Safety riding mengerem mendadak mengandalkan rem depan itu sangat berbahaya, ngerem tidak bisa pakai angka rasio


Artikel tentang ketidak setujuan penulis terhadap metode mengendarai ajaran safety riding dan artikel tentang sistem CBS yang bikin celaka mengundang banyak komentar yang membuat penulis ingin untuk membuat artikel ini. Artikel tersebut bisa dibaca di link berikut:
Tidak setuju dengan metode di “Teknik Pengereman Ideal Pada Sepeda Motor Roda Dua”
Combi brake system penyebab celaka, naik matik Honda dengan CBS harus extra hati – hati!

Karena dari komentar ternyata ada juga rider yang mengandalkan hanya rem depan saja, ada juga yang menganggap rem CBS itu sebagai rem yang aman dipakai. Penulis membuat artikel ini sebagai pertimbangan agar rider tidak hanya mengandalkan rem depan saja, dan juga memperhatikan prioritas mana dulu yang diaktifkan.

Artikel ini agak panjang, jadi penulis sebutkan kesimpulannya dulu. Untuk mengerem, untuk bisa berhenti lebih cepat memang rem depan yang harus lebih kuat daya pengeremannya. Namun untuk amannya, sebaiknya rem belakang dulu yang diprioritaskan. Karena selipnya roda belakang cenderung lebih aman daripada roda depan yang selip. Bila roda depan yang selip, maka motor bisa jatuh walau sedang jalan lurus.

Memang sebaiknya jangan sampai selip dua duanya. Oleh karena itu biasakan untuk mengerem sedikit/separuh dulu kemudian baru diperbanyak. Tapi cara ini tidak baik dilakukan di motor matik Honda yang dilengkapi CBS (akan dijelaskan kemudian).

 

Yang dibahas disini adalah panic braking, atau pengereman mendadak. Jadi mohon dibedakan dengan pengereman yang direncanakan. Pada pengereman yang direncanakan kita sudah bisa memperkirakan keadaan jalan dan seberapa banyak kita butuh mengerem.

Penulis kurang setuju dengan metode pengereman yang membagi bagi porsi depan dan belakang. Semacam yang disebut berikut:
2. Gunakan Kedua Rem

Melakukan rem mendadak harus menggunakan rem depan dan belakang secara bersamaan. Untuk melakukannya, gunakan 75% rem bagian depan dan 25% bagian belakang untuk mengentikan laju motor secara cepat. Bila menggunakan salah satu bagian saja akan menimbulkan slip pada roda dan dapat membuat motor terjatuh.

Sekarang ini kebanyakan motor rem depan pakai cakram rem belakang pakai tromol. Atau bila belakangnya juga cakram, pasti ukuran piringan lebih kecil dari yang depan. Sehingga sistem pengereman sepeda motor sudah dari aslinya rem depan akan punya daya pengereman lebih baik dari rem belakang. Apa ya pengendara masih harus melakukan rasio tersebut juga?

Apa pengendara harus menyetel tekanan tangan untuk tuas rem depan 75% dan tekanan tangan / kaki untuk tuas rem belakang 25% dengan kondisi tersebut? Menurut penulis itu sulit dilakukan dan bukan cara yang bagus.

Idealnya adalah bila pengendara bisa tahu batas seberapa kekuatan tekanan pada tuas rem bisa membuat daya pengereman kuat tanpa membuat roda selip. Ini butuh latihan dan pemahaman. Sistem bisa sama, tapi beda plat nomer bisa beda rasanya walau tipenya ngeplek sama persis.

Dan menurut penulis daya tekanan optimal untuk tuas rem depan dan belakang bisa jadi tidak akan 75% dan 25%. Untuk realnya bisa jadi ketemunya depan 75% dan belakang 90%. Lho kok dijumlah lebih dari 100%? Ini karena penulis anggap rem depan itu terpisah dari rem belakang. Jadi 75% itu 75% dari full nya rem depan, 90% itu 90% dari fullnya rem belakang. Sementara 100% itu batas kalau ngelock. Jadi ini angka persen seberapa banyak kita menekan tuas rem.

Ini beda dari pengertian kutipan diatas dimana angkanya adalah distribusi daya pengereman di roda. Bila misalnya itu angka mengacu pada seberapa kuat kita menekan tuas rem. Maka bila kita menekan rem dengan kekuatan 3% depan dan 1% belakang (dari full) juga rasio masih sesuai 75% depan dan 25% belakang. Kekuatan 100% depan (ngelock) dan 33% belakang juga masih sesuai dengan rasio 75% depan dan 25% belakang. Jadi angka itu menurut penulis tidak bisa dipakai.

Bila misalnya angka itu mengacu pada seberapa banyak daya pengereman yang terkirim ke roda, maka penulis kok sama sekali nggak yakin bisa menghitungnya. Terus terang penulis tidak tahu caranya. Apalagi rem depan beda dari rem belakang. Tekanan rem sekian lebih pakem rem depan sekian. Berapa persisnya, entahlah. Belum lagi beda motor beda distribusi berat. Belum lagi faktor rider dan penumpang. Belum lagi faktor friksi jalan. Belum lagi bila daya grip / merek roda beda. Belum lagi kalau hujan atau jalan kering. Rasanya tidak masuk akal untuk menghitung daya pengereman.

Bila misalnya angka itu mengacu seberapa banyak sebelum roda ngelock, rasanya kok makin ngaco. Penulis sih kalau bisa 99% depan dan 99% belakang, roda depan dan belakang sama sama hampir ngelock semua. Ngapain depan cuma pakai 75% yang belakang cuma 25%, jelas nggak maksimal.

 

Penulis juga kurang setuju bila pemakaian rem disesuaikan dengan kecepatan, semacam berikut ini:

Rem Mendadak

2. Komposisi
Gunakanlah rem depan dan belakang secara bersamaan. Komposisinya sangat tergantung kecepatan. Pada kecepatan hingga 30 kpj, penggunan rem belakang lebih dominan sekitar 80%. Pada kecepatan 30 hingga 60 kpj, komposisinya adalah, rem depan 60% dan rem belakang 40%. Pada kecepatan lebih dari itu, gunakanlah rem depan 80% dan rem belakang 20%. Prosentasi itu tentunya berdasarkan pengalaman yang akan meningkat sesuai dengan perjalanan kita masing-masing. Ciri pengereman yang berhasil adalah, tidak adanya suara decit ban, meskipun pada kecepatan tinggi.

Kalau penulis sendiri dalam kondisi atau kecepatan apapun akan membiasakan pakai kedua rem dengan mendahulukan rem belakang. Dalam kondisi apapun, kalau harus berhenti mendadak penulis tidak merubah rasio. Sebisa mungkin depan 99% dan belakang 99%. tidak pakai distribusi pengereman.

Kalau pengereman tidak harus mendadak penulis juga akan tetap pakai cara yang sama, namun kekuatan disesuaikan dengan jarak pengereman yang dibutuhkan.

Berbeda dengan kutipan tersebut, menurut penulis pengereman maksimal itu bunyi berdecit. Ini harus dibedakan dengan suara ban saat selip. Ban selip kok rasanya tidak berdecit dari yang selama ini penulis alami, bunyi mungkin seeerrr. Sementara itu bila kekuatan pengereman mendekati limit ngelock, maka justru roda jadi berdecit. Suara cit cit cit rapat dan cepat, semacam driiiiit. Ini sering dialami kalau pakai engine brake. Habis shift down ban mencicit sebentar. Penulis pakai acuan suara mencicit untuk menentukan maksimal tidaknya pengereman. Ini tentu kalau pakai ban bagus, jalannya bersih dan kering.

 

Penulis kurang setuju dengan saran berikut ini:
ART Riding di Jalan Berlubang, Tips Pengereman, Upayakan Tidak Mendadak!

Bagi pengendara cewek, dalam pengamatan Dudut, seringkali khawatir terjatuh ketika menggunakan rem depan. Mereka kebanyakan hanya mengandalkan satu rem, yakni rem belakang. Honda sebenarnya sudah melakukan langkah antisipasi yakni menerapkan teknologi combi brake, yakni menekan satu tuas rem, dengan pintar teknologi ini akan melakukan pengereman di dua sektor secara bersamaan, depan-belakang.
“Teknologi ini bisa juga dimanfaatkan untuk mereka yang terkadang lupa atau takut menggunakan rem secara terpisah,” jelas instruktur berkacamata ini lebih lanjut.

Memang harusnya pakai rem tidak cuma yang belakang saja. Namun jangan sampai meniru cara kerja rem CBSnya Honda Indonesia. Karena pada sistem pengereman CBS Honda, maka rem depan yang aktif lebih dahulu. Ini karena sudah ciri dari sistem rem cakram yang ditekan sedikit sudah aktif. Sementara itu rem belakang yang tromol butuh penekanan lebih banyak.

Salah bila berhenti mendadak hanya mengandalkan rem CBS saja, karena jelas kekuatan rem depan CBS itu lemah.

Sangat berbahaya bila menekan tuas rem CBS dan tuas rem depan bersama sama, atau bila rem depan sudah duluan bergunsi, karena sistem penggerak dari CBS akan juga ikut menekan tuas rem depan pada saat CBS ditekan, sehingga tekanan rem depan jadi berlebihan. Ini bisa dirasakan pada saat berhenti. Coba tekan tuas rem depan sedikit (tidak maksimal), lalu tekan tuas rem CBS. Maka tuas rem depan akan terasa bergerak lebih menekan.

 

Penggunaan rem depan sendiri dikatakan berbahaya. Dan bila dibiasakan maka pada saat panik bisa membuat motor jatuh. Kutipan berikut melarang kita mengandalkan hanya rem depan saja. Dan menyarankan untuk mendahulukan rem belakang.

10 Motorcycle Safety Tips I Learned Riding A Harley Davidson Through The Mountains

5. Never Use The Front Brake First
When a raccoon leaps out at you, a semi decides to change lanes or your exit pops up out of nowhere and it’s time to hit the brakes and shed that speed, never hit the front brakes first. NEVER. You must train your instincts to always go for the rear brake first. If you grab the front break with any kind of enthusiasm at speed, you will eat it. This is not a question; it is a fact. Brake first with your foot, not your hand — you’ll be glad you did.

ADVANCED MOTORCYCLE BRAKING

Myth #1: Use Only the Front Brake
This train of thought goes something like: “Since the majority of a motorcycle’s braking power comes from the front brake, don’t use the rear brake at all. In fact, as the weight shifts forward during heavy braking, the rear brake becomes more likely to lock up and cause you to crash.”

Always question advice that suggests you do something because the other way is difficult to master. Unless you are braking so hard that the rear wheel of your motorcycle is in the air, you can shorten your stopping distance with proper application of the rear brake. It is true that as the weight of the motorcycle shifts forward, less traction is available to the rear tire for braking, but in order to master the use of your brakes, you need to use both of them for every stop. While there are instances, such as when a tire blows out, when you would only want to use one brake, the best way to master the control of either brake is to use them on a regular basis.

So, how do you stop in the shortest distance possible? The textbook response states you should achieve full application of both brakes without skidding. As you apply more and more pressure on the front brake (up to the point of lockup), you will have more traction available to the front tire (for more braking) resulting in progressively less traction available to the rear. To keep from skidding the rear wheel, you will need to modulate the rear brake. For every Racer X those pundits cite for not using his rear brake when stopping, there is a Racer Y who uses just a little rear brake to settle the rear suspension and a Racer Z who uses a lot. Also, these examples don’t readily apply to street riders since skilled racers know exactly where the point of brake lockup is, while most of us are far from that point with the front brake&#151even in panic-stop situations.

RIDING SKILLS SERIES: USING THE REAR BRAKE

Canyon roads offer a number of rear-brake opportunities, although the varying speeds mean the benefits – and reasons for using the brake – vary drastically. Biggest difference is that you can use the rear brake to adjust your speed through the middle of a corner. If you find yourself carrying too much speed through a sweeping turn, for example, hold the throttle steady and apply a small amount of rear brake to scrub some speed and tighten your line. Applying the front brake and/or chopping the throttle, in contrast, will transfer an adverse amount of weight onto the front tire and test tire traction limits, which could ultimately result in a crash. In all cases, using the rear brake will flatten the bike out and make it steer a small amount slower, but the added stability quickly offsets what’s lost in regards to agility.

Motorcycle Braking Tips

This information was originally published in the New Zealand Motorcycle Safety Consultants Megarider eNewsletter

6. Is there a special braking technique that ensures that a rider will get the best out of a motorcycle’s brakes?
Yes. The process is called STAGED BRAKING and it involves the rider applying the motorcycle’s brakes in a staged process. This gives the rider predictable, progressive braking.

7. In an emergency do we concentrate on using staged braking on both front and back brakes?
The American Motorcycle Safety Foundation teaches their instructors that “in an emergency braking situation you should apply the back brake hard and let the back wheel slide if it wants to. This way you can concentrate on what is happening up front; there’s enough to think about in the use of the front brake.

US Motorcycle Safety Foundation – You and your motorcycle riding tips

Emergency Braking
Apply both brakes to their maximum, just short of locking them up. Practice in an open, good-surfaced place, such as a clean parking lot.

Keep the motorcycle upright and traveling in a straight line; and look where you’re going, not where you’ve just been.

You don’t want to lock the front brake. If the wheel does chirp, release the brake for a split second, then immediately reapply without locking it up.

If your rear wheel locks up, do not release the brake. If your handlebars are straight, you will skid in a straight line, which is all right. You have a more important priority and that is to get stopped! Read on and we will talk more about “skids.”

 

Dikatakan juga bahwa untuk beberapa rider, mengandalkan rem depan saja bisa membuat kendaran berhenti lebih cepat. Namun juga dikatakan bahwa di jalan licin pakai rem depan duluan dijamin membuat kendaraan jatuh.
Stopping Fast

Lets talk first about locking up the rear tire. It’s easy to do. It doesn’t take much pressure on the pedal for the rear brake to lock-up and in most cases can cause unnecessary problems. With a locked-up rear tire you lose valuable traction and the back-end has a tendency to fishtail, or skid violently to one side or the other. Less pressure on the rear brake pedal will help to prevent this from happening, and if you do lock it up, just let off the pressure gently until it is no longer locked. Don’t slam it on, and don’t completely let the pressure off.

I personally don’t use the rear brake at all, except if I happen to run off the track, or off the road and end up in gravel or dirt. Then I will use the rear brake to help me slow down because a grab on the front brake will surely send me face first into the ground. On a sportbike, you can get 100% of your braking done with the front, and even on bigger and heavier bikes like cruisers, most of the braking can be done with the front only.

I did a series of braking exercises with several riders on various models and brands of motorcycles. First, their speed and stopping distance was measured with them using a combination of both front and rear brakes, and then measured the same speed with the rider just using their front brakes. To the surprise of many of the riders, the stopping distance and execution was better when they used the front brake only. I’m not saying that you have to do this, or that you shouldn’t use the rear brake at all, only that it is possible to attain better results. Try it.

Most riders have experienced, to some degree, the feeling of locking-up the rear tire and are somewhat comfortable with it. Locking-up the front wheel on a motorcycle, however, is much more elusive and therefore when it does happen, it can be one of the most terrifying experiences of riding.

Avoid snatching the front brake or squeezing hard and fast at the end of braking.

Mungkin karena pengendara bisa lebih berkonsentrasi mengatur daya pengereman di ban depan saja membuat pengendara bisa membuat motor berhenti lebih cepat. Menurut penulis, bila rider sudah terbiasa memaksimalkan pakai rem depan belakang, mestinya pengereman juga akan jadi lebih pendek. Jadi menurut penulis, lebih aman bila dibiasakan untuk pakai rem belakang terlebih dahulu. Karena kebiasaan ini yang menentukan reaksi kita pada saat panik.

 

Sementara itu pada saat jalan sangat licin disarankan justru pakai rem belakang saja atau engine brake.

Pelajari teknik pengereman yang benar dan tepat, tetap safety riding

Di dalam tikungan, kita dilarang mengerem depan! Karena itu bisa berbahaya bisa menyebabkan motor slip dan terguling, cukup memakai rem belakang dan gas yang konstan. Juga posisi kendaraan jangan dari dalam tikungan, tapi dari sisi luar tikungan. Agar kita tidak panik saat menemui kejadian mendadak, karena pandangan dari sisi luar lebih luas.

Bagaimana dengan lokasi berpasir dan beroli/minyak yang di mana licin sekali? Caranya ya jangan melakukan pengereman di sana. Berbahaya. Cukup lakukan engine brake saja, apit kedua kaki dengan kuat pada badan motor. Usahakan motor tidak mobat-mabit, stang motor pegang kuat. Gas tetep konstan. Kalau matic? Ya pakai rem belakang tapi jangan terlalu kencang, gas juga tetap konstan agar motor tidak ambruk. Jangan melakukan pengereman mendadak.

 

Diatas adalah teorinya, berikut adalah buktinya. Video – video berikut adalah contoh dimana penggunaan rem depan membuat motor langsung jatuh, untung tidak menimbulkan korban.

Begitu ban depan selip langsung jatuh meluncur.

Yang berikut lebih serem, sempat rame. Motor jelas jatuh karena terlalu mengandalkan rem depan:
Hubungan antara kecelakaan Ayla vs R25 dengan recall part rem Yamaha R25 dan perilaku motor saat ban depan ngelock karena tanpa ABS

 

Jadi dengan penjelasan diatas kita bisa tahu bahwa walau sedang jalan lurus sekalipun, ban depan selip itu berbahaya karena bisa langsung membuat motor lepas kendali. Ini berbeda ketika ban belakang yang selip, dengan melepas rem sedikit motor bisa kembali dikendalikan.

Saat dijalan sangat licin disarankan untuk memakai hanya rem belakang saja. Sementara di jalan kering sekalipun disarankan untuk mendahulukan rem belakang. Lalu baru rem depan. Baru disesuikan daya pengereman sehingga bisa maksimal tanpa ban selip. Ini dibiasakan untuk semua kecepatan sehingga pada saat panik maka cara ini juga yang kita lakukan.

Untuk motor Honda dengan CBS seperti misalnya Vario CBS atau Beat CBS juga akan berbahaya bila pakai rem depan dulu. Karena di sistem CBS menggunakan tuas CBS akan juga menambah tekanan tuas rem depan, sehingga rem depan yang asalnya sudah pas bisa jadi kelebihan. Jangan paksakan pakai CBS bila sudah pakai rem depan. Begitu juga saat di tikungan licin, motor semacam itu harus dianggap seperti tidak ada rem belakangnya, lebih aman pakai engine brake, karena di CBS ala Indonesia yang aktif rem depan duluan. Bila dipaksakan pakai CBS maka efek sama dengan menekan rem depan. Jadi harus benar benar ekstra hati hati. Penulis pernah minta CBS dibuat rem belakang saja katanya mekanik tidak bisa dan bisa resiko rem ngelock karena sudah didesain begitu.

CBS itu sistem berbahaya. Apalagi karena rem belakang tidak bisa dibuat aktif terlebih dahulu. Padahal di beberapa kutipan diatas disebutkan bahwa pada situasi jalan sangat licin, disarankan pakai rem belakang saja.

Kalau terpaksa harus beli motor matik Honda, sebaiknya pilih yang tidak ada CBSnya. Penulis juga curiga mengapa demo safety riding Honda kok selalu pakai motor sport. Mengapa kok tidak dipakai menunjukkan hebatnya sistem CBS. Lagipula kan motor matik yang lebih banyak dijual, harus demo safety riding Honda pakainya motor Beat/Vario CBS. Di demokan saat dipakai pengereman ekstrem di tikungan licin. Penulis ingin tahu apa saran safety riding apa beneran bisa diterapkan di Honda Vario / Beat CBS.

 

Sebaiknya mengerem jangan menggunakan acuan kecepatan atau rasio. Nggak usah dipikir tapi pakai feeling. Pakai sesuai pengalaman di kondisi jalan.

Pengereman tidak boleh mendadak tapi harus bertahap. Penulis sarankan setengah dulu, lalu ditambah perlahan sampai roda mencicit. Bila roda sudah mencicit jangan ditambah lagi tekanannya.

Kalau perlu latihan pada kondisi jalan berbeda sehingga kita bisa siap bila sewaktu waktu butuh pengereman mendadak. Belajar bagaimana mengerem maksimal hingga ban bisa mencicit tanpa ngelock. Belajar bagaimana bisa mencapai jarak pengereman yang diinginkan hanya dengan sekali menyesuaikan daya pengereman.

Walau kedalaman rem belakang bisa berubah, namun kita masih bisa pakai acuan tekanan. Sehingga kebiasaan yang kita dapat dengan latihan masih akan bisa berlaku walau misal rem belakang mulai aus.

Safety driving perlu latihan dan pembiasaan juga.

8 thoughts on “Safety riding mengerem mendadak mengandalkan rem depan itu sangat berbahaya, ngerem tidak bisa pakai angka rasio

    • Iya juga. Jadi nggak cocok bila sistem berbeda.

      Jadi ingat dulu kan rem depan masih pakai tromol, tidak ada yang bahas rem pakai rasio rasioan. Karena ditekan full saja tidak akan bisa selip rodanya.

      Disukai oleh 1 orang

  1. Kalo panic braking dalam kondisi kering: tekan keras depan belakang bergantian, tapi harus pake feeling jangan sampe slip
    Kondisi basah berpasir: belakang agak keras, baru depan ditekan sedikit.. tekan bergantian..

    Suka

    • Pro capacitor bukan capacitor tapi alat yang berdesain seperti kapasitor namun dengan prinsip dasar berbeda. tidak butuh listrik untuk bisa bekerja namun bisa mempengaruhi kerja pembakaran lewat induksi.

      Untuk motor bisa dipasang 3 buah. Dua di selang bensin, satu di kabel busi. Namun cara pemasangan berbeda beda untuk beda kendaraan. Efek maksimal perlu di trial and error. Kalau pas maka suara knalpot pun bisa berubah. Yang di CB katanya sampai bisa mengeluarkan bunga api saat di bleyer.

      Suka

  2. Di jalan berpasir kering kalau bisa sebaiknya menghindar atau kurangi kecepatan, saya pernah mengalami ndlosor saat melewati jalan berpasir kering karena ngerem mendadak dengan rem belakang duluan…padahal kecepatan motor tidak tinggi sebab didepan sudah dekat lampu merah.

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s