Perlindungan konsumen kurang, konsumen rugi, pabrik jadi punya uang lebih untuk bikin acara bikers day atau safety riding


Penulis tergelitik setelah membaca postingan di blog ninja150ss berikut:
Pentingnya Menjaga Sebuah Kepercayaan

Tidak penulis pentingkan mengapa pabrikan mengambil langkah penghematan tersebut, yang penulis pentingkan adalah reaksi dari pabrik motor saat tahu ada masalah.

Kalau di Indonesia seringnya yang harus proaktif adalah konsumen. Yang menanggung biaya adalah konsumen. Bicara soal garansi mesin itu seringnya cuma berlaku untuk partnya, biaya mencopot dan memasang seringnya dibebankan konsumen.

Tentu masih ingat dengan berita soal korban dari arm patah xabre disuruh bilang bahwa klaimnya adalah hoax dan disuruh minta maaf, penulis :
Soal Berita & Viral Arm Xabre Patah, Pemilik Minta Maaf Kepada Yamaha, Infonya Yamaha Siap ke Dewan Pers !

Terlihat ada yang tidak klop dengan isi surat yang ditandatangani dengan isi beritanya.

Suratnya sebagai berikut:

Isi surat asli yang sepertinya disiapkan oleh Yamaha:

Sehubungan dengan viralnya pemberitaan terkait dengan rear Arm Model Xabre d media social baik facebook maupun blogger, maka saya yang bertanda tangan di bawah ini Adalah benar sebagai sumber dari pemberitaan tersebut diatas. Dan dengan ini saya memohon maaf karena sumber berita tersebut tidak benar dan hanya saya dapat dari media sosial tanpa mengetahui kronologis yang sebenarnya. Oleh karena itu saya memohon maaf kepada PT. Yamaha Indonesia Motor Mfg. Serta kiranya semua pemberitaan yang sudah di publish untuk dapat dihapus atau dihilangkan.

Ini surat sesudah dimodifikasi:

Sehubungan dengan viralnya pemberitaan terkait dengan rear Arm Model Xabre di media social baik facebook maupun blogger, maka saya yang bertanda tangan di bawah ini Adalah benar sebagai sumber dari pemberitaan tersebut diatas berdasarkan kejadian yang saya alami sendiri saat berkendara di daerah Indramayu. Oleh karena itu saya memohon maaf kepada PT. Yamaha Indonesia Motor Mfg. Serta kiranya semua pemberitaan yang sudah di publish untuk dapat dihapus atau dihilangkan.

Jadi awalnya Yamaha menganggap itu hoax, lalu pemilik minta itu dikoreksi baru tanda tangan.

Yang membuat penulis bingung adalah penjelasan berikut:

Fakta aktual dan spesialnya, bahwa Mohammad Yusuf mengklarifikasi insiden ini dan terbukti nyata dengan ikhlas tanpa tekanan memohon maaf kepada Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) atas pemberitaan yang terjadi.

Memang salahnya pemilik motor apa? Sharing mengalami kecelakaan itu salah? Mengapa celaka gara gara arm motornya patah tapi kok harus minta maaf ke Yamaha?

Lalu berikutnya:

Lebih lanjut diberitakan, bahwa pihak pabrikan Yamaha akan mengajukan keberatan ke Dewan Pers atas berita yang terjadi menyangkut arm Xabre tersebut. Anyway, memang ini jalurnya hingga akan ada langkah perdamaian dengan berbagai syarat ataupun masuk ke ranah hukum.
“Saran saya, ketika media ambil berita dari medsos atau media sosial harus klarifikasi langsung ke pihak terkait. Bahkan yang sifatnya komprehensif. Itu kedewasaan dalam dunia jurnalistik, “tutur M Abidin, General Manager After Sales & Public Relations PT. Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM).

Padahal ini berita bukan hoax, tapi mengapa kok sampai ada keberatan? Ini dipertegas dengan poin poin selanjutnya:

CATATAN DARI HASIL KLARIFIKASI LANGSUNG KE PEMILIK :
1. Bahwa motor tersebut dibeli second lewat COD di FB
2. Kejadian berlangsung pada bulan Februari lalu saat perjalanan dari Bekasi ke Cirebon
3. Kejadian pada tengah malam setelah hujan
4. Arm patah setelah menghajar beberapa lubang (> 5)
5. Kecepatan sekitar 90-100 km/jam
6. Motor sudah dijual kembali dan kondisi arm sudah diganti milik Vixion
7. Tidak ada satupun media atau blogger yang minta ijin sehubungan berita ini

Yang penulis tahu, ini adalah era keterbukaan. Memang akhir akhir ini rame berita hoax yang merusak image. Tapi ini kan fakta? Apa media atau blogger tidak boleh juga menyebarkan fakta?

 

Ada lagi satu poin yang menurut penulis penting. Di artikel tersebut tidak disebut apakah pemilik kendaraan mendapatkan ganti rugi untuk biaya penggantian swing arm yang rusak. Bukannya pabrik motor harusnya mengganti biaya baik part yang rusak dan biaya penggantian?

Ini menurut penulis menunjukkan betapa lemahnya posisi konsumen di Indonesia. Bahkan untuk komponen yang termasuk garansi mesin sekalipun, walau partnya mungkin gratis, konsumen sering masih harus bayar biaya penggantian. Contoh lain:
Keluhan Owner Adakah Solusi Lebih Baik Untuk Suara Berisik Honda All New CB150R

Selesai servis, yang bikin bingung ternyata terkena biaya yang lumayan besar untuk sebuah tune up, yakni sebesar 150 ribu rupiah. Ketika ditanyakan, bukankah seharusnya termasuk dalam servis garansi? Namun biaya tetap harus dibebankan karena sudah menjalani perawatan berkala ke 4. Tambah mumet… loh kok begitu ya… Padahal masalah awal belum pernah selesai.

Ini beda dengan di negara maju. Kalau di Amerika beda, ada hal yang dianggap membahayakan keselamatan, langsung ada recall karena takut kena tegur NHTSA. Biaya penggantian semuanya gratis. Sebelumya penulis membahas soal recall motor naked Yamaha:

Itu padahal cuma gara gara cat yang bikin licin, di recall juga.

 

Soal swing arm yang kekuatannya kurang pun ada kasus recallnya:
2015-2017 Polaris Slingshot – Safety Recall Report

The design of the casting tool used to produce the swingarm does not adequately prevent shrinkage porosity in a high stress area. This causes the swingarm to have insufficient strength when the vehicle strikes a pothole or other severe event.

Dikatakan bahwa desain dari alat cetak yang dipergunakan untuk memproduksi swingarm tidak memperhitungkan pengurangan kekuatan di lokasi yang harus menahan tekanan tinggi. Ini akan menyebabkan swingarm tidak punya cukup ketahanan ketika kendaraan mengenai lubang atau kejadian ekstrem lainnya.

Kasus recall diatas menunjukkan bahwa swing arm yang bisa patah kena lubang pantas untuk di recall. Soal biaya disebutkan sebagai berikut:

Slingshot will send a Safety Recall Letter to all consumers of record instructing them to present their machine to a Slingshot dealer so that the repair can be performed at no cost to the consumer. The following appears in the consumer letter regarding reimbursement: If you have had this repair performed before you received this letter, you may be eligible to receive reimbursement for the cost of obtaining a pre-notification remedy of the problem associated with this recall.

Dikatakan bahwa penggantian part yang di recall itu gratis dan tidak ada biaya ke konsumen. Dan bila konsumen sudah melakukan penggantian sendiri, konsumen boleh minta ganti rugi biaya penggantian komponen.

Jadi dari kasus siwng arm Xabre yang patah, menurut penulis Yamaha harusnya melakukan recall. Yamaha juga seharusnya mengganti biaya penggantian komponen kepada pemilik motor yang swing armnya patah.

 

Bila recall ini sudah dikeluarkan, maka motor motor yang belum terjual harus sudah diperbaiki sebelum diterima di tangan konsumen. Seperti contohnya di motor BMW berikut:
BMW Motorrad R 1200 RT (K52, 0A03/0A13) with Dynamic ESA as optional extra, Replacing Rear Spring Strut Notice of Recall

Under the National Traffic and Motor Vehicle Safety Act of 1966, as amended, if a recall campaign is announced by BMW NA, dealers must ensure that all recalls on vehicles and new items of replacement equipment are completed BEFORE delivery to the consumer. This means that dealers may not legally deliver new vehicles or new items of replacement equipment to consumers with an open recall.

The Safety Act also prohibits dealers from selling or leasing the vehicle or item of replacement equipment, unless and until the open recall has been completed BEFORE delivery. This also pertains to motorcycles in the Certified Pre-Owned program, and to items of replacement equipment. Finally, BMW motorcycle dealers should not sell or use parts that have been recalled by BMW Motorrad USA.

Jadi dari sisi pabrikan, recall ini bisa menimbulkan biaya yang sangat besar. Selain untuk biaya penggantian, pabrik juga harus menanggung rugi biaya part yang sudah terlanjur diproduksi dan biaya untuk part yang baru.

 

Tidak adanya recall dan pembenahan ini rasanya yang membuat pabrik motor di Indonesia menjadi lebih makmur daripada di luar negeri. Nggak perlu melakukan recall, dan kalau ada kejadian rusak, biaya penggantian part dibebankan ke konsumen. Konsumen juga harus menunggu lama untuk part. Nggak ada prioritas.

Pabrik motor jadi punya dana lebih untuk kegiatan marketing. Jadi bisa punya dana lebih untuk melakukan acara hura hura semacam bikers day dan safety riding. Acara tersebut toh cuma bisa dihadiri sebagian kecil dari pemilik motor. Biaya rasanya nggak akan sebesar bila harus melakukan recall untuk part yang misalnya sudah terbukti tidak tahan dibuat menghajar lubang.

Ini tidak terjadi di satu merek saja, di merek lain juga bisa terjadi. Intinya adalah perlindungan konsumen di Indonesia masih lemah.

 

Bagi yang punya kesempatan ikut acara hura hura bikers day dan safety riding, mungkin kalau protes takut nggak diundang lagi, paling tidak sempatkan waktu untuk berdoa bagi mereka yang jadi korban seperti diatas. Atas pengorbanan mereka lah bro/sis bisa menikmati acara hura hura tersebut.

Daripada acara bikers day, menurut penulis akan lebih menguntungkan konsumen bila semua masalah yang timbul karena cacat produksi benar benar bisa gratis semuanya. Lebih baik lagi bila produk selanjutnya bebas dari masalah yang sama. Lebih baik lagi bila tidak ada cacatnya.

Daripada menggelar acara safety riding, menurut penulis lebih menguntungkan konsumen bila memastikan bahwa produknya benar benar aman. Jangan sampai korban sudah banyak tapi tetap tidak dibenahi. Jangan sampai produk baru juga masih pakai part atau fitur yang sudah diketahui berbahya.

Untuk blogger, peristiwa ini menunjukkan pentingnya untuk juga menyertakan link ke sumber berita. Mungkin ada yang takut ratingnya turun kalau menyertakan link aslinya. Menurut penulis itu hoax. Menurut penulis menyertakan link asli justru akan membuat kredibilitas website di search engine makin meningkat.

Iklan

25 thoughts on “Perlindungan konsumen kurang, konsumen rugi, pabrik jadi punya uang lebih untuk bikin acara bikers day atau safety riding

  1. ahaha jadi ilang feeling aku ke yamaha indonesia… baperan amat sih… ya udah ga lagi lagi beli produk yamaha ah.. terakhir bingung mau mt250 atau estrella.. yah karena yamaha udah ga kaya dulu lagi kualitasnya yah jadi beli estrella aja… padahal dulu aku fanatik yamaha lho dari rs100 sampai terakhir old vixion..

    Suka

  2. Yang perlu diganti itu si ABIDIN itu.
    Jabatan boleh GM tp ucapannya ke media ndak ada bedanya dengan pensboy garis keras.
    Untuk kelas spare part, Yamaha ini masih bagus sebenarnya. Masih sering direkomendasikan buat menggantikan HGP utk mereka yang ragu dengan kualitas aftermarket.

    Suka

  3. Muke gile lu yamaha, perasaan yg populerin istilah recall kan elu. Kenape gak sekalain ja recall, ganti arm xabre pake old r15.

    Suka

  4. Secara cost to impact ratio utk brand awareness merek&brand mereka akan jauh lebih nguntungin bagi mereka klo bikin bikers day gede2an ato safety riding workshop, bikin 2 acara itu gaung & kehebohannya bisa jauh lebih bermanfaat BUAT MEREKA sebagai perusahaan daripada jumlah uang yg sama (ato bahkan lebih besar) yg harus mereka kluarin untuk recall parts bermasalah ribuan unit motor yg klopun udh dikerjain ga bisa dipublish se-membanggakan/ berkesan sepositif acara klise macam bikers day & safety riding course.

    Jadi utk cost yg sama perusahaan yg orientasinya bisnis banget pasti bakal prioritasin acara seseruan tadi daripada ganti parts, apalagi klo:
    1. Parts emang ga sempurna tp ga fatal2 amat lah & ga bisa diliat langsung defect /dampaknya di motor, misal ada arm yg memang relatif rapuh tp slama jarang kena benturan ga akan knp2 kok.
    2.masih bisa berkilah kasuistis, ga smua unit bgini kok
    3. Recall parts itu sensitif & bisa bikin image sangat tercederai klo dilakukan, jd lbh wise diem2 saja dulu, ditangani diam2 hanya bila ada customer yg komplain

    Suka

    • Iya, setuju. recall vs acara hura hura secara image dan keuntungan bagi pabrikan memang jelas bedanya. Masyarakat Indonesia juga cenderung memaafkan cacat dan lebih memperhatikan / sharing hura huranya.

      Suka

  5. Dikira tim hukum yamaha, publik tdk baca berita apa. Lihat saja nanti persepsi publik terbentuk bagaimana ke yamaha. Tetap saja hakim tertinggi adalah pengguna.

    Suka

  6. yamaha sinting, honda aja yang motornya klotok-klotok dan sering dikomplain, gak nuntut konsumennya minta maaf, malahan tensionernya diganti gratis di ahass, lha ini swingarm gak kuat melibas lubang, ini indonesia bung, jalanan indonesia buanyak lubangnya, jadi swingarm mesti kuat melibas lubang macam apapun dong, apalagi xabre kan harganya lumayan 30 jutaan, mestinya swingarmnya lebih bagus dari motor yang 20 jutaan.
    bang cahyo bikin artikel ini gak takut disuruh bikin surat permintaan maaf sama yamaha hehehe

    Suka

  7. Recall? Mending ga usah om, ane punya r25 ikut recall pertama, ganti gear pompa oli dan laher rumah kopling alhasil malah fuel dilution; oli bercampur bbm. Udah komplain tapi bak angin berlalu… Dan anehnya user/ rider r25 percaya kalo itu normal…

    Suka

  8. Motor Yamaha yg bermasalah kok kebanyakan yg lahirnya di Indonesia yak? Coba bandingkan motor yamaha yg lahirnya dinegara lain se ASEAN, kayak Nouvo-X di Vietnam misal, Yamaha X1 Thai, keknya mereka lebih jarang nemu masalah, beda klo yg buatan indo.

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s