Kontroversi inreyen atau break in, ada cara kasar dan cara halus, mana yang benar?


Dari komentar bro wong deso penulis jadi tertarik untuk membahas soal inreyen atau break in karena ternyata ada dua cara yang perbedaannya ekstrem. Yang satu dipakai secara kasar dan yang satu dipakai secara halus.

Cara halus dianjurkan dari pihak pabrikan. Akselerasi tidak boleh gas pol, mengerem tidak boleh ekstrem. RPM juga dibatasi.
Ninja 250R Engine Break-In ( Inrijden) May 17, 2008

Untuk kali ini kita akan paparkan penanganan break in Ninja 250R ala pabrikan Kawasaki. Berikut dikutip dari halaman 44 manual Ninja 250R 2008 versi USA

The first 1.600km (1.000 Miles) that the motorcycle is ridden is designated as the break-in period. If the motorcycle is not used carefully during this period you may very well end up with a “broken down” instead of a “broken in” motorcycle after a few thousand km.

The following rules should be observed during the break-in period:
0-800km (500 Miles) Maximum 4,000 RPM
800-1600km (500 – 1000 Miles) 6,000 RPM

Do not start moving or race the engine immediately after starting it, even if the engine is already warm. Run the engine for two to three minutes at idle speed to give the oil a chance to work up into all the engine parts.

Do not race the engine while the transmission is in neutral.

toyota.astra.co.id – Perlakuan Khusus Yang Harus Diberikan Saat Mobil Toyota Masih Dalam Masa “Inreyen”

Selama masa inreyen pemilik mobil tidak boleh kasar saat mengemudikan mobil, hal ini penting agar proses pelumasan berjalan sempurna ke tiap komponen. Kemudian khusus untuk mobil manual, juga wajib mengendarakan mobil dengan normal. Artinya tidak memindahkan gigi pada RPM tinggi atau melakukan perpindahan gigi dengan cepat. Hindari berkendara dengan RPM tinggi.

Motor Baru? Patuhi Masa Break In Agar Mesin Lebih Awet!

Mesin jangan langsung digeber full. Misal dalam 500km pertama, pastikan mesin tidak sampai digeber hingga 6 ribu RPM. Sesekali boleh-lah, tapi itu juga dalam tempo singkat saja. Misal, saat ingin menyalip kendaraan lain.

 

Sementara cara kasar terutama diinspirasi oleh Motoman dari mototuneUSA. Motor justru digeber dan dipakai secara ekstrem. Oli pertama juga tidak boleh sintetik dan harus mineral.
Break In Secrets – How To Break In New Motorcycle and Car Engines For More Power

Tlarge numbers of people have done a direct comparison between my method and the owner’s manual method, and the news of their success is spreading rapidly. The results are always the same… a dramatic increase in power at all RPMs. In addition, many professional mechanics have disassembled engines that have used this method, to find that the condition of the engine is much better than when the owner’s manual break-in method has been used.

These same break in techniques apply to both steel cylinders and Nikasil, as well as the ceramic
composite cylinders that Yamaha uses in it’s motorcycles and snowmobiles.

What’s The Best Way To Break-In A New Engine ?? The Short Answer: Run it Hard !

Why ?? Nowadays, the piston ring seal is really what the break in process is all about. Contrary to popular belief, piston rings don’t seal the combustion pressure by spring tension. Ring tension is necessary only to “scrape” the oil to prevent it from entering the combustion chamber.

The Problem With “Easy Break In” … The honed crosshatch pattern in the cylinder bore acts like a file to allow the rings to wear. The rings quickly wear down the “peaks” of this roughness, regardless of how hard the engine is run.

There’s a very small window of opportunity to get the rings to seal really well … the first 20 miles !!

If the rings aren’t forced against the walls soon enough, they’ll use up the roughness before they fully seat. Once that happens there is no solution but to re hone the cylinders, install new rings and start over again.

The loss in power from an easy break-in and the resulting poor ring seal can be anywhere from 2% – 10% !! In other words: The gain in power from using this break-in method can be anywhere from 2% – 10% !!

How to properly break-in your new motorcycle engine

Ive been building/rebuilding my engine several times and if i change a bore kit, I always follow the hard breakin process by MotoMan.

As long as its properly done, doing a hard breakin is Good for you and your engine. it will make your motorcycle run faster, more power compared to other similar bikes that follows the manual booklet “baby” breakin process.

The main idea of engine breakin is to properly seat-in the piston ring to the cylinder wall. That can be achieved by putting “load” to the ring to expand it well to scrape off the micro peaks in the cylinder wall. This will give your bore best sealing ever with best performance.

Now to provide load to the ring, You need to accelerate hard! That can be achieved by revving up your throttle the moment you get your bike or built the engine. Just make sure that your engine is in normal operating temperature. Thats idling it for 2-3 minutes then do the hard break in process.

To summarize:
-Rev up your throttle in every gear (but not the top/last gear)
-Decelerate by downshifting
-Vary your RPM/ Play with the throttle
-Wide open the throttle no more than 5 seconds
-Do it several times
-Change oil after the initial break in process is done (around 50-100kms)

Beberapa blogger mempergunakan cara ini juga:
Berdianto Widyastomo – TIPS INREYEN MOTOR BARU

Lupakan cara lama dalam memperlakukan mesin baru dengan cara memperhatikan batasan RPM tertentu dalam jarak tertentu, lebih baik dikendarai secara biasa saja (normal use) yang membiarkan mesin bekerja secara bebas (tetapi jangan sampai batas merah) dan jangan juga di beri beban berat (misalnya penggunaan gigi tinggi pada kecepatan rendah atau lebih baik tidak dipakai boncengan).

Jangan menggunakan oli sintetis. Hal ini selain memperlambat bed in karena kelicinannya juga dapat memperpendek umur mesin. Bearing dan silinder menjadi terlalu licin sehingga tidak bisa menghasilkan film untuk memegang oli yang lewat. Jadi kalau inreyen pakai oli standar pabrik yang mineral aja, selain murah hasil terbaik.

Menghidupkan motor dari keadaan dingin. Kerusakan yang paling besar dari sebuah mesin kebanyakan terjadi pada start awal dari dingin. Oli masih sulit untuk bersirkulasi dan juga oli masih berada di bawah yaitu di bak oli. Untuk menolong hal ini, gunakan kick starter beberapa kali dalam keadaan mesin mati.

Jadi sekali-sekali motor bawa kebut untuk membuat mesin bersih dan sehat tanpa melupakan tanggung jawab kita sebagai pengendara motor yang sopan.

Tips Inreyen Motor ala Hard Break In

inreyen tidak harus mengikuti buku manual alias jangan geber2 dsb. justru disinilah mesin harus digeber2. pembuatan komponen mesin sudah sedemikian canggihnya jaman sekarang, jadi tingkat ke-presisian antar parts sudah bagus.

Catatan penting berikutnya tentang Hard Break-In :
JANGAN GUNAKAN OLI SINTETIK !
a. ganti oli bawaan pabrik dan filter oli setelah 20 mil (32km) pertama (kayanya tetep pake oli mineral)
b. ganti oli mineral ke-2 ini setelah 1500 mil (2400 km)
c. setelah itu, gunakan oli mesin dengan merk keinginan Anda. kayanya boleh pake yg semi atau full sintetik

Inreyen Motor Baru, Geber Aja Lagi!!! Agustus 4, 2007

Motor baru saat ini tidak lagi seperti motor pada zaman dahulu. Teknologi yang dikembangkan dalam divisi produksi dan yang dirakit di jalur asembli membuat mesin kini jauh lebih presisi dibanding pada motor era sebelumnya. Teknologi pembuatan silinder sudah demikian bagusnya. Dari sisi metalurgi pun kini lebih bagus. Apalagi untuk mesin-mesin berperforma tinggi. Penggunaan silinder DiAsil atau lapisan penguat lainnya sudah menjamin kualitas bahkan sebelum motor keluar dari pabrik.

Kebiasaan lama untuk mempertahankan motor pada kecepatan konstan sekian lama tidak diperlukan lagi. Tidak perlu memainkan gigi satu di putaran 20-30 km per jam, gigi 2 di 30-40, lalu gigi 3 di 40-50. Tidak perlu pula step-step dan jaga kecepatan semacam itu. Malah membahayakan kesehatan mesin karena bisa memicu over heating dan merontokkan mesin. Para tuner masa kini malah menyarankan langsung geber. Gunakan kecepatan untuk memaksimalkan proses pembersihan mesin dari serbuk metal sebelumnya. Lagi pula jangan khawatir, kali ini serbuknya jauh lebih halus.

Di samping itu jangan ragu untuk menggunakan engine brake. Engine brake adalah proses di mana pengendara menutup gas dengan cepat sehingga mesin ikut membantu deselerasi. Ini akan membantu proses “belah” duren alias melicinkan proses inreyen. Jadi bertentangan dengan sikap sejumlah biker yang menghindari engine brake karena takut mesin rusak, di sini malah dianjurkan.

setiap hendak melakukan break-in, jangan lupa memanaskan mesin secukupnya. Tanpa pemanasan yang cukup break-in tidak akan maksimal dan membahayakan mesin.

 

Terlihat ada perbedaan konsep antara tujuan hard break in nya motoman dengan yang diposting oleh blogger Indonesia. Tujuan dari motoman melakukan hard break in adalah membuat ring piston lebih menutup dengan memanfaatkan tekanan udara dari menjalankan mesin dengan beban berat. Tidak bisa dilakukan saat stasioner, harus di jalan di rpm tinggi dan kecepatan tinggi (mungkin di rpm tenaga maksimum). Dan ini dilakukan terutama di 20 mil pertama.

Sementara itu oleh blogger Indonesia diasumsikan mesin lebih presisi sehingga tidak apa apa digeber.

 

Bagaimana dengan penulis? Penulis sendiri penganut inreyen cara halus. Oli pakai yang bagus, inreyen sangat membatasi rpm, 1/3 dari maksimal, tapi tidak dibiarkan idle terlalu lama. Sekarang juga memanasi mesin di atas rpm 2000 kalau untuk mobil, terinspirasi metode membersihkan karbon pakai air.

Hasilnya juga menurut penulis memuaskan. Menurut motoman kalau inreyen pakai cara kasar motor bisa lebih kencang. Tapi itu pula yang penulis alami, inreyen pakai cara halus motor penulis juga kencang kok bila dibandingkan motor lain. Terutama di rpm tingginya atau di jalan antar kota yang bisa terusan gas pol.

Pernah waktu servis Honda Supra Fit X di bengkel lagi dibleyer bleyer sama mekanik dan kebetulan di sebelahnya juga sama ada Honda Supra Fit X juga lagi dibleyer bleyer. Motor sebelah waktu dibleyer bunyi ngoang ngoang punya penulis sampai bunyi nguiing nguing menunjukkan rpm maksimal yang lebih tinggi dan lebih mudah dicapai.

Cara kasar juga bisa bikin mesin kasar. Waktu inreyen Suzuki Shogun 110cc penulis pakai cara halus dan sangat menjaga rpm. Saat di servis di bengkel resmi, motor di bleyer bleyer, setelah servis langsung terasa suara mesin lebih kasar. Sejak saat itu benar benar mewanti wanti mekanik untuk tidak membleyer motor penulis yang lagi direyen. Sekarang sih sekalian nggak ke servis selama masih di reyen.

Membaca manga “Ah! My Goddess” penulis juga jadi lebih yakin. Tokoh utama kuliah di teknik mesin. Tokoh utama melakukan break in dengan cara menjalankan mesin dengan tambahan oli sehingga asap jadi mengepul sangat banyak dari knalpot. Saat lomba kendaraan tokoh utama lebih kencang walau kendaraan sama sama baru dibeli. Walau ini terkesan mengada ada, penulis percaya dengan itu karena hasilnya sesuai dengan yang penulis dapatkan.

Jadi untuk penulis cara inreyen yang benar adalah cara yang halus, terutama di pembatasan rpm maksimal, namun juga penulis menjaga agar mesin berjalan di kondisi optimal, tidak tersendat sendat karena pakai rpm terlalu rendah. Jadi rpm minimal dibatasi, rpm maksimal juga dibatasi. Dan hasilnya menurut penulis sangat memuaskan.

Bila ada yang menganggap cara penulis salah, mungkin perlu dilihat buktinya dulu. Karena walau motoman klaim bahwa cara hard break in bisa meningkatkan performa, buktinya tidak ditunjukkan. Bukti foto juga mencurigakan. Satu seperti habis dibersihkan (tidak ada kerak karbon sama sekali), sementara yang satu lagi nggak dibersihkan.
motoman hard break in

Coba bandingkan yang berikut ini, iklan oli mesin, sisa kerak karbon masih ada:
penzoil clean

Jadi bukti yang ditunjukkan motoman itu bisa jadi karena beda oli.

Sementara itu dengan cara soft break in, kendaraan penulis bisa lebih kencang dari yang lain, baik di motor ataupun mobil. Perbedaan terasa terutama di rpm yang terasa lebih tinggi (lebih nging). Contoh perbedaan performa kalau di mobil, akselerasi di rpm tinggi terlihat berbeda walau di rpm rendah lumayan setara:

 

Hal lain yang harus diperhatikan adalah pelumas. Tujuan dari inreyen atau break in adalah memperhalus permukaan, dan bukan membuat permukaan jadi aus. Menurut link yang di share oleh bro Motorsport Engineering, aus terjadi paling parah pada saat break in:
How to Combat Break-in Wear

58% of lubrication professionals say break-in wear has caused problems in the machines at their plant, according to a recent poll at MachineryLubrication.com

Hal yang sangat mempengaruhi keausan adalah pelumas. Pelumas yang bagus akan membuat permukaan logam di mesin terlindungi sehingga gesekan akan membuat permukaan mesin makin halus. Bila pelumas tidak bekerja sempurna, maka gesekan akan justru membuat permukaan mesin jadi aus atau baret baret.

Sayangnya pelumas dari bawaan pabrik seringkali tidak bagus. Sehingga penulis menyarankan agar mulai dari awal mempergunakan oli yang bagus. Dengan oli yang bagus maka keausan antar permukaan akan berkurang. Oli yang banyak disarankan di grup long drain interval adalah pertamina fastron diesel atau fastron techno. Kekentalan silahkan pilih yang sesuai, baik dari sisi anjuran buku manual motor atau peruntukan suhu.

Dengan oli yang terlalu bagus akan membuat masa break in lebih panjang (menurut link diatas), namun ini akan mengurangi resiko keausan. Dengan oli yang jelek membuat masa break in atau inreyen lebih pendek, namun bila sampai aus, maka justru performa jadi menurun dan mesin jadi kasar dan tidak enak dipakai.

 

Sebagai perbandingan, berikut cara inreyen kalau untuk motor yang dioversize.
Cara break-in atau inreyen mesin yang di oversize

Setelah dibubut seukuran dengan piston, dinding silinder masih keset dan belum proporsional untuk pergerakan naik turunnya piston (masih terlalu sempit) sehingga perlu penyesuaian lagi.

Masukan piston dan lumasi dengan solar piston dan silindernya, kemudian gerakkan maju mundur gerakkan sampai benar-benar licin, atau tidak keset dan sempit lagi.

Nah, untuk reyen nya silahkan ambil ember dan selang serta air. Hidupkan mesin pada posisi langsam ( +-1500 rpm) selama 3-4 jam. siram mesin secara terus menerus agar tidak overheat dan menyebabkan piston nyingset. Setelah itu istirahatkan mesin selama +- 6 jam baru di start lagi selama 3-4 jam lagi seperti pada awal tadi.

Hari kedua panaskan mesin dan biarkan langsam seperti pada hari pertama. Setelah 6 jam ulangi lagi dengan langsam +-1800 rpm selama 2 jam. Setelah selesai istirahatkan sekitar 15 menit lalu nyalakan dan coba bukaan gasnya dan coba test drive pelan sejauh 2 km untuk penyetelan kopling dll.

Hari ketiga coba test drive sejauh +- 15 km, dengan maksimum 4000 rpm atau +-40% dari top rpm motor dengan maks menggunakan gir terakhir kedua atau satu gigi sebelum gigi puncak motor.

Setelah itu silahkan ganti oli, oiya wajib menggunakan oli mineral ya untuk inreyen.

Nah, selesai inreyen jangan dipakai ngebut dulu, maksimal di 50% rpm puncak selama +- 500 km atau pas ganti oli. Setelah itu gunakan maks 70% dari maks rpm sampai +-1500 km dan ganti oli.

19 thoughts on “Kontroversi inreyen atau break in, ada cara kasar dan cara halus, mana yang benar?

  1. ane jadi malu… hehehe…

    by the way, cara motoman ini udah ane coba pada R25 dan mobil om… lumayan hasilnya, motor tidak rewel… bahkan saat isu recall R25, motor ane sehat sehat saja justru habis recall jadi bermasalah…

    sedangkan mobil, sudah mendekati 7 tahun tenaganya masih seperti baru… yg baru malah kalah akselerasinya om…

    ane juga pernah pake cara halus saat masih punya jupiter mx, memang tidak ada kendala berarti sih… motor keburu dijual hehehe…
    pernah juga rx-king pake cara halus, abis turun mesin malah kurang galak…

    cuma saran aja om, coba sendiri pasti ketahuan bedanya… apalagi saat mesin sudah berumur…

    kalo ga salah dulu pernah juga dimuat tabloid otomotif, orang yg mengikuti cara motoman dalam tuning intake dan out port, mesin thunder 125…. sayang dibantah keras…

    Suka

    • Sip, terima kasih sharingnya. Sip juga bila sudah lama tarikan bisa lebih enak dari yang baru.

      Kalau menurut saya, orang orang jarang melakukan break in. Kebanyakan langsung pakai. jadi tanpa hard break in ataupun soft break in. Itu juga mungkin yang bikin motor di break in lebih kencang baik cara soft ataupun hard.

      Untuk coba soft break in di motor saat umur sudah lama rasanya top speed/akselerasi masih ok.

      Ada dua lagi yang jadi membuat saya memilih soft break in.

      1. Dulu pernah break in Honda Grand. Masih nyis. Saat dipakai rpm masih pakai yang rendah, tarikan masih enak. setelah itu pingin coba, kecepatan dinaikkan jadi 70km/h. Tarikan jadi nggak enak dan seterusnya nggak enak. Setelah itu tidak lagi memaksa rpm tinggi.

      2. Dulu saat mesin masih senyap knalpot masih merdu, suara knalpot motor baru terdengar jelas berbeda. Lebih dring, bening dan tegas. Bila selama inreyen rpm dijaga, maka suara akan tetap tegas dan kuat, namun setelah digeber maka suara knalpot jadi tidak tegas lagi.

      Tenaga hasil break in selain dapat rpm tinggi, tenaga di rpm rendah juga lebih ok.

      Tambahan lagi, oli bawaan motor kelas menengah kebawah biasanya kualitasnya dibawah standar, jadi kalau dipakai kencang maka permukaan logam bukannya makin halus tapi justru makin kasar seperti diamplas pakai amplas kasar karena perlindungan mesin kurang.

      Suka

    • link yang bagus. Iya, kadang ada yang bangga bila saat ganti oli pertama ada banyak gram besinya. Bisa jadi gesekan logam satu sama lain tidak bikin makin mulus tapi justru makin kasar bila pelumas tidak bagus, sepertinya ini yang banyak terjadi sekarang, karena oli bawaan motor kurang bagus.

      Suka

  2. Masih banyak mitos mitos yang berkembang di masyarakat soal mesin, rata rata karena kurangnya knowledge dan kebiasaan buruk yang berdasarkan pengalaman yang belum tentu benar.

    Suka

  3. kalo ane ga percaya mitos…
    fakta, logika, dan mencoba adalah jawabannya…

    yg jadi pertanyaan sudah dicoba atau belum???

    kalo ane udah. hehehe

    Suka

    • Sayangnya sekarang sudah agak susah untuk saya membandingkan karena sudah pakai alat. Yang jelas saya pakai inreyen halus tidak terhalangi lebih kencang dari kendaraan sekelas. Biasanya saingan dengan kendaraan cc lebih besar baik itu mobil ataupun motor.

      Performa 10% lebih baik yang dikatakan motoman itu sangat besar pengaruhnya kalau dijalan.

      Suka

  4. apakah mencoba dan mengetahui hasilnya berdasarkan “feeling” menjadi sebuah tolak ukur untuk keberhasilan? Rata rata mitos yang berkembang berlogika, namun apa yang menjadikannya sebuah mitos? Test berdasarkan data, pengujian yang proper dan sesuai dengan ilmu pengetahuan, jadi apakah anda sudah mengirimkan sample tersebut ke institusi yang neutral untuk diuji?

    Suka

  5. motorsport enginering, sepertinya tau banyak….coba donk ane mau tau motornya apa?
    trus sudah melakukan inreyen cara apa?
    membandingkannya bagaimana? apa dikirim juga ke institusi yg netral?

    Suka

  6. Om kalau cara inreyen mobil diesel yang bagus gimana ya om biar mesin tetap halus dan tetap kencang? Kalo efek dari tutup oli lupa tidak dikasih ring nya apa ya om? Mks

    Suka

    • Kalau menurut saya saat inreyen mesin jangan dipaksa rpm tinggi dan rpm rendah. Memanasi mesin pun tidak dibiarkan idle tapi dijaga di rpm 1500-2000 an kalau mesin diesel.

      Kalau tutup oli tidka dikasih ring sepertinya tekanan dari dalam ruang oli jadi bisa mengalir lewat tutup oli, normalnya tekanan mengalir melalui saluran PCV.

      Suka

      • Oiya om mks. Apakah jika mesin lupa tidak dikasih ring di baut pembuangan oli apakah aman Om soal kemarin lupa pas isi oli om soal baru blm ada 100 km pemakaian om

        Suka

        • Sebelumnya saya kira ring karet. Kalau ring nya yang besi tidak masalah selama tidak ada bunyi bunyi aneh. Karena kadang busi penutup kalau terlalu masuk ke dalam bisa membentur komponen. Bila tidak ada suara benturan maka tidak masalah. Kalau pemasangan rapat maka aman.

          Kalau tidak yakin dibuka saja kemudian oli yang keluar dipakai lagi.

          Suka

  7. simple nya gini
    break in membuat ring piston bagus, tapi komponen lain cepat rusak (gear, cam dll)
    slow inreyen sebaliknya,,

    nah, untuk membuat ring piston bagus tapi komponen lain awet, ada solusinya
    proses inreyen dilakukan 2x, pertama slow inreyen untuk membuat komponen lain menyesuaikan,, iya efeknya power berkurang tapi mesin halus. kalo sudah bongkar mesin, ganti ring piston dengan yang baru baru lakukan break in untuk membuat ring piston yang bagus

    Suka

    • Saya tetap tidak yakin itu bagus untuk ring piston, karena dari cara break in setelah oversize saja caranya pakai kalem kalem.

      Untuk komponen lain, iya, hard break in lebih bikin aus.

      Bagi saya yang penting mulai dari baru oli mesin harus yang bagus. Break in kasarpun nggak akan banyak bikin aus kalau oli mesinnya bagus. Problemnya, oli motor bawaan dari pabrik untuk Yamaha dan Honda kurang memadai. Yang beat malah parah, dari mulai awal suara mesin sudah kasar.

      Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s