Teori weight transfer bisa menjelaskan mengapa mendahulukan rem depan bisa bikin celaka


Sebelumnya penulis sudah pernah membahas bahwa mengerem mendahulukan rem depan bisa bikin celaka:

CBS penulis sertakan karena CBS di motor yang laris di Indonesia (Honda Beat dan Honda Vario) itu sistemnya rem depan menggigit duluan.

Penjelasan di artikel artikel tersebut lebih ke pengalaman dan fakta yang terjadi. Oleh karena itu penulis sekarang mencoba menjelaskan dari sisi teori, yaitu teori weight transfer.

Sering dikatakan bahwa rem depan itu yang paling penting dalam pengereman karena saat mengerem roda depan yang bekerja lebih banyak. Saat mengerem beban berpindah kedepan sehingga roda depan yang mempunyai traksi lebih besar. Karena traksi lebih besar maka rem depan lah yang lebih berperan dalam menghentikan kendaraan.

Itu memang benar, traksi ban dipengaruhi juga oleh beban.
grip-roda-bertambah-dengan-bertambahnya-load

Makin berat beban yang bertumpu pada roda maka makin besar traksi dari ban.

Memang benar pula bahwa saat pengereman beban akan berpindah ke depan.
beban-berpindah-ke-depan-saat-mobil-di-rem

 

Namun harus diingat juga bahwa yang namanya weight transfer atau load transfer atau perpindahan beban karena pengereman itu tidak terjadi secara instan, namun butuh waktu. Waktu perpindahan beban ini tergantung pada suspensinya. Suspensi keras akan memindah beban lebih cepat daripada suspensi lembut.

Memang selembut apapun suspensinya, perpindahan beban bisa terjadi kurang dari sedetik. Namun di kecepatan tinggi, waktu sedetik ini masih terlalu lama. Sehingga saat pengendara menekan rem, maka beban yang roda alami pada saat itu adalah sama seperti motor sedang berhenti. Di saat itu, daya cengkram roda depan tidak akan sebesar pada saat beban sudah berpindah ke depan. Sehingga, bila saat itu pengendara menekan tuas rem depan dengan tekanan sama seperti saat beban sudah di depan, maka roda jadi selip dan tergelincir. Dan seringnya ini akan mengakibatkan motor jatuh.

Jadi pada saat pertama melakukan pengereman, daya cengkram roda depan bisa jadi masih sama dengan roda belakang. Baru sesudah pengereman daya cengkram roda depan meningkat dan daya cengkram roda belakang berkurang karena beban berpindah ke depan.

Daya yang bisa dipakai di rem depan pada saat awal pengereman itu lebih kecil daripada sesudah pengereman. Di rem belakang terjadi sebaliknya, daya yang bisa dipakai di rem belakang pada saat awal pengereman lebih besar daripada sesudah pengereman. Jadi tenaga yang kita gunakan untuk rem depan harus lemah dulu, baru sesudah beban berpindah ke depan tenaga diperkuat. Sementara itu untuk rem belakang boleh kuat dulu, baru sesudah beban berpindah ke depan di perlemah.

Namun untuk lebih aman, penulis sarankan untuk mengawali dengan rem belakang dulu, dan baru dilanjutkan dengan menggunakan rem depan sesudah beban berpindah ke depan dengan sempurna. Ini ditandai dengan motor sudah condong kedepan mentok. Ini akan mencegah terkuncinya roda depan. Terkuncinya roda depan jauh lebih berbahaya daripada roda belakang. Roda depan ngelock seringnya pasti jatuh. Kalau roda belakang malah ada yang bilang dibiarkan saja ngelock selama masih bisa lurus.

 

Beberapa website menyebutkan bahwa kalau roda depan ngelock dan selip maka bisa diatasi dengan melepas rem. Penulis terus terang nggak percaya. Kebanyakan pasti jatuh kecuali kalau motornya benar benar dalam kondisi stabil dan tegak. Kalau dalam situasi panik maka motor seringkali tidak dalam kondisi stabil dan tegak karena pengendara biasanya akan menghindar ke kiri dan ke kanan. Sebagai akibatnya maka bila ban depan ngelock, seringnya akan langsung jatuh. Oleh karena itu penting sekali untuk menghindari mengerem pakai ban depan terlebih dahulu.

 

Banyak juga website ada yang menyarankan untuk tekan rem depan sedikit dulu, lalu setelah beban berpindah ke depan baru ditekan keras. Mungkin maksudnya meniru seperti yang dilakukan Valentino Rossi berikut. Disebutkan rem ditekan ringan terlebih dahulu lalu ditekan keras:

Menurut penulis saran tersebut tidak bagus. Karena kalau sudah dalam keadaan panik apa pengendara bakal bisa memperkirakan tenaga sedikit itu seperti apa? bukankah biasanya bila dalam keadaan panik kita sering melakukannya dengan lebih ekstrem?

Jadi hindari kebiasaan menggunakan rem depan dulu, walau cuma sedikit. Karena kalau sudah panik pasti menekannya tidak sedikit. Lagipula rossi itu pakainya di balapan. Jadi menekan seberapa banyak sudah direncanakan. Beda kalau lagi panik. Kalau insting bilang harus berhenti segera maka refleknya tuas rem ditekan kencang.

 

Bagaimana bila ada penumpang? Kalau ada penumpang maka beban di belakang akan lebih besar sehingga pemakaian rem dbelakang harus ditambah. Contoh berikut menunjukkan sistem rem di mobil. Kalau ada penumpang, maka rem belakang kekuatannya ditambah.
dengan-penumpang-maka-kekuatan-pengereman-belakang-harus-ditambah

Penulis masih kurang jelas apakah rem depan harus dikurangi atau ditambah. Adanya penumpang membuat beban ban depan bertambah. Penambahan traksi karena dibebani tidak meningkat seiring dengan penambahan gaya yang harus dihentikan.

Yang jelas, kendaraan lebih berat akan berhenti lebih lama.
kendaraan-lebih-berat-berhenti-lebih-lama

 

Gambar diatas memperkuat alasan kita untuk tidak membebani ban depan. Walau memang kita bisa meningkatkan daya pengereman di ban depan, tapi kemampuan keseluruhan untuk menghentikan jadi berkurang bila ban dibebani. Oleh karena itu saat mengerem kita harus duduk lebih mundur kebelakang dengan posisi badan ditegakkan. Ini juga untuk menjaga agar roda belakang bisa tetap membantu pengendalian kendaraan selain bisa membantu melakukan pengereman.

Di motogp, mengurangi beban ban depan dilakukan pakai menurunkan kaki ke belakang. Untuk menurunkan center of mass dan mengurangi weight transfer. Ini juga mencegah roda belakang terangkat dan membantu pengendalian. Entah ini bisa diterapkan saat darurat atau tidak:

WEIGHT DISTRIBUTION | RIDING SKILLS SERIES

Dengan menjulurkan kaki Valentino Rossi membantu menurunkan center of gravity yang membantu keseimbangan sepeda motor
Dengan menjulurkan kaki Valentino Rossi membantu menurunkan center of gravity yang membantu keseimbangan sepeda motor

 

Karena rem depan hanya aman ditekan kuat saat beban sudah berpindah ke depan semua, maka dalam melakukan pengereman kita harus memperhatikan kondisi motor kita. Saat pertama mengerem dahulukan menggunakan rem belakang. Setelah rem belakang berfungsi maka bodi motor akan mengayun ke depan. Setelah bodi motor mentok di suspensi depan dan stabil, maka rem depan bisa ditekan maksimal sampai mendekati limit hampir ngelock (threshold braking).

Repotnya limit hampir ngelock ini bisa berbeda tergantung situasi seperti misalnya keausan roda, kondisi jalan, penumpang, jenis motor, dll. Sehingga kadang kita cuma bisa cari amannya, dan melakukan pengereman tidak bisa maksimal.

Mungkin ada yang menyarankan melakukan teknik memompa rem. Namun sayangnya teknik pumping ini membuat motor berhenti lebih jauh daripada kalau pakai threshold braking.

Teknik memompa rem itu butuh ngelock roda dan melepas rem. Namun seringnya roda depan ngelock itu tidak bisa di recover lagi. Jadi menurut penulis kalau butuhnya berhenti cepat maka sebaiknya pakai threshold braking saja. Kalau butuh menghindar maka baru lakukan teknik cadence / memompa rem.

 

Masalah lain juga bisa timbul bila suspensi depan shock breakernya aus, sehingga dalam kondisi ini motor jadi mengayun depan belakang lebih lama. Dalam kondisi ini beban pada roda depan akan bervariasi. Bila dilakukan pengereman maksimal, maka bisa jadi tekanan akan berlebihan dan membuat roda selip saat suspensi mengayun.

Untungnya kebanyakan suspensi depan motor itu awet. Namun harus waspada bila motor bro saat di rem mengayun depan belakang. Pengereman tidak boleh dilakukan maksimal bila seperti itu.

Untuk teknik pengereman, baca juga:

 

Kesimpulannya. Saat mengawali pengereman, dahulukan rem belakang dulu. Sesudah bodi motor condong kedepan, maka baru rem depan diaktifkan. Kekuatan rem depan memang harus lebih besar dari rem belakang, tapi ingat juga bahwa rem memang sudah di desain seperti itu. Misalkan cakram, maka cakram rem depan lebih besar dari rem belakang.

Menurut penulis kita tidak bisa mencoba merasiokan depan berapa belakang berapa. Kita cuma bisa coba mendekati kemampuan maksimal ban menahan beban. Untuk bisa tahu mendekati maksimal, penulis menggunakan acuan suara ban. dibuat cit cit cit, jangan sampai sroook atau seeeer.

Iklan

12 thoughts on “Teori weight transfer bisa menjelaskan mengapa mendahulukan rem depan bisa bikin celaka

  1. Makanya saya lebih suka shock yang “stiff” walaupun sedikit mengorbankan kenyamanan, kombinasi dengan rem pakem, mantap buat meliuk-liuk di jalan raya. Sudah tahu kan merk motor apa yang sering jadi bahan bully antar fansboy sebagai shock keras? wkwkwk….

    Suka

    • Setuju dengan bro rifz, stiff unggul kalau jalannya rata. Kalau jalan nya bergelombang atau tidak mulus atau tambal tambal, maka stiff justru lebih bahaya. Saya lebih cenderung per agak empuk, shock breaker agak keras. Ini setelan ala Suzuki.

      Sekarang lagi membuat artikel soal suspensi.

      Suka

  2. shock stiff emang oke kalo buat ngerem di jalan mulus,
    tapi kalo jalan gak mulus shock stiff akan bikin roda lebih cepat ngelock
    shock yang lembut lebih banyak weight transfer nya daripada shock stiff. kalo di mobil, istilahnya body roll lebih besar. sebelum weight transfer shock lembut lebih mudah locking, namun setelah weight transfer shock stiff yang lebih mudah locking. buat shock stiff ga masalah untuk ngerem langsung, namun buat shock lembut mengurangi gas sebelum mengerem akan sangat membantu

    dengan tangan terlatih, melepas rem saat locking sangat membantu recover ban yang selip. ane pernah locking saat ngerem dengan rem depan saja di jalan yang ternyata berpasir (ga kelihatan kalo pasir). langsung lepas rem depan, ban muter lagi, langsung rem depan belakang.

    untuk gradual braking, pake rem depan dulu ga papa, misal saat akan menikung, namun untuk panic braking sepertinya memang rem belakang dulu atau bersamaan (normalnya reflek kaki memang lebih cepat dari jari tangan, karena harus melepaskan gengggaman ke grip gas baru menggenggam lagi)

    Suka

    • Setuju, dengan suspensi stiff maka roda lebih cepat hilang gripnya. Kalau di mobil, suspensi depan di perkeras maka depan yang lepas dulu gripnya saat belok.

      Iya, lebih baik membiasakan belakang dulu untuk melatih reflek saat darurat.

      Kalau untuk tangan, saya biasakan meninggalkan satu jari di rem biar kalau rem nggak perlu meraba raba lagi.

      Suka

  3. tapi meskipun motor dari pabrikan nganu itu punya suspensi dan shockbreaker yg lebih empuk, tapi rem cakram depan/belakang dan tromol belakang tetep aja kurang pakem, ditekan sedikit motor masih ngeloyorr, ditambah tekanannya malah mau ngelock, ditekan tengah2 jadi nanggung, intinya dari sektor braking tidak mampu memberikan feedback yg baik terhadap pengendara, tidak seperti motor pbarikan satunya, yang mana remnya pakem tapi juga mampu memberikan feedback yg cukup baik.

    Suka

    • Masalahnya cuma di kampas rem pabrikan yang kurang baik, karena di desain agar awet
      Ane ganti pakai kampas rem daytona jauh lebih baik feedbacknya. 2 jari bisa bikin ngelock, padahal pakai kampas rem pabrikan 3 jari masih susah ngelocknya

      Suka

      • Iya, desain kampas rem bisa mempengaruhi performa. Namun selama ini semua motor yang saya coba rasanya cukup kekuatan rem depannya untuk ngelock. Yang kejadian sudah ditekan keras tapi tidak pakem biasanya karena ada udara terperangkap atau kampas rem habis.

        Suka

  4. mungkin saya punya kebiasaan (atau gaya) yang agak berbeda, dari dulu saya selalu prefer dengan rasio rem depan : rem belakang itu antara 60 : 40 sampai batas paling ekstrim 80 : 20, beberapa kali nyoba prioritas ke rem belakang malah langsung ndelosor karena ngepot, kalo saya kehilangan grip roda depan kaki masih sanggup refleks ‘menghadang’ ke arah samping agak ke depan, tapi kalo saya kehilangan grip roda belakang? ya sudah, saya tinggal berdoa saja supaya cederanya ga terlalu parah karena kalo kehilangan grip ban belakang, motor cenderung “berputar arah” dan kaki yang sejatinya buat ‘menghadang’ supaya tidak jatuh justru terseret mengikuti arah ngesotnya motor. 😥

    Suka

    • Kekuatan pengereman memang harus di rem depan lebih kuat, namun yang didahulukan harus rem belakang. Prioritas di yang saya maksud adalah dari segi timing, bukan dari segi kekuatan. Untuk kekuatan sudah pernah saya bahas di:
      Safety riding mengerem mendadak mengandalkan rem depan itu sangat berbahaya, ngerem tidak bisa pakai angka rasio

      Saya pakai motor macam macam tidak bisa tahu depan rasio berapa belakang berapa. Yang saya pentingkan adalah dua duanya kalau bisa mendekati maksimal. Cirinya adalah bunyi cit cit cit, tapi jangan sampai seeeer.

      Kalau ngerem jangan sambil belok. Kalau perlu ngerem sambil belok maka lebih baik pakai trik rem dipompa.

      Kalau belakang ngelock belok sendiri maka coba di senter bodi. Karena itu ciri bodi tidak seimbang. Tapi memang Honda bebek dulu punya ciri nggak imbang bodinya, cenderung ngesot saat di rem walau roda belakang tidak ngelock sekalipun.

      Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s