Rasio rem harus 70/30 atau 75/25 atau 60/40 itu menipu dan membuat orang yang ngeremnya lembek pun dianggap sudah benar


Karena banyak pembaca yang berkomentar bahwa mereka menggunakan metode pengereman dengan rasio. Maka penulis mencoba membahas mengapa penulis tidak pakai metode rasio ini.

Teknik pengereman pakai rasio ini adalah ilmu turun temurun. Kalau dari sejarah, katanya penggunaan rasio untuk pengereman ini sudah diterapkan sejak dari 75 tahun yang lalu. Yang bilang itu adalah thairoadcraft. Berikut kutipannya:
Safety riding mengerem mendadak mendahulukan rem depan itu sangat berbahaya, ngerem tidak bisa pakai angka rasio

thairoadcraft: The front brake can be used for up to 95% of braking in the dry. While on wet surfaces the average estimate is about 50 to 75%. This is the standard recommendation from motorcycle tyre manufacturers and from professional motorcycle Instructors including Police advanced Roadcraft trainers in the UK. This is from 75 Years of combined motorcycle training experience. Thousands of riders who are taught how to stop. Hundreds every day, as part of their Compulsory Basic Training courses in the UK.

thairoadcraft mengatakan bahwa rem depan bisa dipakai hingga 95%. Sementara di permukaan basah antara 50% hingga 75%. Ini katanya adalah standar rekomendasi pabrik ban dan intruktur motor profesional termasuk pelatih polisi di Inggris. Ini katanya adalah hasil dari pengalaman pelatihan 75 tahun. Ribuan rider diajari untuk ngerem, ratusan tiap hari, sebagai bagian dari kursus pelatihan dasar wajib di UK.

thairoadcraft adalah bekas instruktur pelatihan berkendara tingkat advance hingga mengajari polisi juga:
Thai Safe Riding – การสังเกต

Author: thairoadcraft: While touring Thailand on a Motorcycle I made a dear Thai friend who asked me if it was possible to set up a Motorcycle Defensive Riding School in Thailand. This is part of that project. As an Advanced British Motorcycle Instructor it was easy for me to find fault with Thai Driving Skills.

Mission to bring Advanced Rider Training to Thailand

As a British Motorcycle Instructor, Carol Jadzia has spent over 30 years teaching people to ride motorcycles, from Basic introductory lessons to the Advanced level of police Roadcraft. teaching people to British Test Standards and Advanced Defensive Riding skills.

Puluhan tahun yang lalu itu kira kira motornya model berikut ini, depan belakang masih pakai rem model tromol:

Classic-British-Motorcycles.com

Soal rasio ini pendapat intruktur Indonesia macam macam, ada yang saling bertentangan juga, beberapa contohnya:
Tips Naik Motor Ketika Hujan

Saran dari Instruktur Safety Riding Astra Honda Motor (AHM), Hendrik Ferianto, “Kalau dalam kondisi kering kan kalau angka perbandingan 60 (rem depan):40 (rem belakang). Tapi dalam kondisi basah harus sama 50:50. Karena rem depan yang dominan dalam kondisi basah lebih bahaya,”.

Safety Riding – Teknik Pengereman Untuk Bikers.

Secara teori safety riding ada beberapa perbandingan penggunaan rem depan dan belakang. Untuk jalan kondisi kering, ada yang menyebutkan 60:40 untuk rem depan:rem belakang, ada pula yang mematok 70:30 untuk rem depan:rem belakang. Sedangkan pada kondisi jalan basah, hampir keseluruhan menyebutkan 50:50 untuk rem depan:rem belakang.

Pabrikan modern sebenarnya sudah menerapkan perbandingan tersebut dalam pembuatan sepeda motor, untuk membuat pengendara lebih aman dan meminimalisir terjadinya kecelakaan. Bisa kita lihat langsung, jika sepeda motor tersebut menggunakan double disk brake, maka disk depan jauh lebih besar dari disk belakang. Atau jika sepeda motor tersebut masih menggunakan single disk, maka roda depan yang menggunakan rem cakram, bukan roda bagian belakang.

Penjelasan dari teori di atas adalah perbandingan dalam menggunakan rem tersebut, yaitu rem digunakan secara bersamaan tetapi tenaga/daya yang digunakan menganut perbandingan di atas.

Teknik Pengeraman Menggunakan Skutik

Rasio optimum saat melakukan pengereman dalam kondisi jalan yang kering adalah 70% (depan) dan 30% (belakang). Alasannya adalah saat mengerem, sebagian besar berat skutik dan pengendara akan ditransfer ke ban depan. Dan saat kondisi jalan basah rasio pengeremannya berubah menjadi 50/50.

HPN 2016 : Honda Capella Tembesi Berikan Pengetahuan Safety Riding bagi Pelanggan Setia

Salah satu contoh adalah ketika Pak Budi menanyakan cara mengerem motor yang baik bagaimana? Kemudian berapa persen perbandingan penekanan tuas rem antara rem depan dan belakang? Semua peserta tidak ada yang bisa menjawab dengan benar. Ada yang bilang 10% depan, 90 % belakang, ada juga yang bilang 60% dan 70 % (total 130%?), dan lain-lain. Padahal pengereman yang baik adalah rem depan dan belakang ditekan bersama-sama dengan perbandingan 60% depan dan 40% belakang.

Teknik Pengereman, Jangan Biasakan Jari di Rem Depan

Teknik berikutnya adalah pembagian persentase pengereman. Gunakan paduan rem depan dan belakang dalam kecepatan 30 km/h hingga 80 km/h. “Istilahnya combi brake, dalam kecepatan tersebut pembagian rem depan 70% dan rem belakang 30%,” ujar Training Director Jakarta Defense Driving Consulting (JDCC), Jusri Pulubuhu.

“Jika laju motor diatas 80 km/h jangan gunakan rem belakang. Gunakan rem depan. Tarik perlahan, baru kemudian kasih tekanan dan tuntaskan dengan rem belakang jika motor ingin berhenti. Teknik ini berlaku untuk semua tipe motor, baik motor matik dan sport,” tegasnya.

Hal ini akan membuat rem depan tidak mengunci. Jika ada kondisi darurat maka kocok rem, hentakkan ruas jari di rem depan dan belakang secara bersamaan. “Ada dua alternatif jika malas mengocok rem. Pertama motor kekunci dan tabrakan. Kedua beli motor yang sudah ada ABS-nya,” katanya.

Ini Cara Melakukan Pengereman yang Benar Pada Sepeda Motor

“Biasanya, depan lebih kuat dibandingkan belakang. Depan bisa 70, bisa 80, rem belakang bisa tidak dipakai,” ujar Instrukutr Safety Riding Main Dealer Honda Jawa Barat PT Daya Adicipta Mustika (DAM), Aldea Henry. “Kalau dalam keadaan hujan, depan bisa 40, belakang bisa 60. Tergantung situasi. Harus dengan feeling juga, feeling-nya kita harus atur.”

“sebetulnya tahapan pertamanya yang berbahaya. Pas kita mau neken itu yang berbahaya, reflek kita itu harus pas. Cara penarikan (tuas rem)-nya jangan sekaligus. Tapi, makin lama makin kencang. (Kalau) sudah mau finish baru kencang. Karena yang berbahaya itu kalau misalkan sekaligus pengeremannya,” ujar Aldea.

“Mompa rem itu berbahaya. Cara pengereman itu diurut. Kalau misalkan pernah meras baju ya seperti itu. Makin lama makin kuat, enggak disentak, nggak dipompa,” saran Aldea.

 

Penulis bingung juga, angka 70, 60, 50 persen diatas itu sebenarnya mengacu ke apa. Kutipan berikut juga tidak memperjelas.
Potential Notes For CBT Instructors

Dry surface = 75/25, wet = 50/50. (Braking force NOT lever movement).

Angka rasio disebutkan mengacu pada kekuatan pengereman dan bukan gerakan tuas rem.

 

Dari penjelasan diatas, penulis melihat ada 3 macam rasio pada saat pengereman, yaitu:
-1. Berapa centi tuas rem nya digerakkan, seberapa dalam tuas digerakkan oleh tangan/kaki.
-2. Berapa newton tuas remnya ditekan, seberapa banyak tenaga dikeluarkan oleh tangan/kaki.
-3. Berapa newton bannya ngerem.

Dari sisi rider, maka yang mudah diukur adalah yang nomer satu dan dua, kita bisa mengira ngira baik dengan seberapa dalam atau seberapa kuat. Yang nomer tiga ini rasanya tidak mungkin dilakukan.

Rasanya pengereman kalau depan belakang pakai rem tromol

Penulis pernah merasakan beberapa tahun pakai motor yang rem depan dan belakang masih pakai tromol. Di motor model begini, mau bikin roda depan terkunci itu butuh usaha. Kalau nggak keras sekali menekan tuas rem maka roda depan tidak akan terkunci.

Di motor yang seperti ini lebih mudah untuk membuat roda belakang terkunci daripada untuk membuat roda depan terkunci. Di motor model begini memang anjuran untuk menggunakan rem depan lebih keras menekan tuas remnya itu masuk akal. Walau seandainya sama pabrikan ukuran tromol depan dibuat lebih besar dari yang belakang, dari sisi kekuatan terasa tidak jauh berbeda.

Rasanya pengereman kalau depan belakang pakai rem cakram

Penulis pernah beberapa kali merasakan motor dengan sistem pengereman seperti ini. Baik rem depan dan belakang jauh lebih sensitif daripada yang pakai tromol. Ditekan sedikit saja sudah bisa ngelock rodanya. Baik depan dan belakang sama sama mudah ngelocknya.

Di motor seperti ini pakai rasio masih lumayan masuk akal. Namun itu bila kita tidak memperdulikan fakta bahwa sama pabrik motor cakram belakang pasti dibuat lebih kecil dari yang depan.

Rasanya pengereman kalau depan pakai rem cakram belakang pakai rem tromol

Ini yang paling sering penulis rasakan. Di motor seperti ini, perilaku rem depan dan belakang berbeda sekali. Sangat mudah untuk membuat roda depan terkunci, dan tidak mudah untuk membuat roda belakang terkunci. Menekan rem depan dengan tenaga lemah sekalipun sudah bisa membuat roda depan terkunci, sementara itu kalau nggak ditekan keras roda belakang tidak akan terkunci.

Di motor seperti ini, pemakaian rasio jadi saran yang nggak masuk akal. Aneh kalau ada yang bilang rasio pengereman bisa diterapkan di semua motor.

Yang menyuruh mengukur kekuatan pengereman di rodanya lebih nggak masuk akal lagi. Barangkali ada pembaca yang bisa tahu caranya mengukur kekuatan pengereman, barangkali bisa coba sharing. Penulis yakin bahwa rumus pengereman itu bukan 1 + 1 = 2. Mengukur kekuatan pengereman bersamaan nggak bisa dibandingkan atau dihitung dengan dicoba satu satu.

 

Kalau sudah pakai rasio dianggap sudah benar pengeremannya padahal kekuatan yang dipakai terlalu lemah

Dari yang penulis tahu, pengereman maksimal itu adalah membuat daya pengereman mendekati limit dari kemampuan roda. Cara pengereman yang benar bagi penulis adalah membuat roda bunyi seperti saat ABS bekerja.

Berikut ada dua referensi

 

Misalkan tenaga tangan atau kaki yang pas untuk membuat ban mendekati limit itu adalah 20 untuk ban depan dan 50 untuk ban belakang, dengan asumsi motor nya matik dengan rem depan cakram dan rem belakang tromol.

Maka, seandainya orang tersebut menekan rem depan 7 dan rem belakang 3, maka sama intruktur diatas sudah dianggap benar. Walau jarak pengeremannya bablas jauh, saat merasa rasio sudah benar, maka pengendaranya pede saja sudah merasa benar. Menurutnya “kan yang penting rasionya benar, sudah sesuai dengan ajaran intruktur defensive/safety riding”.

Penulis tidak tahu kalau di safety riding itu pelatihan pengeremannya seperti apa. Tapi selama ini penulis lihat video demo pengereman, nggak ada yang bunyinya mirip rem ABS. Kalau nggak ngesrok (karena ban terkunci) ya nggak bunyi (ngerem nggak maksimal)

Ciri orang yang ngeremnya tidak maksimal itu adalah yang bila mengerem rodanya sama sekali tidak berbunyi. Sementara ciri orang yang ngeremnya lembek itu bila tenaga pengereman dari awal sampai akhir konstan atau malah dikurangi. Harusnya, saat grip roda depan jadi bertambah karena motor di rem, maka tuas rem depan ditekan lebih kuat agar daya pengereman bertambah.

Tapi penulis maklum, karena kalau mereka pakai tenaga yang lebih kuat maka resikonya bakal jatuh, karena memang ajaran mengerem pakai depan duluan itu berbahaya.

Dari yang selama ini penulis baca, intruktur safety riding / defensive riding sepertinya tidak ada yang melatih pesertanya untuk mengerem sampai maksimal. Beda dengan defensive driving di luar negeri dimana peserta diwajibkan latihan mengerem maksimal. Cuma problemnya mereka latihan di satu tempat padahal yang namanya jalan grip nya beda beda.

Kekuatan pengereman yang dibutuhkan itu dipengaruhi banyak faktor

Kekuatan pengereman itu antara roda itu seharusnya dipisahkan. Tidak bisa pukul rata disamakan untuk semua kondisi. Kekuatan pengereman yang dibutuhkan pada saat pengereman bisa berubah sesuai dengan kondisi pengereman. Jalan bisa licin, roda bisa licin, ukuran ban bisa beda, ukuran rem bisa beda, distribusi berat motor bisa beda, dengan penumpang bisa beda, dst.

Dengan grip yang beda maka kekuatan rem yang sama bisa terlalu kuat ataupun terlalu lemah. Kalau terlalu kuat jadi resiko ban terkunci, kalau terlalu lemah maka jarak pengereman jadi panjang.

Yang menurut penulis paling penting adalah saat awal mengerem kondisi tidak sama dengan saat pengereman dilakukan. Saat sebelum mengerem bila distribusi berat motor adalah 50:50 maka ban depan akan punya grip yang sama dengan ban belakang, juga 50:50. Disaat mengerem maka bobot kendaraan akan berpindah ke depan sehingga distribusi berat jadi misalnya 70:30, yang artinya ban depan jadi punya grip lebih banyak dari ban belakang.

Distribusi berat ini yang jadi alasan rasio pengereman. Tapi ini juga yang jadi alasan pabrik motor membuat rem depan lebih pakem dari yang belakang. Kalau pabrik sudah mengoreksi, harusnya kita nggak perlu koreksi lagi.

Terjadinya perubahan distribusi berat ini membuat kita harus menyesuaikan kekuatan pengereman berdasarkan kondisi. Kekuatan pengereman di awal harus berbeda dari saat pengereman sudah dilakukan. Oleh karena itu jadi ada anjuran untuk menekan awal rem depan lemah dan menekan berikutnya keras.

Di tahap inilah banyak orang yang keliru. Ada yang menekan terlalu lemah dan seterusnya tetap lemah. Ada yang menekan terlalu kuat dan jatuh. Karena resikonya besar, penulis memilih memakai rem belakang saat grip ban depan masih tidak maksimal.

 

Bagi penulis, menyesuaikan rasio kekuatan depan dan belakang itu nggak penting bila dibandingkan dengan usaha untuk membuat roda depan dan belakang sama sama bunyi cit cit cit cit. Menurut penulis lebih mudah untuk berkonsentrasi untuk meningkatkan kekuatan pengereman sedikit demi sedikit (relatif, karena mengerem itu cepat) sehingga kekuatan pengereman bisa pas.

Penulis sudah tidak memikirkan rasio lagi. Nggak perduli rasionya berapa yang penting depan dan belakang pengeremannya maksimal. Nggak perlu pusing pusing memikirkan rasio, tinggal mengatur kekuatan tangan atau kaki untuk masing masing rem. Latihan dengan menambah sedikit demi sedikit berulang ulang sampai ketemu kekuatan yang pas.

Dalam mencari kekuatan yang pas ini penulis merasakan sangat sangat lebih mudah dan lebih terasa aman saat mengawali pengereman dengan rem belakang dulu. Saat mendahulukan rem depan, memperkuat daya pengereman terasa ngeri dan penulis jadi takut takut. Mencapai bunyi cit cit cit cit bisa, tapi lebih susah untuk penulis daripada bila mendahulukan rem belakang.

 

Update:
Penulis lupa soal rasio waktu jalan basah.

Di beberapa kutipan diatas disebutkan kalau jalan licin rasio pengereman jadi 50:50. Apa itu artinya di jalan licin kita harus menambah kekuatan pengereman belakang dan mengurangi yang depan? Mengurangi kekuatan pengereman roda depan masuk akal, tapi mengapa kok berpikir bahwa grip roda belakang pasti nambah di saat jalan licin? Bukannya roda belakang juga akan berkurang juga gripnya? Juga kok yakin bahwa grip roda belakang bakal sama dengan grip roda depan? Yang lebih masuk akal itu kalau dibilang rasio jadi 30:20 di saat jalan licin.

Ada juga beberapa yang berkomentar kalau boncengan pakai rasio 50:50. Apa itu artinya saat boncengan kita harus menambah kekuatan pengereman belakang dan mengurangi yang depan? Menambah kekuatan rem belakang masuk akal, tapi mengapa kok harus mengurangi ya depan? Bukannya kalau beban makin berat maka grip bertambah? Memang kalau boncengan beban di roda depan jadi berkurang? Yang lebih masuk akal itu bila dibilang rasio jadi 70:60 di saat boncengan.

Tapi karena ngomongnya persen, jadinya yang mendengarkan nggak tahu bahwa kalau di jalan licin kekuatan kedua roda harus dikurangi. Nggak tahu kalau boncengan kekuatan kedua roda harus ditambah.

Itu juga yang membuat mengajari mengerem pakai rasio jadi nggak mengena.

Penulis saat mengerem pakai dua tahap. Bila diasumsikan bahwa 100 itu bikin roda terkunci. 100 rem depan tidak sama dengan 100nya rem belakang, untuk membedakan, penulis pakai satuan d dan b. Angka 100 ini realnya berubah rubah sesuai kondisi.

Kalau penulis mengerem mendahulukan rem depan:
– tahap awal rem ringan, rasio 20d/0b
– tahap berikutnya rem kuat, rasio 99d/99b

Kalau penulis mengerem mendahulukan rem belakang:
– tahap awal rem ringan, rasio 0d/20b
– tahap berikutnya rem kuat, rasio 99d/99b

setelah tahap awal, penulis tidak lengsung tekan 99, tapi dinaikkan bertahap. Di motor matik Honda Beat ESP yang CBSnya dirusak dan Suzuki Spin, mencapai 99 lebih mudah bila mendahulukan rem belakang. Kalau mendahulukan rem depan, kalau memperbesar tekanan terlalu cepat, ban terasa mau lepas gripnya.

Kalau pakai motor yang depan belakang pakai tromol, karena nggak khawatir ban terkunci, penulis lebih memilih pakai kedua rem bersamaan.

Iklan

10 thoughts on “Rasio rem harus 70/30 atau 75/25 atau 60/40 itu menipu dan membuat orang yang ngeremnya lembek pun dianggap sudah benar

  1. Pakai perasaan saja mas.. itu hanya teori tapi juga ampuh diterapkan kok.
    Setiap individu punya cara masing dalam mengerem.
    Kalau masih awam pakai abs justru dianjurkan.. nah kalau sudah mahir/master lebih enak tanpa abs..
    Pengalaman sendiri sih percaya atau tidak yo monggo.

    Suka

    • Tahu ampuh darimana? ampuh bila dibanding dengan apa?

      Memang tiap individu punya cara masing masing, tapi tentunya ada cara yang paling tepat. teknik pengereman yang bagus itu bila untuk newbie pun aman. teknik yang cuma aman kalau mahir itu artinya teknik berbahaya.

      Suka

      • kalo nggak bisa ngerem belajar mas.. ora usah ngeyel
        pake matik wae ndlosor, gimana mau meyakinkan pembaca.. bahwa instruktur safeti riding salah
        yang salah itu situ.. jiahahaha

        Suka

        • sama sama belajar. banyak orang yang mengaku lebih mengerti cara pengereman, tapi begitu ditanya detilnya pada ngeles.

          kalau yang diomongkan sama instruktur SR/DR itu benar, mengapa kok sampai justru malah ada yang celaka setelah mengikuti cara mereka?

          Dasar mereka untuk mengajar juga cuma dari ilmu turun temurun yang tidak diuji ulang kebenarannya. Harusnya yang menyangkut keselamatan orang banyak itu harus ada penelitiannya. Tapi saat saya tanya sumbernya pada ngeles. Di artikel sebelumnya justru saya nemu riset yang isinya menyalahkan ajaran ngawur intruktur safety riding / defensive riding.

          apa memang sudah pernah ada yang menguji jarak pengereman kalau pakai 70/30 dan tidak? Kalau nggak ada, dasarnya apa dong? masa cuma omong doang? cuma main main logika?

          Cara saya simpel, mau mengerem maksimal ya daya pengereman kedua roda dimaksimalkan, seperti sudah dijelaskan di artikel.

          Suka

  2. setuju dengan penulis,, kalau rasio jauh lebih besar rem depan seperti ajaran instruktur itu jauh berbahaya menurutku.. makanya sering banget aku lihat di jalan orang pada ndlosor.. harusnya untuk dapat sim diperketat kaya di jepang.. disini anak sd, emak emak bego, pada jadi raja jalanan padahal ketrampilan riding nol besar… rem pol ya rem depan dan belakang sama sama maksimal donk, walaupun ngeremnya belakang duluan… iya kan?

    Suka

  3. Kemampuan rem menurun seiring dgn penurunan kualitas ban dan tentu kampas rem juga. Perubahan ini kadang terlambat disesuaikan. Selain itu penguasaan kondisi jalan yg berubah juga. Tetap banyak resiko, kuncinya sih selalu berdoa dlm perjalanan.

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s