Pilih mana antara pakai oli mineral masa ganti oli dipercepat atau oli sintetik masa ganti oli lama?


Bro nex menanyakan soal “kenapa oli mineral grup 1 dan 2 yang intervalnya pendek lebih bagus untuk merawat mesin dibanding oli sintetik grup 3, 4, dan 5”.

Dari link yang dishare bro Nex, berikut kutipannya:
Tips Memilih Oli Mesin Buat Mobil Anda – Page85 | KASKUS

5. Perbedaan oli sintetis dan mineral “hanya “terletak pada masa atau jarak pakai dan harganya. Sintetis bisa jarak jauh , mineral jarak pendek. Makanya jangan heran Sintetis mahalan dikit dari oli mineral. Selebihnya Cuma pintar2 yg jualan…

Oli mineral kalo dipakai proporsional akan memiliki kinerja yg sama dg sintetis. Sebaliknya oli sintetis bila ga dipakai proporsional mutunya biasa2 saja..
Penelitin yg membuktikan..

Salah satu perbandingan mutu oli sintetis dan mineral

Terlihat disni ada mutu oli mineral OM mengalahkan mutu oli sintetis OS. Semakin kekanan semakin rendah ketahanan oli mesin thd putaran, gesekan mesin… biasanya pd ring seher dan poros engkol..

Dimulai dari teori dulu, penulis sendiri kurang jelas tentang pembagian oli mineral dan oli sintetik, terutama penggolongan oli grup 3. Di website yang sama (machinerylubrication.com) ada artikel yang menggolongkannya di oli mineral, ada yang menggolongkan di oli sintetik. Oli sintetik atau mineral sekarang juga berbeda dari oli mineral atau sintetik jaman dulu.

Yang berikut contohnya yang menggolongkan grup 3 sebagai oli mineral:
Understanding the Differences in Base Oil Groups

pembagian-oli-mineral-dan-sintetik
Although made from crude oil, Group III base oils are sometimes described as synthesized hydrocarbons.

Berikut menggolongkan grup 3 sebagai oli sintetik.

Most engine oils are now formulated with Group II (hydrotreated) or a mixture of Group I (conventional mineral oil) and Group II base oils. Because Group III and Group IV (PAO) base oils are both considered synthetics (since 1999), any oil labeled as a full synthetic would contain either Group III or PAO, or both. Any oil that is labeled as a partial synthetic, semi-synthetic or synthetic blend would contain Group I or Group II (mineral oil) plus some amount of Group III oil or PAO (synthetic). Keep in mind that there is no minimum quantity of synthetic base oil required in order to call a blend a semi-synthetic lubricant.

Diakatakan bahwa kebanyakan oli sekarang diformulasikan dari grup 2 atau campuran grup 1 dan grup 2. Karena grup 3 dan grup 4 (PAO) dianggap sintetik sejak 1999, maka oli yang berlabelkan full synthetic akan mengandung bisa grup 3 atau PAO atau keduanya. Oli yang berlabelkan partial synthetic, semi synthetic atau synthetic blend akan mengandung oli grup 1 atau grup 2 dicampur dengan grup 3 atau PAO. Tidak ada pembatasan jumlah minimal campuran base oil synthetic untuk bisa dibilang pelumas semi synthetic. Artinya berapapun kandungan oli sintetiknya, walau sangat sangat kecil sekalipun, oli akan tetap bisa dibilang sebagai oli blend semi sintetik.

 

Penjelasan suhu Dee Santi menjelaskan lebih lanjut tentang penggolongan oli grup 3 ini:
Penggunaan Oli Mobil (PCMO/HDEO) untuk Motor

Pelumas adalah zat kimia, yang umumnya adalah cairan, yang diberikan diantara dua benda bergerak untuk mengurangi gaya gesek. Pelumas pada umumnya dibagi ke dalam dua jenis, yaitu mineral dan sintetis. Pelumas mineral berasal dari hasil distilasi minyak bumi, sementara pelumas sintetis berasal dari proses Fischer-Tropsch Process yang menggabungkan Hydrogen dan Carbon. Pelumas Mineral dan Sintetis menurut API atau American Petroleum Institute dibagi ke dalam lima kelompok, diantaranya adalah:

API Group I, Base Stock Mineral dengan teknologi proses distilasi fraksi mineral parafin, dengan teknologi tersebut, minyak bumi akan bertambah ketahanan oksidasinya dan juga menyingkirkan zat-zat yang merusak Base Stock tersebut. Proses Distillation dan Solvent Refined tersebut akan meningkatkan VI atau Viscosity Index menjadi 80 – 119, Sulphur > 0.03%, Saturates < 90%.

API Group II, Base Stock Mineral dengan teknologi proses sama seperti Group I tetapi ditambahkan dengan Hydrokracked Technology. Dalam hal ini, Base Stock menjadi lebih murni dan lebih mudah untuk ditambahkan additives. Salah satu merek pelumas yang menggunakan Group II Base Stock adalah Shell™ Rotella® dan Pennzoil® PureBase® Perlu diketahui, Royal Dutch Shell adalah pemilik dari Pennzoil dan Quaker State. Dengan teknologi Distillation, Solvent Refined, dan Hydrocraked, maka nilai VI atau Viscosity Index menjadi 80 – 119, Sulphur 90%.

API Group III, Base Stock ini digadang-gadangkan menjadi salah satu pelopor pelumas dengan Synthetic Technology yang berasal dari Mineral Oil. Teknologi ini dipakai luas oleh banyak Pabrikan pelumas SuperMajor (British Petroleum, Chevron, ConocoPhillips, ExxonMobil, Royal Dutch Shell, Total), salah satu yang paling terkenal dan fenomenal adalah Base Stock milik Suncor PetroCanada yang menyatakan bahwa pelumas mereka memiliki Base Stock yang murni. Group III sendiri sudah digantikan dengan Group III+ atau VHVI yang merupakan singkatan Very High Enhanced Viscosity Index. Teknologi proses yang digunakan adalah sama dengan Group II tetapi ditambahkan teknologi Hydroisomer, sehingga menjadikan Base Stock dengan 99% Saturasi dan 1% Aromatik. Dengan teknologi Distillation, Solvent Refined, Hyrdokracked, dan Hydroisomer, maka nilai VI atau Viscosity Index menjadi ≥120. Di pasaran dunia, Group III+ dipasarkan dengan nama Fully-Synthetic Lubricant, yang common usernya adalah SuperMajor. Ada perbedaan antara pasaran dunia dan Eropa, pasaran dunia Oli Group III+ dapat disebut sebagai Fully-Synthetic, sementara di Eropa Oli Group III+ hanya boleh disebut Synthetic Technology. Untuk membedakannya, bisa dibuka http://www.total.fr/ dimana oli yang dijual sebagian besar di luar Eropa disebut sebagai Fully-Synthetic, maka di Perancis hanya disebut Lubrifiant technologie de synthèse atau Synthetic Technology Lubricant. Di Eropa hanya Group IV dan Group V yang boleh di label dengan Fully-Synthetic Lubricant.

API Group IV, Base Stock ini adalah hasil katalisasi antara Hydrogen dan juga Carbon baik dengan Fischer-Tropsch Process atau proses pembentukan olefin lainnya. Base Stock ini dinamakan PAO atau PolyAlphaOlefin, disebut PAO karena bahan dasarnya adalah Olefin. Pengguna Base Stock ini sangatlah jarang, mereka yang menggunakan Base Stock ini biasanya adalah pelumas dengan kategori Top Tier atau Premium. Salah satu pengguna PAO adalah Amsoil Signature Series, Mobil 1, dan Yacco dengan jajaran pelumas Top Tier Mereka. PAO sangat sulit ditambahkan soluble additives, sehingga additives yang bisa ditambah biasanya adalah logam alkali, alkali tanah, atau logam transisi seperti Molybdenum dan Titanium. Logam alkali ditambahkan adalah supaya menambah retensi pelumas untuk menahan asam yang terbentuk saat pembakaran terjadi. PAO memiliki karakteristik yang paling unik, karena memiliki Titik Beku yang rendah hingga -53 C dan Titik Bakar yang tinggi, hingga 270 C. pelumas ini tidak mengandung sulphur karena dibuat murni dari Hidrogen dan Carbon, dan memiliki Viscosity Index di atas 140.

PAO ini dikenal sebagai Base Stock ngambekan, alasannya adalah selain pembuatannya sulit, yaitu apabila oli dengan PAO Based akan dibuat maka bahan-bahan seperti additives pack harus dicampur sebelum menjadi oli. Seperti kita membuat cake, apabila kurang atau kelebihan bahan, maka cake tersebut tidak enak dan tidak bisa dimodifikasi. PAO juga sangat rewel apabila bertemu dengan racun sejenis Sulfur dan TEL atau Tetra-Ethyl-Lead, dan dia tidak bisa ditambah dengan post-mixed additives. PAO juga sangat licin apabila ditambahkan additive Boron Nitride sehingga sangat baik untuk mesin-mesin berbahan dasar Aluminum Silicon. Pada BMW disebut Alusil, pada Mercedes Benz disebut SILITEC, atau pada Yamaha disebut DiAsil. PAO dan Boron Nitride akan membentuk lapisan film sangat kuat dan licin, sehingga akan sangat baik untuk menambah performa mesin. Boron Nitride dan PAO tidak akan menyebabkan selip kopling, karena hanya bereaksi dengan logam Aluminum Silicon saja, tidak dengan komposit Kampas Kopling.

API Group V, Base Stock ini biasanya diisi oleh Ester, prosesnya sendiri adalah dengan cara katalisasi asam yang dinamakan dibasic Ester, dengan Alkohol atau CH3OH sehingga dibentuklah Ester dari hasil katalisasi tersebut. Ester biasanya digunakan untuk kompetisi karena kemampuannya untuk mempercepat pembakaran dan juga meningkatkan performa mesin, sehingga mesin balap biasanya menggunakan Ester dan atau campuran PAO dan Ester. Ester memiliki ikatan film yang paling kuat, tetapi kelemahannya adalah umur pakainya cukup singkat, sehingga hanya cocok digunakan bagi Anda yang membutuhkan oli kompetisi. Ester juga berguna untuk ditambahkan ke PAO based supaya mudah untuk di campur dengan additives. cara mengetahui adanya Ester dalam pelumas adalah dengan melihat nilai oksidasi dan TAN dari pelumas tersebut. Sifat alami Ester adalah oksidan dan asam, sehingga nilai TAN pasti ada dalam pelumas tersebut. Salah satu yang terkenal antara lain adalah Redline, Motul, dan Maxima

 

Dari sifat, di gambar tabel diatas bisa dilihat oli sintetik punya VI viscosity index lebih tinggi. Berikut sekilas beberapa perbedaan sifat oli sintetik dan mineral:
Performance of Base Oils and Future Trends – The Evolution of Base Oil Technology – Part 3
Aditif bisa membuat pour point (suhu terdingin oli bisa dituang aslinya berbeda) tidak berbeda jauh. Oli grup 2 dari asalnya cuma di -12°C jadi bisa -36°C. Sementara itu oli grup 3 bisa sampai -45°C.

Terjadi perbedaan cukup lumayan pada angka CCS Cold Crank Simulator yang menunjukkan kekentalan suhu dingin saat kendaraan akan dinyalakan. Ini terutama karena VI oli sintetik yang tinggi.
cold-cranking-performance

Terjadi perbedaan cukup lumayan pada tes Noack Volatility yang mengukur nilai penguapan.
comparable-noack-volatility

Terjadi perbedaan cukup lumayan pada test oksidasi yang dilakukan dengan mengukur keasaman:
acid-number-in-hydraulic-oils

Terjadi perbedaan cukup lumayan pada test TOST:
turbine-oil-stability-test

Terjadi perbedaan lumayan pada test masa pakai:
expected-oil-service-life

Dari grafik grafik diatas bisa dilihat bahwa ada perbedaan cukup lumayan pada sifat dasarnya. Perbedaan terutama pada stabilitas atau daya tahan. Dari yang penulis ketahui, sifat anti wear, detergent atau dispersant sangat bergantung pada kemampuan aditif. Sementara itu perlindungan dasar oli dari faktor pembetukan oil film lebih bergantung pada kekentalan. Ini sudah dibahas di artikel berikut:
Oli yang bagus untuk mesin itu tidak butuh viscosity index yang tinggi tinggi amat, banyak yang salah mengerti soal VI dan HTHS

 

Kembali pada pertanyaan diatas, soal mana yang lebih baik antara oli mineral dan oli sintetik, terus terang agak susah untuk bisa tahu bahan dasar oli. Secara umum yang beredar dipasaran bisa kita bagi menjadi tiga, yaitu oli mineral, oli sintetik dan oli full sintetik. Walau panggilannya jelas, kandungan suatu oli tidak bisa ditebak. Jarang sekali oli yang mencantumkan bahan dasarnya. Sekalipun dicantumkan, susah dimengerti. Bahan dasar biasanya disebutkan di Material Safety Data Sheet (MSDS). Seperti berikut ini contohnya:
safety-datasheet-yamalube-full-synthetic-15w-30

safety-datasheet-mobil-1-racing-15w-50

Untuk ini pernyataan bro mfuad adalah sebagai berikut:
Tips Memilih Oli Mesin Buat Mobil Anda

mesti difahami kini ada dua istilah sintetik.
-Fully synthetic-oli sintetik murni , mis. senyawa PAO, diester
-Synthetic-oli mineral yg mutunya dianggap setara oli sintetis.(grup3)
Oli mineral ada juga yg mutunya sama dg oli sintetik. Memilih oli mesti proporsional , kalo mobil lawas ga perlu pake oli modern. Oli modern belum tentu ideal dg mobil anda. Oli dibuat berdasarkan perkembangan desain mesin kendaraan.
Formula dalam oli berbeda2, seiring perkembangan mesin.

 

Jadi susah juga untuk menentukan berapa banyak konsentrasi atau perbandingan rasio pada suatu merek. Oli mineral bisa jadi 100% grup 1 yang kalah bagus dengan yang 100% grup 2. Sama sama mineral tapi beda jauh. Begitu juga oli sintetik, bisa jadi isinya cuma 1% sintetik yang kualitas kalah jauh dengan 50% sintetik. Kita tidak bisa tahu pasti apa kandungan yang ada di dalam oli. Bahkan spesifikasinya pun kita cuma bisa mengira ngira, karena spesifikasi yang di share bukan penentu kualitas oli. Ini sudah penulis bahas di:
Menentukan kualitas oli mana bisa pakai spesifikasi datasheet?

Untuk tahu bahan dasar oli (tapi tanpa rasio) bisa dilihat di artikel berikut:
Daftar oli mesin PCMO, HDEO dan MCO yang cocok atau tidak cocok untuk kopling basah beserta informasi base oilnya

Ringkasan kemampuan oli bisa dilihat di tabel berikut:
fundamentals-of-oils-lubrication-grade

 

Bila penulis diminta membandingkan mana yang lebih bagus antara pakai mineral dengan jangka pendek atau sintetik dengan jangka panjang, maka penulis akan menentukan tergantung merek atau dari apa yang sudah penulis coba. Karena ada oli sintetik yang jelek cuma tahan beberapa ratus kilometer, ada juga oli mineral bagus yang bisa tahan ribuan kilometer.

Secara umum oli mineral memang jelek, cuma tahan ratusan kilometer, namun ada juga oli mineral yang disarankan untuk motor seperti valvoline, Castrol GTX (oli mobil PCMO) atau Meditran SX (oli diesel HDEO).

Secara umum oli sintetik (yang nggak full) itu mendingan, bisa dipakai ribuan kilometer, namun ada juga yang parah cuma tahan ratusan kilometer seperti contohnya AHM MPX-2. Yang bagus dan murah contohnya fastron. Harga oli mineral yang bagus bisa hampir sama dengan harga oli sintetik yang awet.

Secara umum oli full sintetik itu bagus, karena sepertinya pabrikan nggak membatasi aditif lagi, pakai yang bagus semua. Harga bisa lebih dari lima kali lipat oli mineral, memang lebih awet, bahkan sering ada yang pakai sampai 10 ribu kalau di motor, tapi jelas bahwa masa pakai tidak lima kali lipat dari oli mineral yang bagus.

Soal mana yang lebih melindungi, itu sangat tergantung pada merek dan jenisnya. Menurut penulis tidak penting lagi kita membedakan oli mineral dengan oli sintetik atau full sintetik, namun lebih kita perhatikan mana yang harganya terjangkau dengan kualitas sesuai dengan keinginan kita.

Kalau dari pengujian anti aus, kita bisa membandingkannya di artikel berikut:
540 RAT – Tech Facts, NOT Myths, Q and A, MOTOR OIL ENGINEERING TEST DATA

Full Synthetic:
38. 5W20 Castrol Edge with Titanium, API SN synthetic (gold bottle) = 99,983 psi
51. 5W30 Castrol Edge with Titanium, API SN synthetic (gold bottle) = 95,717 psi
73. 0W20 Castrol Edge, Fluid Titanium Technology, API SN, dexos 1 approved, synthetic
(black bottle) = 90,745 psi
92. 5W30 Castrol Edge w/Syntec, API SN synthetic (formerly Castrol Syntec), (black bottle) = 85,179 psi
99. 0W20 Castrol Edge with Titanium, API SN synthetic (gold bottle) = 82,867 psi
120. 5W50 Castrol Edge with Syntec, API SN synthetic (formerly Castrol Syntec), (black bottle) = 75,409 psi
121. 5W30 Castrol Edge Extended Performance, API SN, GM dexos 1 approved, synthetic (gold bottle) = 74,899 psi
143. 5W20 Castrol Edge Extended Performance, API SN, GM dexos 1 approved, synthetic (gold bottle) = 70,417 psi
148. 0W40 Castrol Edge with Syntec, API SN, European Formula, made in Belgium and sold in the U.S., synthetic (black bottle) = 69,307 psi
149. 0W30 Castrol Edge with Syntec, API SL, European Formula, made in Germany and sold in the U.S., synthetic (black bottle) = 69,302 psi
57. 5W30 Valvoline SynPower, API SN synthetic = 94,942 psi
79. 0W20 Valvoline SynPower, API SN, synthetic = 89,556 psi
134. 5W20 Valvoline SynPower, API SN, GM dexos 1 approved = 72,581 psi

Semi Synthetic:
129. 5W30 Castrol GTX Magnatec, API SN, GM dexos 1 approved, synthetic blend = 73,566 psi
26. 10W40 Valvoline MaxLife High Mileage, API SN, synthetic blend (red bottle) = 103,840 psi
65. 5W30 Valvoline MaxLife High Mileage, API SN, GM dexos 1 approved, synthetic blend (red bottle) = 92,639 psi

Mineral:
47. 20W50 Castrol GTX, API SN conventional = 96,514 psi
53. 5W20 Castrol GTX, API SN conventional = 95,543 psi
54. 5W30 Castrol GTX, API SN conventional = 95,392 psi
70. 5W30 Castrol GTX High Mileage, API SN, synthetic blend = 91,404 psi
160. 15W40 CASTROL GTX DIESEL Oil, conventional, API CJ-4, CI-4 Plus, CI-4, CH-4, CG-4, CF-4/SN = 66,323 psi
59. 5W30 Valvoline Premium Conventional, API SN = 94,744 psi
77. 5W20 Valvoline Premium Conventional, API SN = 90,144 psi
85. 5W30 Valvoline Nextgen 50% Recycled Oil, API SN conventional = 87,563 psi
142. 15W40 VALVOLINE PREMIUM BLUE HEAVY DUTY DIESEL Oil conventional, API CJ-4, CI-4 Plus, CI-4, CH-4, CG-4, CF-4, CF/SM = 70,869 psi
163. 10W40 Valvoline 4 Stroke Motorcycle Oil, API SJ, conventional = 65,553 psi

Bisa dilihat bahwa oli mineral Castrol GTX punya perlindungan anti aus lebih baik selain yang versi diesel. Perlindungan lebih baik dari versi semi sintetik. Versi full sintetik perlindungannya ada yang bagus ada yang jelek. Untuk Valvoline tidak pasti, namun yang diesel terlihat anti wearnya jauh lebih jelek. Aneh juga karena banyak yang pakai oli diesel di motor. Ini akan coba penulis rangkum lagi.

Fakta jadi membantah penyataan bro mfuad berikut:

7. Oli mesin bensin dan disel pada dasrnya sma. Oleh sebab itu tdk ada masalh bila mobil bensin pakai oli disel. Mobil bensin minibus dan sedan lama bisa memakai SAE 15w40 kode API CI4 atauCI4+. Kode API ini relative tinggi kadar anti ausnya dan pembersihnya yg dibuthkkan mesin bensin minibus dan sedan lama.

Artikel tentang GF-6 juga menyebutkan bahwa oli universal yang bisa untuk mesin diesel dan mesin bensin perlu perlakuan khusus. Dikurangi aditif fosfor (ZDDP) yang fungsi utamanya untuk anti aus, dan dikurangi TBN yang fungsinya mencegah oli menjadi asam.
GF-6, PC-11 and dexos1

“Universal oils are low total base number, low phosphorus engine oils that are specially engineered to comply with gasoline aftertreatment systems and not poison the catalysts.”

Untuk kutipan sebelumnya, bisa dilihat bahwa daya tahan dari oli sintetis lebih bagus, namun bahan dasar bukan faktor penentu karena dipengaruhi juga dengan formula aditif yang dipakai. Anti aus oli sintetik bisa lebih bagus atau bisa lebih jelek dari oli mineral, tergantung dari merek, jenis dan harga. Bahan oli tidak bisa dipakai bahan acuan.

 

Contoh lain di amsoil
Amsoil – Frequently Asked Questions
perbandingan-data-spesifikasi-oli-amsoil-xl-dan-signature-series

What are the differences between AMSOIL OE Synthetic Motor Oil, XL Synthetic Motor Oil and Signature Series Synthetic Motor Oil?

Answer: AMSOIL OE Synthetic Motor Oil is recommended for vehicle manufacturer-recommended oil change intervals; AMSOIL XL Synthetic Motor Oil is recommended for extended drain intervals of 10,000 miles or six months (whichever comes first) and AMSOIL Signature Series Synthetic Motor Oil is recommended for extended drain intervals of 25,000 miles or one year (whichever comes first). AMSOIL Signature Series Synthetic Motor Oil is formulated with better base oils and more robust additives, allowing longer extended drains than AMSOIL OE or XL Synthetic Motor Oils.

Dikatakan bahwa Amsoil versi signature lebih unggul daripada XL karena oli diformulasi dengan base oil lebih baik dan additive yang lebih kuat.

 

Untuk baiknya ganti oli jangan pakai acuan kilometer, tapi kita lakukan berdasarkan pengujian. Kalau tidak sempat menguji, maka paling tidak perhatikan dari performa, halus mesin dan perilaku mesin saat dipakai.

Dari pemakaian pribadi, saat oli pakai valvoline mineral, penulis pakai lebih dari 4000km, waktu di drain masih agak bening. Saat pakai repsol mineral, masih belum 2500km sudah kasar suaranya, waktu di drain sudah hitam olinya. Pakai AHM MPX-2 yang katanya semi sintetik, 400km sudah kasar sehingga langsung diganti, oli masih bening. Sekarang pakai Fastron semi sintetik rasanya bakalan pakai lebih lama. Penggantian dinilai dari performa kendaraan dan kasar suara mesin.

 

Kualitas oli tidak hanya ditentukan dari base oilnya saja tapi juga dari aditif. Aditif juga tidak hanya bisa dilihat dari satu unsur saja, karena bisa jadi dengan misalkan kada ZDDP sama secara keseluruhan perlindungannya berbeda. Ini sudah pernah penulis bahas disini:
Pakai aditif oli mesin bisa justru malah mengurangi daya perlindungan ke mesin, alasan untuk menghindari pakai aditif oli

10 thoughts on “Pilih mana antara pakai oli mineral masa ganti oli dipercepat atau oli sintetik masa ganti oli lama?

  1. Base oil dari grup 3 ini, bisa dikatakan sebagai oli sintetik. Kecuali di eropa, klo di Eropa sana, oli grup 3 ini tdk boleh dikatakan sebagai sintetik.

    Mengenai short drain vs long drain.
    Kelemahan short drain adalah, dapat menimbulkan limbah oli yg banyak. Bayangkan saja jika seseorang menganti oli mesinnya setiap bulan / liter, maka dapat di kalkulasi klo pertahunnya menghabiskan oli sebanyak 12ltr. Jika seluruh indonesia melakukan hal ini, maka berapa banyak limbah oli yg terbuang pertahunnya?
    Padahal dgn short drain, blm tentu juga mesin menjadi lbh awet.

    Sedangkan long drain, dapat dipastikan limbah oli sangatlah minim.

    Suka

  2. Sedikit sejarah mengapa oli dari grup 3 bisa dikatakan oli sintetik.

    “In 1997, Mobil filed a complaint with the National Advertising Division of the Better Business Bureau in the US claiming that Castrol was engaging in false advertising by calling Syntec “full synthetic” since it was now being made with Group III base oil. Castrol was able to present enough “evidence” to convince the NAD that Group III base oil could legitimately be called synthetic, so they rulled in Castrol’s favor. This ruling has no “legal” standing. It merely means that as far as the NAD is concerned, an oil company is not falsely advertising an oil as “full synthetic” if that oil is made from Group III base oil.

    The NAD is merely a self-regulatory arm of the BBB and has no legal standing whatsoever in the U.S. Hence, their ruling in this matter does not make it “legal” to claim that a Group III oil is “synthetic.” It merely means that for any entity willing to abide by the NAD’s guidelines, a Group III oil can be ADVERTISED under those guidelines as a synthetic.”

    Nah dulu, castrol membeli base oil PAO dari mobil, utk dipakai pada jajaran oli syntec mereka. Dan karena harga PAO ini memang mahal, maka castrol berhenti membeli PAO pada mobil, lalu castrol membuat oli dgn grup 3 ini pada jajaran oli syntec mereka, dan castrol mengklaim bahwa oli ini adalah oli sintetik. Oleh karena itulah, mobil memgajukan komplain spt yg ane kutip diatas.

    Suka

  3. Mengenai kandungan base oil. Hanya pabrikan lah yg tahu. Karena ini msk rahasia perusahaan.

    Pada pabrik oil yg tdk jujur, akan mengatakan bahwa olinya adalah oli sintetik, padahal olinya hanya mengandung, misalnya grup 3 hanya 1% saja, sisanya dari grup 1 dan 2.
    Pada pabrik yg jujur, maka spt contoh diatas, akan mengklaim, bahwa olinya adalah oli semi sintetik.

    Oleh karena itu, kita orang awam, utk mengetahui kandungan base oil pada suatu oli tertentu, hanya bisa memperkirakan dari harga jual oli tsb, dan mengandalkan klaim pabrikan oli.

    Klo ane lbh percaya pada klaim pabrikan oli yg sudah ternama.
    Contoh: oli xten, oli ini mengklaim bahwa olinya adalah full sintetik ester.
    Klo ane, maaf, ane tdk percaya klaim tsb. Karena setahu ane, base oil ester ini harganya paling mahal. Dan sampai detik ini pun, MSDS dan TDS dari oli tsb tidak ada.
    Karena seperti yg ane komen pada waktu yg lalu, membeli suatu oli tanpa adanya MSDS dan TDS adalah seperti membeli kucing dalam karung.

    Suka

    • Setuju. memang susah untuk bisa tahu datanya. terima kasih sharingnya. Yang ester pun sama saja, bisa jadi cuma 5%. di referensi GF-6, nambah ester ke oli bisa menambah VI, bikin friksi oli berkurang

      GF-6, PC-11 and dexos1™:

      Kotnis explains that the challenge in moving to GF-6B is that oils are thinner at higher temperatures, which impacts the film thickness and can result in a faster transition from the elastohydrodynamic lubrication to a mixed lubrication regime. He says, “Special additive technologies are being developed to protect the engines that will use these lower viscosity grade oils. For example, data shown in Figures 3 and 4 show how a Group V co-base stock incorporated into currently used base oils can increase the viscosity index (VI) of the base oils and reduce the friction seen in a commercial 5W-20 engine oil.”

      Suka

  4. […] Data ini bagi penulis sangat berguna karena sangat memberi gambaran tentang basestock atau base oil atau bahan dasar dari suatu oli. Ini lebih jelas daripada tulisan dibungkusnya. Mencari data ini pakai google juga mustahil. Di bungkus mungkin tertulis sintetik dan kita berharap dapat oli grup 4 (PAO), padahal nyatanya cuma oli grup 3. Tentang beda oli grup 3 dan grup 4 bisa dibaca di artikel berikut. Pilih mana antara pakai oli mineral masa ganti oli dipercepat atau oli sintetik masa ganti oli lama? […]

    Suka

  5. […] Jadi oli PAO sulit dibuat, makin langka dan sekalipun pakai VHVI oli tetap bisa dibilang oli sintetik. Lebih lanjut untuk pembagian oli bisa dibaca di artikel berikut: Pilih mana antara pakai oli mineral masa ganti oli dipercepat atau oli sintetik masa ganti oli lama? […]

    Suka

  6. Saya percaya dan yakin bahwa product dr Exxonmobil yaitu Oli Mobil 1 atau Oli Mobil 2000 (5w- 30) sangat memuaskan…. Krn saya memakai oli tsb di BMW 5 dan BMW 3, interval penggantian oli nya setiap 15.0000 km dan kadang sampai 17- 18.000km, limbah oli tersebut saya rasa masih bagus untuk sampai 20.000km krn warna nya sama sekali belum hitam/ cokelat tua,

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s