Pertalite kemungkinan hanya sementara, untuk mentransisikan dari premium ke pertamax


Pertamina berencana untuk mulai memperkenalkan bensin baru dengan nama Pertalite di Jakarta mulai bulan Mei depan. Karena nilai oktan yang ditawarkan, yaitu RON 90, berada diantara premium dan pertamax, harga juga diputuskan diantara harga premium dan pertamax. Banyak yang bilang harganya besar kemungkinan pada 8000 rupiah. Benar atau tidak, yang jelas pertalite akan segera muncul.

Namun ada yang membuat penulis berpikir bahwa pertalite ini hanya sementara. Dasarnya ada pada fakta bahwa negara kita, yang katanya kalau disekolah adalah negara penghasil minyak, ternyata sekarang ini sangat bergantung pada impor.

Salah satu penyebabnya adalah produksi yang kian menurun:
Energia – No.12/THNXLVI/Desember 2013
cadanganminyak

Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa gelisah dengan kondisi pengelolaan migas nasional. Kegelisahan seorang Hatta dan juga para pengamat serta praktisi perminyakan lainnya sangatlah beralasan. Di tengah meningkatnya konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang berdampak kepada tingginya impor crude oil dan BBM, cadangan minyak di Indonesia diyakini akan habis dalam 12 tahun ke depan. Karena itu, reformasi bidang migas tidak bisa ditunda. Menurutnya, cadangan minyak akan habis 12 tahun jika tidak ada investasi dan eksplorasi.

Bagi Pertamina, ini bukanlah seperti petir di ‘tengah hari bolong’. Karena, sejatinya Pertamina sebagai praktisi perminyakan sudah menyuarakan hal tersebut walaupun dengan ‘bahasa’ yang berbeda. Bahwa ketahanan energy bangsa ini terancam jika hanya mengandalkan minyak bumi. Sedangkan sumur-sumur minyak di tanah air banyak yang masuk kategori ‘mature’, yang secara alami berpengaruh pada berkurangnya hasil produksi.

 

Parahnya, bahan yang dibutuhkan oleh kilang minyak kita tidak bisa menggunakan bahan produksi dari negara kita sendiri:
Warta Pertamina – ISSN.01259377 • No. 7/THN XLV/JULI 2010

Kita harus aktif bahwa kebijakan penyesuaian harga itu karena kita adalah net importer, karena kilang kita sebagian tidak cocok dengan hasil crude yang kita miliki sendiri, sehingga kita masih perlu impor BBM. Kita masih harus menguras devisa untuk memastikan ketersediaan BBM.

 

Konsumsi masyarakat juga jauh lebih banyak dari yang bisa diproduksi:
konsumsi
Pertamina – Laporan Keberlanjutan 2011

Secara umum penurunan produksi dan lifting disebabkan karena produktivitas sumber-sumber minyak dan gas bumi yang menurun seiring dengan umur reservoir dan fasilitas produksi. Pemerintah mendorong peningkatan lifting dan produksi dengan upaya rekayasa sumber yang ada dan eksplorasi sumber-sumber baru. Penurunan pasokan migas dibandingkan kenaikan permintaannya menjadikan Indonesia menjadi negara pengimpor minyak sejak 2004.

Dari sisi penggunaan, minyak dan gas bumi diolah menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional. Karena tingginya permintaan, baik minyak mentah maupun BBM harus diimpor. Pada 2011, realisasi penjualan BBM mencapai 61,04 juta kiloliter yang terdiri dari subsidi 41,69 juta kiloliter dan nonsubsidi 19,35 juta kiloliter. Dari angka tersebut, kemampuan produksi kilang pengolahan nasional hanya mencapai 47,55 juta kiloliter untuk keperluan retail, aviasi dan industri, dan sisanya harus ditutupi dengan melakukan impor. Dengan pertumbuhan permintaan BBM 4% setahun, defisit BBM ini diperkirakan akan terus terjadi sampai Indonesia memiliki kilang pengolahan baru.

Pengolahan minyak bumi dilakukan di kilang-kilang pengolahan Pertamina. Investasi di masa lalu ditujukan agar kilang pengolahan dapat mengolah minyak mentah berkualitas tinggi dan rendah. Namun hal ini juga mengakibatkan ketergantungan kilang terhadap spesifikasi minyak mentah tertentu yang hanya bisa diperoleh melalui impor.

Impor minyak mentah dan BBM harus dilakukan Pertamina untuk memenuhi kebutuhan bahan baku kilang dan permintaan pasokan BBM masyarakat. Aktivitas impor minyak bumi dan ekspor produk minyak dilakukan entitas anak perusahaan Pertamina Energy Trading Ltd (Petral) yang berkedudukan di Singapura.

Dilihat dari segi keuntungan impor justru lebih menguntungkan daripada produksi sendiri.
Warta Pertamina – No. 3/THN XLVII/Maret 2012

Menurut Pri Agung, kemampuan produksi Pertamax dalam negeri baru 1 juta kiloliter per tahun. Dengan pembatasan BBM bersubsidi, tentunya pemakaian Pertamax akan bertambah. “Konsekuensinya, kita mesti menambah impornya. Setidaknya, impor komponen Pertamax itu,” ujar Pri Agung.

Dari sisi ekonomis, sekarang ini mengimpor BBM jauh lebih menguntungkan dibandingkan dengan mengolah sendiri di dalam negri. Kami hanya minta, lindungi kilang kami,” ujarnya. Kalau sepenuhnya impor, tentunya pengilangan akan mandek dan bisa mendatangkan kerugian besar.

Namun ini mengakibatkan negara kita jadi tergantung pada rasa iba dari negara lain:
Energia – No.07/THNXLVIII/Juli 2013

Kilang baru dibutuhkan oleh Indonesia bukan dibutuhkan Pertamina. Jadi kalau memang bangsa ini tidak mau tergantung dari orang luar untuk BBMnya maka kita harus bangun kilang. Kita impor BBM saat ini sudah 40 persen dari kebutuhan dalam negeri. Artinya, cukup besar dan hampir separuh kilang yang ada sekarang ini kita impor. Di Refinery, kita harus sesegera mungkin meng-up grade kilang, bukan tuntutan untuk membangun kilang baru. Kalau kita tidak up grade kilang, maka lama-lama kilang kita akan mati. Karena, harga BBM dari perusahaan lain lebih murah, tapi kita terus naik.

 

Dari referensi referensi diatas menjadi jelas bahwa sekarang ini kebutuhan bensin sangat bergantung pada impor. Artikel – artikel sebelumnya juga menjelaskan bahwa salah satu alasan pemerintah untuk menghentikan penggunaan premium adalah karena kebanyakan premium harus impor, sementara sudah tidak ada lagi yang jual. Katanya paling rendah RON90.

Kalau melihat trennya, sekarang ini RON90 juga sudah mulai banyak ditinggalkan. Banyak negara menggantinya dengan RON92, beberapa ada juga yang mengganti dengan bensin campuran alkohol / ethanol. Jadi bisa dipastikan bahwa di suatu waktu RON90 ini akan akhirnya diganti dengan RON92.

Jadi menurut penulis pertalite diperkenalkan hanya sebagai batu loncatan untuk mentransisikan masyarakat ke pertamax. Mungkin tidak dibuat langsung ke pertamax karena untuk menghidupi kilang yang katanya dapat untung dengan mengoplos RON92 dengan naftalene untuk jadi RON88. Seperti disebut di artikel sebelumnya:
Soal penghapusan premium dan pertamax dijual jadi 7500, kekayaan indonesia itu untuk memakmurkan rakyat atau untuk memakmurkan pertamina sih bro?

Sementara itu, di negara lain sudah mulai memperkenalkan bahan bakar berbahan dasar tumbuhan. Bisa jadi disuatu saat pemerintah “terpaksa” lagi untuk memaksa masyarakat menggunakan bensin campur ethanol, padahal kendaraan harus dimodifikasi agar bisa menggunakan bensin campur ethanol dengan aman. Masyarakat bisa terpaksa harus beli motor lagi untuk bisa menggunakan bensin ini, atau bayar jauh lebih mahal untuk bensin murni.
Alkohol, bahan bakar ramah lingkungan yang lebih bertenaga dan lebih murah dari bensin, kenapa belum tersedia?

Sebaiknya siap – siap saja. Mari kita berdoa agar kita bisa mendapatkan yang terbaik.

2 thoughts on “Pertalite kemungkinan hanya sementara, untuk mentransisikan dari premium ke pertamax

  1. kalo saya berpikirnya sederhana Mas. pemerintah pelan2 mengalihkan agar masyarakat memakai pertamax dengan memainkan psikologis.
    maksud saya begini, saat ini harga premium 7600 sedangkan pertamax 8800. terpaut cukup lumayan hingga masyarakat tetap pilih premium. nah, jika pertalite taruhlah 8000, masyarakat akan berpikir “ah, cuma beda 500 aja kok, mending beli pertalite aja”.
    ahirnya karena banyak yg pake pertalit maka premium bisa dihapus. dan secara psikologis pikiran mastarakat akan kembali terulang “ah, cuma beda 800 mending beli pertamax lah”

    Suka

    • Iya, mungkin ada yang berpikir cuma beda sedikit mending yang bagusan saja. Tapi rasanya banyak juga yang berpikir, toh rasanya sama saja, mending beli yang paling murah saja.

      Bisa jadi pertalite nggak laku selama premium dan pertamax ada. Nanggung.

      Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s