Molybdenum bukan friction modifier dan bisa bikin selip kopling tapi ada cara agar bisa dipakai motor dengan kopling basah


Pada waktu penulis membahas pertama kali soal pemakaian minyak goreng sebagai aditif oli penulis memberi warning agar tidak mencoba di motor kopling basah. Ini penulis kemukakan karena dari referensi minyak goreng disebut mengandung banyak fatty acid. Fatty acid termasuk dalam kategori friction modifier dan banyak yang bilang bahwa friction modifier itu bikin selip kopling.

Namun ternyata kenyataan berbeda, menambahkan minyak goreng ke oli mesin tidak membuat kopling selip. Bro Zorro dan bro Robbisantiaji yang sudah mencoba pada Yamaha Vixion dan Suzuki Shogun FI membuktikan bahwa menambahkan minyak goreng ke oli mesin tidak membuat selip kopling motor dengan kopling basah.

Ini membuat penulis penasaran. Sebenarnya faktor apa yang membuat friction modifier bikin kopling jadi selip?

Keberadaan friction modifier ini yang menjadi alasan oli mobil dilarang dipakai di motor dengan kopling basah / wet clutch (motor tipe sport dan tipe bebek).

 

Rame – rame pakai oli mobil yang tidak mengandung friction modifier untuk motor

Oli mobil yang tidak mengandung friction modifier umumnya dianggap aman untuk motor, sehingga banyak pemilik motor yang memakainya. Seperti contohnya berikut ini.
Shell Rotella T, From Wikipedia, the free encyclopedia

Though marketed as an engine oil for diesel trucks, Rotella oil has found popularity with motorcyclists as well. The lack of “friction modifiers” in Rotella means they do not interfere with wet clutch operations. This is called a “shared sump” design, which is unlike automobiles which maintain separate oil reservoirs – one for the engine and one for the transmission. Used oil analysis (UOA) reports on BobIsTheOilGuy.com have shown wear metals levels comparable to oils marketed as motorcycle-specific.

Dikatakan bahwa banyak yang pakai oli Shell Rotella di motor karena tidak adanya friction modifier. Uji oli bekas juga menunjukkan bahwa keausan dari pemakaian oli diesel tidak beda dengan oli yang khusus motor.

Di Indonesia juga banyak yang pakai oli diesel untuk motor, seperti contohnya di komunitas long drain interval.

Penulis sendiri berpendapat oli diesel memungkinkan dipakai di motor. Karena oli diesel itu kental (oli diesel nggak ada yang encer) maka film strengthnya cukup kuat sehingga tidak perlu friction modifier untuk menambah film strength. Beda dengan oli encer yang karena film strengthnya lemah harus perlu ditambahi friction modifier. Oli diesel ada yang ditambahi friction modifier namun tidak banyak.

 

Pabrikan sendiri melarang penggunaan oli diesel di motor:
Please Fastron Diesel Bukan Untuk Motor

Jakarta – Akhir-akhir ini Redaksi Pertamina Racing kerap menerima email yang menyatakan sangat puas dengan penggunaan pelumas Pertamina Fastron di mesin sepeda motor. Rata-rata menyebutkan tak mengalami gejala selip kopling, bahkan performa putaran mesin lebih tinggi bila dibandingkan pakai oli yang lain.

Kendati email sudah dibalas oleh redaksi bahwa gunakan oli sesuai peruntukkannya, namun tetap saja pengguna Fastron Diesel tetap keukeh bahwa sudah jatuh cinta. Mereka akan tetap menggunakan Fastron Diesel di mesin sepeda motornya.

Untuk ini, Redaksi pun tak bisa apa-apa, tetapi tetap berusaha mengingatkan bahwa oli motor dan mobil telah dibuat di laboratorium dan diuji sesuai dengan peruntukkannya masing-masing.

Sebagai ilustrasi, Fastron Diesel hadir untuk memberikan performa perlindungan maksimal kepada mesin diesel, dimana masih banyak pengguna mobil diesel yang menggunakan bahan bakar Bio Solar. Dimana bahan bakar ini memiliki kandungan sulfur hingga 3.500 ppm bahkan lebih. Padahal kini telah banyak tersedia Pertamina DEX yang memang diperuntukkan bagi bahan bakar mesin diesel modern.

Nah kembali pada masih tingginya penggunaan Bio Solar, disinilah peran aditif di Fastron Diesel bekerja. Aditif tersebut bekerja sebagai komponen penetralisir asam hasil pembakaran yang dinotasikan dengan angkat total base number (TBN). Untuk mesin diesel memiliki angka TBN 12,07.

Lantas bagaimana jika aditif tersebut tak berfungsi saat digunakan di mesin sepeda motor yang memakai bahan bakar Premium atau Pertamax sekalipun?
Jelas lama kelamaan akan bisa berpengaruh terhadap performa mesin motor. Jadi mari kita kembali gunakan oli yang tepat, sesuai peruntukkannya. Motor kopling basah gunakan produk Pertamina Enduro ataupun Pertamina Enduro Racing, atau Pertamina Enduro Matic untuk motor matic. (*)

 

Walau mungkin oli diesel memang bisa dipakai di motor, menurut penulis oli diesel tidak terlalu cocok untuk dipakai di motor karena perbedaan karakteristik antara mesin diesel dan mesin motor. Memang bisa, tapi akan lebih afdol bila memilih oli khusus motor yang kualitasnya setara dengan oli diesel tersebut. Masalahnya adalah oli bagus untuk motor langka.

Alasan mengapa oli diesel tidak cocok dipakai di motor dibahas di artikel berikut.
Mengupas efek menambah oli HDEO dengan oli ATF dari sisi pabrik oli menunjukkan beberapa kekurangan oli ATF sebagai oli mesin

Intinya adalah karena oli diesel fokusnya untuk membersihkan maka daya perlindungannya jadi tidak bisa maksimal. Meningkatkan daya pembersih itu resikonya mengurangi perlindungan. Tapi tetap saja sejelek jeleknya perlindungan oli diesel bagus masih jauh lebih baik perlindungannya daripada oli motor pasaran yang kualitasnya sering dibawah standar.

Kalau untuk motor dengan kopling basah, oli diesel HDEO bisa jadi pilihan bagus, selama tidak ada oli motor yang kualitasnya sama. Kalau untuk motor tanpa kopling basah, mending oli mobil PCMO saja, yang daya licin dibuat maksimal yang tidak memperhitungkan faktor selip kopling.

 

Pro kontra molybdenum bikin selip kopling

Kembali ke topik, friction modifier yang disebut sebut bikin selip kopling adalah molybdenum. Pengaruh molybdenum terhadap kopling sebenarnya masih dalam perdebatan. Banyak pabrik oli secara eksplisit ataupun implisit yang mengklaim molybdenum bikin selip kopling.

Seperti contohnya Exxon Mobil:
Are Mobil 1 Racing™ oils compatible with a wet clutch engine?

These oils are not recommended for wet clutch applications due to their high level of molybdenum.

Pabrikan oli juga melarang penggunaan oli matik ke motor dengan kopling basah dengan alasan oli matik ada friction modifiernya.

Namun ada pula yang menyanggah. Dikatakan bahwa bukan molybdenum penyebab bikin selip kopling. Berikut kutipannya:
Penggunaan Oli Mobil (PCMO/HDEO) untuk Motor

deesanti:
Mungkin hingga hari ini,, masih bnyak user yang bertanya2,, zat apa sih sebenarnya yang diharamkan dalam oli yang harmful buat Kopling Basah?? Apakah Molybdenum?? Ataukah Titanium??

Jawabannya bukan keduanya,, hal2 yang membuat selip kopling memang berasal dari Friction Modifier yang terletak dalam oli tersebut..

Yang bahaya itu ya Organic Additives-nya,, itu yg bikin selip,, karena beberapa dari mereka bereaksi dengan komposit kopling. .
😀
Klo Friction Modifier sih ga bikin selip kopling. .
😀
Untuk mengingat,, apa itu Friction Modifier,, aq jelasin sekali lagi deh. .
Friction Modifier: Berguna untuk mengurangi gesekan antara logam,, apabila Anti-Wear Agent dan Extreme Pressure additives memberikan proteksi dngan melapisi logam agar tidak bergesekan langsung,, maka Friction Modifier membuat lapisan film tersebut lebih licin shingga bisa mengurangi gesekan antara logam. .

Friction Modifier juga dipilih dari logam2 yg bsa terkristalisasi shingga bisa berada di tengah lapisan film n mmbuat gesekan lbih rendah. .

Jumlah MoS2 dalam oli biasanya tidak terlalu berpengaruh terhadap kinerja kopling,, karena kopling bukanlah logam,, sementara MoS2 bahkan kalau ada WS2 dalam oli tidak akan mempengaruhi kinerja kopling tersebut. .

Apa buktinya??

Lihat Oli Racing sekelas Motul 300V yg memiliki MoS2 sebanyak lebih dari 200 ppm,, tetapi tidak menyebabkan adanya selip kopling. .

Jadi apa yang menyebabkan selip kopling itu sebenarnya?? Organic Additives,, itu jawabannya. .

Apa itu Organic additives??
Organic additives sendiri adalah additives yg menempel sudah lumrah terdapat dalam oli,, Organic adalah Carbon,, jadi segala macam Carbon dan senyawa-nya adalah Organic. .

Beberapa contoh Organic Additives yang berbahaya untuk kopling basah adalah:
– Sulphur Hyrdocarbon (aq ga boleh jelasin)
– Alkana rantai pendek dan Panjang (aq ga boleh jelasin)
– Graphite,, ini adalah Solid lubricant,, jumlahnya biasanya terbatas pada oli,, biasa ditambahkan dalam VHVI dan PAO,, untuk memproduksinya harganya mahal
– Poly Tetra Fluoro Ethylene,, nama lain dari Teflon,, biasa digunakan dalam VHVI dan PAO,, jarang ditemukan karena harganya juga mahal
– Polyethylene,, sebagai contoh HMPE yg memiliki kualitas F/M sebaik PFTE

Ada beberapa merek oli yg menggunakan Graphite,, salah satunya adalah Produsen Amerika yang cukup ternama. .
Mengapa Graphite ga bisa dideteksi,, karena Graphite adalah Carbon,, dan Carbon adalah senyawa pembentuk oli,, yaitu Hydrocarbon. .

Kesimpulannya,, Oli dngan Molybdenum ato Titanium yg tinggi,, belum tentu berbahaya untuk kopling basah,, tapi oli dengan embel2 German Approved,, ILSAC GF-5,, dan Fuel Economy Enable pastinya berbahaya buat kopling basah,, meskipun semuanya tergantung kepada desain kopling itu sendiri. . Karena desain dan komposit kopling yang berbeda akan menyebabkan hasil yang berbeda,, tetapi tidak ada salahnya kita menghindari sesuatu yang harmful. .

Disebutkan yang membuat selip kopling adalah graphite dan bukan molybdenum. Dari sisi sifat kimia memang graphite punya kelemahan, yaitu lebih mudah bereaksi sehingga bikin korosi atau berkarat. Sementara itu molybdenum punya sifatt lebih inert / tahan reaksi. Keduanya punya kelemahan yang sama yaitu kecenderungan menyebabkan penumpukan.

Penjelasan lebih lanjut tentang perbedaan pengaruh friction modifier dan aditif extreme protection atau aditif anti wear bisa dibaca di artikel berikut:
Mengenal dasar pelumasan, ada saat dimana perlindungan tidak ditentukan oleh anti wear

Molybdenum yang umum dipakai di oli mesin

Molybdenum sendiri sebenarnya ada macam macam. Untuk yakinnya mari kita lihat molybdenum yang mana yang umum dipakai.
Molybdenum Apa Benar Bisa Mendongkrak Torsi

Apa anda pernah mendengar Molybdenum Disulfide ? Cairan yang mirip aditif yang punya ketahanan terhadap panas dan beban tinggi, Jika dicampurkan dalam pelumas bisa mengurangi gesekan antara dua logam, dan punya ketahanan tidak menguap sampai 750 derajat fahrenheit, juga tahan terhadap tekanan sampai 2500.000 psi.

Nah para sahabat katanya cairan ini jika dicampur dengan oli mesin di Honda Vario, suhu dapur pacu turun hingga 10 derajat celsius. Molekul yang punya rumus kimia MoS2 ini katanya pas untuk motor matik. Artinya mesin yang memisahkan antara dapur pacu dan transmisi.

Fungsinya sebagai lapisan metal, karena panasnya gesekan berkurang, maka bikin komponen mesin lebih awet dan tingkat ketahanannya mencapai 30%. Molybdenum Desulfide ini sebenarnya biasanya hanya dipakai untuk mobil. Pemakaian untuk motor tidak perlu terlalu banyak, cukup setengah sendok teh dan campurkan pada oli mesin, ditanggung mesin motor bakal lebih adem (dingin). Pengaruh lainnya dari cairan ini adalah gesekan jadi berkurang dan tentu berpengaruh ke power dan torsi mesin, torsi naik itu juga pengaruh minimnya gesekan tadi dan katanya lagi terbukti menaikan torsi bisa sampai 10% dari tenaga motor.

Tapi sayang cairan ini harganya masih terlalu mahal, satu liternya mencapai Rp.400.000 bisa murah kalo belinya rame-rame, dan yang menjual cairan ini tokonya pun tertentu, tidak semua toko bahan kimia menyediakan Molybdenum Disulfide tersebut.
Apakah anda tertarik menggunakan cairan ini untuk motor matik anda….

Liqui Moly Motorbike Oil Additive

Engine wear protection on molybdenum disulfide basis (MoS2). Scientifically proven wear reduction up to 50%. Extends the engine life. The engine runs smoother, the oil and fuel consumption are reduced. Increases engine quietness, fewer breakdowns. Cat tested.

aditif-liqui-moly-dengan-molybdenum-disulfide

Yamalube Oil Matic & Power Matic Oil, Oli Yamalube Matic dan Power Matic, Aditifnya Mampu Dongkrak Torsi

Karena sifatnya itulah molekul yang punya rumus kimia MoS2, sehingga pas untuk motor matik yang konstruksi mesin dan transmisinya terpisah.

“Karena Yamalube Oil Matic dan Power Matic memliki zat Molybdenum, Yamaha pun berani menjamin ketahanan komponen mesin motor matic hingga mencapai 30 persen. Apalagi aditif yang biasanya untuk mobil dapat menaikkan torsi sampai 10 persen karena mesin motor jadi lebih dingin,” jelas Robby Sidharta, Assistant Manager Spare Parts Division Yamaha Indonesia.

 

Dari beberapa kutipan tersebut sudah jelas bahwa molybdenum yang biasa dipakai untuk oli mesin adalah molybdenum disulfide MoS2.

 

Molybdenum disulfide itu sebenarnya termasuk aditif friction modifier atau termasuk aditif extreme protection?

Di kutipan – kutipan sebelumnya disebutkan bahwa molybdenum disulfide termasuk aditif friction modifier. Dan memang dari sisi penjual oli atau konsumen banyak yang menganggap seperti itu. Mereka menganggap molybdenum disulfide bukan aditif extreme pressure dan tidak termasuk solid lubricant.

Ini berbeda dengan yang ada di literatur atau referensi buku atau sisi teori dari pelumasan.

Untuk bisa lebih jelas, kita ingat kembali tentang perbedaan dari aditif extreme protection dan aditif friction modifier. Gambar berikut menunjukkan hubungan antara tekanan, temperatur dan kecepatan gerak dibanding dengan hambatan. EP merupakan singkatan dari extreme protection, sementara FM merupakan singkatan dari friction modifier.
beda-antara-friction-modifier-dan-aditif-extreme-pressure

Boundary lubrication itu terjadi bila bagian yang bergesekan tidak terlumasi oli, sementara film lubrication terjadi bila bagian yang bergesekan terlumasi oli. Film lubrication disini maksudnya adalah lapisan cairan oli, sehingga ada lapisan oli diantara permukaan yang bergesekan.

Terlihat bahwa EP mengurangi friksi di tahap pelumasan boundary lubrication, sementara FM mempengaruhi ambang batas tahap pelumasan film lubrication, mengurangi resiko terjadinya boundary lubrication. Yang bisa menambah film strength dan bikin oli makin licin sehingga oli bisa lebih kuat menahan tekanan adalah aditif friction modifier. Yang bikin logam makin licin saat tidak ada oli adalah aditif extreme protection.

Semoga sampai di sini pembaca sudah bisa paham perbedaan keduanya.

 

Baik EP ataupun FM sama sama bikin licin, namun pada tahapan pelumasan yang berbeda. Dan ini yang menjadi masalah karena keduanya sama – sama merubah sifat friksi sehingga ada yang menganggap aditif EP sebagai aditif FM. Padahal keduanya berbeda karena terjadi pada tahap pelumasan yang berbeda. Yang bikin lebih rancu lagi adalah karena ada aditif extreme protection yang berfungsi juga sebagai aditif friction modifier.

 

Molybdenum disulfide sendiri hanya berfungsi satu fungsi saja. Di kutipan berikut molybdenum disulfide dikategorikan sebagai aditif friction modifier.
Surface Engineering of Metals: Principles, Equipment, TechnologiesBy Tadeusz Burakowski, Tadeusz Wierzchon

Lubrication with boundary friction may be attained with the application of solid lubricants such as graphte, molybdenum disulfide (MoS2) or tungsten disulfide (ws2). Solid lubricants may be present in a colloidal solution of oil or resin or the self-contained form. These materials form thin layers at the metal surface and ensure high shear strength, as well as high temperature.

Dikatakan graphite, molybdenum disulfide (MoS2) dan tungsten disulfide (ws2) adalah pelumas di tahapan boundary, dan merupakan solid lubricant (pelumas padatan).

 

Kutipan berikut juga menyebutkan ketiganya sebagai solid lubricant.
Noria Publication – Limitations of Extreme Pressure Additives

Solid lubricants such as molybdenum disulfide, graphite or tungsten disulfide are sometimes used when the operating temperatures are too high or low for an oil in which the reaction rate may not be sufficient; however, these solid films have limited wear lives and may not carry the loads necessary for long gear and bearing life.

 

Perbedaan daya lumas dari ketiganya dirangkum dalam kutipan berikut:
Investigation of Molybdenum Disulfide and Tungsten Disulfide as additives to coatings for foul release systems

perbandingan-daya-lumas-molybdenum-graphite-dan-tungsten

 

Sebenarnya ada aditif molybdenum yang berfungsi sebagai friction modifier, namun molybdenum disulfide tidak termasuk. Aditif molybdenum yang masuk kategori friction modifier adalah MoDTC dan MoDTP:
Study on Correlation between Lubrication Characteristics of Engine and Fuel Economy

Friction modifier – Very effective to reduce friction coefficient and contact between metalic parts – Typical friction modifiers : MoDTP (Molybdenum dithiophosphate), MoDTC (Molybdenum dithiocarbamate), Ester

Di referensi diatas molybdenum MoDTP dan MoDTC disetarakan dengan ester. Dari yang penulis tahu, tidak ada konsumen atau penjual oli yang menyamakan molybdenum disulfide dengan ester.

 

Dari sini sudah terlihat adanya perbedaan persepsi. Perbedaan akan terlihat makin jelas pada penjelasan akademis tentang klasifikasi aditif pelicin.

 

Pengkategorian aditif berdasar referensi akademis

Pengkategorian dari molybdenum disulfide bisa lebih jelas bila kita menyimak kutipan berikut.
Fuels and Lubricants Handbook

beda-reaksi-dari-friction-modifier

Physical adsorption, or physisorption, is a weaker association of the additive with metal than chemical adsorption, or chemisorption, which in turn is weaker than chemical reaction.

During physical adsorption, an additive molecule generally keeps its structural integrity and involve no bond breakage or bond formation. This is typical of additives, such as natural fats and oils, which have a low reactivity towards metals. However, when the temperature reaches beyond a certain threshold temperature, these additives desorb and the fluid loses its friction-reducing properties. The result is wear damage.

Chemical adsorption, on the other hand, requires some reactivity of the additives towards metal and involves limited bond breakage and bond formation. This situation occurs in the case of fatty alcohols and fatty acids that react with the metal surface to form metal alkoxides and metal carboxylates, respectively.

Physically and chemically adsorbed additive films are easy to remove. That is where extreme pressure / antiwear agents become important. These additive chemically react with metal surface to form a more tenacious protective flm. These involves extensive bond breakage and bonds formation via complete breakdown of the additive. These additive are primarily organic compounds of chlorine, sulfur and phosphorus.

The extend of EP protection in the equipment depends upon the conjuction temperature of the two metal surface in contact. It is important for the activation temperature of the EP additives to match the conjuction temperature in order to provide the neccesary protection. Equipment that operates at low speed and high loads generally requires more EP protection than equipment that operates at high speed and low loads. molybdenum disulfide (MoS2) are commonly used sulfur containing EP additives.

hubungan-antara-perlindungan-ep-dan-temperature

Dikatakan bahwa dari sisi daya lengket terhadap logam maka urutan cara kerja aditif dari yang paling lemah adalah physical adsorption, lalu chemical adsorption, lalu chemical reaction. Physical adsorption paling lemah, chemical reaction paling kuat.

Pada tahap physical adsorption, molekul dari aditif tidak mengalami perubahan struktur dan tidak melibatkan pemecahan ikatan atau perubahan formasi. Ini bisa berupa lemak dan minyak alami (mungkin termasuk kandungan asam lemak jenuh di minyak goreng). Aditif ini tidak begitu bereaksi terhadap logam, sehingga ketika temperature melebihi batas tertentu, aditif lepas dan cairan kehilangan sifat pengurangan friksi. Hasilnya adalah rusak aus.

Chemical adsorption bisa memnyebabkan reaksi ringan dari aditif pada logam yang menyebabkan pelepasan ikatan terbatas dan pembetukan formasi sebagian. Ini bisa berupa fatty alcohol dan fatty acids (termasuk juga kandungan oleic acid di minyak goreng). Aditif ini akan bereaksi membentuk metal alkoxides dan metal carboxylates.

Aditif yang adsorbed secara fisik atau kimia mudah terlepas. Oleh karena itu peran aditif extreme pressure dan anti wear jadi penting. Aditif ini bereaksi secara kimia dengan permukaan logam sehingga membentuk lapisan pelapis yang lebih kuat. Aditif menyebabkan pemecahan ikatan dan pembentukan formasi yang lebih total melalui penguraian sepenuhnya dari aditif. Aditif ini terutama berupa organic compound dari chlorin, sulfur dan phosphorus.

Tingkat perlindungan dari aditif EP tergantung pada temperature conjuction dari kedua permukaan yang bersinggungan. Penting sekali untuk bisa menyesuaikan temperature aktivasi dari aditif EP dengan temperatur conjuction agar perlindungan bisa maksimal. Komponen yang bekerja pada kecepatan rendah dengan beban tinggi biasa butuh aditif EP lebih banyak daripada komponen yang bekerja di kecepatan tinggi dan beban ringan. Molybdenum Disulfide (MoS2) dikategorikan sebagai aditif EP dari bahan sulfur.

 

Kutipan berikut menyebutkan molybdenum sulfate sebagai aditif friction modifier:
Lubrication Fundamentals, Third Edition, Revised and ExpandedBy Don M. Pirro, Martin Webster, Ekkehard Daschner

molybdenum-sulfate-chemically-reactive-friction-modifier

Dikatakan bahwa klasifikasi kedua dari aditif friction mdoifier merupakan aditif yang bereaksi dengan logam membentuk lapisan pelicin baru pada logam. Logam Molybdenum dan Tungsten sering dipakai untuk ini. Mereka dikombinasikan dengan sulfur dan oksigen serta alkyl untuk membuatnya bisa larut di oli. Molybdenum disulfide akan membentuk lapisan di permukaan logam berlapis lapis pada permukaan logam, dan seperti graphite akan menjadikan lapisannya mudah tergelincir satu sama lain. Lapisan juga mudah terkelupas dan mengurangi terjadinya tekanan robekan pada logam yang dilindungi. Lapisan hanya akan terbentuk pada permukaan yang bersinggungan saja.

Jadi bisa disimak bahwa walau dikatakan sebagai friction modifier, molybdenum disamakan dengan graphite dan tungsten. Bekerjanya juga hanya pada saat bersinggungan secara langsung. Oleh karena itu penulis lebih cenderung menggolongkan molybdenum sebagai aditif extreme protection. Cara kerja molybdenum berbeda dari aditif friction modifier semacam ester yang bisa mengurangi friksi pada saat logam tidak bersinggungan / di tahap pelumasan full film.

 

Berikut penjelasan cara kerja aditif Molybdenum Disulfide menurut Liqui Moly.
Key facts about motor oil

MoS2 LOW FRICTION
MoS2 (molybdenum disulfide) forms a thin layer of high load-bearing lubricant on surfaces exposed to friction and on sliding parts in the engine. The excellent low friction properties of this material lead to lighter engine running, thus inhibiting wear and preventing breakdowns. Results from scientific tests have shown that MoS2 reduces fuel and oil consumption and leads to significantly less wear in the engine. MoS2 Low Friction is available from LIQUI MOLY as an oil additive (added to the motor oil) or as a ready-prepared MoS2 low friction motor oil. In spite of all efforts to polish the surface of the metals mechanically, they still look rough under the microscope (1). This rough ness is made smooth by applying a film of MoS2 lubricant (2) and this ”surface finish” reduces frictional resistance and decreases wear.

cara-kerja-friction-modifier-molybdenum

Dikatakan bahwa molybdenum akan membuat lapisan tipis yang kuat dan tahan tekanan pada permukaan mesin yang bergesekan. Kata lubricant disini dimaksudkan sebagai solid lubricant atau pelumas padat. Sifat licin dari aditif ini membuat mesin berjalan lebih ringan, aus berkurang sehingga bisa mencegah kerusakan. Percobaan menunjukkan bahwa permukaan mesin yang kasar bisa jadi lebih halus karena aditif molybdenum disulfide.

Jadi aditif molybdenum itu bekerja terutama dengan membentuk lapisan padat pada logam.

 

Di contoh berikut molybdenum disulfide dibandingkan dengan ZDDP yang biasa dikenal sebagai aditif anti wear.

Mechanism of Friction and Wear in MoS2 and ZDDP/F-PTFE Greases under Spectrum Loading Conditions

wear-scar-diameters-for-grease-with-mos2-and-grease-with-zddp-f-ptfe-under-astm-d2266-standard

 

Dari kutipan kutipan tersebut penulis berpendapat bahwa molybdenum disulfide merupakan solid lubricant yang berfungsi sebagai aditif extreme protection. Molybdenum disulfide bukan aditif friction modifier.

 

Bagaimana pengaruh molybdenum disulfide MoS2 terhadap selip kopling?

Banyak yang bilang bahwa friction modifier bikin selip kopling, sementara untuk oli motor kopling basah katanya perlu aditif anti selip. Contohnya pada Enduro racing:
pertamina-enduro-racing-oli-mesin-sintetik-dengan-anti-selip-kopling

KONSULTASI TWO WHEELS

Yamaha Vixion merupakan motor sport yang memiliki mesin tingkat kompresi lumayan tinggi, sehingga tak mengherankan dilengkapi radiator sebagai pendingin. Mengingat spesifikasi mesinnya, maka bisa menggunakan Enduro 4T Racing 10W-40 yang telah dilengkapi aditif anti selip kopling. Sedangkan Fastron meski kandungan bahan sintetik-nya lebih tinggi dibandingkan Enduro 4T Racing, tetapi tidak dilengkapi aditif anti selip kopling karena peruntukkannya bagi mesin mobil.

 

Dari teori sendiri memang yang namanya friction modifier itu berlaku tidak hanya untuk yang bikin makin licin, namun juga untuk yang bikin makin tidak licin.
When and How to Use Friction Modifiers

The purpose of a friction modifier varies based on the application. In a combustion engine, the goal is to lower the amount of friction, thereby gaining fuel economy. In clutches, automatic transmissions and industrial applications, the aim is not simply to control friction in order to maximize efficiency but to reduce slippage. there are many situations in which a certain amount of traction friction is required for equipment to operate properly.

Dikatakan bahwa penggunaan friction modifier tergantung pada aplikasinya. Pada mesin bakar maka tujuannya adalah untuk mengurangi friksi agar bisa dapat fuel economy bagus. Pada kendaraan yang pakai kopling, pada transmisi otomatis dan aplikasi industri, tujuannya tidak lagi bikin licin tapi untuk mengurangi selip. Ada situasi dimana friksi harus pas agar bisa bekerja dengan sempurna. Mungkin ini sebabnya untuk Standar JASO MB masih tetap ada batas minimalnya.

Untuk oli Indonesia, rasanya ini cuma ketakutan berlebihan dari pabrik oli. Toh buktinya beberapa oli Indonesia yang sebenarnya dikhususkan untuk mobil ternyata bisa dipakai di motor. Oli mobil PCMO yang populer dipakai di motor kopling basah adalah Pertamina Fastron. Seharusnya Pertamina Fastron itu PCMO, untuk mobil, dikatakan tidak mengandung anti selip (friction modifier yang bikin tidak licin), tapi buktinya bisa dipakai di motor.
Fastron Untuk DOHC Satria FU

Memang mesin bebek sport ini telah menerapkan DOHC ala mobil, namun tetap saja sistem kopling motor masih menganut sistem basah, jadi jika menggunakan Enduro 4T Racing dijamin bebas dari gejala selip kopling. Sedangkan Fastron tidak ada aditif anti selip kopling. Namun ada beberapa email dari pengguna Fastron mengaku sangat puas saat digunakan di motor.

 

Pengaruh molybdenum disulfide terhadap kampas kopling

Terus, sebenarnya apa pengaruh molybdenum terhadap kampas kopling? Keterangan dari Liqui Moly berikut soal aditif olinya bisa menjelaskan lebih detil.
Liqui Moly Engine Oil Additive

Description: Colloidal solid lubricant suspension based on molybdenum sulfide (MoS2) in mineral oil. The product forms a high-load lubricating film on all rubbing and sliding surfaces. This in turn reduces friction, providing for smoother operation of assemblies and greater engine economy. Tested for turbochargers and catalytic converters.

Technical data:
Base MoS2 – Suspension
Color / appearance schwarz / black
Solids content ~ 3 %
MoS2 particle size : Majority < 0.3 μm

Areas of application: Added to the lubricating oils of engines, compressors, pumps and especially motor vehicle engines (gasoline and diesel). Mixable with all commercially available motor oils.

Application: Add 5 % (50 ml per liter of oil) of Oil Additive to motor oil; in motorbikes with a wet clutch add 2 % (20 ml per liter of oil). Can be added to motor oil at any time. Shake container before use.
Comment: The maximum dosage for motorcycles with a wet clutch is 2 %!

liqui-moly-aditive

Dikatakan bahwa aditif tersebut merupakan koloid dari MoS2 dalam oli mineral. Produk akan menciptakan lapisan pada permukaan yang bergesekan.

Produk dipakai dengan mencampurkan di oli mesin. 2% untuk motor dengan kopling basah, 5% untuk motor selain itu. Dapat ditambahkan kapanpun. Harus dikocok dahulu sebelum dipakai.

 

Jadi jelas molybdenum disulfide pun aman dipakai di motor dengan kopling basah selama jumlahnya dibatasi.

Di kutipan di atas disebutkan “Oli Racing sekelas Motul 300V yg memiliki MoS2 sebanyak lebih dari 200 ppm,, tetapi tidak menyebabkan adanya selip kopling”.

Dari keterangan liqui moly, aditif MoS2 nya, mengandung 3% solid. Sementara untuk motor kopling basah hanya boleh diberi 2% saja. Kalau dihitung 3% (3/100) dikali 2% (2/100) ketemu 600ppm (part per million, 600 per sejuta).

Jadi kandungan MoS2 dari Motul 300V masih dalam batas aman untuk motor kopling basah. Keberadaan molybdenum di oli motul untuk motor bukan berarti molybdenum disulfide tidak bikin kopling selip, namun karena jumlah masih dalam batas aman molybdenum yang terkandung masih aman untuk dipakai di motor dengan kopling basah.

 

Teknologi Nano

Mungkin bro pernah dengar teknologi friction modifier nano. Kebetulan penulis menemukan penelitian yang membahas hal ini.
Dr. Darrin Lew » Energy Conservation, The Size of the Additive and the Scale Effect on the Lubrication

In the experiments, nano-MoS2 (n-MoS2) particles and commercial common-MoS2 (c-MoS2) particles (approximately 1.5 im in diameter) were dispersed in liquid paraffin with different concentrations and ratios in order to study their lubrication capacity, friction reduction, and wear resistance. The tribological experiments were carried out by a four-ball tribometer in which extreme pressure, wear scan diameter, and friction coefficient were measured. Figure 10.8 shows the variation of coefficient of friction with wear time for lubricants containing c-MoS2, n-MoS2, and mixture of c-MoS2 and n-MoS2 particles. The experimental results showed that the loading capacity of liquid paraffin was increased with MoS2 particle content. The liquid paraffin containing the mixture of n-MoS2 and c-MoS2 particles had a better wear resistance, friction-reducing performance, and extreme pressure property than the liquid paraffin containing either c-MoS2 or n-MoS2 particles. When the optimal mixing ratio of n-MoS2 and c-MoS2 is 20 wt%, was studied, the loading capacity reached the highest value.
molybdenum-nano-vs-biasa

Dalam eksperimen tribology mempergunakan four-ball tribometer, ditunjukkan bahwa cairan yang mengandung MoS2 komersial kalah bagus dengan MoS2 nano. Namun MoS2 nano kalah dengan campuran dari MoS2 nano dengan MoS2 komersial.

Di pasaran ada juga yang menjual nano ws2 (tungsten disulfide)
Power Can WS2 Nano Extreme (Aditif oli yang gak nawarin placebo effect!!!)

Memperkenalkan aditif mesin yang berbahan dasar WS2 (disulfida tungsten), yang memiliki kinerja jauh lebih baik dari molybdenum disulfide (MoS2) yang telah lama kita kenal. WS2 menawarkan pelumasan yang efektif pada keadaan under extreme condition of load, vacuum dan temperature.

Menurut penulis aditif nano ini adalah solid lubricant yang merupakan aditif extreme protection atau anti wear. Friksi memang berkurang, namun bila isinya hanya nano saja maka yang berkurang adalah friksi pada tahap boundary lubrication. Belum jelas apakah aditif nano tersebut juga mengandung friction modifier.

 

Bagaimana dengan minyak goreng?

Secara teori minyak goreng tidak termasuk aditif extreme pressure. Jadi bila molybdenum saja bisa aman dipergunakan untuk motor dengan kopling basah, maka minyak goreng lebih aman lagi. Ini juga sudah dicoba oleh bro Zorro di Yamaha Vixion dan bro Robbisantiaji di Suzuki Shogun FI, menambahkan minyak goreng ke oli mesin tidak bikin selip kopling.

Jadi menurut penulis menambahkan minyak goreng aman untuk motor dengan kopling basah.

 

Karena kegunaan dari molybdenum dan minyak goreng berbeda, penulis berencana untuk menggabungkannya. Mencoba pakai oli yang katanya mengandung molybdenum ditambah dengan minyak goreng. Katanya oli matik mengandung molybdenum, oleh karena itu penulis akan coba oli matik Enduro matik.

Alasan memilih produk pertamina adalah karena sekarang ini penulis pakai fastron. Oleh pemakai matik fastron dikatakan lebih baik dari enduro matic. Penulis akan melihat apakah dengan menambahkan minyak goreng akan bisa membantu enduro matic menjadi sebaik fastron dalam sisi halusnya mesin.

Fastron techno yang penulis pakai adalah 15W50, sementara Enduro Matic adalah 10W30.

Review Enduro Matic contohnya sebagai berikut:
Review enduro matic oil @my genduk cilik [ beAT ]

dari kemasannya sich dijelaskan oli ini mengandung additive Molybdenum untuk mengurangi gesekan engine pada temperatur an kecepatan tinggi dan embel2 label XP2 X’treme power & protection serta spontaneous Acceleration

“dikutip dari enduro racing.com” di laboratorium oli Enduro Matic mampu dites hingga ribuan jam pada mesin stasioner (diam) atau setara 7.500 km, maka jika bertemu kondisi riil seperti kemacetan ala kota besar, bisa jadi harus menyesuaikan masa gantinya menjadi antara 3.000-5.000 km. Enduro Matic merupakan oli sintetik, yang memiliki tingkat penguapan lebih rendah bila dibandingkan oli mineral. Disebut sintetik karena sebagian besar bahan bakunya menggunakan Base Grup III (sintetik)

lalu bagaimana review di matic beAT WD?
yups setelah diisikan matic ini telah saya bawa riding karawang-jakarta PP ya kira2 +- 150 km *saat undangan test new blade kemaren
nich review nya:
-engine , suara memang sedikit lebih halus
-tarikan / akselerasi ringan *cocok di perkotaan
-di starter juga mudah
-ada sedikit penurunan top speed , dari yg sebelumnya pakai oli standart bisa 100kpj *di speedo meter , setelah pakai enduro matic turun jadi 90-95 kpj *pada speedo meter

Penggunaan Oli Mobil (PCMO/HDEO) untuk Motor

gregoriaz: mio ane dulu pake HDEO rimula r4x aja udah enak. apalagi sekarang pake PCMO fastron techno ijo, menurut saya udah enak banget. dulu pake enduro matic, cuma seminggu ane buang, kasar, panas, geter, tarikan gaenak, menang wangi doang

sorry no offense, cuma kecewa aja sama enduro matic, malah lebih enak enduro racing
maaf suhu, gatahan jadi silent reader

cuma ya gitu, kalo enduro matic menurut ane gaenak banget, apa mungkin saenya yg encer ya?
malah dulu pake enduro racing lebih enak

My Vario 125 – problem gas ngempos

Waktu itu, saya mengganti oli standar AHM dengan oli Pertamina Enduro Matic, dengan harapan bunyi mengganggu itu adalah gara2 oli dan akan hilang. Nah, hasilnya suara mesin jadi makin garang, meraung-raung ketika posisi gas tinggi, dan tarikan motor jadi lebih kencang, namun bunyi “klotok-klotok” tetap ada.

Enduro Matic VS Fastron Techno

Kalau pakai oli Enduro Matic plus bensin Shell Super konsumsi bahan bakar Mio J 1 : 53/km ( 1 liter bensin bisa menempuh jarak 53 km ).

Tentang konsumsi bensin setelah pakai Shell V-Power dan oli Fastron Techno memang tambah irit jadi 1 : 56/km, MJ kecepatan konstan di 50km/jam.

 

Dari review – review diatas Enduro Matic dikatakan lebih jelek bila dibandingkan dengan PCMO Fastron atau HDEO Rimula atau oli standard. Aneh juga bila performa jadi jeblok karena seharusnya keunggulan dari oli lebih encer adalah performa jadi bertambah. Turunnya performa adalah tanda bahwa perlindungan oli kurang bagus. Film strength dari oli tidak bisa membuat komponen terlumasi dengan baik sehingga friksi jadi menghambat performa.

Enduro Matic katanya mengandung molybdenum. Bila benar begitu, maka molybdenum dalam kenyataan di lapangan tidak membantu meningkatkan performa. Jadi walau molybdenum mengurangi friksi, namun cuma pada tahap pelumasan boundary. Sementara itu bila motor sudah berjalan, tahap pelumasan yang paling berperan adalah tahap pelumasan full film.

Ini terjadi juga pada oli yang dikatakan juga mengandung molybdenum yaitu Yamalube Matic:
Review Fastron Techno pada Yamaha Mio GT

Spesifikasi oli untuk Yamaha Mio Gt dari buku petunjuk disarankan oli dengan spesifikasi 10W-40 API SJ. Sedangkan pelumas yang saya pakai yaitu Pertamina Fastron Techno 10W-40 API SN, dengan spesifikasi ini Fastron tentu saja sudah malampaui tuntutan pabrikan yamaha, bahkan stantard API SN dua tingkat lebih baik dari pada oli standart Yamalube yang masih API SL.

Bagaimana impresinya? Impresi awal tidak lebih baik dari oli yamalube matic, tapi setelah 5-10 menit mesin hidup perbedaan terasa signifikan (mungkin setelah mencapai suhu kerja). Akselerasi mantap dan top speed mudah diraih. Pernah ngisengin X-Ride keok juga dia, padahal seharusnya akselerasi bagusan X-Ride lho.

Penggunaan touring selama lebih dari satu jam juga tidak ditemui penurunan performa seperti biasanya. Kalau pakai Yamalube 1 jam sudah mulai loyo tarikannya.

Penguapan ketika mencapai 1.000 kilometer setelah saya cek melalui deepstick masih belum ada penguapan tuh, beda banget ama yamalube. Untuk suara juga masih ok, tidak seperti yamalube yang mulai kasar ketika masuk 1.000 karena olinya dah mulai berkurang.

 

Fakta – fakta tersebut jelas menunjukkan bahwa molybdenum bukan friction modifier. Karena friction modifier harusnya bikin kendaraan lebih kencang dan lebih irit. Sementara pada kenyataan oli matic yang mengandung molybdenum justru performanya lebih payah.

Penambahan minyak goreng seharusnya akan mengurangi kelemahan dari oli matic baik dari Yamalube ataupun Enduro. Karena minyak goreng akan menambahkan sifat friction modifier sehingga seharusnya film strength dari oli bisa bertambah sehingga performa motor tidak akan berkurang.

Hasil percobaan akan penulis share. Kebetulan istri juga sudah beli minyak goreng Sunco. Jadi penulis berencana akan mengganti oli mesin.

Dari sisi suara, kedua motor masih halus suaranya walau bila melihat dari masa pakai seharusnya sudah waktunya ganti, sudah lebih dari 4000km. Pemakaian ini sudah jauh melebihi masa pakai oli di motor matik yang kalau pakai oli motor kisaran harga sama (yang bagus) cuma tahan sampai 2500km saja.

 

Kesimpulan

Secara sifat, cara kerja aditif molybdenum disulfide (MoS2) sama dengan aditif Tungsten disulfide atau graphite. Aditif tersebut bekerja hanya pada saat logam bersinggungan secara langsung. Hanya bekerja pada saat tidak ada oli diatara permukaan yang bersinggungan.

Cara kerja tersebut berbeda dengan ester atau oleic acid (yang terkandung minyak goreng), dimana ester dan oleic acid membuat oli meningkat film strengthnya dan membuat oli lebih mampu mencegah logam bersinggungan secara langsung.

Molybdenum disulfide itu kategorinya berbeda dengan ester. Walau ada yang menyebut molybdenum disulfide sebagai friction modifier, dari cara kerja molybdenum disulfide lebih cocok disebut aditif extreme protection.

Karena cara kerjanya yang membentuk lapisan pelicin pada permukaan logam, molybdenum disulfide beresiko bikin selip kopling. Bisa dipakai di motor dengan kopling basah, namun jumlah harus dibatasi seperti yang disebutkan oleh Liqui Moly. Ini sebabnya walau Oli Motul 300V mengandung molybdenum tapi masih aman dipakai di motor dengan kopling basah atau wet clutch seperti di motor laki dan motor bebek.

Karena sifatnya lebih mirip ester, maka pemakaian minyak goreng lebih aman untuk kopling basah. Ester sendiri sepertinya tidak bikin selip kopling karena banyak oli yang pakai ester yang aman dipakai di motor atau bahkan khusus dibuat untuk motor.

Oli paling premium untuk motor sekarang ini biasanya dibuat dari bahan PAO dan ester. Rasanya tidak ada oli PAO yang tanpa ester. Kalau percobaan Enduro Racing + minyak goreng hasilnya bagus mungkin bisa jadi saingan oli mobil PAO+ester🙂.

3 thoughts on “Molybdenum bukan friction modifier dan bisa bikin selip kopling tapi ada cara agar bisa dipakai motor dengan kopling basah

  1. Setuju dgn penulis, Molybdenum (moly) memang bukan Friction Modifier.

    Sedikit masukan.
    Konversi persen ke ppm di artikel diatas, ada kesalahan. Yg benar adalah 1% = 10000ppm.

    Dan penggunaan moly yg harus di kocok terlebih dahulu (solid moly additive) adalah teknologi kuno. Moly dalam bentuk solid, seperti dalam artikel diatas memang dapat membuat kopling selip.
    Akan tetapi dgn teknologi moly additive sekarang yg sudah modern, solid moly sudah ditinggalkan sejak lama. Yg sekarang additif moly sudah ada yg oil-soluble. Nah moly dalam bentuk inilah, yg tdk memiliki efek selip pada kopling basah.

    Molybdenum melindungi mesin dgn cara yg berbeda dgn ZDDP.
    Moly melindungi mesin dgn membentuk lapisan tipis dan mikrokopis yg disebut moly-plating. Dimana lapisan tsb akan terbentuk seiring dgn waktu, dan ketika terjadi kontak antar logam. Sehingga mengurangi gesekan antar permukaan logam.
    Sedangkan ZDDP hanya sebagai “sacrificial layer” ketika terjadi gesekan antar logam.

    Akan tetapi, penggunaan moly yg berlebihan dapat menyebabkan kerak (deposit) pada mesin. Oleh karena inilah, penggunaan moly dalam oli dibatasi jumlahnya.

    Suka

    • terima kasih sharingnya.

      perhitungan persennya begini 3% kali 2% ketemu 6 per 10.000. Dikali 1.000.000 ppm ketemu 600ppm.

      Solid bisa dibuat larut pada cairan, dan ini dinamakan koloid. Sifat aditif molybdenum adalah koloid, solid tapi larut pada oli. Contoh koloid lain adalah silver colloid.

      Menurut saya , selama sifatnya membentuk lapisan pada logam, maka resiko bikin selip kopling tetap ada.

      Dari penjelasan diatas, molybdenum disulfide merupakan sacrificial layer. Mestinya lapisan cuma terjadi pada bagian yang suhunya mencapai suhu aktifasi molybdenum. Normalnya lapisan terjadi pada permukaan yang bersinggungan.

      Pada standard oli GF-6, pengurangan ZDDP diatasi dengan menambahkan molybdenum.

      Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s