Perkembangan eksperimen penambahan minyak goreng ke oli mesin sekarang sudah dicoba di oli transmisi motor matik, motor kopling basah dan di mobil


Setelah sebelumnya uji akselerasi, sekarang penulis mencoba mengembangkan eksperimen menambahkan minyak goreng ke oli mesin ke mobil dan oli transmisi juga.

Sebenarnya rencana penulis menambahkan minyak goreng ke oli mobil adalah untuk merekam apakah ada perubahan suara mesin. Namun ternyata tidak terdengar perubahan suara mesin saat idle kalau di video. Saat sebelum dan sesudah menambahkan minyak goreng penulis rekam namun penulis tidak bisa membedakan.

Soal tenaga kurang begitu merasakan perbedaan, karena pakai mobil jarang dan akselerasinya berkali kali lipat kalau pakai matik walau mobil cuma 1000cc. Suara mesin halus namun tidak begitu terasa perubahannya karena sejak dari awal mobil baru pakai pro capacitor dan suara mesin walau 3 silinder terdengar sehalus suara mesin 4 silinder. Getaran di setang kemudi terasa berkurang tapi entah benar atau tidak. Kesan akselerasi mesin lebih halus ada, namun tidak begitu yakin.

Setelah dipakai jalan suara mesin terdengar halus. entah apa lebih halus dari sebelumnya atau tidak.

 

Sementara itu bro zorro, melaporkan hasil penambahan minyak goreng di motor Vixion, yang sedang pakai oli Fastron 10W40 jalan 51km:

Setelah ane baca” artikel yg ini jg yg sebelumnya, ane nekad”an coba di vixion ane.. penasarn soalnya.. hehe ane pake fastron ijo 10w40 baru jalan 51km, ane tambahin minyak goreng 100ml merk fortune.. dan tidak ada gejala slip kopling dan relatif lebih alus suaranya, pertanyaannya..apakah minyak goreng tersebut tidak merusak aditif pada oli? soalnya masih agak ragu.. takut mempengaruhi viskositas pada oli tersebut, terimakasih atas jwabannya

Penulis agak kaget juga karena ternyata tidak membuat licin. Mungkin sifat minyak goreng lebih ke menghaluskan suara dan tidak membuat licin kopling. Mungkin sifatnya lebih ke friction modifier dan bukan anti wear atau extreme protection. Sifat polar friction modifier membuat oli lebih mudah menempel ke permukaan logam, membuat lapisan cairan di permukaan logam, membuat cairan oli lebih mudah mengalir dan permukaan logam lain lebih mudah meluncur. Sementara anti wear dan extreme protection membuat lapisan padat pada permukaan logam. Yang anti wear membuat permukaan yang mudah terkelupas yang meratakan dan melicinkan permukaan, sementara extreme protection membuat lapisan yang mencegah lengket karena panas. Mungkin karena sifat polar minyak goreng tidak membuatnya menempel pada bahan selain logam, hanya membuat licin permukaan logam dalam bentuk cair saja, yang dalam hal gesekan permukaan kalah dengan aditif anti wear dan extreme protection.

Lebih lanjut bisa dibaca di artikel berikut:
Mengenal dasar pelumasan, ada saat dimana perlindungan tidak ditentukan oleh anti wear

Ini membuat penulis tertarik untuk mencoba menambahkan minyak goreng ke oli transmisi motor Honda Beat karena transmisi matik sepertinya sama dengan kopling basah di Vixion, butuh oli yang tidak boleh terlalu licin. Kebetulan juga oli transmisi Beat sudah mulai kasar lagi, sudah lebih dari 3000km dari saat ganti.

Setelah ditambahkan minyak goreng bimoli kira kira 5%, suara idle yang asalnya kasar ada suara sak sak sak jadi berkurang. Dibuat boncengan tidak terasa adanya selip. Dibuat agak kencang pun tidak terasa selip.

Jadi sepertinya, penambahan minyak goreng cukup aman untuk kopling basah dan transmisi matik. Tapi sebaiknya penambahan diberikan dibawah 10% saja.

 

Penulis juga melakukan uji warna pada oli mesin Honda beat. Berikut fotonya, sesaat setelah diteteskan:
uji-warna-oli-ditambahi-minyak-goreng-1

Berikut fotonya sesudah beberapa menit dibiarkan:
uji-warna-oli-ditambahi-minyak-goreng-2

Sekilas warna sudah mulai gelap, namun belum sampai hitam.

Distribusi warna oli yang merata membuat penulis berasumsi bahwa penambahan minyak goreng membuat oli menjadi lebih kuat daya pelarut dan pembersihnya. Agak aneh karena kalau di artikel sebelumnya, disebutkan aditif pelicin sering kerjanya bertabrakan dengan aditif pembersih.
Oli yang bagus untuk mesin itu tidak butuh viscosity index yang tinggi tinggi amat, banyak yang salah mengerti soal VI dan HTHS

Mungkin ini karena sifat minyak nabati yang dari sananya daya pelicinnya bagus, namun daya pembersih dan daya pelarut juga bagus. Keunggulan minyak nabati:
Vegetable oils as lube basestocks: A review
Biolubricants formulated from plant oils should have the following advantages derived from the chemistry of the base stock:

i. Higher lubricity leading to lower friction losses, yielding more power, and better fuel economy.
ii. Lower volatility resulting in decreased exhaust emissions.
iii. Higher viscosity indices.
iv Higher shear stability.
v. Higher detergency eliminating the need for detergent additives.
vi. Higher dispersancy.
vii. Rapid biodegradation and hence decreased environmental/ toxicological hazards.

.1. Lebih licin menghasilkan hambatan lebih kecil, menghasilkan tenaga lebih besar dan fuel economy lebih baik
.2. Lebih tahan penguapan, mengurangi emisi gas buang
.3. VI tinggi
.4. Shear stability tinggi
.5. Daya pembersih kuat, menghilangkan kebutuhan terhadap aditif pembersih
.6. Daya pelarut kuat
.7. Cepat terurai sehingga mengurangi bahaya lingkungan

Kelemahan minyak nabati terutama adalah lebih mudah teroksidasi (warna oli jadi lebih cepat hitam) dan pour point yang jelek (di suhu 0 derajat beku). Ini yang membuat penulis berpikir untuk pakai minyak goreng sunco karena katanya di suhu 0 derajat tidak membeku dan dikatakan lebih tidak mudah teroksidasi.

Karena mempergunakan minyak goreng sebagai aditif, maka sifat oksidasi dan pour point minyak goreng akan lebih baik karena di oli mesin ada aditif anti oksidasi (seperti ZDDP) dann aditif untuk mencegah beku. Jadi mestinya kelemahan tersebut tidak akan banyak menimbulkan masalah.

Karena daya pembersih yang bagus bisa jadi saat pemakaian pertama minyak goreng sebagai aditif pada oli mesin bisa membuat oli lebih hitam seandainya di mesin tersisa kerak dari oli yang lama. Minyak goreng punya daya pelarut dan pembersih yang bagus sementara minyak goreng juga cenderung menempel pada permukaan logam karena sifat polarnya. Jadi penambahan aditif minyak goreng pertama kali bisa membuat oli lebih hitam karena minyak goreng akan membersihkan mesin dari kerak atau sisa oksidasi oli.

Karena ternyata performa Honda Beat ESP tidak lebih bagus dari Beat FI tidak sesuai klaim maka performa new CBR250 bisa jadi akan mengecewakan juga


Pada waktu penulis membuat artikel tentang hasil uji akselerasi beat ESP setelah oli mesin ditambahkan minyak goreng, penulis mencoba membandingkan performa dengan rekaman akselerasi honda beat lain. Yang penulis temukan adalah video akselerasi Honda Beat FI.

Karena versinya lain, penulis mencoba mencari tahu bagaimana sebenarnya perbedaan performa dari Honda Beat ESP dan Honda Beat FI. Pada awalnya yang ketemu cuma referensi yang mengutip dari rilis resmi AHM, namun kemudian menemukan yang dari pengujian independen. Dan ternyata hasilnya berbeda. Di keterangan resmi disebutkan bahwa performa Honda Beat ESP mengungguli performa Honda Beat Fi. Namun dari pengujian ternyata tidak begitu.

Di keterangan resmi informasinya seperti berikut ini:
Apa Saja Sih Kelebihan Honda BeAT eSP Dibanding Honda BeAT Pendahulunya
performa-beat-esp-vs-fi

Diperlihatkan bagaimana Honda Beat ESP yang merupakan versi baru dari Honda Beat FI lebih irit, lebih bertenaga, kompresi mesin lebih tinggi, akselerasi lebih cepat dan top speed lebih tinggi.

Dan itu pula yang dikesankan pada artikel review seperti contohnya pada otomotifnet.com:
Test Ride All New Honda BeAT eSP Sporty dan POP eSP, Lengkap Dengan Data Akselerasi
performa-beat-esp

 

Bila hanya membaca kedua artikel tersebut terkesan Honda Beat ESP benar – benar lebih bagus performanya daripada Honda Beat FI. Sampai penulis menjumpai artikel berikut:
Komprasi Honda New Vario FI dan New BeAT FI, Ini Detail Bedanya!
performa-beat-fi

Di artikel tersebut terlihat bahwa performa dari Honda Beat ESP dan Honda Beat ESP sebenarnya sama saja. Walau di atas kertas dikatakan tenaga bertambah namun di lapangan sebenarnya sama saja.

Kalau melihat dari sisi data resmi, akselerasi 0-200m Beat lama dikatakan butuh 13,1 detik, Beat ESP butuh 12,6 detik. Sementara pengujian lapangan oleh otomotifnet untuk Beat ESP di 0-201m butuh 13,2 dan 13,3 detik. Angka pengujian beda jauh dengan angka klaim. Angka pengujian untuk Beat ESP lebih mirip dengan klaim resmi untuk Beat FI.

Dari sisi data pengujian independen, terlihat bahwa untuk 0-60km/jam dan 0-100m hasil nya sama persis untuk Beat FI dan Beat ESP sporty.

 

Temuan ini membuat penulis jadi meragukan klaim kelebihan kelebihan dari CBR250, yang sampai artikel ini dibuat penulis belum dengar apakah ada yang sudah terima unitnya. Padahal CBR sudah diperkenalkan mulai dari akhir Juli 2016. Yang inden juga banyak.
AHM Kaget, Pemesanan CBR250RR Sudah 2.000 Unit

“CBR250RR kan kita luncurkan dengan cara yang berbeda. Harga dan spesifikasi mesinnya belum lengkap, tapi ternyata tidak mempengaruhi pemesanannya. Hinga saat ini sudah 2.000 unit, ini menandakan produknya sangat diterima,” ucap Margono kepada wartawan, Jumat (2/9/2016).

Menurutnya, meski baru status pemesanan namun keseriusan konsumen sudah terlihat dengan berani sampai melakuan tanda jadi atau booking fee sebesar Rp 5 juta. “Seperti saat peluncuran kemarin, unitnya akan mulai dikirim paling lambat sampai akhir tahun 2016,” ujar Margono.

Aneh juga disebut spesifikasi belum lengkap padahal di website website sudah pada bilang Honda merilis spesifikasi:
Spesifikasi lengkap all new Honda CBR250RR….RPM 16,000, red line 14,000 RPM. Overbore….Ediann !!! July 25, 2016

Akhirnya Honda merilis spek resmi all new CBR250RR. Dan dari data tersebut IWB memprediksi letupan atas mesin anyar pasti nggegirisi untuk mesin sekelasnya. Hal ini diraba dari spek yang dipastikan mengusung komposisi overbore sehingga lengkingan RPM tembus 16 ribu dengan limiter dikisaran 14ribu. Byuh…byuh….ora bikin bathuk IWB mengkerut ki…..

Dari spesifikasi yang dirilis Welovehonda, kita bisa lihat…..all new CBR250RR dibekali mesin dengan kapasitas murni 249,7cc DOHC 8 katup, Parallel Twin Cylinder 6 speed. Motor ini memiliki karakter overbore. Bisa diintip dari konfigurasi Bore x Stroke 62.0 x 41.4 mm. Behhhh…kitiran atas deglak tenan ki kayaknya pakde. Tidak heran pabrikan berani memasang angka 16 ribu RPM pada speedometer dengan limiter dikisaran 14 ribu RPM….

Kalau yang Honda Beat ESP saja klaim bisa tidak sesuai kenyataan, maka mestinya kita tidak usah terlalu berharap spesifikasi CBR250 bisa sesuai dengan klaim yang wah tersebut.

Entah uang inden akan hangus atau tidak bila batal memesan. Sepertinya sudah jadi “kebiasaan” uang booking fee tidak bisa kembali 100%.

Menakutkan untuk membayangkan apa yang terjadi, karena walau blogger sudah pada merilis spesifikasi, sama Pak Margono Tanuwijaya, Direktur Pemasaran AHM, dibilang spesifikasi belum lengkap.

Bila nanti ternyata performa CBR250 tidak sesuai spesifikasi yang beredar, ternyata jauh lebih lemot daripada ninja, apakah yang inden bakal harus gigi jari tanpa tahu harus menyalahkan siapa? Karena dari Honda bisa saja akan bilang spesifikasi yang wah tersebut cuma rumor, dan website yang memuat spesifikasi juga bisa ngeles. Harusnya pada saat membuat artikel website tersebut memberi wanti wanti bahwa spesifikasi sesungguhnya bisa jadi tidak akan sehebat itu. Tapi repot juga bila penulis artikelnya tidak punya kemampuan untuk membedakan rumor atau bocoran.

Menurut penulis sendiri, berdasar ngaconya klaim Honda soal kemampuan beat ESP, apa yang sudah dirilis di website itu harus dianggap rumor.

Saran penulis, kalau berminat terhadap CBR250, sebaiknya menunggu review dari motor yang didapat konsumen. Abaikan review dari yang pakai unit demo.

Cara mencicil Honda Beat All New Esp

Uji akselerasi Honda Beat ESP setelah oli mesin ditambah minyak goreng


Ini kelanjutan dari eksperimen menambahkan minyak goreng ke oli mesin.
Implementasi trik sesat minyak goreng sebagai aditif pelicin oli mesin matik dengan hasil mesin lebih halus dan enteng

Sudah lebih dari satu minggu dan mesin masih halus sampai sekarang. Penulis mencoba merekam, tapi entah bisa dibedakan atau tidak. Di video suara berisik yang terdengar asalnya dari Honda Beat lain.

 

Penulis barusan juga berkesempatan untuk melakukan uji 0-100, berikut videonya. Honda Beat ESP Sporty penulis dibandingkan dengan Honda Beat FI yang dikendarai mas Iwan Banaran, sayangnya penulis cuma bisa sampai 90km/jam saja:

Data perbandingan berdasar pengujian independen dari Beat ESP dan Beat FI bisa dibaca di artikel otomotifnet.com
Komprasi Honda New Vario FI dan New BeAT FI, Ini Detail Bedanya!

Untuk bisa mendapatkan kecepatan 0-60km/jam dengan New BeAT FI butuh waktu 6,7 detik

Butuh 8,4 detik buat New BeAT FI menempuh jarak 0-100 m

Test Ride All New Honda BeAT eSP Sporty dan POP eSP, Lengkap Dengan Data Akselerasi

Diajak berakselerasi 0-60 km/jam, catatan waktu yang bisa ditorehkan BeAT POP eSP sedikit lebih baik dari eSP sporty. Hanya beda 0,2 detik saja, dimana POP eSP 6,5 detik dan eSP sporty 6,7 detik

Untuk jarak 0-100 m, bisa ditempuh dengan waktu 8,3 detik (BeAT POP eSP) dan 8,4 detik (BeAT eSP sporty).

Dari referensi diatas performa Honda Beat FI sama persis dengan Honda Beat ESP sporty. 0-60km/jam sama sama 6,7 detik. 0-100m sama sama 8,4 detik.

Kalau dari teori, penambahan performa setelah menambahkan friction modifier cuma 2%, jadi penambahan mestinya susah dilihat. Yang jelas performa tidak lebih jelek dari saat dulu masih pakai oli bawaan dari pabrik:

 

Entah mas Iwan Banaran pakai bensin apa, tapi lumayanlah hasil bisa seimbang. Bensin yang dipakai saat percobaan adalah premium. Menggunakan alat penambah tenaga pro capacitor. Pemakaian bensin premium mestinya mengurangi halusnya mesin dan tenaga, pro capacitor dipasang untuk mengatasi hal itu. Oli mesin Valvoline XLD 10W40 ditambah sekitar 100ml minyak goreng, membuat mesin lebih halus lagi dan terasa lebih licin, terasa terutama saat akselerasi atau lepas gas. Dari kombinasi semua itu, suara mesin lebih halus dari Honda Beat lain dan akselerasi masih lumayan.

Dari hasil ini, penulis berencana untuk terus pakai aditif minyak goreng. Berencana untuk coba minyak goreng Sunco juga setelah ganti oli.

Pilihan merek radiator coolant dengan rasio glycol lebih sedikit lebih cocok untuk cuaca panas Indonesia akan bisa menambah tenaga mesin juga mengurangi knocking


Artikel tentang radiator coolant sebelumnya menjelaskan bahwa coolant dengan rasio air dan glycol 50:50 tidak cocok untuk cuaca di Indonesia.
Alasan mengapa radiator coolant tidak bisa 100 persen tanpa air
Rasio perbandingan radiator coolant untuk Indonesia ternyata yang cocok bukan 50:50

Di artikel diatas ditunjukkan contoh dimana di kendaraan Honda Civic Del Sol Si VTEC pendinginan pakai air lebih bagus dalam pendinginan mesin daripada coolant:
Cooling System Additives – Cooling Agent Show Down – Garage
We Find Out How Well Cooling System Additives Really Work And Which Is Best

  STOCK DEI Radiator Relief Red Line Water Wetter Justice Brothers Radiator Cooler Hy-per Lube Super Coolant
Mixture 50/50 Water 30/70 Water 30/70
Outside Temp. 72F 70F 62F 65F 65F
Cruising Temp. 196F 183F 187F 181F 188F
4000 rpm / 75 mph 198F 190F 186F 183F 187F
5000 rpm Hill Climb 215F + 205F 208F 203F 207F
Extended Idling 215F + 200F 205F 205F 204
Cylinder Head Temp. 208F 191F 197F 193F 198F
Radiator Temp. Drop 5% 7% 8% 8% 7%

 

Makin banyak campuran glycol atau antifreeze pada radiator coolant, maka walau daya tahan terhadap mendidih makin baik tapi tetap, makin jelek daya hantar panasnya:
perubahan-daya-hantar-panas-coolant-berdasar-rasio-antifreeze

perubahan-titik-didih-coolant-berdasar-rasio-antifreeze

 

Untuk kondisi di Indonesia dimana daya pendinginan lebih penting daripada anti beku, maka menurut penulis sebaiknya memilih coolant dengan anti beku lebih sedikit. Ada pendapat bahwa di suhu tropis anti mendidih lebih penting, namun menurut penulis bila daya hantar panas coolant bagus maka mesin tidak akan sempat overheat. Bila daya hantar panas berkurang, maka justru mesin jadi cenderung mudah panas dan suhunya bisa jadi melebihi daya tahan dari coolant.

Bisa dilihat di contoh diatas bahwa dengan pakai coolant yang rasionya 50/50 justru mesin mengalami overheat saat dipakai menanjak atau idle berlama lama. Temperature kerja ideal dari mesin sekitar 90 derajat celcius. Sementara di contoh diatas suhu mencapai lebih dari 215°F (101° celcius).

Kecepatan pendinginan bisa dilihat di referensi berikut:
WaterWetter Tech Info.pdf
daya-pendinginan-antara-air-dibanding-dengan-campuran-coolant

Terlihat bahwa daya pendinginan dari glycol jauh lebih lambat daripada daya pendinginan air. Yang 50% glycol 50% lebih lambat juga.

Referensi tersebut juga menunjukkan bagaimana coolant juga berpengaruh pad performa:
pengaruh-coolant-pada-performa-atau-kebutuhan-oktan

Dikatakan bahwa dalam kondisi beban sedang, setiap persen glycol meningkatkan suhu kepala silinder 1°F. 50% glycol menaikkan suhu kepala silinder 45°F. Kenaikan temperatur ini akan meningkatkan kebutuhan oktan yang diperlukan untuk membatasi tingkat knocking sekitar 3.5 angka oktan. Mobil yang dilengkapi dengan knock sensor akan memundurkan pengapian untuk kompensasi hingga 5°, yang akan mengurangi tenaga sekitar 2.1%.

Bisa disimpulkan bahwa dengan mempergunakan coolant dengan glycol lebih sedikit akan bisa meningkatkan tenaga. Jadi bila sekarang ini mempergunakan coolant dengan rasio 50/50 glycol, maka dengan mempergunakan coolant dengan rasio glycol yang lebih sedikit akan bisa meningkatkan tenaga atau paling tidak mengurangi knocking.

 

Merek merek yang dikatakan punya rasio air lebih banyak contohnya adalah:

Engine Ice Hi-Performance Coolant

Tidak tahu berapa persen kandungan monopropylene glycolnya, tapi dari informasi specific heat di websitenya, mirip dengan yang 30% antifreeze:
coolant-engine-ice

F.A.Q.S – Engine Ice
specific-heat-dari-engine-ice-coolant

 

Havoline

dengan 33% antifreeze, walau ada yang 50% dengan nama sama:
Havoline Xtended Life Coolant Premixed 33/67
coolant-havoline

 

Pertamina Coolant

dengan 30% antifreeze.
PERTAMINA COOLANT
coolant-pertamina
sifat-coolant-pertamina

 

Seiken Radiator Coolant

ada yang 30% dan ada yang 50%.
Seiken Radiator Coolant 30%
coolant-seiken-30
coolant-seiken50

 

Fusch Silkolene Mag Cool

kemungkinan dengan lebih sedikit antifreeze karena yang Pro cool 50/50 sementara yang Mag cool untuk keperluan balap
Mag Cool
coolant-silkolene-mag-cool
coolant-silkolene-pro-cool

 

Top 1 Power Coolant

dengan 20% etyhylene glycol, sementara versi Ultimate punya kandungan 50%:
TOP1 Power Coolant with EG 20% Cairan Pendingin Radiator [4 L]

 

Prestone Precision Blend

dengan 33% antifreeze. 50% antifreeze untuk produk Extended Life Heavy Duty Coolant (Prediluted 50%), Extended Life DEX-COOL® (Prediluted 50%), dan Heavy Duty Coolant SCA Pre – Charged (Prediluted 50%). Namun harus hati hati juga karena yang warna kuning ada macam macam, harus diperhatikan di tulisan dibawah kata – kata prestone. Warna tutup mungkin berbeda tapi hanya beda di pewarna coolantnya saja, isi sama persis.
Ready-To-Use – Precision Blend™ (Prediluted 33%)
beda-prestone-warna-kuning-tapi-beda-isinya

Prestone Radiator Protect

(dijual di Indonesia dengan nama Prestone Radiator Cool), cuma air dan anti karat tanpa anti freeze. Baru mulai beredar di Indonesia,
Prestone Radiator Protect

 

 

Untuk merek lain banyak yang tidak jelas.
Contoh penjelasannya:
Dobeli RC 10 RADIATOR COOLANT untuk mobil biasa, Dobeli SC 18 SUPER COOLANT untuk mobil mewah
coolant-dobeli

PRO-V++ RADIATOR COOLANT untuk mobil biasa, PRO-V++ SUPER COOLANT untuk mobil mewah atau diatas 2000cc.
coolant-pro-v

Sebagai perbandingan, ini penjelasan dari merek top one:
Masih Pakai Bahan Baku Impor, TOP 1 Belum Berniat Naikkan Harga

TOP 1 Ultimate Coolant mengandung 50 persen EG cocok untuk mobil di atas 2.000 cc, sedangkan varian Power Coolant 20 persen, cocok untuk mobil dibawah 2.000 cc.

Mungkin yang untuk varian mobil biasa (Dobeli RC 10 RADIATOR COOLANT dan PRO-V++ RADIATOR COOLANT) konsentrasi glycolnya dibawah 50%. Semoga ada yang bisa konformasi.

 

Master Radiator Coolant Premixed Red tidak disebutkan campurannya.
coolant-master

Sementara Megacools dikatakan tidak mengandung glycol:
coolant-megacools

 

Penulis sendiri sebenarnya pingin coba. Sudah membeli coolant pertamina. Sayangnya oleh bengkel resmi tidak diperbolehkan dan dikatakan bisa merusak garansi. Karena penulis merasakan bagaimana tenaga terasa payah pada saat siang hari, maka penulis coba dengan menambahkan air aqua. Seharusnya cara yang benar itu dengan pakai yang sudah jadi seperti diatas, namun penulis harapkan dengan menambah air akan membuat konsentrasi glycol berkurang. Dari yang asalnya warna coolant merah sekarang menjadi pink. Coolant bawaan mobil Daihatsu Ayla adalah merek Wurth yang sepertinya punya rasio glycol 50%.

Dan memang setelah itu tenaga terasa bertambah. Setelah menambahkan air di coolant, sekarang performa tetap ok walau siang siang hari macet. Setelah perjalanan dua jam langsung dibuat naik gunung juga tidak masalah. Beda performa siang dan malam juga tidak ekstrem seperti sebelumnya.

Prestone Radiator Protect dikatakan pakai OAT tapi kok proteksi kalah sama coolant yang pakai glycol? ternyata memang hanya mengandung anti karat saja


Pernyataan bro Yudha bahwa mencari prestone yang glycol free itu susah membuat penulis tertarik mencari informasi dimana bisa mendapatkan prestone bungkus merah tersebut.

Dan memang prestone merah tersebut sepertinya tidak ada yang menjual secara online. Yang membuat penulis heran adalah ternyata prestone merah tersebut juga tidak dijual di Amerika serikat. Seperti contohnya di Walmart, tidak ada:
prestone-di-walmart

Di autozone juga tidak ada.
prestone-di-autozone

Di website Indonesia tidak ada.
prestone-di-coolant-id

 

Penjelasan produk juga susah ditemukan. Di website utamanya pun tidak ada. Ketemunya justru di Prestone Filipina.
prestone-radiator-protect

Disitu tertulis harganya PHP 125.00, sekitar 33 ribu rupiah per liternya. Sayangnya harga pretone biasa tidak tertulis di website tersebut. Kalau di lazada filipina, harganya sebagai berikut:
prestone-di-lazada-filipina

Kok jauh lebih mahal yang prestone biasa ya? PHP 309.75, sekitar 82 ribu rupiah per liternya.

Padahal dari klaimnya prestone Indonesia (discreen shot oleh bro Luqmanul Hakim) dikatakan bahwa Prestone Radiator Protect itu pakai bahan OAT.
prestone-klaim-pakai-oat

Penjelasan OAT bisa dibaca di artikel berikut:
Organic acid technology pengembangan radiator coolant sehingga glycol free agar lebih awet dan ramah lingkungan

 

Menurut penulis kemungkinan Prestone Radiator Protect itu cuma air tambah anti karat. Dan anti karatnya pakai seperti yang dipakai di teknologi OAT. Tapi umur tidak bisa dibandingkan dengan teknologi OAT. Ini disebut dengan jelas di keterangan di atas dimana dikatakan bahwa produk coolant tersebut hanya diperuntukkan untuk kendaraan yang cuma butuh anti karatnya saja.

Ini diperkuat di keterangan produk radiator protect
PRESTONE RADIATOR PROTECT FAQS
prestone-radiator-protect-faq

Dikatakan bahwa prestone coolant punya perlindungan overheat lebih baik dari prestone raditor protect karena prestone coolant mengandung ethylene glycol. Jadi untuk perlindungan yang lebih baik terhadap mendidih, karat dan korosi maka sebaiknya pakai prestone coolant.

Bila sudah pakai coolant jangan pakai prestone radiator protect. Radiator protect disarankan untuk kasus dimana pengguna masih memakai air biasa sebagai radiator coolant. Dibanding air biasa Prestone Radiator Protect bisa mencegah karat dan korosi.

 

Jadi bisa disimpulkan bahwa Prestone Radiator Protect itu isinya air dan anti karat, tanpa mengandung anti freeze ataupun anti boilover. Tidak mengandung glycol namun tidak bisa disamakan dengan coolant OAT.

Berdasarkan bahasan artikel sebelumnya, daya pendinginan Prestone Radiator Protect bisa jadi lebih baik daripada Prestone Coolant yang mengandung glycol. Karena daya pendinginan air lebih baik daripada glycol:
Rasio perbandingan radiator coolant untuk Indonesia ternyata yang cocok bukan 50:50

Mungkin ini yang jadi alasan untuk mengubah naman Radiator Protect menjadi Radiator Cool:
prestone-radiator-protect-dijual-dengan-nama-radiator-cool

 

Dari harga bisa jadi jauh lebih murah. Misalkan Prestone Coolant yang ready to use itu 60 ribu rupiah untuk 1 liter, maka Prestone Radiator Cool bisa jadi seharga 25 ribuan satu liternya. Lumayan untuk yang sekarang ini masih pakai air akua di radiatornya.

Postingan tersebut juga menjawab pertanyaan bro Yudha, Radiator Protect susah dicari karena masih produk baru. Namanya juga ganti.

Penjelasan tentang tiga macam coolant yang dijual oleh Top One, nggak ada yang glycol free


Bro Yudha tanya soal apakah coolant top one ada yang free glycol di artikel berikut:
Alasan mengapa radiator coolant tidak bisa 100 persen tanpa air

Dari yang penulis temukan, jawaban terlalu panjang kalau ditaruh di comment, jadi penulis buat artikel terpisah.

Produk coolant Top one dikatakan ada tiga di berita detik oto bulan September 2015:
Masih Pakai Bahan Baku Impor, TOP 1 Belum Berniat Naikkan Harga

“Dua cairan pendingin radiator kami (Power Coolant dan Ultimate Coolant) mengandung ethylene glycol, EG adalah zat yang bekerja untuk menaikkan titik didih cairan coolant, misalnta dari 100 deeajat celcius menjadi 114 derajat celcius. TOP 1 Ultimate Coolant mengandung 50 persen EG cocok untuk mobil di atas 2.000 cc, sedangkan varian Power Coolant 20 persen, cocok untuk mobil dibawah 2.000 cc. Seluruh produk cairan pendingin radiator TOP 1 menggunakan air yang sudah mengalami proses demineralisasi” papar Arief.

Cairan pendingin radiator TOP 1 tersedia dalam tiga varian yaitu TOP 1 Super Coolant, TOP 1 Power Coolant dan TOP 1 Ultimate Coolant.

Verifikasi dari penjual coolant top one di tokopedia:
Top One Ultimate Coolant – Air Radiator Merah 5 Liter Original
top-one-ultimate-coolant

Di blibli.com
TOP1 Power Coolant with EG 20% Cairan Pendingin Radiator [4 L]
top-one-power-coolant

Di spek
Product Data Sheet TOP 1 SUPER COOLANT
top-one-super-coolant

Di website filipina
TOP 1 SUPER COOLANT
top-one-super-coolant2

Dari link yang diberikan bro Yudha
TOP 1 SUPER COOLANT
top-one-super-coolant3

Konsentrasi dari produk top one super coolant tidak disebutkan namun disebut bahannya adalah ethylene glycol.

Bro Lukmanul Hakim memberikan link untuk penjelasan produk Top One Super Coolant yang dikatakan glycol free. namun link yang diberikan tidak berfungsi
Link yang diberikan bro Lukmanul Hakim

 

Jadi kesimpulan sementara adalah produk radiator coolant dari Top One tidak ada yang glycol free.

Soal penjelasan glycol free bisa dibaca di artikel berikut:
Organic acid technology pengembangan radiator coolant sehingga glycol free agar lebih awet dan ramah lingkungan

Organic acid technology pengembangan radiator coolant sehingga glycol free agar lebih awet dan ramah lingkungan


Sekarang ini untuk radiator coolant para pabrikan kendaraan sudah mulai meninggalkan pemakaian glycol. Selain agar lebih tahan lama, juga agar lebih ramah lingkungan. Seperti yang disebutkan berikut ini:
Comparison of Conventional and Organic Acid Technology (OAT) Coolants in Heavy Duty Diesel Engine Service

Organic acid (OA) or organic acid technology (OAT) coolants are being aggressively marketed today as a far superior product to more conventional coolants. Claims are being made such as superior performance, as well as a product that is friendly to the environment. Further, some producers of OAT coolants claim that it is the only product in the market that can provide long life as well as extended service intervals.

Teknologi ini dikatakan sudah mulai cukup lama, seperti disebutkan di link berikut ini:
ANTIFREEZE COOLANT APPLICATION CHART For Passenger Vehicles and Light Duty Trucks
coolant-oat-implementation

Warna tersebut ada standarnya namun kadang tidak selalu diikuti. Standarnya adalah sebagai berikut:
How Much Do You Know About Heavy-Duty Coolants?
spesifikasi-warna-coolant

IAT adalah Inorganic Additive Technology, formula konvensional radiator coolant yang masih mempergunakan komponen utama Ethylene Glycol HOCH2CH2OH dan silicate. Warna biasanya hijau atau biru. Dengan masa pakai 30 ribu miles atau sekitar 50 ribu km.

OAT adalah Organic Acid Technology, merupakan formula yang memanfaatkan fatty acid, yang punya komponen umum Carboxylate, sebacate, dan 2-ethylhexanoic acid (2-EHA) sebagai anti karat pengganti silicate. Warna biasanya merah. Dengan masa pakai 300 ribu miles atau 500 ribu km.

HOAT adalah Hybrid Organic Acid Technology, merupakan kombinasi antara glycol dan organic. Warna biasanya kuning atau oranye. Dengan masa pakai antara IAT dan OAT. Ini karena bila OAT dicampur dengan IAT maka masa pakai jadi lebih mengikuti umur IAT.

 

Mencampurkan coolant yang berbeda bisa mengurangi masa pakai coolant, seperti kutipan berikut ini
Correcting Coolant Confusion

The service life of most universal formula products is typically five years or 150,000 miles — with one exception. When used to top off a cooling system in an older vehicle that contains standard green formula coolant, the service life of the product is reduced to that of the original coolant, which is two to three years or 30,000 miles.

Jadi bila kita menambahkan coolant yang berbeda pada coolant OAT yang sedang dipakai maka masa pemakaian jadi berkurang. Bila yang sedang dipakai masih mempergunakan yang mengandung Ethylene Glycol maka masa pakai juga tidak bertambah panjang.

Bila ingin mengganti dengan yang OAT maka sebaiknya di flush dulu. Flush juga harus mempergunakan yang OAT juga, karena bila pakai flush sembarangan, justru hasil tidak maksimal. Campuran juga bisa jadi salah seperti diperingatkan berikut ini:
MACS 2001: GM and Texaco “Bare All” about DEX-COOL®

Make sure that the coolant is at a 50-50 mix. Often, the flush water was not being removed from the engine block. Consequently, when a 50-50 mix is added to the system the resultant mixture could approach 30-70. Like any fluid that has been diluted beyond its recommended levels, the lowered level of inhibitors will not be able to protect the coolant system effectively. Low levels of inhibitors can cause pitting on aluminum surfaces and general corrosion of cooling system metals.

 

Panjangnya masa pakai OAT juga tercantum di produsen coolant seperti contohnya di website Penrite:
MC – Coolants A Better Class of Oil for Over 90 Years
coolant-penrite

 

Yang penulis baru tahu, ternyata coolant juga bisa diperpanjang pemakaiannya dengan memanfaatkan aditif. Seperti dikatakan artikel berikut ini:
How Much Do You Know About Heavy-Duty Coolants?

Because additives in conventional (IAC) and hybrid organic acid (HOAT) coolants are consumed during the vehicle’s operation, they must be refortified with supplemental coolant additives (SCA) in order to maintain effective corrosion protection.

The OAT and NOAT coolants do not require SCAs. The inhibitor package, which is only responsible for corrosion protection, does not determine the level of freeze or boilover protection in the coolant.

Dikatakan bahwa aditif pada coolant IAT dan HOAT menjadi berkurang selama pemakaian, maka untuk memperpanjang umur pemakaian maka perlu ditambahkan supplemental coolant additives (SCA) untuk menjaga perlindungan karat. Coolant OAT dan NOAT tidak memerlukan SCA. Aditif anti karat tidak menentukan perlindungan terhadap beku atau mendidih.

Penambahan SCA ini diperlihatkan juga di petunjuk produk shell berikut ini (kemungkinan teknologi hybrid)
SHELL AUSTRALIA LUBRICANTS PRODUCT DATA GUIDE 2013
penggunaan-sca-di-coolant-shell

 

Selama ini kalau dari layanan servis di Indonesia sepertinya tidak ada model nambah nambah SCA. Yang ada biasanya langsung ganti. Kalau di manual Toyota Agya atau Daihatsu Ayla maka masa penggantian coolant adalah 20 ribu km. Pendek sekali masa pakainya bila dibanding dengan acuan diatas.

Kalau melihat masa periode penggantian yang cuma 20 ribu tersebut maka bisa disimpulkan bahwa coolant yang dipakai adalah tipe IAT atau coolant konvensional. 20 ribu km itu seharusnya masa penambahan SCA tapi sepertinya daripada ribet disuruh ganti coolant sekalian.

 

Tidak tahu apakah di Indonesia bisa beneran masa pakai coolant OAT selama yang diklaimkan atau tidak namun coolant seperti ini menjanjikan bagi yang ingin lebih ramah lingkungan. Terlepas dari benar tidaknya OAT lebih ramah lingkungan daripada IAT (ethylene glycol atau propylene glycol), paling tidak dengan masa pemakaian yang jauh lebih lama bisa mengurangi limbahnya. Ethylene glycol sendiri disebut sebagai bahan sangat beracun, namun bisa terurai selama beberapa hari atau minggu:
Ethylene glycol, From Wikipedia, the free encyclopedia

Ethylene glycol is a high production volume chemical; it breaks down in air in about ten days, and in water or soil in a few weeks.

Itu jauh lebih cepat daripada limbah oli PAO yang konon katanya ramah lingkungan (dibahas di artikel berikutnya).

 

Penulis sendiri masih tidak menemukan berapa harga dari coolant dengan teknologi OAT ini. Coolant paling mahal di bukalapak ada engine ice coolant namun warnanya biru. Dari bahannya tertulis “Made of Propylene Glycol which is biodegradable and non-toxic.”, jadi masih terhitung glycol. Itu juga 400 ribu untuk setengah galon. Nggak kebayang kalau yang OAT seberapa mahal harganya.

Camless teknologi lebih canggih dari VVTI ataupun VTEC bikin kendaraan 30 persen lebih irit atau bertenaga dan rpm bisa mencapai 15 ribu untuk motor kecil


Mungkin banyak yang sudah pernah dengar teknologi camless. Camless itu pengembangan selanjutnya dari mekanisme penggerak valve yang fungsinya untuk mengatur udara yang masuk atau keluar dari ruang bakar. Selama ini valve diatur buka tutup nya dengan camshaft.

Bagian valve ini banyak mendapat perhatian pengembangan. Seperti misalnya DOHC yang menambahkan valve sehingga ada dua valve / katup untuk udara masuk, dan atau dua valve untuk udara keluar, penambahan valve ini mengakibatkan penambahan camshaft. Lalu diperkenalkan juga teknologi variable valve dimana timing dari camshaft dibuat bisa berubah sesuai rpm mesin. Ada teknik yang membedakan ini berdasarkan tahap rpm ada juga yang berubah berkelanjutan (continuous variable vavle) Beberapa teknologi mutakhir valve (continuous valve) bisa dilihat contohnya di link berikut:
Continuous Variable Valve Lift (CVVL)

Karena bagian ini sangat rawan terhadap aus karena gesekan, maka diperkenalkan juga teknologi rocker roller yang menambahkan ball bearing pada permukaan yang bersinggungan dengan camshaft.

Beberapa tipe camshaft ditunjukkan berikut ini:
How a car works – The engine – how the valves open and close
finger-operated-overhead-camshaft
overhead-camshaft
pushrods-camshaft

Pengembangan teknologi untuk valve tersebut seringkali masih ada kekurangannya, seperti misalnya:
plus minus DOHC dan SOHC engine ala welovehonda

minusnya DOHC engine
-pembuatan engine lebih mahal
-sparepart lebih banyak
-stel kelp susah, wong pake shim tapped
-lebih boros bahan bakar
-bobot mesin berat gan ( keberatan noken kali 🙂 )

SOHC bertorsi lebih baik pada putaran rendah karena lebih ringan (memutar mesin) dan sebaliknya DOHC menghasilkan torsi lebih rendah karena lebih berat. Namun pada pada kecepatan tinggi, torsi mesin DOHC akan lebih baik. Itulah untung-ruginya.

Tujuan utama dari pengembangan teknologi valve adalah untuk efisiensi. Dengan buka tutup katup yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan, maka mesin akan makin efisien. Lebih irit dan lebih bertenaga. Namun sayangnya pengembangan tersebut membuat mesin makin rumit, makin besar atau makin berat.

Untuk mengatasi kelemahan tersebut maka mulai dicoba teknologi valve yang tanpa menggunakan camshaft, yang dinamakan camless. Valve digerakkan dengan sistem elektromagnetik atau dengan udara atau cairan. Salah satu contoh dari teknologi camless adalah yang dinamakan Free Valve Technology yang diperkenalkan oleh Cargine dan Koenigsegg. Teknologi ini memanfaatkan tekanan udara yang dikontrol oleh komputer.

Video fitur bisa dilihat berikut ini:

Dikatakan bahwa teknologi free valve bisa mengurangi ukuran hingga 50%, mengurangi berat hingga 30%,

 

Video penjelasan bisa dilihat berikut ini, oleh Christian Von Koenigsegg dan Urban Carlson:

Dikatakan bahwa dengan memakai teknologi ini selain mesin menjadi lebih ringan, lebih murah dan lebih ringkas, kendaraan juga bisa 30% lebih irit, 30% lebih bertenaga dan masih bisa dikembangkan untuk lebih efisien lagi. Setiap katup bersifat independen dan bisa dikontrol secara terpisah. Buka tutup katup bisa diatur hingga 20 ribu rpm bila dibutuhkan. Bukaan valve bisa diatur lebih fleksibel, buka langsung penuh dan menutup penuh secara mendadak tidak seperti pada sistem dengan camshaft yang buka atau tutup harus bertahap.

free-valve-technology

Untuk ukuran aktuator yang sama bisa dipergunakan untuk menggerakkan valve ringan dari motor cc kecil di 15 ribu rpm atau untuk menggerakkan valve besar dari truk yang berjalan di 2500 rpm.

free-valve-testing-in-saab-9-5

Teknologi ini sudah dicoba diterapkan di SAAB 9-5 selama kurang lebih dua setengah tahun, sekitar 60 ribu km tanpa ada kegagalan pada sistem free valve. Mobil dipakai pada bermacam kondisi cuaca termasuk juga suhu dingin minus 20 derajat celcius. Pada implementasi ini lebih ke daya tahan dan kemampuan untuk dijalankan di udara dingin (karena sering terjadi masalah pelumasan pada sistem camshaft pada suhu dingin ini). Di implementasi ini efisiensi yang dicapai adalah 20% (20% lebih irit dan bertenaga).

Update:

Ada video baru:

Dikatakan teknologi freevalve memungkinkan penggunaan kompresi 12:1 atau bahkan 14:1 pada mesin turbo, sementara normalnya adalah 9:1. Pada saat diimplementasikan pada mesin turbo 1600 cc didapatkan peningkatan torsi 47%, peningkatan 45% dari 160hp menjadi 240hp. Walau begitu kendaraan bisa menjadi lebih irit sekitar 15%. Emisi juga berkurang 35% terutama dari pengurangan emisi polusi pada saat mesin dingin.

Implementasi dan dasar teori trik sesat minyak goreng sebagai aditif pelicin oli mesin matik dengan hasil mesin lebih halus dan enteng


Artikel sebelumnya menjelaskan bagaimana friction modifier bisa membuat kendaraan lebih irit 2%.
Pengiritan yang bisa dicapai dengan memakai oli mesin dengan SAE grade 0W-20 ternyata kecil dan justru lebih besar pengaruh aditif friction modifier

Sebelumnya juga sudah dibahas bagaimana friction modifier bisa bikin oli lebih melindungi mesin, bikin oli lebih licin:
Mengenal dasar pelumasan, ada saat dimana perlindungan tidak ditentukan oleh anti wear

Sifat licin oli disebut dengan lubricity atau oiliness. Lubricity berhubungan dengan film strength. Oli yang lebih kental punya film strength lebih besar. Dengan friction modifier maka oli lebih encer bisa punya film strength sama dengan oli lebih kental.
A Review of Application of Vegetable Oil-Based Cutting Fluids in Machining Non-Ferrous Metals
beda-sifat-oli-nabati-dan-oli-mineral

Sementara itu penulis pernah mencoba pakai minyak goreng di kendaraan Suzuki Crystal dan motor jadi tidak bsia jalan karena tranmisi selip, dan ini didukung oleh referensi:
Bukti bahwa minyak goreng bisa dipakai sebagai oli mesin

minyak nabati punya daya lumas sangat bagus, jauh lebih baik dari oli mineral. Pelumasan sangat tinggi sehingga pada beberapa aplikasi, seperti misalnya untuk transmisi traktor, harus ditambahkan aditif friksi untuk mencegah selip kopling.

Yang lebih penting adalah minyak nabati bersifat biodegradable, secara umum tidak beracun, renewable dan akan mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi. Kelemahan dari minyak nabati adalah daya tahan oksidasi yang kurang. Sehingga saat dipakai oli mudah teroksidasi dan bila dibirkan akan mengental dan menjadi seperti plastik.

 

Ini membuat penulis sangat tertarik untuk mencoba menggunakan minyak goreng sebagai aditif oli mesin. Minyak goreng dikategorikan sebagai minyak nabati. Minyak nabati sudah dipakai sebelum adanya campuran synthetic ester:
New base oils pose a challenge for solubility and lubricity backup

(iv) Blend with vegetable oils. This technology existed before synthetic esters. Vegetable oils have their own advantages and disadvantages. The chief advantages are the use of a renewable resource, excellent lubricity and anti-wear properties, excellent thermal stability, high specific heat, high flash, and completely benign HSE profile. The chief disadvantage is low oxidation stability

Dikatakan bahwa campuran dengan minyak nabati sudah ada sebelum adanya campuran sintetik ester. Keunggulan oli nabati adalah sumbernya terbarukan, lubricity dan anti wear sangat bagus, stabilitas panas sangat bagus, specific heat tinggi, flash point tinggi, dan tidak ada HSE. Kelemahan utama adalah kestabilan oksidasi.

kelebihan-dan-kelemahan-oli-nabati

Biodegradable/Biobased Lubricants and Greases

Vegetable oils can and have been used as lubricants in their natural forms. They have several advantages and disadvantages when considered for industrial and machinery lubrication. On the positive side, vegetable oils can have excellent lubricity, far superior than that of mineral oil. Vegetable oils also have a very high Viscosity Index (VI) and Flash Point.

On the negative side, vegetable oils in their natural form lack sufficient oxidative stability for lubricant use. Another negative to vegetable oils is their high pour point (the temperature at which oil loses fluidity and does not flow). This problem too can be addressed by winterization, addition of chemical additives (pour point suppressants) and/or blending with other fluids possessing lower pour points.

Low oxidative stability means, if untreated, the oil will oxidize rather quickly during use, becoming thick and polymerizing to a plastic-like consistency. Chemical modification of vegetable oils and/or the use of antioxidants can address this problem, but increase the cost. Chemical modification could involve partial hydrogenation of the vegetable oil and a shifting of its fatty acids. The challenge with hydrogenation is to determine at what point the process is to cease. Full hydrogenation of oil can lead to solid products like margarine. Depending on the needed liquidity and pour point of the oil, optimum hydrogenation is determined.

Recent advances in biotechnology have led to the development of genetically enhanced oilseeds that are naturally stable and do not require chemical modification and/or use of antioxidants. A soybean seed developed through DuPont technology, for example, presents more than 83 percent oleic acid as compared to only 20 percent oleic acid content in conventional soybean oil. Originally developed for frying applications, this oil has shown about 30 times more oxidative stability and viscosity stability in hydraulic pump tests conducted at the UNI-ABIL Research Program. High oleic varieties of canola oil, rapeseed, sunflower and soybean are now becoming standard base oils for biodegradable lubricants and greases.

UNI-ABIL has licensed 16 formulated lubricants, greases and base oils made of high oleic soybeans that have been genetically enhanced for stability. These products meet and exceed industry requirements, and many do not cost much more than their petroleum counterparts. If these products can compete in performance and price, their environmental benefits will make them even more appealing to users.

Dikatakan bahwa minyak nabati dapat dan telah dipergunakan sebagai pelumas dalam bentuk aslinya. Di sisi positif minyak nabati punya daya pelicinan yang sangat bagus, jauh lebih unggul daripada oli mineral. Minyak nabati juga bersifat very high viscosity index (VHVI) dan punya flash point sangat tinggi.

Dari sisi negatif, minyak nabati dalam bentuk aslinya tidak punya cukup daya tahan terhadap oksidasi untuk pemakaian sebagai pelumas. Pour point (daya tuang) juga tinggi. Masalah ini bisa diatasi dengan winterization, penambahan aditif dan atau dicampur dengan cairan lain yang punya pour point rendah.

Sifat oksidasi yang rendah menyebabkan oli menjadi cepat teroksidasi selama dipakai, menyebabkan pengentalan dan polimerisasi. Modifikasi kimia dan penggunaan anti oksidasi dapat mengatasi masalah ini, namun akan menambah harga. Modifikasi kimia meliputi partial hydrogenation dan mengonsentrasikan fatty acidnya. namun proses yang terlalu berlebihan akan menjadikannya padat seperti misalnya margarin.

Riset telah dilakuakn untuk meningkatkan konsentrasi oleic acid pada bermacam minyak nabati. Produk produk tersebut sesuai dan melebihi standar industri untuk pelumas dan harganya tidak lebih mahal dari produk petroleum.

 

Sebenarnya aditif yang ideal adalah ester yang dibuat dari minyak nabati, dimana sifatnya lebih baik dari ester yang dibuat dari minyak bumi.
Chapter 2 – Utilization of Vegetable Oil as Bio-lubricant and Additive

The majority of bio-lubricants are based on esters. There are natural esters which are triglycerides of vegetable oils. Oleochemical esters of fatty acids such as diesters, polyolesters and complex esters are derived from sunflower, rapeseed, palm oil and coconut. Triglycerides of vegetable oils are more polar than petroleum-based oils, thus they have a higher affinity to metal (Suarez et al.2010). Owing to this character, vegetable oils and their derivatives are suitable for lubrication applications.

Dikatakan bahwa kebanyakan pelumas bio dibuat dari ester. Triglycerides dari minyak nabati adalah ester natural. Oleochemical esters dari asam lemak seperti diester, polyolester dan ester komplek dibuat dari bunga matahari, rapeseed, minyak palm (minyak goreng) dan kelapa. Triglycerides dari minyak tumbuhan bersifat lebih polar daripada yang dari minyak bumi, sehingga mereka bisa lebih melekat ke logam. Berdasarkan sifat ini minyak nabati dan turunannya cocok dipakai sebagai pelumas.

Namun dikatakan juga bahwa minyak nabati dalam bentuk aslinya lebih cocok dijadikan aditif:
aditif-dari-minyak-goreng-menambah-daya-perlindungan-mesin

Vegetable oils may not suitable to be used as lubricants in their natural form due to their poor thermo-oxidation stability, low temperature behaviour and other tribochemical degrading processes that occur under severe conditions of temperature, pressure shear stress and environment (Fox and Stachowiak 2007). However, they can be used effectively as additives, in particular to improve the polarity behaviour of non-polar base fluid solutions, which would contribute to better tribological performance.

Dikatakan bahwa minyak nabati bisa tidak cocok untuk dipakai sebagai pelumas dalam bentuk aslinya karena sifat mereka yang jelek disisi stabilitas thermo-oxidation, perilaku di suhu rendah dan degradasi tribochemical lain yang terjadi pada kondisi temperatur, tekanan shear stress dan lingkungan yang tidak mendukung. Namun mereka dapat digunakan secara efektif sebagai aditif, terutama untuk meningkatkan sifar polar dari bahan larutan cair non polar, yang kemudian akan menghasilkan performa tribologi yang lebih baik.

 

Kandungan fatty acid dari minyak goreng:
kandungan-minyak-palm

Pengaruh fatty acid pada coefficient of friction, makin rendah makin bagus:
FRICTION MODIFIER ADDITIVES, Hugh Spikes, Tribology Group, Imperial College London, UK
pengaruh-fatty-acid-pada-koefisien-gesekan

stearic acid dan oleic acid merupakan bahan untuk membuat mono ester
Chapter 3. Esters

There are three main types of ester:
-acid/anhydride centered (e.g., monoesters, diesters, phthalates, and trimellitates
-alcohol centered (e.g., polyols)
-polymeric esters [e.g., polyalkylene glycol (PAG) esters

1. Monoesters
Monoesters are made by reacting a monofunctional acid (e.g., oleic, steric) with a monofunc-tion-al alcohol (usually between 8 and 13 carbon atoms in length). Monoesters are characterized bytheir relatively low viscosity.

2. Diesters
Diesters are made by reacting a linear diacid with a branched monofunctional alcohol. Diestershave very good viscosity indices (VI) and pour points. The reason for this is their “dumbbell”configuration. The linear diacid portion of the diester contributes to the good VI, while thebranched ends give the lubricant a good pour point. Since the branched portion of the diester isat the end of a linear portion, the free rotation around the ester linkage is still good. This gives anexcellent trade-off between VI and pour point. One disadvantage of diesters is their low molecu-lar weight. This results in a limited ISO range (7–46) coverage. Examples of commercially avail-able diesters are given in Table 3. Their small size combined with their high polarities make themeffective solvents. Diesters are often blended with poly(a-olefins) (PAOs) to help additive solu-bility and to act as seal-swelling agents

Perbandingan hasil uji aus:
Lubricants influence on wear in sharp rail curves
perbedaan-wear-pada-ester-dan-fatty-acid

perbandingan dari PAO ditambah dengan fatty acid:
Chapter 5: Tribological behavior of C18 fatty acids blended in PAO 4
perubahan-friksi-oli-pao-ditambah-dengan-fatty-acid
uji-aus-dengan-oli-pao-ditambah-fatty-acid

 

Minyak nabati dikenal sudah dari dulu punya lubricity lebih baik dari oli mineral:
FRICTION MODIFIER ADDITIVES, Hugh Spikes, Tribology Group, Imperial College London, UK

all lubricants having the same viscosity should be equally effective. However this was contrary to the experience of many practising engineers of the day who knew that natural oils based on plant and animal oils and fats generally gave lower friction and wear than corresponding mineral oils. To explain this difference, a mysterious lubricant property known as oiliness was invoked.

In the same year of 1918, Wells and Southcombe submitted a patent which showed that a low concentration of vegetable oil-derived free fatty acid when dissolved in mineral oil was able to impart the latter with oiliness, i.e. to make it as effective as a vegetable oil in reducing friction and wear [4].

Semua pelumas dengan kekentalan yang sama harusnya juga sama sama efektifnya, namun ini berbeda dengan yang dialami oleh para peneliti saat itu yang menjumpai bahwa minyak natural dari oli nabati dan oli hewani cenderung mempunyai hambatan dan aus yang lebih rendah daripada dari oli mineral. Untuk menjelaskan ini diperkenalkan sifat “oiliness”.

Pada tahun yang sama di 1918, Wells dan Southcombe mengajukan paten yang menunjukkan bahwa dengan melarutkan asam lemak bebas dari minyak nabati ke oli mineral dapat meningkatkan oiliness sehingga sama efektifnya dengan oli nabati dalam hal pengurangan hambatan dan aus.

 

Disebutkan bahwa salah satu kelemahan dari minyak nabati adalah mudah padat bila di suhu dingin. Berikut perbandingan daya tuang dari minyak nabati dibanding dengan oli mineral. Sebanding dengan oli SAE 30.
perbandingan-pour-point-minyak-goreng-dibanding-dengan-oli-mineral

BIOBASED LUBRICANTS – Harnessing the Richness of Agriculture Resources
sifat-dari-oli-minyak-kelapa-sawit

Sayang data dibanding minyak mineral lain tidak ada, namun di daftar ini bisa dilihat bahwa minyak kelapa sebaiknya dihindari karena pour point yang tidak bagus
perbandingan-pour-point-minyak-goreng-dibanding-dengan-minyak-nabati-lain

Efek dari fatty acid dijelaskan di tabel berikut:
When and How to Use Friction Modifiers
efek-dari-minyak-goreng-sebagai-aditif

Sementara itu yang terkandung di minyak goreng adalah:
Analysis of Pour Point of Vegetable Oils and Effect of Additives on Vegetable Oils by DSC

Palm oil contains both saturated fatty acid (palmitic acid) and mono unsaturated fatty acid (oleic acid) in nearly equal amount.

Karena minyak goreng dari kelapa sawit mengandung saturated fatty acid dan mono unsaturated fatty acid maka efeknya sebagai friction modifier adalah formation of reacted layer dan formation of polymer.

Penjelasan dari saturated dan unsaturated fatty acid:

– Of the saturated fatty acids, 80% are palmitic acid (lipid number of C16:0), 14% stearic acid (C18:0), and 3% arachidic acid (C20:0).
– Over 99% of the monounsaturated fatty acids are oleic acid (C18:1 c)
– 98% of the polyunsaturated fatty acids are the omega-6 linoleic acid (C18:2 n-6 c,c) with the 2% remainder being the omega-3 alpha-linolenic acid (C18:3 n-3 c,c,c).[2]

Secara rangking friction modifier urutannya adalah stearic, oleic lalu linoleic.

Dari sisi kandungan, sepertinya untuk minyak dari kelapa sawit maka yang lebih cocok adalah yang satu kali atau dua kali penyaringan tapi jangan pakai yang tiga kali penyaringan.

Berikut kegunaan minyak nabati pada pelumas, minyak kelapa sawit disebutkan berfungsi sebagai Lubricity Additive / Emulsifier Base / Corrosion Inhibitor (aditif / pelarut / anti karat):
Product List for Lubricants & Metalworking Fluids
pemanfaatan-minyak-nabati-pada-pelumas

Kelebihan minyak nabati:
Vegetable oils as lube basestocks: A review

Biolubricants formulated from plant oils should have the following advantages derived from the chemistry of the base stock:
i. Higher lubricity leading to lower friction losses, yielding more power, and better fuel economy.
ii. Lower volatility resulting in decreased exhaust emissions.
iii. Higher viscosity indices.
iv Higher shear stability.
v. Higher detergency eliminating the need for detergent additives.
vi. Higher dispersancy.
vii. Rapid biodegradation and hence decreased environmental/ toxicological hazards.

.1. Lebih licin menghasilkan hambatan lebih kecil, menghasilkan tenaga lebih besar dan fuel economy lebih baik
.2. Lebih tahan penguapan, mengurangi emisi gas buang
.3. VI tinggi
.4. Shear stability tinggi
.5. Daya pembersih kuat, menghilangkan kebutuhan terhadap aditif pembersih
.6. Daya pelarut kuat
.7. Cepat terurai sehingga mengurangi bahaya lingkungan

 

Penelitian di Indonesia:
Sukirno, Associate Professor, Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas Indonesia

My research interest is utilization of palm oil into several kind of bio-lubricant. It includes modification of less oxidation-resistant palm oil into more oxidation-resistant palm oil derivatives, and also utilization of glycerol as side-product of biodiesel production process.

BIOLUBRICANT
Palm oil is a good bio-lubricant as long as its weak point, which are the oxidation-resistant and low-temperature fluidity, can be increased. Research related to above topic includes modification of carbon double bond of the triglyceride via reaction such as epoxidation and ring opening of epoxides, and modification of ester group, to obtain high oxidation-resistant bio-lubricant. Another effort is manufacturing of glycerol carbonate from waste glycerol.

Dikatakan bahwa minat riset dari Pak Sukirno adalah pemanfaatan minyak kelapa sawit untuk bermacam pelumas bio. Ini termasuk modifikasi minyak kelapa sawit menjadi zat yang lebih tahan oksidasi, dan juga pemanfaatan glicerol sebagai produk sampingan daro proses produksi bio diesel.

Minyak kelapa sawit adalah pelumas bia yang bagus selama kelemahannya bisa diatasi, yaitu daya tahan terhadap oksidasi dan daya alir temperatur rendah.

Universitas Gadjah Mada – UGM Students Process Waste Oil into Biolubricants

“Waste cooking oil still contains oleic acid which can be used as bio-lubricants,” said Steven, Tuesday (17/5).

Universitas Sriwijaya – Studi Lubricant Properties (Density) Dengan Penambahan Calcium Hypochlorite

Palm oil is one of alternatives, however direct use of palm oil as a lubricant remain cause problems namely high density of palm oil leads to imperfect lubrication. It is necessary to find the correct additif which is able to improve the lubricant properties.

UNIVERSITAS SEBELAS MARET – PENGGUNAAN MINYAK KELAPA SAWIT SEBAGAI PENGGANTI OLI SAMPING PADA MOTOR DUA TAK UNTUK MENGURANGI PENGGUNAAN MINYAK BUMI

Setelah dilakukan uji coba diperoleh data berupa grafik dan table nilai dari hasil dynotest yaitu:
a. Menggunakan Oli samping mesrania 2T
b. Menggunakan Minyak kelapa sawit (bimoli)

dapat ditarik kesimpulan bahwa hasilnya adalah minyak kelapa sawit dapat digunakan sebagai oli samping.

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA – Kajian Pengaruh Blending Minyak Nabati dan Minyak Mineral terhadap Stabilitas Oksidasi Pelumas

Pencampuran dilakukan berdasarkan perbandingan % (w/w) minyak nabati hasil sintesis terhadap minyak mineral. Konsentrasi minyak nabati yang ditambahkan terhadap pelumas minyak mineral pada penelitian ini, yaitu 0%, 5%, 10%, 15%, serta 20%, kemudian dilakukan blending selama 15 menit dengan suhu 600C sampai 700C dan didiamkan selama 30 hari. Selanjutnya dilakukan pengujian TAN, IV, dan selanjutnya diuji ketahanan terhadap korosi.

Universitas Sumatera Utara – PELUMAS/GREASE

Keunggulan minyak sawit sebagai bahan pelumas antara lain adalah :
– Memiliki daya tahan yang tinggi terhadap oksidasi karena mengandung bahan
antioksidan alami yang dikenal sebagai tocopherol atau vitamin E.
– Lapisan film yang dibentuknya sangat alot (sulit diputus) sehingga sanggup
mencegah gesekan langsung antara logam dengan laogam.
– Lembaran-lembaran baja yang telah digiling dapat dengan mudah dibersihkan karena
asam lemak bebas minyak kelapa sawit mudah disabunkan dengan penambahan
bahan alkali.
– Secara kimiawi bersifat biodegradable, yaitu residu yang dihasilkan dapat diuraikan
oleh mikroorganisme pengurai sehingga tidak menjadi polutan terhadap lingkungan.
– Secara medis tidak mengganggu kesehatan manusia sebagai konsumen akhir.
– Dapat tersedia dalam jumlah mencukupi sesuai dengan tingkat kebutuhan. CPO
tersedia dalam jumlah yang melimpah di Indonesia. Jumlah CPO ini akan semakin
meningkat mengingat semakin banyaknya perkebunan kelapa sawit serta industri
CPO yang terus berkembang.
– Harga minyak sawit yang relatif rendah dan dalam batas ambang daya beli
masyarakat secara umum.

Universitas Andalas – Pemanfaatan Minyak Jelantah (Waste cooking oil) Sebagai Bahan Dasar Pelumas Ramah Lingkungan (Biobased Lubricant)

Pada hasil pengujian tribologi (koefisien gesek), minyak sawit jelantah memiliki nilai koefisien gesek rata-rata paling kecil sebesar 0.45 dari pada minyak jelantah lainnya.

Universitas Andalas – Pengaruh Penambahan Persentase Minyak Kopra, Kopra Komersil dan Minyak Sawit Terhadap Sifat Tribologi Pada Oli SAE 40

Sedangkan pada sifat tribologi (keausan), penambahan minyak sawit sebesar 20% memiliki penurunan keausan sebesar 21,7% pada material pin dan 54,7% pada material disk dibandingkan dengan oli SAE 40.

UNIVERSITAS RIAU – Studi Penambahan Additif pada Minyak Kelapa Sawit untuk Mendapatkan Sifat Pelumas (Lubricant) dan Pendingin (Coolant)

UNIVERSITAS SRIWIJAYA – Studi Kinetika Reaksi Asetilasi pada Pembuatan Pelumas Nabati dari Minyak Kelapa Sawit

Universitas Indonesia – Pembuatan pelumas…

Indonesia terkenal sebagai penghasil kelapa sawit terbesar di dunia sejak 2006 mengalahkan Malaysia (Deptan, 2008), oleh karena itu bahan dasar yang paling tepat bagi pelumas bio di Indonesia adalah minyak kelapa sawit.

Minyak sawit yang digunakan diperoleh dari minyak sawit (RBDPO) yang
dijual secara umum (Merk sania)

 

Dari kutipan kutipan diatas ditunjukkan bahwa minyak nabati punya film strength tinggi sehingga punya daya pelicinan yang tinggi. Dengan hanya menambahkan sedikit minyak nabati pada oli mineral dapat meningkatkan kelicinan sehingga sama dengan oli nabati.

Ini membuat penulis sangat penasaran dan memutuskan untuk mencoba.

Penulis mencoba menambahkan minyak goreng pada oli mesin dua motor sekaligus. Honda Beat ESP ISS 110cc dengan oli Valvoline 4T Super XLD motorcycle oil 10W40. Suzuki Spin 125 cc dengan oli Pertamina Fastron Techno 15W50.

Penulis menambahkan inginnya 5%, tapi sepertinya kelebihan, sehingga yang ditambahkan jadi sekitar 10 persenan. Dari referensi, jumlah yang dibutuhkan dikatakan sekitar 2000ppm (0.2%).

In general it was found that OFMs start to produce a reduction in friction between a wide range of metal-metal tribo-pairs when their concentration reaches about 0.00001M, above which friction decreases progressively to level out when concentration reaches ca. 0.01M [25-27]. This range is equivalent to approximately 2 to 2000 ppm.

Kalau goalnya stearic acid yang kandungan di dalam minyak goreng cuma 5%, maka untuk mencapai 0.2% butuh sekitar 4% minyak goreng (betul tidak kalkulasinya?) ditambahkan ke oli mesin. Bila 1 liter maka ditambahkan 40cc.

Kalau goalnya oleic acid maka karena kandungan dalam minyak goreng mencapai sekitar 40% maka minyak goreng yang ditambahkan ke dalam 1 liter oli mesin adalah 5cc.

kandunan-stearic-acid

Sebagai perbandingan, berikut kandungan fatty acid dari minyak nabati:
komposisi-fatty-acid-dari-minyak-nabati

 

Efek yang penulis rasakan setelah menambahkan minyak goreng pada kedua motor adalah suara mesin jadi lebih halus. Sebelum menambahkan minyak goreng penulis menyalakan motor dan membiarkan idle untuk mendengarkan suaranya. Lalu penulis matikan untuk ditambahkan minyak goreng. Setelah dinyalakan maka lambat laun suara idle menjadi lebih halus.

Ternyata suara halus ini juga terasa saat motor dipakai jalan. Yang paling terasa di Honda beat yang mesinnya lebih berisik dari Suzuki Spin. suara rintik rintik yang biasa terdengar jadi berkurang, membuat pemakaian motor jadi jauh lebih nyaman. Di Suzuki Spin suara mesin juga berkurang namun tidak sebanyak di Honda Beat.

Rekaman suara trik trik bisa dilihat di video berikut:

Walau suara lebih senyap dari motor lain namun suara rintik rintik masih mengganggu. Setelah oli mesin ditambahi minyak goreng suara rintikan tersebut jauh berkurang. Kalau ada kesempatan akan saya rekam lagi efek sesudahnya.

Soal tenaga dan irit penulis tidak yakin akan bisa mendeteksi. Dari percobaan pabrik saja cuma bisa menyimpulkan 2 persen. Rasanya susah sekali untuk bisa membedakan 2 persen penambahan tenaga ataupun irit. Mesin memang terasa lebih licin, namun untuk tenaga penulis tidak bisa memastikan bertambah atau tidaknya. Yang paling bisa dirasakan adalah suara mesin yang jadi jauh lebih halus.

Untuk efek samping, dikatakan bahwa minyak nabati punya sifat anti oksidasi yang jelek, sehingga oli akan lambat laun mengental. Oli juga lebih mudah mengental saat dingin.

Bagi penulis perlindungan mesin dan halusnya mesin nomer satu. Jadi dengan mesin lebih halus penulis tidak masalah bila umur oli berkurang 10% dari seharusnya (karena ditambah minyak goreng nya 10%). Ganti oli 10% lebih cepat tidak masalah yang penting motor jadi nyaman dikendarai.

Bila ada yang sudah pernah mencoba silahkan share. Bagi yang mau mencoba maka resiko ditanggung sendiri.

Dalam percobaan, sering sering cek oli, baik di warna ataupun kekentalan. Disebut diatas kelemahan dari minyak goreng sebagai pelumas adalah oksidasi (yang membuat oli makin kental), dan lebih mudah beku di suhu rendah.

Merek yang penulis sarankan adalah sunco, karena dikatakan minyaknya mengandung lebih banyak lemak tak jenuh (di referensi diatas adalah oleic), oksidasi paling sedikit dan lebih tidak mudah membeku di suhu dingin.

– Produk minyak goreng bebas lemak trans, mengandung 57% asam lemak tidak jenuh.
– Tidak Mudah Beku
– Rahasia beningnya Sunco berasal dari buah kelapa sawit segar yang langsung diolah. Warna bening adalah bukti minyak goreng yang baik karena tidak cepat hitam atau teroksidasi sehingga meminimalkan risiko kanker

Minyak goreng sunco mengurangi masalah utama pemakaian minyak goreng sebagai aditif pelumas yaitu faktor oksidasi dan daya tuang di suhu rendah.

Barangkali pembaca ada saran merek lain?

Update:
Hari ketiga, suara mesin kedua motor masih halus, saat oli diteteskan ke tisu terlihat warna oli coklat. Yang berbeda dari biasanya adalah distribusi warna. Biasanya bagian tengah lebih gelap warnanya dari bagian tepi, namun di tes oli ini warna sangat merata / homogen dari tengah sampai tepi. Menurut penulis ini ciri daya larut yang besar. Ini mengingatkan penulis dibahasan dimana untuk bisa meningkatkan daya pelarutan PAO perlu ditambahkan dengan ester atau minyak nabati.

Dengan ditambahkan minyak goreng maka oli mesin jadi lebih kuat daya pembersihnya sekaligus lebih baik daya lumasnya.

Update:
Hari keempat masih halus.

Saya share cara ini di grup pemakai oli dan ternyata mendapat sambutan negatif, diminta uji lab, dll. Respon negatif itu membuat saya memilih mundur dari grup tersebut, apalagi secara teori (soal oli tidak hanya topik ini saja) banyak ketidakcocokan dengan apa yang saya percaya dan dengan apa yang dipercaya di grup tersebut.

Minyak goreng dikatakan tidak bisa dipakai untuk pelumas. Padahal dari apa yang saya baca dan kutip minyak goreng berpotensi menjadi pelumas masa depan atau paling tidak untuk aditifnya. Entah mengapa di grup tersebut susah sekali menerima data dari akademisi. Minta uji lab padahal kalau disimak, sebenarnya banyak yang pakai oli mobil di motor asalnya juga karena ada yang berani coba coba. Tanpa perlu uji lab juga banyak yang meniru berdasarkan pengalaman yang sharing. Dan dari coba coba itulah jadi tahu apa yang bisa dan apa yang tidak bisa. Entah mengapa sharing cara yang menurut saya tidak lebih nyeleneh daripada pakai oli mobil di motor kok direspon negatif. Banyak yang sharing di grup tersebut yang pakai aditif nggak jelas (tidak ada pembuktian lab, hanya testimoni) tapi toh dibiarkan saja. Sementara yang penulis ajukan cara gratis malah dihambat.

Bisa dilihat di kutipan penelitian universitas universitas di Indonesia, kebanyakan adalah coba coba. Apa yang saya lakukan menurut saya tidak jauh berbeda dari apa yang dilakukan oleh peneliti universitas. Coba coba dan melaporkan hasil.

Tujuan saya bereksperimen ini adalah untuk mengeksplorasi potensi dari minyak goreng. Bila sukses, maka ini bisa jadi cara mudah untuk meningkatkan kualitas oli mesin yang sekarang susah cari yang bagus tapi murah. Murah banyak tapi jelek. Bagus ada tapi mahal. Dari eksperimen ini juga jadi tahu yang menengah juga masih bisa lebih jauh ditingkatkan hanya dengan menambah sedikit minyak goreng.

Ada yang bilang pemakaian minyak goreng sebagai aditif tidak sesuai dengan tujuan long drain interval. Kalau dari kutipan informasi oksidasi memang merupakan kelemahan utama minyak goreng, namun perlu diingat juga bahwa kebanyakan orang menentukan waktunya ganti oli berdasarkan kasarnya suara mesin. Sementara itu menambahkan minyak goreng ke oli mesin malah membuat mesin makin halus suaranya.

Kelemahan dari oksidasi itu juga dikatakan bisa dikurangi dengan bantuan aditif. Sementara di oli sendiri biasanya sudah ada aditif anti oksidasi seperti misalnya ZDDP. Jadi dengan adanya keberadaan aditif anti oksidasi dan volume penambahan minyak goreng yang sangat kecil, maka faktor oksidasi ini menjadi jauh berkurang.

Jadi bila acuan penggunaan oli adalah kasarnya suara mesin, maka penambahan minyak goreng ke oli mesin justru sesuai dengan tujuan long drain interval. Pemakaian oli jadi lebih lama, keausan mesin juga berkurang.

 

Update:
Ada bro yang bertanya tentang apa efek dari kandungan vitamin A pada minyak goreng.

Kalau dari peraturan, sepertinya setara dengan 27ppm = 0.0027 %.
Fortifikasi vitamin A pada minyak kelapa sawit

Penambahan vitamin A ini mempersyaratkan 45 IU yang ekuivalen dengan 27ppm

Disebut bisa larut pada minyak.
Kontroversi Fortifikasi Vitamin A dalam Minyak Goreng
rumus-vitamin-a-pada-minyak-kelapa-sawit

proses-pengolahan-kelapa-sawit

Menurut penulis jumlah tersebut kecil sekali sehingga tidak signifikan, dan sifatnya juga disebut sesuai untuk tipe pelumasan physisorption.

 

Update untuk aplikasi di motor dengan kopling basah dan transmisi motor matik:
Bro zorro melaporkan bahwa menambahkan 100ml minyak goreng fortune pada oli fastron techno 10W40 pada motor Yamaha Vixion tidak membuat selip kopling, suara mesin lebih halus.

Penulis sendiri barusan mencoba menambahkan minyak goreng bimoli pada oli transmisi Honda Beat ESP, tidak mengalami selip walau untuk boncengan, suara transmisi jadi lebih halus.

Bro Robbisantiaji melaporkan bahwa menambahkan 100ml minyak goreng sovia pada oli Shell Rimulla 15W40 membuat tarikan lebih enteng dan suara mesin bawah halus, suara dekat head ada suara kasar.

Bro nunu melaporkan bahwa pakai TMO 10W30 + minyak goreng di Vario suaranya jadi halus, malah lebih halus dari amsoil 0W20. Suara motor Vario yang pakai Amsoil 0W20 suaranya makin halus setelah ditambah 100ml minyak goreng fortune.