Lebih efektif mana antara meningkatkan dan memperbaiki fitur keselamatan motor atau buat kursusan safety riding?


Akhir akhir ini sering ada acara kursusan safety riding yang dilakukan oleh pabrikan motor. Memang bagus bahwa pabrikan memberikan pelatihan kepada pemilik motor. Namun penulis tidak melihat usaha yang sama dilakukan terhadap motornya. Ada fitur keselamatan, tapi terkesan lebih sebagai sarana marketing saja. Sementara itu fitur yang sebenarnya bisa ditingkatkan keamanannya tetap dibiarkan saja. Perlu dipertanyakan sebenarnya untuk konsumen lebih efektif mana antara mendapat pelatihan atau motornya yang dibenahi.

Mungkin lebih mudah bila pakai contoh. Contohnya adalah banyak lady biker yang salah dalam mempergunakan lampu sein. Sein kiri tapi belok kanan atau sebaliknya. Seperti contohnya berikut ini, ngawurnya kompak:
Dua Emak-emak Bareng Sein kanan tapi Belok Kiri

Masih banyak lagi video atau cerita yang sama di bonsaibiker.com. Ada yang juga yang sampai celaka gara gara perilaku tersebut. Jadi problem ini merupakan problem keselamatan yang serius.

Ada paling tidak dua solusi yang bisa diberikan, yang pertama adalah pendidikan kepada lady biker. Pabrikan motor sudah bagus membuat acara kursusan safety riding khusus untuk lady biker. Tapi rasanya nggak mengena karena yang hadir tentunya nggak sebanding dengan jumlah lady biker secara keseluruhan, bisa jadi kurang dari 1%. Lebih mengena bila ini dilakukan pakai media semacam iklan TV, lebih bagus lagi kalau di prime time. Tapi tentunya ini mahal, lha wong iklan motornya saja jarang, apa ya mau pabrikan motor bikin iklan layanan masyarakat.

Yang kedua adalah pabrik motor memastikan bahwa pemakaian lampu belok jadi lebih aman. Karena lady biker biasanya pakai motor matik, maka paling tidak di motor matik yang dibenahi. Menurut link berikut, motor matik yang paling laris adalah Honda Beat, Honda Vario, Honda Scoopy, Yamaha Mio M3 dan Yamaha NMax.
Cari Skuter Matik Terlaris di Awal Tahun, Ini Daftarnya

Indikator lampu belok dari masing masing motor ternyata nggak ada yang benar benar sip:
Di Honda Beat sudah ada tanda di tombol sein, tapi indikator sein cuma satu:

Di Honda Vario indikator sein ada dua, tapi posisi ada di bawah:

Di Honda Scoopy indikator sein cuma satu, posisi juga ditaruh paling bawah:

Di Yamaha Mio M3 indikator sein cuma satu:

Di Yamaha NMax indikator sein ada dua, tapi rasanya posisi terlalu dekat:

Suzuki Address indikator cuma satu, posisinya di bawah:

TVS Dazz indikator ada dua, tapi posisinya di bawah:

 

Dari beberapa contoh diatas tidak ada yang sempurna. Seharusnya untuk lebih aman posisi indikator sein ditempatkan di paling atas sehingga pengendara tidak perlu terlalu menunduk untuk melihat. Kan katanya kalau safety riding pengendara perlu selalu waspada di sekitar, jadi harusnya indikator lampu belok ini didesain sehingga bisa diketahui dengan mudah hanya dengan melirik saja. Ini juga akan mengurangi terjadinya resiko orang lupa tidak mematikan lampu sein. Lampu sein yang menyala tidak pada tempatnya bisa membuat orang celaka.

Lalu untuk indikator mestinya tidak cuma satu. Indikator mestinya ada dua sehingga pengendara bisa lebih sadar bila misalnya melewati jalan yang butuh belok beberapa kali. Ini juga mengurangi resiko lady biker salah menyalakan lampu sein.

Menurut Honda tombol sein lebih penting dari klakson sehingga posisi tombol klakson dinaikkan, dan posisi tombol sein diturunkan, penulis tidak setuju. Untuk keadaan darurat, justru tombol klakson yang harus mudah dijangkau. Yang justru lebih penting adalah menempatkan indikator sein di tempat yang mudah dilihat dan tidak cuma satu saja. Namun justru ini yang tidak dilakukan padahal sudah niat buat semboyan #Cari_Aman.

Membuat lampu indikator belok jadi cuma satu saja tentu mengirit biaya. Daripada bikin acara kursusan yang cuma dihadiri kurang dari satu persen pengendara, dari sisi safety riding dari karena pemakaian lampu belok yang ngawur maka untuk pengendara akan jauh lebih efektif bila pabrik motor memperbaiki fitur keselamatan penting tersebut.

Apa mungkin lebih murah untuk pabrikan membuat acara safety riding bagi seribu orang per bulan daripada memperbaiki fitur di motor yang penjualannya bisa 400 ribu per bulan?

 

Fitur keselamatan penting lain adalah spion. Setahu penulis spion itu dianggap penting baik dari peraturan ataupun dari ajaran safety riding. Tapi kok mengapa spion makin lama makin nggak jelas bentuknya?
Galeri: Perbedaan Desain All New Honda Beat eSP Dengan All New Honda Beat Pop eSP

Contoh diatas memang Honda, tapi Yamaha pun sama saja:

Untuk bisa aman pakai spion seperti itu butuh perjuangan. Spion yang ada bukannya mempermudah pengendara melihat sekitar tapi justru menambah masalah keselamatan. Nggak ada niatan safety dalam desain spion seperti itu.

 

Lalu soal lampu. Banyak motor Honda yang setelan lampu depan terlalu tinggi saat motor diterima konsumen. Pemilik mungkin tidak terlalu merasakan. Yang kena getahnya adalah pemakai jalan lain. Menurut penulis akan jauh lebih efektif untuk meningkatkan keamanan motor Honda bagi yang lain dengan memastikan bahwa lampu depan setelannya tidak menyilaukan yang lain. Tapi mungkin beda lagi bila pertimbangannya harga.

 

Contoh lain adalah soal rem. Penulis sebelumnya sudah membahas bagaimana bahayanya rem CBS yang diimplementasikan di motor matik Honda. Salah satu alasan Honda bikin CBS adalah katanya biar lady biker yang mengandalkan rem belakang saja jadi lebih cepat berhentinya. Katanya lady biker takut pakai rem depan karena takut jatuh. Mengapa kok tidak diselesaikan dengan membuat rem depan jadi lebih aman? Dengan misalnya melengkapi rem depan dengan ABS maka tentunya lady biker nggak bakalan takut lagi pakai rem depan. Toh terbukti pabrikan masih bisa cari untung dari fitur ABS. Pabrikan nggak perlu subsidi, tambahan biaya fitur keselamatan toh jadi tanggungan konsumen.

 

Lalu soal tutup rantai. Mengapa kok sekarang rantai motor tidak lagi ditutupi. Sudah banyak korban. Mengapa tidak ada usaha pabrikan untuk membuat tutup rantai yang menarik sehingga pemilik tidak melepas. Lembaga safety riding sudah benar untuk menyuruh orang pakai baju riding yang sesuai, namun karena orang pada tahu bahwa tidak semua orang menuruti, harusnya pabrikan juga melakukan perbaikan pada desain motor sehingga tetap aman walau orang pakai baju apapun.

 

Yang juga berhubungan dengan penumpang adalah bangku jok belakang. Mengapa kok makin dibuat berbahaya? Malah trennya kok pegangan penumpang belakang malah dihilangkan. Selain itu dibuat tinggi sehingga selain naik dan turun susah, pegangan ala safety riding pun jadi berbahaya dan membuat baik pengendara ataupun penumpang jadi mudah capek. Itu ajaran safety riding darimana? Itu #Cari_Aman model apa?

 

Jadi menurut penulis, bagi biker akan lebih efektif bila pabrikan mulai benar benar memikirkan untuk membuat motor lebih aman baik bagi pengendara ataupun pengguna jalain lain. Langkah tersebut akan lebih baik daripada harus menggelar acara kursusan safety riding atau defensive driving yang cuma akan dihadiri sebagian sangat kecil dari pengendara di jalan.

Bila tujuannya adalah untuk mendidik pengendara. Mengapa tidak disertakan saja petunjuk cara mengemudi safety riding baik berupa buku ataupun cd yang baik sebagai bagian dari buku manual yang diberikan ke konsumen saat orang beli motor?

Tapi pastikan informasi yang diberikan adalah yang benar benar sudah teruji dan bukan ilmu nggak ada dasarnya. Jangan menyebar ajaran safety riding yang justru malah mencelakakan orang.

 

Gerakan safety riding atau defensive driving yang dilakukan oleh pabrikan motor terkesan cuma untuk menarik simpati. Sementara itu fitur keamanan yang seharusnya penting di produk mereka malah diabaikan.

Alangkah bagusnya bila lembaga safety riding tidak hanya menyalahkan pengendara saja pada tiap publikasinya. Sekali sekali membuat publikasi protes sama pabrik motor agar motornya dibuat lebih aman. Sama sekalian benar benar menguji ilmu keselamatan mereka nggak hanya modal omong saja.

Iklan

15 thoughts on “Lebih efektif mana antara meningkatkan dan memperbaiki fitur keselamatan motor atau buat kursusan safety riding?

  1. kadang denger mekanik dealer memberi masukan pda konsumen, sama aja kyak omongan sales,,,gk bermutu..
    prnah saya dtanya,,emang saya iseng servis di ahass buat verza…saya bawa oli sendiri fastron hijau,,,
    Mas knapa gk pakai oli standart Honda saja?
    saya balik tanya,,yakin kualitas oli Honda lebih bagus dari fastron? mekanik diam,,hhhahaha,,,
    kalau dia brani ngomong lebih bagus oli AHM,,,saya suruh dia ambil verza di display…saya tantang drag dengan verzaq yg udah jln 20.000KM,,,

    Suka

  2. Dr setiap tulisan penulis, intinya tidak suka dengan merek Honda, tulisan yang panjang lebar hanya pengalihan kesimpulan, sengaja membandingkan dengan merek lain agar kesannya tidak langsung mengarah ke merek Honda, begitu juga ketika membandingkan dengan merek luar, ujung2 nya secara halus tetap anti merek Honda, kaca spion motor yang standar pabrikan masing2 yg sudah bagus, malah dibilang jelek, semua itu baik mau aman, mau nyaman tergantung kita sendiri yang memakai…baiknya penulis bikin pabrik motor sendiri sesuai keinginan, dan jangan memakai merek Honda, jika sepeda motor matik anda masih bermerek Honda, segeralah ganti…#Cari_Aman to….

    Suka

    • sama saja, mau honda, mau yamaha atau merek apapun, nggak safe ya nggak safe. Yang namanya safety feature ya harusnya tidak bikin orang celaka. Buat program safety riding ya harusnya juga meningkatkan safety motornya juga. Kalau fitur motor masih nggak sesuai prinsip safety riding, ya kesannya acara safety riding itu hanya cari alasan untuk bisa menyalahkan rider kalau nanti ada apa apa.

      soal honda beat saya, yang jadi keluhan utama sih mesin, masa ya kalah halus suaranya sama yang lebih tua (spin). Skok juga begitu, masih 10 ribu km sudah ngik ngik. Sama seperti motor Honda sebelumnya.

      soal safety, CBS sudah dirusak, jadi nggak was was lagi bila istri pakai. Lampu sudah saya setel sendiri sejak tahu lampunya terlalu tinggi. Soal spion dan klakson, ya lebih hati hati saja.

      Kalau alasannya dibuat safe nggak bagus, itu tinggal desain saja. toh banyak contoh motor mahal yang tetap saja terlihat bagus walau fiturnya sesuai dengan aturan keselamatan.

      Suka

  3. motor dengan ditur keselmatan paling modern pun.. klo ridernya gak tau safery riding juga percuma itu fitur keselamatan…
    intinya balik lagi ke pribadi masing2..

    Suka

    • Begitu juga sebaliknya, bila ridernya sudah tahu safety riding tapi motornya tidak mendukung juga percuma. Contoh, inti mengendarai safety riding adalah posisi berkendara yang bisa berreaksi cepat, ini butuh motor yang nyaman dan rileks. Kalau posisi duduk model sport, tentunya pengendara nggak akan bisa rileks. Posisi duduk dibuat seperti itu memang keperluannya cuma untuk dipakai di sirkuit. Parahnya ada saja yang memaksakan pemakaian motor sport untuk harian atau bahkan jarak jauh. Dipakai sunmori, dst. Sehingga akhirnya saat sudah capek ada kendaraan yang didepan memakai jalan, bukannya minggir tapi mengerem berlebihan yang menyebabkan motornya tergelincir dan membuat mobil dari berlawanan arah terbang (kasus R25 vs ayla).

      Suka

  4. Saya jga heran, apa sebenarnya filosofi indikator sein satu. Klo soal biaya mgkn iya, tpi ada yg lebih dri itu sprtinya. Brpa rupiah sich buat nambah indikator jdi dua. Harga motor jga tiap 3 bulan selalu naik.
    Pabriknn yg rutin bikin indikator sein 1 kawak, yamaha, suzuki. Honda sbnrnya jarang bkin 1. Dri zaman baheula kbnyakn 2. Mulai dri beat series dibikin 1. Vespa skrg jga 1. Peugot Django jga klo gk salah 1.

    Suka

  5. ya karena sekarang mengejar keuntungan….
    supra fit dan supra x punya 2 tempatnya juga di atas…eh yg matic malah satu…indikator seinnya…
    harusnya kayak mobil2 di eropa,,memanjakan konsumennya,, mulai dr peringatan pintu masih terbuka,, seat belt belum dipakai,, peringatan berpindah lajur,,bahkan otomatis membnarkan posisi mobil bila keluar dr jalur,,abs yg wajib ada,, karena produsen tahu konsumen nya itu macem2…gak smuanya aware terhadap safety dan defensive driving
    ahh kapan konsumen indo dimanjakan fitur keselamatan sepertu ituh

    Suka

  6. Numpang komen lagi ya… abis blognya menarik dan inspiratif, meski sering kali sinis.. :p
    * biar gimana juga motor itu lebih ga safety ketimbang mobil (roda cuma 2, pengemudi/penumpang tidak terlindungi struktur, etc..). Nah, kalo di mobil ada rating NCAP, sementara di motor ga ada (apa ane yg ga tau?).. jadi ga bisa bandingin langsung aspek safetynya.. kalopun ada klaim safety bukan dari lembaga independen..
    *ngapain juga pabrikan ngabisin duit buat bikin kursus safety? Atau menambah fitur safety yg “overkill”..? Ujung2nya juga bakal dibebankan ke konsumen alias menaikkan harga.. Mending pemerintah bikin aturan bahwa salah satu syarat pembuatan SIM adalah lulus kursus/ujian safety.. soal tembak-menembak urusan laen.. 🙂
    *spion ga jelas bentuknya itu maksudnya apa? Kayaknya cuma subyektifitas ente aja… selama memenuhi syarat SNI ttg spion ya sah2 aja… kecuali kalo ente masih nyalahin SNI..
    *lampu indikator sein, IMO, dua lebih baik, satu ya gpp ga gitu ngaruh.. karena sudut antara pandangan ke depan/jalanan dengan pandangan ke panel motor lumayan besar, harus mengalihkan pandangan dari jalan untuk melihat indikator sein.. beda dgn di mobil, masih satu sudut dgn pandangan ke jalan (ada bunyinya pula).. dulu sepertinya ada motor yg seinnya bunyi, terus juga kalo udah slesai belok otomatis sein mati..sayang ga diadopsi.. ane pribadi sering reflek mencet2 saklar sein (off) in case ane lupa matiin lampu sein.. soalnya males lirik2 lampu indikator..
    *hmmmm… tutup rantai yg full? Mungkin perlu juga ditambah semacam sari guard kayak di india, secara masih ada kemungkinan kain masuk ke jari2 motor.. :p

    Suka

    • ha ha.

      iya bagus juga bila ada sertifikasi keselamatan untuk motor juga. Soal keselamatan mestinya konsumen diberi pilihan. Seperti di mobil, mau pilih model pakai ABS atau tidak. Kalau di motor misalnya pilih model spakbor nutup lengkap atau gundulan.

      Untuk spion aturannya berikut ini:
      PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2012 TENTANG KENDARAAN

      Pasal 37
      Kaca spion Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 huruf b harus memenuhi persyaratan:
      a. berjumlah 2 (dua) buah atau lebih; dan
      b. dibuat dari kaca atau bahan lain yang dipasang pada posisi yang dapat memberikan pandangan ke arah samping dan belakang dengan jelas tanpa mengubah jarak dan bentuk objek yang terlihat.

      Tinggal pemakainya merasa jelas atau tidak. Mungkin ada yang bisa jelas walau spion ukuran cuma seukuran sendok, ada juga yang walau seukuran ember. Sama acuannya seperti lampu depan. Ada yang ngaku silau ada yang ngaku nggak silau.

      setuju untuk sein

      Saya lebih menyarankan penutup rantai karena dari contoh kejadian, terjadinya karena terjerat oleh mata gigi rantai dan bukan jari jari.

      Suka

  7. Setuju sih dgn Honda, tombol klakson lebih sering dipencet. Bahkan klakson motor saya ganti dgn klakson kapal. Penting sekali klakson.

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s