. The further away they are, they less effective they’ll be.

An AC-to-DC power supply circuit. The filter cap (C1) is critical in smoothing out the DC signal sent to the load circuit.

Basic Circuits – Bypass Capacitors

Bypass capacitor: A capacitor employed to conduct an alternating current around a component or group of components. Often the AC is removed from an AC/DC mixture, the DC being free to pass through the bypassed component.

So, how many bypass capacitors do you really need? A good rule of thumb I like to use is each IC on my board gets its own bypass capacitor.

The most simple incarnation of the bypass capacitor is a cap connected directly to the power source and to ground, as shown in the diagram to the left. This simple connection will allow the AC component of VCC to pass through to ground. The cap acts like a reserve of current. The charged capacitor helps to fill in any ‘dips’ in the voltage VCC by releasing its charge when the voltage drops. The size of the capacitor determines how big of a ‘dip’ it can fill. The larger the capacitor, the larger the ‘dip’ it can handle. A common size to use is a .1uF capacitor. You will also see .01uF as a common value. The precise value of a bypass cap isn’t very important.

The type of capacitor you use can be important. I would recommend you use a monolithic ceramic capacitor. They are small, cheap, and readily available. I usually use a .1uF 50Volt +-20% with .1″ or .2″ spacing. Again, .01uF is also acceptable. I would avoid larger voltage capacitors as they are physically too large. Electrolytic capacitors are not well suited to the role of bypass capacitors as they typically have larger capacitance values and don’t respond as well to high frequency changes.

Bila referensi diatas dipergunakan untuk menganalisa voltage stabilizer maka bisa disimpulkan:
– voltage stabilizer punya sifat power supply filtering.
– sifat bypass / decoupling dari voltage stabilizer lemah karena seringnya dipasang di batre dan terlalu jauh dari alat eletronik yang perlu dilindungi
– voltage stabilizer tidak punya sifat signal filtering karena kapasitor tidak dipasang di signal / data namun dipasang di sumber daya.

Jadi dari referensi diatas, kapasitor dengan kapasitas besar dan kombinasi kapasitas beberapa yang kecil dengan beda 10 kali kapasitas, dipasang dekat rangkaian penyearah / kiprok. Sementara itu kapasitor dengan kapasitas besar yang lain dipasang dekat aki.

Lalu di dekat komponen elektronik atau audio dipasang beberapa kapasitor kombinasi nilai beda 10 kali, misalkan 10uF, 1uF, 0.1 uF, dan 0.01uF, masing masing satu.

Kesimpulan

  • voltage stabilizer memang benar ada yang bisa menstabilkan voltase, ini baik untuk komponen, namun belum tentu baik untuk aki.
  • voltage stabilizer yang pakai kapasitor akan membantu bila desain dari pabrik ada yang salah, atau bila ada komponen yang sudah mulai rusak. Lebih baik mengganti komponen yang rusak dulu, misalkan ganti aki bila akinya sudah soak.
  • voltage stabilizer yang juga menambahkan grounding efeknya bisa jadi karena penambahan groundingnya, bukan karena voltage stabilizernya. Penambahan suplai arus ke komponen karena penambahan grounding belum tentu baik bagi komponen, apalagi yang toleransinya terbatas.
  • voltage stabilizer yang menghentikan charging ke aki saat aki penuh dan mengalirkan kelebihan arus ke komponen memang bisa sangat meningkatkan suplai arus ke komponen, tenaga bisa sangat bertambah, ac lebih dingin, lampu jauh lebih terang. Namun ini sangat berbahaya karena voltase dan arus bisa melebihi ambang batas yang sudah didesain oleh pabrik. Selain bisa sangat memperpendek umur komponen, bisa juga membuat komponen tersebut terbakar. Harap hati hati sekali dan memperhatikan faktor faktor keselamatan.

130 thoughts on “Voltage stabilizer bisa tidak berguna dan ada yang berbahaya dan memperpendek umur komponen sensitif yang mahal

  1. Saya sudah pasang voltage stabilizer merk terkenal gak usah sy sebutkan merknya. Saya membeli produk itu krn ada program dari mereka jika tidak ada perbedaan selama 7 hari maka boleh dikembalikan. Akhirnya saya coba. Ketika sudah terpasang dan mobil saya coba ternyata bukannya menambah akselerasi atau kemampuan mobil malah mengurangi kemampuan mobil. Misalnya mobil menjadi tersendat, dan kalau posisi digas lalu gas dilepas kaya ada yang menahan, hentakannya terasa sekali. Mungkin teman teman ada yang menduka “ah…itu hanya perasaan anda saja…”
    Tapi monggo kalau ada yang komentar seperti itu gak apa apa.😊

    Suka

  2. saya punya motor mx king kelistrikan standar (+ akinya) dan ditambahi aksesoris seperti led, lampu tembak dan klakson keong
    setahun yang lalu saya coba bikin capasitor bank dari 3 buah kapasitor 10000 mf/50v, tapi dampaknya hampir nggak kerasa jadi saya copot
    nah baru2 ini saya pasang klakson keong, lampu led dan lampu utama kelihatan redup pas dibunyikan
    kira2 kalo pakai kapasitor bank yang tadi lagi bakal bisa diminimalisir nggak ya?
    pas kontak on 11,8-12,1v, mesin idle 12,8 , rpm tinggi 13,6v

    kalau spd motor yg biasanya pakai full aksesoris begitu, biasanya cara mengatasinya gimana ya? apa ganti aki ampere lebih besar, pake kapasitor bank, ganti kiprok atau yang lainnya

    Suka

    • Apa itu voltase aki? Itu akinya sudah soak berarti. Normalnya 12,54V. Sebaiknya coba ganti akinya dulu terus dilihat apa lampu masih redup dan bel masih pelan.

      Kalau sedotan pemakaian asesori terlalu kuat, pakai kapasitor tidak akan membantu. Karena suplai arus kan tergantung alternator. Yang perlu diganti alternatornya, atau digulung lagi agar bisa arusnya banyak. tapi tarikan bisa lebih berat.

      Kapasitor baru membantu bila untuk pemakaian seperti klakson, yang cuma sebentar tapi butuh arus besar.

      Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s