Ini alasan mengapa pakai filter racing untuk harian itu ide ngawur dan merugikan


Postingan di website kobayogas.com membuat penulis teringat untuk membahas tentang bahayanya kalau pakai filter racing untuk harian.

Postingan tersebut adalah sebagai berikut:
Air Filter Ferrox Untuk Mio M3, Soul GT125 BlueCore dan Mio Z Sudah Tersedia Nih Lads!

Catatan: Air Filter aftermarket merek Ferrox ini tidak direkomendasikan bagi lads yang masih ragu akan kebersihan ruang bakar. Meski Ferrox menjamin kotoran yang tak tersaring itu hitungan micron dan tak kasat mata, tapi kalau masih ragu sih mending jangan deh hehee..

Disitu dikatakan bahwa kalau ragu mending jangan. Nah untuk ini penulis sendiri menyarankan lebih ekstrem lagi. Mau ragu atau tidak, sebaiknya jangan pakai filter racing untuk harian. Penulis akan mencoba menjelaskan mengapa pakai filter racing itu adalah langkah yang ngawur.

Berikut adalah klaim dari filter ferrox:

  • Bebas perawatan, karena Filternya berbahan STAINLESS STEEL dengan. kerapatan hingga 45 Mikron. Dan bingkai filter terbuat dr silikon yg dijamin tidak akan getas karena panas mesin.
  • Beli 1x Pakai untuk selamanya.
  • Sangat mudah dibersihkan, tiap kali jadwal service bisa tinggal dicuci dengan air yang ditambah dengan detergen. Bisa juga sambil disikat jika ada noda membandel, setelah kering bisa di gunakan secara optimal kembali.
  • Harga terjangkau dibandingkan merek lain yang sudah terkenal
  • Menambah performa motor

Klaim tersebut tidak bohong, namun juga tidak mencantumkan resiko atau bahaya kalau pakai filter ferrox. Masalah terutama dari kalau pakai filter racing adalah debu. Dan kemampuan dari filter udara beda beda. Namun secara umum filter bawaan kendaraan daya filtrasinya jauh lebih bagus dari filter racing.

Berikut adalah contoh perbandingannya:
perbandingan filter udara

Terlihat bahwa dengan penambahan tenaga yang cuma beda sedikit kemampuan filtrasi udara sangat jauh berbeda. Mobil yang di tes mestinya adalah Toyota Supra sehingga penambahan tenaga tersebut sekitar 5%.

 

Juga ada sharing berikut:
[Sharing] Air Filter – Paper, Foam/Cotton dan Stainless Steel

1. Paper Based
Standar Air Filter Pabrikan. Merek aftermarket spt : Sakura
Filtrasi : Oke Banget
Harga : Terjangkau Banget
Peforma : Standard karena mengutamakan filtrasi
Remarks : Paling bagus untuk harian

2. Foam and Cotton Based
Air filter performa racing. Memasukkan udara lebih banyak dibandingkan paper based. Ada yang model oil ( K&N, JFC ) dan juga yang model sekali pakai ~ diganti di 10rb km ( Apexi, HKS ).
Filtrasi : Ada yang kurang bagus; berarti debu masuk banyak dan juga ada yang dapat menyaring dengan oke. Tetapi belum ada yang samain filtrasi paper based.
Harga : Ada yang terjangkau (300 rban) hingga yang mahal ( 1 jt ) tergantung tipenya replacement atau open filter.
Performa : Penambahan torsi dan hp sekitar 2 – 3 poin

Bagi temen2 yang pake open filter, disarankan untuk ikut merubah sistem pendukung lainnya seperti header + muffler, supaya efeknya berasa; plong masuk plong keluar. Kalo replacement, cocok untuk harian dengan maintenance extra.

3. Stainless Steel
Pertama kali ketemu model ini mereknya Blitz asli jepang, open filter juga. Karena harganya mahal pada saat itu, ga ada yang sempet nyoba…hahaha…

Kemudian mulai muncul merek Ferrox, yang merupakan rebranding dari Hurricane – Thailand. Blitz sendiri yang pionir design Stainless Steel klaim kalo walopun idenya ditiru, beliaulah yg paling oke…hahahha…

Saya cukup penasaran untuk model ini, akhirnya saya coba beli 1 ferrox untuk toyota rush. Saya akui jeroan jadinya lebih joss nafasnya dan maintenance mudah tapi bagaimana dengan filtrasinya.
Filtrasi : Kurang Bagus dibandingkan foam/cotton, throttle body mobil lebih cepat kotor
Harga : model replacement ( 600 – 700 ), open filter Blitz pada jaman dulu, seinget saya 3 jt; ga tau de sekarang
Peforma : Untuk Ferrox, saya akui mirip foam/cotton, 2 – 3 poin saja.

Sembari sharing, saya sempat ketemu artikel yang dulu pernah saya baca mengenai perbandingan filtrasi air intake dan power dari berbagai merek. Artikel ini taon lama punya ( 1999 ); dapat dibaca di sini.

Mengingat air filter ini memasok udara masuk ke mesin, saya saran ke temen2 untuk cari produk orisinil en waspada untuk yg replika.

Kalau saya ditanya, tipe apa yang bagus jawabnya paper… tp kalo ditanya enakknya ganti model apa, jawab saya replacement – foam/cotton based. Kalo ditanya kenapa, jawabnya Ferrari aja pake foam/cotton based soalny…ya kita ikut aja

Smoga bermanfaat. Happy hunting guys, be a smart shopper…

 

Kalau bro masih ragu karena perbandingan tersebut, kebetulan penulis ada contoh bukti nyata bahwa filter ferrox itu daya filtrasinya jelek. Beberapa waktu yang lalu ada bro yang posting betapa kotornya throttle body (gantinya karbu di sistem injeksi) mobilnya.
12968162_10207499707348875_4608665893554137325_o

Penulis penasaran sekali karena throttle body di foto terlihat begitu kotornya, oleh karena itu penulis mencoba melihat bagaimana kondisi throttle bodi mobil penulis yang kebetulan tipenya sama persis. Dan ternyata kondisi throttle body punya penulis jauh lebih bersih. Foto diambil dalam kondisi mobil sudah jalan lebih dari 8000km. Bagian plastik di sekitar throttle body tersebut masih bersih, tidak ada noda walau diusap tangan. Beda jauh sama yang di mobil yang pakai filter ferrox.
IMG_20160408_062146

Yang kotor filternya, sudah waktunya diganti:
IMG_20160408_062205

 

Mungkin ada yang meremehkan, karena dianggap toh bisa dibersihkan. Tapi coba dipikir dulu pakai logika. Bila debu yang masuk bisa sampai membuat timbunan seperti itu di throttle body, tentu hal yang sama juga terjadi juga di valve, ruang bakar, piston, sensor oksigen atau sensor lainnya. Debu campur oli itu sifatnya juga seperti amplas, sedikit banyak akan mempercepat keausan di valve dan piston. Hal yang begitu tentu nggak bisa dikembalikan semula hanya dengan dibersihkan.

Banyak orang yang menghindari pakai premium dan memilih pakai pertamax atau bahkan pakai pertamax plus atau Sheel Vpower demi alasan agar mesinnya bisa lebih bersih, agar tidak berkerak. Tapi juga pilih jalan ngawur dengan pakai filter racing untuk harian. Apa tidak sadar bahwa debu yang lolos dari filtrasi bila masuk ke mesin bisa jadi sumber kerak? bensin yang aslinya partikelnya sedikit jadi ketambahan debu. Debu tidak serta merta menghilang secara ajaib. Kalau di throttle body nempel banyak, tentu di ruang bakar juga nempel banyak. Debu kan tidak bisa habis habis terbakar. Apa tidak ingat bahwa lumpur bisa jadi batu bata kalau dibakar? Apa memang sengaja masukkan debu kaerna rencana buat bata coating (tiruannya ceramic coating untuk racing)?

Busi juga begitu. Saat udara dibanyakkan entah karena filter racing lebih melancarkan udara, atau karena port and polish, atau karena pakai knalpot racing, harusnya busi jadi lebih putih warnanya. Tapi penulis lihat yang pakai filter ferrox (tanpa modif ECU/karbu) justru warna businya coklat padahal yang masih standar warna businya putih. Penulis curiga coklatnya bukan karena pembakaran sempurna tapi karena lumpur / debu yang menempel ke busi. Jadi saking kotornya udara masuk, sampai busi pun jadi coklat. Busi yang kotor mengurangi tenaga, lebih parah lagi kalau pakai busi iridium yang elektrodanya kecil. Karena elektroda kecil, jadi lebih mudah kotor.

Foto berikut menunjukkan busi dari pemakai filter ferrox. Harusnya dengan pembakaran makin sempurna maka busi juga bersih. Namun bisa dilihat sendiri bahwa di busi tersebut ujungnya ada yang hitam dan insulatornya juga terlihat gelap.
ujung busi pakai filter ferrox jadi hitam

Kalau keraknya sudah banyak maka pakai carbon cleaner yang 100 ribuan sekali pakai juga tidak banyak membantu. Bisa jadi harus bongkar. Apalagi bila dimotor atau mobilnya sangat mengandalkan sensor. Apa nggak banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk membersihkan debu hanya demi penambahan tenaga seupil? Belum lagi resiko keausan gara gara debu, kalau sudah aus cuma bisa diganti kalau mau kembali asal .Mesin juga nggak bekerja sempurna karena kotor.

Efek samping tidak sepadan dengan hasilnya bro.

 

Soal klaim dari filter ferrox, memang benar bahwa filter tersebut mudah dibersihkan, namun bisa jadi itu karena memang debu jarang akan nempel ke filternya dan langsung lolos masuk ke mesin. Karena kotorannya tidak tersangkut, ya tentu gampang membersihkannya. Memang harga terjangkau dan tidak perlu diganti, tapi jadi harus jauh lebih sering bersih bersih mesin, bersih bersih sensor, ganti busi atau pakai carbon cleaner, atau bongkar mesin total untuk membersihkan. Dan itu semua biayanya bisa lebih dari harga filter ori yang daya filtrasinya jauh lebih bagus.

Kalau alasannya performa, memang seberapa banyak sih penambahan tenaganya? Beberapa motor juga kadang tenaganya justru anjlok setelah filternya dilepas. Belum lagi karena mesin jadi kotor, maka performa jadi rusak setelah beberapa minggu dipakai. Masih untung bila sensor bisa bekerja sempurna, tapi kalau dihantam debu terus menerus ya bisa saja mesin jadi bermasalah. Bisa jadi malah malu maluin kalau dijalan.

Dari yang penulis pernah coba di motor, melepas filter di Honda Supra X membantu, tapi nggak banyak. Kalau di Suzuki Spin justru malah nggak enak tarikannya. Di mobil nggak pernah. Tapi dengan kondisi filter yang dikatakan menghambat tersebut, toh tarikan mobil penulis lebih enak daripada yang pakai filter ferrox walau mobil penulis pakai premium dan modifnya cuma pro capacitor.

Di video diatas terlihat bahwa dari 72km/jam ke 80 km/jam, yang atas (Daihatsu Ayla milik penulis) terlihat akselerasi kalah cepat dengan yang bawah (Toyota Agya milik bro Barry). Namun setelah itu terlihat bahwa di kecepatan berikutnya Agya menjadi tertinggal dari Ayla.

Modif downpipe pada Agya mengganti catalytic converter sehingga secara teori aliran udara keluar lebih plong, dengan kombinasi filter ferrox maka udara masuk juga lebih plong. Teorinya dengan udara lebih plong maka akselerasi di rpm tinggi akan lebih mumpuni. Namun bila dilihat dari video itu terlihat bahwa tarikan di rpm atas justru jadi tidak bagus. Jadi modif yang bikin plong itu bisa justru mengurangi performa atau paling tidak kalah dengan modif pro capacitor yang penulis pakai. Padahal modif pro capacitor saat itu cuma seharga 500 ribuan sementara modif filter ferrox dan downpipe seharga 1.3 jutaan. Sudah keluar uang untuk modif namun malah tenaganya berkurang.

Saran penulis, kalau mau pakai filter racing, maka lakukan saja kalau lomba. Jangan lupa di tes dulu, jangan pakai perasaan tapi direkam atau pakai waktu biar jelas bedanya. Kalau perasaan banyak salahnya. Kalau mau untuk dipakai harian, maka beli filter racing yang daya filtrasinya bagus, filter racing opsinya banyak, silahkan pakai referensi kutipan diatas. Mesin yang kotor itu banyak masalahnya bro. Jangan ambil resiko!

32 thoughts on “Ini alasan mengapa pakai filter racing untuk harian itu ide ngawur dan merugikan

  1. Sebaiknya memang menggunakan filter paper base, udara lebih bersih dan aman.
    Modifikasi untuk mendapatkan suplay udara yg banyak saya kira ada 2 cara yg aman.
    1. Memperbesar filter dan atau
    2. memperpanjang karet filter

    Suka

    • iya kebanyakan penggunaan selang filter kecil menyesuaikan “ukuran luas filternya”.

      jika ingin memperbesar selang filter bisa menggunakan rumus hukum gas ideal.
      diameter1 / diameter2 = panjang1 / panjang2
      jika selang standar diameter 5cm, panjang 25cm diganti menggunakan selang diameter 8cm maka panjangnya = 8 cm x 25 cm / 5cm = 40cm,
      artinya jika diperbesar diameter 8cm, panjang 40cm (kekuatan hisap / tekanannya) sama dengan selang 5cm panjang 25cm.

      Suka

      • terima kasih rumusnya. harus hati hati juga mengubah filter / pipa dengan yang besar karena kalau kompresi mesin tinggi, bisa meningkatkan resiko knocking yang bisa merusak mesin, apalagi kalau pakai premium RON88.

        Suka

  2. simple, pengen nambah performa kan? harus ada yang dilakukan, kalau demennya standar ya filter standar sudah sangat bagus buat filtrasi..
    Open pod gak disaranin buat daerah yang polusinya tinggi apalagi sarat udara panas kaya jakarta.. gakan dapat apa apa kecuali hari harinya tol to tol yang berangkat subuh pulang malem, plongnya dapat hahahaha

    Suka

    • Namanya juga orang jualan ya mbela jualannya lah hahahaha. Tapi ya memang menurut ane konyol kalo filter racing buat harian. Naikin performa? Bore up aja lah, nanggung amat cuma filter, kenceng kaga, kemasukan debu iya. Penambahan asupan udara kaga ngaruh kalo karbu standar, exhaust standar sama pengapian standar, performa juga bottleneck

      Suka

      • Hehhee.. Pengalaman pake filter aftermarket dari taon 96′..jaman filter K&N harganya masih jadi temen alias bersahabat, di mobil, di motor, di mobil smp motor lagi ga pernah ada masalah.. Yg penting merek jelas bukan abal abal.. Sama perawatan

        Bukan masalah jualan apa gak.. Pengalaman aja.. Jgn kacamata kuda, semua kacau kalau pikiran sempit.. Wkwkwkwk..

        Kaya nyuruh bore up, emg semua pengen kenceng banget? Emg mau semua rubah atau utak atik mesin? Kagaaakk.. Modifikasi itu macem macem dr mulai pengen yg ringan smp berat wkwkwkwkw…

        Suka

      • Semua? Wah Indonesia kan bukan cuma kota besar aja mbah hehehe..
        Intinya gini, yg bijak aja.. Pilihan banyak.. Open filter atau open pod emang konyol kalau dibeli dan digunakan untuk harian yg kondisinya gak mendukung..
        Kalau buat turun sirkit silakan..
        Kenapa bisa bilang gitu? Hampir semua jenis filter dari berbagai merek dah pernah ay coba dr dulu. Jd bisa tau positif dan negatifnya..
        Gak cuma belakangan ini aja..

        Suka

  3. Wah khas om kobay banget penggiringan opininya kental banget, malah fokus ke mbela jualan tapi filtrasi ga dibahas ngoahaha
    Yakin filtrasi ga apa-apa? Pernah membongkar tb sampai liat head piston ga? Kalo ngemeng doang mah siapa pun bisa
    Mau kenceng harian ga perlu filter racing, maksimalkan pengapian aja dah cukup. Kalo ganti filter racing tapi karburasi standar, exhaust standar, pengapian standar mah sama aja ngarep orang buncit cebol bisa lari kencang kalau di kasih sepatu bagus (Filter racing hanya part pendukung bukan part utama menaikan performa)
    Yakin Indonesia di daerah bebas debu? Lha kampung ane yg kalimantan tengah aja banyak debu kok kalo di jalan raya, mosok pake motor di hutan ngoahaha)

    Suka

    • Namanya juga jualan bro, wajar di bela dan di giring kl gk mah gk laku nanti

      jelas – jelas disini di bahas tentang bahaya kalau pakai filter racing mau merk ferr*x, k&*, b*c juga hasil filter nya gak akan sebagus filter ori

      Suka

      • sayangnya banyak yang tidak tahu atau meremehkan pengaruh kotor tersebut. Busi hangus, sensor ISC kotor sampai idle mesin nggak karuan juga dianggap bukan salah filternya.

        Suka

  4. Ketemu lagi kita gan😀

    Ane pengguna Ferrox di Vario 125i, sudah 55000 KM saat post ini ane ketik, ane pake Ferrox bisa dikatakan sejak motor masih baru, bahkan Filter OEM yg ane punya cuma bawaan pabrik aja,,, langsung ane ganti ke Ferrox yaa kira-kira ketika Odometer menginjak 5000 KM lah😀

    Udah Buktikan sendiri ketika Overhaul di 45.000 KM, Hasilnya ?, hmmm … Cylinder Liner “Kinclong” tidak ada Baret sedikit pun.

    Ane cuma senyum-senyum aja deh baca Artikel ini dan Komentar-komentar di Artikel ini😀

    Throttle Body kotor itu BIASA,,, cari aja di YouTube atau Google dengan Keyword “Throttle Body Cleaning”, hasilnya banyak kan ?, nah berarti biasa, sebagian besar adalah pengguna Filter OEM/Kertas Ber-oli.

    Nih bisa lihat sendiri kondisi Throttle Body Vario 125i @25.000 KM Pakai Filter Udara OEM (Kertas Ber-Oli) di Blog Om Aki Hero:
    Yok bersih2 Throttle Body motor injeksi Posted on 24 August 2014

    Ane tarik kesini deh gambarnya:

    Ane pake Ferrox cuma karena satu hal,,, ane hidup di Kalimantan,,, seluruh dunia tau bagaimana kondisi hutan di Kalimantan,,, ane ber-empati kepada hutan-hutan di seluuh dunia ini, dimana saja yg pohon-nya ditebang untuk jadi bahan baku pembuatan Filter Udara Kertas OEM yang Filtrasinya Is The Best itu😀

    Filter yg terbuat dari Cotton ?, maaf, ane gk mau ribet harus beli Produk Cleaner dan Oli Khusus yg juga dijual produsen Filter tersebut. Meski bisa aja cukup dicuci pake Sabun dan dikasih Oli Low Viscosity yg bukan keluaran produsen filter tersebut, tapi tetap saja tidak praktis.

    Ane orangnya mudah Move On ke New Technology soalnya, semua punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, dalam hal ini ane pilih Ferrox karena biaya pembersihan dan perawatannya “Gratis”. Meski jadinya tiap 10.000 KM harus bersih-bersih Throttle Body😀, tapi kan ane DIY Mania, ane handle sendiri di garasi ane😀

    Share Link-link dari pihak Primes Asia, ketika ane tanyakan perihal Artikel ini ke mereka:
    Carbu ( TB ) Care. 13 November 2012 pukul 15:19
    https://www.facebook.com/dondaniel.fb/media_set?set=a.10202957137557834.1073741827.1485535497

    Mau liat kondisi Throttle Body ane tiap 10.000 KM ane bersihkan ?

    Nah, tiap 10.000 KM kurang lebihnya seperti itu,,, tapi udah jalan 55.000 KM, saat 45.000 KM ane Service Besar kondisi Ruang Bakar dan Komponen Didalamnya Excelent.

    Karena, yg di Throttle Body itu tumpukan partikel Debu yg ukurannya kurang lebih hanya < 45 micron. Ketika ane coba sapu pakai tangan, benar-benar halus, seperti tepung, dan ketika ane semprot pakai cairan cleaner, langsung luntur.

    Ini foto terakhir ane bersih-bersih Throttle Body kemaren, agak lebih banyak sih dari biasanya, soalnya hampir sepanjang jalan rute ane tiap hari lagi ada proyek pelebaran jalan, debu nya WOW,,,,

    Next ketika Odometer 90.000 KM masuk jadwal Service Besar lagi,,, nanti ane share lagi, semoga next time ane gk lupa lagi bawa kamera😀

    Kalo mereka yang tidak menggunakan Ferrox, melihat kondisi Throttle Body motor ane diatas tanpa deksripsi ane ini,,, PASTI RAGU pakai Ferrox, semoga tidak disalah gunakan (Black Campign) deh foto Throttle Body ane itu😀

    Kalo mau pake Ferrox, harus antisipasi juga ya gan,,,

    1. Bersihin Ferrox tiap 2000 KM – 5000 KM.
    2. Bersihin Box Filter (Opsional), Air Connect (Opsional), Throttle Body, Intake Manifold (Opsional), tiap 10.000 KM.

    Dibongkar ya, seperti bersihin Karburator dulu, jangan Direct Spray seperti Tutorial "Sesat" yang banyak dishare di Internet itu😀

    Jadi, ane gk ngawur,,, dan ane pribadi tidak menganggap Ferrox adalah Filter Racing. Sama seperti ane yg tidak menganggap Busi Iridium adalah Busi Racing, dan Knalpot Free Flow adalah Knalpot Racing.

    Jujur, ane gk peduli Box Filter Kotor, Throttle Body Kotor, Air Connect Kotor,,, ane lebih peduli dengan kondisi Hutan yg digunduli untuk diambil pohon nya untuk dijadikan Filter Kertas OEM.

    Ane lebih memilih bersihin itu semua tiap 10.000 KM.

    Ini pilihan sih gan,,, bagi orang lain beda lagi, apalagi yg kalo ada apa-apa dikit-dikit ke Bengkel,,, waaah,,, bersihin itu semua di bengkel jadi keluar biaya dong😀

    Jadi, ini semua Relatif,,,

    Suka

    • Terima kasih sharingnya. Bila punya waktu dan kemampuan untuk bersih bersih mesih sendiri maka pakai filter ferrox bisa dipahami. Memang banyak juga yang menganggap penambahan tenaga sepadan dengan usaha pembersihan tersebut.

      Namun sayangnya jauh lebih banyak yang nggak ngerti bahwa kalau pakai filter ferrox harus lebih sering bersih bersih. Banyak orang yang menyarankan pakai ferrox namun tanpa menyarankan untuk membersihkan mesin lebih sering. Oleh karena itu judul artikel saya kasih kata ngawur, karena yang ngasih saran pakai ferrox kebanyakan tidak menganjurkan untuk lebih sering membersihkan mesin.

      Soal lingkungan, mungkin bisa jadi diskusi tersendiri. Untuk saya, ruang pembakaran yang bersih lebih ramah lingkungan.

      Saya tidak setuju dengan saran pembersihan tiap 10 ribu. Kalau untuk mobil itu terlalu lama. Karena bila melihat perbandingan, dalam kilometer mendekati 10 ribu, punya saya dengan filter standard masih jauh lebih bersih dari pemakai ferrox. Pernah saya lihat postingan foto pemakai ferrox yang 2500km saja sudah hitam sekali. Untuk mobil menurut saya pemakai ferrox harus bersih bersih tiap 2000km sekali. Apalagi untuk yang di kota.

      Intinya, untuk tidak ngawur, maka setiap saran pemakaian filter free flow semacam ferrox, harus disertai juga saran untuk jauh lebih sering membersihkan mesin. Yang pakai filter ferrox harus siap meluangkan waktu lebih sering dan dana untuk membersihkan mesin hingga dalam dalamnya. Mungkin dalam frekuensi 4 kali lebih sering daripada bila masih pakai filter standard.

      Bagi yang mengejar performa, bongkar mesin bisa jadi suatu bagian yang rutin, sehingga pakai filter free flow layak jadi pertimbangan. Namun untuk perjalanan jarak jauh yang membutuhkan ketahanan seperti bila untuk mudik, saya merasa filter free flow kurang cocok.

      Suka

      • yg ngawur itu berfikir cuma pake Ferrox akan dapat peningkatan performa,,,

        soalnya ada motor/mobil yg open filter naik, ada juga yg malah drop,,, karena cuma beda filter doang, tidak ada penyesuaian lain, misalnya AFR,,,

        Kalo ane, pake Ferrox bukan karena performa, ane pake ubahan lain yg lebih mantap,,,

        Ane pake Ferrox, karena Issue lingkungan itu,,, ini soal idealisme sebenarnya,,, ane memang selalu mengusahakan untuk “Paper Free”,,, kalo ada buku yg dijual dalam bentuk digital, ane lebih pilih itu daripada buku fisik dari kertas.

        gk cuma itu, Oli Sepeda Motor ane pakai PCMO yg Drain Intervalnya 10.000 KM, Radiator Coolant Motor ane pakai yg udh IAT dengan Drain Interval 5 Tahun. Bensin pakai yg Low Sulphur Content dan Pb Free serta yg mengandung Pre-Mixed Fuel Treatment Additive.

        karena gk cuma mobil ane aja yg harus Environment Friendly,,, motor juga,,,

        Jadi, soal penggunaan Ferrox itu relatif, tidak bisa dipukul rata tiap orang gimana,,,

        ane pribadi, udh buktikan sampai-sampai ke tahap overhaul untuk memastikan kondisi ruang bakar, yg jelas gk seperti dugaan-dugaan orang yg belum pernah pakai Ferrox,,, ini lucunya, hanya bisa berspekulasi tanpa pembuktian secara nyata,,, ane udh sering ketemu yg beginian.

        kalo ferrox disebut bikin MESIN kotor, ane gk setuju,,, tapi kalo bikin Box Filter, Throttle Body, Air Intake, ane setuju,,, Intake Manipul pun kotornya karena fenomena “Intake Backfire” yg lazim terjadi. Meski begitu, tidak lantas bikin mesin kotor apalagi rusak, ada yg namanya batas minimum ukuran partikel debu yg bisa dengan mudah terbakar di ruang bakar yg panasnya bisa lebih dari 450 derajat celsius itu.

        Alasan kenapa OEM pakai Filter Kertas apalagi Beroli:

        1. Untuk First Impression pada pengguna, karena Box Filter, Throttle Body, Air Connect bersih, ini jadi sugesti bahwa Combustion Chamber juga bersih

        2. Filter kertas tidak reusable dan tidak washable, tanya kenapa filter kertas kering saja sudah bagus filtrasinya tapi OEM malah pakai oli di kertasnya ?, agar cepat kotor. Dengan dalih meningkatkan kemampuan filtrasi dan wajib ganti jika kotor, tidak boleh dibersihkan dengan dalih merusak pori-pori filter dan menghilangkan “oli khusus” yg diberikan pabrikan filter.

        3. Lagi-lagi ini soal duit-duit dan duit,, bisnis, bisnis, dan bisnis. Sama kayak Oli Khusus Sepeda Motor yg Drain Interval cuma 1000 – 2000 KM doang dengan harga oli yg mahal. Dalam konteks ini mereka tidak peduli lingkungan.

        Jujur, kalaupun Anti Ferrox, ane lebih merekomendasikan FIlter K&N aja yg bahannya bisa dicuci dan digunakan lagi, pakai oli khusus pula yg mereka sediakan/jual.

        Ane pribadi, Anti Filter Kertas. Karena ane tau segala sesuatunya, tidak cuma soal filtrasi filtrasi dan filtrasi, tapi dari sisi bisnis.

        Sampai detik ini, ane belom nemu surat pembaca, dan komplain apa pun yg isinya maki-maki karena Cylinder baret akibat pakai Ferrox.

        Kalo Throttle Body kotor, ya ada,,, tapi ketika ditanya ada gejala apa saat Throttle Body kotor seperti itu ?, mereka jawab tidak ada.

        Padahal, Throttle Body yg kotor hingga tahap kritis PASTI punya gejala,, yakni Idle tidak stabil, tidak bisa idle (mesin selalu mati saat idle), tarikan ngempos, top speed gk seperti biasanya, dsb

        Kalo yg lebih mementingkan filtrasi, maka Filter OEM (Paper) sangat baik, karena pokoknya semua part dibelakang Filter akan bersih kinclong, asalkan jadwal ganti Filter tepat waktu.

        Kalo yg nyari performance tapi masih ingin bersih, pakai Filter Cotton seperti K&N.

        Bagi yg ingin performance, kemudahan dan kepraktisan prosedur pembersihan, environment friendly, gunakan Ferrox,,,

        semua itu, Tidak Ada yang Merusak Mesin, dalam hal ini Combustion Chamber.

        dan masing-masing dari semuanya, punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.

        Soal kekurangan Ferrox,, anggap aja ane orang yg peduli lingkungan yg Rela mungutin sampah di lingkungan dan rela bersih-bersih lingkungan dari sampah, dan menghindari produk produk yg merusak lingkungan hanya karena bisnis dan duit,,, soalnya ane tau diri,,, ane pakai kendaraan berbahan bakar minyak pun walau gimana pun tidak ramah pada alam,,, tapi setidaknya ane mencoba semaksimal mungkin untuk menebus itu,,, sebisa mungkin, ane jalan kaki, naik sepeda, kalo toh jaraknya dekat,,, seandainya di daerah ane dan di negara ini transportasi masah sudah baik, ane gk bakalan beli sepeda motor untuk harian,,,

        ane jujur gk mampu beli Filter K&N yg harganya 1 juta lebih hanya untuk motor, apalagi untuk mobil, lebih mahal lagi, gk mampu beli produk K&N Recharger nya, karena ane di Kalimantan, seller di Jakarta/Jawa, gk bisa kirim-kirim cairan ke luar pulau. Ane tinggal di “Negara” Kalimantan yg apa-apa gk ada seperti di Indonesia (Jakarta), yg apa-apa harus Import dari Jakarta, itu pun gk bisa import cairan,,,

        Lalu ane lakukan Riset soal partikel sekecil apa yg gagal dibakar habis di ruang bakar yg suhunya bisa lebih dari 450 derajat celsius bahkan sampai 800 derajat celsius itu,,, dan ane dapat fakta bahwa 45 micron (filtrasi Ferrox) bahkan tidak apa-apanya bagi combustion chamber sepanas itu, tidak ada pengaruh apa-apa.

        Kalau cuma melihat dari Box Filter, Air Connect, dan Throtle Body yg kotor lalu menganggap akan berbahaya pada mesin, itu sungguh kesimpulan yg ngawur,,,

        Karena 45 mikron tapi terakumulasi di Throttle Body, Box Filter, tetap aja keliatan kotor, tapi semua itu tetap saja 45 micron jika dipisahkan. Dan akumulasi tersebut akan mengendap dan tidak akan masuk ke ruang bakar, kalau pun masuk ke ruang bakar, ya akan terbakar juga,,, bagi yg risih melihat kotornya part tersebut, ya dibersihkan,,,

        Atom yg sangat kecil pun jika terakumulasi dari banyak atom, akan membentuk suatu benda,,, tapi ketika dipecah kebali hingga tidak bisa dipecah lagi, maka kembali menjadi ukuran Atom. Sel pun begitu, partikel, dsb juga begitu.

        Anggaplah tumpukan pasir saat proses pembangunan bangunan, itu adalah akumulasi dari partikel pasir yg sangat kecil, tapi ketika terkumpul, bahkan bisa membentuk gunukan seperti gunung,,, yg lebih kecil lagi ?, partikel semen untuk kebutuhan pembuatan beton, sangat kecil seperti debu, tapi ketika terakumulasi ?, besarnya bisa sampai satu karung dan beratnya bisa 30 kg.

        Pakai Filter OEM Kertas Beroli pun bisa bikin Box Filter, Air Connect, dan Throttle Body,,, walau keliatan bersih, coba lihat pakai microscope juga akan kelihatan partikel debu yg sangat kecil misal 10 micron, 5 micron, dsb

        coba cari tutorial membersihkan Throttle Body,,, sebagian besar mereka menggunakan filter oem kertas,,

        sama seperti kita melihat permukaan yg bersih tapi faktanya ada kuman dan bakteri di permukaan tersebut,,,

        ingat, intinya adalah seberapa besar batas maksimal partikel yg tidak bisa dibakar habis oleh combustion chamber.

        sama seperti seberapa besar partikel debu di udara bebas yg mampu ditoleransi paru-paru kita, ketika paru-paru tidak mentoleransi, terjadilah bersin yg merupakan mekanisme pertahanan paru-paru manusia. Lihatlah filter paru-paru kita, cuma bulu yg ada di lubang hidung kita,,,

        Sesuaikan dengan kebutuhan, itu yg namanya Smart User. Analisa sesuai fakta dan real test,, itu baru yg namanya smart reviewer,,,

        apa pun di dunia ini ada batas toleransi nya,,,

        soalnya ane dah buktikan pas service besar (overhaul) sih, kalo ada yg bilang ferrox dapat merusak mesin, dapat membuat ruang bakar kotor, hanya karena melihat kondisi Throttle Body,,, itu ngawur,,,

        BTW, 45 mikron itu sekecil apa gan emangnya ?

        dalam bahasan tentang filter udara ini,,, memang selalu soal kebersihan Box Filter, Throttle Body VS Kebersihan Ruang Bakar.

        Sejauh ini, orang yg gk rekomendasi Ferrox cuma soal Performance Improvement saja, karena Ferrox terlalu plong, jadi harus ada penyesuaian lain misalnya AFR,,, dan soal kebersihan box filter, dan throttle body,,, soal kebersihan ruang bakar ?, terlalu ngwaur jika mengira hanya filter udara yg menyebabkan ruang bakar kotor.

        ane gk ada afiliasi apa pun dengan ferrox atau primes asia,, ane selalu riset sebelum pakai suatu produk,,, gk asal pake,,, ane hanya miris, melihat orang yg sulit menerima teknologi baru yg ramah lingkungan dan environment friendly, hanya karena masalah-masalah sepele yg cuma berdasarkan dugaan-dugaan dari penampakan luar saja,, tidak secara ilmiah,,

        cara ilmiah untuk mengetahui efek filter udara pada combustion chamber adalah melalui UOA (Used Oil Analysis) yakni pada Sillicon Content pada Oli.

        coba deh agan cari tentang ukuran partikel debu yg berbahaya terhadap combustion chamber, dan komponen terkait nya,,, berapa mikron ?

        Suka

        • Terima kasih banyak sharingnya.

          Motor sepertinya tidak sesensitif mobil. Sampai sekarang juga masih ada saja yang melepas filter udara di motor mereka. Saya juga pernah melepas filter sepeda motor. Motor masih jalan walau karbu sampai hitam. Pernah melepas filternya Suzuki Spin, dalam sehari saja karbu yang asalnya bersih jadi kotor. Kalau di mobil, sensor kotor bisa jadi masalah.

          Kurangnya informasi sering membuat orang salah duga. Orang yang melepas filter di mobil tidak sadar bahwa debu bisa mengganggu kerja sensor. Mereka tidak akan menduga bahwa itu karena melepas filter. Lain lagi bila mereka sudah diberikan informasi tentang apa saja resiko melepas filter udara.

          Filter standard sepertinya tidak cuma yang dari kertas. Baik di mobil ataupun di motor sekarang sepertinya lebih mirip kain. Kalau dari kayu mestinya kena air gampang robek, tapi yang ada sepertinya bisa dicuci berkali kali. Yang dimotor kelihatan seperti kertas, tapi anehnya tidak seperti kertas perilakunya. Pemakaian juga sepertinya tidak pakai oli, terpasang dalam kondisi kering.

          Apakah Vario 125 pakai filter kertas?

          Soal kerapatan, tidak tahu juga. sepertinya tidak hanya kerapatan, jumlah lapisan bisa juga menentukan.

          Saya tetap berpendapat bahwa bila debu bisa menumpuk di throttle body, maka debu juga bisa menumpuk di valve dan ruang bakar. Maksud saya mesin kotor itu seperti itu.

          Kalau untuk saya mesin yang ramah lingkungan itu bila hasil pembakaran sempurna. Menurut saya salah satu tandanya adalah ruang bakar yang bersih. Kalau ruang bakar bersih maka harusnya busi juga bersih. Jadi saat melihat mobil yang pakai free flow filter businya hitam, saya jadi berpikir yang pakai filter ferrox pembakaran tidak sempurna. Dari teori, bila AFR kering (mobil standard biasanya setelan AFR >14) maka businya cenderung lebih putih. Kalau kenyataannya businya hitam, maka pembakaran kurang sempurna.

          Rasanya throttle body kotor tidak mengganggu kerja mesin, kerja mesin akan terganggu bila sensornya kotor atau businya kotor.

          Yang bisa merusak mesin karena pemakaian filter free flow adalah bila memaksa tetap pakai premium dan kendaraan dipacu pada rpm tinggi. Dengan pasokan udara yang lebih banyak membuat kebutuhan oktan meningkat dan bila bensin yang dipergunakan oktannya terlalu rendah akan ada resiko knocking. Knocking pada tahap parah bisa membuat piston patah.

          Kemarin ada saudara yang cerita Honda Jazz LED yang baru mesinnya pecah karena dipakai balapan. Dan ternyata penyebabnya karena stang piston patah. Pemiliknya anak muda. Seharusnya, untuk motor sekelas Honda, mesin tidak akan rusak walau dipakai balapan, jadi menurut saya itu karena memaksakan oktan bensin yang salah. Saat campuran bensin terlalu kering, mesin jadi lebih rentan panas. Mungkin si pengendara tidak mencermati adanya bunyi tik tik tik di rpm tinggi, bisa jadi tingkat knocking sudah diatas kemampuan ECU mengatasi, atau karena sudah dimodif ECUnya sehingga mesin tidak menghiraukan sinyal knock sensor. Mungkin bukan salah filter free flow nya, namun tetap ada kontribusinya.

          Suka

      • Coba agan pelajari tentang Standard ISO 5011 yg jadi acuran development air cleaner (air filter) untuk kebutuhan combustion chamber,,,

        Intinya sih:

        “An efficient air filter is one that can keep the maximum of contaminants out of the engine. And, its efficiency is measured by way of the procedure, ISO 5011. Some air filters manufacturers also use the Coarse Test Dust that is capable to measuring particles from less than 5.5 microns to 176 microns. Thus, you need a high-grade air filter that can remove 95% to 98.5% of the particles at the time of installation. As the air filter functions and removes debris, it can develop an efficiency of more than 99%. However, any more than this level can also result in air restriction or an inadequate air supply to your engine. ”

        1 mm = 1000 micron

        batas maksimal partikel terbesar menurut ISO 5011 adalah 176 micron.

        sedangkan Ferrox ?, filtrasinya 45 micron.

        ingat analogi ane sebelumnya,,, akumulasi partikel debu yg melewati Ferrox adalag < 45 micron,,, "sedikit demi sedikit akhirnya menjadi bukit",,, tapi ketika dipecah lagi tetap saja 45 micron😀

        inilah alasan kenapa Throttle Body ane yg ane posting kemaren meski sekotor itu, tapi tidak ada gejala apa pun pada performa motor ane,, karena cuma akumulasi debu < 45 micron yg tidak bersifat abrasif dan tidak mengganggu kerja Throttle Body,,,

        Semoga agan bisa bijak, tidak cuma menquote sumber-sumber yg hanya sesuai dengan pendapat agan saja,,, yg lucunya, sumber-sumber tersebut, juga pendapat,,,

        Suka

      • Jawaban dari “Kegundahan” ini adalah Standard ISO 5011

        Menurut ISO 5011 ukuran partikel apa pun yg masuk ke Combustion Chamber adalah 5,5 Micron sampai yg paling besar 176 Micron.

        Ferrox ?, 45 Micron.

        OEM ?, 15 – 25 Micron.

        Kenapa Throttle Body, Box Filter, Air Connect faktanya secara visual kotor seperti itu ?

        Ingat pepatah: “Sedikit Demi Sedikit Akhirnya Menjadi Bukit ?”

        Filter OEM berbahan Kertas dan Ber-Oli memiliki Filtrasi 15 – 25 Micron, Faktanya sesuai “Hukum Alam” pepatah diatas, tetap saja bisa bikin Throttle Body Kotor. Kelihatannya bersih, karena mata kita tidak bisa Zoom In melihat partikel sekecil 15 – 25 Micron. Kecuali dalam waktu yg sangaaat lama,,, hingga akumulasi debu 15 – 25 Micron tersebut sampai menupuk banyak hingga mata kita menilai “Wah Kotor Banget”.

        Ditambah lagi Oli Khusus pada Kertas Filter OEM meningkatkan kemampuan menangkap partikel debu, agar ruang box filter lebih bersih. Jangankan Ferrox VS OEM,,, Filter OEM Kertas VS OEM Kertas Viscos (Sebutan Oli Khusus yg ada pada Filter OEM baru-baru ini) saja beda “prestasi”, tapi tidak ada kasus Filter OEM Viscos dimodif jadi Filter Busa Beroli (Modif Irit) menyebabkan Mesin Rusak. Justru kualitas Oli lah yang berperan amat vital untuk kasus tersebut.

        Dari sini saja,,, rasanya tidak adil membandingkan Ferrox dengan Filter OEM, ibarat kita membandingkan Pour Point at -45°C antara Oli Viscosity Grade 0W-20 VS 5W-30.

        Ferrox sesuai Misi ane yakni Environment Friendly, yakni dalam hal ini “Paper Free”,,, Save Out Forest !

        So, jangan lantas melihat Box Filter, Air Connect, dan Throttle Body yg kotor, lantas mengatakan Ferrox Berbahaya pada Mesin, Sungguh Ngawur😀

        Ferrox cuma bisa 45 Micron, mereka akui itu adalah salah satu tahapan development, dulu hanya 65 Micron, sekarang 45 Micron, artinya Improvement, kan ?, tidak menutup kemungkinan di masa depan, akan bisa lebih kecil dari 45 Micron, tapi masalah besar dari Technology adalah Cost Production. Ane yakin sekarang ini udah bisa aja bikin < 45 Micron, tapi Harganya ?, Sedangkan ISO 5011 saja mematok Max 176 Micron.

        BTW, 1 mm = 1000 Micron.

        Ane hanya seorang "Smart User" … Bukan bermaksud Sombong …

        Case Closed

        Suka

        • Bikin sendiri aja,,beli wire-mesh yg mesh 400 (biasa dipakai di industri farmasi tuk menyaring obat syrup) itu bisa menyaring hingga 30 micron, tingga pilih aja mau mesh ukuran brp (googling aja tuk kemampuan saringnya), bentuknya sama persis dengan ferrox,,beli 1 meter sekitar 350rb’an,,,tinggal dilekuk sendiri bisa tuk bikin filter 3 mobil & 6 motor,,,secara kumulatif jika beli ferrox atau merk lain bisa 5jt’an tuh,ane uda bikin sendiri tuk motor2 & mobil2 ane…lumayan jauh lebih hemat, kita jd kreatif & paper free bisa dicuci juga…
          Salam dari “Anak Borneo”

          Suka

  5. “Mengapa harus 45 Micron??
    Filter udara FERROX yang terbuat dari anyaman serat stainless steel memiliki kerapatan 45 micron tentu dibuat berdasarkan hasil riset yang didapatkan bahwa partikel debu yang masuk kedalam ruang pembakaran dapat hancur sendirinya dan terbuang melalui saluran exhaust selama partikel tersebut tidak lebih dari 80 micron. Suplai udara tentu lebih lancar, dan partikel debu yang masuk tidak perlu dikhawatirkan lagi toh. Suplai udara yang lebih optimal membantu tercapainya akselerasi & power yang lebih maksimal tanpa membuat BBM lebih boros.”

    Klaim ferrox… saya pakai ferrox busi masih warna putih… bukanny merah bata pembakaran sempurna?

    Suka

    • Dari yang saya tahu, yang pakai ferrox businya kalau nggak hitam ya coklat. Bukan merah ataupun putih. Jadi rasanya debu nggak hancur tapi nempel ke mesin. Kalau dibilang pembakaran lebih sempurna juga sepertinya tidak karena yang pakai ferrox saat carbon clean ya tetap saja banyak keraknya.

      Warna busi menunjukkan sisa bensin yang tidak terbakar.

      warna merah dikatakan sempurna itu karena itu normalnya menunjukkan campuran bensin yang bikin performa paling ok. Bisa dilihat di grafik berikut:

      Bila campuran udara dibuat lebih banyak dengan pakai filter yang halangannya kecil, maka otomatis rasio bensin akan lebih kecil sehingga bensin yang tidak terbakar akan lebih sedikit, busi jadi lebih putih. Busi cerah tandanya setelan mesin irit. Normalnya bila udara diperbanyak harusnya bensin juga diperbanyak kalau fokusnya tenaga, juga untuk mencegah rusaknya mesin karena kebutuhan oktan naik.

      Busi juga lebih putih bila pakai alat ionisasi bensin semacam pro capacitor. Karena bensin menjadi lebih mudah terbakar, maka sisa bensin yang tidak terbakar menjadi lebih sedikit sehingga busi lebih putih. Namun dengan cara ini kebutuhan oktan biasanya akan turun. Mesin tetap dingin walau mesin lebih irit dan bertenaga.

      Suka

  6. pencerahan om, aku malah std nan saja karena duit,,, artikel pencerahan bahkan ada yang tanpa filter segala biar kencang sekencang badai ,, hasilnya piston aus tuh serem

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s