Tempat pengisian premium dikurangi kualitas pertalite akan juga meningkat?


Beberapa hari ini penulis menjumpai bahwa beberapa pom bensin sudah tidak lagi menyediakan pengisian premium untuk motor, digantikan dengan tempat pengisian pertalite. Di beberapa pom bensin lain, tempat pengisian pertalite jadi lebih banyak daripada tempat pengisian premium. Antrian di tempat pengisian premium jadi panjang dan memaksa beberapa pemakai untuk menggunakan pertalite atau pertamax.

Penulis menjadi salah satu yang terpaksa memilih mengisi pakai pertalite. Penulis saat itu memprediksi bahwa tenaga mesin akan jadi berkurang. Namun ternyata kali ini tidak, tenaga mesin terasa lebih baik.

Sebelumnya penulis curiga bahwa pertalite itu premium campur pertamax ditambah sesuatu lagi yang justru mengurangi tenaga, namun bisa lebih irit.
Jangan pakai pertalite bro! tenaga motor berkurang

Melihat makin dibatasinya pembelian premium dan meningkatnya kualitas dari pertalite, maka penulis sekarang menduga bahwa pertalite yang sekarang sudah bukan lagi campuran dari premium dan pertamax tapi sudah murni sama dengan asli impornya yaitu RON90. Pertalite sebelumnya menggunakan campuran premium dan pertamax untuk mengurangi sisa jatah premium yang sudah terlanjur dibeli.

Pertalite sendiri secara oktan sudah sama dengan ketersedian bensin impor.
Alasan lain menaikkan harga BBM, karena harus impor bensin RON>88

Dikatakan Sugiharto, karena lebih mudah mengimpor Ron 90, maka Pertamina tetap menjualnya dengan harga premium Ron 88. Karena apabila bensin Ron 90 harus diturunkan oktannya, memerlukan biaya tambahan lagi.

Penulis berpendapat bahwa pertalite itu impor karena Pertamina dikatakan hanya punya kemampuan untuk menyuling bensin kelas RON 88.
Soal penghapusan premium dan pertamax dijual jadi 7500, kekayaan indonesia itu untuk memakmurkan rakyat atau untuk memakmurkan pertamina sih bro?

Ia menjelaskan, lima kilang pengolahan minyak yang dimiliki Pertamina, empat di antaranya umurnya sudah sangat tua. Produksi yang bisa dihasilkan pun berkualitas rendah atau RON 88.

Selama ini, kilang lebih banyak mengolah RON 88 yang merupakan pencampuran RON 92 dan Naphtha.

Untuk kawasan Asia Tenggara, menurut Faisal, Indonesia adalah pembeli tunggal bensin RON 88. Bensin yang diimpor dengan spesifikasi RON 92 seperti Mogas 92 (setara pertamax), harus diolah lagi agar menghasilkan bensin premium atau RON 88. Ia menyebut, secara implisit ada keharusan mem-blending bensin impor, sehingga spesifikasinya sama dengan RON 88. “Blending dilakukan lewat penambahan Naptha dengan persentase tertentu pada bensin yang kualitasnya lebih tinggi, misalnya RON 92, sehingga spesifikasinya sama dengan RON 88,” kata dia.

Jadi bila pertalite sudah bukan lagi bensin oplosan, kualitas menjadi lebih baik terutama dari sisi performa.

Entah ini suatu keuntungan atau kerugian. Yang jelas pembelian bensin bersubsidi merek premium sekarang sudah mulai dibatasi. Bensin pertalite bukan bensin bersubsidi namun sepertinya dengan sudah tidak lagi bensin oplosan sehingga tenaga dan irit menjadi jauh lebih baik dari bensin produksi pertamina.

Semoga saja pertamina membeli bensin impor bukan hanya cari yang paling murah namun juga mempertimbangkan konsumen yang butuh irit, awet dan performa. Selama ini bensin yang dijual pertamina dari sisi performa jauh ketinggalan dari bensin diluar negeri. Kendaraan sama persis tapi kalau di luar negeri bisa lebih kencang.

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s