Kalau pingin aman saat mengisi bensin tidak cukup hanya mematikan mesin saja


Sekarang ini di pom bensin penulis amati banyak yang memasang print printnan artikel tentang pom bensin terbakar. Petugas pengisian pun lebih ketat dan mengharuskan pemilik kendaraan untuk mematikan mesin motor.

Artikel yang banyak di kutip adalah artikel berikut:
Efek ngisi bensin tanpa mematikan mesin……!!! September 3, 2014

Bro dan sis sekalian…..sejauh ini banyak sekali yang masih kurang paham kenapa mesin wajib mati ketika mengisi bensin. Padahal jika dianggap sepele…….kebakaran bisa mengintai sewaktu-waktu. Ini bukanlah dongeng atau gertak sambal. Namun telah menimpa salah satu mobil Avanza B 2430 PT diBogor berikut ini

Bro Agus Ependi melaporkan…..kejadian 5 hari lalu dan baru sempet IWB posting hari ini menyisakan sebuah kesimpulan yang membuat IWB sendiri cukup merinding yakni….sang pengemudi ternyata tidak mematikan mesin kendaraan saat mengisi bensin….

Kebakaran terjadi saat mobil tersebut hendak mengisi BBM Premium. Sumber mengatakan hanya hitungan detik sebelum petugas SPBU menuangkan bensin ke tangki mobil itu, bagian mesin mobil tiba-tiba meledak dan menyambar mesin pengisi bensin disampingnya. Beruntung bensin belum sempat dituang ke tangki, kalau itu terjadi gak tau deh itu SPBU kaya gimana jadinya.

Ada beberapa keganjilan dari cerita dan solusi yang disebutkan. Ini coba penulis kupas dalam dua bagian.

Bila benar kebakaran terjadi karena mesin menyala, apa solusinya cukup mematikan mesin saat mengisi bensin?

Bila kita anggap bahwa kebakaran tersebut terjadi karena mesin menyala, maka rasanya mematikan mesin saat mengisi bensin saja tidak cukup. Di situ jelas diceritakan bahwa petugas masih belum mulai mengisi bensin, tapi kebakaran bisa terjadi karena ledakan di dalam mobil. Perlu disadari bahwa mesin menyala tidak saja pada waktu mobil sudah berhenti, tapi juga pada waktu mobil menggelinding memposisikan diri ke lokasi pengisian bensin. Jadi bisa jadi kasus yang sama bisa terjadi bukan pada saat mobilnya sudah berhenti, tapi juga pada saat mobil masih sedang melaju masuk ke tempat pengisian. Jadi bila ada ledakan pada mobil saat sedang masuk ke lokasi pengisian, maka kebakaran akan tetap terjadi.

Itu artinya bahwa bila mobil lagi melaju untuk menuju tempat pengisian bensin sekalipun berpotensi untuk menimbulkan bahaya kebakaran. Itu artinya walau kita sudah mematikan mesin mobil disaat pengisian, bila disaat yang sama ada mobil lain yang sedang masuk atau lewat lokasi pengisian lalu ada ledakan mesinnya, maka kebakaran akan tetap bisa terjadi. Nggak cuma kendaraan yang berhenti saja yang harus dimatikan mesinnya, tapi kendaraan yang disekitar juga harus dimatikan mesinnya.

Jadi solusi yang benar itu nggak cuma kendaraan yang berhenti mau mengisi bensin saja yang harus dimatikan mesinnya, tapi seharusnya semua kendaraan sebelum masuk area pengisian bensin di pom bensin harus dimatikan mesinnya, alias kalau mau menuju tempat pengisian harus di dorong!

Tapi terus terang penulis nggak yakin pengelola bensin akan berani menerapkan itu. Jadi bisa dipastikan walau kendaraan yang mengisi bensin sudah mati mesinnya, kendaraan lain tetap berseliweran dengan bebas dengan mesin menyala.

Dilihat dari sisi lain, secara statistik kemungkinan kebakaran karena mesin menyala sebenarnya kecil juga. Sebelum mulai maraknya pom bensin meningkatkan disiplin aturan mematikan emsin, sudah banyak sekali orang yang mengisi bensin tanpa mematikan mesin. Jadi bisa jadi kemungkinan terjadinya kebakaran karena mesin masih menyala adalah 1: 1 juta atau lebih.

Apa benar kebakaran terjadi karena mesin menyala? Kalau terjadinya karena penyebab lain bisa bikin masyarakat lengah dan teledor terhadap penyebab lainnya

Yang bikin penulis ragu tentang analisa diatas adalah karena ledakan terjadi di mesin mobil terlebih dahulu. Ini berarti selain ada bunga api, juga ada bahan mudah meledak di dalam mesin mobil. Karena kalau cuma bunga api saja, misalkan karena konslet atau benturan logam atau saklar relay aktif tidak akan menghasilkan ledakan karena tidak ada media yang diledakkan. Mobil yang dirawat dengan benar harusnya tidak menimbulkan ledakan di dalam mesin. Bahan yang mudah meledak di dalam mobil kemungkinannya:
– bensin bocor
– uap aki yang overcharge. Aki soak atau alternator yang rusak akan membuat aki mendidih / elektrolisa sehingga menghaslkan uap hidrogen. Uap hidrogen ini mudah meledak.
– modif yang memanfaatkan uap bensin sebagai penambah tenaga yang melewatkan bensin ke pemanas di knalpot
– modif yang membuat uap PCV ke udara bebas / CAI
– modif penambah tenaga HHO yang mengubah air menjadi uap hidrogen yang mudah meledak yang bocor
– modif voltage stabilizer yang menggunakan kapasitor elco basah yang saat terkena panas tinggi dan aus bisa meledak (kasus yang sering terjadi juga di lampu hemat energi).

Untuk kemungkinan penyebab lain bisa disimak di
Shell Safe – Think Safe, Stay Safe

Car Engines: By law you must switch off your engine before and during refuelling.
Refuelling Petrol Vehicles: Take care when operating the fuel cap on your petrol vehicle. Static discharge from some types of clothing ay ignite petrol vapours from your vehicle tank.
Mobile Phones: Dropping a mobile phone or switching it on or off can cause sparks, which may ignite petrol vapours. Using a mobile phone while refuelling can cause a lapse in concentration.

Smoking: By law, you and your passengers are required to extinguish your cigarettes, cigars or pipes prior to entering the service station.

Children: ONLY adults (15 years or older) are permitted to fill fuel tanks. Service station driveways can be dangerous, please keep a close watch on children at all times.

Motorcycles: Always get off your motorcycle prior to and during refuelling. Remove your helmet before entering a store.

Caravans and Food Vans: By law you are required to extinguish all pilot lights of mobile campervans, caravans, food vans and gas refrigerators.

Filling Containers: Fill only properly labelled containers which have been stamped to say they are approved to carry flammable liquids. Filling non-approved or incorrectly labelled containers from dispensing pumps is illegal. Do not fill containers on the back of a truck deck, trailer, ute, in car boots, etc. When filling a portable container, manually control the nozzle valve and fill slowly throughout the process to reduce the chance of static electricity build-up and minimize splattering / spilling.

Safe Fuel Handling
Please be careful when handling or storing fuel for any purpose: Contact with petrol or LPG can burn or irritate skin or eyes and stain or dissolve certain fabrics. If your clothing is splashed with fuel, saturate the area with water and remove the clothing slowly (to avoid static electricity) as soon as possible. Hang out to thoroughly air before washing. If fuel splashes on your skin, wash with soap and water. If fuel gets in your eyes, wash out with running water for at least 15 minutes. If pain persists, seek medical attention. Prolonged exposure to vapours can adversely affect health. Always label and store fuel containers in a cool, well ventilated location out of children’s reach. It is illegal to pour fuel into drains or sumps due to the potential environmental damage and the risk of explosion.

Prevention of Static Electricity
Guidelines on Prevention: Especially when refuelling the vehicle yourself, discharge static (e.g. by touching metal parts of your vehicle) before lifting pump nozzle. DON’T re-enter your vehicle during refuelling – stay outside. Use ONLY the refuelling latch available on the pump nozzle, and don’t leave the nozzle unattended.

Understanding Static Electricity
Under dry climatic conditions, static electricity build-up is most likely to occur. Static electricity may build up when you re-enter the vehicle during refuelling. When you then return to the vehicle fill pipe, the static may discharge at the fill point, potentially igniting gasoline vapours and causing a fire.

Driveway Safety
No Pull-Away & Speeding. Start your engine and move your vehicle ONLY AFTER refuelling is completed and the nozzle is placed back to the dispenser. Pull-away of hose and nozzle may hurt people around you, damage your car, lead to fuel leakage and possibly cause a fire. Service station driveways are busy places. Reduce speed and be aware of moving vehicles and pedestrians.

Poin yang penting dari artikel diatas adalah menjatuhkan hp, mematikan atau menyalakan hp, membuka tutup pintu, menyentuh mobil, atau merokok merupakan aktifitas yang berpotensi menimbulkan bahaya kebakaran di pom bensin.

Perhatikan juga artikel berikut:
Ternyata, 80 Persen Kebakaran di SPBU karena Hal Ini…

KESELAMATAN operasi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) menjadi bagian penting yang harus dipenuhi. Potensi insiden yang diakibatkan oleh human error kerap kali terjadi. Dari data analis kejadian PT Pertamina Marketing Operation Region VI tahun lalu hampir 80 persen kebakaran di SPBU disebabkan oleh human error saat melakukan pengisian BBM di SPBU.

“Prilaku tidak aman yang sering dilakukan masyarakat saat mengisi BBM seperti mengangkat handphone saat pengisian BBM, menghidupkan mesin saat mengisi BBM, mengisi BBM hinga luber, dan hal yang banyak masyarakat belum mengetahui yakni mengisi BBM menggunakan jerigen plastik,” jelasnya.

Kesimpulannya, jangan merasa aman dengan hanya mematikan mesin juga. Waspada terhadap kemungkinan lain. Pastikan bahwa semua modifikasi yang kita lakukan terhadap kendaraan benar benar aman. Perhatikan juga peringatan diatas seperti penggunaan hp, waspada terhadap listrik elektrostatik, dan jangan egois memikirkan kesenangan sendiri tanpa perduli keselamatan yang lain bagi yang hobi merokok di kendaraan. Pastikan putung rokok dan pematik api benar benar mati sebelum masuk pom bensin.

Honda Supra GTR 150 mencatut nama saingan namun apa benar sudah layak menyandang nama tersebut?


Menarik sekali melihat cara penamaan honda Indonesia (Astra Honda Motor) terhadap motor hasil produksinya. Barusan Honda merilis motor baru dengan nama Honda Supra GTR 150. Nama tersebut ngeplek sama persis dengan nama mobil sport saingan Honda yang asalnya sama sama dari jepang.

Supra merupakan nama mobil sport keluaran Toyota dengan mesin 6 silinder. GTR merupakan nama mobil sport keluaran Nissan dengan mesin 6 silinder juga.

Toyota Supra
TRD Supra

Nissan GTR
Nissan GTR

Yang lucu, Supra seringkali dibanding bandingkan dengan GTR dalam banyak race. Namun oleh Honda, kedua nama ini digabungkan jadi satu sebagai nama satu produk motor bebek. Mungkin terinspirasi oleh kedua nama itu, iklannya memakai lokasi di gunung, yang istilah kalau di jepang namanya touge.

Secara handling dan power, dengan bodi bebek dan mesin motor laki, Honda Supra GTR 150 memang punya potensi yang besar. Namun bila dibandingkan dengan motor lain, performa, handling dan kenyamanan masih belum bisa sehebat nama yang dicatutnya. Dari tampilan, kesan sporty masih kalah dengan motor laki. Dari performa, masih 11:12 dengan motor sekelas. Dari kenyamanan juga sama 11:12 dengan yang lain. Reliabilitas malah sepertinya dibawah dari yang lain. Dari keseluruhan ke-“super”-annya masih tidak terlihat untuk nama yang harusnya menyandang legenda di dunia balap.

Kalau dibandingkan dengan mobil, performa, handling dan kenyamanan dari motor sport 150cc masih beda jauh walau dibandingkannya dengan mobil murah LCGC sekalipun. Apalagi bila dibandingkan dengan mobil sport. Tidak jauh berbeda bila dibandingkan dengan HOnda Supra GTR 150. Gap masih terlalu jauh, motor Honda Supra GTR seperti keberatan nama.

Yang juga janggal, motor yang namanya mencatut nama mobil sport terkenal kok diiklankan di jalan offroad?

Kesan setelah melihat iklan motor baru Honda Supra GTR150, seperti Supra X tapi ccnya dibesarkan


Iklan untuk All New Honda Supra GTR 150 sudah keluar. Bisa disimak di link berikut:
versi pendek:

Versi panjang:

Diperlihatkan motor tersebut dipakai untuk keluar kota naik gunung dan bahkan off road. Sepertinya sengaja iklan dibuat segmentasinya berbeda dari Honda Sonic 150 yang memperlihatkan tema urban atau di perkotaan. Jadi GTR150 untuk luar kota, Sonic 150 untuk dalam kota. GTR150 dibuat wheel spin di lumpur sementara Sonic150 wheel spin di paving.

Namun agak aneh juga melihat motor bebek dengan ban untuk aspal dipakai di jalan offroad.
Honda Supra GTR 150 di jalan offroad

Kalau melihat tampilan, belakang mirip dengan Sonic dan depan mirip dengan Honda Supra yang lain. Secara keseluruhan tidak terlihat sporty tapi lebih ke elegan. Berbeda dari Sonic, Honda GTR 150 juga dikesankan untuk pengendara mature atau yang sudah tidak muda lagi. Pangsa pasarnya sepertinya bukan ABG.

Berdasar teks pada video fitur yang diandalkan adalah:
– Comfort riding position
– New Generation 150cc DOHC – 6 speed
– Front & Rear wide tire tubeless
– LED Headlight

Slogannya:
The All New Honda Supra GTR 150 Discover Great Feeling

Pilihan warna terkesan senada:
Honda Supra GTR 150 pilihan model

Asesori resmi juga sudah ditawarkan. Namun menurut penulis kok rasanya jadi terlihat aneh.
Honda Supra GTR 150 asesori 1

Honda Supra GTR 150 asesori 2

Kalau oktan sudah sesuai, pakai bensin oktan lebih tinggi tenaganya tidak pasti tambah, dan alasan lain menghindari pakai pertalite


Artikel ini untuk menjawab para pembaca yang mengatakan bahwa pakai pertalite tenaga terasa bertambah di artikel berikut:
Jangan pakai pertalite bro! tenaga motor berkurang

Penulis di artikel tersebut menyarankan agar daripada pakai pertalite, mending pakai premium campur pertamax. Disitu banyak pembaca yang mengatakan pakai pertalite tarikan mesin lebih enak daripada bila pakai premium.

Pertama akan penulis coba mengemukakan argumentasi bahwa oktan itu tidak berbanding lurus dengan performa, bahwa oktan lebih tinggi itu tidak berarti performa akan juga naik namun dengan syarat kebutuhan oktan mesin terpenuhi.

Coba simak kutipan berikut ini:
Race Fuel 101: Lead and Leaded Racing Fuels

MO2X Unleaded has a 97 octane rating while the leaded version achieves a 112 octane rating. Though one is 15 octane numbers higher than the other, both share the same fuel combustion properties. Both fuels are oxygenated, both provide great throttle response, and racers have the choice of running an unleaded fuel if 97 octane is sufficient.

Disebutkan bahwa bensin MO2X yang oktannya lebih tinggi daya bakarnya sama persis dengan yang oktannya lebih rendah. Sehingga asal oktannya cukup, tenaganya sama.

Lalu di kutipan berikutnya, dari website resmi shell australia. Shell adalah produsen bensin yang sering dianggap lebih baik dari punya pertamina.
Shell Fuels
shell v power 98 vs uleaded 98

Shell V-Power is 98 octane premium fuel which is designed to improve performance and act instantly in your engine. Discover more about our premium fuel.

Shell Premium 98 has been specially developed to meet the increasing demand for high octane, premium fuels and contains Shell’s unique Fuel Economy Formula.

Disitu terlihat bahwa Shell Australia punya dua produk bensin yang oktannya sama – sama 98. Namun yang satu di desain khusus untuk performa. Itu adalah bukti bahwa pada oktan yang sama tenaga bisa beda. Jadi oktan itu tidak ada hubungannya dengan tenaga, tergantung sama produsennya.

Juga dari wiki
Octane rating, From Wikipedia, the free encyclopedia

Octane ratings are not indicators of the energy content of fuels. They are only a measure of the fuel’s tendency to burn in a controlled manner, rather than exploding in an uncontrolled manner. Where the octane number is raised by blending in ethanol, energy content per volume is reduced.

Disebutkan bahwa oktan tidak menentukan nilai energi pada bensin. Bila kenaikan oktan diperoleh dengan mencampur dengan ethanol, maka energi malah justru berkurang.

Dari Exxon:
Exxon › Home › Quality fuels › Our fuels › Octane ratings

Ordinarily, a vehicle will not benefit from using an octane higher than recommended in the owner’s manual.

Dikatakan kendaraan tidak akan mendapatkan manfaat pakai bensin yang oktannya lebih tinggi dari rekomendasi.

 

Terus mengapa kok sampai banyak yang bilang pertalite itu terasa lebih enak tarikannya daripada pakai premium? Itu karena motornya harusnya diminumi bensin yang oktannya tinggi. Bisa jadi kalau pakai pertamax tenaga akan lebih enak lagi.

Dari kutipan wiki:

However, burning fuel with a lower octane rating than that for which the engine is designed often results in a reduction of power output and efficiency. Use of gasoline with lower octane numbers may lead to the problem of engine knocking.

Disebutkan tenaga dan efisiensi berkurang kalau bensin kurang oktannya, dan juga bisa menyebabkan problem knocking. Knocking sendiri dijelaskan sebagai berikut:
Engine knocking, From Wikipedia, the free encyclopedia

Knocking in spark-ignition internal combustion engines occurs when combustion of the air/fuel mixture in the cylinder does not start off correctly in response to ignition by the spark plug, but one or more pockets of air/fuel mixture explode outside the envelope of the normal combustion front.

The fuel-air charge is meant to be ignited by the spark plug only, and at a precise point in the piston’s stroke. Knock occurs when the peak of the combustion process no longer occurs at the optimum moment for the four-stroke cycle. The shock wave creates the characteristic metallic “pinging” sound, and cylinder pressure increases dramatically. Effects of engine knocking range from inconsequential to completely destructive.

Knocking should not be confused with pre-ignition – they are two separate events. However, pre-ignition is usually followed by knocking.

Disebutkan bahwa knocking terjadi karena bensin terbakar tidak pada waktunya sehingga terjadi bentrokan tenaga yang mengakibatkan bunyi “ping”. Ini membuat tekanan silinder meningkat drastis. Efeknya pada mesin antara tidak terasa sampai dengan betul betul merusak. Knocking bukanlah pre-ignition tapi seringkali diawali oleh pre-ignition.

Gampangannya, bila bensin terbakar sebelum waktunya, kalau ringan maka tenaga berkurang, kalau parah maka piston yang harusnya berputar maju jadi dipaksa untuk bergerak mundur. Kalau parah piston bisa patah, atau paling tidak engsel jadi oblak. Mungkin ini yang jadi penyebab banyak Vario mesinnya klatak klatak saat idle.

 

Bagaimana dengan Pertalite? Kita tahu bahwa Pertalite oktannya 90, Premium 88, Pertamax 92. Coba simak kutipan berikut:
Benarkah Premium Bebas Timbal ? 09/01/2016 by Luqmanul Hackim

Pada dasarnya, Premium dan Pertamax dibuat dari “Bahan” yang berbeda.

Premium dibuat dari Naphtha (Bukan Naphthalene), yang memiliki RON (Research Octane Number) 65 – 75 dan Sulphur Content 500 ppm Max.

Pertamax dibuat dari HOMC (High Octane Mogas Component) yang memiliki RON 91 – 98 dan Sulphur Content 50 ppm Max.

Pada dasarnya Petalite sama seperti Premium, hanya saja kandungan HOMC lebih banyak agar didapat RON 90 lalu ditambahkan Value Added berupa aditif EcoSave Technology sehingga Pertalite memiliki kulitas diatas Premium baik dari segi RON maupun Value Added berupa kebersihan Fuel System dan Ruang Bakar.

Untuk meningkatkan oktan, Pertamina menggunakan HOMC:

Karena MTBE dan TEL sudah tidak boleh digunakan lagi, maka digunakanlah campuran HOMC (High Octane Mogas Component) dan Ethanol sebanyak 3 – 5% maka sejak saat itu Pertamina berhenti memproduksi Leaded Gasoline hinga sekarang sehingga bisa disebut Unleaded Gasoline.

Dari kutipan wiki sebelumnya dikatakan bahwa penambahan ethanol mengurangi kandungan energi. Maka bisa jadi pertalite kandungan energinya lebih sedikit dari premium karena campurannya lebih banyak.

Aditif tambahan pada Pertalite juga bukan untuk menambah kandungan energi tapi untuk pembersih ruang bakar. Mungkin kira kira sama seperti kalau nambah sedikit Yamalube carbon cleaner atau semacamnya di bensin.

Kalau dari pengalaman penulis, menambah aditif semacam Yamalube carbon cleaner akan mengurangi tenaga. Mungkin tujuannya untuk membersihkan mesin, namun selagi bensin masih ada campuran carbon cleaner tersebut tenaganya jadi berkurang. Dan ini yang penulis rasakan saat mencoba pertalite. Mungkin karena setelan motor penulis dibuat sangat irit, saat pakai pertalite tenaga terasa berkurang. Setelah menulis artikel diatas, penulis juga mengulang percobaan beberapa kali, baik pakai modif pro capacitor ataupun tidak, tenaga saat pakai pertalite terasa berkurang.

Bila motor bro tarikan mesin terasa lebih enak pakai pertalite daripada pakai premium, maka sebaiknya coba juga pakai pertamax. Bila pakai pertamax ternyata tarikan lebih enak lagi, maka penulis sarankan untuk pakai pertamax saja, karena itu berarti motor bro cocoknya pakai pertamax. Pakai pertalite nanggung, karena resiko knocking masih tetap ada.

Pakai pertalite juga masih tidak bebas dari timbal, berbeda dari bila pakai pertamax. Efek timbal ke mesin menjadi kerak yang juga menyumbat sensor dan catalytic converter. Mungkin kandungan kecil sekali, tapi yang jelas tetap ada. Mungkin tidak seperti bila pakai bensin racing leaded yang bisa bikin sensor O2 rusak setelah satu race, tapi umur sensor O2 jelas lebih panjang bila pakai pertamax. Kalau sensor O2 rusak, maka bensin jadi boros.
Ternyata pertalite dan pertamax masih ada timbalnya bro, timbal bisa merusak sensor O2 yang jadinya bikin mesin boros

Bila ingin ngirit dan harus pakai pertalite atau premium, maka sebaiknya jangan gas pol atau jangan dipakai kencang berlama lama. Mungkin ada yang bilang mesin tidak rusak, namun tetap saja kalau lakher piston oblak maka mesin jadi nggak enak didengar saat idle.

Kalau pingin alternatif nambah oktan, bisa di coba trik yang ada di DIY penambah tenaga/irit. Motor penulis yang Honda Beat pakai cemenite (untuk oktan) dan pro capacitor (untuk tambah tenaga) dengan bensin premium sampai sekarang suara mesinnya lumayan halus, sepertinya walau pakai premium tidak sampai bikin suara mesin klatakan seperti Beat yang lain. Jejer dengan Honda Beat lain seperti tidak terdengar suara mesinnya.

Harus diingat bahwa bila oktan bensin kurang tinggi, pakai open filter atau filter free flow atau knalpot racing atau di port & polish justru jadi makin parah.

Tambahan:
Silahkan baca juga komentar yang sangat informatif dari bro Luqmanul Hackim di bawah ini.

Bila aditif ecosave itu tujuannya membersihkan kerak karena timbal juga, dengan bensin yang masih mengandung timbal seharusnya pertamina juga mengikutkan aditif yang membersihkan timbal di premium juga.

Ternyata pertalite dan pertamax masih ada timbalnya bro, timbal bisa merusak sensor O2 yang jadinya bikin mesin boros


Artikel yang sangat informatif berikut ini menjelaskan bahwa ternyata bensin pertamina untuk merek premium dan pertalite masih belum bebas dari timbal.

Benarkah Premium Bebas Timbal ? 09/01/2016 by Luqmanul Hackim

Katanya Premium sudah Bebas Timbal sejak Tahun 2006, Benarkah ?

Kata siapa ?, Kata Pertamina melalui Media Masa dan dishare oleh banyak Blogger dan Pengguna Sosmed sehingga menjadi sebuah Keyakinan bahwa hal itu benar adanya.

Pertama-tama, perlu diketahui bahwa Bebas TEL (Tetraethyllead) dengan Bebas Pb (Timbal) itu berbeda definisi loh !

TEL itu adalah Additive Octane Booster yg menambah kadar Pb pada Bensin karena terdapat unsur Pb didalamnya, sedangkan Pb ya Pb, maksudnya Pb adalah Mineral/Logam yang memang pasti ada pada Komponen Minyak Bumi, dengan kata lain Bensin pasti mengandung Pb jika tidak dilakukan proses pengolahan lebih lanjut agar kadar Pb bisa diminimalisir dan juga mengurangi Sulphur Content pada Bensin.

Premium yang dicampur TEL maka Pb Content adalah 0,3 g/l, setelah TEL dilarang/tidak digunakan lagi maka Pb Content turun jadi 0,013 g/l tapi itu belum cukup untuk bisa disebut Bebas Timbal, bahkan 0.001 g/l pun tidak bisa disebut bebas timbal, kecuali 0,000 g/l.

Bagaimana dengan Pertalite ?

Pada dasarnya Petalite sama seperti Premium, hanya saja kandungan HOMC lebih banyak agar didapat RON 90 lalu ditambahkan Value Added berupa aditif EcoSave Technology sehingga Pertalite memiliki kulitas diatas Premium baik dari segi RON maupun Value Added berupa kebersihan Fuel System dan Ruang Bakar.

Karena kebutuhannya sedikit, Pertalite awalnya dibuat hanya dengan mencampurkan Pertamax 92 dengan Premium di Depo, sehingga warnanya pun menjadi Hijau (perpaduan Kuning dan Biru), lalu karena Premium tidak mengandung EcoSave Technology maka Concentrate EcoSave Technology ditambahkan kedalam Pertalite agar sesuai standard dimana Aditif tersebut mampu bekerja secara optimal. Sayangnya Spesifikasi untuk Sulphur dan Pb Content masih sama dengan Premium.

Dari artikel tersebut dikatakan bahwa ternyata premium masih mengandung timbal hasil dari pemrosesan. Dan karena pertalite menggunakan bahan dasar premium, pertalite juga masih mengandung timbal. Timbal merupakan bahan yang berbahaya untuk kesehatan.

Timbal merupakan bahan aditif yang sangat efektif untuk menambah oktan.
Race Fuel 101: Lead and Leaded Racing Fuels

Lead is used in racing fuels because it is a very effective octane booster. As a matter of fact, leaded fuels are often credited for allowing higher compression, higher efficiency engines in World War II era aircraft. Increased power made some WWII airplanes like the P-51 Mustang legendary performers!

Just a little bit of lead in gasoline can raise octane up to 20 octane numbers. A great example of this can be seen by comparing Sunoco MO2X Unleaded to the leaded version – Sunoco MO2X. Both fuels have exactly the same composition; the only difference is one has lead and one doesn’t. MO2X Unleaded has a 97 octane rating while the leaded version achieves a 112 octane rating. Though one is 15 octane numbers higher than the other, both share the same fuel combustion properties. Both fuels are oxygenated, both provide great throttle response, and racers have the choice of running an unleaded fuel if 97 octane is sufficient.

Dikatakan bahwa dengan hanya menambahkan sedikit timbal, oktan bensin bisa naik 20 poin. Walau oktan berbeda, tenaga dikatakan sama saja. Jadi selama oktan cukup, maka tenaga dari mesin yang pakai bensin dengan timbal tidak akan berbeda dari bensin yang tidak mengandung timbal. Yang harus dicermati, dikatakan bahwa pemakaian timbal di mesin modern bisa merusak sensor oksigen dan catalytic converter:

Leaded fuels should not be used where oxygen sensors and/or catalytic converters are used. While it is rare to see a race car equipped with a catalytic converter, the use of oxygen sensors on race engines is becoming more common. We still hear from a few racers who use oxygen sensors with leaded race fuels in their race cars. The useful life of an oxygen sensor used with a leaded fuel is hard to predict, but one thing is certain: it will eventually fail. Some oxygen sensors can last a whole race season when used with a leaded race fuel, while others may only last one race. The useful life depends heavily on the application.

Dijelaskan juga di link berikut bahwa timbal dapat menimbulkan timbunan lead-oxide sehingga harus ditambahkan zat pembersih.
Modern Motor Fuel

Another important method of improving the antiknock value of motor fuel is the addition of antiknock agent to it. The first additive to be used commercially was tetra-ethyl-lead (TEL), in early 1920s. It was discovered by Midgeley and Boyd, who published their finding in 1920. Small quantities, usualy less than 0.18 per cent by weight, give substantial improvement in anti knock value. Usually the greater improvements are obtained in the lower-quality paraffinic and naphteanic fuels; smaller improvements are obtained in the higher quality fuels which are largely aromatic and olefenic. TEL is added along with small amounts of ethylene dichloride and ethylene bromides. These materials are called “scavengers” and help to reduce the amounts of deposits formed in the cylinders by reacting with the active antikncock material, lead oxide, formed during combustion. The resulting lead halides are more volatile than lead oxide and pass more redily from the cylinder.

 

Di artikel pertama disebutkan juga tentang adanya bahan ecosave di pertalite. Bisa jadi bahan ecosave ini untuk mengurangi efek samping dari pemakaian timbal yang bisa menimbulkan timbunan. Bila iya, maka pemakai premium perlu sekali sekali pakai pertalite untuk membersihkan kerak timbal di mesin. Membersihkan kerak timbal hasil dari pakai premium atau pertalite nggak bisa pakai pertamax atau pertamax plus karena kedua yang terakhir tidak mengandung timbal.

Atau bisa jadi aditif ecosave merupakan aditif semacam dengan Yamalube carbon cleaner yang fungsinya membersihkan kerak carbon.
Kata siapa pakai pertamax plus bisa membersihkan mesin? Pakai carbon cleaner pun nggak menjamin bisa bersih total bro

Mungkin penambahan aditif ecosave ini yang membuat pertalite terasa kurang bertenaga bila dibanding premium saat dipakai di motor penulis. Aditif ecosave sepertinya mengurangi efek alat perubah sifat bahan bakar (pro capacitor + cemenite) yang penulis pasang di motor penulis. Rasanya juga mirip dengan saat penulis pakai Yamalube carbon cleaner. Motor serasa berkurang tenaganya walau terasa napas lebih panjang dan mesin lebih licin (lebih senyap). Bau Yamalube carbon cleaner juga seperti minyak tanah / kerosin. Kerosin sendiri bisa bikin karet melar, yang kalau dipakai di motor bisa merusak seal dan membuat mesin jadi berasap.

Ini alasan mengapa pakai filter racing untuk harian itu ide ngawur dan merugikan


Postingan di website kobayogas.com membuat penulis teringat untuk membahas tentang bahayanya kalau pakai filter racing untuk harian.

Postingan tersebut adalah sebagai berikut:
Air Filter Ferrox Untuk Mio M3, Soul GT125 BlueCore dan Mio Z Sudah Tersedia Nih Lads!

Catatan: Air Filter aftermarket merek Ferrox ini tidak direkomendasikan bagi lads yang masih ragu akan kebersihan ruang bakar. Meski Ferrox menjamin kotoran yang tak tersaring itu hitungan micron dan tak kasat mata, tapi kalau masih ragu sih mending jangan deh hehee..

Disitu dikatakan bahwa kalau ragu mending jangan. Nah untuk ini penulis sendiri menyarankan lebih ekstrem lagi. Mau ragu atau tidak, sebaiknya jangan pakai filter racing untuk harian. Penulis akan mencoba menjelaskan mengapa pakai filter racing itu adalah langkah yang ngawur.

Berikut adalah klaim dari filter ferrox:

  • Bebas perawatan, karena Filternya berbahan STAINLESS STEEL dengan. kerapatan hingga 45 Mikron. Dan bingkai filter terbuat dr silikon yg dijamin tidak akan getas karena panas mesin.
  • Beli 1x Pakai untuk selamanya.
  • Sangat mudah dibersihkan, tiap kali jadwal service bisa tinggal dicuci dengan air yang ditambah dengan detergen. Bisa juga sambil disikat jika ada noda membandel, setelah kering bisa di gunakan secara optimal kembali.
  • Harga terjangkau dibandingkan merek lain yang sudah terkenal
  • Menambah performa motor

Klaim tersebut tidak bohong, namun juga tidak mencantumkan resiko atau bahaya kalau pakai filter ferrox. Masalah terutama dari kalau pakai filter racing adalah debu. Dan kemampuan dari filter udara beda beda. Namun secara umum filter bawaan kendaraan daya filtrasinya jauh lebih bagus dari filter racing.

Berikut adalah contoh perbandingannya:
perbandingan filter udara

Terlihat bahwa dengan penambahan tenaga yang cuma beda sedikit kemampuan filtrasi udara sangat jauh berbeda. Mobil yang di tes mestinya adalah Toyota Supra sehingga penambahan tenaga tersebut sekitar 5%.

 

Juga ada sharing berikut:
[Sharing] Air Filter – Paper, Foam/Cotton dan Stainless Steel

1. Paper Based
Standar Air Filter Pabrikan. Merek aftermarket spt : Sakura
Filtrasi : Oke Banget
Harga : Terjangkau Banget
Peforma : Standard karena mengutamakan filtrasi
Remarks : Paling bagus untuk harian

2. Foam and Cotton Based
Air filter performa racing. Memasukkan udara lebih banyak dibandingkan paper based. Ada yang model oil ( K&N, JFC ) dan juga yang model sekali pakai ~ diganti di 10rb km ( Apexi, HKS ).
Filtrasi : Ada yang kurang bagus; berarti debu masuk banyak dan juga ada yang dapat menyaring dengan oke. Tetapi belum ada yang samain filtrasi paper based.
Harga : Ada yang terjangkau (300 rban) hingga yang mahal ( 1 jt ) tergantung tipenya replacement atau open filter.
Performa : Penambahan torsi dan hp sekitar 2 – 3 poin

Bagi temen2 yang pake open filter, disarankan untuk ikut merubah sistem pendukung lainnya seperti header + muffler, supaya efeknya berasa; plong masuk plong keluar. Kalo replacement, cocok untuk harian dengan maintenance extra.

3. Stainless Steel
Pertama kali ketemu model ini mereknya Blitz asli jepang, open filter juga. Karena harganya mahal pada saat itu, ga ada yang sempet nyoba…hahaha…

Kemudian mulai muncul merek Ferrox, yang merupakan rebranding dari Hurricane – Thailand. Blitz sendiri yang pionir design Stainless Steel klaim kalo walopun idenya ditiru, beliaulah yg paling oke…hahahha…

Saya cukup penasaran untuk model ini, akhirnya saya coba beli 1 ferrox untuk toyota rush. Saya akui jeroan jadinya lebih joss nafasnya dan maintenance mudah tapi bagaimana dengan filtrasinya.
Filtrasi : Kurang Bagus dibandingkan foam/cotton, throttle body mobil lebih cepat kotor
Harga : model replacement ( 600 – 700 ), open filter Blitz pada jaman dulu, seinget saya 3 jt; ga tau de sekarang
Peforma : Untuk Ferrox, saya akui mirip foam/cotton, 2 – 3 poin saja.

Sembari sharing, saya sempat ketemu artikel yang dulu pernah saya baca mengenai perbandingan filtrasi air intake dan power dari berbagai merek. Artikel ini taon lama punya ( 1999 ); dapat dibaca di sini.

Mengingat air filter ini memasok udara masuk ke mesin, saya saran ke temen2 untuk cari produk orisinil en waspada untuk yg replika.

Kalau saya ditanya, tipe apa yang bagus jawabnya paper… tp kalo ditanya enakknya ganti model apa, jawab saya replacement – foam/cotton based. Kalo ditanya kenapa, jawabnya Ferrari aja pake foam/cotton based soalny…ya kita ikut aja

Smoga bermanfaat. Happy hunting guys, be a smart shopper…

 

Kalau bro masih ragu karena perbandingan tersebut, kebetulan penulis ada contoh bukti nyata bahwa filter ferrox itu daya filtrasinya jelek. Beberapa waktu yang lalu ada bro yang posting betapa kotornya throttle body (gantinya karbu di sistem injeksi) mobilnya.
12968162_10207499707348875_4608665893554137325_o

Penulis penasaran sekali karena throttle body di foto terlihat begitu kotornya, oleh karena itu penulis mencoba melihat bagaimana kondisi throttle bodi mobil penulis yang kebetulan tipenya sama persis. Dan ternyata kondisi throttle body punya penulis jauh lebih bersih. Foto diambil dalam kondisi mobil sudah jalan lebih dari 8000km. Bagian plastik di sekitar throttle body tersebut masih bersih, tidak ada noda walau diusap tangan. Beda jauh sama yang di mobil yang pakai filter ferrox.
IMG_20160408_062146

Yang kotor filternya, sudah waktunya diganti:
IMG_20160408_062205

 

Mungkin ada yang meremehkan, karena dianggap toh bisa dibersihkan. Tapi coba dipikir dulu pakai logika. Bila debu yang masuk bisa sampai membuat timbunan seperti itu di throttle body, tentu hal yang sama juga terjadi juga di valve, ruang bakar, piston, sensor oksigen atau sensor lainnya. Debu campur oli itu sifatnya juga seperti amplas, sedikit banyak akan mempercepat keausan di valve dan piston. Hal yang begitu tentu nggak bisa dikembalikan semula hanya dengan dibersihkan.

Banyak orang yang menghindari pakai premium dan memilih pakai pertamax atau bahkan pakai pertamax plus atau Sheel Vpower demi alasan agar mesinnya bisa lebih bersih, agar tidak berkerak. Tapi juga pilih jalan ngawur dengan pakai filter racing untuk harian. Apa tidak sadar bahwa debu yang lolos dari filtrasi bila masuk ke mesin bisa jadi sumber kerak? bensin yang aslinya partikelnya sedikit jadi ketambahan debu. Debu tidak serta merta menghilang secara ajaib. Kalau di throttle body nempel banyak, tentu di ruang bakar juga nempel banyak. Debu kan tidak bisa habis habis terbakar. Apa tidak ingat bahwa lumpur bisa jadi batu bata kalau dibakar? Apa memang sengaja masukkan debu kaerna rencana buat bata coating (tiruannya ceramic coating untuk racing)?

Busi juga begitu. Saat udara dibanyakkan entah karena filter racing lebih melancarkan udara, atau karena port and polish, atau karena pakai knalpot racing, harusnya busi jadi lebih putih warnanya. Tapi penulis lihat yang pakai filter ferrox (tanpa modif ECU/karbu) justru warna businya coklat padahal yang masih standar warna businya putih. Penulis curiga coklatnya bukan karena pembakaran sempurna tapi karena lumpur / debu yang menempel ke busi. Jadi saking kotornya udara masuk, sampai busi pun jadi coklat. Busi yang kotor mengurangi tenaga, lebih parah lagi kalau pakai busi iridium yang elektrodanya kecil. Karena elektroda kecil, jadi lebih mudah kotor.

Foto berikut menunjukkan busi dari pemakai filter ferrox. Harusnya dengan pembakaran makin sempurna maka busi juga bersih. Namun bisa dilihat sendiri bahwa di busi tersebut ujungnya ada yang hitam dan insulatornya juga terlihat gelap.
ujung busi pakai filter ferrox jadi hitam

Kalau keraknya sudah banyak maka pakai carbon cleaner yang 100 ribuan sekali pakai juga tidak banyak membantu. Bisa jadi harus bongkar. Apalagi bila dimotor atau mobilnya sangat mengandalkan sensor. Apa nggak banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk membersihkan debu hanya demi penambahan tenaga seupil? Belum lagi resiko keausan gara gara debu, kalau sudah aus cuma bisa diganti kalau mau kembali asal .Mesin juga nggak bekerja sempurna karena kotor.

Efek samping tidak sepadan dengan hasilnya bro.

 

Soal klaim dari filter ferrox, memang benar bahwa filter tersebut mudah dibersihkan, namun bisa jadi itu karena memang debu jarang akan nempel ke filternya dan langsung lolos masuk ke mesin. Karena kotorannya tidak tersangkut, ya tentu gampang membersihkannya. Memang harga terjangkau dan tidak perlu diganti, tapi jadi harus jauh lebih sering bersih bersih mesin, bersih bersih sensor, ganti busi atau pakai carbon cleaner, atau bongkar mesin total untuk membersihkan. Dan itu semua biayanya bisa lebih dari harga filter ori yang daya filtrasinya jauh lebih bagus.

Kalau alasannya performa, memang seberapa banyak sih penambahan tenaganya? Beberapa motor juga kadang tenaganya justru anjlok setelah filternya dilepas. Belum lagi karena mesin jadi kotor, maka performa jadi rusak setelah beberapa minggu dipakai. Masih untung bila sensor bisa bekerja sempurna, tapi kalau dihantam debu terus menerus ya bisa saja mesin jadi bermasalah. Bisa jadi malah malu maluin kalau dijalan.

Dari yang penulis pernah coba di motor, melepas filter di Honda Supra X membantu, tapi nggak banyak. Kalau di Suzuki Spin justru malah nggak enak tarikannya. Di mobil nggak pernah. Tapi dengan kondisi filter yang dikatakan menghambat tersebut, toh tarikan mobil penulis lebih enak daripada yang pakai filter ferrox walau mobil penulis pakai premium dan modifnya cuma pro capacitor.

Di video diatas terlihat bahwa dari 72km/jam ke 80 km/jam, yang atas (Daihatsu Ayla milik penulis) terlihat akselerasi kalah cepat dengan yang bawah (Toyota Agya milik bro Barry). Namun setelah itu terlihat bahwa di kecepatan berikutnya Agya menjadi tertinggal dari Ayla.

Modif downpipe pada Agya mengganti catalytic converter sehingga secara teori aliran udara keluar lebih plong, dengan kombinasi filter ferrox maka udara masuk juga lebih plong. Teorinya dengan udara lebih plong maka akselerasi di rpm tinggi akan lebih mumpuni. Namun bila dilihat dari video itu terlihat bahwa tarikan di rpm atas justru jadi tidak bagus. Jadi modif yang bikin plong itu bisa justru mengurangi performa atau paling tidak kalah dengan modif pro capacitor yang penulis pakai. Padahal modif pro capacitor saat itu cuma seharga 500 ribuan sementara modif filter ferrox dan downpipe seharga 1.3 jutaan. Sudah keluar uang untuk modif namun malah tenaganya berkurang.

Saran penulis, kalau mau pakai filter racing, maka lakukan saja kalau lomba. Jangan lupa di tes dulu, jangan pakai perasaan tapi direkam atau pakai waktu biar jelas bedanya. Kalau perasaan banyak salahnya. Kalau mau untuk dipakai harian, maka beli filter racing yang daya filtrasinya bagus, filter racing opsinya banyak, silahkan pakai referensi kutipan diatas. Mesin yang kotor itu banyak masalahnya bro. Jangan ambil resiko!

Mengapa postingan comment pakai link sebaiknya dibiarkan daripada di blokir dan menurunkan rating di google search


Sudah beberapa waktu penulis tidak posting karena koneksi internet bermasalah. Setelah koneksi internet lancar maka yang pertama penulis biasa lakukan adalah pakai google search untuk cari cari bahan tulisan. Saat melakukan google search penulis melihat bahwa dua website / blog otomotif yang dulu sering ada di halaman pertama sekarang sudah tidak di halaman pertama lagi. Bahkan saat penulis mencoba mencari, kedua website tersebut berada di halaman – halaman belakang.

Walau sudah memperkirakan, namun penulis lumayan kaget juga karena website ini pengunjungnya termasuk sangat banyak. Dari sisi pembaca, seharusnya website tersebut pantas masuk ke jajaran atas. Bila melihat jumlah orang yang berkomentar saja bisa mencapai ratusan untuk setiap postingannya. Namun sepertinya oleh google website tersebut dianggap tidak populer.

Kedua website tersebut adalah iwanbanaran.com dan tmcblog.com. Saat penulis memulai menulis di blog ini, website tersebut seringkali berada di halaman pertama atau bahkan memenuhi hasil pencarian di baris pertama. Namun bila bro mencoba melakukan pencarian di google search sekarang ini, maka kedua website tersebut ratingnya turun drastis, bahkan bisa berada di halaman lebih dari 10.

Melihat dari sisi tampilan atau desain, tidak ada perubahan berarti pada kedua website tersebut. Namun satu hal yang penulis curigai adalah tentang keberadaan link di bagian komentar. Karena penulis termasuk pengkomen yang sering nunut link di setiap komentar, maka penulis memperhatikan betul perubahan perlakuan terhadap komentar yang ada linknya.

Beberapa waktu terakhir ini kedua website / blog tersebut melakukan sensor secara ekstrem terhadap komentar yang mengandung link. Pada awalnya masih ada yang kelolosan. Namun belakangan dengan sistem yang sepertinya sudah dibuat canggih, sekarang ini di website / blog iwanbanaran.com dan tmcblog.com sama sekali tidak ada link di bagian komentar.

Entah apa alasan dari mas Iwan dan mas Taufik sehingga tidak mengijinkan adanya komentar dengan link di blognya. Mungkin dianggap mengganggu. Mungkin ingin membuat blog jadi terlihat lebih rapi. Atau juga tidak diperbolehkan sama yang pasang iklan karena dianggap bisa mengurangi ketertarikan terhadap iklan.

Banyak pengkomen yang juga posting link saat melakukan komen dengan tujuan agar dapat juga kecripatan pengunjung. Bisa jadi mas Iwan dan mas Taufik tidak berkenan dengan hal ini. Mungkin takut rating blognya jadi turun bila banyak pengkomen yang posting link. Sehingga mereka mengambil langkah untuk mensensor komentar sehingga tidak ada komentar yang mengandung link. Langkahnya juga sangat tegas, tidak cuma linknya saja yang di sensor, tapi semua komentarnya juga disensor.

Dari sisi kerapian dan kebersihan, langkah tersebut bisa dibilang sukses. Walau ada sensor tersebut, jumlah komentar tidak banyak berkurang. Komentar yang diposting pembaca masih banyak. Pembaca sepertinya juga tidak turun.

Namun penulis menganggap langkah tersebut salah besar. Karena dari yang penulis tahu, fungsi link itu justru tidak merugikan website yang ditempati. Malahan bila linknya relevan / topiknya sesuai, maka rating website tersebut justru akan meningkat. Sehingga kita jadi sering melihat search engine menempati posisi teratas di hasil pencarian google search. Memang itu lambat laun akan diban oleh google karena itu tidak diijinkan, namun blog kan bukan search engine, bila postingan linknya relevan maka bukan hanya tidak di ban namun akan dipakai untuk menaikkan rating dari websitenya. Dari awal pembuatan blog ini penulis juga tidak ragu posting link ke website lain. Termasuk juga di komentar, bila ada yang posting link yang tidak kebangetan, maka akan penulis biarkan.

Harus diingat bahwa search engine seperti punya google itu dijalankan oleh mesin. Mesin tidak mencoba mengerti isi dari postingan. Karena google tidak punya cara untuk tahu berapa banyak suatu website menerima pengunjung, maka google terpaksa pakai cara lain. salah satunya adalah dengan melihat seberapa banyak website lain merefer website tersebut. Website yang merefer website lain juga dianggap sebagai sumber informasi, sehingga walau tidak sebanyak website asli, namun website sumber informasi menerima tambahan rating juga. Jadi makin

Dan terbukti bahwa sekarang ini rating dari website iwanbanaran.com dan tmcblog.com anjlok di google search. Sebelumnya dengan jumlah pengkomen yang bisa mencapai ratusan, dengan jumlah pengkomen yang posting link juga tidak sedikit, google menganggap kedua website tersebut sebagai website populer. Namun sekarang dengan tidak adanya yang komen yang mengandung link, maka kedua website tersebut dianggap tidak populer. Yang memperparah adalah karena isi dari postingan seringkali juga diposting oleh website lain.

Mungkin efeknya sekarang tidak begitu terasa, namun bila suatu website sudah tidak lagi berada di jajaran atas maka jelas pengunjung baru akan berkurang. Dengan jumlah pembaca yang luar biasa bisa jadi ini lolos dari perhatian dari baik mas Iwan maupun mas Taufik. Bisa jadi baru setelah beberapa tahun baru sadar. Penulis juga mencoba memberitahukan namun sepertinya masih belum terdengar.

Ini bisa jadi pelajaran bagi blogger lain. Bisa dilihat juga bahwa website otomotif yang seringkali posting informasi pertama kali juga rating di google tidak tinggi. Padahal seharusnya informasi pertama itu ratingnya tinggi. Bisa jadi karena komentar di website tersebut juga disensor / tanpa link. Jadi untuk pemilik blog otomotif, sebaiknya komentar yang ada iklannya jangan di blok. Dibiarkan saja. Namun juga harus ingat bahwa google itu santun, jadi tetap perlu di sensor kalau linknya tentang pornografi, drug, senjata atau judi. atau boleh juga pilih pilih, bila topiknya nggak sesuai di del.

Jangan terlalu obral link di setiap postingan. Karena bisa jadi hosting menganggap website kita sebagai rating manipulator. Blog ini juga sempat di blokir karena dianggap spam oleh wordpress, untung masih bisa memohon administrator untuk membebaskan blokir. Setelah direview untung dianggap sebagai blog beneran. Ini dijelaskan di artikel berikut:
OOT: blog sempat down karena dianggap melanggar peraturan sama sistem otomatis WordPress, pelajaran untuk yang lain