Dani Pedrosa celaka di Motegi tahun 2010 dan Casey Stoner celaka di Suzuka tahun 2015 karena ada bug di sistem throttle by wire motor Honda


Saat mencoba menjawab pertanyaan pembaca di artikel sebelumnya, penulis menemukan informasi mengejutkan tentang bug dari throttle by wire di motor Honda bikin celaka. Pertanyaan diajukan di artikel berikut, dimana pembaca membantah kemungkinan celaka karena bug throttle by wire:
Kelemahan dari throttle by wire seperti yang diterapkan di new Honda CBR250 led

Karena penasaran, penulis mencoba mencari berita yang berhubungan dengan “by wire crash”, ketemu dua berita yang kebetulan dua duanya terjadi pada motor Honda yang pakai Throttle by Wire.
Beritanya sebagai berikut untuk Dani Pedrosa pada tahun 2010, motor Honda:
Throttle Glitch Cause Of Pedrosa’s Motegi Crash

Anyone seeing the crash by Dani Pedrosa at Motegi knew immediately that there was something very strange about the accident. The only footage of the crash is from the onboard camera, but the way the bike twitched as Pedrosa braked for Turn 9, the V Corner, was a sign that something was not right with the bike.

The problem, HRC revealed today, was a problem with the throttle. A malfunction with the fly-by-wire throttle caused the gas to stay open as Pedrosa braked, instead of shutting off, upsetting the balance of the bike under braking and causing Pedrosa to crash, fracturing his left collarbone in the process.

For Dovizioso’s team-mate, it was a much less happy day, Pedrosa falling early in the session and suffering a double fracture of the left collarbone which means the Spaniard is unfortunately out of the Grand Prix of Japan. The crash happened only five minutes into the session when the 25-year-old was still getting up to speed. As he began braking for tur n nine, he lost control and fell, with his left leg at first remaining under the bike as he slid into the gravel. The unlucky fall, just three laps into the session, was caused when a small problem with the throttle cable didn’t allow Pedrosa to close the throttle when he came to brake, an issue which has already been investigated and resolved. Pedrosa will return home to Spain tonight, with an operation scheduled for tomorrow to plate the fractured collarbone.

I tried to stop the bike as usual but I knew something was wrong and couldn’t avoid going down. After the crash I knew immediately that I was injured because it was very painful. I had a big impact in my left ankle and also my collarbone was broken as I hit the track – so obviously it feels very unlucky because recently we have had really good results.

Dikatakan Dani Pedrosa mengalami kecelakaan di Motegi karena sistem fly by wire (nama lain dari throttle by wire) di motornya tersangkut, dari yang harusnya mati malah tetap terbuka.

 

Yang berikut adalah Casey Stoner pada 2015, motor Honda:

Honda’s Nightmare: Stuck Throttle Injures Casey Stoner at Suzuka (with video)

Stoner was actually leading the race shortly after taking over from his teammate when his throttle stuck open, and he found himself headed for a wall. Stoner explains what happened next in the quote below, but the crash resulted in shoulder and ankle breaks.

With the complexity of modern racing computer-controlled systems (Stoner’s throttle was surely a ride-by-wire affair), I suppose it is surprising that these sort of things do not happen more often, but it is hard to imagine a more embarrassing outcome for Honda.

Together with HRC staff, the team checked the machine, and confirmed from the data that the throttle was 26 degrees open before the crash. It wasn’t clear why this happened and now the bike will be sent to HRC for a full inspection.

Unfortunately, we experienced some mechanical trouble as I was going through the corner leading up to the hairpin. In this corner I did not have enough time to pull the clutch and have another go at the turn as I came in with too much speed, I picked the bike up to try to slow down more but I was heading towards the wall so I decided to lay it over and hit the barrier but unfortunately, they were a lot harder than they looked and we came out of it with a broken bone in the ankle and broken scapular.

Dikatakan bahwa sebenarnya Stoner sedang melaju lancar di depan dan tiba tiba gas nya nyangkut dan motor jadi menabrak tembok. Dari data tercatat gas terbuka 26 derajat sesaat sebelum celaka.

Beberapa versi menyebutkan bahwa yang bikin tersangkut adalah kawat throttlenya. tidak jelas apakah CBR1000RR 2015 itu gas masih pakai kawat ataukah tbwnya memanfaatkan kawat untuk kendali dari motor servo ke bukaan throttle body. kalau cbr 1000cc saja masih pakai kawat maka implementasi di cbr 250 cc bisa dibilang termasuk percobaan.

Update, mungkin Honda CBR1000 cc memang tidak cocok di Suzuka 8 hour:
Tim Nicky Hayden Gagal Tuntaskan Suzuka 8 Hours Endurance 2016

NaikMotor – Nicky Hayden gagal menuntaskan balapan pada Suzuka 8 Hours Endurance 2016. Mengibarkan bendera Musashi RT Harc-Pro bersama VD Mark dan Takahashi mengalami masalah teknis pada Honda CBR1000RR di Sirkuit Suzuka, Minggu (31/7/2016).

Petaka itu terjadi pada lap 50 saat Hayden sedang menjadi pembalapnya. Padahal pada saat itu posisinya kedua dibelakang rider Yamaha Factory Racing. Tim Honda lainnya, TSR juga gagal melanjutkan balapan karena terjatuh, praktis Satu Hati Honda Team Asia yang masih bertahan.

Update: Sepertinya CBR1000RR 2015 versi road belum ada throttle by wire nya, sementara untuk balap dibolehkan ditambahkan throttle by wire:
SPECIAL DELIVERY | 2014 HONDA CBR1000RR SP ROAD TEST REVIEW

So it was a bit of surprise to see the CBR1000RR SP unveiled for 2014 and for a number of reasons. First, the SP isn’t really a homologation special; total production will number 5,000 units worldwide, far more than the mandated 1,500 minimum, and it doesn’t feature much of anything that will be of real use to professional race teams (especially a ride-by-wire throttle system, which luckily for the World Superbike PATA Honda team is allowed to be retro-fitted).

Manfaat throttle by wire di balapan terutama untuk mengatasi engine brake, berikut contoh dimana penerapan teknologi ini bisa membuat lap time 2 detik lebih cepat karena peningkatan grip saat di tikungan.
Throttle-by-wire is one of the keys to continued good health for racing motorcycles.

Here is a specific case: the adoption of throttle-by-wire on Chris Ulrich’s GEICO Motorcycle Honda CBR1000RR AMA Pro SuperBike. Before AMA Pro Racing finally consented to the use of an updated 2009 system, the Ulrich machine suffered the classic symptoms of braking instability. When the brakes went on and the rear wheel became light, engine braking from the one-liter four caused the rear tire to lose grip. As the bike angled over on turn entry, the rear tire would slide out as if the rider were playing with a thumb brake, 1995-style.

All this disappears when throttle-by-wire is adopted. With it, you write software that lifts the throttles (or some of them) just enough to cancel any desired fraction of engine braking. You don’t want to eliminate engine braking, you just don’t want the rear tire to hop, stutter, or slide out on corner entry.

What was the gain in the case of Ulrich’s Honda? I was told that once the unsatisfactory compromises were removed from the chassis setup (adopted to deal with engine braking conventionally), he was able to run as much as two seconds a lap quicker than before in testing. At Daytona this past weekend, Ulrich finished 13th and 10th, respectively, in the two SuperBike races.

 

Contoh kecelakaan diatas terjadi karena bug / glitch pada sistem throttle by wire buatan Honda. Peristiwa ini membuktikan bahwa gas dari sistem throttle by wire juga masih bisa tersangkut. Dan kalau gas tersangkut bisa bikin celaka tidak perduli itu masih pakai kabel sling atau sudah throttle by wire. Ini menjawab bantahan pembaca sebelumnya. Semoga motor Honda CBR250 yang dirilis barusan sudah bebas dari bug tersebut.

Kalau nemu berita lain tentang kecelakaan gara gara throttle by wire silahkan share. terima kasih.

Kelemahan dari throttle by wire seperti yang diterapkan di new Honda CBR250 led


Berdasar saran dari pembaca, penulis mencoba mengulas kelemahan apa saja dari sistem throttle by wire. Komentar tersebut sebagai berikut:
Riding mode di new Honda CBR250R led bisa jadi cuma Throttle Response Controller

Banyak artikel yg membahas ttng kelebihan teknologi ini, akan tetapi sedikit sekali ato bahkan tdk ada artikel di Indonesia yg membahas ttng kelemahan teknologi ini.

Salah satu kelemahan dari teknologi ini adalah, jika terjadi kesalahan dalam penulisan program pada ECU (bug), maka akan terjadi ‘unintended acceleration’. Dimana hal ini akan berpotensi menimbulkan kecelakaan.
Ada banyak contoh kasus ttng ‘unintended acceleration’ dimana Throttle by wire ato Electronic Throttle Control diduga menjadi salah satu sebab.

Contoh kasus pada tahun 2013 lalu, dalam putusannya “guilty by software defects” dimana T*y*t*, dinyatakan bersalah oleh pengadilan AS atas kecelakaan yg berujung kematian yg terjadi di Oklahoma.

Nah itu contoh kasus yg terjadi di AS, yg penegakan hukumnya ketat, klo hal ini sampai terjadi di Indonesia? Pasti yg disalahkan si biker / driver nya.

Penulis setuju dengan hal itu. Dengan throttle by wire, nyawa pengemudi menjadi tergantung pada ECU. Kalau ecu ada bugnya, maka nyawa driver jadi taruhan. Mungkin maksudnya membantu, tapi kalau bantuannya salah, maka justru menjadi membahayakan. Ini seperti kasus dimana steering aid malah jadi mobil lepas kendali:
Setir mobil terkunci yang bikin celaka bisa gara gara bug di sistem anti selip, mengkaji kasus Lamborghini yang nabrak orang di tepi jalan di Surabaya, perlu uji moose

Semoga sistem Throttle by wire di motor Honda CBR250 tidak ada bugnya.

 

Kelemahan lain sistem throttle by wire adalah soal respon dari gas. Karena isinya cuma resistor, maka gas jadi tidak ada hambatannya. Beberapa implementasi ada yang menambahkan hambatan agar gas tidak mudah ganti ganti. Beberapa ada yang tidak. Nah karena gas ringan sekali, maka saat kendaraan berjalan, setelan gas jadi gampang sekali berubah ubah karena kegoyang jalan. Setelan gas yang berubah ubah ini membuat gas jadi besar dan kecil sendiri. Oleh karena itu secara standar throttle by wire dibuat lambat responnya agar pengendaraan menjadi nyaman. Namun ini membuat respon gas jadi telat.

Honda mungkin sudah memperkirakan ini sehingga Honda mengimplementasikan fitur throttle response controller yang dinamakan Accelerator Position Sensor. Jadi kondisi jalan tidak akan membuat gas berubah ubah dengan mudah bila disetel di setelan comfort. Kalau butuh respon liar bisa pakai mode Sport. Detil bisa dibaca di artikel berikut:
Riding mode di new Honda CBR250R led bisa jadi cuma Throttle Response Controller

Entah sampai tarap apa mode comfort tersebut, tinggal dilihat review Honda CBR250 kalau di jalan tidak rata.

 

Kelemahan lain yang mungkin terjadi adalah bila ECU membuat gas tidak aktif bila rem aktif. Ini sudah terjadi di dunia mobil. Mobil dengan sistem throttle by wire tidak akan bisa di gas bila rem aktif. Tujuannya sih bagus, bila pengendara panik dan menekan rem dan gas secara bersamaan maka rem yang diprioritaskan.

Namun ini jadi membuat pengendara jadi tidak bisa memaksa ngegas sambil ngerem. Kalau di mobil, ini sering jadi masalah di tanjakan. Saat menanjak seringkali ngerem dan ngegas butuh dilakukan bersamaan agar tenaga tidak telat keluar. Karena ngegas jadi telat karena harus lepas rem dulu, bisa terjadi mesin mati atau mundur karena gas kurang besar saat menanjak. Ini terjadi terutama di mobil dengan throttle by wire yang tenaganya pas pasan seperti Honda Brio atau Datsun Go. Ini sepertinya bakalan terjadi juga di Toyota Cayla atau Daihatsu Sigra. Kalau di versi matik yang agak mahalan tersedia fitur hill assist yang mencegah mobil mundur saat di gigi maju.

Kalau di dunia sport di mobil, fitur ini jadi mematikan trik left foot braking. Left foot braking ini adalah dengan mengegas dan mengerem secara bersamaan yang tujuannya untuk mengurangi understeer di tikungan. Contoh bisa dilihat dari balapan Honda civic EG lawan Subaru Imprezza WRX, waktu 34:55

Kalau beneran di Honda CBR250 tidak bisa bareng ngegas sama ngerem, maka bisa jadi motor ini tidak bisa buat bikin donat ataupun wheelspin:

Kalau beneran nggak bisa bikin donat atau wheelspin, maka nilai sportnya berkurang.

 

Sistem throttle by wire yang juga ada riding yang juga mengendalikan pengereman sepertinya akan sangat membantu meningkatkan keselamatan seperti pada implementasi di BMW:
Ride-By-Wire Technology: Is It Safe?

Ride modes. Not only does RBW offer the manufacturer the chance to make peaky engines act like locomotives and offer throttle response that’s smooth and intuitive, but that response can be further tailored. Most RBW bikes have multiple “ride modes” that combine different throttle-response maps and altered thresholds for traction control and ABS. (Some even allow you to reduce maximum power for, say, riding in the rain. Or lending the bike to a friend.) The sportiest modes have the sharpest throttle response, making the engine seem racy and potent. But the same machine can have smoother, more relaxed responses for touring, even duller (softer) throttle response for dodgy conditions, and still other modes optimized for off-road use. You simply couldn’t do that without RBW.

Namun yang namanya sistem, tentu tidak bisa sebagus manusia dalam memprediksi kondisi. Bagaimana seandainya ada orang yang nyeleneh menggunakan riding mode sport plus di dalam kondisi jalan licin? atau misalkan sedang pakai di jalan kering dan mode sport tiba tiba melewati jalan licin?

 

Soal perawatan, sistem throttle by wire di mobil biasanya awet, semoga saja yang di CBR250 tidak bermasalah saat diproduksi oleh AHM.

 

Sistem throttle by wire membuat ECU jadi lebih leluasa mengatur campuran bahan bakar dan udara karena semua jadi terserah ECU. Kalau ECU nya pintar maka mesin bisa jadi lebih efisien, yaitu lebih bertenaga dan lebih irit dalam semua kondisi. Yang bikin pintar selain dari algoritma ECUnya juga seberapa banyak informasi yang bisa ditangkap dari sensornya. Kalau sensornya sudah uzur atau salah tangkap informasi, maka bisa bikin masalah, mulai dari tarikan nggak enak sampai membahayakan pengendaraan.

Jadi kalau kendaraannya sudah pakai throttle by wire dan ABS, jangan meremehkan perawatan karena resikonya nyawa.

Update:
Penulis sebelumnya membahas kemungkinan TBW Honda CBR250RR bisa tersangkut:
Dani Pedrosa celaka di Motegi tahun 2010 dan Casey Stoner celaka di Suzuka tahun 2015 karena ada bug di sistem throttle by wire motor Honda

Ternyata memang ada resiko tersangkut. Ini dibahas di tmcblog:
AHM Jawab kekhawatiran gas nyangkut pada TbW Honda CBR250RR December 1, 2016

mengenai kemungkinan rusak karena Cuaca, menurut Pak Sriyono, bagian APS dari Honda CBR250RR sudah diuji dalam kondisi hujan deras dan tidak terlihat ada msalah, namun disarankan untuk bagian APS di panel saklar setang bagian kanan ini tidak disiran dengan air bertekanan tinggi saat mencuci ya sob

Mengutip Motorplus:
throttle-by-wire-honda-cbr250rr-resiko-tersangkut

throttle-by-wire-honda-cbr250rr-resiko-tersangkut2

throttle-by-wire-honda-cbr250rr-resiko-tersangkut4

Entah di servis periodik bakalan di cek atau tidak. Karena kalau berkarat juga akan bahaya.
Mempertanyakan perlunya servis periodik, biaya bengkak karena banyak yang tidak perlu, kadang kecewa hasil tidak memuaskan

Riding mode di new Honda CBR250R led bisa jadi cuma Throttle Response Controller


Dari dulu penulis penasaran dengan fitur riding mode di CBR250R. Fitur ini dikatakan bisa mengatur performa dari kendaraan tergantung dari keinginan pengendara. Contoh perkenalannya sebagai berikut:
Edaan!!!….. Honda CBR 250 RR akan dilengkapi dengan riding mode layaknya moge

Sementara itu fungsi dari riding mode adalah memungkinkan kita untuk menyetel seberapa besar power output yang ingin digunakan sesuai dengan kondisi. Contohnya ada opsi untuk Jalanan basah dan kering, mode turing atapun sport mode yang biasanya mengumbar tenaga secara maksimal. Mungkin bagi beberapa orang menganggap fitur ini memang tidak terlalu dibutuhkan bagi motor 250cc mengingat maksimal power juga nggak akan melebihi angka 40HP. Namun bila itu dijadikan sebagai motor paling superior serta komplit tentu sah-sah saja dan jelas membuat gengsi all new CBR250RR bakalan lebih mewah dan prestige, dimana fitur-fitur yang ada di varian bigbike alias moge kini hadir di kelas 250 cc, apalagi dengan adanya fitur tersebut selain menjadi fitur paling mewah, saya rasa berguna saat si pemilik menggunakannya dilintasan balap dan menginginkan tenaga yang lebih maka bisa dipindah ke mode sport atau saat kondisi macet dijalanan bisa disetel ke mode standart jadi lbh menghemat bahan bakar. Terima kasih.

Penulis kurang setuju dengan pendapat itu.

Setelah motor Honda CBR250R ini dirilis, penulis jadi makin yakin bahwa fitur ini cuma Throttle Response Controller, yang kegunaannya adalah untuk menyetel delay waktu reaksi dari sistem Throttle by wire. Namanya sudah mencerminkan itu, yaitu “Accelerator Position Sensor”, yang diperkenalkan sebagai fitur penunjang sistem Throttle by Wire:
Spesifikasi Honda CBR250RR, Pengembangan Kolaborasi Engineer Jepang dan Indonesia Juli 26, 2016

Dengan fitur Throttle-By-Wire System with Accelerator Position Sensor sudah menjadi satu keunggulan tersendiri, Mr.Koji Sugita selaku Marketing Director PT AHM mengatakan bahwa pemakaian Throttle-By-Wire System ini memberikan keuntungan dan kemudahan buat konsumen. Ditambah lagi dengan fituran Riding Mode yang memiliki 3 type berkendara yaitu Comfort, Sport dan Sport+. Dengan Riding Mode ini kita bisa memilih cara berkendara sesuai kemauan kita, pada saat jalan di kemacetan kita bisa pilih comfort sedangkan jika ingin berkendara dengan cepat bisa memilih tipe Sport+.

Riding Mode Honda CBR250RR

Taufik TMCBlog, Published on Jul 26, 2016
TMCBlog.com – Bro sekalian, seperti kita ketahui Honda CBR250RR menggunakan teknologi Throttle By Wire ( TBW) sebenarnya teknologi ini pernah kita bahas dahulu di Tmcblog dengan nama Ride By wire, saat itu buah kekepoan tmcblog melihat ada tulisan STD di dashboardnya konsep Honda supersport Light weight Concept di Tokyo . .. weleh ternyata KLOP. Jadi nggak seperti Ninja 250 dan R25, kendali bukaan throttle di CBR250RR tidak langung secara konvensional menggunakan kabel baja, melainkan dikontrol secara elektronik via sebuah Accelerator Possition Sensor di unit Handlebar kanan ( gas) . Sensor ini akan mendeteksi putaran gas secara otomatis dan mengirimkan signal elektriknya ke ECU/ ECM. Nah TBW ini dimaksimalkan dengan hadirnya Riding Mode yang bisa membedakan 3 gara riding yakni Comfort, Sport, dan Sport + . . . Video di atas memperlihatkan cara pengaplikasiannya

Jadi penulis merasa fitur riding mode ini tidak merubah performa tapi merubah respon gas dari motor. Sistem riding mode ini sepaket dengan TBW. Jadi kalau tanpa TBW, tidak akan ada fitur riding mode karena riding mode menurut penulis tidak mengatur pasokan bensin oleh ECU tapi mengatur seberapa liar respon gas kendaraan. Jadi tenaga di setelan apapun bisa jadi tidak berbeda.

Kalau menyimak nama, penulis jadi teringat alat Nitro OBD2, dimana alat itu menambah tenaga dengan mengutak atik sinyal yang menuju ECU. Salah satu fungsinya adalah dengan membuat injakan gas lebih besar dari seharusnya sehingga mesin beraksi lebih agresif. Jadi kalau dalam bayangan penulis untuk riding mode (cuma asumsi):

Comfort Mode – respon gas setengah detik lebih lambat, dengan reaksi awal throttle dibuat 50% lebih rendah dari seharusnya. Jadi buka gas 50^ dianggap 25%.
Sport Mode – respon gas 0,25 detik lebih lambat, reaksi awal throttle dibuat sesuai bukaan gas. Buka gas 50% dianggap 50%.
Sport Plus – Respon gas spontan dan konstan, respon gas dibuat sensitif, buka gas 50% sudah dianggap buka gas 100%.

Dengan begitu sudah sesuai dengan namanya yang Accelerator. Jadi selain mengatur delay juga memanipulasi besar bukaan gas. Cara ini mestinya cukup untuk membuat seakan akan tidak bertenaga ataupun sangat responsive bagi driver. Walau tenaga tidak sungguh sungguh berkurang tapi ini sudah cukup membantu pengendara untuk bisa santai ataupun aggresif.

Sebagai pembanding, ini punya Yamaha:

Setelan TBW untuk motor Yamaha, komplek, tidak cuma beberapa mode saja.
Setelan TBW untuk motor Yamaha, komplek, tidak cuma beberapa mode saja.

Throttle response controller untuk mobil:
TERJUAL Shadow Throttle Controller Edrive Advance4 Innova Pajero Fortuner Jazz Brio dll

SHADOW E-DRIVE ADVANCE 4 THROTTLE CONTROLLER
Features:
– Full adoption of digital signal output for more accurate correspondence to the original car accelerator signal.
– Three modes and 17 adjustable stage accelerator response speed.
– 9 level Po power mode suitable for mountain roads and competition purposes; very sensitive accelerator response
– 7 Level EC-saving mode suitable for urban driving for effective reduction of fuel consumption.
– New start-slip function allows easy start even in low friction terrain.
– Drag Racing, launch control function
Single button press for Drag Racing mode. In this mode, display shows “Drag Racing”. Step on the accelerator lightly gives you full power for even faster response.
Suitable for drag racing in controlled environment, not for use on the street.
– Anti skid function
High powered vehicles will easily skid on wet, muddy or snow covered ground whilst starting off which may send the vehicle out of control. Therefore Shadow especially aided anti-skid function in E-drive Advance 4 lets the driver control the vehicle easily on slippery ground.

Ini cuma perkiraan.

Tinggal dilihat bagaimana nanti di dyno, atau dari penghitungan waktu akselerasi. Untuk yang begini tidak cukup hanya perasaan saja.

Oli 10W30 tidak cocok untuk Indonesia berdasar peruntukan kekentalan untuk temperatur sekitar


Selama ini banyak yang menyarankan pemakaian oli berdasar pada teknologi mesin. Dikatakan bahwa oli yang cocok untuk mesin modern adalah 10W30.

Penulis menemukan ternyata ada juga yang mendasarkan kekentalan oli berdasarkan suhu di luar kendaraan. Berikut beberapa grafiknya:
grade oil temperature viscosity

hubungan temperature dengan kekentalan oli

oil grade vs ambient temperature

SAE Grade in relation with outside temperature

 

Dari grafik diatas terlihat bahwa batas temperatur sekitar untuk oli 10W30 adalah antara 27 sampai 35 derajat celcius. Terlihat juga bahwa untuk temperature lebih tinggi disarankan menggunakan oli dengan kekentalan lebih tinggi seperti misalnya 10W40.

 

Pabrikan oli juga memberikan saran berdasarkan suhu, seperti contohnya berikut ini dimana saran pemakaian oli ditunjukkan dari horse power (tenaga), namun berbeda dari sebelumnya, suhu disini adalah suhu mesin, sayang satuannya fahrenheit, 100 derajat celcius itu 212 derajat fahrenheit :
JOE GIBBS DRIVEN – Choosing the Right Viscosity

chart_viscosity
XP0 = SAE 0W
XP1 = SAE 5W-20
XP2 = SAE 0W-20
XP3 = SAE 10W-30
XP6 = SAE 15W-50
XP9 = SAE 10W-40
XP10 = SAE 0W-10

Viscosity measures the resistance to flow. Higher viscosity grades have more resistance to flow than lower viscosity grades. Oil gets thinner as it gets hotter. To determine the correct viscosity for an application you need to know the operating temperature of the oil in that application. Engines that run high operating oil temperatures require higher viscosity oil. Engines that run low oil temps require lower viscosity oil.

chart_viscositytemp
As you can see, the operating temperature of the oil plays a major role in the selection of the proper viscosity oil. Using too high of a viscosity oil can result in excessive oil temperature and increased drag. Using too low of a viscosity oil can lead to excessive metal to metal contact of moving parts. When oil is of the correct viscosity, friction and wear are reduced.

It is important to keep clearances in mind. Looser clearances in the engine and oil pump require higher viscosity oil to maintain oil pressure. Tighter clearances allow for the safe use of lower viscosity oil for better cooling and improved horsepower.

Disebutkan bahwa makin kental maka aliran oli makin terhambat. Kekentalan tergantung pada suhu lingkungan. Makin tinggi suhu sekitar maka butuh oli makin kental. Suhu yang rendah membutuhkan oli yang lebih encer.

Oli yang terlalu kental dapat menyebabkan suhu oli tinggi dan hambatan yang berlebihan. Oli yang terlalu encer menyebabkan gesekan berlebihan pada komponen yang bergerak. Kekentalan yang tepat membuat hambatan dan keausan mesin berkurang.

Clearance atau kerapatan juga diperhatikan. Renggang membutuhan oli lebih kental, sementara rapat membutuhkan oli lebih encer.

Jadi intinya nggak cuma clearance komponen mesin saja yang penting, tapi temperature sekitar juga. Yang menarik juga, di contoh diatas, horse power makin besar justru kekentalan makin ditambah. Tapi motor disini bisa dibilang tidak bertenaga kalau dibanding dengan yang daftar itu.

Kendaraan yang tenaganya lemah atau temperatur sekitar dingin bisa pakai oli paling encer. Tenaga mesin makin kuat atau temperatur makin panas butuh oli lebih kental.

 

Karena saran penggunaan dari oli 10W30 ada yang menyarankan hanya sampai 25 derajat celcius dan suhu di kota di Indonesia bisa mencapai 40 derajat, maka oli 10W30 menjadi tidak cocok dipakai di Indonesia. Sebagai gambaran, suhu ruang dengan AC yang nyaman biasanya 25 derajat celcius. Jadi oli 10W30 cocoknya untuk kondisi ruang ber AC. Kalau dipakai di luar ruangan terlalu mepet dengan limitnya. Mungkin ini salah satu penyebab oli 10W30 performanya anjlok. Dalam kondisi macet dan panas, oli 10W30 bisa jadi tidak melindungi dan tidak melumasi, sehingga suara mesin kasar dan performa tidak karuan.

Berikut ada contoh dimana kekentalan antara SAE 40 bisa sama dengan SAE 30 pada suhu berbeda:
Viscopedia – Viscosity Tables – Engine Oil

SAE 10W-40

Temp.
[°C]
Dyn. Viscosity
[mPa.s]
Kin. Viscosity
[mm²/s]
Density
[g/cm³]
0 735.42 839.76 0.8758
10 385.53 443.53 0.8692
20 208.89 242.07 0.8629
30 121.63 141.98 0.8567
40 79.330 93.274 0.8505
50 53.904 63.847 0.8443
60 37.147 44.327 0.8380
70 26.502 31.865 0.8317
80 19.690 23.265 0.8239
90 15.093 18.424 0.8192
100 11.877 14.607 0.8131

SAE 0W-30

Temp.
[°C]
Dyn. Viscosity
[mPa.s]
Kin. Viscosity
[mm²/s]
Density
[g/cm³]
0 474.65 550.23 0.8626
10 249.94 291.93 0.8561
20 142.17 167.29 0.8498
30 86.600 102.66 0.8435
40 55.926 66.803 0.8372
50 38.008 45.748 0.8308
60 27.008 32.754 0.8246
70 19.844 24.258 0.8181
80 15.064 18.561 0.8116
90 11.734 14.572 0.8053
100 9.3466 11.698 0.7990

Bisa dilihat kekentalan dinamis oli 10W40 pada suhu 100 derajat adalah 11.877, lalu kekentalan dinamis oli 0W30 pada suhu 90 derajat adalah 11.734.

Bila yang dipertimbangkan adalah faktor kerapatan mesin. Maka coba perhatikan perubahan viskositas dinamik (DV). Misalkan pada buku manual kendaraan disebutkan bahwa cocoknya oli untuk kendaraan adalah 10W30 dengan alasan komponen mesin makin rapat sehingga butuh oli yang makin encer. Perlu diketahui pada suhu berapa pengujian dilakukan. Bisa dilihat pada contoh bahwa kekentalan oli berubah sesuai suhu.

Jadi bila dikatakan oli yang cocok itu adalah 10W30, maka perlu ditanyakan itu pada suhu berapa? Bila misalkan kendaraan dirancang pada suhu 30 derajat dengan oli 10W30 (DV = 86.6), apakah kekentalan mesin masih sesuai toleransi bila suhunya 40 derajat (DV = 55.9)? Sementara itu oli 10W40 akan memberikan kekentalan 79.3 pada suhu tersebut.

Jadi kalau alasannya karena komponen makin rapat, itu tergantung suhunya. Karena misalkan kendaraan dipakai di gunung dengan suhu 10 derajat, kekentalan oli jadi tinggi juga (DV = 249).

Suhu di Indonesia bisa dibilang ekstrem juga:
Apa Penyebab Suhu Jakarta dan Bekasi Hampir 40 Derajat Celsius?
Bojonegoro 44 Derajat Celsius, Suhu Makkah Kalah

Oli mesin keruh bikin kerak lumpur di mesin


Penulis sebelumnya pernah klaim bahwa oli yang lebih mahal tidak selalu lebih bagus. Ada yang protes dengan bilang bahwa oli royal purple itu mahal dan bagus. Oli ini harganya lebih dari dua ratus ribu per liter.

Namun penulis curiga karena di foto saat menuangkan oli, terlihat warna oli itu tidak jernih.
Menuang oli Royal Purple

Sepengetahuan penulis, oli yang tidak jernih itu biasanya menghasilkan lumpur atau kerak di mesin. Penulis menyimpulkan ini dari testimoni soal oli Top One yang banyak yang bilang menimbulkan kerak atau lumpur. Penulis melihat sendiri bagaimana motor Suzuki Smash yang kurang dari 10km saat dibongkar mesinnya bisa hitam semua. Selain itu ada keluhan knalpot jadi ngebul setelah ganti oli top one.

Berdasarkan pengetahuan tersebut, penulis jadi ragu terhadap oli Royal Purple walau harganya mahal sekali. Apalagi peruntukan oli Royal Purple yang seringkali lebih untuk balap dan bukan untuk harian.

Dan setelah searching google, penulis menemukan beberapa sharingan berikut ini. Ada video yang menunjukkan bahwa oli Royal Purple menghasilkan lumpur di mesin pada mesin yang jalan 10 ribu km.

Dari deskripsi dan komentar dikatakan

The motor had 10K miles on the rebuild, which consisted of new pistons, rods, bearings, etc etc. The whole 9 yards. The motor was built for a lower compression turbo build. But yes, the oil pan and block were a bit older than that, however, they were cleaned professionally prior to the rebuild. This is the truth- I am not slanging some oil competitor here- just relaying my experience.

This oil was put in when the motor had 6-8K miles. Before that, it had Mobil 1. The motor had a total of 10K miles on it when the pan was dropped. I wasn’t very clear on that in the description.

Dikatakan sebelum menggunakan oli Royal Purple, mesin menggunakan Mobil 1 sampai 7000km. Ada kemungkinan itu terjadi karena bercampurnya sisa oli Mobil 1 dan Royal Purple.

Berikut testimoni testimoni lain:
LS1TECH – royal purple = sludge

STALL UP: I just pulled my oil pan today and I must of had a 1/4in of thick black nasty tar like sludge in the pan the pick up tube had tar like residue on it and the screen was about a 1/4 blocked with sludge. I ran mobil 0ne for the first 10-15k miles and then royal purple from there untill 48K miles and changed the oil every 3,000 with a ac delco filter.

cracker: I have seen this on LSX based motors and mod motors alike. Ive had customers come in and tell me theyve run nothing but RP for the life of their motors. They look like black goo throughout.

I will never support or put any Royal Purple products in any vehicle. Ive seen too many issues with their products. Mobil 1, Torco, or Castrol non synthetic for break in periods.

Brains: I’ve seen the same thing with RP. I almost refused to do a heads/cam swap on a guy’s car once, the drainback holes in the heads were full of thick goo. I put some in a baggie for him to look at, and needless to say he was VERY shocked, and switched oils immediately after. On one of our personal vehicles, it only took 2000 miles of RP to take a previously spotless motor, and coat it in a burned flaky purplish mess on the inside of the timing cover.

linn.35: I had purple sludge in my heads from royal purple. i have since put new heads on my car and switched oil. i now use amsoil.

great421: OK, I cannot comment on the RP but w/ respect to Amsoil (a product I like BTW!) my step-father (a Master Mechanic) told me about a guy who had his oil changed at the GM dealership every 5K; but per his request they used Amsoil that the customer / owner provided.

After 30K miles the engine had to be rebuilt and when they took the valve covers off and the oil pan every thing was coated in a thick layer of sludge!

DFW LX CLUB | Forum > MODERN MOPAR GARAGE – Royal Purple sludge?!?!

Rev Scorpion: I have a 2004 Tahoe in the shop that just lost the engine due to sludge buildup (clogged the pickup tube and lost oil pressure)…
All this guy has run in this engine for at least the last 8 years (that I can confirm) is Royal Purple oil with a Wix filter.
I know this because I have done every oil change at right at 5K miles every time.

I pulled the pan down and it is solid sludge… and a lot of metal shavings…

08daytona: I used to use on my old truck. Every time I would change my oil I would notice a creamy froth like substance on the bottom of the oil fill cap. Don’t know if its the same thing or not. Never had any issues engine wise tho. It had 140k miles on it when I sold it

razorx:They always talk about Synerlec. Most Advanced, Unsurpassed Performance etc. This is the ingredient that we believe to be synterlec:

It is a combination of Viscosity indexers, Boron and Molybdenum Disulfide. This leaves the purple blue slime that sticks to the parts that combines particles and carbon to stick to it. Over time, this slime doesn’t dissolve but can build up and produce the situation that you described in the earlier statement from your friend. Lower zinc and Phosphorous with moly and boron is what they use. We don’t like nor use moly or boron in our QB.

Todays engines run excessively hot and because of that, you really don’t want ANYTHING that will sinter or cook out of the oils plating to the surface.

Rev Scorpion: here is all I can tell based on my recent experience…

The engine is destroyed, but blame that on a person driving it home with no oil pressure (literally none – the gauge read ZERO). He tried to tell me that he thought that the sending unit was bad, but this engine was knocking like crazy, so he is full of poop.

Pulled the pan down and one valve cover…

Pan was severely sludged – so much so that the oil couldnt drain. Inside the pan was easily 1/4″ of buildup. Not the usual hard carbon buildup either… it was a sticky, gummy slime. The bottom of the pan had easily 1″ of garbage in it.
The pickup tube was almost solid from build up – had to be replaced.
The oil filter passages were caked with it as well…

The crank and counterweights were slightly sludged but not too bad.

The interesting thing (to me) is that the valve covers and heads were almost spotless – no sludge other than what got carried up from the oiling system.

Gonna start paying more attention when I see other cars that we do RP oil changes in.

Dari sharingan diatas sepertinya problem lumpur oli terjadi makin parah bila sebelumnya pakai oli lain. Ada juga sharingan yang klaim bahwa bahan yang membuat oli lebih lengket ke permukaan mesin berpotensi membuat lumpur atau kerak mesin. Karena mesin modern temperaturnya bisa sangat tinggi, bahan yang membuat oli lebih lengket ke mesin jadi akhirnya membuat oli lebih kental atau justru menimbulkan kerak.

Masalah mulai terjadi saat lumpur mulai menyumbat saluran oli, yang terkadang ukurannya kecil, hanya bisa mengalirkan oli dengan kekentalan 40 atau kurang.

Menariknya Royal Purple punya produk khusus untuk membersihkan lumpur atau kerak oli. Dari yang penulis tahu, pabrikan oli lain tidak punya produk untuk flush oli.

Royal Flush • Oil Circulation System Cleaner
ROYAL_FLUSH_Pail_041912

Royal Flush can be used in three ways:
– Royal Flush can be added to an existing oil to clean varnish and sludge from equipment prior to draining the existing oil.
– Royal Flush can be used as a temporary oil fill to clean varnish and sludge from equipment before refilling with new Royal Purple oil.
– Royal Flush can be used as a temporary oil fill for cleaning and flushing a polyglycol oil that is incompatible with the new oil to be used (i.e. when changing from a polyglycol oil to a Royal Purple PAO or para-synthetic oil).

Poin yang terakhir ini yang sangat menarik karena secara tidak langsung menyebutkan bahwa mencampurkan oli polyglycol dengan oli Royal Purple PAO bisa menyebabkan kerak.

 
Ada juga yang menduga bahwa oli Royal Purple tidak lulus API service.
royal purple tidak lulus API

Dari keterangan website resmi API:
API QUALITY MARKS

API’s Engine Oil Quality Marks—the API Service Symbol “Donut” and Certification Mark “Starburst”—help consumers identify quality engine oils for their gasoline and diesel-powered vehicles.

The API Service Symbol “Donut” is divided into three parts:

The top half describes the oil’s performance level.
The center identifies the oil’s viscosity.
The bottom half tells whether the oil has demonstrated energy-conserving properties in a standard test in comparison to a reference oil.

api certified mark

The API Certification Mark “Starburst” is designed to identify engine oils recommended for a specific application (such as gasoline service). An oil may be licensed to display the Starburst only if the oil satisfies the most current requirements of the International Lubricant Standardization and Approval Committee (ILSAC) minimum performance standard for this application (currently GF-5 for passenger cars)

Jadi oli hanya boleh menampilkan logo API Starburst kalau beneran sudah disetujui oleh American Petroleum Institute. Oli Royal Purple buatan amerika tapi di bungkus tidak ada tanda itu.

royal purple 10W40_-_1royal purple10W40_-_Blkg

Saya coba lihat foto di toko online Indonesia memang tidak ada tanda API starburst. Kalau oli buatan Indonesia sih walau ada starburstnya nggak yakin beneran.

 

Intinya, penulis menganjurkan untuk menghindari oli yang warnanya tidak bening.

Cara yang lebih efektif menurunkan harga motor dibanding dengan KPPU menyidangkan Honda dan Yamaha untuk monopoli harga jual motor yang jauh lebih tinggi dari harga produksi


Ada berita bahwa KPPU menuduh Honda dan Yamaha melakukan persekongkolan sehingga membuat konsumen rugi karena harus membayar motor lebih mahal daripada seharusnya.

Berikut beritanya.
Sidang Dugaan Kartel Antara Yamaha dan Honda, ”Seharusnya Motor Matic 110-125cc Cuma 10Jutaan Saja” Juli 21, 2016

Ketua KPPU, M. Syarkawi Rauf menyebutkan bahwa dugaan adanya pelanggaran tersebut berdasarkan adanya koordinasi atau persekongkolan dalam menetapkan harga jual sepeda motor jenis skuter matic 110-125 CC di Indonesia.

“Sebenarnya, biaya produksi mereka itu cuma Rp7-8 jutaan, tapi kini dijual mahal (di atas Rp15 juta per unit). Mereka jual hingga dua kali lipat,” kata Syarkawi selaku ketua KPPU.
Idealnya, kata Syarkawi, mereka jual motor-motor skutiknya dengan harga Rp10 jutaan dengan asumsi margin yang diambil sekira 20 persen. “Sebenarnya angka itu cukuplah bagi mereka untuk mendapatkan keuntungan,” kata dia. via vivanews.

Ada beberapa poin yang penulis tangkap.

Biaya produksi segitu pajaknya berapa?

Bisa jadi pajak menjadi faktor utama yang membuat harga motor menjadi mahal. Kita lihat saja contohnya di dunia mobil, lihat betapa jauh bedanya harga mobil LCGC dengan mobil non LCGC. Mobil LCGC 1000cc seperti Suzuki Wagon R dan Toyota Agya di jual 100 jutaan. Sementara Suzuki Celerio yang sama sama 1000cc dijual 150 jutaan. Klop tuh dengan contoh diatas, cuma tinggal dikali sepuluh saja.

Bisa jadi kalau ada motor LCGC harga bisa jauh lebih terjangkau untuk konsumen. Namun ini jadi keanehan.

Biasanya pemerintah tidak suka masyarakat pakai motor

Sudah jadi pengetahuan umum bahwa pemakai motor itu tidak dihargai pemerintah. Tol dan jalan layang hanya boleh untuk mobil, nggak boleh pakai jalan nyaman, harus lewat jalan kampung, seringkali dipaksa lewat pinggir, nggak boleh lewat tengah, dst. Pembatasan pembatasan juga makin banyak, dari dilarang mudik pakai motor sampai dilarang masuk kota. Jadi terasa aneh bila KPPU berjuang untuk membuat motor lebih murah, jadi mencurigakan.
Pemerintah bisa jadi melarang mudik pakai motor tapi kalau mau pakai angkutan umum nggak kebagian mau bagaimana lagi

Timur mengklaim bahwa kinerja Polri tentang sosialisasi larangan mudik menggunakan sepeda motor, selama dua tahun telah berhasil dan sampai saat ini para pemudik banyak yang beralih menggunakan kendaraan angkutan umum untuk transportasi mudik.

Pemerintah harus larang sepeda motor di seluruh jalan protokol, Jumat, 22 April 2016, Pewarta: Ganet Dirgantoro

Jakarta (ANTARA News) – Pengamat transportasi, Djoko Setiowarno, meminta pemerintah lebih tegas lagi melarang bagi sepeda motor dipergunakan di seluruh jalan protokol.

“Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah melarang di Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan MH Thamrin. Tetapi seharusnya dapat diterapkan diseluruh jalan protokol di Jakarta,” kata dia, saat dihubungi, Jumat.

Kalau lihat dari sikap sikap pemerintah terhadap pemakai motor selama ini rasanya hasil akhir dari sidang Honda dan Yamaha ini berakhir dengan tetap tidak menguntungkan konsumen sepeda motor.

Dari dulu sebenarnya harga jual motor jauh lebih tinggi dari harga produksi

Sudah mulai dulu pabrikan menjual motor jauh lebih mahal dari biaya produksi tapi toh masih laku. Saat jaman motor impor dari cina banyak beredar, konsumen sudah disuguhi banyak pilihan motor lebih murah dengan bodi dan mesin yang ngeplek sama. Beberapa juga pakai komponen yang kualitas dan finishing jauh lebih bagus dari aslinya. Tapi toh masyarakat lebih memilih aslinya walau bodi motor nggak di cat, mesin suaranya kasar, rewel, boros, gampang rontok, dst.

Jadi jelas bahwa harga jual tinggi bukan masalah bagi masyarakat. Memang ada yang nggak mampu, tapi toh banyak juga yang memaksakan untuk beli motor dengan segala cara. Bagi yang pingin motor murah, ada kok alternatifnya. Tapi toh motor murah nggak laku karena aftersalesnya yang kurang memadai. Jadi masyarakat terpaksa pilih beli yang mahal asal bisa lebih awet.

DP yang lebih menghambat daya beli masyarakat.

Di lapangan juga yang membuat Honda laris adalah Honda dengan “bijak” memberikan subsidi sehingga DP yang aslinya diluar jangkauan masyarakat. Ini juga yang membuat pabrikan dengan modal cukupan tidak bisa bersaing dengan pabrikan besar.

Masa ya mau beli motor untuk kerja uang mukanya bisa dua kali dari gaji? Sehingga saat beli motor kalau nggak ada subsidi DP dan uang belum cukup maka pembeli harus hutang dua kali. Hutang pertama untuk uang muka beli motor, hutang kedua untuk cicilan bayar motor. Belum lagi suku bunga di Indonesia yang saking luar biasanya membuat lembaga peminjaman uang jadi menjamur.

Kenaikan DP Akan Hambat Penjualan Sepeda Motor

Jakarta – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai, kebijakan kenaikan uang muka (down paymentDP) kredit sepeda motor sebesar 20% akan berpengaruh pada minat konsumen untuk membeli kendaraan roda dua tersebut. Karena itu, kenaikan DP ini diprediksi bakal mengoreksi penjualan sepeda motor di 2012 ini.

Ketua Umum Kadin Suryo Bambang Sulistyo mengatakan dengan kenaikan DP 20% maka jika harga motor Rp 15 juta, konsumen butuh uang muka Rp 3 juta. Tentunya angka itu sangat jauh dari biasanya yang hanya Rp 500.000. “Dampaknya pasti akan mengurangi kemudahan orang beli motor dan akan berdampak kepada penjualan sepeda motor. Rakyat kan beli motor untuk transportasi, kalau nggak pake motor pakai apa sekarang,” kata Suryo di Jakarta, Selasa (20/3).

Penulis tidak tahu apakah subsidi dari Honda terhadap DP ini sudah diijinkan pemerintah atau tidak. Seandainya iya, mengapa tidak semua pabrikan saja dibolehkan untuk mensubsidi DP?

Solusi yang lebih pas agar harga sepeda motor turun

Kalau KPPU beneran berniat untuk membuat motor menjadi terjangkau untuk masyarakat. Caranya sebenarnya ada yang win win solution. Konsumen untung, pabrikan juga untung. Solusinya adalah:
– Motor LCGC – motor irit dan murah, pemerintah nggak ambil pajak kendaraan. Harga motor bisa lebih murah tanpa banyak mengurangi keuntungan pabrikan. Kalau pemerintah tidak berniat untuk memberi fasilitas (jalan / kenyamanan) untuk pemakai motor, ya seyogyanya pemerintah tidak mencari untung dari pembeli motor.

  • Turunkan DP, jadi konsumen bisa beli motor dengan mudah. Toh dilapangan juga Astra Honda Motor bisa membuat DP motor hingga 500 ribu dengan subsidi. Aturan pemerintah itu jelas tidak efektif untuk membuat motor tidak terjangkau. Masyarakat juga terpaksa beli motor mahal karena yang menawarkan DP murah cuma motor mahal.

 

Agar masyarakat berani untuk beli motor murah maka perlindungan konsumen harus yang lebih baik. Pemerintah benar benar harus memberikan tekanan agar pabrikan bisa memberikan after sales yang memadai. Jangan sampai motor rusak tapi nggak ada tempat yang bisa memperbaiki. Perbaikan jangan sampai motor nganggur berbulan bulan. Juga memastikan bahwa iklan sesuai dengan kenyataan. Yang bohong diberi sangsi atau paling tidak upaya lain agar konsumen tidak dirugikan. Masa ngaku irit tapi nyatanya boros. Bilangnya garansi tapi mesin kasar nggak diganti, komponen rontok kok masih harus bayar, dst.

Pilih mana, hujan tiap hari tapi tidak banjir atau hujan seminggu sekali tapi banjir? Review rekayasa hujan


Sekarang ini mestinya musim kemarau, namun hujan masih juga terjadi di beberapa daerah, bahkan beberapa daerah sampai mengalami banjir. Beberapa menganggap sebagai berkah, ada juga yang merasa ini sebagai musibah. Berkah karena hujan membuat tanaman subur dan air tidak kekurangan, musibah karena mendatangkan bencana.

Dari yang penulis amati, bencana lebih mungkin terjadi bila hujan tidak turun setiap hari. Bencana seperti banjir atau tanah longsor terjadi terutama pada daerah yang hujannya lebih jarang turun. Sementara di daerah yang mengalami hujan setiap hari, bencana karena hujan lebih jarang terjadi. Bila kita melihat laporan banjir di TV atau youtube, seringkali tidak sedang dalam kondisi hujan.

Hujan memang peristiwa alam, namun manusia juga bisa mempengaruhi. Berikut beberapa yang menurut penulis sangat mempengaruhi.

Asap dari pesawat jet


Beberapa orang menyebutnya sebagai chemtrails. Secara ilmiah asap pesawat itu termasuk jenis dari contrails yang dihasilkan oleh polusi partikel yang dihasilkan oleh pesawat jet. Partikel ini mengikat molekul air yang akhirnya membentuk butiran es yang menjadikannya seperti asap. Asap ini asalnya kecil namun lambat laun akan menyebar yang pada akhirnya bisa menutupi seluruh lain. Dari penelitian ditunjukkan bahwa contrails ini menghabiskan air yang berada di atmosphere karena airnya menjadi menyatu dengan partikel contrails. Efek lain adalah efek pemanasan global, dimana dikatakan efeknya bisa menjadi sangat signifikan di masa depan, melebihi dari efek polusi CO.

Dari yang penulis amati, awan hujan atau yang siap akan hujan seringkali jadi batal atau menghilang saat asap pesawat tersebut muncul. Dan bila asap pesawat tersebut mendominasi sehingga menjadi awan cirrus yang menutupi seluruh langit, maka hujan bisa tertunda berminggu minggu. Dan bila akhirnya hujan maka hujan akan turun berlebihan disertai angin kencang dan petir.

Cloud seeding

Cloud seeding adalah rekayasa hujan dengan menyebarkan bubuk silver iodide atau garam NaCl ke awan hujan. Diharapkan dengan menyebarkan garam tersebut butiran air akan lebih terkumpul dan bisa terjadi hujan. Cara ini sering diimplementasikan oleh negara negara berkembang atau ditawarkan oleh perusahaan asing. Cara ini ada kelemahannya, yaitu harus ada awan hujan terlebih dahulu dan bila sampai gagal maka hujan justru bisa makin sulit turun.

Biaya cloud seeding ini sangat mahal karena perlu menerbangkan pesawat. Pemerintah Indonesia dengan menggunakan pesawat Hercules untuk menyebar beberapa ton garam ke angkasa bisa menghabiskan biaya 2 milyar rupiah sekali operasi. Di Thailand dengan dua pesawat capung dengan menggunakan silver iodide bisa menghabiskan 5 milyar sekali operasi.

Ion gun

Ion gun merupakan metode rekayasa hujan yang memanfaatkan ion, listrik statis atau voltase tinggi. Metode ini sering ditawarkan perusahaan asing untuk mengurangi hujan es (hail storm).

Menurut penulis efek dari penggunaan ion ini mirip dengan cloud buster. Bedanya adalah bila cloud buster memanfatkan air, maka ion gun memanfaatkan listrik untuk memanipulasi energi di langit. Sayangnya detil operasi dengan ion gun ini jarang sekali diposting di internet.

Cloud buster

Cloud buster adalah rekayasa hujan yang memanfaatkan pipa logam dan aliran air. Alat ini diperkenalkan pertama kali oleh Wilhelm Reich. Namun sayangnya metode pemakaian yang aman sudah tidak lagi ada sehingga rekayasa hujan yang dilakukan dengan alat ini seringkali berakhir dengan menimbulkan bencana. Ini bisa dilihat dari operasi rekayasa hujan yang dilakukan oleh James Trevor Constable dan James Demeo. Keduanya menceritakan bagaimana hujan berlebihan terjadi setelah operasi di lakukan. Berikut video contoh hasil operasi cloud buster di gurun pasir.

Cloud buster juga bisa menghasilkan energi tidak baik. Operasi tidak dibolehkan dilakukan dekat dengan pemukiman karena energi yang dihasilkan bisa membuat orang sakit. Air yang dipergunakan dalam pemakaian cloud buster juga bisa punya pengaruh jelek terhadap makhluk hidup. Operasi juga sepertinya membuat daerah operasi menjadi lebih susah hujan, misalkan cloud buster tidak segera dibongkar saat hujan akhirnya datang, maka lokasi cloud buster akan dapat hujan lebih sedikit daripada daerah sekitar. Bisa jadi di hari berikutnya hujan akan menghindari lokasi cloudbuster.

Contoh hasil operasi cloud buster bisa dibaca di link berikut:
SO, YOU WANT TO BUILD A CLOUDBUSTER?

“At one point, while he boasted of having brought some rains to his dry region, the nearby areas of Tropical Africa were suffering under massive rainstorms and flooding which displaced hundreds of thousands of villagers, killing many hundreds.”

“His operations had merely pushed the dry Sahara air mass off to the Northeast, where it contaminated the Eastern Mediterranean, bringing drought and massive wildfires to Greece, where additional tens of thousands had to run for their lives, and additional hundreds were killed. “

“This predictably triggered a strong electrical storm, and six people were struck by lightning.”

“His actions with the cloudbuster triggered a massive storm system in the Mediterranean Sea which hit land and created massive flooding in his local region, killing ten people.”

Biaya dari cloud buster ini termasuk murah, bisa dilakukan dengan biaya dibawah 2 juta. Sangat mudah ditiru, namun bila dilakukan dengan salah maka efek samping akan sangat membahayakan baik bagi lingkungan, pelaku ataupun orang disekitarnya.

Sayangnya pula tidak ada orang yang tahu cara melakukan cloud buster dengan benar.

Orgonite

Orgonite merupakan alat kesehatan yang dibuat dari campuran fiber glass + logam + kristal. Beberapa orang mempergunakan alat ini untuk memperbaiki cuaca dengan menyebarkannya (gifting) secara merata ke seluruh tempat. Beberapa orang juga meniru metode cloud buster dengan menambahkan orgonite di bagian dasar pipa. Tujuannya mulia namun saya tidak setuju dengan cara ini karena efeknya hampir mirip dengan cloud buster. Hujan atau petir yang berlebihan sayangnya tidak dianggap jelek.

Sayangnya pendapat ini menyebar juga ke banyak pembuat orgonite di Indonesia. Penulis pernah mencoba mengubah pendapat ini namun penulis justru dikucilkan.

Biaya yang dibutuhkan untuk memperbaiki alam dengan orgonite sangat besar. Per bijinya mungkin termasuk murah, dibawah 50 ribu rupiah. Yang membikin mahal adalah jumlah yang dibutuhkan.

Dikatakan bahwa untuk bisa mendapatkan hasil yang baik maka setiap tower (antenna BTS) di dalam kota perlu diberi beberapa orgonite (nggak cuma satu). Disarankan pula untuk menempatkan orgonite di setiap beberapa kilometer. Contoh gifting bisa dilihat di link berikut:
Peta Gifting Jabotabek

Di link tersebut disebutkan bahwa orgonite yang sudah disebar (dii 2012) mencapai lebih dari 3600 orgonite. Tinggal dihitung sendiri berapa rupiahnya.

Cemenite

Cemenite adalah alat rekayasa hujan yang sampai sekarang masih penulis pakai dan sarankan. Cemenite sendiri bukan alat untuk memanggil hujan. Namun terkadang bila cemenite masih baru pertama kali dipakai hujan bisa turun bila sebelumnya hujan tertunda. Cemenite juga tidak membuat hujan berkepanjangan dan hujan seringkali turun lebih sering. Petir menjadi berkurang dan hujan angin jarang terjadi. Angin puting beliung juga sepertinya berkurang.

Penulis menganggap cemenite punya efek bagus ke alam selain karena cemenite punya efek bagus ke tubuh dan tanaman, burung liar juga makin banyak lalu awan rendah makin sering muncul diatas langit.

Menurut Wilhelm Reich burung burung liar akan lebih sering muncul dan terbang tinggi bila suatu daerah energinya bagus. Sayang sekali pengikut Wilhelm Reich yang memakai cloud buster atau orgonite sering tidak memperhatikan itu. Penulis bahkan pernah menjumpai daerah yang dikatakan sudah digifting (disebari orgonite) dan ada cloud busternya, tidak ditemukan burung bertebangan. Padahal di jarak 10km dari situ banyak burung berterbangan. Di saat musim kemarau daerah tersebut juga tidak pernah kena hujan walau daerah lain kena.

Operasi cloud buster diawali dengan membuat awan rendah muncul. Cemenite bisa membuat awan rendah lebih sering muncul diatas langit. Sementara itu pemakai cloud buster atau orgonite sekarang ini sering kali malah bangga bila bisa menghilangkan awan rendah. Awan tinggi yang muncul karena pemakaian alat mereka malah dianggap sebagai hasil yang bagus padahal awan tinggi tersebut seringkali berasal dari asap pesawat yang menurut mereka sudah dibersihkan.

Biaya yang dibutuhkan untuk mendapatkan hasil dibawah 100 ribu. Namun ini hanya pada rumah saja. Memperbaiki cuaca dengan cemenite disarankan dimulai dari rumah dulu. Setelah melihat perbaikan baru di arahkan ke lokasi yang terlihat butuh perbaikan.

Penyebaran bisa dilakukan dengan cara gifting. Namun titik utamanya dilihat pada lokasi yang membutuhkan. Acuan bisa menggunakan pola hujan atau kehadiran burung liar. Perbaikan juga bisa dilakukan dengan cara menempatkan cemenite di kendaraan. Menempatkan cemenite di kendaraan bisa memberi hasil lebih maksimal daripada ditempatkan di satu tempat.

 

Selain alat – alat diatas diatas ada juga alat lain seperti: David Weels newman motor, Paul Luigi Ighina , Peter Lindemann P-Gun, Joe Cell, James Trevor Constable Spider, dll. Alat alat tersebut biasanya bersifat mirip dengan cloud buster, dimana hujan yang dipanggil biasanya ekstrem dan tidak terkontrol. Hujan tidak datang secara periodik.

Asap kendaraan, kentut sapi dan manusia bernafas yang dikatakan bisa membuat global warming yang bisa membuat cuaca ekstrem menurut penulis masih kalah kuat dengan poin poin sebelumnya.

Bila pembaca ada yang ingin memperbaiki cuaca, maka penulis sarankan untuk menghindari menggunakan cloud buster. Karena hujan yang berlebihan itu bisa menjadi musibah dan bisa jadi malah lebih merugikan daripada tidak hujan sama sekali. Bila berkenan, bisa coba cemenite.

Menurut penulis hujan setiap hari lebih baik karena resiko banjir berkurang.