Kisruhnya angkot vs gojek kok malah yang dibahas angkot vs taksi mobil online dan aturan bakalan mematikan usaha transport umum plat hitam termasuk ojek offline


Penulis bingung dengan “solusi” yang diberikan terhadap kisruh antara angkot dengan gojek, karena kok sekarang yang kena sasaran pembenahan itu malah angkutan umum taksi online seperti Uber, GrabCar, dan Go-Car?

Penyebab Bentrok Gojek Online Dengan Angkot

Awalnya di Tangerang, pada hari Rabu 8 Maret 2017 sejumlah pengemudi ( supir ) angkot berdemo dan menghentikan pengemudi ojek online serta memaksa penumpang ojek online untuk turun. Mereka berpendapat bahwa akhir akhir ini pendapatannya menurun sejak adanya angkutan online dan menuntut pemerintah untuk memberangus jasa angkutan online.

Terlihat bahwa yang diberitakan itu kisruh antara angkot dan gojek. Harusnya yang diselesaikan adalah aturan soal gojek. Sementara itu penulis baca solusi solusi kok rasanya tidak menyebut soal gojek lagi ya? Yang dibahas malah taksi online. Penulis nggak yakin ini bakal memuaskan baik dari sisi angkot atau gojek.

Menurut penulis agak aneh bila angkot itu marah sama taksi online, karena tarif jelas beda. Kalau angkot marah sama taksi online, tentunya angkot juga marah dengan taksi offline juga, kan sama sama taksi mobilnya. Terkesan bahwa kisruh antara angkot dan gojek dibuat sebagai sarana untuk menyingkirkan taksi online

Aturan aturan yang ada jelas bukan untuk menyelesaikan masalah ojek online dan angkot tapi untuk menyingkirkan taksi pribadi. Bisa dilihat aturannya:
Revisi PM No 32 Tahun 2016 Seimbangkan Regulasi Angkutan Umum

Selasa (21/3) lalu Kementerian Perhubungan melakukan sosialisai atas Revisi PM No 32 Tahun 2016. Ada 11 poin revisi dalam PM No 32 Tahun 2016, diantaranya angkutan taksi online dikategorikan sebagai angkutan sewa khusus, kapasitas silinder mesin kendaraannya minimal 1.000 cc, wajib memiliki STNK atas nama badan hukum, wajib melakukan uji KIR, dan akan dikenakan pajak.

Penyedia jasa angkutan sewa online juga harus memiliki tempat penyimpanan kendaraan serta tempat pemeliharaan kendaraan. Selain itu, akan ditetapkan pula batas atas dan batas bawah tarif angkutan sewa khusus (online) serta pembatasan jumlah angkutan sewa yang nantinya akan ditentukan oleh kepala daerah dan Badan Pengelola Transportasi Jakarta.

Aturan STNK atas nama perusahaan dan perusahaan harus punya pool dan bengkel, itu jelas tidak ada hubungannya dengan kepentingan konsumen. Itu jelas untuk menyingkirkan taksi pribadi atau pengusaha taksi modal kecil. Aturan ini cuma menguntungkan pengusaha taksi dengan modal besar.

Aturan pasang stiker ini juga kalau sekarang rasanya masih tidak aman karena sumber permasalahan, yaitu gojek kok malah tidak diselesaikan. Malah bisa bisa jadi sumber pelampiasan, padahal jelas saingan angkot itu gojek, bukan taksi (baik offline maupun online).

 

Peraturan menteri yang dimaksud bisa di download di link berikut:
Link

Disitu sepeda motor tidak dicantumkan. Disebutkan ada 5 jenis pelayanan angkutan orang dengan tujuan tertentu yaitu:

  • angkutan antar jemput: dari pintu ke pintu, plat kuning, minim 2000cc
  • angkutan pemukiman: jalurnya dari perumahan ke pusat kegiatan, plat kuning, minim bus kecil
  • angkutan karyawan: dari lokasi karyawan ke tempat kerja, plat kuning, minim bus umum
  • angkutan carter: angkutan pakai perjanjian, plat kuning, minim bus umum
  • angkutan sewa: sewa dengan tanpa pengemudi, plat hitam, minim 1300cc.

 

Mengapa penulis berpendapat bahwa ini tidak akan menyelesaikan masalah kisruh angkot vs gojek?

Dari sisi angkot, Apa memang angkot bakal puas seandainya gojek bakal dioperasikan perusahaan taksi besar? Kalau tidak salah dulu pernah terjadi kisruh antar angkot dan taksi. Kalau gojek dibubarkan, apa itu artinya ojek yang pakai sarana online bakal hilang? Rasanya tetap bakal ada. Malah jadi tidak terorganisasi. Bisa makin ricuh.

Dari sisi gojek, jelas aturan ini akan mematikan nafkah orang yang mau usaha ojek sendiri. Sangat aneh karena gojek tidak ikutan disebut. Rasanya bakal ada keputusan yang sangat sangat memberatkan yang sekarang ini pakai gojek. Ada kemungkinan seluruh ojek, nggak cuma yang online yang bakalan kena.

 

Menurut penulis adanya usaha online yang terpadu sangat menguntungkan konsumen. Konsumen jadi bisa memilih. Layanan terhadap konsumen juga akan bisa dinilai oleh konsumen sendiri. Nggak perlu harus telpon, kirim surat, buat surat pembaca bila ingin mengeluh layanan. Tinggal taruh rating di aplikasi. Perusahaan juga tidak berat untuk melepas driver yang ratingnya jelek. Ini juga meningkatkan keamanan karena ini membuat rider gojek jadi lebih bertanggung jawab. Karena ada apa apa bisa dilacak.

Kalau usaha gojek dan taksi online ini beneran dilarang, justru bisa timbul bahaya lebih lanjut. Lebih banyak cerita ngeri karena penumpang memilih usaha transport yang tidak terorganisasi.

Penulis setuju dengan yang disebutkan di blog 7leopold7, bahwa seharusnya pemerintah memperhatikan kepentingan konsumen:
Penentuan Batas Bawah Tarif Angkutan Online: Keputusan Berbau Kartel?

JADI, yang harusnya diregulasi itu adalah standard layanan, keselamatan, dan kewajiban fiskal pada pemerintah. Mengenai besarnya cost yang dibebankan ke pengguna, serahkanlah pada kemampuan efisiensi perusahaan.

 

Angkot tetap dibutuhkan, karena jelas tidak semua orang punya akses online. Bisa jadi pilihan bagi yang tidak butuh dikejar waktu dan ingin irit.

Sementara itu gojek bisa jadi pilihan bagi yang ingin cepat dan cukup murah.

Bagi ingin yang naik mobil tinggal pilih antara yang offline atau yang online tergantung mana yang lebih mudah.

Seharusnya aturan dikeluarkan untuk menguntungkan konsumen. Menghapuskan usaha ojek atau taksi plat hitam kolektif justru akan merugikan konsumen, karena konsumen terpaksa harus membayar lebih mahal karena banyak hal. Padahal bisa saja konsumen tidak masalah pakai mobil murah yang irit, tapi terpaksa harus naik mobil mahal dan boros yang bikin tarifnya mahal.

Memang semua kebutuhan konsumen juga bisa dipenuhi oleh perusahaan angkutan umum bermodal besar. Namun jangan sampai pemodal besar saja yang diberi kesempatan untuk mencari penghasilan di bumi Indonesia ini.

Iklan

12 thoughts on “Kisruhnya angkot vs gojek kok malah yang dibahas angkot vs taksi mobil online dan aturan bakalan mematikan usaha transport umum plat hitam termasuk ojek offline

  1. Sementara ini memang regulator (kemenhub) itu salah fokus melihat akar masalah, jadi nggak heran “solusi”nya cuma sekedar menertibkan masalah tarif.

    Padahal, kalau orientasinya kepuasan pelanggan, maka pemda bisa saja intervensi kedalam bisnis dan operasional angkutan umum massal (spt pada contoh Transjakarta).

    Anyway, kekisruhan yg terjadi dlm beberapa pekan terakhir di beberapa wilayah spt pada artikel diatas, sebenarnya juga nggak murni semata menyalurkan aspirasi, ada cerita dibelakang layarnya yg nggak bisa dipublish

    Suka

  2. Di jogja gojek udah selo sekarang, dulu ributnya ama ojek pangkalan, yg agak panas kemarin sempet ada kasus taksi biasa mecahin mobil online, sempet direkam juga sama penumpangnya, tp kalo di tempat2 strategis misal stasiun dll, smua jenis online dilarang

    Suka

  3. Jika tulisan ini memang mewakili kondisi yang terjadi, malah tidak kaget aku. Lha wong sudah kebiasaan, peraturan adalah sekedar memenuhi pesanan atau karena suatu kepentingan kelompok tertentu…

    Suka

  4. Layanan angkutan berbasis online adalah buah dari kemajuan teknologi. Siapa yang cerdik dia yang bertahan..
    Bila menilik ke belakang, angkot pun sebenernya sebuah terobosan teknologi yang akhirnya mematikan usaha dokar/andong..
    Lalu bagaimana untuk mengakomodasi agar angkot tetap bertahan walaupun ada terobosan teknologi baru? Menurut ane, benahi sebenernya sistem angkot itu sendiri.. Selama ini kan angkot sistemnya kejar setoran, itu yang mengakibatkan angkot ugal-ugalan dan seenaknya aja. Penumpang sebenernya banyak yang gerah sama angkot, tapi itu merupakan kendaraan termurah saat ini. Pengendara lain pun gerah dengan ugal-ugalannya angkot..
    Harus buat terobosan sistem yang tidak mematikan angkot, tapi menertibkan, seperti halnya Transjakarta.. Kalau angkot tertib, tentu penumpang pun senang. Gak ada lagi ugal-ugalan, gak ada lagi diturunin sepihak karena penumpang tinggal kita sendiri. Dan yang paling penting gak ada lagi tindak kriminal seperti pencopetan ataupun pelecehan seksual..

    https://cuaprider.com/2017/03/26/kualitas-material-body-cat-dan-stiker-review-suzuki-all-new-satria-f150-fi-setelah-1-tahun-pemakaian/

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s