Curiga pertalite bikin pelan padahal sudah ditambah aditif ecosave ternyata memang bikin tenaga 6% lebih lemah daripada pertamax berdasar penelitian


Pagi ini penulis mencoba pakai pertalite lagi, dan kali ini terasa tenaga makin lemah. Sebelumnya saat coba pertama tenaga terasa berkurang, sementara coba terakhir terasa sama enaknya. Jadi agak bingung mengambil kesimpulan.

Perbedaan dari antara waktu terasa makin lemah dan waktu terasa sama enaknya adalah pada penggunaan bahan bakar sebelumnya. Waktu tenaga sama enaknya itu sebelumnya coba pertamax, lalu premium, lalu pertalite, semuanya pakai pro capacitor. Waktu coba pertama kali tanpa menggunakan pro capacitor dan sebelumnya pakai premium.

Di coba pagi ini pemakaian pro capacitor sudah optimal yaitu akselerasi sudah prima, knalpot suara suaranya keras/tegas, dengan setelan bensin motor Suzuki Spin dibuat yang paling irit setara Honda Beat ESP. Setelah pakai pertalite, tenaga terasa ngedrop, bahkan suara knalpot pun berkurang kerasnya.

 

Memang sih aditif pertalite dikatakan bukan untuk menambah tenaga. Berikut klaimnya:
Keunggulan Pertalite Dibandingkan BBM Lain

Ia menerangkan, Pertalite tidak hanya unggul dari segi RON dibandingkan dengan Premium. Pertalite memiliki zat ecosave yang merupakan formula aditif buatan Pertamina, zat ini mengandung sejumlah formula seperti detergency yang berfungsi membersihkan bagian dalam mesin, corrotion inhibitor atau pelindung karat dan demulsifier untuk menjaga kemurnian bahan bakar.

“Meskipun efek detergency-nya masih lebih baik Pertamax. Intinya Pertalite cocok untuk konsumen yang ingin bahan bakar dengan tarikan mesin yang ringan, bayarnya murah dan mampu melaju lebih jauh,” terangnya.

Tidak jelas mengapa tarikan mesin bisa lebih ringan atau mampu melaju lebih jauh dengan aditif yang tidak menambah tenaga. Kalau di penjelasan lain, demulsifier yang mungkin jadi penyebabnya:
Harganya Kini Beda Tipis dengan Bensin Premium, Ini Kelebihan BBM Non Subsidi

Adiatma menambahkan, sedangkan demulsifier pada Pertamax berfungsi menjaga kemurnian bahan bakar dari campuran air sehingga pembakaran menjadi lebih sempurna.

“Pada setiap bahan bakar pasti ada yang mengandung air ketika berada dalam mesin kendaraan. Dengan adanya demulsifier ini air yang masuk ke dalam bensin akan dihilangkan sehingga pembakaran menjadi sempurna,” ungkapnya.

Jadi klaimnya pembakaran lebih sempurna karena demulsifier menghilangkan air dari bensin (entah hilang kemana). Karena merasa aneh, penulis mencoba mencari tahu sumber informasi lain.

EMULSIFIERS VS. DEMULSIFIERS: WHAT’S THE BEST WAY TO CONTROL WATER IN DIESEL FUEL?

ADVANTAGES OF DEMULSIFIERS FOR CONTROLLING ING WATER IN DIESEL FUEL
For applications where significant amounts of water contamination of diesel fuel has occurred, using a demulsifier may provide the optimum means for controlling water.
.1. Enabling mechanical separation. Causing water to separate out of emulsion may enable mechanical separators and filters to separate small amounts of water from fuel, as these devices are most effective when water in fuel exists as free water or very coarsely emulsified water.
.2. Enhanced energy content. Water in fuel reduces the energy content of the fuel delivered to the combustion chamber simply because any volume of water in fuel delivered to an engine’s combustion chambers necessarily displaces a corresponding volume of fuel, reducing power output and, for over-the-road vehicles, miles per gallon.

DISADVANTAGES OF DEMULSIFIERS FOR CONTROLLING WATER IN DIESEL FUEL
While demulsification would seem to provide “peace of mind” for diesel operators by promising to fully separate water and fuel, hygroscopic properties of both petrodiesel and biodiesel fuels suggest that complete separation of water from diesel may be impractical in many applications, and in the case of emulsified fuel, self‑defeating.

Moreover, in applications where a significant amount of water is present in the fuel tank of a vehicle, separating that water from the fuel might overwhelm mechanical filters and separators, causing anything from a temporary shutdown triggered by a Water In Fuel warning light to a catastrophic failure of fuel system components.

1. For on-vehicle fuel tanks and any other application where the fuel is subjected to mechanical vibration or agitation that would tend to keep any water emulsified in diesel fuel, an emulsifier that both stabilizes that emulsified water-in-fuel mixture and ensures the emulsified water remains in a very fine micro- or nanoscale state is recommended. Similarly, emulsifiers would seem to have an advantage for biodiesel fuels that are more hygroscopic than petrodiesel fuels.

2. Where large-scale water contamination is proven or suspected, use of a demulsifier combined with a mechanical water separator is recommended.

Intinya aditif demulsifier akan memisahkan air dari bahan bakar, dan menambah tenaga / irit. Namun bisa jadi masalah bila kandungan airnya banyak dan butuh pemisah air mekanik.

Demulsifier juga dikatakan bisa mencegah buntunya filter atau nozzle (injeksi).
Optimises four important characteristics of diesel fuels

A demulsifier prevents the combination of diesel with water and thereby prevents filter and/or nozzle clogging

 

Namun tetap jadi pertanyaan mengapa tenaga terasa berkurang? Yang merasakan juga bukan saya saja tapi ada beberapa pembaca juga berkomentar sama:
Jangan pakai pertalite bro! tenaga motor berkurang

 

Kalau dari penelitian, pertalite itu 6% lebih tidak bertenaga daripada pertamax kalau dicobakan di Honda beat:
ANALISA PENGGUNAAN BAHAN BAKAR BENSIN JENIS PERTALITE DAN PERTAMAX PADA MESIN BERTORSI BESAR ( HONDA BEAT FI 110 CC )Moh. Wildan Habibi, Teknik Mesin, Universitas Nusantara PGRI Kediri backup
“Pada putaran 2000 rpm didapat torsi paling tinggi dan daya tertinggi diputaran 2000 rpm, yaitu untuk daya 4.8 kW (pertalite) dan 5.1 kW (pertamax), sedangkan torsi 17 Nm (pertalite) dan 18 Nm. Kadar emisi gas buang paling rendah diperoleh pada putran 3250 rpm untuk HC 20 ppm (pertalite) dan 15 ppm (pertamax), untuk kadar CO 0.12 ppm (pertalite) dan 0.10 ppm (pertamax) sedangkan 4.32 ppm (pertalite) dan 4.30 ppm. Semakin tinggi nilai oktan suatu bahan bakar dan tingginya rpm kadar HC yang dihasilkan semakin rendah.”

Aneh juga bila tenaga Honda beat maksimalnya ada di 2000rpm padahal kalau melihat spesifikasi tenaga maksimum ada di 7500 rpm. Jauh banget dari spesifikasi. Dari yang penulis tahu, situasi yang sama juga terjadi pada Agya/Ayla, dimana di spesifikasi tenaga maksimal dikatakan dicapai di rpm 6000, padahal di kenyataan banyak yang tenaga maksimalnya di 4000 atau bahkan kalau di modif jadi cuma di 3000. Penulis curiga perbedaan yang besar ini terjadi karena bensin dari pertamina ada yang kurang.

Dari penelitian tersebut terlihat bahwa tenaga dan torsi dari pemakaian pertalite terlihat lebih kecil dari bila pakai pertamax. Ini terasa agak aneh karena kompresi mesin di spesifikasi disebutkan cuma 9,5:1. Kalau dari saran bahan bakar, seharusnya pertalite dengan RON90 sudah cukup oktannya.

 

Entah ini ada hubungannya atau tidak dengan Euro 2, karena bensin RON 90 dikatakan masih tidak lulus Euro 2, sementara Honda Beat dibuat untuk bisa lulus Euro 3:
Luncurkan Pertalite, Pertamina Dituduh Menyesatkan Publik

TEMPO.CO, Jakarta – Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) menyebut langkah PT Pertamina meluncurkan produk bahan bakar minyak RON 90 atau Pertalite menyesatkan publik.

Musababnya, menurut Direktur Program KPBB Karya Ersada, Pertalite tidak memenuhi standar Euro 2. “Kami anggap pemikiran sesat, karena seharusnya ke RON 92,” kata Karya di kantor KPBB di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat, Selasa, 21 April 2015.

Pertamina, menurut Karya, seharusnya menambahkan dua oktan lagi. Alasannya, kendaraan bermotor di Indonesia sudah menerapkan standar Euro 2 sejak 2007. Teknologi mesin harusnya menggunakan bahan bakar yang lebih bagus, katanya, yaitu RON 91 ke atas.

Di banyak negara di dunia, Karya mengatakan, tidak ada negara yang menggunakan RON 90. Malaysia dan Thailand, ucap dia, bahkan memakai bahan bakar dengan level di atas RON 91. “Jadi pemerintah jangan membodohi masyarakat,” ujar Karya.

 

Penulis menduga bahwa aditif yang ditambahkan ke pertalite adalah sejenis pelumas. Mesin lebih lancar, kendaraan lebih irit, tapi tenaga berkurang. Walau seandainya ada pembersih sekalipun, pelumas membuat kerak tidak berkurang. Sehingga seandainya penulis balik lagi ke premium maka tenaga tidak akan bertambah sampai beberapa kali pakai premium terus. Pakai premium ruang bakar motor penulis tetap bersih, busi jadi warna kuning setelah pakai pro capacitor.

Saran penulis hindari pertalite. Mending pertamax bila tidak ingin pakai premium, atau campuran keduanya.

Update:
Sudah pakai premium lagi dan kecurigaan penulis benar, setelah pakai premium tenaga masih tidak kembali seperti semula. Mesin terasa kotor / perlu carbon clean. Karena sebelumnya bisa dikembalikan dengan di overdose cemenite, maka kali ini juga penulis menempatkan cemenite dekat tangki bensin. Lumayan, tenaga terasa bertambah tiap 10km an. Mungkin butuh beberapa hari sebelum tenaga kembali normal.

13 thoughts on “Curiga pertalite bikin pelan padahal sudah ditambah aditif ecosave ternyata memang bikin tenaga 6% lebih lemah daripada pertamax berdasar penelitian

  1. Pak bahas juga artikel yang diposting user mfuad di kaskus kenapa oli mineral grup 1 dan 2 yang intervalnya pendek lebih bagus untuk merawat mesin dibanding oli sintetik grup 3, 4, dan 5. Mungkin ada kaitannya dengan artikel user penyuturbo di serayamotor tentang penggantian oli tiap 200 jam (mesin idle dihitung juga).

    Suka

  2. Banyak pengujian bahan bakar ataupun oli dinilai dengan perasaan, baiknya dengan alat uji atau penghitungan yg akurat. Agar jelas perbedaannya, contoh kasus misalnya oli A (kurang bagus) dan oli B (oli bagus), dalam contoh kasus ini oli A dirasa membuat akselerasi lambat, maka bisa dihitung dengan akurat menggunakan cara sederhana yaitu akselerasi dalam hitungan detik dalam 100 meter / 200 meter / dst. Maka dari data tersebut bisa dibandingkan oli A dan B mana yg lebih baik.

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s