Menentukan kualitas oli mana bisa pakai spesifikasi datasheet?


Saat membahas oli mesin atau transmisi, tentu bro sering disarankan atau menyarankan untuk melihat datasheet, baik itu technical datasheet (TDS) ataupun material safety datasheet (MSDS). Banyak yang pakai acuan dari datasheet untuk membandingkan oli. Banyak yang menentukan kualitas oli dengan menggunakan TDS. Banyak yang memutuskan jadi tidaknya pakai oli berdasarkan dari datasheet.

Contohnya sebagai berikut:
testimoni 1

testimoni 2

testimoni 7

testimoni 9e

 

Bagi penulis, datasheet itu tidak bisa dipakai menentukan kualitas dari oli dan seharusnya tidak dipakai sebagai penentu layak tidaknya suatu oli.

Alasannya sebagai berikut:

Kadang carinya susah atau malah tidak tersedia

Tidak semua oli menyediakan datasheet. Beberapa juga menyediakan hanya pada produk tertentu saja. Datasheet yang tersedia pun kadang tidak selengkap datasheet oli lain.

Kadang juga walau data oli tersedia, seringkali susah dicari karena tidak di link di alamat website resmi. Jadi data terpaksa harus dicari di website penjual atau dealer oli yang tidak resmi.

Untuk mencari datasheet oli penulis menggunakan kata kunci berikut ini:

"kinematic viscosity" ASTM

 

Tinggal ditambahkan nama olinya. Biasanya akan langsung dapat link olinya. Bila ingin khusus yang versi pdf bisa dirubah menjadi:

filetype:pdf "kinematic viscosity" ASTM

 

Oli yang tidak ada ada datasheetnya atau kurang lengkap sering dianggap sebagai oli yang jelek. Padahal oli yang ada datasheetnya juga belum tentu oli yang bagus.

Data yang ada tidak menentukan kualitas

Data yang biasa tercantum di spesifikasi teknik dari oli tidak banyak. Yang umum ditampilkan pada TDS adalah sebagai berikut:
FASTRON SYNTHETIC SAE 10W-40 & 5W-30 spec

Data yang sering ditampilkan adalah: Density, Kinematik Viscosity, Viscosity Index, ASTM Color, Flash Point, Pour Point dan TBN. Beberapa juga menampilkan data HTHS.

Menurut penulis data tersebut tidak bisa mencerminkan kualitas karena data tersebut bisa diabaikan. Penjelasannya berikut ini:

Data density seringkali sama antara satu oli dengan yang lain. Bila berbeda maka bedanya hanya sedikit sekali.

Kinematic Viscosity, Viscosity Index, dan HTHS hanya merupakan data yang berhubungan dengan kekentalan. Data bisa diabaikan karena ini lebih ke soal selera. Mau yang efisiensi tenaga (pakai oli encer) atau mau yang untuk awetnya (pakai oli kental). Oli encer maka KV dan HTHS pasti rendah. Oli kental pasti KV dan HTHS tinggi. Oli yang VI tinggi maka waktu dingin lebih encer, tapi di kondisi alam kebanyakan daerah Indonesia yang tidak pernah dingin beku, maka VI yang tinggi juga tidak berguna karena oli kental pun tetap encer.

Soal mengapa VI dan HTHS tidak penting juga bisa dibaca di artikel panjang berikut:
Oli yang bagus untuk mesin itu tidak butuh viscosity index yang tinggi tinggi amat, banyak yang salah mengerti soal VI dan HTHS

Dari artikel tersebut dijelaskan mengapa VI tinggi atau HTHS tinggi tidak berarti olinya lebih berkualitas.

Data Flash Point tidak banyak diperhatikan karena faktor penguapan bisa berbeda dari data flash point.

Data Pour point tidak banyak diperhatikan karena seringkali berada jauh dibawah suhu terendah yang bisa dialami di Indonesia.

TBN mungkin penting tapi seringkali sudah melebihi dari yang disarankan. Sehingga bila ditunjukkan pun tidak bisa dipakai sebagai acuan untuk menghindari atau memakai oli tersebut.

Kebetulan yang berikut juga setuju:
Pengujian independen terhadap keausan dari banyak merek oli memberikan kesimpulan sebagai berikut:
540 RAT – TECH FACTS, NOT MYTHS, Q AND A, June 20, 2013, MOTOR OIL ENGINEERING TEST DATA

So, it’s quite clear by looking at these results, that high zinc levels, high detergent levels, and heavy viscosities do NOT play any particular roll in how well a motor oil does or does not provide wear protection. The only thing that matters is the base oil and its additive package “as a whole”. Looking at zinc levels, detergent levels, and viscosities on an oil’s spec sheet, will NOT help you choose a motor oil that provides the best wear protection. If that is all you go by, you will be kidding yourself about how good any particular oil is.

Dikatakan bahwa berdasarkan hasil dari banyak pengujian tersebut zinc tinggi, detergen tinggi, atau lebih kental tidak berpengaruh pada seberapa bagus daya perlindungan suatu oli. Yang lebih penting adalah kombinasi dari base oil dan paket aditif secara keseluruhan. Melihat data jumlah zinc, jumlah detergen atau kekentalan di data spesifikasi tidak akan bisa membantu kita menentukan oli mana yang perlindungan nya paling kuat terhadap aus.

 

Data bisa dikira kira dari informasi lain

Data data yang ada di biasa tercantum di TDS sebenarnya sudah bisa dikira kira. Jadi tanpa harus melihat datasheet kita sudah bisa mengira ngira berdasarkan dari misalnya SAE grade atau jenis olinya.

Oli yang dibuat dari bahan sintetik VI biasanya lebih tinggi. Dari SAE grade kita bisa memperkirakan Kinematic Viscosity di suhu 100ºC. Seperti yang ditunjukkan berikut ini.
SAE Grade – Viscosity

SAE
Viscosity
Grade[°C]
Min. Viscosity
[mm²/s]
at 100 °C
Max. Viscosity
[mm²/s]
at 100 °C
High Shear Rate Viscosity
[mPa.s]
at 150 °C
0W 3.8
5W 3.8
10W 4.1
15W 5.6
20W 5.6
25W 9.3
20 5.6 <9.3 2.6
30 9.3 <12.5 2.9
40 12.5 <16.3 2.9 *
40 12.5 <16.3 3.7 **
50 16.3 <21.9 3.7
60 21.9 <26.1 3.7

* 0W-40, 5W-40 & 10W-40 grades
** 15W-40, 20W-40, 25W-40 & 40 grades

Terlihat bahwa kekentalan dari oli di suhu 100 derajat menentukan SAE Grade. Jadi dari SAE Grade kita bisa memperkirakan berapa kekentalannya. Tabel tersebut juga menunjukkan bagaimana SAE Winter Grade juga bisa dipakai memperkirakan HTHS. Oli dengan SAE Winter Grade lebih kecil akan punya HTHS lebih kecil. Winter grade juga bisa dipergunakan untuk menentukan Viscosity Index, dimana oli dengan winter grade lebih kecil atau punya selisih lebih banyak dari SAE Gradenya akan punya Viscosity Index lebih tinggi.

 

Data yang ada tidak pasti sama dengan kenyataan dan bisa berubah tanpa pemberitahuan

Di setiap datasheet sering kali dicantumkan kata “typical characteristic”. Kata typical ini bisa diartikan bahwa angkanya nggak pasti, cuma contoh. Beberapa pabrik oli memberikan keterangan tambahan soal ini.

Contoh Shell Helix HX-7 10W-40

These characteristics are typical of current production. Whilst future production will comform to Shell’s specification, variation in these characteristics may occur

Artinya: Sifat ini hanya berlaku untuk produksi sekarang saja. Walau dimasa depan produksi akan tetap sesuai dengan spesifikasi Shell, variasi sifat tetap dapat terjadi.

 

Contoh Motul E-Tech 100 10W-40

We retain the right to modify the general characteristics of our products in order to offer to our customers the latest technical development.
Product specifications are definitive from the order which is subject to our general conditions of sale and warranty.

Artinya: Mereka berhak untuk merubah sifat umum dari produk mereka dalam rangka untuk memberikan konsumen perkembangan teknologi terakhir.

 

Contoh Castrol Magnatec 10W-40

The above figures are typical of those obtained with normal production tolerance and do not constitute a specification.

Artinya: Angka yang ditunjukkan adalah hasil yang didapatkan secara contoh di toleransi produksi yang normal dan tidak menunjukkan suatu spesifikasi.

 

Ketiga contoh tersebut sama – sama bilang bahwa angka yang dicantumkan itu tidak akan selalu sama untuk setiap produksinya dan bisa berubah ubah. Dan memang nyatanya juga begitu.

 

Perbedaan antara spesifikasi di datasheet dengan hasil pengujian di kenyataan bisa dilihat di website PQIA.
Tes PQIA – Mobil 1 5W-30 API SN ILSAC GF-5:
Mobil 1 5W-30 API SN ILSAC GF-5

Spek resmi – Mobil 1 5W-30 API SN ILSAC GF-5:
spek oli mobil 1

 

Tes PQIA – Castrol Edge® 5W-30 API SN ILSAC GF-5
Castrol Edge® 5W-30 API SN ILSAC GF-5

Spek resmi – Castrol Edge® 5W-30 API SN ILSAC GF-5
spek oli castrol edge

 

Tes PQIA – Amsoil Signature Series 5W-30 API SN GF-5
Amsoil Signature Series 5W-30 API SN GF-5

Spek resmi – Amsoil Signature Series 5W-30 API SN GF-5
spek oli amsoil signature

 

Bisa terlihat bahwa hasil pengujian dari PQIA tidak sama dengan apa yang ada di spesifikasi resmi. Sehingga bisa disimpulkan bahwa apa yang tertera di spesifikasi oli itu ada toleransinya. Angka yang dispesifikasi bukan merupakan angka yang mutlak dan tidak dijamin akurat. Dari pihak pabrikan pun sudah memberi tahu bahwa spesifikasi data memang bisa berubah ubah dan bisa dirubah sewaktu waktu.

Beda data dari spesifikasi dan pengujian bisa sampai 10% di contoh diatas. Jadi kalau selisih dari spesifikasi oli yang berbeda masih dibawah 10%, diabaikan saja karena bisa jadi waktu diuji akan bisa terbalik hasilnya.

 

Data yang penting tidak ditunjukkan

Bila kita melihat faktor apa saja yang sebenarnya diujikan agar oli bisa lulus standar, maka kita bisa perhatikan bahwa banyak data penting yang tidak ditunjukkan di datasheet.

Informasi bisa didownload di link berikut:
Engine Oil Licensing and Certification System, API 1509, SEVENTEENTH EDITION, SEPTEMBER 2012
GF ILSAC requirement 1

GF ILSAC requirement 2

GF ILSAC requirement 3

 

Data yang terlihat penting contohnya:
-Wear and oil thickening
-Wear, sludge, and varnish
-Valvetrain wear
-Bearing corrosion
-Fuel efficiency
-Catalyst compatibility
-Volatility Evaporation loss
-Filterability
-Fresh oil foaming characteristics
-Aged oil low temperature viscosity
-Shear stability 10-hour stripped KV @ 100°C
-Engine rusting
-Elastomer compatibility

 

Kesimpulan

Karena data dari TDS tidak bisa dipakai untuk menentukan kualitas suatu oli, maka penulis mengandalkan testimoni atau coba sendiri.

Bila bro menganggap bahwa yang di datasheet bisa dipakai menentukan kualitas, maka silahkan pergunakan. Asal jangan salah dalam mengenali angka petunjuk. Saat penulis membuat artikel tentang VI dan HTHS penulis menjumpai banyak sekali yang mendasarkan pemilihan oli menggunakan datasheet dengan pengetahuan yang salah.

11 thoughts on “Menentukan kualitas oli mana bisa pakai spesifikasi datasheet?

  1. Mengenai perbedaan hasil dari TDS vs PQIA yg selisihnya kurang lebih 10% itu bisa ditoleransi. Ada 2 penyebab kenapa hasilnya bisa selisih sekitar 10%:
    1. Karena setiap lab yg menguji oli tsb berbeda-beda, yg tentu saja hasilnya juga berbeda. Bahkan dgn oli yg sama, lab yg sama, standar pengujian yg sama, ketika di uji lab kan, hasilnya tidak akan bisa 100% sama.
    2. Setiap oli yg sama, akan tetapi kode produksi nya berbeda, juga akan memberikan hasil yg berbeda ketika di uji lab. Hal ini seperti contoh pada pabrik cat, walaupun warna sama, tp kode produksi beda, maka warna juga akan beda sedikit. Begitu juga pabrik oli, tidak mungkin bisa membuat oli yg sama persis 100% dgn produksi oli yg pertama, kedua, dst.

    Selisih 10% itu bisa diartikan bahwa, formulasi utk oli tsb adalah sama, karena jika formulasi oli yg bersangkutan berbeda, maka hasil selisihnya dapat dipastikan melebihi 10%.

    Suka

    • terima kasih informasinya, jadi lebih jelas. Ini bisa jadi pertimbangan bagi yang sekarang membandingkan pakai data spek. Karena saya pernah menjumpai ada yang menganggap oli lain lebih jelek hanya karena VInya lebih rendah, padahal cuma selisih 2. Di artikel sebelumnya yang menjelaskan soal VI bisa dilihat bahwa VI oli Mobil 1 Full Synthetic nggak sama, ada yang 146, ada yang 186. Tentunya baik yang 10W-30 ataupun 0W-40 kualitasnya sama, soal bagus mana mestinya tergantung selera.

      Suka

      • PDS memang tidak bisa digunakan untuk menilai performance pelumas, tetapi dapat digunakan sebagai screening awal dalam memilih pelumas yang sesuai kebutuhan engine atau equipment yang mau kita lumasi.

        Dalam melihat PDS, untuk SAE yang sama tentu typical fisika kimia produk yang ditampilkan dari berbagai brand secara umum tetap sama, karena produsen pelumas harus mengikuti standard SAE J 300 dalam memformulasi pelumas. Yang mungkin membedakan adalah performance claim-nya seperti, API (apakah approved/berlogo donat atau tidak), JASO (apakah hanya memenuhi atau approved), OEM approval (apakah memenuhi atau approved Mecedes Benz, Renault, Catterpillar, Volvo dst), semakin banyak claim standard dan OEM berarti pelumas telah teruji di mesin2 yang mereka sebutkan, dan perlu juga dicermati apakah klaim yang dicantumkan berstatus approved (formulasi yang digunkaan sudah diuji dan disertifikasi oleh standard/oem) atau hanya meet (memenuhi berarti formulasi setipe dengan aditif yang mereka gunakan telah diuji namun formulasi yang mereka gunakan belum pernah dilakukan uji terhadap spesifikasi standard/oem tersebut).

        Dalam pengujian di Lab ada yang namanya Repeatability dan Reproduceibility sehingga memang benar tidak akan diperoleh 2 hasil yang identik. Pada PDS jarang pemasok aditif yang mencantumkan data data bench test (seperti HTHS, MRV, NOACK Volatility, Four Ball Wear, dst) terlebih lagi engine test seperti tersebut diatas, karena dikhawatirkan dispute dalam membaca data jika yang membaca tidak berkompeten/ terbiasa interpretasi parameter uji pelumas.

        Theres no such oil that have very good properties in every test parameter, jadi kalau kita hanya mencuplik beberapa data tidak dapat kita gunakan untuk menilai bagus tidaknya suatu pelumas, menilai tentu harus dari keseluruhan aspek.

        Suka

        • Sip, terima kasih sharingnya.

          Iya, sayangnya pada kenyataannya banyak yang memakai data di spek untuk memilih oli dan banyak yang menterjemahkan salah.

          Dalam menentukan kebutuhan engine pun banyak yang tanpa dasar.

          BTW, websitenya bagus, akan saya sertakan dalam artikel selanjutnya untuk bantu promosi.

          Suka

  2. Kalau saya pakai oli rimula r4+30% atf+10% additif Jumbo diesel ke motor matic. Saya pake racikan tersebut untuk mengurangi kadar tbn yang tinggi. Karena saya pernah baca tbn tinggi pada mesin bensin bisa bikin part mesin sedikit aus. Pernah dibuka kop silindernya dan terlihat ada ash dalam jumlah sedikit, mungkin itu konsekuensinya karena kadar zddp terlalu tinggi. Tapi saya sudah pakai selama 2 tahun, mesin masih halus suaranya dan bbm masih irit juga.

    Suka

  3. […] Jadi susah juga untuk menentukan berapa banyak konsentrasi atau perbandingan rasio pada suatu merek. Oli mineral bisa jadi 100% grup 1 yang kalah bagus dengan yang 100% grup 2. Sama sama mineral tapi beda jauh. Begitu juga oli sintetik, bisa jadi isinya cuma 1% sintetik yang kualitas kalah jauh dengan 50% sintetik. Kita tidak bisa tahu pasti apa kandungan yang ada di dalam oli. Bahkan spesifikasinya pun kita cuma bisa mengira ngira, karena spesifikasi yang di share bukan penentu kualitas oli. Ini sudah penulis bahas di: Menentukan kualitas oli mana bisa pakai spesifikasi datasheet? […]

    Suka

  4. […] Data ini berdasarkan pengujian lab SuperMajor oleh Cauthelia Nandya di tahun 2014. Data ada kemungkinan bisa berbeda dengan yang sekarang ini atau sudah tidak valid lagi, seperti yang sudah pernah dibahas di artikel berikut, bahwa spesifikasi oli itu adalah typical dan bisa berubah sewaktu waktu tanpa pemberitahuan: Menentukan kualitas oli mana bisa pakai spesifikasi datasheet? […]

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s