Oli 10W30 tidak cocok untuk Indonesia berdasar peruntukan kekentalan untuk temperatur sekitar


Selama ini banyak yang menyarankan pemakaian oli berdasar pada teknologi mesin. Dikatakan bahwa oli yang cocok untuk mesin modern adalah 10W30.

Penulis menemukan ternyata ada juga yang mendasarkan kekentalan oli berdasarkan suhu di luar kendaraan. Berikut beberapa grafiknya:
grade oil temperature viscosity

hubungan temperature dengan kekentalan oli

oil grade vs ambient temperature

SAE Grade in relation with outside temperature

 

Dari grafik diatas terlihat bahwa batas temperatur sekitar untuk oli 10W30 adalah antara 27 sampai 35 derajat celcius. Terlihat juga bahwa untuk temperature lebih tinggi disarankan menggunakan oli dengan kekentalan lebih tinggi seperti misalnya 10W40.

 

Pabrikan oli juga memberikan saran berdasarkan suhu, seperti contohnya berikut ini dimana saran pemakaian oli ditunjukkan dari horse power (tenaga), namun berbeda dari sebelumnya, suhu disini adalah suhu mesin, sayang satuannya fahrenheit, 100 derajat celcius itu 212 derajat fahrenheit :
JOE GIBBS DRIVEN – Choosing the Right Viscosity

chart_viscosity
XP0 = SAE 0W
XP1 = SAE 5W-20
XP2 = SAE 0W-20
XP3 = SAE 10W-30
XP6 = SAE 15W-50
XP9 = SAE 10W-40
XP10 = SAE 0W-10

Viscosity measures the resistance to flow. Higher viscosity grades have more resistance to flow than lower viscosity grades. Oil gets thinner as it gets hotter. To determine the correct viscosity for an application you need to know the operating temperature of the oil in that application. Engines that run high operating oil temperatures require higher viscosity oil. Engines that run low oil temps require lower viscosity oil.

chart_viscositytemp
As you can see, the operating temperature of the oil plays a major role in the selection of the proper viscosity oil. Using too high of a viscosity oil can result in excessive oil temperature and increased drag. Using too low of a viscosity oil can lead to excessive metal to metal contact of moving parts. When oil is of the correct viscosity, friction and wear are reduced.

It is important to keep clearances in mind. Looser clearances in the engine and oil pump require higher viscosity oil to maintain oil pressure. Tighter clearances allow for the safe use of lower viscosity oil for better cooling and improved horsepower.

Disebutkan bahwa makin kental maka aliran oli makin terhambat. Kekentalan tergantung pada suhu lingkungan. Makin tinggi suhu sekitar maka butuh oli makin kental. Suhu yang rendah membutuhkan oli yang lebih encer.

Oli yang terlalu kental dapat menyebabkan suhu oli tinggi dan hambatan yang berlebihan. Oli yang terlalu encer menyebabkan gesekan berlebihan pada komponen yang bergerak. Kekentalan yang tepat membuat hambatan dan keausan mesin berkurang.

Clearance atau kerapatan juga diperhatikan. Renggang membutuhan oli lebih kental, sementara rapat membutuhkan oli lebih encer.

Jadi intinya nggak cuma clearance komponen mesin saja yang penting, tapi temperature sekitar juga. Yang menarik juga, di contoh diatas, horse power makin besar justru kekentalan makin ditambah. Tapi motor disini bisa dibilang tidak bertenaga kalau dibanding dengan yang daftar itu.

Kendaraan yang tenaganya lemah atau temperatur sekitar dingin bisa pakai oli paling encer. Tenaga mesin makin kuat atau temperatur makin panas butuh oli lebih kental.

 

Karena saran penggunaan dari oli 10W30 ada yang menyarankan hanya sampai 25 derajat celcius dan suhu di kota di Indonesia bisa mencapai 40 derajat, maka oli 10W30 menjadi tidak cocok dipakai di Indonesia. Sebagai gambaran, suhu ruang dengan AC yang nyaman biasanya 25 derajat celcius. Jadi oli 10W30 cocoknya untuk kondisi ruang ber AC. Kalau dipakai di luar ruangan terlalu mepet dengan limitnya. Mungkin ini salah satu penyebab oli 10W30 performanya anjlok. Dalam kondisi macet dan panas, oli 10W30 bisa jadi tidak melindungi dan tidak melumasi, sehingga suara mesin kasar dan performa tidak karuan.

Berikut ada contoh dimana kekentalan antara SAE 40 bisa sama dengan SAE 30 pada suhu berbeda:
Viscopedia – Viscosity Tables – Engine Oil

SAE 10W-40

Temp.
[°C]
Dyn. Viscosity
[mPa.s]
Kin. Viscosity
[mm²/s]
Density
[g/cm³]
0 735.42 839.76 0.8758
10 385.53 443.53 0.8692
20 208.89 242.07 0.8629
30 121.63 141.98 0.8567
40 79.330 93.274 0.8505
50 53.904 63.847 0.8443
60 37.147 44.327 0.8380
70 26.502 31.865 0.8317
80 19.690 23.265 0.8239
90 15.093 18.424 0.8192
100 11.877 14.607 0.8131

SAE 0W-30

Temp.
[°C]
Dyn. Viscosity
[mPa.s]
Kin. Viscosity
[mm²/s]
Density
[g/cm³]
0 474.65 550.23 0.8626
10 249.94 291.93 0.8561
20 142.17 167.29 0.8498
30 86.600 102.66 0.8435
40 55.926 66.803 0.8372
50 38.008 45.748 0.8308
60 27.008 32.754 0.8246
70 19.844 24.258 0.8181
80 15.064 18.561 0.8116
90 11.734 14.572 0.8053
100 9.3466 11.698 0.7990

Bisa dilihat kekentalan dinamis oli 10W40 pada suhu 100 derajat adalah 11.877, lalu kekentalan dinamis oli 0W30 pada suhu 90 derajat adalah 11.734.

Bila yang dipertimbangkan adalah faktor kerapatan mesin. Maka coba perhatikan perubahan viskositas dinamik (DV). Misalkan pada buku manual kendaraan disebutkan bahwa cocoknya oli untuk kendaraan adalah 10W30 dengan alasan komponen mesin makin rapat sehingga butuh oli yang makin encer. Perlu diketahui pada suhu berapa pengujian dilakukan. Bisa dilihat pada contoh bahwa kekentalan oli berubah sesuai suhu.

Jadi bila dikatakan oli yang cocok itu adalah 10W30, maka perlu ditanyakan itu pada suhu berapa? Bila misalkan kendaraan dirancang pada suhu 30 derajat dengan oli 10W30 (DV = 86.6), apakah kekentalan mesin masih sesuai toleransi bila suhunya 40 derajat (DV = 55.9)? Sementara itu oli 10W40 akan memberikan kekentalan 79.3 pada suhu tersebut.

Jadi kalau alasannya karena komponen makin rapat, itu tergantung suhunya. Karena misalkan kendaraan dipakai di gunung dengan suhu 10 derajat, kekentalan oli jadi tinggi juga (DV = 249).

Suhu di Indonesia bisa dibilang ekstrem juga:
Apa Penyebab Suhu Jakarta dan Bekasi Hampir 40 Derajat Celsius?
Bojonegoro 44 Derajat Celsius, Suhu Makkah Kalah

update:
Selain kekentalan, daya perlindungan oli juga bisa dipengaruhi oleh film strength dan keberadaan aditif pelapis logam, baik yang bekerja saat mesin masih dingin atau saat mesin sudah panas. Untuk itu oli yang lebih encer butuh oli dengan film strength lebih tinggi atau yang mengandung lebih banyak aditif anti wear atau extreme protection.

Mengenal dasar pelumasan, ada saat dimana perlindungan tidak ditentukan oleh anti wear

Iklan

59 thoughts on “Oli 10W30 tidak cocok untuk Indonesia berdasar peruntukan kekentalan untuk temperatur sekitar

  1. berbeda sekali dengan data yang saya punya, dan data yang saya dapat berasal dari salah seorang member ASME dan SAE. Dimana jika mesin lebih panas gunakan SAE lebih rendah untuk menciptakan flow yang lebih baik sehingga temperatur mesin bisa lebih rendah, dan itu serasih dengan hadirnya beberapa sertifikasi seperti ILSAC dll

    Suka

    • Iya, di kutipan juga disebutkan bahwa oli terlalu kental justru bikin oli overheat. Jadi sepertinya anjurannya tetap untuk suhu tertentu kekentalan yang cocok tertentu juga.

      Suka

  2. berbeda sekali dengan data yang saya punya, dan data yang saya dapat berasal dari salah seorang member ASME dan SAE. Dimana jika mesin lebih panas gunakan SAE lebih rendah untuk menciptakan flow yang lebih baik sehingga temperatur mesin bisa lebih rendah, dan itu serasih dengan hadirnya beberapa sertifikasi seperti ILSAC dll. Kenapa lebih panas malah SAE lebih rendah? Karena memuainya logam dll, kenapa bisa suhunya lebih rendah? Karena oli lebih cepat mengalir ke sump dan oil cooler dsb sehingga oli suhunya bisa lebih rendah, dan dari data yang saya punya justru oli yang wear protectionnya terbaik berasal dari 30 wt dimana mampu menahan wear test over 105.000 psi atau incredible wear protection

    Suka

    • Mungkin perlu dipertimbangkan juga wear protection pada suhu berapa, karena makin panas oli makin encer.

      Berikut ada contoh dimana kekentalan antara SAE 40 bisa sama dengan SAE 30 pada suhu berbeda:
      Viscopedia – Viscosity Tables – Engine Oil

      SAE 10W-40

      Temp.
      [°C]
      Dyn. Viscosity
      [mPa.s]
      Kin. Viscosity
      [mm²/s]
      Density
      [g/cm³]
      0 735.42 839.76 0.8758
      10 385.53 443.53 0.8692
      20 208.89 242.07 0.8629
      30 121.63 141.98 0.8567
      40 79.330 93.274 0.8505
      50 53.904 63.847 0.8443
      60 37.147 44.327 0.8380
      70 26.502 31.865 0.8317
      80 19.690 23.265 0.8239
      90 15.093 18.424 0.8192
      100 11.877 14.607 0.8131

      SAE 0W-30

      Temp.
      [°C]
      Dyn. Viscosity
      [mPa.s]
      Kin. Viscosity
      [mm²/s]
      Density
      [g/cm³]
      0 474.65 550.23 0.8626
      10 249.94 291.93 0.8561
      20 142.17 167.29 0.8498
      30 86.600 102.66 0.8435
      40 55.926 66.803 0.8372
      50 38.008 45.748 0.8308
      60 27.008 32.754 0.8246
      70 19.844 24.258 0.8181
      80 15.064 18.561 0.8116
      90 11.734 14.572 0.8053
      100 9.3466 11.698 0.7990

      Bisa dilihat kekentalan dinamis oli 10W40 pada suhu 100 derajat adalah 11.877, lalu kekentalan dinamis oli 0W30 pada suhu 90 derajat adalah 11.734. Kekentalan beda sedikit

      Suka

  3. Wah, tampaknya agan “motosport enginering” mempunyai guru yg sama dgn ane.
    Mengenai wear protection pada suhu yang lbh tinggi, ini tergantung pada oli nya, ada oli yg ketika pada suhu 100°C mampu melindungi mesin dgn sangat baik, namun ketika pada suhu 135°C malah jadi turun banyak tingkat kemampuan melindungi mesinnya, dan ada jg yg turun sedikit.

    Suka

    • setuju, Iya, dari contoh diatas bisa dilihat bahwa kekentalan bisa turun 25% bila suhu turun 10 derajat celcius. Jadi pada suhu mesin yang ekstrem bisa jadi oli yang normalnya memadai jadi tidak memadai.

      Suka

  4. motor lama saya (supra fit 2004) mahh cukup 20W-50…
    Jarang geber dan juga pake yg lebih encer,,suara mesin jado kasar

    Suka

  5. Motor saya Vario 125i pakai Oli Mobil Full VHVI API SN ILSAC GF-5 Energy Concervation SAE 0W-20, Next ada ILSAC GF-6 yang mensyaratkan SAE 0W-16. Kalo sudah bisa saya dapatkan, saya akan langsung pakai SAE 0W-16 tersebut tanpa pikir panjang. Bahkan SAE 0W-0 pun kalo sudah ada, akan saya pakai juga,,,,

    Suka

      • nah kan bener om,,,

        ane mengikuti perkembangan Manual Book Mesin Kecil Tunggal Honda GX160 yg digunakan Genset ane,,,

        saat awal-awal, Manual Book merekomendasikan Oli API SF/SG, pada Chart Ambient Temprature pada Suhu 40 Derajat Celsius, direkomendasikan SAE 20W-50.

        Tapi, Manual Book terbaru, bahkan SAE 10W-40 pun tidak ada, apalagi 20W-50, yg ada hanya 10W-30, dengan Oli API SJ/SL.

        Nah API SJ/SL saja, pada Mesin yang sama yg awalnya 20W-50, jadi 10W-30,,, bagaimana dengan API SN ?

        Belum lagi parameter lain seperti Base Oil, Mineral tentu beda dengan VHVI, dan PAO,,,

        Nah itu Mesin jadul OHV loh om,,

        Bagaimana dengan Mesin Mobil dan Motor saat ini yg bisa dikatakan lebih Maju ?

        Masa iya masih mau pakai Oli kental, sedangkan saat ini misi nya adalah penghematan energy, dalam hal ini Bahan Bakar. Om Sucahyo sendiri ane lihat sangat konsen dengan misi Hemat ini,,,

        Terkadang teori tidak sejalan dengan praktek,,, yg jelas, fokus utama ane adalah efisiensi bahan bakar,,, dengan menggunakan Full VHVI, API SN, ILSAC GF-5, Energy Concervation, SAE 0W-20 pada Motor Scooter Matic ane,,, dan API SN, SAE 10W-40 di Motor Kopling Basah ane,,,

        Kalo rusak ?, perbaiki, atau ganti motor,,, percuma mesin awet, tapi boros bensin,, oli cepet ganti,,,

        Ane pake oli itu, Ganti Oli tiap 10.000 KM atau 1 Tahun,,, hemat bensin, hemat cadangan minyak bumi, emisi gas buang lebih bersih,,, dan jelas saja, hemat uang, waktu, tenaga, fikiran,,,

        Suka

        • Iya, sayangnya peredaran oli di Indonesia kurang bisa dipercaya. Masa ya oli 10W30 performa mesin bisa kalah sama oli 10W40, top speed Honda Beat mencapai 95kmph saja berat waktu pakai oli 10W30. Padahal pakai 10W40 bisa 100 lebih. Jadi walau mungkin tulisan di bungkus tertulis lebih encer, harus dipastikan bahwa performa juga nambah.

          Kalau mau performa maka jangan asal oli encer tapi perhatikan merek / kualitas. Dan kalau serius, maka ukur perubahan performa, kalau perlu pakai alat. Jangan sampai suara mesin sudah lebih kasar tapi performa juga rusak karena pakai oli encer nggak jelas.

          Contoh oli 10W30 jelek adalah idemitsu, misalnya AHM MPX-2 atau oli Mitsubishi Indonesia 5W30.

          Saat mencoba oli, perlu diperhatikan juga karena mencampur oli merek berbeda ada kemungkinan membuat lumpur oli di mesin.
          Oli mesin keruh bikin kerak lumpur di mesin

          Standar oli terbaru juga untuk memastikan kompatibilitas. Karena bisa jadi komponen mesin ada yang tidak kompatibel dengan oli lama. Oleh karena itu sekarang ini jarang ada kasus knalpot ngebul, tidak seperti dulu.

          Suka

            • Terima kasih, Long Drain Interval Community Indonesia. Hebat juga, ada yang klaim ganti oli per 15000km. Kalau di grup agak trauma, karena seringkali tidak mementingkan merek tapi lebih mementingkan API service. Sementara saya yakin kalau suatu oli memenuhi standar API servis saja tapi nggak melebihi kurang bagus untuk mesin, apalagi kalau komponennya KW. Iklan oli juga seringkali klaim berkali lipar dari API service.

              Kekentalan, API service dan harga tidak menentukan kualitas, lebih penting mereknya, juga suara mesin lebih kasar karena oli lebih encer sering dijadikan alasan dari oli kualitas jelek

              Suka

            • enggak, cuma pernah baca komentar dari anggota LDICI. Anggota yang sama yang kalau tidak salah menyarankan pakai royal purple. Padahal setelah saya selidiki, di luar negeri banyak yang curiga Royal Purple bikin lumpur oli (artikel sebelumnya).

              Suka

            • joint deh om,,, di gorup itu banyak orang-orang yg kritis dan ilmiah seperti om sucahyoaji,,, kita sama-sama belajar disitu,,,

              group yg bener-bener open minded,,,

              kalo om sucahyoaji gk joint, gk mau menelaah,,,, maka ane sebagai pembaca setia blog om jadi kecewa, karena yg ane suka dari blog ini adalah penulis nya yg selalu berfikir kritis dan ilmiah, tidak hanya beropini,,, tetapi beropini sesuai data ilmiah yg ada,,,

              Suka

            • ok, nanti bila truma sudah berkurang akan gabung. Karena saya pengalaman gabung di suatu forum, yang membernya minta bukti ilmiah karena bukti dari majalah web saja kurang, dibilang perlu bukti nyata, eh ternyata belakangan begitu dikasih bukti ilmiah dari beberapa universitas (topik lain) malah lebih percaya majalah.

              Bagi saya apa yang tertera di bungkus kemasan oli itu bisa saja bohong dan tidak bisa dijadikan pegangan.

              Suka

            • ok, terima kasih infonya. akan saya baca baca. Sepertinya postingan sehat juga. Lumayan grupnya. Lihat ada komen membandingkan dengan minyak goreng penasaran, memang di grup sudah pernah ada yang betulan coba pakai minyak goreng? Soalnya saya sudah pernah sih, langsung slip kopling.

              Suka

            • Pokoknya kalo om joint LDIC, isinya beda dengan yg di Kaskus, ane pun pernah dibully di Thread HDEO/PCMO Kaskus,,,

              Om mau bahas Ilmiah, di LDIC di Facebook tempat yg cocok, suhu-suhu Perminyakan banyak banget disitu, suhu-suhu Otomotif, Blogger-blogger Otomotif yg Open Minded juga banyak disitu.

              Karena masalah-masalah di Group HDEO/PCMO Kaskus on Facebook itulah kenapa Group Long Drain Interval on Facebook jadi Group yang paling aktif.

              Di LDIC, tidak melulu mendorong untuk pakai HDEO/PCMO, MCO (Oli Khusus Motor) pun kami dukung, asal masa apakainya lama.

              Misi kami sama dengan om Sucahyoaji, yakni Go Green, Environment Friendly, Peduli Lingkungan, Save the Resource.

              Komunitas yg bikin Heboh Dunia Otomotif karena Sepeda Motor kami tidak ganti Oli setiap 1000 – 2000 KM, tapi setiap 4000 – 10.000 KM.

              Makanya ane ajakin om untuk gabung karena om ane anggap Open Minded, berfikir Ilmiah, dan Kritis,,,

              Suka

            • Ok, terima kasih. Grupnya sepertinya bagus. pantas direkomendasikan. Pasti nanti ikutan nimbrung.

              Saya sekarang termasuk lama juga kalau oli mobil, sudah hampir 10 ribu, masih oli ori (mungkin TMO 10W40), mesin masih halus walau 3 silinder. Nambahnya pakai oli Valvoline yang untuk motor :).

              Suka

            • Memang om, antara LDIC dan HDEO/PCMO Kaskus dulu juga sempat Konflik, makanya lahir Long Drain Interval Community on Facebook yg merupakan Group yg dibuat oleh member yg kecewa dengan HDEO/PCMO Kaskus on Facebook,, tenang om, bukan ente aja yg kecewa, banyak yg lain,,,

              Ane juga kemaren dibully kok di HDEO/PCMO Kaskus,,,

              Ini di LIDC lagi bahas tentang pengalaman om yg kecewa dengan HDEO/PCMO Kaskus,,, dan banyak yg bernasib sama,,,,

              Jadi, jangan ragu om joint di LDIC,,,, Group satu-satunya cuma di Facebook, tidak ada afiliasi dengan HDEO/PCMO Kaskus,,,,

              Ane termasuk User lama om, dan menyaksikan sendiri lahirnya LDIC,,, jadi ane tau kenapa banyak yg “sakit hati” dengan HDEO/PCMO Kaskus on Facebook, dan di Forum nya juga sama,,, banyak Keyboard Warrior disana, banyak yg suka Bullying disana,,, Dunia Kaskus memang keras om,,,

              Kami di LDIC, tidak ada pemaksaan harus pakai HDEO, PCMO, pokoknya selama oli mesin itu masa pakainya lama,,, Oli Motor pun kami dukung, misalnya MCO (Oli Motor) Top Tier macam AMSOIL Motorcycle Oil yg berbasis PAO.

              Misi LDIC itu Go Green dan Save Resource, makanya jangan heran kalau PCMO lebih direkomendasikan, karena lebih Go Green daripada HDEO.

              Suka

            • ok, sudah gabung kok. baca baca dulu.

              terima kasih informasinya. Iya sayangnya forum / grup sering dipakai sarana membully. Apalagi kalau pemakaiannya tidak mainstream. Saya lihat di grup itu lebih nyaman dan terbuka.

              Suka

          • Idemitsu bagus kok om, itu AHM Oil MPX iya mesen di Idemitsu, tapi formulasinya sesuai permintaan AHM,,,

            Ane pakai Idemitus yg Oli Mobil, bagus aja om,,, Honda E-Pro Gold API SN/GF-5 SAE 0W-20, di Vario 125i

            Suka

            • Terima kasih. Mungkin untuk versi high end / full sintetik beda dengan yang versi murah. Bisa dipakai pertimbangan. Oli 5W30 Mitsubishi sering dipilih orang karena alasan oli encer tapi murah. Sementara dari sharingan pemakainya bikin khawatir karena merasa normal suara mesin kasar dan tenaga di top end ngedrop.

              Disukai oleh 1 orang

            • nah, semua balik lagi ke formulasi om,,

              oli motor pun ada yg long drain dan bagus, contohnya AMSOIL Motorcycle Engine Oil,,, tapi mahal,,, nah murah nya kami pakai Oli Diesel dan Oli Mobil,,, gimana-gimananya kami punya alasan ilmiah, tidak asal pakai,,,

              Suka

            • Iya sayang mahal tidak bisa dijadikan pegangan. Sebaiknya jangan bukti ilmiah tapi dari pengalaman juga, termasuk dari yang pernah bongkar mesin. Karena ada yang merasa olinya bagus eh ternyata begitu buka mesin kelihatan kerak/lumpur.

              Suka

  6. saya punya innova bensin tahun 2005 mesin 2700cc pake 5w30 Honda E-Pro Blue (10000km), Mobil super high mileage 5W30 (10000km), kemudian Mazda ECO 5w30 (9000km), lalu pake Amsoil SSO 0w20 (7000km), masing masing ganti tiap 10.000 km, kecuali yang terakhir cuma sampe 7000 km. konsumsi BBM mixed, Premium atau Pertamax atau kadang Ron 95.

    mobil di pakai setiap hari untuk kerja Bekasi Timur – Jakarta Pusat. Kemacetan bisa stuck 30-1 jam di jalan, waktu berkendara rata rata 1,5 – 3 jam per-trip. rata rata waktu berkendara pulang pergi per-hari kerja 4-6 jam. suhu lingkungan luar terukur rata-rata 36-40 derajat celcius (lihat di MID). harian dipake hanya sendiri atau 2 orang saja, juga dipake buat mudik dan touring.

    Mau tau hasilnya setelah pengamatan dalam 1 tahun dan total jarak tempuh 36.000km dalam tempo 12 bulan tersebut? waktu dibuka cover head silinder innova saya, KUNING SEMUA BOS! padahal awal beli masih bening dan service record selama 10 tahun terakhir pakenya 10w40 Toyota yang diganti tiap 8000km!

    Innova saya beli seken, service record lengkap dari km 0 sampai 93.000km saat saya beli, kondisi saya cek ulang termasuk cover head silinder dibuka saat pertama beli seken, masih bersih/bening. tapi kemudian setelah 1 tahun pemakaian dan mencoba berbagai jenis oli ngikutin rekomendasi toyota (5w30) termasuk yang katanya PAO tahan suhu tinggi dan LOOOONG DRAIN, namun hasilnya setelah odo nyentuh 129.000km di real world jadi tanda tanya ??? oli meninggalkan sludge menguning di mesin, anda pasti tahu apa sebabnya. it’s HEAT!!

    ada rekan yang pake 0w20 di honda-nya selama 2 tahunan tanpa masalah, tapi beliau tinggal di bandung. mobilnya pun bukan dipake setiap hari untuk kerja walopun bandung sama sama macet. 5 tahun saya tinggal di bandung, mana pernah disana siang bolong suhu-nya nyampe 38-40 derajat celcius? siang aja kadang masih 29 celcius.

    Suka

  7. Special note buat oli 0W20 Amsoil SSO yang terakhir saya pake, saat pemakaian nyentuh 7000km, mobil sedang bawa 8 penumpang, macet jam 12.30 siang hari senin di Halim, AC full level 4, suhu luar 40 celcius, MOBIL SAYA GETER, JARUM TEMPERATUR NAIK LEBIH DARI 1/2, AC jadi keluarnya panas bukan sejuk. sesuatu yang tidak pernah terjadi dengan oli 5w30 dalam kondisi lalin, temperatur, kilometer, dan beban penumpang yang sama. padahal oli-nya belom terlalu item, masih coklat terang agak gelap. dibawah 7000km tersebut, 0W20 ga masalah saat macet siang bolong panas panasan sampe 6 jam di Tegal ketika mudik 2016 kemarin. tapi suhu luar saat itu ga sampe 40 celcius. masih dibawah 38 celcius. Tapi saya ngerasain performa lumayan drop klo dipake nanjak nanjak.

    bukan katanya, bukan teori, tapi pake sendiri, coba sendiri, bongkar sendiri, ngalami sendiri. di luaran sono oli tipis bisa tahan suhu tinggi kan kondisi berkendaranya jalan terus, mesin kena aliran udara terus, panas kebuang kena aliran udara itu. coba klo disuruh macet-cet-cet, cuma modal radiator fan sama extra fan doang selama beberapa jam. apa ga semaput tuh mesin?

    FYI aja, mesin 2TR-FE 2700cc innova saya sama dgn 2TR-FE di tacoma dan 4Runner yang dijual di USA dimana spek oli disana membolehkan 0w20! tapi sekali lagi, ini Indonesia, iklim dan lingkungannya beda dgn USA.

    sekarang odo udah 134.000 pake 10w40, sehaaaaat, mesin tenang, kantong amaaan. percuma keluar 1,5 juta pake 0w20 masa pakai sama aja kayak 10w40. semua oli 5w30 termasuk 0w20 diatas yg saya sebutkan, setelah diatas 5000 atau 6000km udah mulai terasa mesin agak bergetar saat idle di kemacetan. dibawah itu normal aja.

    Suka

  8. jadi, ga usah terlalu percaya makin tipis oli, makin bagus base oil, makin STRONG buat dipake di kendaraan.

    yang paling bener itu (sesuai prioritas):
    1. sesuaikan suhu lingkungan,
    2. sesuaikan kondisi berkendara (harian macet/lancar, jaraknya sering dekat (< 10km)/jauh, pemakaian hanya weekend, atau lebih sering luar kota),
    3. sesuaikan dgn beban berkendara,
    4. sesuaikan jenis BBM yg dipake
    5. sesuaikan dgn kadar debu lingkungan (termasuk jenis filter udara yg dipake). karna itu ngaruh sama tingkat kejenuhan oli dari partikel asing.

    makin berat kondisi dan lingkungan dimana kendaraan beroperasi, makin pendek umur oli. silakan aja mau pake 5w30 untuk mobil bensin, tapi jgn maksain sampe 10.000 tanpa perhatian dan catatan khusus diatas. 8000km aja masih riskan, kecuali oli-nya kelas heavy duty 5w30, itupun tetap dgn catatan khusus. tau dah kapan 0w20 heavy duty ada.

    inget nih kendaraan kita dipake harian, bukan balapan, proper oil engine maintenance = loooooooooooooooong life engine. cari gih informasi mobil mobil yang kilometernya sampe jutaan, contohnya GM silverado yang kurang dari 6 tahun udah nyentuh 1,200,000 km. ganti oli-nya rutin tiap 5000 km + oil filternya.

    Suka

    • Tergantung pada suhunya. Bila di suhu dingin pakai oli kental bermasalah. Tapi kalau suhu panas tidak.

      Kekentalan kinematic oli 20W50di suhu 100 derajat itu 3 kali lebih encer daripada oli 0W20 di suhu 40 derajat. Sementara di suhu sama sama 40 derajat, oli 20W50 3 kali lebih kental dari 0W20.

      Suka

    • Iya, beneran minyak goreng. tambahi 5% dulu kalau ragu ragu. harus yang minyak kelapa sawit kemasan. Atau coba fastron techno hijau 10W40.

      Testimoni dari yang khusus pakai AX-7:
      21 Nopember 2016 – werza – Shell Advance AX7 (MCO) + MG di Honda Supra X 125. oli pakai shell helix ax7 udah 2 bulan lah, rencana mau ganti tapi coba2 dulu pakai minyak goreng, perasaan suara mesin ane jadi lebih alus gan, padahal oli ane udah lama.

      5 Desember 2016 – Arieftc – Shell AX 7 (MCO) + mg di Kymco Metica 2004. ditambah minyak goreng sesuai yg anjurkan pd saat pertama ganti oli … hasilnya memang lebih halus suara mesinnya.

      Suka

  9. 1. Artikel yang menarik, dari judulnya sudah bikin saya mau mampir ngebaca artikel anda, isinya juga bisa dibilang fair, tidak memihak manapun.
    2. Saya cuma end user yang doyan pake motor dengan pengalaman langsung cobain bbrp oli dari modal sendiri, menurut saya 10w-30 dan 10w-40 ini bisa dibilang dilema untuk top speed, suara mesin dan anomali cuaca eksternal. Kebetulan saya tinggal di kota pegunungan dimana temperatur sehari” itu dingin, 24jam dingin, bahkan pernah tembus dibawah 20 derajat celcius. Kalau di kota saya umumnya 10w-30 yg dipakai, masalahnya ketika keluar kota itu oli tdk mampu menyesuaikan perubahan panas eksternal, sehingga cocoknya pakai 10w-40 kalau tidak dijamin performa mesin turun saat masuk area lingkungan panas. Top speed 10w-30 juga susah sampai kepuncak dan itupun dibarengi suara berisik mesin (motor bebek maksud saya), kalau 10w-40 dia lbh cepat naik ke top speed suara mesin jg tidak begitu berisik tapi putaran gas rasanya gak seringan 10w-30.

    Saya tidak mengacu kpd soal 10w-30 dan 10w-40, karena sesudah saya coba bbrp merek, ternyata yang lebih penting itu formula olinya, beberapa x coba yg 10w-30 dan 10w-40 saya cuma punya 2 oli pilihan yang sanggup melibas berbagai anomali cuaca: castrol dan total oil semuanya 10w-40 (saya berani di mata hukum tidak afiliasi dng pihak manapun), saya jujur belum pernah temukan 10w-30 yang memiliki performa bagus di top speed dan di anomali cuaca eksternal dan pilihan 10w-30 di indonesia untuk oli motor bebek memang sangat terbatas…pasti ya oli itu itu lagi lah.

    Oli apapun juga pada akhirnya kembali ke jenis mesin motor (ini saya kebetulan rider roda dua honda dan yamaha) ada bbrp mesin motor yang bagus saat tingkat panasnya bertambah, ada yang mesinnya anjlok ketika tingkat panas mesin bertambah pula, mau pake oli apapun kalau mesinnya sendiri susah buang panas juga percuma walo sudah ada radiator pula. Begitu juga ada mesin yang memang performanya baik ketika masih di suhu lingkungan dingin, ada juga yang males males-an performa mesinnya ketika masih di suhu dingin. Ini saya sudah buktikan sendiri di mesin yamaha dan honda yang pernah saya miliki, bukan pinjeman orang!

    Tapi memang krn saya doyan touring solo, 10w-30 memang jujur utk penggunaan di motor saya ini miris, jadi saya tidak menurut pada manual book produsen motor yang saya gunakan yang mengarahkan ke 10w-30, saya akhirnya pilih pakai oli 10w-40 baik di motor honda dan yamaha milik saya dan sejauh ini memang lebih cocok (fair usage) baik dalam kota dan luar kota, tapi ini juga tergantung olinya juga harus yang bagus, kalau tidak ya percuma.

    Salam.

    Suka

    • terima kasih sharingnya. Iya, kalau melihat dari cirinya, jelas oli 10W30 yang dipakai tersebut tidak cocok untuk dipakai di suhu Indonesia.

      Setelah saya membuat artikel ini, saya mempelajari bahwa perlindungan oli itu bisa dicapai tidak cuma dari kekentalan saja, namun juga ada aditif lain. Akan lebih jelas bila membaca artikel berikut:
      Mengenal dasar pelumasan, ada saat dimana perlindungan tidak ditentukan oleh anti wear

      Perlindungan bisa dibagi 3:
      – perlindungan saat oli bisa melapisi diantara dua permukaan logam, ini biasa pakai ester atau nabati, sebutannya friction modifier
      – perlindungan saat oli tidak kuat melapisi dan tekanan masih normal, biasa pakai ZDDP, sebutannya anti wear.
      – – perlindungan saat oli tidak kuat melapisi dan tekanan sudah tidak normal sehingga kontak menimbulkan suhu tinggi, biasa pakai MoS2 atau WS2, sebutannya aditif extreme protection.

      Sayangnya yang ada dipasaran kebanyakan lebih ke aditif anti wear dan extreme protection, itupun dipakai minim. Sehingga terjadi oli 10W30 bikin suara mesin lebih kasar dan justru bikin performa berkurang.

      Yang bagus adalah yang bisa meningkatkan film strength. Untuk ini PCMO lebih unggul, sehingga banyak yang pakai PCMOO. Namun sayang PCMO banyak mengandung extreme protection sehingga beresiko membuat selip kopling.

      Setelah saya mengetahui minyak nabati mempunyai film strength lebih bagus, saya akhirnya memutuskan untuk mencoba menggunakan minyak goreng sebagai aditif. Dan ternyata hasilnya sangat positif:
      Testimoni dari yang pakai minyak goreng sebagai aditif oli mesin sangat positif

      Sekarang ini kedua motor matik saya pakai aditif minyak goreng. Yang di Suzuki Spin pakai fastron matik 10W30, yang di Honda Beat pakai AHM SPX-2 10W30. Keduanya masih tetap enak dipakai top speed beberapa menit, tanpa ada hambatan yang sebelumnya dirasakan saat pakai oli 10W30. Suara juga halus, bahkan lebih halus dari saat pakai oli 20W50.

      Mungkin perlu coba pakai aditif minyak goreng.

      Suka

      • Menurut saya akan jauh lebih wise kita pakai oli saja dng kualitas yg benar” bagus sesuai dng penggunaan dan karakteristik lingkungan yg akan dijelajahi. Saya percaya sebuah oli pasti sdh ada formula masing” tanpa perlu kita otak atik lagi dng tambahan zat aditif.

        Baiknya optimalkan mesin dng bbm yg berkualitas dan pengapian yg baik agar kinerja oli bisa optimal juga dan tidak selalu berat.

        Minyak goreng memang punya karakteristik kuat di suhu panas tinggi, tapi kita lihat saja minyak goreng diletakkan di ruangan suhu dingin di rumah saya saja sudah berubah bentuk mjd keras tdk cair lg sedangkan oli dng kondisi yg sama dia tetap cair. Jd baiknya zat cair yg baik dia selalu cair di kondisi lingkungan dingin dan panas agar tetap dpt mempermudah gerak piston dlm ruang silinder mesin. Gimana minyak goreng bisa bersatu dng oli saat mesin di suhu dingin spt di kota saya pasti sulit dihidupkan mesinnya.

        Ini saya bukan ahli atau pengikut oli dan aditif atau sejenisnya ini cuma dr pengalaman di dapur jg urus mesin kecil”an saja. Kalaupun minyak goreng bagus utk zat aditif baiknya ada lembaga yg bisa membuktikan itu agar masyarakat juga dpt kepastian informasi yg ada legal standingnya 😊

        Suka

        • Harus diingat juga bahwa pabrik juga berusaha untuk untung, resep harus memperhatikan nilai ekonomis, sehingga hasilnya oli jadi kurang mumpuni.

          Kelemahan dari minyak goreng memang adalah cenderung lebih mudah beku dan mudah teroksidasi. Ini sebabnya saya menggunakan sebagai aditif. Kalau di malaysia, trendnya malah 100% minyak goreng + aditif zddp.

          Penelitian tentang pemakaian minyak goreng sebagai oli mesin bisa dilihat di artikel berikut, tidak hanya luar negeri saja, beberapa universitas di Indonesia juga meneliti, misalnya di UI. Disebutkan minyak kelapa sawit besar potensinya untuk dijadikan oli mesin. Hambatan utama terutama ada pada sifat oksidasinya, lalu di mudah beku. Keduanya disebutkan bisa diatasi dengan aditif atau dengan merubah sifatnya.

          Implementasi dan dasar teori trik sesat minyak goreng sebagai aditif pelicin oli mesin matik dengan hasil mesin lebih halus dan enteng

           

          Bila ingin murni pakai dari pabrikan, tidak bisa disama ratakan semua oli 10W30 sama. Beberapa ada yang mendesain dengan benar namun memang harga jadi jauh lebih mahal karena butuh aditif lebih banyak.

          Anehnya, dari beberapa testimoni, yang sudah pakai oli mahal juga masih bisa merasakan suara mesin lebih halus setelah ditambah minyak goreng. Mengesankan bahwa oli mahal pun masih belum maksimal.

          Suka

        • tambahan. Seharusnya pemakaian oli lebih encer itu bisa meningkatkan performa / irit. Bila pakai oli lebih encer ternyata top speed berkurang, akselerasi tidak enak, atau mesin sangat kasar maka kemungkinannya:
          – oli tidak layak pakai / kualitas dibawah standar / kurang aditif / tidak memenuhi syarat, dst.
          – mesinnya tidak cocok pakai oli encer tersebut.

          Bila dari petunjuk mesinnya dibolehkan pakai 10W30 namun ternyata hasilnya top speed berkurang, maka olinya yang formulanya tidak sesuai.

          Harusnya oli lebih encer bisa sama halusnya dengan oli lebih kental bila aditifnya sesuai. Contoh:
          Pengiritan yang bisa dicapai dengan memakai oli mesin dengan SAE grade 0W-20 ternyata kecil dan justru lebih besar pengaruh aditif friction modifier

          Most concerns with lower viscosity oils are associated with their effect on engine wear. Tanaka et al.23 from Honda address these concerns. They study the impact of using a 0W-20 oil enhanced with a relatively common molybdenum based friction modifier. In their study, they compare the 0W-20 oil to a standard 5W-30 oil, with the same additive blends, both for fuel economy benefit and engine durability. They conducted tests on a Honda engine and a Honda vehicle, and found an impact of 1.5% on fuel economy with no significant difference on engine durability.

          Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s