Alasan mengapa hp maksimal tidak mencerminkan performa sesungguhnya di jalan


Setelah dirilisnya spesifikasi power resmi untuk Honda CBR250RR, banyak yang memberikan perkiraan tentang bagaimana performa CBR250RR bila dibanding dengan R25 atau Ninja. Disini penulis mencoba menunjukkan salah satu faktor yang bisa membuat perkiraan tersebut meleset. Faktor tersebut adalah faktor power band.

Penjelasan wiki tentang powerband adalah:
Power band – From Wikipedia, the free encyclopedia

The power band of an engine or electric motor refers to the range of operating speeds under which the engine or motor is able to operate efficiently. While engines and motors have a large range of operating speeds, the power band is usually a much smaller range of engine speed, only half or less of the total engine speed range

Power band adalah kecepatan (rpm) saat mesin bekerja paling efisien (paling bertenaga).

Powerband dari tiap kendaraan berbeda beda karena struktur mesin dan keperluan yang berbeda. Untuk mempermudah penjelasan, dimisalkan ada 3 macam powerband yang berbeda, namun dengan batas rpm yang sama:
3-jenis-powerband

Semuanya sama sama punya tenaga maksimal 36ps, namun dengan powerband yang berbeda beda. Motor A dengan tenaga maksimal berada di 9000 hingga 12000 rpm. Motor B dengan tenaga maksimal berada hanya di 12000rpm. Motor C dengan tenaga maksimal berada di 7000 hingga 10 ribu rpm.

 

Dari sekolah kita belajar bahwa akselerasi itu berbanding lurus tenaga. Makin besar tenaganya, makin besar akselerasinya. Tenaga lemah maka akselerasi loyo.

Biasanya rasio gigi dari motor membuat akselerasi memanfaatkan selisih sekitar 3000rpm. Jadi misal shift up dari gigi satu di rpm 12000 maka rpm akan jadi 9000 saat sudah di gigi 2. Jadi contoh sengaja membuat powerband motor A persis di range rpm tersebut.

Pada kasus motor A, maka dari rpm 9000 hingga 12000 power selalu berada di tenaga maksimal. Kasus inilah yang ideal, sehingga perkiraan dari para blogger banyak yang mengasumsikan powerband seperti ini. Dianggap bahwa motor Honda CBR250RR tenaga di powerbandnya rata atau selalu sama dengan tenaga maksimal. Di rpm tersebut tenaga akan selalu maksimal.

Pada kasus motor B, powerband ada di rpm lebih rendah sehingga tenaga maksimal hanya ada di rpm 9000 hingga 10000 rpm. Di rpm 12000 sudah turun tenaganya. Bila si joki atau ridernya mengendarai dengan gaya yang sama dengan motor A, maka motor B tidak akan berakselerasi dengan maksimal. Sehingga hasil dijamin payah. Akselerasi baru akan maksimal bila si joki memanfaatkan rpm di 7000 hingga 10000 rpm, shift up di 10 ribu rpm. Bila jokinya memanfaatkan powerband dengan benar maka akselerasi akan bisa setara dengan motor A.

Pada kasus motor C, powerband sempit sekali dan cuma terjadi di rpm 12000. Tenaga di rpm 9000 lebih lemah dari motor A sekitar 25%. Walau joki sudah pakai power band yang benar akselerasi tidak akan sebagus motor A. Kalau dirata rata maka power di powerband cuma 32ps saja. Dijamin motor C akan lebih lambat dari motor A. Powerband seperti inilah yang bisa membuat perkiraan jadi meleset. Karena tenaga tidak merata dan cuma ada di rpm 12 ribu saja. Diantara ketiganya, motor C jadi yang paling lambat.

 

Di kenyataan, perbedaan powerband bisa disimak pada mesin baru vs mesin lama dari Honda CB150R

Di contoh diatas hp maksimal cuma beda sedikit tapi powerband beda sekali. Ini membuat cara atau rasa mengendarai jadi berbeda.

 

Perbedaan powerband juga terjadi pada Suzuki Satria, Yamaha MX King dan Honda Sonic:

 

Kalau jokinya sembarangan dan tidak memanfaatkan perbedaan powerband dari motor motor tersebut, maka hasilnya akan menyudutkan motor tertentu. .

Perkiraan hp bisa meleset karena tenaga pada powerband belum tentu rata dengan tenaga maksimal. Hasil yang diperoleh oleh joki yang benar benar mengerti powerband akan berbeda dengan joki yang pakai sembarangan. Jadi tidak cuma perkiraan harus memperhitungkan powerband, si joki juga harus bisa memanfaatkan powerband.

Untuk mengetahui powerband bisa pakai cara berikut:
Membikin grafik kurva tenaga ala dyno dengan data dari video akselerasi

 

Menghitung powerband dengan cara tersebut bisa membuat kita mengetahui pada rpm berapa kita perlu shift up. Kita tidak bisa mengandalkan data dari spesifikasi resmi karena seringkali kenyataan dilapangan berbeda. Seperti contohnya dari yang penulis tahu adalah seperti pada yang terjadi di mesin 1KR-DE (Daihatsu Ayla atau Toyota Agya).

Dengan perhitungan dengan cara di link diatas, power maksimal di 1KR-DE penulis adalah di sekitar 5300 rpm. Di 1KR-DE lain ada yang 4700 rpm atau bahkan lebih rendah. Ini berbeda dengan yang tertera di spesifikasi dimana tenaga disebut maksimal di 6000 rpm.

Modif, oli dan bahan bakar bisa mempengaruhi powerband. Dan ini membuat motor tidak bisa berakselerasi maksimal bila kita mengasumsi bahwa powerband akan sesuai dengan spesifikasi. Perkiraan juga bisa salah.

Saat membaca data perkiraan maka perhatikan rpm maksimal dan rpm dari tenaga maksimal, ini paling tidak mencerminkan powerband berdasar spesifikasi. Namun tentu kenyataan di lapangan bisa berbeda. Kalau ingin berakselerasi maksimal maka sebaiknya pelajari powerband kendaraannya.

4 thoughts on “Alasan mengapa hp maksimal tidak mencerminkan performa sesungguhnya di jalan

  1. mendalam sekali (kaya sumur ane)
    mungkin ini juga salah satu alasan (variabelnya banyak) mengapa m1 di motogp yang notabebe paling lemot bisa selalu di papan atas (kecuali jungkir balik di selokan)

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s