Mengerem mendadak pun tidak bisa dilakukan tiba tiba, harus dengan halus transisinya, ini kurang ditekankan di safety riding


Penulis kaget juga saat mengetahui bahwa ada beberapa pembaca yang kalau mengerem tidak pakai bertahap. Bahkan ini juga terjadi pada pembaca yang katanya mengikuti alirannya safety riding / defensive riding Indonesia. Oleh karena itu penulis mencoba mengutip dari beberapa sumber untuk mencoba meyakinkan pembaca bahwa kalau mengerem itu harus bertahap.

Di artikel ini penulis tidak mementingkan pembaca waktu mengerem mendahulukan rem yang mana dulu. Bahkan menurut penulis bahasan ini justru sangat sangat penting bagi yang sekarang masih tetap bertahan mengerem pakai rem depan dulu.

Teknik mengerem secara bertahap itu disebut juga progressive braking atau staged braking.

Kebetulan penulis menemukan data g-force perlambatan yang terjadi pada saat sistem ABS bekerja. Data didapatkan dengan menguji G-force saat melakukan pengereman di motor 1000cc BMW, Honda dan Kawasaki. Sistem rem ABS yang dipergunakan adalah Bosch plus, Bosch Enhance dan buatan Honda. Data pengereman digabung pada kecepatan 60mph, untuk bisa menghitung selisih jarak.

ABS Comparison Test | Absolutely Brilliant Stopping, Three literbikes with anti-lock braking systems

Because it’s practically impossible to begin each test from an identical speed, we lined all the data up at 60 mph and calculated stopping distance from that point, as is typical in the industry.


Bisa lihat yang unik di grafik perbandingan kerja ABS tersebut? Yang pertama motor makin pelan kecepatannya makin cepat berhentinya. Yang kedua g-force nggak langsung maksimal tapi naik bertahap.

Menurut penulis ini terjadi karena perpindahan berat tidak terjadi langsung maksimal. ABS akan memastikan bahwa daya kekuatan pengereman tidak akan membuat roda terkunci. Saat pertama di rem, grip roda masih rendah karena beban motor belum berpindah ke depan. Namun karena setelah mengerem bobot motor jadi lebih banyak berpindah ke depan, grip roda depan jadi bertambah. Karena itu daya pengereman bisa ditambah lagi. Karena pengereman ditambah, maka grip bertambah, sehingga daya pengereman bisa ditambah, dan seterusnya hingga daya pengereman melebihi traksi maksimal ban.

Semoga bisa dimengerti. Poinnya adalah grafik tersebut menunjukkan bahwa sistem ABS melakukan daya pengereman dengan bertahap.

Dan di dunia nyata, ini juga yang diterapkan orang yang mata pencahariannya bergantung pada kemampuannya mengerem, yaitu pembalap.

Begini kata pembalap, yang kebetulan mengerem hanya mengandalkan rem depan saja:
Lance Holst, Braking Effectively – Riding Skills Series

A motorcycle’s brakes are both its most powerful component and the most difficult to master. I can say with confidence that even those riders serious enough to go to high-end schools have difficulty getting much more than 50 percent of the braking potential from modern sportbikes.

To get the traction we need for maximum braking requires smoothly rolling off the throttle and then smoothly applying the front brake. If you suddenly chop the throttle and grab the front brake lever in a panicked death grip, so much weight is immediately transferred to the front that the fork actually bottoms out, which not only compromises chassis control, but also front-tire traction. When the front fork bottoms out under braking, so much weight transfer occurs that the rear tire lifts off the ground, which can quickly lead to stability problems, and without any fork travel to absorb bumps while braking, it’s very easy for the contact patch to lose grip. Being smooth is crucial to the bike’s stability, the rider’s confidence and the feeling of control.

While practicing braking technique, begin with early braking points to perfect the sequence without the stress of a fast-approaching corner. Initially, smooth is slow, but as you master the technique, you’ll find you will be able to remain smooth while executing these inputs in an ever-shorter period of time. Keep in mind, however, that doing it quickly is optional-doing it smoothly is not.

Once the weight is transferred forward and the fork is compressed, it’s time to transition to maximum braking, really squeezing the front brake lever (again, smoothly). Build up the level of lever pressure incrementally over many, many sessions, and you should feel the limits of front-tire traction and the rear tire lifting. Don’t rush to find the limit; this is delicate business and the price of exceeding the limit is dear indeed.

I absolutely believe that whatever speed you choose to ride, be damn sure you first have plenty of experience stopping and steering from that speed.

Dikatakan bahwa sistem rem pada motor adalah bagian yang paling hebat dan paling susah untuk dikuasai. Ia, yakin bahwa bahkan pengendara yang saking niatnya belajar di sekolah (motor) paling terkenal sekalipun kesulitan untuk bisa memanfaatkan lebih dari 50% kemampuan pengereman motor sport modern.

Untuk mendapatkan traksi yang diperlukan di pengereman maksimal membutuhkan lepas gas halus dan kemudian tekan rem transisinya juga halus. Jika dilakukan dengan mendadak maka berat akan berpindah secara depan ke suspensi depan, membuat suspensi mentok yang tidak hanya mengacaukan pengendalian bodi motor tapi juga merusak traksi roda. Roda belakang akan jadi terangkat dan akan menimbulkan masalah kestabilan. Tanpa adanya jarak main suspensi lepas kendali akan jadi lebih mudah terjadi. Melakukan pengereman secara halus sangat penting untuk bisa membuat motor stabil, pengendara lebih yakin sehingga bisa lebih menguasai kendaraan.

Saat melatih teknik pengereman, mulai dengan melakukan pengereman lebih awal untuk menyempurnakan urutan pengereman. Pada awalnya mengerem dengan transisi halus itu lambat, tapi semakin banyak latihan akan semakin mudah, sehingga walau dipercepat transisi akan bisa tetap halus. Yang utama adalah transisi yang halus, cepat lambat urusan kedua.

Ketika beban motor sudah berpindah ke depan dan suspensi sudah mentok, maka ini waktunya untuk memulai pengereman maksimal. Tekan tuas rem dengan lebih kuat (namun transisi tetap halus). Belajarlah untuk mengetahui tekanan rem depan yang pas sehingga bisa tahu batas kemampuan pengereman roda dan apakah akan mengangkat roda belakang. Jangan terburu buru mengetahui limit karena ini adalah hal yang riskan dan resikonya besar.

Jadi, intinya ia menggunakan dua tahap, tahap pertama sebelum suspensi mentok, dimana pengereman dilakukan secara lemah, harus dilakukan dengan transisi halus. Tahap kedua sesudah suspensi mentok, pengereman dilakukan lebih kuat namun tetap dengan transisi yang halus.

 

Mengerem secara bertahap juga disarankan oleh website berikut:
British Motorcyclists Federation – Why motorcyclists should try the i2i Machine Control Academy

This just left the technique to use for hard braking, which included a two stage approach to braking on the front. A small amount of brake applied first, a delay to allow the forks to compress and equalise at which point extra brake and weight delivered to the front wheel which would directly transmit to the tyre, spreading out the contact patch and greater grip which allowed much more brake to be used.

Dikatakan bahwa pengereman ada dua langkah. Tekan rem depan dengan lemah dulu, tunggu sampai suspensi mentok dan stabil, dimana di tahap ini penambahan kekuatan pengereman dan bobot yang pindha kedepan membuat kontak roda lebih besar dan roda punya lebih banyak grip sehingga memungkinkan pengereman yang lebih kuat lagi.

 

Yang berikut ini katanya adalah catatan penting untuk intruktur CBT, penganut aliran mengerem mendahulukan rem depan. Karena lembaga pendidikan safety riding / defensive riding Indonesia sepertinya berkiblat ke CBT, harusnya ini menjadi materi yang wajib diajarkan.
How to Become a Motorcycle Instructor Oleh David Harvey, Potential Notes For CBT Instructors

Emergency Stopping:
Dry surface = 75/25, wet = 50/50. (Braking force NOT lever movement).
Five Steps:
1. Accelerator closed
2. Ease front brake on
3. Ease rear brake on
4. Squeeze front brake harder
5. Clutch in & left foot down

Disitu menyebut rasio, yang sudah penulis bahas sebelumnya. Dikatakan bahwa pengereman mendadak dibagi menjadi lima tahap:
Tahap 1. menutup gas
Tahap 2. menekan rem depan secara lemah
Tahap 3. menekan rem belakang secara lemah
Tahap 4. menekan rem depan lebih kuat
Tahap 5. di kopling dan menekan rem belakang lebih kuat

 

Cara bertahap juga diajarkan pada yang menganut aliran mengerem mendahulukan rem belakang.
https://ia800300.us.archive.org/30/items/ERIC_ED189402/ERIC_ED189402.pdf
Motorcycle Safety Education, STATE DEPARTMENT OF EDUCATION MONTGOMERY, ALABAMA, DIVISION OF INSTRUCTION, DRIVER AND TRAFFIC SAFETY EDUCATION

IV. Front and Rear Wheel Braking
A. Seventy percent of the braking power of a motorcycle is in the front wheel.
B. Sequence for using both front and rear brakes
1. Shut off the throttle,
2. Apply rear brake.
3. After the rear brake is applied, gradually supply the front brake.
4. Downshift as necessary when making your stop.
5. Keep throttle closed.

C. Times when front wheel braking should be used cautiously.
1. When front wheel is turned
2. When motorcycle is leaned in a turn
3. When the road is wet sandy, or has loose gravel
4. Always apply the brakes gradually to avoid skid

IV. pengereman depan dan belakang:
A. 70 persen daya pengereman ditentukan oleh roda depan
B. Urutan penggunaan rem depan dan belakang
1. tutup gas
2. tekan rem belakang
3. setelah rem belakang bekerja, tingkatkan kekuatan rem depan secara bertahap
4. shiftdown bila dibutuhkan
5. gas tetap ditutup

C. Saat diamana rem depan harus dipakai lebih hati hati
1. ketika ban depan dibelokkan
2. ketika motor sedang belok miring
3. ketikan jalan basah, berpasir atau ada kerikil
4. selalu tingkatkan kekuatan pengereman secara bertahap untuk mencegak selip

 

Jadi terserah gaya mengeremnya mau mendahulukan yang depan atau yang belakang, kalau pakai rem depan itu harus bertahap.

Penulis adalah penganut aliran mengerem mendahulukan rem belakang. Tahapnya:

  • rem belakang dulu berbarengan dengan menutup gas
  • setelah suspensi mentok, menggunakan rem depan juga, shift down pakai throttle blip bila sempat
  • kurangi atau tambah kekuatan rem sesuai kondisi, agar pengereman maksimal tapi roda tidak terkunci, menekan transisinya dibuat halus
  • kalau pas maka roda akan berbunyi seperti halnya kalau rem ABS tapi lebih sering.
Iklan

9 thoughts on “Mengerem mendadak pun tidak bisa dilakukan tiba tiba, harus dengan halus transisinya, ini kurang ditekankan di safety riding

  1. I absolutely believe that whatever speed you choose to ride, be damn sure you first have plenty of experience stopping and steering from that speed.

    ini juga penting, jangan coba2 tes top speed kl belum berpengalaman mengerem dari topspeed nya
    cobalah ditempat aman secara bertahap

    Suka

  2. Back torque dari engine brake pada saat rem mendadak dipadu dengan ABS sensor menghasilkan kenikmatan sliding yg luar biasa.

    Suka

  3. Sulit ni teorinya…
    Kalo ane biasanya naik motor yamaha cukup menarik tuas rem depan dengan telunjuk, down shift, terakhir injak rem belakang…

    Pernah pake jupiter mx, krn mendadak pake rem depan jadi stoppie, untungnya tak ada kendaraan dari belakang.

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s