Sumber informasi terpercaya vs hoax menurut fanatik vs open mind banyak juga terjadi di dunia otomotif


Penulis sudah lama ingin membahas soal ini. Jadi teringat lagi setelah ada yang bilang bahwa bio solar merusak mesin itu hoax. Apalagi sekarang rame rame membahas penyebabnya hoax. Rasanya perlu juga membahas hoax di dunia motor.

Beberapa waktu yang lalu penulis diundang bergabung ke sebuah grup. Penulis sendiri saat itu masih trauma dengan grup. Karena grup seringkali tidak terbuka dan cenderung menuduh. Diskusi yang ada jarang serius. Jawaban sering ngawur dan tanpa dasar. Jawab yang serius pun sering juga sumber informasinya tidak jelas.

Penulis diundang ke grup yang katanya open mind. Namun setelah bergabung, yang penulis rasakan sama saja. Grup lebih mengarah ke fanatik yang tidak mau menerima pendapat. Bila senior bilang A, maka semua bilang A, tidak pakai verifikasi, tidak pakai diskusi. Bila ada yang tidak sependapat, maka akan kena bully.

Karena penulis merasa tidak ada manfaatnya berada di grup tersebut, maka penulis memutuskan untuk keluar dari grup. Setelah penulis keluar dari grup penulis bersyukur karena setelah itu penulis menemukan banyak sekali informasi yang menurut penulis tidak benar tapi diyakini benar di grup tersebut. Bully an yang gencar membuat penulis tergerak untuk belajar lebih banyak. Dan setelah belajar sendiri, penulis jadi banyak menemukan bahwa apa yang mereka klaim itu kebanyakan adalah tidak benar.

Hal tersebut tidak terbatas hanya pada grup di Indonesia saja. Apa yang terjadi di grup tersebut juga pernah penulis alami di grup luar negeri. Sama saja, ada bully an, ada yang benar benar percaya dan tanpa melakukan proses verifikasi yang benar. Yang membuat mereka lebih susah lepas dari informasi yang salah adalah karena sumber memberi cara verifikasi khusus. Saat mereka melakukan cara verifikasi yang di share, tentu saja mereka akan mendapat hasil yang sama dengan yang diposting. Mereka baru tahu kebohongan bila mereka melakukan proses verifikasi dengan cara verifikasi yang sudah baku.

 

Di grup grup semacam itu tentu ada yang punya pendapat berbeda. Sering juga ada debat yang panjang antara yang fanatik dengan yang open mind. Namun jarang terjadi yang fanatik bisa berubah pendapat. Yang sering terjadi adalah yang open mind di bully.

Yang menjadi penyebab debat panjang antara yang fanatik dan yang open mind terutama dari perbedaan sumber informasi yang dipercaya. Sumber informasi fanatik biasanya bersumber dari senior, sementara yang open mind bisa berasal dari bermacam sumber.

Susah sekali untuk bisa mengetahui sumber informasi yang dipakai seniornya fanatik. Fanatik sendiri percaya betul bahwa sumber informasi seniornya pasti benar. Fanatik juga menganggap semua sumber informasi selain seniornya sebagai sumber yang tidak dipercaya. Tidak perduli walau sumber informasi itu dari perusahaan besar, dari universitas, dari organisasi besar, dst. Bagi fanatik, pendapat senior lebih utama.

Pendapat senior dianggap tidak bisa diganggu gugat. Bila berargumentasi dengan senior, senior seringkali menggunakan prestise untuk mempertahankan pendapat mereka, misalnya aku adalah ini, aku punya ini, aku pendidikannya ini, aku kerjanya ini. Karena prestise tersebut mereka dianggap pasti benar dan tidak boleh diargumentasi. Yang boleh argumentasi cuma mereka yang punya prestise lebih besar. Menyalahkan pendapat mereka dianggap juga sebagai usaha untuk menjatuhkan prestise mereka.

Ini menjadi yang salah satu alasan penulis keluar dari grup tertentu. Senior yang ada mempertaruhkan prestise sebagai dasar pembenaran suatu informasi. Karena penulis yakin betul bahwa informasi tersebut salah berdasarkan referensi bidang ilmu dari senior tersebut, dan penulis tidak bisa menyalahkan tanpa mempengaruhi prestise tersebut (karena dipertaruhkan), maka penulis memilih mundur, keluar dari grup.

Ini beda dari di dunia akademik dimana bukti itu lebih penting. Profesor yang dianggap salah masih tetap akan disegani karena metode yang mereka pakai juga ada dasarnya. Mahasiswa baru pun bisa dianggap benar selama ada dasarnya. Bukan musyawarah mufakat tapi ke penjelasan yang punya logika dan dasar yang jelas.

Penulis sendiri menganggap orang yang ahli sekalipun tidak bisa sempurna. Sebagai gambaran, misal ada orang jual komputer atau pendidikannya komputer atau kerja di bidang komputer. Belum tentu orang tersebut akan bisa selalu benar untuk hal hal yang berkaitan dengan komputer. Bisa jadi salah misalnya karena ada kemajuan teknologi, perubahan teknologi atau hilangnya teknologi. Belum lagi karena bahasannya sangat luas. Untuk bisa benar sering harus dibantu cari referensi referensi. Masalah terjadi bila sang ahli tidak mau pakai referensi atau memaksa pakai referensi lama.

 

Berikut beberapa contoh yang menurut penulis merupakan fanatisme, karena tanpa dasar informasi yang jelas:

Di bidang energi terbarukan banyak sekali yang tertipu hingga miliaran rupiah (orang Indonesia juga banyak yang ketipu) terutama oleh grup free energy. Di grup free energy banyak banget yang percaya bisa membuat alat free energy hanya dengan membuat motor dengan metode sederhana.

Mereka baru tahu mereka tertipu setelah mereka menghabiskan banyak uang dan waktu. Anehnya, sampai sekarang pun grup itu masih tetap ada dan membernya masih pada percaya. Dan ada juga yang walau sudah habis miliaran masih tetap percaya terhadap kebohongan tersebut.

 

Di dunia motor ada soal magnet sebagai penambah tenaga. Penulis sudah coba sendiri pakai magnet. Bila implementasi dilakukan dengan benar, maka pasti bisa dirasakan efeknya. Dan ada grup yang fanatik banget menganggap magnet tidak ada gunanya. Mereka mendasarkan argumentasi mereka pada postingan sebuah majalah.

Penulis tidak yakin majalah tersebut melakukan pengujian dengan benar karena majalah tidak menyebutkan kelemahan dari implementasi magnet. Implementasi magnet tidak selalu berhasil karena ada kondisi yang harus dipenuhi seperti misalnya rasio bahan bakar yang wajib irit. Namun percuma melakukan diskusi dengan grup fanatik tersebut. Apalagi karena mereka malas mengkonfirmasi atau mencoba sendiri.

Mereka menganggap sumber informasi selain dari majalah tersebut tidak valid. Walau itu sumbernya dari lembaga resmi. Mereka bilang baru percaya bila ada dyno, namun saat tahu hasil dyno itu adalah laporan tugas akhir mahasiswa universitas, mereka menganggap bahwa laporan itu tidak bisa dipercaya.

 

Lalu seperti yang penulis sudah sebut sebelumnya, soal bio solar. Penulis merasa aneh karena ada yang bilang efek jelek bio solar ke oli mesin itu sebagai hoax. Padahal yang melakukan klaim tersebut tidak cuma pabrikan semacam Mercedes Benz atau John Deree tapi juga dari produsen solarnya sendiri seperti pertamina atau shell. Entah sumber informasi dari mana yang mereka percaya, mungkin dari seniornya. Entah seniornya dapat informasi darimana.

Penulis juga pernah membahas bahwa kualitas motor Honda Indonesia itu jelek. Ada pembaca yang tidak percaya. Padahal yang bilang seperti itu adalah Hondanya sendiri. Tapi masih tidak percaya.

 

Lalu dari soal oli. Penulis menemukan buaaanyak sekali hal yang tidak cocok dengan sumber informasi resmi. Banyak artikel tentang oli yang penulis buat yang isinya membantah pemahaman yang ada di grup tertentu.

Misalnya soal HTHS, banyak banget yang maksa bahwa HTHS itu shear stability. Penulis disuruh baca buku tribology, malah nyatanya di buku tribology itu dijelaskan HTHS bukan shear stability tapi ukuran untuk viscosity. Penulis ungkapkan keterangan dari lembaga standar pengukuran internasional untuk oli ASTM juga tidak dipercaya. Entah sumber macam mana yang bisa membuat mereka percaya.

Lalu juga soal fanatisme ke oli sintetik. Banyak yang bilang mereka pakai oli PAO karena tidak dibuat dari minyak bumi. Mereka pikir dengan pakai oli PAO bakal lebih green. Tapi mereka sendiri tidak mencoba mencari tahu dari bahan apa sebenarnya oli PAO dibuat. Mereka tidak curiga mengapa kok oli PAO itu diproduksi oleh perusahaan petroleum.

Memang benar oli PAO tidak dibuat dari minyak bumi, tapi kan oli PAO dibuat dari gas alam? Gas alam itu masih satu kategori dengan minyak bumi dan diklasifikasikan sebagai sumber daya yang tidak terbarukan. Lebih hijau darimananya?

Lalu soal racun. Mungkin oli PAO lebih tidak beracun, namun kan racun yang ada di oli bekas itu bukan karena bahan olinya tapi terutama karena dari pemakaian?

Juga soal long drain, walau banyak yang bahas soal oli amsoil, kok tidak ada yang bilang bahwa dari amsoilnya sendiri, pemakaian oli motor itu harusnya sama dengan masa pakai yang disarankan pabrik atau untuk produk paling mahal, maksimal dua kali dari masa pakai yang disarankan pabrik? Malah sering ada yang klaim boleh dipakai 10 ribu atau lebih. Kalau ada yang bilang oli amsoil bisa dipakai 25 ribu miles di motor maka itu jelas hoax, ini bisa dibaca sendiri di spesifikasi oli amsoil untuk motor.

Problemnya, mengapa kok informasi yang mudah digali seperti ini tidak ada yang tahu, di grup yang harusnya sudah membahas tuntas masalah seperti ini? Spesifikasi gampang banget di download. Tapi kok bisa kelewatan informasi penting seperti itu?

 

Lalu ada juga yang fanatik pilih oli pakai standar API ini dan itu. Tapi nggak ada yang perduli bahwa di bungkus kebanyakan oli tidak ada sertifikasi dari badan API. Jadi standar API yang ditulis di bungkus itu cuma klaim sepihak dari pabrik olinya, tanpa verifikasi dari badan resminya. Saat ditanyakan ke yang fanatik, jawaban mereka seringnya mereka percaya betul dengan kejujuran dari pabrik oli. Mereka menyarankan oli harus punya standar API ini itu tapi nggak perduli olinya tidak pernah diuji secara standar. Aneh.

Percaya sama pabrik oli juga pilih pilih. Bila soal standar API itu mereka percaya betul sama pabrik oli, soal lain banyak yang nggak percaya. Seperti misalnya soal peruntukan oli. Ada yang pakai oli untuk mesin bensin di diesel atau pakai oli mobil di motor. Bahkan ada yang pakai oli gardan untuk oli mesin. Untuk hal beginian anjuran pabrik tidak digubris. Padahal pabrik oli jelas jelas melarang pemakaian oli diluar peruntukannya, tapi kok tidak dihiraukan.

Contoh lain soal campur oli. Padahal pabrik oli bilang pakai oli boleh campur campur, tapi mereka tidak percaya. Dianggap bahwa oli tidak boleh dicampur dengan yang lain. Top up oli lain tidak boleh. Ganti oli harus oil flush dulu. Padahal produk oil flush yang dipakai merek nggak jelas tetap aja menyarankan oil flush. Ada juga sebaliknya pabrik oli menyarankan oil flush dulu sebelum ganti oli, eh malah dicueki.

 

Nggak cuma di level konsumen saja, ada juga fanatisme yang berkembang di level pabrikan. Misal di soal selera dimana pabrikan menganggap konsumen pinginnya seperti begini, padahal nyatanya tidak begitu sehingga produk jadi tidak laku. Kadang ada yang ngotot juga walau produk tidak laku.

Lalu misal soal pemakaian rem depan di acara safety riding pabrikan motor. Kok ngawur banget diajari kalau ngerem pakai rem depan dulu. Pakai rem belakang dulu dibilang akan menyebabkan jatuh. Padahal faktanya kalau cari video brake crash di youtube yang ketemu adalah orang orang yang motornya langsung tergelincir karena ban depannya lepas grip.

Ada juga kebohongan yang sengaja ditanamkan oleh pabrikan seperti misalnya 4 tak lebih irit, cc lebih kecil lebih irit, padahal penulis mengalami sendiri motor 4 tak 100cc borosnya sama saja dengan motor 2 tak 110cc, bebek tapi konsumsi 1:30 (update: baca postingan lama penulis disebuah forum, penulis bandingkan dengan mio juga, 1:45 bestnya).

Juga soal CBS, banyak hoax yang berkembang baik di website Honda ataupun blog yang bila CBS itu agar pengereman lebih aman. Nyatanya CBS yang dijual di Indonesia itu cuma akal akalan yang tidak sama dengan CBS aslinya di luar negeri. Parahnya, bukannya bikin selamat tapi justru mencelakakan banyak orang. Yang mengeluh karena jatuh karena CBS banyak. Bahkan istri penulis pun sudah pernah jatuh karena rem CBS. Untung bisa dirusak CBSnya sehingga fungsi seperti rem normal.

 

Rasanya wajar bila hoax meraja lela di media online. Di media online rasanya lebih penting senioritas. Nggak penting sumber info darimana. Walau yang jadi sumber info itu sok misterius, merahasiakan sumber informasi, masih juga tetap dipercaya. Yang menyebarkan informasi hoax pun tidak melakukan verifikasi. Saat ditanyakan informasi darimana, bilangnya dari senior. Informasi dari senior dibilang pasti sudah diverifikasi.

Saat dikejar hingga sampai senionya, seniornya sering mengaku mendapat informasi dari sumber yang bisa dipercaya. Mungkin sengaja pilih sumber informasi yang susah didapat atau susah dimengerti. Tapi seringnya setelah diselidiki betul, informasi yang ada di sumber informasi tersebut justru tidak sesuai dengan apa yang suhu senior expert tersebut jelaskan.

Kadang bilangnya dapat info dari sales, atau dari mekanik. Nah, sales dan mekanik itu dapat info darimana? Kok bisa terjadi pabrik aslinya bilang PAO itu beracun sampai ke kita kok jadi tidak beracun? Interval oli Amsoil yang cuma bisa dua kali interval normal pabrikan kok bisa jadi 25 ribu mil? HTHS yang aslinya indikasi kekentalan kok jadi indikasi shear stability?

Nggak penting siapa yang pertama kali salah. Masalahnya kok fakta salah macam itu bisa sampai disebar kemana mana? Kok tidak ada yang melakukan verifikasi?

Sayangnya, ini banyak terjadi.

Informasi sebaiknya diverifikasi. Gunakan banyak sumber dalam menentukan informasi agar bisa tahu informasi yang benar. Pastikan bahwa sumber informasi bisa dipercaya.

Iklan

16 thoughts on “Sumber informasi terpercaya vs hoax menurut fanatik vs open mind banyak juga terjadi di dunia otomotif

  1. Hoax adalah salah satu indikator hilangnya iman…
    Manusia di jaman sekarang semakin sibuk dan menghabiskan waktu ngulik urusan dunia bahkan termasuk hal yang kecil dan remeh sampai mereka lupa besok akan mati… Ada konsekuensi logis yang menunggu di sana…

    Suka

    • habis punya suzuki crystal beli honda supra fit karena katanya irit. Ternyata sama saja, padahal dipakainya pelan, dibawah 70kpj, tapi cuma bisa 1:45 (maaf diralat). Sampai dibengkel minta diiritkan maksimal pol, tetap tidak banyak berubah. Ada yang bilang kalah irit dengan Suzuki RC.

      Saya curiga teknologi karbunya, jadul banget tidak pernah diupgrade, karbu yang ditengah tengah ada klepnya, karbu suzuki/yamaha 4 tak nggak ada itu. Saat itu Honda paling payah tenaganya di kelas 4 tak walau sama sama 100cc. Saat itu busi Honda rata rata hitam sekali.

      Teman juga memperhatikan hal yang sama saat ganti dari Yamaha Alpha 2 tak ke Honda Revo FI , nggak kerasa tambah irit.

      Suka

      • Masa si, ane pernah naik revo 110 boncengan ma temen, gas pol naik turun gunung
        Jatuhnya masih kerasa lebih irit daripada sendirian naik vario karbu yang biasa ane pake waktu itu (vario karbu sekitar 1:38 gas pol naik turun gunung)

        Suka

      • Perlu dibuatkan artikel komparasi keiritan 2tak dan 4tak dgn cc yg sama.. misalnya sama-sama tangki kosong terus diisi 1 liter bensin. Kemudian jalan bareng dengan kecepatan yg sama sampai motor berhenti kehabisan bensin, itu baru valid.!

        Jangan katanya-katanya teman..

        Suka

        • Soal borosnya 4 tak itu pengalaman pribadi. Jadi saya merasakan sendiri. Karena merasa dibohongi, sampai komplin ke dealer. Juga sering mampir ke bengkel minta diiritkan tapi nggak banyak berubah. Mekanik nggak berani setel lebih irit lagi. Sesudah pakai cemenite jadi jauh lebih mendingan, penambahan mungkin sekitar 30% an. Karena sifat cemenite yang butuh kendaraan setelan irit, ke bengkel lagi untuk minta lebih irit lagi. Ditolak lagi karena busi warnanya kuning muda. Sementara yang lain pada hitam atau coklat gelap.

          Karbu jaman supra 100cc tidak bisa disamakan dengan karbu modern setelah jaman Supra X 125.

          Untuk tes lain, sudah ada link di percobaan bro iwanbanaran di komen sebelumnya.

          Suka

  2. Blog ini juga melakukan hoax soal mencampur minyak goreng ke dalam oli, hanya berdasarkan perasaan dan feeling waktu berkendara saja. Apa jadinya kalau pembaca menerapkan ke motornya trus jeroan mesin jadi ambrol semua? Blog ini mau ikut nanggung dosanya? Btw minyak goreng juga macam2 kali, ada yg 2x penyaringan, ada minyak goreng curah di pasar yg gak jelas, dsb. Udah melakukan riset di laboratorium belum hingga berani merekomendasikan mencampurkan minyak goreng ke motor orang? Minyak goreng merek apa juga gak jelas disebutkan.

    Suka

    • Syukurlah bahwa yang share hasil menambahkan minyak goreng ke oli mesin dari belasan orang rata rata hasilnya positif. Mesin lebih halus dan tarikan lebih enteng. Hasil sesuai yang diharapkan. Malah aneh juga ada yang merasakan ganti gigi lebih halus dan lancar.

      Testimoni dari yang pakai minyak goreng sebagai aditif oli mesin sangat positif

      Minyak goreng yang dipakai harus yang dua kali penyaringan. Merek terserah. rasio 5-10%. Mungkin idealnya digabungkan dengan HDEO mineral.

      Tidak ada riset laboratorium, hanya share ide berdasarkan pengalaman pribadi. Samalah seperti ketika awal awal ada yang pakai oli mobil di motor. Tapi nggak setuju banget kalau oli mobil dipakai di motor masa pemakaiannya disamakan seperti di mobil. Kualitas mesin beda, perilaku mesin juga beda.

      Suka

  3. Klep di karbu supra sebenarnya adalah bagian dari sistem choke. Untuk supra pakai tipe butterfly sedangkan yamaha/suzuki pakai tipe piston. Meski berbeda, fungsi choke tetap sama, yaitu untuk memudahkan dalam menghidupkan mesin setelah mesin mati dalam waktu yang lama. Ketika mesin hidup, choke harus dinonaktifkan kembali. Jadi tidak ada hubungannya antara konsumsi bensin dengan tipe choke pada karbu.

    Saya lebih menduga kearah cara berkendara penulis. Sebab di beberapa artikel yg penulis tulis, sering menggeber Beatnya sampai topspeed, begitu pun saat membahas kickdown di mobil matic, terkesan penulis senang dengan kendaraan yang cepat berakselerasi. Ini pun terlihat saat mengeluhkan supra fit yg tenaganya lemah. Bisa menggeber kendaraan berarti kondisi jalan sedang tidak padat & ramai. Kalau seperti itu mengapa penulis tidak berkendara konstan saja di kecepatan tertentu? Mengapa penulis cenderung ingin cepat? Bukankah berkendara dengan kecepatan konstan sudah terbukti lebih irit dalam konsumsi bahan bakar?

    Suka

    • Soal karbu, bentuk karbu Honda selama beberapa generasi tidak berubah. Sementara itu karbu Yamaha dan Suzuki bentuknya sampai aneh aneh. Saya berpikir, choke ditengah itu mengganggu kesempurnaan campuran udara-bensin. Udara dipisah naik dan turun pas sebelum jarum.

      Yang jelas untuk pemakaian yang sama, konsumsi bensin Supra Fit sama dengan Crystal.

      Selain menulis artikel soal akselerasi maksimal, saya juga menulis artikel soal mengendara irit kok. Untuk bisa irit menurut saya kuncinya bukan berkendara konstan tapi mengendarai rpm serendah mungkin di gigi maksimal. Kalau lagi butuh irit, saya jalannya di kecepatan 40km/jam gigi 4, ini memungkinkan di supra setelah pakai busi kaki tiga dan cemenite. Cemenite juga sangat membantu meningkatkan irit dari motor. Saat dipakai kencang pun terasa peningkatan iritnya, mungkin karena untuk gas pol yang sama top speed nambah. Sekarang sih pakai pro capacitor.

      Untuk tenaga, saya membandingkan diatas kertasnya. Karena kalau performa di jalan itu sangat tergantung kemahiran bengkel dalam menyetel. Oh iya, beda generasi beda performa irit-tenaga. Entah apa yang dirubah Honda.

      Suka

  4. Pengalaman saya punya supra 100 iritnya bisa 50-60km/ liter, sdangkan bebek 2 tak rc 100, force 1, f1zr selalu dibawah 30km/ liter, rute dan kecepatan sama, sudah umum lah kondisi begitu di masyarakat. Entah kenapa pengalaman penulis bisa jauh sekali bedanya

    Suka

    • Walau sama sama supra 100cc, beda generasi beda perilaku mesin, yang saya coba boros itu supra fit x kalau tidak salah. Walau bentuk karbu sama, saya pernah naik astrea prima lebih irit dari supra saya.

      RC bukannya terkenal irit ya? Yakin RC100 seboros F1ZR? Atau RC80 yang irit? Kalau force 1 dan f1z r dengar dengar lebih boros dari alfa.

      Yang membuat saya menyebut ini karena waktu itu saya marah betul karena merasa tertipu sama iklan Honda, protes beberapa kali ke bengkel resmi minta dibuat lebih irit tapi tidak banyak beda hasilnya.

      Suka

    • Iya. cara pemakaian beda beda, hasil akan beda. standar ECE tidak akan cocok untuk yang jarang berhenti / antar kota. Tapi bagus juga sekarang ada standar ECE, lebih bisa dipercaya daripada hasil lomba irit.

      Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s