braket hp ditilang itu bukan hoax karena pasal yang dipakai beneran dan bisa dipakai untuk banyak kasus


Sekarang ini blog motor lagi ramai membahas soal tilang karena memasang braket hp. Ada yang bilang itu hoax ada yang bilang itu beneran.

Yang bilang hoax itu mendasarkan pernyatan polisi sebagai berikut, dikutip dari Jenderal bintang dua Kakorlantas Mabes Polri Irjen Royke Lumowa, perhatikan kata yang ditebalkan:
Pesan Berantai ‘Copot Holder HP’ Jelang Operasi Simpatik

Menjelang Operasi Simpatik yang digelar Polda Metro Jaya, beredar sejumlah broadcast message. Salah satunya broadcast message yang menyatakan pengendara yang menempelkan holder ponsel di sepeda motor atau mobil akan ditilang. Hoax or not?

detikcom menelusuri kebenaran isu tersebut ke Kakorlantas Mabes Polri Irjen Royke Lumowa. Jenderal bintang dua tersebut mengatakan hal itu tidak benar. Pihaknya tidak pernah mengeluarkan maklumat terkait holder ponsel yang dipasang di mobil atau motor.

“Itu orang iseng, tidak ada kerjaan. Polri tidak pernah keluarkan pernyataan tersebut terkait operasi simpatik,” ucap Royke saat dikonfirmasi detikcom, Selasa (28/2/2017). “Pernyataan itu tidak salah, sih. Tapi tidak nyambung dengan Operasi Simpatik,” ucapnya

 

Jadi bisa disimpulkan bahwa Polisi tidak pernah merilis informasi seperti itu. Tapi terus apa dong yang diakui sebagai “pernyataan itu tidak salah”?

Kok kesannya pak polisi menganggap bahwa pakai braket/holder hp itu sebagai pelanggaran?

 

Pasal yang dikutip di pemberitaan itu pasal beneran. Bisa di download dari website resmi polisi atau departemen perhubungan. Contohnya berikut ini, silahkan dicari sendiri pasal 279:
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2009 TENTANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN

Pasal 279
Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan yang dipasangi perlengkapan yang dapat mengganggu keselamatan berlalu lintas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan atau denda paling banyak Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah).

Pasal 58
Setiap Kendaraan Bermotor yang dioperasikan di Jalan dilarang memasang perlengkapan yang dapat mengganggu keselamatan berlalu lintas.

Pasal 58
Yang dimaksud dengan “perlengkapan yang dapat mengganggu keselamatan berlalu lintas” adalah pemasangan peralatan, perlengkapan, atau benda lain pada Kendaraan yang dapat membahayakan keselamatan lalu lintas, antara lain pemasangan bumper tanduk dan lampu menyilaukan

 

Kalau menurut website satlantas kebumen, pasal tersebut bisa dipakai untuk banyak kasus.
JENIS PELANGGARAN DAN DENDA

JENIS / BENTUK PELANGGARAN: Memasang perlengkapan kendaraan yang membahayakan : lampu menyilaukan, bemper bertanduk, roda/ban lebih kecil dari ukuran standart pada motor,dll.

PASAL YANG DILANGGAR: Pasal 279 jo Pasal 58

DENDA MAKSIMAL: 500.000,

Jadi pasal itu bisa dipakai untuk banyak keperluan.

 

Kebetulan tujuan dari operasi simpatik kali ini juga ada hubungannya dengan itu:
Operasi Simpatik Semeru 2017, Polisi Hanya Beri Teguran

“Kami mengajak masyarakat melakukan pencegahan terhadap gangguan kecelakaan karena kecelakaan pasti didahului dengan pelanggaran,” kata Iqbal.

Karena pencegahan, maka petugas yang melakukan operasi simpatik akan memberi teguran dan bukan penilangan. Tetapi di lapangan nantinya bakal ada sanksi tilang untuk pelanggaran-pelanggaran yang sifatnya fatalitas atau membahayakan pengendara lain.

 

Fokus pasal 279 adalah “peralatan, perlengkapan, atau benda lain pada Kendaraan yang dapat membahayakan keselamatan lalu lintas”. Sementara fokus operasi simpatik kali ini adalah “pelanggaran-pelanggaran yang sifatnya membahayakan pengendara lain”

Menurut penulis itu matching.

Braket ada kemungkinan ditilang kalau si petugas menganggap itu membahayakan. Penulis pesimis lampu silau new CB150R bakal ditilang walau silau, karena sudah dari pabriknya silau (malas nyetel yang benar). Yang pakai ban cacing sih layak sekali ditilang.

Iklan

9 thoughts on “braket hp ditilang itu bukan hoax karena pasal yang dipakai beneran dan bisa dipakai untuk banyak kasus

  1. lampu ncb nyorot nya jauh banget, terlalu fokus reflektornya
    jadi kalau ketinggian dikit aja setelannya, pasti silau
    sorot lampu ncb juga tidak ada semacam cut off seperti di vario125/150 (lampu led yang paling nyaman dilihat dr depan)

    harusnya ditilang tu, motor2 yang setelan lampunya ketinggian/males nyetel

    Suka

  2. Terutama ban cacing om…
    Bener2 menakutkan baik yg pake maupun pengguna jalan lain…
    Miring dikit dlosor….wkkkk
    Hardbraking dikit pecah ban…wkkk
    Hujan jalanya seperti celeng, sulit belok…wkkk
    Kena jalan lubang dikit, velg jadi angka 8… wkk

    Suka

  3. Pakai hape sebagai navigasi dengan jelas2 ditaruh di dashboard motor itu hal terbodoh di abad 21. Bukannya hiperbola, tapi lihat juga dong sikonnya, apakah ini pertanda para pemakai bracket ginian udah males pakai memori otak buat mengingat peta???!
    Apa bedanya liatin google maps sambil naik motor dengan sms-an sambil naik motor?
    Kalau ada yang kontra ama pasal itu ya fix otaknya kagak dipake.

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s