Ternyata pertalite dan pertamax masih ada timbalnya bro, timbal bisa merusak sensor O2 yang jadinya bikin mesin boros


Artikel yang sangat informatif berikut ini menjelaskan bahwa ternyata bensin pertamina untuk merek premium dan pertalite masih belum bebas dari timbal.

Benarkah Premium Bebas Timbal ? 09/01/2016 by Luqmanul Hackim

Katanya Premium sudah Bebas Timbal sejak Tahun 2006, Benarkah ?

Kata siapa ?, Kata Pertamina melalui Media Masa dan dishare oleh banyak Blogger dan Pengguna Sosmed sehingga menjadi sebuah Keyakinan bahwa hal itu benar adanya.

Pertama-tama, perlu diketahui bahwa Bebas TEL (Tetraethyllead) dengan Bebas Pb (Timbal) itu berbeda definisi loh !

TEL itu adalah Additive Octane Booster yg menambah kadar Pb pada Bensin karena terdapat unsur Pb didalamnya, sedangkan Pb ya Pb, maksudnya Pb adalah Mineral/Logam yang memang pasti ada pada Komponen Minyak Bumi, dengan kata lain Bensin pasti mengandung Pb jika tidak dilakukan proses pengolahan lebih lanjut agar kadar Pb bisa diminimalisir dan juga mengurangi Sulphur Content pada Bensin.

Premium yang dicampur TEL maka Pb Content adalah 0,3 g/l, setelah TEL dilarang/tidak digunakan lagi maka Pb Content turun jadi 0,013 g/l tapi itu belum cukup untuk bisa disebut Bebas Timbal, bahkan 0.001 g/l pun tidak bisa disebut bebas timbal, kecuali 0,000 g/l.

Bagaimana dengan Pertalite ?

Pada dasarnya Petalite sama seperti Premium, hanya saja kandungan HOMC lebih banyak agar didapat RON 90 lalu ditambahkan Value Added berupa aditif EcoSave Technology sehingga Pertalite memiliki kulitas diatas Premium baik dari segi RON maupun Value Added berupa kebersihan Fuel System dan Ruang Bakar.

Karena kebutuhannya sedikit, Pertalite awalnya dibuat hanya dengan mencampurkan Pertamax 92 dengan Premium di Depo, sehingga warnanya pun menjadi Hijau (perpaduan Kuning dan Biru), lalu karena Premium tidak mengandung EcoSave Technology maka Concentrate EcoSave Technology ditambahkan kedalam Pertalite agar sesuai standard dimana Aditif tersebut mampu bekerja secara optimal. Sayangnya Spesifikasi untuk Sulphur dan Pb Content masih sama dengan Premium.

Dari artikel tersebut dikatakan bahwa ternyata premium masih mengandung timbal hasil dari pemrosesan. Dan karena pertalite menggunakan bahan dasar premium, pertalite juga masih mengandung timbal. Timbal merupakan bahan yang berbahaya untuk kesehatan.

Timbal merupakan bahan aditif yang sangat efektif untuk menambah oktan.
Race Fuel 101: Lead and Leaded Racing Fuels

Lead is used in racing fuels because it is a very effective octane booster. As a matter of fact, leaded fuels are often credited for allowing higher compression, higher efficiency engines in World War II era aircraft. Increased power made some WWII airplanes like the P-51 Mustang legendary performers!

Just a little bit of lead in gasoline can raise octane up to 20 octane numbers. A great example of this can be seen by comparing Sunoco MO2X Unleaded to the leaded version – Sunoco MO2X. Both fuels have exactly the same composition; the only difference is one has lead and one doesn’t. MO2X Unleaded has a 97 octane rating while the leaded version achieves a 112 octane rating. Though one is 15 octane numbers higher than the other, both share the same fuel combustion properties. Both fuels are oxygenated, both provide great throttle response, and racers have the choice of running an unleaded fuel if 97 octane is sufficient.

Dikatakan bahwa dengan hanya menambahkan sedikit timbal, oktan bensin bisa naik 20 poin. Walau oktan berbeda, tenaga dikatakan sama saja. Jadi selama oktan cukup, maka tenaga dari mesin yang pakai bensin dengan timbal tidak akan berbeda dari bensin yang tidak mengandung timbal. Yang harus dicermati, dikatakan bahwa pemakaian timbal di mesin modern bisa merusak sensor oksigen dan catalytic converter:

Leaded fuels should not be used where oxygen sensors and/or catalytic converters are used. While it is rare to see a race car equipped with a catalytic converter, the use of oxygen sensors on race engines is becoming more common. We still hear from a few racers who use oxygen sensors with leaded race fuels in their race cars. The useful life of an oxygen sensor used with a leaded fuel is hard to predict, but one thing is certain: it will eventually fail. Some oxygen sensors can last a whole race season when used with a leaded race fuel, while others may only last one race. The useful life depends heavily on the application.

Dijelaskan juga di link berikut bahwa timbal dapat menimbulkan timbunan lead-oxide sehingga harus ditambahkan zat pembersih.
Modern Motor Fuel

Another important method of improving the antiknock value of motor fuel is the addition of antiknock agent to it. The first additive to be used commercially was tetra-ethyl-lead (TEL), in early 1920s. It was discovered by Midgeley and Boyd, who published their finding in 1920. Small quantities, usualy less than 0.18 per cent by weight, give substantial improvement in anti knock value. Usually the greater improvements are obtained in the lower-quality paraffinic and naphteanic fuels; smaller improvements are obtained in the higher quality fuels which are largely aromatic and olefenic. TEL is added along with small amounts of ethylene dichloride and ethylene bromides. These materials are called “scavengers” and help to reduce the amounts of deposits formed in the cylinders by reacting with the active antikncock material, lead oxide, formed during combustion. The resulting lead halides are more volatile than lead oxide and pass more redily from the cylinder.

 

Di artikel pertama disebutkan juga tentang adanya bahan ecosave di pertalite. Bisa jadi bahan ecosave ini untuk mengurangi efek samping dari pemakaian timbal yang bisa menimbulkan timbunan. Bila iya, maka pemakai premium perlu sekali sekali pakai pertalite untuk membersihkan kerak timbal di mesin. Membersihkan kerak timbal hasil dari pakai premium atau pertalite nggak bisa pakai pertamax atau pertamax plus karena kedua yang terakhir tidak mengandung timbal.

Atau bisa jadi aditif ecosave merupakan aditif semacam dengan Yamalube carbon cleaner yang fungsinya membersihkan kerak carbon.
Kata siapa pakai pertamax plus bisa membersihkan mesin? Pakai carbon cleaner pun nggak menjamin bisa bersih total bro

Mungkin penambahan aditif ecosave ini yang membuat pertalite terasa kurang bertenaga bila dibanding premium saat dipakai di motor penulis. Aditif ecosave sepertinya mengurangi efek alat perubah sifat bahan bakar (pro capacitor + cemenite) yang penulis pasang di motor penulis. Rasanya juga mirip dengan saat penulis pakai Yamalube carbon cleaner. Motor serasa berkurang tenaganya walau terasa napas lebih panjang dan mesin lebih licin (lebih senyap). Bau Yamalube carbon cleaner juga seperti minyak tanah / kerosin. Kerosin sendiri bisa bikin karet melar, yang kalau dipakai di motor bisa merusak seal dan membuat mesin jadi berasap.

11 thoughts on “Ternyata pertalite dan pertamax masih ada timbalnya bro, timbal bisa merusak sensor O2 yang jadinya bikin mesin boros

  1. Fuel Additive itu sebenarnya fungsinya untuk Fuel System Cleaner gan, seperti Tangki, Filter Bensin, Fuel Pump, Selang Bensin, Injector, dan termasuk Intake Valve (Klep In),,, dengan dampak sangat sedikit ke ruang bakar (Cobustion Chamber), dampaknya sangat sedikit gan, meski kita pakai High Concentrate seperi Chevron Fuel System Cleaner Plus (di Indonesia direbranded Yamaha Carbon Cleaner), atau produk STP dan Prestone,,, yg sejatinya tetap saja Fuel System Cleaner,,, ciri Fuel System Cleaner adalah cairan konsentrat yg dicampur ke bensin (Post-Mixed). Termasuk juga Pre-Mixed Fuel Additive seperti EcoSave.

    Jadi, jangan dikira sekali-sekali pakai Pertamax akan membersihkan Fuel System, apalagi Ruang Bakar, karena konsentrasi aditifnya sedikit (karena diperuntukkan untuk pemakaian reguler), kalau mau dapat manfaat EcoSave, ya harus dipakai reguler/tiap kali isi bensin, tidak bisa sekali-sekali,,, pakai premium berbulan-bulan, trus cuma sekali isi full tank Pertamax gk bakal ngasih efek,,, daripada begitu, mending isi full tank premium + aditif high concentrate macam Yamaha Cabon Cleaner dan produk STP seperti STP Multipurpose Motor Treatment. Tapi kalau pakai Post-Mixed Concentrate ini jangan digunakan reguler, cukup tiap 3000 – 5000 KM sekali.

    Di Youtube banyak sekali video pembuktian produk Fuel System Cleaner yg mengklaim dapat membersihkan ruang bakar yang hasilnya Bulsh*t,,, Hoax,,,

    Yang lebih lucu dan useless adalah menyemprotkan produk carb cleaner lewat box filter udara atau venturi karburator sambil memainkan throttle grip/blayer-blayer gas,,, itu cuma bisa membersihkan Intake Manifold, bukan ruang bakar. Asap hitam yg keluar dari knalpot adalah cairan carb cleaner yg terbakar tidak sempurna di ruang bakar.

    BTW, Yamaha Carbon Cleaner itu pembodohan publik, yg benar seharusnya Fuel System Cleaner (chevron yg notabene perusahaan yg bikin itu formula saja tidak mengklaim carbon cleaner, tapi fuel system cleaner),, karena tidak akan efektif membersihkan carbon di dome piston dan ruang bakar (meski dalam promosi dikasih foto-foto yg diklaim efek penggunaan produk itu, tapi pembuktian real membuktikan itu bohong),,, produk yg efektif membersihkan ruang bakar adalah Carbon Clean yg biasanya dikemas dalam Suntikan yang diberi extension hose (selang kecil untuk menyedot cairan kembali), seperti produknya Carbon Speed. Penggunaannya dengan cara memasukkan cairan ke lubang busi. Ini populer di kalangan bengkel mobil. Karena biaya dan waktu untuk overhaul mesin mobil itu tidak sedikit bro…

    Untuk motor yang mesinnya kecil, ane lebih memilih melakukan overhaul untuk membersihkan ruang bakar (piston, head, klep), sekalian skir klep, ganti gasket/packing cylinder, ganti seal klep, dan ganti ring piston, biayanya murah, cuma 35rb di bengkel resmi, waktu pengerjaan tidak lama, sekitar 5 jam (datang pagi selesai sore), hasilnya maksimal dan PASTI BERSIH. Bahkan pihak bengkel resmi menyediakan Piston Kit agar pengerjaan lebih mudah dan cepat dan lebih pasti lagi bersihnya.

    Produk-produk kimiawi yg sekarang trend digunakan di sepeda motor, sejatinya adalah produk untuk mobil, karena biaya bongkar-bongkar mesin mobil itu mahal dan prosesnya lama.

    Itu pun jika pemilihan produk tidak sesuai peruntukannya, maka kita cuma dapat efect placebo,,, mau bersihkan ruang bakar pakai fuel system cleaner ?, ya salah,, mestinya pakai carbon clean.

    Oh ya, EcoSave tidak mengurangi efek dari timbal,,,

    Artikel ane yg bilang “Premium dan Pertalite Ternyata Tidak Bebas Timbal” hanya menunjukkan data/bukti kalau memang bukan bebas,,, yg namanya bebas itu ya kadarnya 0,0 g/l,,, meski 0,013 g/l diklaim sudah aman untuk O2 Sensor dan Catalytic Converter (usia kedua part itu akan lebih panjang, tapi tetap saja akan ada masa dimana keduanya akan rusak, tapi lama, karena masih ada timbal 0,013 g/l itu tadi), tapi tetap saja tidak bebas timbal kan?, intinya publik harus tau Bebas dan Kadar Sangat Sedikit itu tetaplah beda makna,,, jangan lantas kadarnya sangat sedikit lalu dianggap tidak ada.

    Yang dikhawatirkan pada bensin di saat ini menurut ane bukanlah timbal, tapi Sulphur Content gan,, karena kadar timbal 0,013 g/l relatif masih bisa dikatakan aman untuk 02 sensor dan catalytic converter, lebih aman lagi kalau menggunakan oli dengan klasifikasi API SN.

    Low Sulphur Content hanya bisa kita dapatkan pada bensin berbahan dasar murni HOMC seperti Pertamax 92, Pertamax Plus, dan Pertamax Racing, sedangkan bensin berbahan dasar Naphtha (bukan kapur barus, beda lagi ya) + HOMC seperti Premium dan Pertalite masih mengandung Sulphur yang banyak.

    Kadar Sulphur sendiri dipengaruhi minyak mentah dan pengolahannya di kilang minyak, jadi kadarnya tidak pasti, tapi harus memenuhi standard spesifikasi, Pertamax harus < 50 ppm,, Premium/Pertalite < 500 ppm.

    Naphtha dan HOMC Itu ibarat Base Oil pada Oli,,, bedanya Naptha dan HOMC itu untuk Gasoline,,, Naphta itu bisa dikorelasikan dengan Base Oil Group II, dan HOMC itu ibarat Base Oil Group III,,, Yupz,, HOMC adalah hasil olahan lebih lanjut dari Naptha, lebih murni, lebih bersih.

    Sulphur Content ini dampaknya krusial loh gan, khususnya pada usia pakai oli mesin, o2 sensor, catalytic converter, kebersihan ruang bakar, dan lifetime fuel pump beserta sensor yg ada didalam fuel pump itu seperti fuel meter,,, karena sulphur punya sifat konduktor listrik, jadi kutup positif dan negatif bisa terjadi short, meski gk langsung bikin fuse putus. Pernah terjadi kasus dimana fuel pump mobil rusak masal karena menggunakan Premium yg memiliki sulphur content 200 – 500 ppm. Di sepeda motor pun sering terjadi ketidakakuratan pada indikator meteran bensin karena menggunakan Premium.

    Saya pribadi menggunakan Pertamax bukan karena RON (Octane), karena untuk meningkatkan Octane bisa dilakukan dengan banyak cara, seperti pakai minyak atsiri misalnya, saya menggunakan Pertamax karena Pertamax itu HOMC murni yang memiliki Sulphur Content sangat kecil gan,,, < 50 ppm. Bahkan HOMC asal jepang bisa < 10 ppm. Ironisnya Naptha yang jadi bahan dasar pengolahan HOMC dijepang diimport dari Indonesia, karena Indonesia masih belum bisa mengolah naptha jadi HOMC, makanya diexport ke luar negri untuk diolah jadi HOMC, lalu ketika sudah jadi HOMC diimport lagi oleh Pertamina dan dikasih brand Pertamax Series. Tapi Pertamina sekarang ini sudah mengembangkan fasilitas untuk mengolah Nalphta kita menjadi HOMC, dampaknya sudah semakin terasa,,, harga Pertamax Series saat ini selalu mengalami menurunan harga,

    Ane punya misi Long Drain Interval gan, untuk mengurangi limbah B-3 yakni oli bekas, dan untuk mengurangi pemakaian minyak bumi, dimana usia pakai oli mesin motor ane minimal harus 10.000 KM untuk motor matic, dan 7000 KM untuk monor manual,, nah untuk memperpanjang umur pakai oli adalah dengan menggunakan bensin low sulphur content, yg mudah didapatkan adalah Pertamax.

    Bayangkan gan, ganti oli tiap 10000 KM – 2000 KM, itu sangat membuang-buang cadangan minyak bumi kita,,,

    Oli Mesin untuk motor matic ane harus pakai Fully Synthetic API SN/ILSAC GF-5 Energy Concervation SAE 0W-20, kalau untuk motor manual pakai Semi Synthetic API SN/ILSAC GF-4 SAE 15W-40.

    Suka

    • Terima kasih banyak pencerahannya. Memang untuk motor lebih bersih bila dibongkar. Iya, kalau di mobil memang banyak yang menganjurkan pakai bahan kimia. Bahkan ada yang mengandalkan italian tuning, pakai gigi 1 rpm tinggi dalam usaha membersihkan mesin. Tapi begitu juga busi mereka tetap hitam.

      Baru tahu bahwa kandungan sulfur sangat penting. Bisa jadi pertimbangan.

      Sedih juga karena Pertamina tidak berkembang dengan monopoli yang begitu lama. Padahal sudah disubsidi juga.

      Untuk oli, saya sendiri kurang begitu percaya dengan pelabelan oli buatan Indonesia. Oli yang katanya bisa tahan 5000km pun ternyata cuma tahan dibawah 1000km.

      Untuk solusi limbah oli mungkin kita perlu respek dengan produsen oli standard yang mengolah kembali oli bekas seperti evalube dan pennzoil.

      Suka

  2. Oot ya masbro
    tau ngak kenapa yamaha mengeluarkan yamalube carbon cleaner. Apa kaitannya sama mesin vixion yg boros olie/ngebul?

    Suka

  3. Mesin berkerak?
    Jangan buru2 nyalahin bbm yg jelek. Ada beberapa faktor penyebabnya.
    Berapa durasi overlap camshaftnya?
    1.Bisa saja kerak itu asalnya dari gas buang yg balik lagi ke ruang bakar.
    2. Pada rpm tinggi backpressure gas buang meningkat. suhu ruang bakar makin panas, mesin jd overheat keluar oli dari celah ring piston atau seal klep.

    Suka

  4. […] Pakai pertalite juga masih tidak bebas dari timbal, berbeda dari bila pakai pertamax. Efek timbal ke mesin menjadi kerak yang juga menyumbat sensor dan catalytic converter. Mungkin kandungan kecil sekali, tapi yang jelas tetap ada. Mungkin tidak seperti bila pakai bensin racing leaded yang bisa bikin sensor O2 rusak setelah satu race, tapi umur sensor O2 jelas lebih panjang bila pakai pertamax. Kalau sensor O2 rusak, maka bensin jadi boros. Ternyata pertalite dan pertamax masih ada timbalnya bro, timbal bisa merusak sensor O2 yang jadinya … […]

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s