Camless teknologi lebih canggih dari VVTI ataupun VTEC bikin kendaraan 30 persen lebih irit atau bertenaga dan rpm bisa mencapai 15 ribu untuk motor kecil


Mungkin banyak yang sudah pernah dengar teknologi camless. Camless itu pengembangan selanjutnya dari mekanisme penggerak valve yang fungsinya untuk mengatur udara yang masuk atau keluar dari ruang bakar. Selama ini valve diatur buka tutup nya dengan camshaft.

Bagian valve ini banyak mendapat perhatian pengembangan. Seperti misalnya DOHC yang menambahkan valve sehingga ada dua valve / katup untuk udara masuk, dan atau dua valve untuk udara keluar, penambahan valve ini mengakibatkan penambahan camshaft. Lalu diperkenalkan juga teknologi variable valve dimana timing dari camshaft dibuat bisa berubah sesuai rpm mesin. Ada teknik yang membedakan ini berdasarkan tahap rpm ada juga yang berubah berkelanjutan (continuous variable vavle) Beberapa teknologi mutakhir valve (continuous valve) bisa dilihat contohnya di link berikut:
Continuous Variable Valve Lift (CVVL)

Karena bagian ini sangat rawan terhadap aus karena gesekan, maka diperkenalkan juga teknologi rocker roller yang menambahkan ball bearing pada permukaan yang bersinggungan dengan camshaft.

Beberapa tipe camshaft ditunjukkan berikut ini:
How a car works – The engine – how the valves open and close
finger-operated-overhead-camshaft
overhead-camshaft
pushrods-camshaft

Pengembangan teknologi untuk valve tersebut seringkali masih ada kekurangannya, seperti misalnya:
plus minus DOHC dan SOHC engine ala welovehonda

minusnya DOHC engine
-pembuatan engine lebih mahal
-sparepart lebih banyak
-stel kelp susah, wong pake shim tapped
-lebih boros bahan bakar
-bobot mesin berat gan ( keberatan noken kali🙂 )

SOHC bertorsi lebih baik pada putaran rendah karena lebih ringan (memutar mesin) dan sebaliknya DOHC menghasilkan torsi lebih rendah karena lebih berat. Namun pada pada kecepatan tinggi, torsi mesin DOHC akan lebih baik. Itulah untung-ruginya.

Tujuan utama dari pengembangan teknologi valve adalah untuk efisiensi. Dengan buka tutup katup yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan, maka mesin akan makin efisien. Lebih irit dan lebih bertenaga. Namun sayangnya pengembangan tersebut membuat mesin makin rumit, makin besar atau makin berat.

Untuk mengatasi kelemahan tersebut maka mulai dicoba teknologi valve yang tanpa menggunakan camshaft, yang dinamakan camless. Valve digerakkan dengan sistem elektromagnetik atau dengan udara atau cairan. Salah satu contoh dari teknologi camless adalah yang dinamakan Free Valve Technology yang diperkenalkan oleh Cargine dan Koenigsegg. Teknologi ini memanfaatkan tekanan udara yang dikontrol oleh komputer.

Video fitur bisa dilihat berikut ini:

Dikatakan bahwa teknologi free valve bisa mengurangi ukuran hingga 50%, mengurangi berat hingga 30%,

 

Video penjelasan bisa dilihat berikut ini, oleh Christian Von Koenigsegg dan Urban Carlson:

Dikatakan bahwa dengan memakai teknologi ini selain mesin menjadi lebih ringan, lebih murah dan lebih ringkas, kendaraan juga bisa 30% lebih irit, 30% lebih bertenaga dan masih bisa dikembangkan untuk lebih efisien lagi. Setiap katup bersifat independen dan bisa dikontrol secara terpisah. Buka tutup katup bisa diatur hingga 20 ribu rpm bila dibutuhkan. Bukaan valve bisa diatur lebih fleksibel, buka langsung penuh dan menutup penuh secara mendadak tidak seperti pada sistem dengan camshaft yang buka atau tutup harus bertahap.

free-valve-technology

Untuk ukuran aktuator yang sama bisa dipergunakan untuk menggerakkan valve ringan dari motor cc kecil di 15 ribu rpm atau untuk menggerakkan valve besar dari truk yang berjalan di 2500 rpm.

free-valve-testing-in-saab-9-5

Teknologi ini sudah dicoba diterapkan di SAAB 9-5 selama kurang lebih dua setengah tahun, sekitar 60 ribu km tanpa ada kegagalan pada sistem free valve. Mobil dipakai pada bermacam kondisi cuaca termasuk juga suhu dingin minus 20 derajat celcius. Pada implementasi ini lebih ke daya tahan dan kemampuan untuk dijalankan di udara dingin (karena sering terjadi masalah pelumasan pada sistem camshaft pada suhu dingin ini). Di implementasi ini efisiensi yang dicapai adalah 20% (20% lebih irit dan bertenaga).

Update:

Ada video baru:

Dikatakan teknologi freevalve memungkinkan penggunaan kompresi 12:1 atau bahkan 14:1 pada mesin turbo, sementara normalnya adalah 9:1. Pada saat diimplementasikan pada mesin turbo 1600 cc didapatkan peningkatan torsi 47%, peningkatan 45% dari 160hp menjadi 240hp. Walau begitu kendaraan bisa menjadi lebih irit sekitar 15%. Emisi juga berkurang 35% terutama dari pengurangan emisi polusi pada saat mesin dingin.

10 thoughts on “Camless teknologi lebih canggih dari VVTI ataupun VTEC bikin kendaraan 30 persen lebih irit atau bertenaga dan rpm bisa mencapai 15 ribu untuk motor kecil

    • Freed unggul di performa dan pintu sliding, tapi kurang empuk.
      Mobilio juga bertenaga tapi juga kurang empuk.
      Ertiga unggul di nyaman dan irit.
      Sienta pintu sliding, tapi ergonomi kurang tapi nyaman.

      Kalau untuk luar kota yang aspalnya sering banyak tambalan sepertinya antara ertiga dan sienta. karena saya fokusnya bukan tenaga. Toh kalau di luar kota, untuk menyalip nyalip lebih butuh kenal cirinya mobil. Mobil saya juga Ayla yang pakai modif pro capacitor sudah memuaskan dalam sisi performa.

      Untuk oli daripada magnatec atau shell HX7, saya lebih mending fastron techno.

      Suka

        • Kalau performa nomer satu maka pilihan cuma yang ada transmisi manualnya. Karena kalau versi otomatis sering lambat responnya, apalagi untuk yang versi CVT. yang pakai matik juga sering salah, akselerasi pakai D2/D3. Yang pakai manual sering tidak tahu bahwa tenaga VTEC keluarnya di rpm tinggi.

          Fastron gold. Murah dan kualitas lebih bagus dari magnatec dan helix astra. Sebanding castrol edge / shell helix ultra.

          Magnatec dan helix astra itu sebandingnya dengan fastron techno.

          Suka

            • tergantung driver dan situasi. Kalau 0-100 kebanyakan sesuai power to weight. mobilio > ertiga, freed > sienta, jazz = yaris > swift.

              kalau di jalan dalam keadaan sudah jalan, tergantung drivernya bisa memanfaatkan rpm maksimal tidak. toyota kadang powernya cuma ada ditengah rpm, honda powernya cuma ada di rpm tinggi.

              Suka

    • Mestinya kalau di motor tidak perlu, karena tidak ada sensor khusus untuk mendeteksi knocking. Kalau di mobil pakai premium dan terjadi knocking maka pengapian dimundurkan secara otomatis. Kadang tidak bisa maju sendiri setelah pakai pertamax sehingga harus reset ECU.

      Kalau di motor, oktan terlalu rendah tidak ada proteksi, namun biasanya sudah disetel toleransi cukup. Dilihat saja apakah di busi ada bintik bintik atau tidak.

      Kalau terjadi knocking maka untuk mengurangi itu perlu pakai busi lebih dingin (namun resikonya mesin dingin susah menyala / misfire di rpm rendah) , dan memboroskan bensin (setel CO).

      Suka

  1. klo di z1 ane . co ane setting di +3 , namun hasilnya kurang memuaskan . karena dari knalpot keluar cipratan bensin dari lubang bawah knalpot .. dan untuk tenaga tidak berpengaruh besar. lain ceritanya bila mesin sudah oprekan . mesin butuh campuran bensin dan udara lebih banyak sehingga butuh ecu racing yg bs disetel pengapiannya ..

    ohya .. untuk busi lebih dingin bs cari kode satu tingkat diatas standarnya ke angka 7 (misal cr7hgp) . minusnya saat dipanaskan sering2 mati. namun untuk jarak jauh tenaga tetap terjaga dan ga ngelitik saat tanjakan.. itu sekedar review kecil saya..

    Suka

    • makasih infonya. iya, tambah bensin tidak selalu menambah tenaga. karena rasio udara harus pas. Ada ideal untuk bisa irit ada ideal untuk bisa bertenaga. kalau kurang atau kelebihan malah tidak tercapai

      Untuk busi, iya, harus cek businya juga. Kalau sekitarnya hitam, harus coba yang lebih panas.

      Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s