Kelemahan dari throttle by wire seperti yang diterapkan di new Honda CBR250 led


Berdasar saran dari pembaca, penulis mencoba mengulas kelemahan apa saja dari sistem throttle by wire. Komentar tersebut sebagai berikut:
Riding mode di new Honda CBR250R led bisa jadi cuma Throttle Response Controller

Banyak artikel yg membahas ttng kelebihan teknologi ini, akan tetapi sedikit sekali ato bahkan tdk ada artikel di Indonesia yg membahas ttng kelemahan teknologi ini.

Salah satu kelemahan dari teknologi ini adalah, jika terjadi kesalahan dalam penulisan program pada ECU (bug), maka akan terjadi ‘unintended acceleration’. Dimana hal ini akan berpotensi menimbulkan kecelakaan.
Ada banyak contoh kasus ttng ‘unintended acceleration’ dimana Throttle by wire ato Electronic Throttle Control diduga menjadi salah satu sebab.

Contoh kasus pada tahun 2013 lalu, dalam putusannya “guilty by software defects” dimana T*y*t*, dinyatakan bersalah oleh pengadilan AS atas kecelakaan yg berujung kematian yg terjadi di Oklahoma.

Nah itu contoh kasus yg terjadi di AS, yg penegakan hukumnya ketat, klo hal ini sampai terjadi di Indonesia? Pasti yg disalahkan si biker / driver nya.

Penulis setuju dengan hal itu. Dengan throttle by wire, nyawa pengemudi menjadi tergantung pada ECU. Kalau ecu ada bugnya, maka nyawa driver jadi taruhan. Mungkin maksudnya membantu, tapi kalau bantuannya salah, maka justru menjadi membahayakan. Ini seperti kasus dimana steering aid malah jadi mobil lepas kendali:
Setir mobil terkunci yang bikin celaka bisa gara gara bug di sistem anti selip, mengkaji kasus Lamborghini yang nabrak orang di tepi jalan di Surabaya, perlu uji moose

Semoga sistem Throttle by wire di motor Honda CBR250 tidak ada bugnya.

 

Kelemahan lain sistem throttle by wire adalah soal respon dari gas. Karena isinya cuma resistor, maka gas jadi tidak ada hambatannya. Beberapa implementasi ada yang menambahkan hambatan agar gas tidak mudah ganti ganti. Beberapa ada yang tidak. Nah karena gas ringan sekali, maka saat kendaraan berjalan, setelan gas jadi gampang sekali berubah ubah karena kegoyang jalan. Setelan gas yang berubah ubah ini membuat gas jadi besar dan kecil sendiri. Oleh karena itu secara standar throttle by wire dibuat lambat responnya agar pengendaraan menjadi nyaman. Namun ini membuat respon gas jadi telat.

Honda mungkin sudah memperkirakan ini sehingga Honda mengimplementasikan fitur throttle response controller yang dinamakan Accelerator Position Sensor. Jadi kondisi jalan tidak akan membuat gas berubah ubah dengan mudah bila disetel di setelan comfort. Kalau butuh respon liar bisa pakai mode Sport. Detil bisa dibaca di artikel berikut:
Riding mode di new Honda CBR250R led bisa jadi cuma Throttle Response Controller

Entah sampai tarap apa mode comfort tersebut, tinggal dilihat review Honda CBR250 kalau di jalan tidak rata.

 

Kelemahan lain yang mungkin terjadi adalah bila ECU membuat gas tidak aktif bila rem aktif. Ini sudah terjadi di dunia mobil. Mobil dengan sistem throttle by wire tidak akan bisa di gas bila rem aktif. Tujuannya sih bagus, bila pengendara panik dan menekan rem dan gas secara bersamaan maka rem yang diprioritaskan.

Namun ini jadi membuat pengendara jadi tidak bisa memaksa ngegas sambil ngerem. Kalau di mobil, ini sering jadi masalah di tanjakan. Saat menanjak seringkali ngerem dan ngegas butuh dilakukan bersamaan agar tenaga tidak telat keluar. Karena ngegas jadi telat karena harus lepas rem dulu, bisa terjadi mesin mati atau mundur karena gas kurang besar saat menanjak. Ini terjadi terutama di mobil dengan throttle by wire yang tenaganya pas pasan seperti Honda Brio atau Datsun Go. Ini sepertinya bakalan terjadi juga di Toyota Cayla atau Daihatsu Sigra. Kalau di versi matik yang agak mahalan tersedia fitur hill assist yang mencegah mobil mundur saat di gigi maju.

Kalau di dunia sport di mobil, fitur ini jadi mematikan trik left foot braking. Left foot braking ini adalah dengan mengegas dan mengerem secara bersamaan yang tujuannya untuk mengurangi understeer di tikungan. Contoh bisa dilihat dari balapan Honda civic EG lawan Subaru Imprezza WRX, waktu 34:55

Kalau beneran di Honda CBR250 tidak bisa bareng ngegas sama ngerem, maka bisa jadi motor ini tidak bisa buat bikin donat ataupun wheelspin:

Kalau beneran nggak bisa bikin donat atau wheelspin, maka nilai sportnya berkurang.

 

Sistem throttle by wire yang juga ada riding yang juga mengendalikan pengereman sepertinya akan sangat membantu meningkatkan keselamatan seperti pada implementasi di BMW:
Ride-By-Wire Technology: Is It Safe?

Ride modes. Not only does RBW offer the manufacturer the chance to make peaky engines act like locomotives and offer throttle response that’s smooth and intuitive, but that response can be further tailored. Most RBW bikes have multiple “ride modes” that combine different throttle-response maps and altered thresholds for traction control and ABS. (Some even allow you to reduce maximum power for, say, riding in the rain. Or lending the bike to a friend.) The sportiest modes have the sharpest throttle response, making the engine seem racy and potent. But the same machine can have smoother, more relaxed responses for touring, even duller (softer) throttle response for dodgy conditions, and still other modes optimized for off-road use. You simply couldn’t do that without RBW.

Namun yang namanya sistem, tentu tidak bisa sebagus manusia dalam memprediksi kondisi. Bagaimana seandainya ada orang yang nyeleneh menggunakan riding mode sport plus di dalam kondisi jalan licin? atau misalkan sedang pakai di jalan kering dan mode sport tiba tiba melewati jalan licin?

 

Soal perawatan, sistem throttle by wire di mobil biasanya awet, semoga saja yang di CBR250 tidak bermasalah saat diproduksi oleh AHM.

 

Sistem throttle by wire membuat ECU jadi lebih leluasa mengatur campuran bahan bakar dan udara karena semua jadi terserah ECU. Kalau ECU nya pintar maka mesin bisa jadi lebih efisien, yaitu lebih bertenaga dan lebih irit dalam semua kondisi. Yang bikin pintar selain dari algoritma ECUnya juga seberapa banyak informasi yang bisa ditangkap dari sensornya. Kalau sensornya sudah uzur atau salah tangkap informasi, maka bisa bikin masalah, mulai dari tarikan nggak enak sampai membahayakan pengendaraan.

Jadi kalau kendaraannya sudah pakai throttle by wire dan ABS, jangan meremehkan perawatan karena resikonya nyawa.

Update:
Penulis sebelumnya membahas kemungkinan TBW Honda CBR250RR bisa tersangkut:
Dani Pedrosa celaka di Motegi tahun 2010 dan Casey Stoner celaka di Suzuka tahun 2015 karena ada bug di sistem throttle by wire motor Honda

Ternyata memang ada resiko tersangkut. Ini dibahas di tmcblog:
AHM Jawab kekhawatiran gas nyangkut pada TbW Honda CBR250RR December 1, 2016

mengenai kemungkinan rusak karena Cuaca, menurut Pak Sriyono, bagian APS dari Honda CBR250RR sudah diuji dalam kondisi hujan deras dan tidak terlihat ada msalah, namun disarankan untuk bagian APS di panel saklar setang bagian kanan ini tidak disiran dengan air bertekanan tinggi saat mencuci ya sob

Mengutip Motorplus:
throttle-by-wire-honda-cbr250rr-resiko-tersangkut

throttle-by-wire-honda-cbr250rr-resiko-tersangkut2

throttle-by-wire-honda-cbr250rr-resiko-tersangkut4

Entah di servis periodik bakalan di cek atau tidak. Karena kalau berkarat juga akan bahaya.
Mempertanyakan perlunya servis periodik, biaya bengkak karena banyak yang tidak perlu, kadang kecewa hasil tidak memuaskan

27 thoughts on “Kelemahan dari throttle by wire seperti yang diterapkan di new Honda CBR250 led

  1. Terima Kasih atas kupasan ttng kelemahan Throttle by Wire yg patut diajungi jempol ini.
    Kelebihan yg ane suka ttng blog kupasmotor adalah, blog ini memiliki netralitas yg tinggi, jika sesuatu ada yg jelek, maka akan ditulis / dikupas apa adanya tanpa ada bumbu sana sini. Semoga ke depannya artikel yg di kupas tetap mempertahankan netralitas yg ada.
    Sekali lagi, Terima Kasih.

    Suka

    • Efektif dalam hal apa?

      Kalau tanpa throttle controller maka seringkali respon throttle by wire terasa terlalu lambat, karena oleh pabrik disetel agar tidak terlalu mengganggu. Kan tidak enak kalau jalan nyentak nyentak karena gas berubah ubah. Namun banyak sekali pemakai kendaraan dengan throttle by wire seperti misalnya Honda Brio yang ingin mempercepat respon gas. Bila dibeli terpisah harga throttle response controller bisa sangat mahal.

      Selain respon yang lambat sepertinya tidak ada perbedaan lain.

      Bila dilihat deskripsi, fungsi sudah sama persis dengan deskripsi riding mode yang bisa mencegah slip, dan fitur balap.

      TERJUAL Shadow Throttle Controller Edrive Advance4 Innova Pajero Fortuner Jazz Brio dll

      SHADOW E-DRIVE ADVANCE 4 THROTTLE CONTROLLER
      Features:
      – Full adoption of digital signal output for more accurate correspondence to the original car accelerator signal.
      – Three modes and 17 adjustable stage accelerator response speed.
      – 9 level Po power mode suitable for mountain roads and competition purposes; very sensitive accelerator response
      – 7 Level EC-saving mode suitable for urban driving for effective reduction of fuel consumption.
      – New start-slip function allows easy start even in low friction terrain.
      – Drag Racing, launch control function
      Single button press for Drag Racing mode. In this mode, display shows “Drag Racing”. Step on the accelerator lightly gives you full power for even faster response.
      Suitable for drag racing in controlled environment, not for use on the street.

      – Anti skid function
      High powered vehicles will easily skid on wet, muddy or snow covered ground whilst starting off which may send the vehicle out of control. Therefore Shadow especially aided anti-skid function in E-drive Advance 4 lets the driver control the vehicle easily on slippery ground.

      Suka

  2. sudah nyoba motornya?
    TOP… lebih pintar dari engineering honda.
    Makanya indonesia ga maju… bisanya cuma kritik, disuruh buat emang bisa?
    ga usah buat motor… bikin custom motor yg udah ada aja blm tentu bisa.

    Suka

    • Saya melihat dari sisi kepraktisannya, percuma implementasi pakai teknologi canggih tapi secara pemakaian jadi mundur.

      Saya tidak suka spedo digital macam yang di CBR250 karena biasanya refreshnya lelet, dan di jaman hp android harganya murah begini masih pakai display ala game nintendo puluhan tahun yang lalu, kuno dan jadul, cari murahnya. Mending seperti di mobil, spedo analog walau teknologinya sudah digital, spedo di mobil nggak pakai kawat tapi pakai kabel. Analog lebih mudah dibaca dan lebih enak dibaca. Kalau mau digital full di mobil juga gampang, tinggal beli hp android, charger mobil dan OBD2 reader. HP android pasang di dashboard, install Torque, jadi deh spedo digital full bisa warna warni dan jelas. Biaya bisa dibawah satu juta. Mestinya untuk motor sekelas CBR250 pakai yang semacam di HP android.

      Sama dengan pemakaian throttle by wire. Mungkin benar lebih efisien, tapi dari sisi pemakai lebih tidak nyaman. Kalau bisa nggak ada bedanya dengan saat pakai kawat, maka itu baru canggih.

      Yang berpendapat begini bukan cuma saya saja kok, sudah pengetahuan umum di sana:

      Drive by wire From Wikipedia

      Disadvantages

      The cost of DbW systems is often greater than conventional systems[citation needed]. The extra costs stem from greater complexity, development costs and the redundant elements needed to make the system safe. These systems will fall under the category of safety critical systems which are recommended to be developed under standards like ISO 26262 which require extensive changes in the development process generally taken for developing other traditional systems[citation needed]. Drive by wire systems can be “hacked,” and their functions and control disabled or commandeered, by either wired[2] or wireless[3] connections.

      Drive by wire systems also have increased response time versus their mechanical counterparts[citation needed]. The mechanical system offers direct manipulation of throttle linkage and throttle plates, whereas the drive by wire system must feed data into a controller and use an electromechanical actuator to provide throttle actuation.

      Disebut kelemahannya di harga, bisa di hack, dan respon yang lambat.

      Suka

      • Ane perasaan pernah unduh app Android OBD2 reader & Torque. Cm pas di install butuh hardware’y ane copot tuh App’y.

        Agan Pernah bahas ato lom nih OBD2 reader & Torque.

        Suka

        • Belum pernah bahas OBD2 reader, karena cuma mobil saja yang sudah support. Harga murah mulai dari 60 ribuan untuk yang refreshnya lambat. Kalau untuk motor injeksi alatnya diatas 1 juta dan biasanya diakses pakai laptop.

          Suka

      • moge & motogp berarti teknologi ga praktis?
        coba anda ciptakan benda yang berguna bagi mahluk hidup, bisa?
        kalau cuma nulis kritik doang semua orang juga bisa.
        suka beli… ga suka ga usah dibeli.
        jangan berbicara seolah olah anda orang mengerti teknologi.
        coba anda bilang kalau RBW itu ga praktis depan muka designer & engineering HONDA/pabrikan lainnya….. apa ga diketawain?
        yang bagus di mata anda itu seperti apa?
        coba buat sendiri kalau bisa?

        Suka

        • TBW di balapan bukan untuk motor lebih praktis dipakai sehari hari namun agar lebih kompetitif. Pengendalian bisa jauh lebih responsive, tidak nyaman, tapi lebih penting kencang.

          Di artikel berikut dijelaskan bagaimana throttle by wire bisa bikin laptime 2 detik lebih cepat.
          Dani Pedrosa celaka di Motegi tahun 2010 dan Casey Stoner celaka di Suzuka tahun 2015 karena ada bug di sistem throttle by wire motor Honda

          Kebetulan artikel juga menunjukkan bagaimana yang namanya sistem throttle by wire juga masih bisa tersangkut gasnya.

          TBW membuat motor sangat kompetitif, namun bisa jadi mengurangi kenyamanan dan jadi tidak bisa dibuat stunt atau style karena memang tujuannya lebih ke laptime / drag time.

          Yang dibutuhkan oleh pembalap belum tentu enak dipakai di jalan. Sama lah dengan fitur suspensi racing. Suspensi keras bisa dibilang tidak praktis, tidak cocok untuk sehari hari.

          Soal respon masyarakat nanti bagaimana, tinggal ditunggu sharingan pemiliknya, apakah mereka suka atau membenci fitur ini. Tinggal dilihat mereka merasa respon gas telat atau tidak. Pabrikan lain rasanya juga akan menunggu reaksi masyarakat sebelum implementasi.

          Suka

        • moge & motogp berarti teknologi ga praktis??? ya iyaaaalaaaahhh….gimana sih si abang ini… mudah aja… seperti kopling kering lah… situ kira praktis ya bang… xixixixixi… kalo bandingin jangan ke moto GP… kejauhan…. moge aja ga mungkin mengimplementasikan pure teknologi dari Moto GP… masalahnya adalah di perawatannya… mau habis berapa…. lah moto GP tiap tahun gonta ganti mesin ga ada masalah toh budget unlimited… lah motor konvensional 250cc kalo tiap tahun turun mesin, uda di hina habis2an

          ke 2, manusia diberi akal dan pikiran… sehingga bila ada yang bilang bumi itu datar… dengan akal pikiran kita bisa bilang bumi itu bulat…. nah sama aja… bila ada teknologi baru dengan segala kecanggihannya… tidak berarti yang ngerti teknologinya hanya engineering pembuatnya saja… orang lain yang punya basic ilmu yang sama juga tau dasar2nya… dan kemungkinan kelemahan atau kelebihannya…. tidak harus bikin barangnya juga kelesss… sama aja untuk mengungkapkan bumi bulat tidak harus menciptakan bumi… cukup ngerti ilmunya saja bahwa bumi itu bulat…

          ke 3, soal mengatakan RBW itu ga praktis di depan muka engineering pembuatnya? ga bakal diketawain… lah emang RBW cenderung ada kelemahannya kok… semua teknologi ada kelemahan dan bug nya… makanya ada versi 1,2,3,4,5… kalo nunggu sempurna ya ga jualan jualan mereka…. contoh nyata…. uda berapa kali rangka CBR patah? mesin klotok2? Vixion ngebul hellooo? spidometer Ninja ngembun? RPM kendaraan injeksi naik turun ga jelas karena bug di ECU?

          Suka

          • Praktis yang saya sebut sepertinya bikin salah pengertian bro kampungnagrak13. Yang saya maksud dengan praktis adalah practical for daily drive, enak dipakai sehari hari.

            Di Moto GP setelan TBW disesuaikan dengan keperluan rider dan sirkuit, tujuannya bukan untuk kenyamanan tapi untuk biar kompetitif. Beda dengan yang model generik yang untuk konsumen. Penasaran pingin membaca komentar konsumen bagaimana, apakah yang mode sport masih nyaman dan sudah responsive, atau apakah yang mode comfort beneran nyaman dan tidak terlalu lambat responnya. Entah kapan motor sampai ke konsumen, rasanya kok lama sekali. Sudah lebih dari sebulan review pemakaian pun nggak ada.

            Apa produksi bermasalah ya?

            Suka

            • saya rasa bukan produksinya mas yang bermasalah… tapi Honda melepas CBR 250rr lebih awal saja… mungkin ada agenda kompetitor yang mau ditutup Honda kali…. misal ramainya penjualan Ninja 250 karena iklan anak jalanan yang juga akhirnya meramaikan Ninja Mono…. sehingga penjualan CBR 150, CB 150, apalagi CBR 250r (single cyl) jadi tersendat…? tidak harus tersendat beneran sih… tapi ada potensi tersendat…. R25? kalo R25 udah kalah duluan di pasar lokal…

              Eh tapi setau saya R25 jago di pasar international lhooo…. artinya CBR series bisa jadi memang tertekan, dari 2 arah yaitu Yamaha dan Ninja di pasar luar negri… yang akhirnya harus jualan awal daripada makin bonyok di combo 2 arah…. istilah perdagangannnya “Early Bird Sale”…

              Suka

  3. Kenapa takut? anda lupa motor batangan pakai kopling manual?
    kecuali matik bung.. gas nyangkut bablas
    suatu produk yg sudah keluar sudah dipikir masak-masaklah
    seperti rumus basica jika error = apa?, alternatifnya kemana?
    salam satu aspal

    Suka

  4. […] Saat mencoba menjawab pertanyaan pembaca di artikel sebelumnya, penulis menemukan informasi mengejutkan tentang bug dari throttle by wire di motor Honda bikin celaka. Pertanyaan diajukan di artikel berikut, dimana pembaca membantah kemungkinan celaka karena bug throttle by wire: Kelemahan dari throttle by wire seperti yang diterapkan di new Honda CBR250 led […]

    Suka

  5. TBW teknologi bagus….tapi harus ada perawatan, dan ahm/honda harus bener2 total dalam pembuatannya….
    siip om sucahyo..ini yg ane tangkep dari artikel ini…

    Suka

    • terima kasih. Untuk perawatan belum tahu apakah TBW butuh perawatan khusus. Sepertinya kemungkinan masalah lebih ke kualitas bahan dan desain dari pabrik.

      Kalau desain pakai resistor maka ketebalan karbon yang jadi penentu, karena bisa aus. Bila pakai semacam yang di mouse sebelum tipe LED, maka debu atau air masuk yang harus diperhatikan. Keduanya tidak butuh perawatan tapi lebih ke umur pemakaian dan kebersihan. Perlu dicermati masalah yang mungkin timbul bila misalnya setang terendam air atau basah kehujanan.

      Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s