Implementasi dan dasar teori trik sesat minyak goreng sebagai aditif pelicin oli mesin matik dengan hasil mesin lebih halus dan enteng


Artikel sebelumnya menjelaskan bagaimana friction modifier bisa membuat kendaraan lebih irit 2%.
Pengiritan yang bisa dicapai dengan memakai oli mesin dengan SAE grade 0W-20 ternyata kecil dan justru lebih besar pengaruh aditif friction modifier

Sebelumnya juga sudah dibahas bagaimana friction modifier bisa bikin oli lebih melindungi mesin, bikin oli lebih licin:
Mengenal dasar pelumasan, ada saat dimana perlindungan tidak ditentukan oleh anti wear

Sifat licin oli disebut dengan lubricity atau oiliness. Lubricity berhubungan dengan film strength. Oli yang lebih kental punya film strength lebih besar. Dengan friction modifier maka oli lebih encer bisa punya film strength sama dengan oli lebih kental.
A Review of Application of Vegetable Oil-Based Cutting Fluids in Machining Non-Ferrous Metals
beda-sifat-oli-nabati-dan-oli-mineral

Sementara itu penulis pernah mencoba pakai minyak goreng di kendaraan Suzuki Crystal dan motor jadi tidak bsia jalan karena tranmisi selip, dan ini didukung oleh referensi:
Bukti bahwa minyak goreng bisa dipakai sebagai oli mesin

minyak nabati punya daya lumas sangat bagus, jauh lebih baik dari oli mineral. Pelumasan sangat tinggi sehingga pada beberapa aplikasi, seperti misalnya untuk transmisi traktor, harus ditambahkan aditif friksi untuk mencegah selip kopling.

Yang lebih penting adalah minyak nabati bersifat biodegradable, secara umum tidak beracun, renewable dan akan mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi. Kelemahan dari minyak nabati adalah daya tahan oksidasi yang kurang. Sehingga saat dipakai oli mudah teroksidasi dan bila dibirkan akan mengental dan menjadi seperti plastik.

 

Ini membuat penulis sangat tertarik untuk mencoba menggunakan minyak goreng sebagai aditif oli mesin. Minyak goreng dikategorikan sebagai minyak nabati. Minyak nabati sudah dipakai sebelum adanya campuran synthetic ester:
New base oils pose a challenge for solubility and lubricity

(iv) Blend with vegetable oils. This technology existed before synthetic esters. Vegetable oils have their own advantages and disadvantages. The chief advantages are the use of a renewable resource, excellent lubricity and anti-wear properties, excellent thermal stability, high specific heat, high flash, and completely benign HSE profile. The chief disadvantage is low oxidation stability

Dikatakan bahwa campuran dengan minyak nabati sudah ada sebelum adanya campuran sintetik ester. Keunggulan oli nabati adalah sumbernya terbarukan, lubricity dan anti wear sangat bagus, stabilitas panas sangat bagus, specific heat tinggi, flash point tinggi, dan tidak ada HSE. Kelemahan utama adalah kestabilan oksidasi.

kelebihan-dan-kelemahan-oli-nabati

Biodegradable/Biobased Lubricants and Greases

Vegetable oils can and have been used as lubricants in their natural forms. They have several advantages and disadvantages when considered for industrial and machinery lubrication. On the positive side, vegetable oils can have excellent lubricity, far superior than that of mineral oil. Vegetable oils also have a very high Viscosity Index (VI) and Flash Point.

On the negative side, vegetable oils in their natural form lack sufficient oxidative stability for lubricant use. Another negative to vegetable oils is their high pour point (the temperature at which oil loses fluidity and does not flow). This problem too can be addressed by winterization, addition of chemical additives (pour point suppressants) and/or blending with other fluids possessing lower pour points.

Low oxidative stability means, if untreated, the oil will oxidize rather quickly during use, becoming thick and polymerizing to a plastic-like consistency. Chemical modification of vegetable oils and/or the use of antioxidants can address this problem, but increase the cost. Chemical modification could involve partial hydrogenation of the vegetable oil and a shifting of its fatty acids. The challenge with hydrogenation is to determine at what point the process is to cease. Full hydrogenation of oil can lead to solid products like margarine. Depending on the needed liquidity and pour point of the oil, optimum hydrogenation is determined.

Recent advances in biotechnology have led to the development of genetically enhanced oilseeds that are naturally stable and do not require chemical modification and/or use of antioxidants. A soybean seed developed through DuPont technology, for example, presents more than 83 percent oleic acid as compared to only 20 percent oleic acid content in conventional soybean oil. Originally developed for frying applications, this oil has shown about 30 times more oxidative stability and viscosity stability in hydraulic pump tests conducted at the UNI-ABIL Research Program. High oleic varieties of canola oil, rapeseed, sunflower and soybean are now becoming standard base oils for biodegradable lubricants and greases.

UNI-ABIL has licensed 16 formulated lubricants, greases and base oils made of high oleic soybeans that have been genetically enhanced for stability. These products meet and exceed industry requirements, and many do not cost much more than their petroleum counterparts. If these products can compete in performance and price, their environmental benefits will make them even more appealing to users.

Dikatakan bahwa minyak nabati dapat dan telah dipergunakan sebagai pelumas dalam bentuk aslinya. Di sisi positif minyak nabati punya daya pelicinan yang sangat bagus, jauh lebih unggul daripada oli mineral. Minyak nabati juga bersifat very high viscosity index (VHVI) dan punya flash point sangat tinggi.

Dari sisi negatif, minyak nabati dalam bentuk aslinya tidak punya cukup daya tahan terhadap oksidasi untuk pemakaian sebagai pelumas. Pour point (daya tuang) juga tinggi. Masalah ini bisa diatasi dengan winterization, penambahan aditif dan atau dicampur dengan cairan lain yang punya pour point rendah.

Sifat oksidasi yang rendah menyebabkan oli menjadi cepat teroksidasi selama dipakai, menyebabkan pengentalan dan polimerisasi. Modifikasi kimia dan penggunaan anti oksidasi dapat mengatasi masalah ini, namun akan menambah harga. Modifikasi kimia meliputi partial hydrogenation dan mengonsentrasikan fatty acidnya. namun proses yang terlalu berlebihan akan menjadikannya padat seperti misalnya margarin.

Riset telah dilakuakn untuk meningkatkan konsentrasi oleic acid pada bermacam minyak nabati. Produk produk tersebut sesuai dan melebihi standar industri untuk pelumas dan harganya tidak lebih mahal dari produk petroleum.

 

Sebenarnya aditif yang ideal adalah ester yang dibuat dari minyak nabati, dimana sifatnya lebih baik dari ester yang dibuat dari minyak bumi.
Chapter 2 – Utilization of Vegetable Oil as Bio-lubricant and Additive

The majority of bio-lubricants are based on esters. There are natural esters which are triglycerides of vegetable oils. Oleochemical esters of fatty acids such as diesters, polyolesters and complex esters are derived from sunflower, rapeseed, palm oil and coconut. Triglycerides of vegetable oils are more polar than petroleum-based oils, thus they have a higher affinity to metal (Suarez et al.2010). Owing to this character, vegetable oils and their derivatives are suitable for lubrication applications.

Dikatakan bahwa kebanyakan pelumas bio dibuat dari ester. Triglycerides dari minyak nabati adalah ester natural. Oleochemical esters dari asam lemak seperti diester, polyolester dan ester komplek dibuat dari bunga matahari, rapeseed, minyak palm (minyak goreng) dan kelapa. Triglycerides dari minyak tumbuhan bersifat lebih polar daripada yang dari minyak bumi, sehingga mereka bisa lebih melekat ke logam. Berdasarkan sifat ini minyak nabati dan turunannya cocok dipakai sebagai pelumas.

Namun dikatakan juga bahwa minyak nabati dalam bentuk aslinya lebih cocok dijadikan aditif:
aditif-dari-minyak-goreng-menambah-daya-perlindungan-mesin

Vegetable oils may not suitable to be used as lubricants in their natural form due to their poor thermo-oxidation stability, low temperature behaviour and other tribochemical degrading processes that occur under severe conditions of temperature, pressure shear stress and environment (Fox and Stachowiak 2007). However, they can be used effectively as additives, in particular to improve the polarity behaviour of non-polar base fluid solutions, which would contribute to better tribological performance.

Dikatakan bahwa minyak nabati bisa tidak cocok untuk dipakai sebagai pelumas dalam bentuk aslinya karena sifat mereka yang jelek disisi stabilitas thermo-oxidation, perilaku di suhu rendah dan degradasi tribochemical lain yang terjadi pada kondisi temperatur, tekanan shear stress dan lingkungan yang tidak mendukung. Namun mereka dapat digunakan secara efektif sebagai aditif, terutama untuk meningkatkan sifar polar dari bahan larutan cair non polar, yang kemudian akan menghasilkan performa tribologi yang lebih baik.

 

Kandungan fatty acid dari minyak goreng:
kandungan-minyak-palm

Pengaruh fatty acid pada coefficient of friction, makin rendah makin bagus:
FRICTION MODIFIER ADDITIVES, Hugh Spikes, Tribology Group, Imperial College London, UK
pengaruh-fatty-acid-pada-koefisien-gesekan

stearic acid dan oleic acid merupakan bahan untuk membuat mono ester
Chapter 3. Esters

There are three main types of ester:
-acid/anhydride centered (e.g., monoesters, diesters, phthalates, and trimellitates
-alcohol centered (e.g., polyols)
-polymeric esters [e.g., polyalkylene glycol (PAG) esters

1. Monoesters
Monoesters are made by reacting a monofunctional acid (e.g., oleic, steric) with a monofunc-tion-al alcohol (usually between 8 and 13 carbon atoms in length). Monoesters are characterized bytheir relatively low viscosity.

2. Diesters
Diesters are made by reacting a linear diacid with a branched monofunctional alcohol. Diestershave very good viscosity indices (VI) and pour points. The reason for this is their “dumbbell”configuration. The linear diacid portion of the diester contributes to the good VI, while thebranched ends give the lubricant a good pour point. Since the branched portion of the diester isat the end of a linear portion, the free rotation around the ester linkage is still good. This gives anexcellent trade-off between VI and pour point. One disadvantage of diesters is their low molecu-lar weight. This results in a limited ISO range (7–46) coverage. Examples of commercially avail-able diesters are given in Table 3. Their small size combined with their high polarities make themeffective solvents. Diesters are often blended with poly(a-olefins) (PAOs) to help additive solu-bility and to act as seal-swelling agents

Perbandingan hasil uji aus:
Lubricants influence on wear in sharp rail curves
perbedaan-wear-pada-ester-dan-fatty-acid

perbandingan dari PAO ditambah dengan fatty acid:
Chapter 5: Tribological behavior of C18 fatty acids blended in PAO 4
perubahan-friksi-oli-pao-ditambah-dengan-fatty-acid
uji-aus-dengan-oli-pao-ditambah-fatty-acid

 

Minyak nabati dikenal sudah dari dulu punya lubricity lebih baik dari oli mineral:
FRICTION MODIFIER ADDITIVES, Hugh Spikes, Tribology Group, Imperial College London, UK

all lubricants having the same viscosity should be equally effective. However this was contrary to the experience of many practising engineers of the day who knew that natural oils based on plant and animal oils and fats generally gave lower friction and wear than corresponding mineral oils. To explain this difference, a mysterious lubricant property known as oiliness was invoked.

In the same year of 1918, Wells and Southcombe submitted a patent which showed that a low concentration of vegetable oil-derived free fatty acid when dissolved in mineral oil was able to impart the latter with oiliness, i.e. to make it as effective as a vegetable oil in reducing friction and wear [4].

Semua pelumas dengan kekentalan yang sama harusnya juga sama sama efektifnya, namun ini berbeda dengan yang dialami oleh para peneliti saat itu yang menjumpai bahwa minyak natural dari oli nabati dan oli hewani cenderung mempunyai hambatan dan aus yang lebih rendah daripada dari oli mineral. Untuk menjelaskan ini diperkenalkan sifat “oiliness”.

Pada tahun yang sama di 1918, Wells dan Southcombe mengajukan paten yang menunjukkan bahwa dengan melarutkan asam lemak bebas dari minyak nabati ke oli mineral dapat meningkatkan oiliness sehingga sama efektifnya dengan oli nabati dalam hal pengurangan hambatan dan aus.

 

Disebutkan bahwa salah satu kelemahan dari minyak nabati adalah mudah padat bila di suhu dingin. Berikut perbandingan daya tuang dari minyak nabati dibanding dengan oli mineral. Sebanding dengan oli SAE 30.
perbandingan-pour-point-minyak-goreng-dibanding-dengan-oli-mineral

BIOBASED LUBRICANTS – Harnessing the Richness of Agriculture Resources
sifat-dari-oli-minyak-kelapa-sawit

Sayang data dibanding minyak mineral lain tidak ada, namun di daftar ini bisa dilihat bahwa minyak kelapa sebaiknya dihindari karena pour point yang tidak bagus
perbandingan-pour-point-minyak-goreng-dibanding-dengan-minyak-nabati-lain

Efek dari fatty acid dijelaskan di tabel berikut:
When and How to Use Friction Modifiers
efek-dari-minyak-goreng-sebagai-aditif

Sementara itu yang terkandung di minyak goreng adalah:
Analysis of Pour Point of Vegetable Oils and Effect of Additives on Vegetable Oils by DSC

Palm oil contains both saturated fatty acid (palmitic acid) and mono unsaturated fatty acid (oleic acid) in nearly equal amount.

Karena minyak goreng dari kelapa sawit mengandung saturated fatty acid dan mono unsaturated fatty acid maka efeknya sebagai friction modifier adalah formation of reacted layer dan formation of polymer.

Penjelasan dari saturated dan unsaturated fatty acid:

– Of the saturated fatty acids, 80% are palmitic acid (lipid number of C16:0), 14% stearic acid (C18:0), and 3% arachidic acid (C20:0).
– Over 99% of the monounsaturated fatty acids are oleic acid (C18:1 c)
– 98% of the polyunsaturated fatty acids are the omega-6 linoleic acid (C18:2 n-6 c,c) with the 2% remainder being the omega-3 alpha-linolenic acid (C18:3 n-3 c,c,c).[2]

Secara rangking friction modifier urutannya adalah stearic, oleic lalu linoleic.

Dari sisi kandungan, sepertinya untuk minyak dari kelapa sawit maka yang lebih cocok adalah yang satu kali atau dua kali penyaringan tapi jangan pakai yang tiga kali penyaringan.

Berikut kegunaan minyak nabati pada pelumas, minyak kelapa sawit disebutkan berfungsi sebagai Lubricity Additive / Emulsifier Base / Corrosion Inhibitor (aditif / pelarut / anti karat):
Product List for Lubricants & Metalworking Fluids
pemanfaatan-minyak-nabati-pada-pelumas

Kelebihan minyak nabati:
Vegetable oils as lube basestocks: A review

Biolubricants formulated from plant oils should have the following advantages derived from the chemistry of the base stock:
i. Higher lubricity leading to lower friction losses, yielding more power, and better fuel economy.
ii. Lower volatility resulting in decreased exhaust emissions.
iii. Higher viscosity indices.
iv Higher shear stability.
v. Higher detergency eliminating the need for detergent additives.
vi. Higher dispersancy.
vii. Rapid biodegradation and hence decreased environmental/ toxicological hazards.

.1. Lebih licin menghasilkan hambatan lebih kecil, menghasilkan tenaga lebih besar dan fuel economy lebih baik
.2. Lebih tahan penguapan, mengurangi emisi gas buang
.3. VI tinggi
.4. Shear stability tinggi
.5. Daya pembersih kuat, menghilangkan kebutuhan terhadap aditif pembersih
.6. Daya pelarut kuat
.7. Cepat terurai sehingga mengurangi bahaya lingkungan

 

Penelitian di Indonesia:
Sukirno, Associate Professor, Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas Indonesia

My research interest is utilization of palm oil into several kind of bio-lubricant. It includes modification of less oxidation-resistant palm oil into more oxidation-resistant palm oil derivatives, and also utilization of glycerol as side-product of biodiesel production process.

BIOLUBRICANT
Palm oil is a good bio-lubricant as long as its weak point, which are the oxidation-resistant and low-temperature fluidity, can be increased. Research related to above topic includes modification of carbon double bond of the triglyceride via reaction such as epoxidation and ring opening of epoxides, and modification of ester group, to obtain high oxidation-resistant bio-lubricant. Another effort is manufacturing of glycerol carbonate from waste glycerol.

Dikatakan bahwa minat riset dari Pak Sukirno adalah pemanfaatan minyak kelapa sawit untuk bermacam pelumas bio. Ini termasuk modifikasi minyak kelapa sawit menjadi zat yang lebih tahan oksidasi, dan juga pemanfaatan glicerol sebagai produk sampingan daro proses produksi bio diesel.

Minyak kelapa sawit adalah pelumas bia yang bagus selama kelemahannya bisa diatasi, yaitu daya tahan terhadap oksidasi dan daya alir temperatur rendah.

Universitas Gadjah Mada – UGM Students Process Waste Oil into Biolubricants

“Waste cooking oil still contains oleic acid which can be used as bio-lubricants,” said Steven, Tuesday (17/5).

Universitas Sriwijaya – Studi Lubricant Properties (Density) Dengan Penambahan Calcium Hypochlorite

Palm oil is one of alternatives, however direct use of palm oil as a lubricant remain cause problems namely high density of palm oil leads to imperfect lubrication. It is necessary to find the correct additif which is able to improve the lubricant properties.

UNIVERSITAS SEBELAS MARET – PENGGUNAAN MINYAK KELAPA SAWIT SEBAGAI PENGGANTI OLI SAMPING PADA MOTOR DUA TAK UNTUK MENGURANGI PENGGUNAAN MINYAK BUMI

Setelah dilakukan uji coba diperoleh data berupa grafik dan table nilai dari hasil dynotest yaitu:
a. Menggunakan Oli samping mesrania 2T
b. Menggunakan Minyak kelapa sawit (bimoli)

dapat ditarik kesimpulan bahwa hasilnya adalah minyak kelapa sawit dapat digunakan sebagai oli samping.

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA – Kajian Pengaruh Blending Minyak Nabati dan Minyak Mineral terhadap Stabilitas Oksidasi Pelumas

Pencampuran dilakukan berdasarkan perbandingan % (w/w) minyak nabati hasil sintesis terhadap minyak mineral. Konsentrasi minyak nabati yang ditambahkan terhadap pelumas minyak mineral pada penelitian ini, yaitu 0%, 5%, 10%, 15%, serta 20%, kemudian dilakukan blending selama 15 menit dengan suhu 600C sampai 700C dan didiamkan selama 30 hari. Selanjutnya dilakukan pengujian TAN, IV, dan selanjutnya diuji ketahanan terhadap korosi.

Universitas Sumatera Utara – PELUMAS/GREASE

Keunggulan minyak sawit sebagai bahan pelumas antara lain adalah :
– Memiliki daya tahan yang tinggi terhadap oksidasi karena mengandung bahan
antioksidan alami yang dikenal sebagai tocopherol atau vitamin E.
– Lapisan film yang dibentuknya sangat alot (sulit diputus) sehingga sanggup
mencegah gesekan langsung antara logam dengan laogam.
– Lembaran-lembaran baja yang telah digiling dapat dengan mudah dibersihkan karena
asam lemak bebas minyak kelapa sawit mudah disabunkan dengan penambahan
bahan alkali.
– Secara kimiawi bersifat biodegradable, yaitu residu yang dihasilkan dapat diuraikan
oleh mikroorganisme pengurai sehingga tidak menjadi polutan terhadap lingkungan.
– Secara medis tidak mengganggu kesehatan manusia sebagai konsumen akhir.
– Dapat tersedia dalam jumlah mencukupi sesuai dengan tingkat kebutuhan. CPO
tersedia dalam jumlah yang melimpah di Indonesia. Jumlah CPO ini akan semakin
meningkat mengingat semakin banyaknya perkebunan kelapa sawit serta industri
CPO yang terus berkembang.
– Harga minyak sawit yang relatif rendah dan dalam batas ambang daya beli
masyarakat secara umum.

Universitas Andalas – Pemanfaatan Minyak Jelantah (Waste cooking oil) Sebagai Bahan Dasar Pelumas Ramah Lingkungan (Biobased Lubricant)

Pada hasil pengujian tribologi (koefisien gesek), minyak sawit jelantah memiliki nilai koefisien gesek rata-rata paling kecil sebesar 0.45 dari pada minyak jelantah lainnya.

Universitas Andalas – Pengaruh Penambahan Persentase Minyak Kopra, Kopra Komersil dan Minyak Sawit Terhadap Sifat Tribologi Pada Oli SAE 40

Sedangkan pada sifat tribologi (keausan), penambahan minyak sawit sebesar 20% memiliki penurunan keausan sebesar 21,7% pada material pin dan 54,7% pada material disk dibandingkan dengan oli SAE 40.

UNIVERSITAS RIAU – Studi Penambahan Additif pada Minyak Kelapa Sawit untuk Mendapatkan Sifat Pelumas (Lubricant) dan Pendingin (Coolant)

UNIVERSITAS SRIWIJAYA – Studi Kinetika Reaksi Asetilasi pada Pembuatan Pelumas Nabati dari Minyak Kelapa Sawit

Universitas Indonesia – Pembuatan pelumas…

Indonesia terkenal sebagai penghasil kelapa sawit terbesar di dunia sejak 2006 mengalahkan Malaysia (Deptan, 2008), oleh karena itu bahan dasar yang paling tepat bagi pelumas bio di Indonesia adalah minyak kelapa sawit.

Minyak sawit yang digunakan diperoleh dari minyak sawit (RBDPO) yang
dijual secara umum (Merk sania)

 

Dari kutipan kutipan diatas ditunjukkan bahwa minyak nabati punya film strength tinggi sehingga punya daya pelicinan yang tinggi. Dengan hanya menambahkan sedikit minyak nabati pada oli mineral dapat meningkatkan kelicinan sehingga sama dengan oli nabati.

Ini membuat penulis sangat penasaran dan memutuskan untuk mencoba.

Penulis mencoba menambahkan minyak goreng pada oli mesin dua motor sekaligus. Honda Beat ESP ISS 110cc dengan oli Valvoline 4T Super XLD motorcycle oil 10W40. Suzuki Spin 125 cc dengan oli Pertamina Fastron Techno 15W50.

Penulis menambahkan inginnya 5%, tapi sepertinya kelebihan, sehingga yang ditambahkan jadi sekitar 10 persenan. Dari referensi, jumlah yang dibutuhkan dikatakan sekitar 2000ppm (0.2%).

In general it was found that OFMs start to produce a reduction in friction between a wide range of metal-metal tribo-pairs when their concentration reaches about 0.00001M, above which friction decreases progressively to level out when concentration reaches ca. 0.01M [25-27]. This range is equivalent to approximately 2 to 2000 ppm.

Kalau goalnya stearic acid yang kandungan di dalam minyak goreng cuma 5%, maka untuk mencapai 0.2% butuh sekitar 4% minyak goreng (betul tidak kalkulasinya?) ditambahkan ke oli mesin. Bila 1 liter maka ditambahkan 40cc.

Kalau goalnya oleic acid maka karena kandungan dalam minyak goreng mencapai sekitar 40% maka minyak goreng yang ditambahkan ke dalam 1 liter oli mesin adalah 5cc.

kandunan-stearic-acid

Sebagai perbandingan, berikut kandungan fatty acid dari minyak nabati:
komposisi-fatty-acid-dari-minyak-nabati

 

Efek yang penulis rasakan setelah menambahkan minyak goreng pada kedua motor adalah suara mesin jadi lebih halus. Sebelum menambahkan minyak goreng penulis menyalakan motor dan membiarkan idle untuk mendengarkan suaranya. Lalu penulis matikan untuk ditambahkan minyak goreng. Setelah dinyalakan maka lambat laun suara idle menjadi lebih halus.

Ternyata suara halus ini juga terasa saat motor dipakai jalan. Yang paling terasa di Honda beat yang mesinnya lebih berisik dari Suzuki Spin. suara rintik rintik yang biasa terdengar jadi berkurang, membuat pemakaian motor jadi jauh lebih nyaman. Di Suzuki Spin suara mesin juga berkurang namun tidak sebanyak di Honda Beat.

Rekaman suara trik trik bisa dilihat di video berikut:

Walau suara lebih senyap dari motor lain namun suara rintik rintik masih mengganggu. Setelah oli mesin ditambahi minyak goreng suara rintikan tersebut jauh berkurang. Kalau ada kesempatan akan saya rekam lagi efek sesudahnya.

Soal tenaga dan irit penulis tidak yakin akan bisa mendeteksi. Dari percobaan pabrik saja cuma bisa menyimpulkan 2 persen. Rasanya susah sekali untuk bisa membedakan 2 persen penambahan tenaga ataupun irit. Mesin memang terasa lebih licin, namun untuk tenaga penulis tidak bisa memastikan bertambah atau tidaknya. Yang paling bisa dirasakan adalah suara mesin yang jadi jauh lebih halus.

Untuk efek samping, dikatakan bahwa minyak nabati punya sifat anti oksidasi yang jelek, sehingga oli akan lambat laun mengental. Oli juga lebih mudah mengental saat dingin.

Bagi penulis perlindungan mesin dan halusnya mesin nomer satu. Jadi dengan mesin lebih halus penulis tidak masalah bila umur oli berkurang 10% dari seharusnya (karena ditambah minyak goreng nya 10%). Ganti oli 10% lebih cepat tidak masalah yang penting motor jadi nyaman dikendarai.

Bila ada yang sudah pernah mencoba silahkan share. Bagi yang mau mencoba maka resiko ditanggung sendiri.

Dalam percobaan, sering sering cek oli, baik di warna ataupun kekentalan. Disebut diatas kelemahan dari minyak goreng sebagai pelumas adalah oksidasi (yang membuat oli makin kental), dan lebih mudah beku di suhu rendah.

Merek yang penulis sarankan adalah sunco, karena dikatakan minyaknya mengandung lebih banyak lemak tak jenuh (di referensi diatas adalah oleic), oksidasi paling sedikit dan lebih tidak mudah membeku di suhu dingin.

– Produk minyak goreng bebas lemak trans, mengandung 57% asam lemak tidak jenuh.
– Tidak Mudah Beku
– Rahasia beningnya Sunco berasal dari buah kelapa sawit segar yang langsung diolah. Warna bening adalah bukti minyak goreng yang baik karena tidak cepat hitam atau teroksidasi sehingga meminimalkan risiko kanker

Minyak goreng sunco mengurangi masalah utama pemakaian minyak goreng sebagai aditif pelumas yaitu faktor oksidasi dan daya tuang di suhu rendah.

Barangkali pembaca ada saran merek lain?

Update:
Hari ketiga, suara mesin kedua motor masih halus, saat oli diteteskan ke tisu terlihat warna oli coklat. Yang berbeda dari biasanya adalah distribusi warna. Biasanya bagian tengah lebih gelap warnanya dari bagian tepi, namun di tes oli ini warna sangat merata / homogen dari tengah sampai tepi. Menurut penulis ini ciri daya larut yang besar. Ini mengingatkan penulis dibahasan dimana untuk bisa meningkatkan daya pelarutan PAO perlu ditambahkan dengan ester atau minyak nabati.

Dengan ditambahkan minyak goreng maka oli mesin jadi lebih kuat daya pembersihnya sekaligus lebih baik daya lumasnya.

Update:
Hari keempat masih halus.

Saya share cara ini di grup pemakai oli dan ternyata mendapat sambutan negatif, diminta uji lab, dll. Respon negatif itu membuat saya memilih mundur dari grup tersebut, apalagi secara teori (soal oli tidak hanya topik ini saja) banyak ketidakcocokan dengan apa yang saya percaya dan dengan apa yang dipercaya di grup tersebut.

Minyak goreng dikatakan tidak bisa dipakai untuk pelumas. Padahal dari apa yang saya baca dan kutip minyak goreng berpotensi menjadi pelumas masa depan atau paling tidak untuk aditifnya. Entah mengapa di grup tersebut susah sekali menerima data dari akademisi. Minta uji lab padahal kalau disimak, sebenarnya banyak yang pakai oli mobil di motor asalnya juga karena ada yang berani coba coba. Tanpa perlu uji lab juga banyak yang meniru berdasarkan pengalaman yang sharing. Dan dari coba coba itulah jadi tahu apa yang bisa dan apa yang tidak bisa. Entah mengapa sharing cara yang menurut saya tidak lebih nyeleneh daripada pakai oli mobil di motor kok direspon negatif. Banyak yang sharing di grup tersebut yang pakai aditif nggak jelas (tidak ada pembuktian lab, hanya testimoni) tapi toh dibiarkan saja. Sementara yang penulis ajukan cara gratis malah dihambat.

Bisa dilihat di kutipan penelitian universitas universitas di Indonesia, kebanyakan adalah coba coba. Apa yang saya lakukan menurut saya tidak jauh berbeda dari apa yang dilakukan oleh peneliti universitas. Coba coba dan melaporkan hasil.

Tujuan saya bereksperimen ini adalah untuk mengeksplorasi potensi dari minyak goreng. Bila sukses, maka ini bisa jadi cara mudah untuk meningkatkan kualitas oli mesin yang sekarang susah cari yang bagus tapi murah. Murah banyak tapi jelek. Bagus ada tapi mahal. Dari eksperimen ini juga jadi tahu yang menengah juga masih bisa lebih jauh ditingkatkan hanya dengan menambah sedikit minyak goreng.

Ada yang bilang pemakaian minyak goreng sebagai aditif tidak sesuai dengan tujuan long drain interval. Kalau dari kutipan informasi oksidasi memang merupakan kelemahan utama minyak goreng, namun perlu diingat juga bahwa kebanyakan orang menentukan waktunya ganti oli berdasarkan kasarnya suara mesin. Sementara itu menambahkan minyak goreng ke oli mesin malah membuat mesin makin halus suaranya.

Kelemahan dari oksidasi itu juga dikatakan bisa dikurangi dengan bantuan aditif. Sementara di oli sendiri biasanya sudah ada aditif anti oksidasi seperti misalnya ZDDP. Jadi dengan adanya keberadaan aditif anti oksidasi dan volume penambahan minyak goreng yang sangat kecil, maka faktor oksidasi ini menjadi jauh berkurang.

Jadi bila acuan penggunaan oli adalah kasarnya suara mesin, maka penambahan minyak goreng ke oli mesin justru sesuai dengan tujuan long drain interval. Pemakaian oli jadi lebih lama, keausan mesin juga berkurang.

 

Update:
Ada bro yang bertanya tentang apa efek dari kandungan vitamin A pada minyak goreng.

Kalau dari peraturan, sepertinya setara dengan 27ppm = 0.0027 %.
Fortifikasi vitamin A pada minyak kelapa sawit

Penambahan vitamin A ini mempersyaratkan 45 IU yang ekuivalen dengan 27ppm

Disebut bisa larut pada minyak.
Kontroversi Fortifikasi Vitamin A dalam Minyak Goreng
rumus-vitamin-a-pada-minyak-kelapa-sawit

proses-pengolahan-kelapa-sawit

Menurut penulis jumlah tersebut kecil sekali sehingga tidak signifikan, dan sifatnya juga disebut sesuai untuk tipe pelumasan physisorption.

 

Update untuk aplikasi di motor dengan kopling basah dan transmisi motor matik:
Bro zorro melaporkan bahwa menambahkan 100ml minyak goreng fortune pada oli fastron techno 10W40 pada motor Yamaha Vixion tidak membuat selip kopling, suara mesin lebih halus.

Penulis sendiri barusan mencoba menambahkan minyak goreng bimoli pada oli transmisi Honda Beat ESP, tidak mengalami selip walau untuk boncengan, suara transmisi jadi lebih halus.

Bro Robbisantiaji melaporkan bahwa menambahkan 100ml minyak goreng sovia pada oli Shell Rimulla 15W40 membuat tarikan lebih enteng dan suara mesin bawah halus, suara dekat head ada suara kasar.

Bro nunu melaporkan bahwa pakai TMO 10W30 + minyak goreng di Vario suaranya jadi halus, malah lebih halus dari amsoil 0W20. Suara motor Vario yang pakai Amsoil 0W20 suaranya makin halus setelah ditambah 100ml minyak goreng fortune.

32 thoughts on “Implementasi dan dasar teori trik sesat minyak goreng sebagai aditif pelicin oli mesin matik dengan hasil mesin lebih halus dan enteng

  1. Assalamualaikum wwb.apakah bisa untuk aditif mobil avanza M/T tipe G tahun 2012..berapa ℅ penambahannya…saya biasa pake fastron 10w-40.terima kasih prof sebelumnya

    Suka

    • Wa ‘alaikumus salam Wah saya bukan prof. Ini masih eksperimen, belum menyarankan karena belum tahu efek jangka panjangnya. Bila ingin coba, dibuat 2-5% saja. Kalau dari teori kandungannya akan menempel pada permukaan logam karena sifat yang polar. tidak boleh terlalu banyak karena nanti jadi saingan dengan aditif polar yang lain. Sifatnya mirip ester, sementara oli ester itu biasanya kandungan 2-3%.

      Dipakai untuk oli mesin Avanza mestinya memungkinkan. Yang pakai 100% minyak goreng pun ada (dibahas di artikel sebelumnya), tapi menurut saya sebaiknya dipakai sebagai aditif saja.

      Suka

    • mestinya enggak karena yang bikin sludge itu bila olinya tidak kompatibel. Minyak nabati disebut kompatibel dengan PAO ataupun oli mineral. Mengental karena oksidasi juga dialami oli mineral/PAO juga.

      Mengapa margarine?

      Suka

  2. Saya ingin pake sunflower oil sebagai additif oli, tapi ada dua tipe yaitu food grade dan kosmetik grade. Grade manakah yang cocok sebagai additif oli ?

    Suka

  3. Pingin coba yg sesat2 tapi nggak punya matic… Kemarin lihat minyak jagung.apa Bisa juga untuk aditif oli..??? Terus experimen bro, semoha berguna.. Semangat

    Suka

    • terima kasih.

      Untuk motor selain matik ada kemungkinan bisa kalau olinya jelek perlindungannya (bunyi kasar). tapi untuk coba coba sebaiknya sedikit saja. kalau terlalu banyak sampai licin harus ganti oli.

      Kalau minyak jagung sepertinya kandungan oleic acid lebih sedikit, dan linoleic acid lebih banyak. Linoleic acid itu aditif friction modifier juga tapi kalah bagus dengan oleic atau stearic.

      Bisa dilihat kandungannya di link berikut
      Corn oil

      Suka

  4. Kalau stearic acid kan bahan tambahan untuk pengeras pada sabun dan lilin. Jadi nyari minyak yang kadar oleic acidnya tinggi yaitu sunflower oil (70% oleic acid), tapi carinya susah dan mahal maka dapat diganti dengan minyak zaitun atau alpukat yang kadar oleic acidnya juga tinggi. CMIW.

    Suka

    • iya, stearic sepertinya memadatkan.

      kalau dari referensi saturated fatty acid itu punya sifat mendekati sifat anti wear. Jadi sepertinya masih ada untungnya memakai minyak yang masih mengandung saturated fatty acid.

      beberapa referensi juga menyebutkan minyak kelapa sawit dipakai apa adanya, baik sebagai pelumas atau aditif

      Suka

      • Setelah baca artikel ini, ane nekad”an coba di vixion saya.. hehe ,ane pake pft ijo 10-40 trus ane tambahin 100 ml minyak goreng baru merk fortune, ane coba pake gk ada gejala slip kopling.. pertanyaannya… apakah penambahan minyak goreng tidak mengganggu aditif yg ada di pft ijo?

        Suka

        • sip, terima kasih sharingnya. berarti yang pakai kopling basah bisa coba juga. terima kasih sudah berani coba.

          Untuk mengganggu aditif tidak, bahkan minyak nabati disebut bisa dipakai sebagai aditifnya PAO selain ester.

          Suka

    • Saya sudah coba kasih 100ml minyak goreng bimoli ke mobil Daihatsu Ayla. Tidak terasa perbedaan mencolok di halusnya mesin, namun mobil saya suara mesin sudah halus dari sejak pakai pro capacitor dan topup valvoline, walau 3 silinder tapi sehalus 4 silinder. Walau sudah hampir 10 ribu km masa pakai olinya tapi masih halus, mungkin karena saya jarang pakai rpm tinggi. Hampir 1/3 dari kalau pakai matik.

      Soal tenaga juga susah dicermati karena biasa naik sepeda motor matik, dan tenaga mobil walau cuma 1000cc tapi berkali lipat matik akselerasinya.

      Setelah ditambahi minyak goreng tarikan masih enak, getaran setir rasanya lebih sedikit.

      Suka

  5. […] Update: Harus diingat bahwa minyak goreng tidak ada aditifnya. Oli paling mahal PAO atau oli paling murah Grup I saja ada aditifnya. Jadi untuk amannya, lebih baik minyak goreng dipergunakan sebagai campuran oli mesin. Ini sudah penulis coba dan ternyata hasilnya memuaskan. Yang melakukan penelitian untuk hal ini juga banyak. Implementasi dan dasar teori trik sesat minyak goreng sebagai aditif pelicin oli mesin matik dengan … […]

    Suka

  6. dulu tahun 1997, pas kepepet mogok kehabisan olsam buat Tornado bokap, ada orang tambal ban sekaligus jualan bensin eceran yang mengusulkan beli bimoli ukuran setengah liter buat darurat karena ga ada yang jualan olsam di kampung, pas distarter pake tombol belum mau idup, begitu diselah dua kali, motor yang tadinya macet langsung bergasing, cuma gak tahan selama otw pulang dimarahin orang gara2 asapnya tebal en bau bawang.

    Suka

      • Kalau mbrebet rasanya lebih karena minyak goreng lebih susah terbakar daripada oli mesin biasa. flash point jauh lebih tinggi. Namun ini terjadi sepertinya cuma di pemakaian sebagai oli samping. selama beberapa minggu pakai campuran minyak goreng di oli mesin matik, tenaga rasanya tidak berkurang. malah sekarang kalau kencang mentoknya sama limiter.

        Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s