Safety riding kok jadi lomba ketangkasan, teori rem yang diajarkan juga ada yang ngawur berbahaya


Membaca berita berita soal safety riding, penulis heran mengapa kok yang terlihat orang lagi slalom. Padahal seharusnya yang namanya safety riding itu adalah mengajarkan bagaimana perilaku berkendara yang benar, dan bukannya seperti sekolah balap yang mengajarkan kemampuan berkendara.

Menurut penulis safety riding itu lebih ke perilaku, dan bukan soal skill.

Tapi nyatanya yang terjadi adalah uji skill. Ini bisa dilihat dari bentuk sirkuit yang dipakai, contohnya:

Astra Motor Safety Riding Center Hanya Untuk Bikers Honda
arena-safety-riding-honda

arena-safety-riding-honda2

 

Terlihat bahwa bentuk arena yang dipakai adalah arena ketangkasan. Acara lebih mirip lomba dan bukan pelatihan.

 

Event – event di acara safety riding

Berikut contoh penjelasan tentang event yang biasanya ada di acara safety riding:
Komitmen pada Keselamatan Berkendara, AHM Gelar Kompetisi Instruktur Safety Riding ke-7 #Press Release

Pada kompetisi AH-SRIC ini, AHM menerapkan standar kompetisi safety riding kelas dunia. Selain kemampuan menyampaikan materi safety riding, peserta juga diuji kemampuannya dalam menghentikan kendaraan secara stabil dalam jarak pendek melalui tes Braking Skill. Sementara itu, kemampuan peserta dalam menjaga keseimbangan dengan kecepatan tertentu diuji dalam uji Narrow Plank (kecepatan yang ekstra pelan dengan tetap menjaga postur berkendara), Slalom Pylon (keterampilan berkendara dan pengendalian setang kemudi menggunakan akselerasi yang benar), dan Slalom Course (keterampilan pengendaraan dan pengendalian setang kemudi dengan posisi berkendara yang benar). Khusus untuk advisor safety riding komunitas, mereka harus mengikuti tes esai seputar pengetahuan safety riding.

 

Slalom pylon itu mengendarai zigzag melewati cone yang disusun lurus:

 

Sementara Slalom course itu mengendarai kendaraan di arena slalom dan tidak boleh sampai menabrak cone.

 

Keduanya bersifat time attack. Jadi yang menang itu yang jago. Nggak ada unsur safetynya. Lebih ke skill. Apa itu artinya orang yang lambat waktunya itu juga nggak becus safety ridingnya? Kenyataannya tidak tapi kegiatan tersebut jadi mengesankan seperti itu.

Event event lainnya juga lebih ke skill. Seperti contohnya melewati rintangan:
Yamaha Beri Pembekalan Safety Riding ke Pebalap
safety-riding-naik-naik-hambatan

safety-riding-tapi-pakai-lampu-sorot

 

Entah apa gunanya melakukan itu.

Yang lebih bikin heran lagi adalah event berikut ini. Mengendarai lambat di titian:
safety-riding-tapi-lewat-titian-jalan-tikus

 

Mengapa kok sampai harus mengendarai sangat pelan di jalan yang sangat sangat sempit? Apa itu ada hubungannya dengan safety riding? apa memang orang yang gagal melakukan itu artinya tidak bisa melakukan safety riding?

Sudah jelas dari kegiatan kegiatan diatas bahwa acara tersebut lebih mengarah ke acara uji ketangkasan. Bila alasannya untuk mengembangkan kemampuan, apa ya mengembangkan kemampuan bisa dilakukan hanya dengan melakukan kegiatan sekali seumur hidup? Kalau kegiatan itu tujuannya adalah untuk mengembangkan kemampuan maka harusnya itu dilakukan tiap hari. Atau paling tidak peserta melakukan berkali kali. Tapi tetap hasil akhirnya adalah peningkatan skill. Sementara itu safety riding lebih ke perilaku berkendara.

Kalau tujuannya perilaku maka harusnya setiap peserta dituntun untuk melakukan perilaku safety riding yang benar. Jadi misalnya latihan sebelum belok menyalakan lampu belok. Sebelum pindah jalur lihat spion kiri kanan. Jangan cuma diomongi saja tapi peserta harus praktek sendiri.

Yang dinilai harusnya tingkat pemahaman atau kemampuan untuk mempraktekkan safety riding. Yang diukur harusnya bukan skillnya. Namun di acara tersebut jelas yang dinilai adalah skillnya. Sehingga akhirnya orangnya yang skillnya jago yang punya peluang besar untuk menang. Sementara orang yang nggak jago ya jangan berharap menang. Padahal yang penting dalam safety riding adalah perilakunya.

Kegiatan tersebut juga memberikan psikologi yang keliru. Dikesankan seakan akan orang yang paling safety itu adalah orang yang skillnya paling jago. Padahal safety riding itu adalah sesuatu yang bisa dilakukan semua orang. Yang paling penting adalah pemahaman dan praktek yang benar.

Skill mengendarai motor tidak mencapai tingkat dewa tidak masalah. Yang penting skill sudah cukup untuk bisa mengendarai kendaraan dengan baik. Yang penting perilaku berkendara sudah benar dan aman.

 

Mengajarkan hal yang salah

Karena fokusnya sudah salah, maka kadang ada hal yang justru tidak sesuai dengan ide safety driving. seperti contohnya berikut ini, safety riding tapi kok malah melepas spion:

ada yang mengganjal di kompetisi instruktur safety riding…
safety-riding-tapi-tanpa-spion

Coba diperhatikan baik2 foto di atas pada Kompetisi Instruktur Safety Riding yang diadakan oleh pabrikan Honda…Yup…motor peserta tidak dilengkapi dengan spion kiri kanan. Walah piye toh iki… katanya berkomitmen dalam kampanye keselamatan berkendara. Halooo… AHM…???

 

Yang mendemokan kadang juga berlebihan atau tidak masuk akal. Seperti contoh demonstrasi pengereman berikut.

Mengerem belakang dibilang bikin kendaraan ngesot.

 

Ya jelas ngesot karena dibuat belok. Padahal kalau saran safety riding itu kalau mengerem jangan sambil belok.

Demo rem depan juga begitu, masa ya motor dibuat standing. Kalau di kenyataan yang namanya pengereman ya tidak untuk stoppie macam begitu.

Demo pengereman safety driving itu biasanya ditunjukkan secara normal. Motor nggak sampai berdiri atau ngesot. Motor ditunjukkan masih jalan lurus. Seperti ditunjukkan di video video berikut.

Demo perbedaan jarak pengereman dengan metode pengereman berbeda, pakai motor sport naked:

Demo perbedaan jarak pengereman dengan metode pengereman berbeda, pakai motor sport fairing:

Safety riding pengereman belakang di motor sport fairing Indonesia:

Safety riding pengereman belakang vs depan+belakang,

 

Di video yang terakhir ada yang penulis tidak setuju. Disebutkan bahwa mengerem pakai memompa jarak hentinya lebih pendek. Menurut penulis itu terjadi karena pengendara masih belum melakukan pengereman dengan maksimal. Sebagai bukti, saat mengerem tidak terdengar bunyi roda. Pada saat penulis melakukan pengereman maksimal, roda bisa bunyi walau masih tidak ngelock. Itu bisa terjadi pada saat pengereman jalan kering baik di jalan aspal maupun jalan beton. Dua duanya pernah penulis coba.

Secara tertulis keunggulan teknik tersebut dikatakan sebagai berikut:
Teknik Pengereman, Jangan Biasakan Jari di Rem Depan

“Jika ada kondisi darurat maka kocok rem, hentakkan ruas jari di rem depan dan belakang secara bersamaan. “Ada dua alternatif jika malas mengocok rem. Pertama motor kekunci dan tabrakan. Kedua beli motor yang sudah ada ABS-nya,” ujar Training Director Jakarta Defense Driving Consulting (JDCC), Jusri Pulubuhu.

Memompa rem itu namanya cadence braking, dari sisi daya henti kalah dengan treshold braking namun keunggulannya bisa untuk belok lebih aman.
Advanced Braking Technique
beda-pengereman-treshold-dipompa-abs-dan-terkunci

If you don’t have ABS or you are driving the racing car, you will use cadence braking. You lock the wheels, and then release the brakes so that you can steer, brake again, release and steer again in sequence until you have avoided the hazard. This is particularly useful on slippery roads, but it takes a lot of practice and quick thinking to be able to release the brakes when you are sliding towards the hazard.
It needs to be learned and practiced!!

Cadence braking involves pumping the brake pedal fairly rapidly but deliberately, to make the wheels lock and unlock. This is done primarily to maintain steering control, at least in part. While cadence braking is effective on most surfaces, it is less effective at slowing the vehicle, than keeping the tires continually at the optimum braking point which is called threshold braking.

Cadence braking (or any other type of braking) will not help much on extremely slippery surfaces such as ice. Also, on very loose surfaces, a quicker stop can be achieved by simply locking the wheels, causing a wedge of loose material to build up ahead of the wheels and create a substantial braking force. In such conditions, cadence braking, same as ABS, actually increases the stopping distances.

Dikatakan bahwa bila kendaraan tidak dilengkapi dengan ABS, bisa mempergunakan cara pengereman cadence. Roda di buat lock, lalu rem dilepas sehingga bisa menyetir, lalu dibuat lock lagi, lepas, lock, berulang ulang sehingga bisa bebas dari bahaya. Ini berguna terutama di jalan licin. Namun ini butuh latihan yang berkelanjutan.

Pengereman cadence dilakukan dengan memompa pedal rem secara cepat dan berulang, membuat roda terkunci dan lancar lagi. Ini dilakukan terutama untuk memberikan sedikit kemampuan mengendalikan kendaraan. Walau ini efektif di banyak situasi, namun kurang efektif dalam hal menghentikan kendaraan, apalagi dibanding dengan pengereman dimana roda hampir mengunci.

Pengereman apapun tidak banyak membantu pada permukaan yang sangat licin.

Pada permukaan berpasir, berhenti lebih cepat bisa dilakukan dengan membuat roda terkunci, membuat pasir menumpuk didepan roda dan membantu pengereman.

 

Demo ngerem ngesot dan stoppie bisa sedikit dimaklumi karena ajang seperti itu seringnya memang dipakai sebagai ajang pamer. Yang berikut ini lebih berbahaya karena mengajarkan hal yang terbukti bikin celaka.

Instruktur safety riding berikut mengajarkan untuk pakai rem depan terlebih dahulu.

 

Cara berikut juga berbahaya karena mengajarkan untuk pakai rem depan dulu.
Tehnik mengerem mendadak Darurat Street Smart Program safety riding by gojek

Tehnik yang baik seharusnya:
5. Pada km 40km gunakan rem belakang namun pengereman tidak bolah sekali tekan .kecuali rem sperti mobil ABS Anti Break System itu adanya di Nmax atau motor moge ninja 150.selain itu diajarkan tehnik mengocok.Pada km 40 -100km keatas gunakan rem depan dahulu kemudian baru rem belakang bersamaan dikocok atau tekan bergantian sampai lacu motor mengurangi putaran ban dan berhenti

Yang berikut berbahaya karena mengajarkan untuk pakai seluruh jari tangan.
TEKNIK PELATIHAN SAFETY RIDING

Cara pengereman yang aman adalah dengan menekan perlahan tuas rem di handle dengan seluruh jari-jari anda, mulai dari kelingking hingga telunjuk sambil menurunkan gas secara perlahan-lahan. Gunakan juga tuas rem kaki untuk rem belakang agar pengereman lebih maksimal. Hindari pengereman secara mendadak saat kecepatan tinggi karena berpotensi mengunci ban anda dan mengakibatkan anda terpental/jatuh.

 

Pada kenyataanya, kekuatan yang dibutuhkan untuk mengerem berbeda beda. Kendaraan yang sistem remnya ringan tidak perlu tenaga banyak untuk menghasilkan pengereman maksimal. Kalau pakai seluruh jari malah resiko ban depan ngelock karena kelebihan tenaga saat menekan rem. Roda depan ngelock sangat berbahaya. Hal yang sama bisa terjadi bila mengandalkan rem depan terlebih dahulu.

Entah apa alasan intruktur safety riding mengajarkan pemakaian rem depan dahulu. Mungkin untuk mempromosikan sistem rem CBS yang seringkali depan aktif terlebih dahulu. Aktif dalam artian, ban depan akan ngerem lebih dahulu daripada rem belakang. Rasio di CBS yang banyak diomongkan orang orang itu adalah perbandingan pembagian kekuatan antara rem depan dan rem belakang. Sementara waktu aktivasi nggak bisa diatur karena secara sistem antara depan dan belakang model remnya sudah beda.

Dan terbukti CBS sudah bikin celaka banyak orang. Testimoni bisa dibaca di artikel berikut:

 

Sementara itu mengandalkan rem depan juga terbukti sangat berbahaya apalagi bila di jalan licin. Saat di jalan licin orang tidak bisa memperkirakan grip dari roda. Dalam kondisi tersebut sering terjadi pengereman yang berlebihan.

Berikut ini contoh kalau mengandalkan rem depan. Motor lepas kontrol:

Itu hasilnya bila mengandalkan rem depan. Contoh lain bisa dilihat di artikel berikut:

 

Di demo dikesankan seakan akan yang pakai rem depan dulu berlaku untuk semua kondisi. Penulis perhatikan demonya dilakukan di jalan yang tidak licin. Harusnya di tunjukkan juga demo pakai rem depan dulu di jalan agak licin di kecepatan agak kencang. Atau demo pakai CBS di tikungan licin. Penulis ingin tahu apa benar pakai rem depan dulu itu bisa beneran aman di kondisi tersebut. Penulis prediksi motor bakalan jatuh.

Oleh karena mendahulukan rem depan berbahaya dalam kondisi apapun sebaiknya biasakan untuk mendahulukan pemakaian rem belakang dulu. Rem depan tetap dipakai namun ditekan sesudah menekan rem belakang. Dan ini juga yang dianut beberapa website berikut:

10 Motorcycle Safety Tips I Learned Riding A Harley Davidson Through The Mountains

5. Never Use The Front Brake First
You must train your instincts to always go for the rear brake first

Dikatakan untuk melatih reflek menggunakan rem belakang dulu.

Motorcycle Braking Tips

The American Motorcycle Safety Foundation teaches their instructors that “in an emergency braking situation you should apply the back brake hard and let the back wheel slide if it wants to.

Dikatakan organisasi keselamatan motor amerika mengajarkan intruktur mereka untuk dalam situasi pengereman mendadak untuk mengerem rem belakang dengan keras dan membiarkannya sliding.

Pengereman juga dilarang dilakukan di tikungan:
Handling Special Situations

Emergency Braking: Apply both brakes to their maximum, just short of locking them up. Keep the motorcycle upright and traveling in a straight line; You don’t want to lock the front brake. If the wheel does chirp, release the brake for a split second, then immediately reapply without locking it up. If your rear wheel locks up, do not release the brake. If your handlebars are straight, you will skid in a straight line,which is all right.

You can brake (with both brakes) while leaned over, but you must do it gradually and with less force than if the bike is standing up straight. For maximum braking efficiency in an emergency (when traffic and roadway conditions permit), stand the bike upstraight; brake hard.

Should you hit a slippery spot while you’re braking for a stop sign, and one or both wheels lock up, you want to get those wheels rolling right away. Release the brakes for an instant, and then reapply a little more gently. At higher speeds, when traction is good and the rear wheel skids when braking hard, do not release the rear brake.

Dkatakan bahwa dalam kondisi darurat pergunakan kedua rem dengan maksimal, sampai hampir ngelock rodanya. Jaga agar motor tegak dan berjalan lurus (jangan niru intruktur yang bikin ngesot diatas). Jangan sampai roda depan ngelock. Bila ngelock lepas rem sebentar lalu tekan rem lagi tanpa membuatnya ngelock. Bila roda belakang ngelock, jangan lepaskan rem. Jika setir lurus, maka kita akan meluncur lurus, tidak apa apa.

Boleh mengerem saat berbelok miring tapi harus dilakukan bertahap dan dengan tenaga lebih kecil daripada saat motor tegak. Untuk pengereman maksimal dalam kondisi darurat (bila situasi mengijinkan), tegakkan motor dan rem dengan keras.

Jika melewati roda ada yang ngelock saat mengerem di jalan licin maka lepaskan rem sebentar lalu tekan lagi dengan lebih halus. Di kecepatan tinggi dan jalan tidak licin, maka bila roda skid / lepas grip karena pengereman terlalu keras, maka jangan lepaskan rem belakang.

Kejadian nyata kalau rem belakang ngelock saat darurat:

Roda belakang ngelock. Namun kendaraan masih bisa dikendalikan. Beda dengan yang terjadi bila roda depan yang ngelock, banyak contoh yang menunjukkan motornya langsung jatuh.

 

Intinya. Kalau lomba ketangkasan sebaiknya jangan dinamai safety riding. Ilmu yang diajarkan sebaiknya sesuai dengan kenyataan, dengan menggunakan contoh kejadian nyata.

Pengereman jangan mengandalkan rem depan saja, jangan juga dahulukan yang depan karena resiko langsung terjatuh sangat besar. Pergunakan rem belakang dulu setelah itu pergunakan rem depan. Ini akan sangat membantu dalam kondisi darurat.

Untuk yang memaksa untuk mengandalkan rem depan dengan alasan kalau di motogp cuma pakai rem depan maka perlu diingat bahwa kondisinya beda. Jalan di sirkuit balap itu dijamin bebas licin. Daya cengkram roda motogp pun berbeda dengan daya cengkram motor harian.

Iklan

22 thoughts on “Safety riding kok jadi lomba ketangkasan, teori rem yang diajarkan juga ada yang ngawur berbahaya

    • Ini blog mau dibilang tolol tapi emang tolol.. spion dicopot karna kalau jatuh pecahan kaca tidak mengenai pengendara lain.. jadi penonton aja kalau tidak tau apa”.. honda jepang juga melakukan hal sama dengan AHM, orang jepang lebih pinter dari kalian..

      Suka

      • Apa itu artinya bodi dan semua lampu juga harus dilepas? kan bisa pecah juga? Sekalian pakai motor batangan saja?

        Maksudnya pengendara lain bagaimana? Kan itu lomba slalom? pakainya gantian dong?

        Terus kalau di jalan bagaimana? masa mau dicopot juga?

        Maaf, argumentasinya kurang mengena.

        Disukai oleh 1 orang

  1. setuju… harus nya diajari juga pengenalan rambu2 termasuk arti dari garis putih putus2, tidak putus.. garis putih double… garis kuning.. cara mendahului kendaraan di depan, motor atau mobil, berbeda… jaga jarak dgn kendaraan di depan, motor atau mobil, beda.. jgn mendahului di jalan berbelok.. diperempatan/pertigaan/bundaran, mengerti mana kendaraan yg harus didahulukan… bukan model sodok/ adu nyali…dll sejenisnya..
    Cuma, siapa yg harus memberi contoh atau menegakkan aturan tsb… udah terlalu lama kacau balau…sehingga yg betul justru malah jadi Alien, terkesan salah… contohnya di lampu merah..

    Disukai oleh 2 orang

    • Iya, setuju. Selain pengetahuan tentang aturan lalu lintas, juga perilaku yang aman.

      Memang harus ada yang mengawali. Repotnya sumber pengetahuan yang dipakai sering sumbernya tidak jelas. Sering ngomongnya harus begini begitu tapi tanpa sumber penelitian. Bahkan kadang logika pun tidak dijelaskan.

      Suka

  2. kegiatan Safety Riding ala Astra Hondut Motor itu IMHO aslinya punya tujuan utama buat marketing, supaya lebih tertanam image motor merek hondutnya, dengan harapan orang kalo mau beli motor maka yg terlintas pertama kali di otaknya adalah merek hondut. ane kira Om Sucahyo pasti sudah paham hal ginian, serigala berbulu domba, kegiatan Marketing yg berkedok safety riding 🙂

    Suka

  3. Diluar kondisi darurat pernah diajarkan kalo ngerem memang pake rem depan duluan, dan dijelasin bahwa rem depan sama belakang lebih manjur depan (sekali lagi diluar kondisi darurat atau rem mendadak) karena dari pabrikan sudah dibuat sepertu itu, contoh kenapa rem depan sudah cakram sedangkat belakang tromol, dan di notor cc tinggi depan 2 cakran 4 piston sedangkan belakang single cakram 1/2 piston saja, apa benar begitu ?

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s