Jangan pakai pertalite bro! tenaga motor berkurang


Pertalite sekarang ini sudah tersedia di banyak SPBU. Mungkin pembaca sudah banyak yang mencoba pertalite dan membandingkannya dengan premium ataupun pertamax. Kalau kata pertamina sendiri adalah:
Energia weekly – 27 April 2015 NO. 17 TAHUN LI

Sementara itu, Direktur Pemasaran Pertamina, Ahmad Bambang, mengungkapkan bahwa produk Pertalite Ron 90 memiliki kualitas bahan bakar yang lebih baik dibanding Premium. Ia juga meyakini masyarakat akan beralih ke Pertalite daripada tetap menggunakan bensin Premium.

pertalite

Energia Weekly – 5 Oktober 2015, NO. 40 TAHUN LI

Dari hasil turun langsung menjual Pertalite itu, lanjut Zainal, manajemen juga ingin mendengarkan langsung masukanmasukan dari konsumen terkait produk baru ini. “Alhamdulillah responnya bagus. Rata-rata yang sudah pakai Pertalite bilang tarikan ke mesin jadi lebih enteng,” ungkapnya. “Bahkan becak motor pun ada yang sudah pakai Pertalite,” lanjutnya.

Energia Weekly – 10 Agustus 2015, NO. 32 TAHUN LI

JAKARTA – Pertamina melakukan tatap muka dengan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) untuk menyosialisasikan kelayakan Bahan Bakar Minyak (BBM) varian baru Pertalite bagi pengguna kendaraan bermotor. Ekonom Lembaga Afiliasi Penelitian dan Industri (LAPI) ITB, Tri Yuswidjajanto Zaenuri yang ikut hadir dalam acara tersebut menjelaskan, masing-masing bahan bakar minyak seperti Premium dan Pertamax memiliki perbedaan signifikan dengan Pertalite. “Secara umum, Pertalite lebih irit ketimbang dengan Premium,” ungkap Tri.

Uji coba untuk kendaraan roda dua dilakukan pada motor jenis Honda Beat 110 cc Full Injection (FI), Honda Vario 125 ccFI, dan Yamaha Vixion 150 ccFI. Sedangkan roda empat pada jenis Toyota Camry, Toyota Avanza, dan Mercedes. Secara performa, lanjut Tri, Pertalite lebih baik dibanding Premium namun masih dibawah Pertamax.

 

Katanya begitu, namun dari beberapa testimoni kenalan, banyak yang mengungkapkan bahwa tenaga mesin pakai pertalite tidak sehebat janji tersebut. Bahkan ada yang klaim bahwa pakai campuran premium dan pertamax terasa lebih bertenaga dan lebih irit daripada pakai pertalite.

Bagi yang ingin irit, tentu premium tetap menjadi pilihan utama. Terlepas dari klaim bahwa premium tidak akan dihapuskan tentu pembaca sudah tahu sendiri bahwa itu tidak bisa jadi jaminan, pemerintah bisa saja secara tiba – tiba mengumumkan pengentian penjualan premium demi alasan ekonomi.

Apalagi memang sudah diklaim bahwa pertalite dikeluarkan tujuannya untuk mengurangi kerugian pertalite.
Energia Weekly – 17 Agustus 2015, NO. 33 TAHUN LI

Belum lagi upaya Pertamina dalam memberikan pilihan kepada konsumen dengan meluncurkan produk baru, seperti Pertalite. Dengan produk baru tersebut, Pertamina berusaha mencari solusi untuk mengurangi kerugian akibat melemahnya harga crude. Selain tentunya sebagai bukti bahwa Pertamina selalu mengedepankan customer satisfaction sehingga masyarakat dapat memilih bahan bakar yang digunakan sesuai dengan kemampuan ekonominya.
Jadi, ketika tahun 2015 pemerintah menggaungkan tagline “Ayo Kerja” di usia 70 tahun negara ini, sesungguhnya Pertamina tiada henti bekerja demi mengejawantahkan kemandirian energi untuk bumi pertiwi.•

Bila yang pakai premium masih jauh lebih banyak, maka bisa jadi akan ada aturan yang memaksa masyarakat untuk pakai pertalite. Sesuai dengan semboyan pemerintah sekarang untuk meminta masyarakat mencari uang lebih keras, “ayo kerja”.

Untuk mempromosikan, pertamina juga bekerja sama dengan go-jek:
Energia weekly – 21 September 2015, NO. 38 TAHUN LI

“Ini adalah win-win solutions. Go-Jek berkomitmen menggunakan produk Pertamina, seperti BBM non subsidi Pertalite dan pelumas Pertamina,” jelas Ahmad Bambang.

Untuk penulis sendiri, selama premium masih tersedia, lebih memilih pakai premium saja. Toh kendaraan masih bisa irit, kencang dan bisa dibikin nggak berisik walau pakai premium. Penulis juga tidak percaya pertalite tenaganya lebih ok, toh banyak teman yang tidak puas dengan performa pertalite. Mereka lebih menyarankan campuran premium dan pertamax, kalau memang tidak ingin pakai premium dan pertamax dianggap terlalu mahal.

Seandainya pertalite dijual dengan harga yang sama dengan premium, penulis lebih memilih pakai premium. Kalau memang butuh tenaga nambah ya mending mencampur dengan pertamax atau pakai aditif, toh juga penulis sudah pakai modif penambah tenaga yang juga merubah sifat bensin. Dengan modif ini premium terasa lebih bertenaga daripada pakai pertamax. Mau adu dengan yang pakai pertamax pun no problem, apalagi kalau cuma dibanding dengan pertalite. Pertalite terasa tidak bermanfat bagi penulis. Penulis cuma bisa berharap agar premium akan tetap ada.

Bagaimana kesan bro terhadap pertalite?

update:
Karena penasaran maka penulis memutuskan untuk mencoba pertalite. Untuk lebih fair, penulis terlebih dahulu melepas semua modif pro capacitor / cemenite yang ada di motor penulis. Penulis pakai dulu beberapa hari untuk lebih hapal respon mesinnya.

Ternyata hasilnya mengecewakan. Tenaga saat pakai pertalite lebih parah daripada waktu isi bensin yang paling basi. Tarikan serasa kurang, motor susah diajak akselerasi, kecepatan juga berkurang. Setelah penulis balik lagi ke premium, tenaga terasa mulai pulih kembali.

Sepeda motor penulis sengaja dibuat dengan setelan irit. Namun dengan pemakaian pertalite, seakan setelan jadi lebih irit lagi. Saat kembali ke premium, campuran bensin terasa lebih kaya.

Efek di mesin juga parah, mesin terasa lebih panas waktu pakai pertalite. Mungkin pertalite itu mirip dengan alkohol, oktannya tinggi tapi tenaganya kurang.

Ini bikin penulis jadi berpikir, mengapa kok sampai ada yang mengaku pakai pertalite tenaga nambah? Berikut kemungkinan yang penulis pikirkan:
– Saat mencoba, pertalite masih baru keluar jadi bensinnya masih fresh. Jadi yang coba sebenarnya membandingkan antara bensin basi dan bensin segar. tentu hasil tidak seimbang
– kendaraan yang coba setelan mesinnya terlalu boros, sehingga saat diberi pertalite yang simpanan tenaganya kurang, tenaga mesin justru bertambah
– yang coba tidak sadar bahwa yang dirasakan sebenarnya tenaga berkurang, dikira tenaga nambah padahal justru berkurang

Kesimpulannya, sebaiknya hindari pertalite, bila ingin pakai oktan tinggi mending pertamax, atau kalau dana kurang pertamax campur premium.

Update:
di bulan Agustus 2016 tempat pengisian premium sudah mulai dikurangi. Bila pertalite sudah bukan lagi campuran dari pertamax dan premium dan aditif, maka tenaga pertalite bisa jadi akan lebih baik. Paling tidak tenaga jadi setara dengan premium (dengan asumsi oktan sudah cukup). Karena sudah pernah dibahas sebelumnya bahwa untuk membuat premium 88, pertamina mencampur bensin impor 90 dengan naphta untuk mengurangi oktan. Dan ini sempat penulis rasakan dimana tenaga pertalite setelah premium langka menjadi lebih baik. Namun ini bisa jadi belum merata di semua SPBU.

Update lagi:
Ternyata salah impresi. Bila setelah pakai pertalite, memang pakai premium tarikannya terasa sama. Akan tetapi, bila sudah beberapa minggu pakai premium, setelah pakai pertalite akan terasa tenaga berkurang. Jadi ada sesuatu di pertalite yang mengganggu kerja mesin. Dan efek baru hilang setelah beberapa minggu pakai premium lagi.

Menghindari masalah knalpot mengebulkan asap


Mungkin pembaca pernah melihat motor yang walau sudah 4 tak tapi mengebulkan asap. Mungkin ada yang menyalahkan pabrikan, menganggap knalpot berasap karena kesalahan produksi. Memang bisa jadi seperti itu. Namun kenyataannya yang mengalami masalah knalpotnya berasap bukan cuma satu tipe saja, tapi semua tipe dan bahkan semua merek.

Menurut penulis, masalah knalpot berasap terjadi terutama adalah kesalahan pengguna.

Menurut penulis masalah terutama berhubungan dengan oli yang dipakai. Tidak bisa dipungkiri bahwa pihak pabrikan seringkali menggunakan komponen yang pas – pasan. Kalau olinya jelek, maka seringkali komponennya yang tidak tahan.

Oli tidak hanya berfungsi melumasi mesin. Oli harus juga kompatibel dengan komponen mesin seperti misalnya seal. Ini disebutkan dalam referensi pengujian oli. Disebutkan bahwa salah satu syarat kelulusan adalah kompatibilitas dengan beberapa jenis karet:

– Elastomer compatibility: Polyacrylate Rubber; Hydrogenated Nitrile Rubber; Silicone Rubber; Fluorocarbon Rubber; Ethylene Acrylic Rubber

Bila oli tidak kompatibel, maka oli bisa merusak seal. Biasanya ini terjadi dengan cepat. Problem terjadi beberapa kilometer atau beberapa hari setelah ganti oli. Kadang bisa terjadi langsung besok paginya.

Penting untuk menghindari oli yang bisa membikin rusak seal. Sayangnya kita tidak bisa mempercayai tulisan yang ada di bungkus. Kita cuma bisa berharap oli yang kita beli tidak palsu dan isinya sesuai dengan yang tertulis dibungkus.

 

Masalah knalpot berasap juga bisa terjadi bila telat ganti oli. Oli yang lama bisa mengalami oksidasi. Oksidasi ini akan membuat oli mempunyai sifat asam. Dan seperti diketahui, asam mempunyai sifat korosi. Sifat korosi ini bisa menggerogoti mesin atau komponennya.

Masalah juga bisa terjadi bila pengguna tidak sadar bahwa oli sudah berkurang. Saat oli berkurang maka mesin bisa menjadi sangat panas. Panas ini bisa mengurangi umur dari seal atau komponen lainnya.

Jadi, untuk mengurangi resiko knalpot berasap, pergunakan oli yang bagus dan selangkan waktu untuk memeriksa oli secara berkala. Seandainya ada cacat produksi, paling tidak masalah tidak akan separah yang pakai oli ala kadarnya.

V-Belt lemah yang bikin Honda Beat ESP nggak cocok untuk main akselerasi ngedrag


Barusan ini penulis merasakan bahwa Honda Beat penulis jadi tidak enak dipakai setelah dipakai akselerasi kuat. Masalah belum pernah timbul sebelumnya, namun biasanya akselerasi maksimal dilakukan saat sendirian. Saat itu penulis sedang berboncengan dengan istri dan balita. Penulis mencoba melakukan akselerasi dari 0 sampai 40 kpj, nggak sampai kencang tapi akselerasi dimaksimalkan. Setelah akselerasi tersebut motor dijalankan di kecepatan konstan. Di saat berjalan di kecepatan konstan tersebut reaksi dari motor serasa seperti karet, reaksi gas tidak spontan dan terasa ada membal membalnya. Reaksi dari mesin yang biasanya lumayan halus jadi terasa sedikit bergetar.

Sebelumnya penulis juga pernah melakukan akselerasi maksimal, namun saat itu dalam kondisi tidak dimodif (modifnya lepas), jadi tarikan terasa lemot dan tidak bertenaga. Saat terjadi masalah, modif sudah dipasang sehingga tenaga terasa lebih kuat. Sepertinya penambahan tenaga inilah yang membuat sistem transmisi tidak mampu untuk bekerja dengan benar. Seandainya tenaga mesin masih lemot seperti standardnya Honda Beat ESP pada umumnya, masalah transmisi ini bisa tidak terjadi karena sistemnya masih sanggup.

Untungnya masalah tidak permanen. Paginya kondisi sudah normal lagi, sentakan terasa halus dan tidak membal lagi. Bisa jadi karena overheat atau semacamnya.

Masalah sepertinya baru akan terjadi bila kendaraan diakselerasi maksimal di kecepatan rendah dengan muatan yang mendekati maksimal. Masalah bisa jadi tidak akan keluar bila motor dipakai sendirian saja atau bila tidak pernah akselerasi maksimal walau berboncengan. Jadi sebaiknya walau tenaga lemot, Honda Beatnya jangan diupgrade dan bila akselerasi yang kalem kalem saja. Pakai di kecepatan tinggi rasanya tidak terlalu masalah. Untuk jaga – jaga, sebaiknya walau Honda Beatnya masih lemot / masih standard / belum diupgrade, jangan sering sering melakukan akselerasi maksimal bila berboncengan. Hati hati juga saat ditanjakan. Ada kemungkinan pemakaian rpm rendah di tanjakan yang panjang juga akan membuat masalah ini timbul.

 

Kalau dari informasinya sepertinya Belt di Honda Beat ESP ini lebih baik dari Honda Beat FI sebelumnya:
Kupas Tuntas Honda Beat ESP series VS Honda Beat FI . . . Bagian Mesin ( Part 1 ) December 22, 2014
belt roller honda Beat

Sebenarnnya jarak poros antar pulley di CVT tetap sama, namun karena Movable drive Honda Beat eSP lebih besar, maka Drive Belt nya jadi ikut ikutan lebih panjang nih dari 805 mm di bealt drve Beat FI lama menjadi 820 mm di Honda Beat eSP baru . .. ini lumayan banget lebih panjang 1,5 cm . . . ini lah yang tmcblog sempat tanyakan di sesi Q&A dengan Pak Sarwono Edhi . . . apakah belt lebih panjang akan membuat tarikan tidak responsif nantinya?

Jawaban pak sarwono Edhi adalah . . . panjangnnya belt drive itu dikarenakan kemiringan dari Movable drive namun tidak mempengaryuhi performance (menurunkan performance karena jarak pulleynya sama)

Lalu Rollernnya pun dibuat lebih berat 2 gram perpiece, ( bobot roller beat eSP 15 g-roller beat FI 13 g) dengan jumlah roller yang tetap yakni 6 roller . .. diameter roller beat eSP dibuat lebih kecil 0,11 m dibanding roller beat FI . . . dan kembali di sesi Q&A tmcblog tanya lagiii . . . * nanya mulu nih hehehe Lho kenapa dibuat lebih berat dan lebih kecil?

Jawaban Pak sarwono edhi adalah . . . Secara total . . . ada perbaikkan perfomance di Low dan mid rpm dengan membuat Roller jadi lebih berat dan perbaikan movable drive jadi lebih lebar dan perbedaan kemiringannnya.

Penulis curiga masalah ini terjadi pada matic Honda yang lain, termasuk juga Honda PCX dan vario. Silahkan baca ulasan dan komen pembaca di artikel berikut:
Satu Tahun Bersama New Honda PCX 150, Apa Kekurangan dan Kelebihannya? 09/10/2015

Jika CVT kotor maka getaran pada setang dan kaki sangat mengganggu, terasanya pada saat stop dan go.. kalau sudah jalan sih normal. Ini karakter PCX yang sulit hilang sejak gen lawas..Yang KBY lakukan untuk menanggulanginya adalah dari yang paling mudah hingga melakukan servis berkala.Yang termudah dengan menahan rem depan dan memutar gas hingga motor ingin melaju. Tahan sekitar 5-10 detik, biasanya setelah itu getarannya hilang.Yang kedua adalah melakukan penggantian pelumas mesin dengan yang lebih baik (lebih encer lebih licin) seperti pelumas untuk mobil. Hal ini juga tokcer menghilangkan getarannya untuk jangka waktu cukup lama…

10. Speed Man – 09/10/2015
Sama dengan vario 125ku mang, kalo v belt kotor getarannya kya jalan di bebatuan dan bikin pegel. tapi kalo varioku tak paksain malah mesinnya bunyi klotok” pas idle. pernah minta utk dibersihin cvtnya di ahass malah ditolak, katanya gak boleh dibuka sebelum 10rb km. walahhh

33. DmNc – 12/10/2015
buru diical we sblm harganya jatoh krn versi lokalnya nongol. kl geter coba ganti ke v-belt aftermarket. ane nyoba di vario ade ane lemayanan.

 

Sepertinya solusinya adalah dengan menggunakan Belt racing, mungkin macam TDR:
MERANCANG MESIN BALAP MATIC (1)

V-belt seperti rantai, tugasnya meneruskan putaran mesin sampai roda belakang skubek. Kendalanya sampai sekarang belum didapat v-belt racing yang kuat dari standar. Akhirnya buat balap, tetap pakai standar namun lebih cepat ganti.

Coki alias Yessy Liga Siswanto dari JP Racing sudah pernah riset. Bahkan, beberapa v-belt racing buatan luar dicobanya. Namun, tetap saja putus. “Itu terjadi di Mio drag bike 250 cc (22 dk) atau Mio road race 150 cc (15 dk),” kata Coki bek..
Sebagai solusi, tetap menggunakan v-belt standar. Namun batas pakainya lebih cepat. “Habis balap harus dilepas,” jelas Beny Pria ‘Baong’ Nursandi, pembalap seeded bangkotan yang kini melirik balap skutik
Goday, mekanik JP Racing kasih penjelasan rinci. Katanya demi keamanan setiap 15 lap harus ganti v-belt. Sebab berisiko fatal jika sampai putus. “Bahayanya seperti putus cinta. Iya puli depan (driven pully) kerap rompal akibat v-belt putus,” tambah Beny.

Itu ditangkap Mitra2000 yang terkenal dengan TDR-nya. Maklum, Mitra2000 sudah banyak bereksperimen, sebelum balap skubek rame. Masih ingat kan, skubek milik Mitra200 yang menarik mobil off-road bongsor. Nah, itu saja, V-BELT TDR gak putus-putus. Apalagi hanya menarik motor. balap-skubek(beni-mitra)—.jpg” title=”Beny Rachmawan. Berani diuji ”

Padahal, tuh skubek menghela beban yang ruar biasa berat. “Mitra2000 melakukan riset v-belt atas dasar standar. Basicnya, harus berpatokan pada v-belt asli pabrik. Itu yang dilakukan,” sebut Tedy Hartono, bos Mitra2000.

Singkat cerita, Mitra2000 yang bermitra dengan Bando Manufacturing Thailand (BMT) Ltd., yang tentu, bermarkas di Thailand. BMT sebagai penyuplai v-belt resmi pabrikan pabrikan Jepang. Punya basic atau ukuran kekuatan sabuk standar pabrik. “Khusus untuk TDR dibikin lebih kuat lagi,” rinci Tedy yang sedang ke Thai untuk menangkap Gajah Putih lalu diikat pakai v-belt TDR. Maksud, loe? Iya, itu tanda sabuk TDR kuat. He, he…

Pantas TDR berani jadi sponsor resmi balap skubek yang akan dipentas 4 seri sepanjang 2009 ini. “Bahkan TDR berani kasih kepada semua tim dan pembalap untuk memakainya. Ini komitmen Mitra2000 untuk membuat produk berkualitas,” timpal Beny Rachmawan, juru bicara TDR.

 

Karena sekarang sudah tahu kelemahannya, maka ya sudah, toh hanya dipakai terutama sama istri, pemakaian dibuat nyantai nyantai saja. Kalau untuk pembaca yang punya niat modif mesin Honda Beatnya, jangan melupakan untuk upgrade Beltnya juga.

Tambahan:
Berdasarkan informasi dari mas Yogas, sepertinya masalah yang terjadi di Honda Vario atau Honda PCX lain. Masalah mereka terjadi terutama saat start awal saja. Mas Yogas menyebutkan masalah terjadi karena kopling yang kurang besar / kurang mengigit. Menurut penulis bisa ada dua macam penyebab.

Yang pertama adalah bagian CVT. Belt pada sistem CVT terhubung pada dua as. Saat rpm rendah maka pemberat tidak mengapit sehingga bagian depan beltnya menempel langsung pada as, dan bagian belakang membesar karena diapit per, silahkan lihat video berikut untuk lebih jelasnya. Bagian depan dijepit dari reaksi pemberat sementara bagian belakang dijepit dari reaksi per:

Bila belt kendor atau kurang lebar atau per CVTnya lemah maka efek nyendal atau kurang mengigit saat start bisa terjadi. Bagian CVT biasanya kotor dan perlu dibersihkan dan diberi stempet ulang karena tidak terendam oli.

Yang kedua adalah bagian transmisi dimana ada mekanisme untuk menyangkutkan roda dengan putaran CVT. Di Honda mekanisme ini termasuk rawan. Bagian ini mempunyai bak oli yang terpisah dari mesin dan sering terlupakan. Saran penggantian oli biasanya 8000km, lebih jarang daripada oli mesin. Bila mekanisme tersebut aus, maka pada saat awal akan terasa nyentak atau kurang mulus saat awal. Oli mesin yang jelek akan memperparah keadaan.

Kelalaian Honda di setelan lampu depan yang bisa membahayakan atau bikin jengkel pengendara lain


Ini kembali membahas lampu depan yang berpotensi melanggar peraturan, membahayakan orang lain atau paling tidak bikin jengkel orang lain. Sebelumnya penulis sudah membahas ini di artikel berikut:
Lampu LED terang dari Honda Vario 150 berpotensi melanggar peraturan?

Dari masalah peraturan, sepertinya yang penting sorot lampu tidak terlalu ke atas.
Video menarik tentang polisi memperingatkan pengguna jalan yang kedapatan memakai lampu LED yang terlalu terang

Soal warna, sepertinya di Indonesia belum ada batasan. Kalau untuk Eropa sepertinya ada batasan warna, maksimal adalah 4300K. Kurang dari 4300K warnanya lebih kuning, lebih dari 4300K warnanya lebih biru. Anggap saja 4300K itu warna putih.

Yang penulis ingin bahas adalah kecenderungan produk Honda yang lampu depannya terlalu mendongak keatas. Lampu yang mendongak keatas ini menjadikan motor Honda berpotensi melanggar peraturan, membahayakan orang lain atau paling tidak bikin jengkel. Hal ini terjadi bukan karena kesalahan desain namun karena setelan bawaan untuk lampu depan dari pabrik yang terlalu ke atas. Jadi ini adalah persoalan kontrol mutu produk akhir dari Honda atau standard baku penyetelan lampu depan yang tidak sesuai.

Jadi sebenarnya kalau Honda mau, lampu bisa diatur agar setelan lampunya pas, tidak terlalu tinggi. Namun pada kenyataannya saat motor diterima konsumen, lampu justru terlalu tinggi.

Untuk bukti, penulis hanya punya sedikit. Paling tidak di motor penulis, Honda Beat, terjadi juga seperti itu. Lampu terlalu mendongak ke atas. Di jalan penulis juga pernah lihat beberapa Honda Vario lampu LEDnya juga mendongak terlalu tinggi.

Penulis jadi teringat lagi masalah ini ketika mas Iwan Banaran juga menjumpai hal yang sama, di motor CB150R yang juga baru:
Ngetes kekuatan lampu LED Honda new CB150R….monggo intip video terlampir !! October 13, 2015

Selain itu posisi default LED bawaan pabrikan IMHO terlalu dongak keatas. Mencoba mencari-cari posisi penyetelan juga belum nemu. Mungkin masukan buat pabrikan…tidak hanya Honda, IMHO semuanya….mungkin desain headlamp LED kedepan diperhatikan soal adjustment panel supaya diletakan diposisi yang gampang diraih. Kayak headlamp model bohlam yang hanya diberikan baut kiri kanan misalnya (tipe sport).

Yang perlu digaris bawahi juga adalah bahkan orang yang sering bergaul dengan banyak sepeda motor saja seperti mas Iwan Banaran sampai gagal menemukan cara untuk mengatur lampu depan. Tentu lebih susah bagi orang yang lebih awam untuk melakukan sendiri. Sehingga tidak bisa diharapkan untuk pemilik mengganti setelan sendiri, harus ke bengkel. Penulis juga terus terang kesulitan untuk menyesuaikan setelan lampu depan di Honda Beat penulis. Baut setelan memang gampang ketemu, tapi untuk menurunkan setelan lampu depan susah sekali, seperti mentok tidak bisa diturunkan lagi walau dari baut terlihat masih bisa turun.

Mungkin ini tidak terjadi merata. Bisa jadi ada dealer yang melakukan pengecekan tambahan sehingga lampu depan tidak mendongak keatas. Atau bisa jadi ada bengkel resmi AHASS yang baik hati mau melakukan pengecekan saat servis walau tanpa diminta konsumen. Namun jelas bahwa ada bukti bahwa Honda lalai untuk melakukan pengecekan setelan ketinggian lampu depan pada produknya. Ini diperparah dengan susahnya penyetelan lampu depan bagi konsumen.

Semoga ini bisa ditangani. Untuk yang barusan beli motor Honda, coba di cek ketinggian lampunya. Nanti saat servis jangan lupa untuk minta setelan lampu depan dibetulkan.

Apakah memang performa rem perlu dibahas pada saat review motor kalau isinya selalu sama?


Mungkin pembaca sudah sering lihat review yang membahas motor baru atau motor yang sudah beberapa lama dipakai. Dalam review tersebut lumrah dibahas beberapa aspek yang dianggap penting. Namun ada satu aspek yang sering sekali dibahas namun bagi penulis cukup membingungkan, terutama bila review tersebut membahas motor baru. Aspek tersebut adalah performa pengereman.

pengereman maksimal

Yang bikin bingung itu adalah karena yang sering dibahas adalah pakemnya. Rasanya kok tidak masuk akal suatu motor kok remnya tidak pakem, apalagi bila motor baru. Sekarang juga motor sudah standard pakai rem cakram semua. Aneh bila rem nya motor nggak pakem.

Sehingga tidak heran bila bagian yang mengupas pengereman isinya sama semua, yaitu: “Remnya pakem”. Memang isi dari pembahasan tersebut sering diselingi kata kata lain, namun rasanya itu sepertinya dilakukan hanya agar bagian tersebut bisa jadi penuh. Intinya cuma mau bilang remnya pakem, titik. Pembaca tentu susah untuk membayangkan sehingga pembaca sering tidak mendapatkan informasi yang berguna.

Alangkah baiknya bila review pengereman itu juga membandingkan dan menjelaskan. Misalnya bila faktor pengereman dibandingkan dengan motor lain, disertai alasan alasan mengapa berbeda. Penjelasan dibuat rinci, misalkan motor A pengereman terasa lebih payah karena bobot yang lebih berat atau karena ban yang lebih tidak menggigit. Atau misalnya masalah terjadi karena kualitas komponen yang dibawah standar atau karena setelan pabrik kurang pas.

Review pengereman bila dibuat serius memang menjadi susah karena pengereman sendiri susah dibandingkan dengan tepat. Pengereman sangat bergantung pada kondisi yang bisa berupa jalan, jenis ban, tekanan ban, bobot motor, bobot pengemudi, kelicinan jalan, roda cacing, dst. Pengujian pengereman motor lain di beberapa waktu yang lalu seringkali tidak bisa dipergunakan untuk pengereman sekarang karena sering sudah lupa atau kondisi berbeda.

Karena faktor yang harus diperhatikan banyak maka pengujian jadi panjang. Misalkan membandingkan pengereman antara mengendarai sendiri atau berboncengan. Atau bila jalan tidak rata dibanding dengan di jalan rata. Atau bila jalan licin dibanding dengan jalan kering. Kerumitan seperti ini yang sepertinya membuat pembuat review enggan untuk melakukan. Jadi sepertinya mereka cuma memilih cara gampang dan sederhana.

Kalau yang mau gampang tentu uji pengereman pakai cara di tekan penuh. Tapi pengujian ini selain tidak akurat juga tidak mencerminkan perilaku kebanyakan pengendara saat di jalan. Kalau nggak betul betul panik, tentu orang jarang mengerem dengan menekan penuh. Dari logika juga mengerem yang maksimal tidak boleh dengan ditekan penuh tapi disesuaikan dengan kondisi yang ada. Kalau asal tekan penuh tentu motor bisa lepas kontrol. Sehingga kalau yang realistis, pengereman dilakukan dengan metode threshold braking, atau mengerem dengan perasaan. Tapi kalau sudah pakai perasaan, maka komparasi jadi subyektif, alias jadi susah dinilai.

Kalau yang review canggih, mungkin juga bisa ditambahkan bagaimana perubahan perilaku motor saat di rem secara maksimal. Namun uji begini membahayakan dan bisa bikin motor rusak. Sebagai contoh kalau misalnya yang diuji motor matik, tentu perilakunya kalau di rem mendadak penuh maka motor bisa langsung jatuh. Untuk motor Honda Supra Fit, seringkali bodi jadi serong ke arah kanan (ini penulis lihat sendiri waktu ada jalan licin dari rombongan beberapa motor, dua motor Honda Supra Fit bodi belakang ngepot ke kanan semua).

Kerumitan kerumitan diatas seringkali review tentang pengereman motor isinya tidak bermutu. Isinya cuma menyebut tentang rem yang pakem. Coba dibandingkan dengan aspek lain, seperti akselerasi. Setiap review selalu memberikan detil yang bisa membuat motor gampang dibedakan dari yang lain. Coba bayangkan bila setiap review isinya cuma: akselerasi mantap. Tentu pembaca tidak akan bisa mendapatkan informasi.

Apakah bisa diharapkan agar yang review bisa memberikan informasi yang lebih berguna? Karena pengereman tentu bagian yang sangat penting dari keselamatan. Kalau cuma asal disebut pakem tentu tidak berguna. Mari kita doakan agar review untuk pengereman bisa lebih memberikan manfaat.

Mengkritisi iklan Honda CB150R SF, mengapa harus dipalsu suaranya?


Penulis baru sadar bahwa suara yang diperdengarkan di iklan resmi Honda CB150R itu ternyata bukan suara aslinya. Ada yang suara mobil dan ada yang suara motor sport lain. Ini membuat penulis bertanya tanya. Apakah memang suara asli dari motor Honda CB150R streetfire ini aslinya tidak merdu?

Iklan yang penulis maksud adalah yang ini:

Suara saat motor di berhenti bisa di dengar di videonya mas taufik berikut:

Suara saat motor berjalan bisa didengar di video berikut:

Dari video saat motor berjalan, terus terang penulis kurang suka. Rasanya juga suara mesin akan mendominasi, suara knalpot kalah kuat bila motor sedang berjalan pelan atau bila pada kecepatan yang tetap. Sehingga jadinya suara motor jadi tidak nyaman didengar. Suara mesin di video di atas juga klotak klotak, bukan suara yang merdu kalau harus mendengar selama di jalan.

Penulis memang belum pernah bertemu dengan Honda CB150R SF yang baru di jalan. Kalau motor CB150R SF yang lama sudah sering dan kesan penulis adalah suaranya jelek. Suaranya baru bagus bila knalpotnya sudah diganti dengan punya Tiger Revo atau punya Satria atau punya Vixion edisi awal. Kalau yang pakai knalpot racing justru suaranya hancur, masih lebih mending yang knalpotnya dilepas satu saringannya.

Kembali ke topik, rasanya memang suara asli dari motor CB150R tidak bisa dibanggakan dan sepertinya Honda sendiri sudah tahu bahwa konsumen juga mementingkan suara sehingga berani mengambil langkah untuk memalsu suara motor yang di iklan resminya. Mungkin motor kurang laku bila diiklankan dengan suara aslinya.

Cara agar tampilan spedo digital tidak lagi hitam putih, tidak membosankan dan bisa terlihat warna warni


Hadirnya spedo full digital di sepeda motor kelas menengah ke bawah bisa menjadi duri dalam daging bagi rider yang suka tampilan cerah dan bewarna. Seperti yang disinggung oleh salah satu pembaca, hadirnya spedo full digital ini sama seperti ketika handphone mulai populer. Dulu tampilan hitam putihpun kelihatan keren. Namun ketika layar warna warni mulai diperkenalkan, tampilan hitam putih tersebut menjadi kelihatan kuno dan ketinggalan jaman.

Dengan masyarakat sudah terbiasa dengan tampilan berwarna, hadirnya spedo dengan cuma layar hitam putih terasa menjadi suatu kemunduran. Bagi yang suka tampilan cerah dan berwarna, tampilan digital yang cuma begitu begitu saja menjadi kekurangan yang sangat berarti.

Ada cara agar tampilan menjadi lebih cantik. Sedikit membantu, bisa sebentar mengurangi jenuh. Bila mau berjuang maka hasil bisa menjadi sangat menarik.

Cara pertama adalah mengganti lampu lednya, klik gambar untuk menuju artikel yang mencantumkannya:
indiglow-baru-2

biru

Cara kedua adalah dengan membalik backlight LCDnya, sehingga tampilan yang sebelumnya tulisan hitam latar belakang putih jadi tulisan putih latar belakang hitam, katanya mazped triknya disebut membalik polarisasi:
merubahbacklight

Artikelnya:
LCD Polarized… Gini Nih Cara Bikinnya.. Oktober 21, 2014
Mengenal LCD dan Trik Modif LCD Polarized Spidometer September 10, 2014

Kalau telaten, setelah dibalik latar belakangnya jadi hitam dan tulisan jadi putih, bisa diwarnai juga, pakai caranya mazped, keren sekali:
Jpeg

Yang ideal semestinya adalah yang seperti berikut ini, layarnya betulan digital yang cerah dan berwarna:

Atau bila ingin yang kreatif atau ada yang ingin berkreasi, bisa juga coba menggunakan layar tablet android yang dihubungkan dengan alat interface. Bila kendaraannya mendukung protokol OBD2, maka data data mesin bisa ditampilkan ke layar dengan bantuan program pembaca data OBD2. Seperti misalnya torque:
torque-app-1

Atau
digitaldashboard4

Atau mungkin pakai alat yang terpisah, namun mungkin hanya bisa untu rpm saja:
13000-RPM-motor-skuter-Analog-Tachometer-pengukur-Cahaya-malam-sepeda-motor-instrumen-Skuter-indikator-kecepatan-BHU2

Memang hadirnya spedo digital sudah tidak bisa dibendung lagi. Walau mungkin tampilannya sangat membosankan dan membuat mata sepat, berdoa saja bahwa pabrikan sepeda motor akan segera mengimplementasikan layar yang cerah dan berwarna. Untuk yang sudah kadung beli motor dengan spedo digital, bila sudah bosan, dicoba saja cara diatas.