Apakah bro percaya sama pernyataan Yamaha bahwa semua motornya bisa pakai pertalite?


Penulis terus terang agak bertanya tanya saat muncul berita bahwa Yamaha mengklaim bahwa semua motornya bisa pakai pertalite, bensin oktan 90 yang baru saja dirilis oleh pertamina. Berikut beritanya:
Yamaha Indonesia Nyatakan Semua motor produksi YIMM cocok menggunakan Pertalite, July 27, 2015

”Semua motor produksi YIMM cocok menggunakan Pertalite, termasuk yang berteknologi Blue Core yang tengah diminati masyarakat. Yang sudah terbukti dari penjualannya misalnya di Jakarta Fair masuk tiga besar terjual terbanyak yaitu motor Blue Core (All New Soul GT, Mio M3, NMAX). Apalagi dengan teknologi Blue Core yang terbukti irit, sinkron dengan kelebihan Pertalite seperti oktan tinggi, pembakaran efisien. Sehingga pelanggan makin dimanjakan dengan performance motor yg lebih OK dan biaya pemakaian bahan bakar yang lebih hemat,” papar Mohammad Masykur, Asisten GM Marketing PT YIMM.

Diharapkan dengan hadirnya Pertalite kian membantu konsumen karena dengan kadar oktannya 90 sudah cukup besar apalagi harganya terjangkau. Karena itu, Yamaha mendukung konsumennya untuk menggunakan Pertalite sebagai bahan bakar kendaraannya. Terlebih dengan keunggulan Pertalite yang tidak menimbulkan kotoran/kerak pada mesin, ramah lingkungan, pembakaran lebih optimal, mesin lebih bertenaga dan halus.

Hal itu sesuai dengan kualitas motor Yamaha yang diproduksi dengan berbagai keunggulan, sehingga dengan menggunakan Pertalite akan makin menguntungkan konsumen.

Sebuah pernyataan yang aneh karena pembaca sudah terbiasa disuguhkan artikel semacam berikut ini:
Kalo Motor Kompresi Kecil, Pakai Premium atau Pertamax Pengaruhnnya kecil dengan Konsumsi bahan bakar January 8, 2015

Octane_Requirement

Bro sekalian, Beberapa Sobat Pengunjung blog sering kali mengirimkan pertanyaan kepada tmcblog perihal pilihan Bahan bakar apa yang lebih pas digunakan untuk kendaran roda duannya. Pemakaian jenis Oktan ( RON) bahan bakar paling bijak Ya memang didasarkan pada seperti apa Kompresi mesin yang kita Gunakan

Menurut penulis sudah jelas bahwa pernyataan bahwa bensin pertalite bisa dipergunakan untuk semua kendaraan Yamaha adalah pernyataan yang salah atau memang bernuansa politis. Untuk motor dengan spesifikasi yang tinggi yang harusnya pakai pertamax plus, dikala pakai pertamax pun masih terlalu rendah oktannya lha kok disuruh pakai yang lebih rendah lagi pertalite. Penulis berpendapat bahwa oktan pertalite itu masih termasuk rendah, tidak cocok untuk kebanyakan kendaraan di pasaran. Kalau dipaksa pakai bensin oktan rendah seperti pertalite, penulis takut akan terjadi kasus seperti dibawah ini:
Engine Pulsar 200NS Ambrol, Apakah Karena Menggunakan Oli Diesel (HDEO) ???

Beberapa catatan yang cukup menarik dapat dijadikan petunjuk, yaitu :
Kejadian saat motor digeber 120 kpj, sudah menempuh jarak sejauh 40 km
Sudah lama menggunakan oli diesel msx (25000-an km), selama itu tidak ada masalah
Oli baru digunakan sejauh 800 km
Bahan bakar premium
Indikator panas tidak menyala (menurut indikator mesin belum overheat)
Piston ceket dan piston kering (tidak ada olinya)
Noken as tidak terlalu kering, bearing noken as aman
Silinder tidak baret sama sekali
Rantai keteng, kamprat aman tidak loncat
Saat bongkar mesin, oli masih banyak (1 lt lebih), belum terjadi kekurangan oli berarti
Analisis awal oli tidak naik, disinyalir ada penyumbatan (menurut ane bukan)

Walau berita tersebut mencurigai oli diesel, penulis berpendapat kerusakan terjadi karena mesin dipaksa bekerja di kecepatan maksimal pakai bensin premium.

Kalau nggak percaya, ya silahkan dicoba, kalau sukses silahkan share, kalau gagal wajib bikin artikel pengumuman.

24 thoughts on “Apakah bro percaya sama pernyataan Yamaha bahwa semua motornya bisa pakai pertalite?

    • Iya harusnya begitu. Bisa juga dilihat dari sisi lain, mungkin pernyataan tersebut bisa diartikan bahwa Yamaha menggaransi semua kerusakan yang terjadi karena pemakaian pertalite, jadi kalau beneran rusak, bisa di klaim kan. Tapi karena pernyataannya tidak hitam di atas putih, tidak dinyatakan resmi di website Yamaha, rasanya cuma trik marketing saja.

      Suka

  1. Mungkin iya mungkin tidak.
    Pernah coba ngebut pke oli sintetik 20w 50 105kmj geterx minta ampun, besok pagi tk lhat mesinx berkeringat(bukan rembes lhoo) n mesin masih hangat(nyampe rumah jm 12’an) krn gk nyaman brkali2 kyak gtu trus tk nyoba semi sintetik 10w 40, agak berisik sih tp buat ngebut 115kmj getarx gk separah yg kental n msin cpet dingin, cuma pas jalan terlalu pelan msin cpat panas, bensin pke premium cmpur etanol, motor pulsar 135
    Intinya pke oli kental yg wt motor aj mnurutku gk nyaman wt ngebut apalagi oli diesel, lain lgy klo jarang/gk pernah ngebut kyak kk’ku(pas trburu2 aj naik paling banter 80kmj, bayangin aj klo jlan biasa, kyak keong😀 tp aman🙂 ), supra x 125x pke oli mobil udh tahun2nan msih aman2 aj tuh, suara halus bnget

    Suka

    • OK. Oli kental memang tidak cocok untuk kencang. Namun setahu saya oli mobil itu sekarang ini kebanyakan justru encer, termasuk untuk yang diesel.

      Kalau supra X sih beda lagi, pakai oli jelek murahan seperti apapun rasanya mesin masih halus dibanding dengan Honda lokal pakai oli mahal.

      Bensinnya top, campur ethanol.

      Suka

  2. FYI, Informasi di tabel tsb jgn ditelan mentah2. Oktan tsb pakai formula (R+M)/2 lho, bukan sekedar RON.

    Well, ane pikir para insinyur ATPM jepang sudah memperhitungkan hal ini dalam desain mesin motor makanya berani bilang premium atau bensin sampah lainnya aman dikonsumsi motor2nya.

    Aman dalam artian gak terjadi knocking.
    Penimbunan kerak akan bakal terjadi selama bensin di Indonesia standarnya rendah (Euro 2, baik premium ataupun pertamax plus)

    Disukai oleh 1 orang

    • Ok. Problemnya adalah pernyataan tersebut diungkapkan oleh bagian marketing, bukan bagian teknis. Sayangnya kalau di motor anjuran tidak tertera sejelas kalau di mobil. Padahal mobil yang kompresinya 1:10 saja sudah tertera minim RON 92.

      Untuk knocking, kalau di mobil sih ada pencegahan (anti knocking) yang efeknya mesin langsung dikurangi tenaganya. Kalau di sepeda motor belum tahu, rasanya sih tidak. Tapi mungkin kerusakan otomatis berkurang saat mesin overheat atau tenaga ngempos banyak karena oktan tidak cocok. Overheat membuat ECU memperlambat waktu pengapian yang efeknya mengurangi knocking, sementara tenaga ngempos membuat motor tidak bisa meraih rpm tinggi.

      Kalau soal penimbunan kerak, setuju, kerak tetap ada walau sudah pakai pertamax plus. Rasanya tidak ada hubungan dengan Euro2.

      Suka

  3. Pengendara motor yg kepinteran, motor dipakein oli diesel -__- emangnya kopling mobil kerendem oli juga kaya motor? Dari situ aja udah beda spek nya, pantesan aja brodol tuh mesin

    Pake pertalite ya jelas bisa lah, selama ini dipakein premium atau pertamax jg gaada masalah, alphard aja dipakein premium gamasalah,apalagi motor bener2 pemikiran yang aneh

    Suka

  4. Yang belum diketahui banyak orang, oli diesel punya spesifikasi yang aman untuk kopling basah. Ayolah buka mata,buka hati, jangan cuma lihat spek dari motor dan mobil.

    Disukai oleh 1 orang

    • terima kasih infonya. Namun bila sering ngebut rasanya lebih baik cari oli mineral sepeda motor yang bagus daripada oli diesel karena menurut saya oli diesel itu dirancang untuk suhu tinggi (kalau turbo) dan rpm rendah (rpm mobil tidak sampai 11000 seperti sepeda motor sport atau 9000 seperti sepeda motor matik)

      Suka

  5. imo….pengapiannya juga sudah di sesuaikan oleh pabrikan,jadi tidak hanya berpatokan pada rasio kompresi
    pabrikan sudah pasti meriset tipe bahan bakar yang banyak di pakai oleh konsumen umum
    contoh new cb,kompresi lebih tinggi dari nva….tetapi pabrikan masih merekomendasikan pemakaian bbm premium
    dari pengalaman ane,pake premium tenaga lumayan,coba pertamax tambah enak,pake pertamax plus makin bagus….semuanya tergantung pemakai kendaraan itu sendiri
    peace….

    Suka

    • kalau benar pengapian disesuaikan. yang rugi yang pakai pertamax plus. Kalau di mobil, bila knocking terdeteksi (gara gara oktan kurang tinggi), maka pengapian diundurkan. Efeknya mobil jadi lemot. Jadi setelah biasanya diisi pertamax, bila diisi premium tenaga turun, setelah balik ke pertamax lagi tenaga tidak sekuat sebelumnya. Kalau di mobil, ecu harus direset. Kalau dari pabriknya dilambatkan, maka performa tidak maksimal…

      Suka

      • infrastruktur yang belum merata juga penyebabnya
        pabrikan menjual produknya dari sabang sampai merauke,tidak semua daerah lengkap ketersediaan bbm nya jadi harus ada yang di sesuaikan dan dikorbankan
        kalau hanya mementingkan performa bisa saja pabrikan mensetting top performance,tapi minimal bbm nya pertamax
        contoh r125 sama old vixi,cc beda tapi tenaga sama,salah satu pembedanya karena bbm yang digunakan jadi bisa di setting mesin bisa maksimal
        imo…..peace

        Suka

      • salah sendiri isi pertamax plus di mobil yang kepakenya cuma buat di buang buang di kemacetan wkwkwkkw…
        Motor pake P+ semacet macetnya masih bisa selap selip dan geber ketika jalan kosong, masih kepake potensi maksimal dari si P+ nya.

        Baca artikel saya yang tentang bedah mesin Honda Sonic dan New CB mas, disitu bisa tau kenapa Honda bilang tetap aman isi premium kalau di daerah yang gada pertamax.. salah satunya ya ada pergeseran timing pengapian

        Suka

  6. Pengalaman saya berada dalam korporasi dan pemerintahan, yg seperti ini biasanya ada dorongan politik. Kadang memaksa. Jadi ya ‘harap maklum’ aja.

    Suka

  7. motor mau pake bahan bakar apa aja bisa jalan..
    yg penting klo emang udah gaa enak tuh motor,, beli aja yg baru jual yg lama…
    hehehehee,, gitu aja koq repoottt..

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s