Tidak setuju dengan metode di “Teknik Pengereman Ideal Pada Sepeda Motor Roda Dua”


otoborn.com membuat artikel menarik tentang Teknik Pengereman Ideal Pada Sepeda Motor Roda Dua

Artikel tersebut membahas tentang teknik teknik pengereman yang diajarkan oleh tim Safety Riding Promotion PT. Wahana Makmur Sejati.

Ada beberapa bahasan yang menggelitik penulis untuk membuat artikel ini karena sepertinya tidak sesuai dengan kenyataan. Ini akan penulis bahas satu persatu.

 

Rem belakang vs depan

Dikatakan:

Ketika memfungsikan rem pada sepeda motor, idealnya penggunaan rem depan lebih besar persentasenya dari rem belakang. Mengapa demikian? Rem depan memiliki pengaruh lebih kuat untuk menghentikan laju sepeda motor, sedangkan rem belakang membantu menyeimbangkan agar tidak tergelincir ketika melakukan pengereman.

Dalam pengereman, tidak hanya distribusi daya pengereman yang penting, tapi waktu aktifasi pengereman. Dan untuk motor menurut penulis jauh lebih aman bila untuk motor rem belakang dulu yang aktif. Setelah itu silahkan daya pengereman diatur sesuai kondisi.

Memang benar bahwa dalam melakukan pengereman rem depan harus lebih kuat dayanya daripada rem belakang. Karena memang beban di ban depan lebih besar karena distribusi berat bergeser ke depan sehingga bagian depan perlu daya pengereman lebih besar. Namun saat melakukan pengereman biasakan mendahulukan yang belakang.

Jadi perlu dipisahkan antara kekuatan pengereman dan waktu aktifasi pengereman. Silahkan rem depan dipakai lebih kuat, namun dahulukan rem belakang. Jaga agar pengereman bisa maksimal tapi roda tidak selip.

 

Combi Brake System (CBS)

Dikatakan:

Penggunaan fitur CBS pada sepeda motor Honda membantu pengendara mengkondisikan pengereman agar memenuhi kebutuhan ideal ketika harus melakukan pengereman mendadak atau spontan. Ketika menekan tuas rem depan sedikit maka roda depan akan mengerem sesuai kebutuhan, sekaligus membantu ketika sekali dua mengerem depan untuk mengendalikan sepeda motor yang bermanuver ringan. Pada kondisi spontan yang riskan kesalahan seperti pengendara panik harus rem mendadak dan lupa menyeimbangkan dengan menekan tuas rem belakang dan depan sesuai porsinya, maka tuas rem belakang yang ditekan akan mengaktifkan fitur CBS mengkondisikan rem depan dan belakang bekerja seimbang sesuai yang seharusnya diperlukan.

Itu semua salah.

Memang benar fitur CBS dipakai untuk mengatur pengereman sesuai kebutuhan namun fitur CBS pada motor Honda matik semacam Vario dan Beat tidak untuk mengerem mendadak atau spontan. Itu bisa dibaca sendiri di label yang tertempel di bagian jok motor Honda matik:

Ini juga sudah penulis bahas di artikel berikut:
Fungsi CBS di motor matik Honda sesungguhnya bukan untuk memperpendek jarak pengereman tapi untuk memperpanjang jarak pengereman

 

Jadi jelas bahwa tujuan fitur CBS bukan untuk pengereman maksimal. Dan sayangnya fitur CBS juga tidak meningkatkan keamanan dimana situasi membutuhkan pengereman yang terkontrol.

Pada kondisi spontan yang riskan kesalahan maka sistem CBS justru bikin celaka, karena implementasi model akal akalan itu justru mengganggu waktu aktifasi pengereman. Di motor matik yang lebih rawan jatuh malah rem depan yang duluan aktif, ini sangat membahayakan karena roda depan bisa lepas traksi duluan. Sebagai akibatnya banyak yang celaka karena CBS itu. Mereka yang celaka sepakat menyarankan untuk mematikan fitur ABS saja. Keluhan mereka bisa dibaca di artikel berikut:
Combi brake system penyebab celaka, naik matik Honda dengan CBS harus extra hati – hati!

 

Dibilang pengereman makin seimbang pun salah. Karena kalau hanya mengandalkan CBS saja maka ban depan akan kurang mencengkeram. Ini penulis buktikan saat mengerem di jalan tanah, saat mengandalkan CBS saja, maka roda belakang saja yang selip:

Terus terang penulis tidak berani mencoba CBS di tikungan licin. Ngeri.

Jadi problem CBS itu ada 2:
– rem depan yang aktif duluan
– setelah aktif rem belakang yang lebih mendominasi

Dan kedua faktor ini juga membuat timbulnya faktor bahaya berikutnya, yaitu dalam situasi ketika pengendara tahu rem CBS kurang pakem dan menekan tuas rem depan. Karena rem depan sudah aktif, maka menekan tuas rem kanan sedikit saja akan sangat meningkatkan daya pengereman dari rem depan secara berlebihan, sehingga sebagai akibatnya ban depan akan selip. Ini yang pernah penulis alami, untung tidak terjadi kecelakaan.

Sehingga tambah problem lagi:
– Bila rem depan dipergunakan setelah CBS maka akan ada kemungkinan rem depan bekerja berlebihan sehingga ban depan bisa ngelock.

Jadi CBS yang diterapkan pada motor matik Honda Beat dan Vario adalah sistem rem yang membahayakan dan tidak boleh diandalkan. Kendaraan dengan CBS harus dianggap seperti mengendarai motor yang tanpa rem belakang agar bisa aman. Lebih aman dilepas.

 

Anti-Lock Braking System (ABS)

Dikatakan:

Perbedaannya dengan sepeda motor dengan pengereman non-ABS, resiko tergelincir ketika mengerem dalam kecepatan tinggi berkurang. Namun tentu saja harus dipahami jarak pengereman menjadi sedikit lebih jauh dari mulai mengerem hingga titik berhenti yang diharapkan dibandingkan pengereman sepeda motor non-ABS.

Untuk yang ini setuju, ABS fungsinya mencegah roda terkunci dengan resiko jarak pengereman bertambah, ini pernah penulis bahas di artikel berikut yang menunjukkan dua video demo mengapa ABS bikin pengereman lebih jauh:
Pakai ABS tidak menjamin jarak pengereman lebih pendek

 

Engine Brake

Dikatakan:

Meskipun tidak dianjurkan dengan alasan keawetan mesin, teknik engine brake melalui downshift gear pada sepeda motor transmisi manual membantu mengurangi kecepatan. Permainan kopling juga menjadi kuncinya.

Teknik engine brake juga bisa dikalukan pada sepeda motor tipe skutik namun hanya efektif jika diterapkan pada kondisi tertentu saja, misalnya pada kecepatan sedang dan rendah.

Mengerem dengan engine brake tidak untuk dilakukan pada saat pengereman mendadak dan tidak untuk dilakukan di tikungan. Sebaiknya hanya dipergunakan dalam kondisi santai saja. Menggunakan engine brake di kondisi ekstrem butuh skill tingkat tinggi. Tanpa skill maka penggunaan engine brake bisa mengganggu distribusi tenaga pengereman, roda belakang bisa selip. Ini bisa berbahaya bila terjadi di tikungan karena roda belakang bisa lepas kontrol. Di jalan lurus ini bisa mengurangi daya pengereman maksimal. Dalam kondisi santai sebaiknya sebelum shifdown gas dibleyer sebentar agar mesin tidak terlalu terbebani.

 

Motor sliding saat pakai rem belakang saja

Dikatakan:

Pengereman yang hanya menggunakan rem belakang saja akan mengakibatkan roda belakang sliding, apabila tidak terkendali maka motor akan tergelincir. Apabila berhasil berhenti pun jarak pengereman menjadi sangat jauh dari titik berhenti yang diharapkan atau sekitar 25 meter.

Bila pemakaian rem belakang dimoderasi / diatur, maka roda tidak akan selip. Bila roda belakang selip tidak semua motor ekornya akan terbuang. Namun beberapa motor Honda memang penulis coba punya ciri ini. Kadang di jalan licin pun bisa tiba tiba terbuang.

Contohnya Honda Supra Fit X. Ini penulis alami sendiri. Saat itu beberapa motor sedang berjalan beriringan. Ada dua motor Honda Supra Fit X, termasuk motor penulis. Saat itu semua kendaraan melalui jalan basah. Saat kendaraan lain masih melaju normal, dua Supra Fit ekornya langsung terbuang kebelakang.

Jadi keseimbangan pada saat motor di rem belakang itu tergantung pada motornya. Ada motor yang walau roda belakang selip akan tetap jalan lurus dengan santainya.

 

Motor tergelincir saat pakai rem depan saja

Dikatakan:

Penggunaan rem depan saja terutama ketika sepeda motor melaju dalam kecepatan tinggi akan menyebabkan roda depan menjadi poros dan bagian belakang terdorong kedepan. Ketika posisi motor tidak dalam keseimbangan yang pas, sudah pasti akan tergelincir atau terjungkal. Apabila berhasil berhenti pun jaraknya jadi terlalu jauh meleset dari titik yang diharapkan berhenti atau sekitar 15 meter.

Bila pemakaian rem depan dimoderasi atau diatur maka roda tidak akan selip. Namun tidak semua motor akan tergelincir atau terjungkal bila roda depan selip. Motor dengan keseimbangan yang bagus akan tetap bisa tetap tegak dan lurus. Setelah roda mencengkeram lagi motor akan bisa dikendalikan lagi.

Biasanya motor bebek dan motor laki model naked bisa stabil walau rem depan selip. Sementara itu motor fairing sepertinya lebih cepat lepas kontrol karena proporsi berat di depan. Motor matik bisa langsung lepas kendali dan jatuh bila roda depan selip.

Jadi motor matik yang pakai CBS bahayanya dobel.

 

Kombinasi Rem Depan Dan Belakang

Dikatakan:

Pada penggunaan rem depan dan belakang yang seimbang sesuai prosentasenya, akan membantu kendaraan berhenti dengan baik, resiko tergelincir pun jauh berkurang.

Seperti penulis sudah bahas sebelumnya, timing atau waktu aktifasi pengereman harus juga diperhatikan. Dahulukan rem belakang, baru rem depan. Kemudian atur tenaga pengereman sehingga bisa maksimal tanpa membuat roda belakang atau depan selip. Untuk amannya utamakan untuk memperkuat rem belakang dulu, karena walau belakang selip kendaraan masih akan bisa dikendalikan. Kemudian perkuat rem depan secara lebih perlahan.

Walau dikatakan rem depan harus lebih kuat, perlu diingat juga bahwa dari pabriknya rem depan memang sudah lebih pakem dari rem belakang.

 

Ada yang tidak dibahas pada artikel itu yaitu posisi badan. Untuk lebih aman pada waktu pengereman, maka usahakan untuk menegakkan badan atau membuat distribusi berat lebih mundur kebelakang. Dengan begitu roda belakang akan lebih berperan dalam pengereman dan tidak terlalu membebani roda depan.

Bila kondisi jalan kering dan bersih, maka menurut penulis pengereman maksimal itu bila roda akan berbunyi driiiit, mencicit tapi roda tidak selip.

14 thoughts on “Tidak setuju dengan metode di “Teknik Pengereman Ideal Pada Sepeda Motor Roda Dua”

  1. Ane sih selama ini pake sport dan hanya mengandalkan 95% rem depan 5% engine brake.
    Dan itu sangat mumpuni untuk menghentikan laju motor.
    Tidak menggunakan sama sekali rem belakang 😂
    Makanya sampe sekarang ane belum pernah ganti kampas rem belakang. Wkwkwk
    Tp mungkin riding orang beda beda gimana nyaman nya aja..

    Suka

    • Iya, engine brake bisa bikin rem belakang awet. Adanya engine brake membuat motor sport jadi terasa banget sportynya.

      Enaknya pakai engine brake adalah ban belakang selipnya cuma sementara, nggak seperti kalau pakai tuas rem yang bisa gampang keterusan.

      Suka

    • jadi ingat pengalaman naik RZ-R lebih dari 10 tahun (motor terlama yg pernah dimiliki), pengereman memang cenderung pakai rem depan saja, rem belakang jarang dipakai (hanya sebagai penyeimbang saja), walhasil kanvas rem belakang awet (perbandingan pemakaian kanvasnya 3:1 , jadi setiap 3 kali ganti kanvas rem depan, barulah kanvas rem belakang minta ganti).
      tapi karena sekarang pakai matic, hampir selalu menggunakan rem depan dan belakang sekaligus. entah kenapa rasanya kurang sreg kalau hanya pakai salah satunya.
      tapi memang fitur CBS rada bikin kagok juga, karena kita tidak bisa mengatur sebesar apa tekanan yg diberikan ke rem depan dan belakang.

      Suka

      • Sepeda motornya sip. Tapi bukannya itu 2 tak, engine brake nya masih terasa ya?

        Iya, kalau matik memang rasanya lebih tidak seimbang.

        CBS memang bikin susah mengatur keseimbangan pengereman. Kalau untuk saya terasanya waktu merasa terlalu kencang di tikungan. Mau ngerem belakang untuk membuat lebih oversteer jadi nggak berani pakai CBS. Jadi terpaksa mengandalkan rem depan sama engine brake.

        Suka

  2. kalau saya malah banyakan pake rem depan,umur motor udah 5th (Supra Helmin) dan kampas rem depan udah 3x ganti,sementara yg belakang blom pernah,karna rem belakang dipake untuk membantu hanya pada saat hard/panic braking.kasus lain kalau pas jalanan basah/hujan,untuk pengereman pasti pake rem depan belakang.
    untuk gaya bermotor saya termasuk yg suka kencang tapi gak alay dan pastinya tetap menghargai pengguna jalan lain.
    yg penting dicatat menurut saya sih dan berpengaruh langsung pada saat pengereman yaitu tipe ban yg dipake,semakin bagus cengkramannya,semakin baik pula proses pengereman,makanya perlu dipahami benar karakternya,apakah bagus untuk segala kondisi,atau bagus dijalan kering namun buruk dijalan basah ataupun sebaliknya,dari situlah kita bisa memperkirakan batas kecepatan aman berkendara,efeknya pasti pengereman bisa maksimal.
    jadi saling berkaitan,mau pake tehnik pengereman seperti apapun kalau ban tidak mendukung ya percuma,kalau seandainya waktu ganti ban dana pas2an dan ganti ban standar,biar aman ya batasi kecepatan berkendara kita,itu aja sih.
    satu lagi yg gak kalah penting,tetap waspada,bermotor itu termasuk yg paling tinggi resiko kecelakaannya,mesti dijaga terus konsentrasi.
    maaf om jadi panjang lebar komennya,dan seperti biasa,CMIIW😀

    Suka

    • terima kasih sharingnya, tidak masalah komentar panjang.

      Iya, karena rem depan sekarang pakem dan bisa diandalkan tidak seperti dulu jaman rem depan masih tromol/drum. Sehingga sekarang pakai rem depan lebih enak. Cuma ditekan sedikit sudah ngerem, tidak seperti rem belakang.

      Setuju, ban penting juga. Nggak semua ban sama. Kalau soal ban rasanya sebaiknya yang terbaik, toh harga tidak jauh berbeda. Namun cari yang terbaik susah juga karena cuma bisa mengandalkan testimoni. Yang mahal tidak dijamin lengket, yang lengket belum tentu tidak awet. Umur yang murah bisa separuh dari yang mahal, padahal harga cuma beda sedikit.

      Saya sendiri sukanya ban IRC bintang dan Federal.

      Suka

    • Terima kasih juga, artikelnya menarik karena ada video demonstrasinya juga.

      Iya setuju, fitur juga perlu dikuasai bersamaan dengan penguasaan motor untuk bisa mengendarai maksimal.

      Suka

  3. Sudah waktunya biker juga lebih mempelajari EB (Engine Brake), selain teknik pengereman konvesional. Sebelum menguasai teknik EB, tentunya sudah lebih dulu harus paham karakter mesin motornya. Kalau motor sport paling enak karena pakai kopling, agak sedikit susah dengan motor bebek, harus sedikit ngakalin untuk bisa mainin EB. Pengalaman saya sangat terbantu dengan EB ini, beberapa kali harus pakai EB saat rem depan belakang sudah tidak sanggup mengurangi laju motor. Tapi harus diingat ada efek samping kalau terlalu sering atau salah menggunakan EB, dulu pernah kampas kopling sampai rompal he..he… (pas masih pakai yamaha crypton). Sedangkan untuk matic saya kurang tahu bagaimana cara EB, apakah bisa? Mungkin ada yang bisa ngasih pencerahan di sini?

    Suka

    • Iya, engine brake bisa membantu.

      Kalau di motor bebek, selama persnelingnya setelan pas, bisa enak engine brake nya. kalau setelan pas maka saat injak persneling akan membuat roda dan mesin terpisah. Jadi pada saat shift down, diinjak terus, jangan diangkat dulu, rpm dinaikkan dengan di gas untuk menyesuaikan rpm, lalu baru dilepas persnelingnya. Bila rpm nya pas, maka mesin tidak terbebani / tidak nyentak tapi engine brake bisa difungsikan.

      Di matik beda beda. Kalau yang di Honda terasa cuma sedikit, kalau di Suzuki terasa meluncur sebentar lalu terhambat. Hambatan juga sepertinya tergantung setelan idle dan iritnya bensin. kalau boros dan idle tinggi maka serasa tidak ada engine brakenya.

      Suka

  4. beda motor beda perlakuan
    yang perlu dilihat adalah posisi center of gravity (cog) motor tsb

    motor dengan cog tinggi, utamakan rem depan karena berat motor mudah berpindah ke depan (misal sport)
    motor dengan cog rendah gunakan rem belakang dan depan dengan seimbang (bebek/matic)

    motor dengan cog lebih ke depan, prioritaskan rem depan karena sekali lagi, bobot motor lebih ke depan (misal sport/bebek)
    motor dengan cog lebih ke belakang prioritaskan rem belakang (matic/ketika berboncengan)

    kalau ane,,
    untuk matic (cog rendah dan agak ke belakang) proporsi rem depan belakang sekitar 50/50 (sendirian), 40/60 (boncengan)
    bebek (cog rendah dan mendekati tengah kendaraan) sekitar 65/35 (sendirian), 55/45 (boncengan)
    sport (cog tinggi dan mendekati tengah kendaraan) sekitar 85/15 (sendirian), 75/25 (boncengan)

    Suka

    • Selipnya roda memang juga tergantung berat bebannya. Makin dibebani, makin bisa ditambah kekuatan pengereman tanpa selip. Memang saat berat cenderung di depan, maka pengereman di ban depan bisa ditambah, sementara yang belakang harus dikurangi. Bila beban lebih berat di belakang, maka rem belakang bisa diperkuat.

      Jadi bila kita naik motor sambil berdiri, maka ban belakang jadi mudah hilang traksinya, sehingga saat ngerem bisa selip. Ini juga yang dimanfaatkan oleh freestyler saat melakukan drifting atau membuat donat, dengan membebankan berat di depan.

      Namun harus diingat bahwa pengereman ditentukan juga oleh luas permukaan yang bersinggungan, dan pada motor yang besinggungan dengan jalan selain ban depan juga ban belakang. Jadi akan lebih maksimal bila kedua roda berperan dalam pengereman. Karena walau ditambah beban, traksi ban depan tetap terbatas. Ukuran ban depan juga sering kali lebih kecil daripada ban belakang.

      Perlu diingat juga bahwa pada saat pengereman center of gravity atau distribusi berat jadi berpindah ke depan.

      Oleh karena itu, bagi saya, untuk motor tipe apapun, lebih memilih untuk memundurkan badan kebelakang saat pengereman.

      Untuk kekuatan pengereman, saya tidak tahu rasio karena disesuaikan keadaan. Apalagi seringnya pakai kendaraan yang beda sistem rem untuk depan dan belakang. depan cakram, belakang tromol/drum.

      Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s