Memanasi mesin cara kontroversial dengan langsung jalan atau tidak dibiarkan idle


Penulis cuma ingin sharing cara memanasi mesin, yang sudah lama penulis terapkan mulai dari jaman masih pakai motor 2 tak.

Beberapa orang punya kebiasaan untuk memanasi mesin sebelum dipakai. Waktu memanasi biasanya dalam hitungan menit. Alasan memanasi mesin macam macam. Ada yang biar olinya naik, ada yang biar mesinnya siap, dst.

Kalau dari pabrikan, biasanya menganjurkan memanaskan mesin tidak terlalu lama.
Masih Perlukah Memanaskan Mesin Sepeda Motor?

Sarwono Edi, Technical Service Training Manager PT Astra Honda Motor (AHM), menjelaskan, sepeda motor injeksi sudah jauh lebih ”pandai” ketimbang yang menggunakan karburator. Kebutuhan bahan bakar untuk mesin sudah diatur oleh Engine Control Module (ECM) dan tak perlu menarik handel gas ketika dipanasi.

”Cukup 30 detik dan maksimal 1 menit. Biarkan stasioner saja, dan oli sudah dapat bersirkulasi dengan baik pada putaran mesin stasioner. Tidak perlu digeber-geber karena akan sia-sia,” ujar Edi.

Memanaskan mesin tak lebih lebih dari satu menit, menurut Sarwono ada beberapa keuntungan. Pertama, mesin sudah mendapat sirkulasi oli dengan baik. Kedua, suhu mesin sudah cukup hangat untuk melakukan perjalanan (running), dan ketiga, efisien dalam penggunaan bahan bakar atau tidak banyak terbuang percuma saat dipanasi.

 

Penulis sendiri sudah bertahun – tahun memakai kendaraan tanpa pakai memanasi mesin. Kalau motor sudah bisa jalan ya langsung jalan. Namun jalan tidak langsung kencang tapi akselerasi secara perlahan, dipakai santai dulu beberapa saat. Ini sudah penulis lakukan di bermacam motor. Hanya terakhir ini saja terpaksa harus memanasi motor selama beberapa detik karena setelan karbu dibuat maksimal iritnya.

Kalau dibilang cara memakai tanpa memanaskan mesin merusak, penulis tidak setuju. Memang acuan merusaknya apa? Bila acuannya halusnya mesin sebagai pertanda keausan mesin, toh buktinya yang pada gemar memanaskan mesin berlama lama, dari yang penulis amati pada tetangga dan rekan kerja, suara mesin kendaraan mereka pada kasar semua. Suara mesin kendaraan penulis justru lebih halus.

Menurut penulis kerusakan pada mesin saat masih dingin terjadi bukan karena pemanasan yang salah tapi pilih olinya yang salah. Oli yang bagus akan melindungi mesin walau mesin masih dingin. Oli yang bagus juga akan lebih cepat naiknya untuk melindungi komponen yang bergerak. Contoh video berikut ini memberikan ilustrasi lebih jelas, terlihat bahwa dua oli punya perilaku berbeda terhadap girnya:

Yang berikut lebih ekstrem, pakai beberapa gir berkesinambungan:

Di video pertama terlihat bahwa oli bisa melumasi seluruh gir dalam waktu sangat singkat. Jadi ini membantah alasan memanasi mesin untuk membuat oli melumasi.

 

Kasarnya suara mesin juga penulis curigai terjadi karena motor dipaksa berjalan idle berlama lama. Sementara itu mesin yang berjalan idle itu seringkali berjalan tidak mulus, sering tersendat. Pada waktu tersendat ini membuat laher atau bearing menjadi oblak dan komponen jadi tidak presisi lagi. Problem makin parah bila kendaraan dipaksa pakai bensin yang oktannya lebih rendah dari yang diharuskan. Makin parah lagi bila pemilik kendaraan memaksa mekanik dari bengkel untuk menyetel rpm idle lebih rendah. Mungkin maksudnya agar tidak berisik saat idle, namun rpm idle yang terlalu rendah justru bisa bikin suara mesin lama kelamaan makin kasar.

Jadi menurut penulis mesin justru jadi bermasalah karena idlenya kelamaan, apalagi bila setelan idlenya terlalu rendah. Ini terutama terjadi pada motor karena kalau di mobil setelan idle tidak bisa gampang dirubah sehingga setelan selalu standar sesuai setingan pabrik.

 

Ada faktor lain yang membuat penulis sekarang jadi memanasi mobil dengan rpm menengah. Pada video yang penulis kutip di artikel berikut disebutkan bahwa air panas dapat membantu mengurangi kerak pada ruang bakar:
Membersihkan karbon atau carbon clean cukup dengan menyemprotkan air biasa ke mulut intake

Cara pembersihan karbon tersebut sebenarnya ingin penulis coba namun masih belum ada kesempatan karena disarankan dilakukan saat mesin panas dan setelah itu kendaraan dijalankan 10 km lagi. Namun penulis mencoba untuk paling tidak menerapkan metode menjalankan mesin mobil pada rpm 2000-2500 (kalau untuk motor mestinya 4000-5000) pada saat penulis memanasi mesin. Penulis butuh memanasi mobil karena mobil jarang dipakai, dengan tujuan utama untuk mengisi aki.

Yang membuat penulis kaget adalah saat penulis memanaskan mesin adalah ternyata sepertinya cara memanasi mesin mobil seperti itu bisa ikut membersihkan kerak karbon juga. Pada saat itu air yang keluar dari knalpot warnanya jadi hitam. Hitam seperti halnya kerak karbon. Sayang penulis tidak mengambil foto karena pada saat memanaskan mesin berikutnya air yang keluar dari knalpot tidak lagi hitam.

Penulis memanaskan mesin dengan langsung membuat mesin berputar di kisaran 2500-3000 rpm beberapa detik setelah mesin menyala. Penulis menjaga agar mesin berputar di kisaran rpm tersebut selama beberapa menit karena tujuan penulis memanasi mesin adalah untuk mengisi aki. Dari yang penulis coba sebelumnya, arus yang masuk ke aki pada saat idle jauh lebih kecil daripada saat rpm dinaikkan.

Setelah peristiwa tersebut, mobil jadi terasa lebih enak, rasanya seperti setelah di carbon clean. Entah sudah benar benar bersih atau tidak namun efeknya lumayan terasa bagi penulis.

Jadi dengan memanaskan mesin mobil di rpm 2500-3000 pada saat mesin dingin sepertinya bisa membuat mesin lebih bersih. Selain itu dengan menjaga mesin berputar di rpm tersebut aki bisa terisi lebih baik.

 

Cara pakai kendaraan tanpa pakai dibiarkan idle lebih dahulu bisa dibilang sesat, namun penulis akan tetap memakai cara ini karena penulis tidak melihat adanya masalah. Baik dari sisi kehalusan mesin atau performa, cara yang seperti ini rasanya juga tidak menghambat performa karena performa kendaraan penulis memuaskan selama oli mesinnya pakai yang baik.

Bila perlu pakai maka kendaraan langsung bisa dijalankan walau mesin masih dingin, asal startnya jangan langsung rpm tinggi. Bila kendaraan terasa sudah mulai butuh carbon clean, kendaraan dipanasi dengan rpm menengah mulai dari saat mesin masih dingin. Hindari memanasi dalam kondisi idle.

7 thoughts on “Memanasi mesin cara kontroversial dengan langsung jalan atau tidak dibiarkan idle

  1. Ane sependapat dgn penulis ttng hal ini.
    Pemilihan oli yg bagus sangatlah penting saat menghidupkan mesin pada pagi hari (cold startup), karena 90% kerusakan mesin terjadi pada saat cold startup.
    Memanaskan mesin saat dingin (pagi hari) dgn mengeber-geber gas dapat mempercepat keausan mesin, karena saat dingin oli msh di dasar mesin, jika gas digeber maka oli blmlah bersikulasi ke semua bagian mesin, akibatnya akan terjadi gesekan antar komponen mesin yg blm terlindungi oleh oli. Selain itu bbm juga akan terbuang sia-sia.
    Dan ane perhatikan, orang yg memanaskan dgn cara digeber gasnya, umumnya adalah orang yg (maaf) berumur. Mungkin pada jaman dulu, ketika perkembangan mesin dan oli blm lah maju spt saat ini, cara tsb adalah benar. Akan tetapi ketika cara kuno tsb di terapkan pada mesin modern, malah akan mempercepat keausan mesin.

    Klo ane tdk pernah memanaskan mesin sebelum dipake. Ane langsung nyalakan mesin, kemudian menunggu rpm turun ke rpm idle-nya, yaitu antara 1000-1200rpm utk bebek. Karena mesin saat pertama kali dinyalakan saat pagi, pasti rpm akan meninggi dulu (1400-1600rpm), kemudian selang beberapa detik akan turun dgn sendirinya (1000-1200rpm). Nah pada saat itu lah ane jalankan motor ane.
    Akan tetapi tdklah langsung ane pake pada rpm tinggi. Pelan pelan dulu, kemudian saat pindah gigi, ane pastikan tdk melebihi 3500rpm, hal ini ane lakukan sampai gigi tertinggi, baru gas digeber maksimal 3000rpm secara konstan selama 10-15 mnt. Setelah 15mnt lewat, baru ane geber gas sesuai dgn kehendak hati ane.

    Oh iya, motor ane pasang aksesori tambahan berupa tachometer digital.

    Suka

    • Terima kasih sharingnya. Iya beberapa memang menggeber motor sampai meraung raung.

      10 menit apa tidak terlalu lama?

      Kalau saya selain limit maksimal rpm juga ada limit minimal. Jadi tidak hanya membatasi gas agar tidak terlalu tinggi tapi juga agar tidak terlalu rendah. Menjalankan mesin pada kondisi dimana mesin paling halus.

      Menstabilkan rpm rendah bisa dibantu dengan modif untuk rpm rendah macam modif tornado, busi kaki tiga, atau pakai ionisasi bensin macam magnet, cemenite atau pro capacitor.

      Suka

  2. […] Tanpa pembersihkan karburator atau throttle body, rasanya servis akan jadi jauh lebih murah. Bahkan kalau kita bisa membersihkan filter udara sendiri, maka servis ke bengkel pun rasanya tidak terlalu perlu. Pelumasan atau pengecekan kita lakukan sendiri. Yang penting ganti oli dilakukan berkala. […]

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s