Alasan mengapa motor bebek bisa lebih tangguh daripada motor trail atau sport di lautan pasir


Di aripitstop ada posting menarik yang menceritakan motor trail Kawasaki KLX diangkut pakai Honda Blade di lautan pasir bromo:
Motor KLX Saja Digendong Honda Blade, Nyerah di Bromo Januari 16, 2017
klx-dibonceng-honda-blade

Di postingan tersebut juga di diperlihatkan motor lain seperti Honda CB150R, Yamaha Vixion dan Yamaha R15. Disebutkan masalahnya adalah kampas kopling hangus.

Beberapa orang berkomentar bahwa itu terjadi karena skill ridernya kurang. Memang ada kemungkinan begitu, namun menurut penulis kejadian itu masih tetap akan bisa terjadi walau skill ridernya sudah canggih. Dan menurut penulis tidak fair untuk membandingkan motor sport dengan motor yang dipakai warga bromo. Motor mereka tentunya kebanyakan sudah dimodif, dan modif yang penting justru bukan modif tenaga. Modif tenaga yang umum dipakai malah bisa mengurangi kemampuan menjelajah lautan pasir. Jadi bukan tenaga mesin yang penting. Tenaga mesin besar tidak menjamin motornya mampu dipakai menanjak atau menjelajah lautan pasir.

Berikut alasan penulis mengapa motor sport atau trail jalanan itu tidak cocok untuk dipakai di tanjakan ekstrem atau lautan pasir.

 

Tenaga di rpm rendah nggak ada

Memang tenaga itu penting. Tanpa tenaga maka motor tidak akan bisa jalan. Namun yang juga penting adalah seberapa banyak tenaga yang bisa dimanfaatkan pada situasi tertentu. Dalam kondisi normal, di kondisi jalan datar dan mulus, maka motor tidak butuh tenaga yang banyak untuk mulai jalan. Namun berbeda pada kondisi jalan lebih ekstrem. Butuh tenaga lebih banyak untuk bisa mulai menjalankan kendaraan di jalan menanjak atau lautan pasir.

Yang harus diperhatikan adalah untuk mulai menjalankan kendaraan itu butuhnya pakai rpm rendah. Untuk bisa mulai menanjak atau berjalan di lautan pasir maka motor harus punya tenaga kuat di rpm rendah.

Motor jalanan seringnya difokuskan ke kemampuan untuk dijalankan pada kecepatan tinggi dan akselerasi cepat. Untuk itu, seringkali tenaga motor lebih difokuskan untuk bisa muncul di rpm tinggi. Sebagai akibatnya motor jadi tidak bertenaga kalau dipakai di rpm rendah.

Bahkan tenaga motor sport di rpm rendah bisa jadi setara dengan motor bebek biasa. Bisa dilihat contohnya berikut ini:
Wow.. Komparasi All New Honda CBR150R vs Yamaha YZF-R15 dari Motorplus beda dengan Otomotif
tenaga-motor-honda-cbr150r-dan-yamaha-yzf-r15

Terlihat bahwa tenaga di rpm 4500 cuma separuh dari tenaga maksimal.

Coba bandingkan sama dyno Honda blade berikut, perhatikan data pada rpm 4500:
Cukup Main Setelan Klep Buat Upgrade Power Mesin Honda Blade
tenaga-motor-honda-blade

Terlihat bahwa tenaga di rpm rendah ternyata sama saja dengan motor bebek. Padahal motor sport biasanya jauh lebih berat. Sehingga kalau di rpm rendah motor sport itu lebih payah daripada motor bebek.

 

Fokus tenaga di rpm tinggi juga membuat motor sport tidak cocok untuk dipakai di rpm rendah. Ini penulis amati pada waktu trial pro capacitor di motor CB150R. Motor sudah pakai modif knalpot racing. Sebelum menggunakan pro capacitor motor berjalan tidak mulus / tersendat sendat pada rpm rendah (jalan tanpa digas). Karena dipakai jalan pelan menyentak nyentak maka motor sport tidak layak untuk dipakai di rpm rendah.

 

Modif tenaga yang tidak sesuai

Motor sport seringkali dimodif oleh pemiliknya untuk membuat performa makin ok. Namun sepertinya banyak yang tidak tahu bahwa modif untuk akselerasi atau top speed untuk jalan datar tidak cocok untuk tanjakan atau lautan pasir.

Kebanyakan modif seringnya ditujukan untuk meningkatkan tenaga di rpm atas. Sayangnya, seringkali modif tersebut justru menurunkan tenaga di rpm bawah. Sehingga motor justru jadi tidak cocok untuk dipakai di tanjakan atau lautan pasir.

Contoh modif yang bisa mengurangi tenaga di rpm bawah adalah: knalpot racing, filter racing, memperbesar aliran udara masuk/keluar, melepas filter, mengganti noken as, merubah timing pengapian.

Contoh modif yang cocoknya cuma di rpm bawah adalah: HHO, cold air induction, HCS, cyclone, penghalang udara.

Contoh modif yang bisa meningkatkan tenaga rpm bawah dan atas adalah: busi, magnet, ferrite, aditif bensin, aditif oli, pro capacitor.

 

Jadi bila tujuannya agar motor bisa dipakai di tanjakan atau lautan pasir, maka modif harus juga disesuaikan. Percuma bila motor dimodif agar tenaganya nambah tapi tenaga tersebut cuma bisa dimanfaatkan di rpm tinggi. Lebih cocok bila motor dimodif dengan modif yang bisa menambah tenaga rpm bawah atau lebih bagus lagi bila pakai modif yang bisa nambah dua duanya.

 

rasio gigi tinggi

Rasio dari motor sport seringkali disesuaikan untuk pemakaian di jalan datar dan mulus. Apalagi untuk motor dengan tenaga besar, rasio gigi akan dibuat lebih mementingkan kecepatan. Rasio yang seperti itu tidak akan cocok dipakai untuk tanjakan ataupun lautan pasir yang menuntut tenaga besar di kecepatan rendah.

Untuk ilustrasi, anggap saja motor sport mentok 40km/jam di gigi satu, di rpm 10 ribu. Kalau berjalan di kecepatan 10km/jam maka mesin berputar pada 2500 rpm. Coba bandingkan dengan motor bebek yang mentok 20km/jam di gigi satu, di rpm 10 ribu. Kalau berjalan di kecepatan 10km/jam maka mesin berputar pada 5000 rpm. Beda rpm sampai separuhnya. Beda tenaga bisa lebih dari separuh.

Dalam kondisi jalan yang tidak memungkinkan untuk berjalan cepat maka motor sport harus pakai rpm 2500, sementara motor bebek berjalan pada rpm 5000. Di contoh sebelumnya sudah ditunjukkan bahwa tenaga motor bebek di rpm 5000 an setara dengan tenaga motor sport. Sementara itu motor sport harus pakai rpm lebih rendah lagi. Dalam kondisi ini wajar bila motor sport tenaganya kalah kuat bila dibandingkan dengan motor bebek. Karena motor sport dipaksa bekerja diluar peruntukannya.

Tidak cuma tidak ada tenaganya di rpm tersebut, mesin motor sport juga tidak bisa berjalan mulus di rpm tersebut. Ini bisa memaksa ridernya untuk memakai setengah kopling. Mesin dipaksa untuk berputar di rpm tinggi padahal roda cuma bisa berputar pelan. Perbedaan kecepatan berputar antara mesin dan roda membuat kopling bekerja ekstra keras dan menjadi sangat cepat aus dan jadi panas yang bahkan bisa merusak sistem kopling.

Bila rider terlalu lama melakukan hal itu wajar bila banyak motor sport yang harus digendong pulang sebelum sampai lautan pasir.

Bila rasio gigi salah dan tenaga di rpm rendah lemah maka percuma seandainya ban diganti dengan ban off road sekalipun. Karena mesin nggak mampu untuk memutar roda. Roda off road baru perlu kalau mesinnya kuat. Jadi nggak perlu malu kalau Kawasaki KLX sampai harus digendong pulang sama Honda blade.

 

Motor yang sering dipakai di tanjakan atau lautan pasir juga seringnya sudah dimodif. Gigi rasio dibuat besar sehingga tenaga di kecepatan rendah bisa meningkat dengan mengorbankan top speed. Penulis pernah salah modif pakai modif yang populer untuk di gunung, gigi depan ganti 12, top speed jadi cuma 70km/jam dari asalnya 100km/jam.

Wajar kalau motor warga setempat tangguh. Karena motor sudah dimodif sehingga cocok untuk tanjakan atau lewat lautan pasir. Jangan ketipu dengan tampilan motor model lama dan tenaganya terkesan lemah. Karena motor dengan rasio gigi yang cocok akan bisa mengalahkan motor dengan rasio gigi nggak cocok walau tenaganya lebih lemah.

 

Sayangnya modif rasio gigi ini sepertinya cuma bisa mudah diterapkan di motor dengan transmisi manual dan susah diterapkan untuk motor matik. Memang ada modif yang bisa membuat motor matik makin baik akselerasinya di rpm rendah. Namun itu terbatas. Motor matik tetap saja kurang bertenaga pada rpm rendah. Modif yang cocok adalah kampas kopling lebih pakem menggigit lebih awal, roller lebih ringan, per cvt lebih keras, dan belt cvt lebih panjang.

 

Solusi

Bila terpaksa harus mempergunakan motor sport untuk tanjakan curam atau lautan pasir maka bisa coba solusi berikut:

Kurangi penggunaan setengah kopling, jangan biasakan mempergunakan setengah kopling. Jangan sampai berlama lama mempergunakan setengah kopling. Kalau dipaksakan, bisa jadi baru setengah jalan sudah habis atau rusak duluan kampas koplingnya.

Bila terpaksa, usahakan untuk tidak terlalu tinggi rpm yang dipakai. Gunakan rpm yang tenaganya sudah cukup kuat untuk bisa berakselerasi. Eksperimen sendiri rpm berapa yang cocok.

Daripada terus memaksakan penggunaan setengah kopling maka sebaiknya jalankan motor pada kecepatan yang optimal, yaitu kecepatan atau rpm pada gigi 1 yang tenaganya paling besar. Untuk mengetahui itu bisa pakai cara berikut:

 

Karena kecepatan tiap motor berbeda beda, maka jangan memaksakan beriring iringan dengan motor lain yang kecepatan optimalnya beda. Kalau memang butuh cepat ya harus dipakai cepat. Sebaiknya janjian untuk ketemu di tempat yang datar atau aman.

Kalau tidak memungkinkan untuk melaju pada kecepatan optimal, maka sebaiknya menyerah saja atau bisa coba pakai modif berikut:

  • ganti rasio gigi fokus ke akselerasi, gigi depan dikecilkan atau gigi belakang dibesarkan.
  • ganti roda belakang yang diameternya lebih kecil
  • lepas modif yang merusak tenaga rpm bawah
  • pakai modif yang menambah tenaga rpm bawah
Iklan

16 thoughts on “Alasan mengapa motor bebek bisa lebih tangguh daripada motor trail atau sport di lautan pasir

  1. Motor standar ting-ting bebek aja kuat menjelajah di lautan pasir bromo…sering ke bromo (dr rute manapun),,bawa supraX125 karbu,,zx130,,supra100cc,,new smash dan alhamdulillah lancar2 jaya…yg sering dbuat boncengan ya supraX125…sering liat matik ama sport mogok gk tau kenapa

    Suka

    • Iya, bebek sepertinya paling tangguh kalau di lautan pasir. Selain karena tenaga di rpm rendah lebih kuat, pengendara bebek jarang ada yang pakai setengah kopling.

      Kalau matik mogoknya mungkin karena rasio gigi nggak pas sehingga kampas kopling yang kena. Mesin sudah meraung tapi roda nggak jalan karena rasio nggak cocok.

      Kalau naik gunung pakai matik sepertinya nggak boleh dipakai jalan pelan dan nggak boleh berhenti di tanjakan.

      Suka

      • saya pernah ganti gigi depan supra 100 pakai 15 dari asalnya 14 rasanya pas kalau untuk jalan datar. Saya pernah pakai motor tersebut naik gunung (100cc gigi depan 15). Jadi untuk 125 cc mestinya lebih enteng lagi.

        Suka

      • Gak berat kok bro…enteng2 aja….mau dibuat nanjak dr nongko jajar atau dr tumpang ya fine2 aja..di lautan pasir juga gak kerasa…ya mungkin emang trgantung perawatan dan cara bawanya di medan kayak gt…matic atau sport juga banyak yg lancar kok…ada supra100cc juga,tapi berhubung dipake temen yg bobotnya 105kg ya udah,,biarin sendirian aja…

        Suka

  2. Mungkin harus di perhatikan juga kita harus tahu torsi maksimal motor yang akan pakai melewati tanjakan. Saat melewati tanjakan motor butuh torsi yang kuat, nah misal R15 torsi maksimalnya 14,5 Nm di 7.500 rpm usahakan motor saat melewati tanjakan di panteng pada 7.500 rpm jangan dibawah atau di atas angka rpm tersebut. Abaikan jika salah pendapat…Mas…:)

    Suka

    • Diskusi bebas :). Saya juga bisa salah.

      Kalau menurut saya, kemampuan menanjak itu berkaitan dengan tenaga, bukan dengan torsi. Torsi itu ada hubungannya dengan tenaga. Tenaga itu torsi dikali rpm. torsi sering diumpamakan sebagai tendangan kuda. Tenaga dari dua kali tendangan itu dobel dari tenaga satu kali tendangan.

      Kemampuan menanjak saya samakan dengan kemampuan akselerasi. Sementara itu bila kita mencatat detik detik akselerasi, maka kurvanya lebih mirip dengan kurva tenaga dan bukan kurva torsi. Sebelumnya juga saya sudah membahas bagaimana cara membuat kurva tenaga berdasarkan akselerasi:

      Membikin grafik kurva tenaga ala dyno dengan data dari video akselerasi

      Jadi kalau tanjakan, saya lebih memperhatikan tenaga.

      Namun sebaiknya diuji sendiri di rpm berapa akselerasi paling kuat. Rpm tersebut kita pakai acuan untuk tanjakan. Karena bisa jadi kurva tenaga di lapangan tidak sama dengan spesifikasi.

      Disukai oleh 1 orang

    • Katanya Honda dengan sistem injeksi itu kalau untuk naik gunung tarikannya kalah enak dengan yang karbu. Nyetelnya juga lebih susah.

      Mungkin juga karena di karbu GL pro ada pompa accelerator, yang kalau throttle diputar mendadak akan menyemprotkan bensin tambahan ke karbu. Ini akan membantu sentakan awal.

      Suka

    • Katanya Honda dengan sistem injeksi itu kalau untuk naik gunung tarikannya kalah enak dengan yang karbu. Nyetelnya juga lebih susah.

      Mungkin juga karena di karbu GL pro ada pompa accelerator, yang kalau throttle diputar mendadak akan menyemprotkan bensin tambahan ke karbu. Ini akan membantu sentakan awal.

      Suka

  3. Sama kayak di daerah ane anak moge diasepin sama tukang cari rumput semua kalo minggu dicangar pacet. Motor ane yg satu juga gitu ahli tanjakan, tanjakan 45 derajat lebih dan panjang cukup dilahap dengan gigi 2/3 tanpa harus setengah kopling

    Suka

  4. Tp kalau bebek injeksiku, supra helm in injeksi, nanjak payah. Kalau jalan rata, kebut kebutan lawan mx 135, diladeni. Sama beat, di pendakian, motorku kalah telak. Yg dibanggain cuma bagasi besar, kapasitas tangki besar, dan hemat .

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s