Spakbor motor sport itu ternyata pada melanggar peraturan semua


Penulis baru tahu bahwa ternyata spakbor yang ada di motor sport itu melanggar peraturan walaupun tidak di copot. Tapi rasanya untuk yang ini polisi tidak akan berani menilang karena yang salah pabriknya.

Sebagai perbandingan biar lebih paham, berikut foto motor bebek sama foto motor sport:

Dilihat sekilas mungkin tidak terlihat bagian apa yang melanggar. Dua duanya sama sama punya spakbor. Ukuran spakbor juga ok. Namun kalau melihat peraturan, sebenarnya yang motor sport itu melanggar peraturan.

Terus aturan apa yang dilanggar? Itu tertera di peraturan pemerintah berikut:
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2012

Pasal 40:
(1) Spakbor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 huruf e harus memiliki lebar paling sedikit selebar telapak ban.
(2) Spakbor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mampu mengurangi percikan air atau lumpur ke belakang Kendaraan atau badan Kendaraan.

Pasal 35 Komponen pendukung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf j meliputi:
a. pengukur kecepatan;
b. kaca spion;
c. penghapus kaca, kecuali Sepeda Motor;
d. klakson;
e. spakbor; dan
f. bumper, kecuali Sepeda Motor.

Susunan
Pasal 7 Susunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) huruf a terdiri atas:
a. rangka landasan;
b. motor penggerak;
c. sistem pembuangan;
d. sistem penerus daya;
e. sistem roda-roda;
f. sistem suspensi;
g. sistem alat kemudi;
h. sistem rem;
i. sistem lampu dan alat pemantul cahaya;
j. komponen pendukung

Persyaratan Teknis Kendaraan Bermotor
Pasal 6
(1) Setiap Kendaraan Bermotor yang dioperasikan di jalan harus memenuhi persyaratan teknis.
(2) Persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. susunan;
b. perlengkapan;
c. ukuran;
d. karoseri;
e. rancangan teknis Kendaraan sesuai dengan peruntukannya;
f. pemuatan;
g. penggunaan;
h. penggandengan Kendaraan Bermotor; dan/atau
i. penempelan Kendaraan Bermotor.

 

ada tiga batasan yaitu:

  • lebar paling sedikit selebar telapak ban
  • harus mampu mengurangi percikan air atau lumpur ke belakang Kendaraan
  • harus mampu mengurangi percikan air atau lumpur ke badan Kendaraan

Aturan “harus mampu mengurangi cipratan air lumpur ke belakang Kendaraan” rasanya dilanggar oleh semua motor. Boro boro harus mengikuti batasan ke belakang, yang sekarang ini kalau mengikut motor lain saat jalan basah menyipratnya air lumpur nggak cuma ke belakang saja tapi juga keatas. Mengikuti motor lain saat hujan pasti kecipratan air lumpur kalau terlalu dekat. Datangnya air nggak cuma dari atas saja, tapi juga dari bawah.

Aturan “harus mampu mengurangi percikan air atau lumpur ke badan Kendaraan” banyak dilanggar oleh motor sport. Yang merugikan adalah pada saat cipratan air lumpur kena radiator.
Solusi radiator kena lumpur jangan dengan cover atau penahan lumpur tapi mending sambungan spakbor

Aturan lebar paling sedikit selebar telapak ban dilanggar oleh beberapa motor sport. Kalau ini efeknya bodi motor bagian belakang kotor. Kalau soal pemakai jalan lain sih semua motor sama sama menyiprat. Berikut beberapa contohnya:

 

Dari sisi fungsi, kerugian untuk pengendara terutama yang airnya menciprati radiator. Bisa masalah kalau touring atau jalan jauh di musim hujan.

Kalau dari sisi safety, semua motor nggak safety. Semua motor bikin pengendara di belakang terciprati air lumpur. Ini bisa membuat pengendara di belakang helmnya terkotori air lumpur. Yang nggak pakai mika lebih parah, mata bisa kena lumpur. Hati hati sih bisa, tapi repot kalau ada orang ngawur potong potong jalan, masa kita mau motong jalur yang lain juga untuk menghindar air lumpur? Tapi ada juga sih yang celaka hanya gara gara nggak mau bajunya kotor kena lumpur saat jalurnya dipotong motor lain. Entah ajaran defensive driving untuk soal ini bagaimana. Lebih aman sih pasrah saja kena lumpur.

Walau melanggar peraturan, rasanya untuk yang ini tidak bakalan ditilang karena yang salah adalah pabrik dan lembaga uji tipe yang membolehkan hal ini. Paling paling polisi cuma akan menilang dengan pasal 35 saja, nggak bakalan sampai menilang di pasal 40.

Kalau polisi mau menilang pasal 40 juga, sekalian saja mampir di ke seluruh dealer terdekat. Dijamin dapat banyak.

Kalau mau dibenahi, harus dari lembaga uji tipenya. Pabriknya juga harus usaha untuk bikin motor lebih aman, jangan cuma ridernya yang disuruh lebih aman.

30 respons untuk ‘Spakbor motor sport itu ternyata pada melanggar peraturan semua

  1. berarti selebor daun pisang GSX series dibuat dengan pertimbangan pasal 40 ayat (1) di atas donk.. motor modif ban gambot kudunya juga kena tuh, cipratan airnya kemana-mana.

    Suka

    • tapi mengapa suzuki memberikan design spakbor sedemikian rupa hingga spakbor bisa dilepas sebagian hingga mengecil atau bahkan opsi dapat melepas spakbor?
      nah loh.. hahahaha…
      NVA ku nyiprat2 sampe ke jok belakang juga.. Ada rencana mau pasang spakbor pelepah pisang milik NVL atau pasang mudgard aja dan spakbor standar NVA dilpeas dikasi slebor.

      Suka

  2. motor jaman sekarang mah nyari “keren” (entah versi siapa kerennya itu), soal fungsi mah masa bodo, spakbor depan belakang jaminan bikin motor kotor

    Suka

  3. gak tau knp klo kita di belakang motor honda saat hujan pasti cipratan airnya langsung ke motor di belakang ya. beda sama motor yamaha, suzuki, atau kawasaki yg cipratannya langsung turun ketika kena sepatbor

    Suka

  4. Kalau baca aturan perundang-undangan, tidaklah kita membaca seperti buku cerita, karena sudah jelas di atur oleh peraturan perundang-undangan, maka setiap pabrikan sepeda motor semuanya sudah sesuai aturan, dan tidak ada yang melanggar, jika ada yg melanggar, maka tidak mungkin sepeda motor itu bisa dijual ke masyarakat.
    Kata “paling sedikit” dan “harus mampu mengurangi” itu sudah menjadi acuan bagi pabrik, “paling sedikit” berarti ada sedikit bagian yang harus selebar tapak ban, yang artinya walaupun sedikit tapi sudah ada bagian yang di ukur sesuai tapak ban, dan selebihnya pabrik merancang dengan baik supaya terlihat baik,
    “Harus mampu mengurangi” maka yang harus anda cermati adalah kata “mengurangi” bukan kata “harus mampu”, artinya tidak semua harus kena cipratan air dari peletakan dan pengadaan spakbor baik depan atau bagian belakang, kalau anda memaknai dengan kalimat ” harus mampu” saja, berarti pabrikan sepeda motor di berlakukan seperti mobil yang harus bentuknya seperti mobil agar kalimat ” harus mampu mengurangi” itu sesuai menurut anda…itupun Peraturan Pemerintah yang ada baca, yang berarti penjelasan dari Undang -Undang yang terkait, yang artinya Peraturan Pemerintah tersebut dimaksudkan untuk menjabarkan lebih jelas dari sebuah Undang-Undang, jadi tidak mungkin petugas mau menilang kalau sepeda motor yang kita gunakan ada spakbor dari pabrikan, apalagi sampai anda katakan “petugas tidak berani menilang”….. Membaca atura peraturan perundang-undangan secara pokrol seperti penulis sama saja mengajarkan orang lain untuk memahami secara salah, sebaiknya bertanya dulu kepada kawan atau relasi penulis yang minimal mengerti hukum, agar memudahkan penulis memahami maksud dari peraruran perundang-undangan.

    Suka

    • Terus terang saya meragukan apa Honda Beat itu beneran lulus uji emisi suara, atau beda dengan yang diujikan. Kalau knalpotnya sih percaya, hampir nggak ada suara. Tapi berisik mesinnya yang masalah, jauh lebih berisik dari knalpot. Waktu saya terima motor pertama terus terang kaget karena berisik suaranya mengalahkan suara blender.

      Sebelumnya juga pernah ada berita CB150R ditilang gara gara lampunya.

      Kalau logikanya seperti itu, menempelkan kunci T di belakang sudah bisa dibilang spakbor ya? Kan bagian pegangannya sudah lebih lebar dari tapak roda.

      Soal mengurangi, tinggal di tes. di bonsaibiker.com ada contoh bagus:

      Tinggal dilepas spakbornya lalu dilihat ada bedanya atau tidak. Kalau motor bebek diatas sih setelah dilepas bakal beda jauh. Kalau motor sport kok rasanya sama saja dilepas atau tidak. Alias spakbor di motor sport nggak ada gunanya, alias tidak bisa mengurangi lumpur kena radiator. Yang begitu dianggap sesuai peraturan kok aneh. Radiator dan suspensi sampai bisa rusak karena lumpur itu menurut saya rancangan yang nggak sip.

      Sebagai perbandingan, kebetulan ada produk motor yang diajak main lumpur di iklannya. saat di jalan aspal:

      Saat lewat jalan lumpur:

      Diambil dari video:

      Terserah mau sesuai peraturan atau tidak, kalau rider lewat jalan berlumpur ya inginnya radiator tetap bersih, suspensi dan mesin tetap bersih.

      Memang sih pemahaman peraturan bisa diolor olor biar pabrikan kelihatan mematuhi peraturan.

      Suka

      • Alasan aja ini penulis, yg selalu disalahkan lagi2 merek Honda, dan emangnya dari pabrikan naruh kunci T sebagai spakbor, dan aturan yang ada rata2 sudah di ikuti oleh setiap pabrikan ….membaca aturan perundang-undangan dipikir seperti membaca tulisannya sendiri, kalo merasa terganggu sama kurang yakin sama motor matik Hondanya, silahkan anda layangkan protes melalui lembaga perlindungan konsumen, gugat aja sekalian…

        Suka

        • Yang melanggar kan semua motor sport, ya paling paling yang dirubah peraturannya bila digugat. Tapi bagus sih, sekalian nggak pakai spakbor daripada ada spakbor tapi nggak ada manfaatnya.

          Kalau pabriknya cuek nggak mikiri kebutuhan rider, kan gampang, tinggal ditambal kerdus:

          Amit amit jeleknya, tapi toh baik ridernya atau pabrik motornya nggak malu. sama sama maklum.

          Suka

          • Saya lebih sepakat dgn quikverdy, intinya pada kata “mengurangi”.. tentu ada bedanya.. liat aja bagian dalem spakbor blakang misalnya… kotor kan..?? Itu artinya ada sebagian cipratan yg ditahan spakbor… lha ini ente malah kasih foto motor mandi lumpur yang emang kondisi jalannya berlumpur.. are you joking..?? mau menihilkan cipratan ke belakang..??? Ane yakin ente tau jawabnya: ga mungkin, secara ilmiah ente tau kenapa… kecuali ditambal kerdus segede gaban, lebih gede drpd yg di foto atas… jadi, IMO- ga ada yg aturan dilanggar.. keyword: mengurangi.. ada fleksibilitas dan kompromi disitu..
            KECUALI kalau sudah ada aturan teknis yg DETAIL atau SNI mengenai spakbor yg harus diterapkan pabrikan.. selama belom ada SNI, gimana bisa diuji scr kuantitatif..?? Balik lagi, paling cuma diliat mengurangi apa tidak.. itu aja.. tertulis di aturannya emang cuma itu..
            Jadi, silahkan bikin usulan draft SNI spakbor speda motor, ketimbang ente cuma nyalah2in pabrikan atau pak pulisi…

            Suka

            • Ok. Mengurangi itu kadarnya bisa 1 sampai 100%. Standar saya paling tidak 50% lah. Kalau radiator masih kena lumpur / pasir yang saya anggap tidak mengurangi. Memang standarnya kurang jelas, gampang diolor olor. Mungkin untuk bro, yang mengurangi 1% pun dianggap lulus standar ya?

              Suka

            • Oh iya, soal lumpur, saya lebih mementingkan perlindungan terhadap motornya daripada yang ke pengendara di belakang. Karena harusnya itu soal sepele dan tidak sesulit mencegah cipratan ke pengendara lain. Contoh kasus, kalau dijalan kondisi seperti berikut:

              Suka

            • “Ok. Mengurangi itu kadarnya bisa 1 sampai 100%. Standar saya paling tidak 50% lah. Kalau radiator masih kena lumpur / pasir yang saya anggap tidak mengurangi. Memang standarnya kurang jelas, gampang diolor olor. Mungkin untuk bro, yang mengurangi 1% pun dianggap lulus standar ya?”

              ~Lha, emang ente siapa sampe pabrikan harus ikutin standar ente…? Kan udah ane bilang, kalo emang ga ada aturan teknis atau SNI ya gimana acuannya?

              Suka

            • Yang saya tahu sih polisi itu menilang berdasarkan peraturan dan bukan berdasarkan SNI. polisi beda, ya bisa beda juga ukurannya. Saya tahunya cuma dari peraturan diatas saja, kalau punya link petunjuk teknis aturan tersebut silahkan share. Kalau ternyata sesuai SNI ya saya rubah judulnya: walau melanggar peraturan tapi sudah sesuai SNI.

              Suka

            • “Yang saya tahu sih polisi itu menilang berdasarkan peraturan dan bukan berdasarkan SNI. polisi beda, ya bisa beda juga ukurannya. Saya tahunya cuma dari peraturan diatas saja, kalau punya link petunjuk teknis aturan tersebut silahkan share. Kalau ternyata sesuai SNI ya saya rubah judulnya: walau melanggar peraturan tapi sudah sesuai SNI…”

              ~ lha piye to masbro… kan ga ada aturan yg dilanggar..?? (1) Term “mengurangi” itu relatif/flexibel spt komen ane diatas.. (2) kalopun pulisi ngotot nilang, ya itu salah pabtikan spt ente bilang… (3) tapi pabrikan pasti berdalih spt pada pont 1, dan pasti sudah ada sertifikat produk layak jalan..

              SNI memang bukan dasar buat nilang, tapi salah satu parameter suatu produk layak beredar di pasaran apa nggak.. dan untuk spakbor memang belum ada.. kalo spion, ban, helm dan bbrp item lain memang sdh ada SNI.. tapi walau belum ada SNI ane yakin principal pavrikan pasti juga ada standardnya masing2..

              Suka

            • Tidak ada SNI pun rasanya tidak boleh melanggar peraturan. Soal sertifikat laik jalan, terus terang saya meragukan sertifikasinya. Yang saya tahu motor Indonesia itu harusnya lulus Euro 3. Dimana salah satu syaratnya adalah suara motor tidak boleh berisik. Tapi toh kalau di jalan ada saja motor yang konon lulus standar Euro 3 tapi suaranya lebih berisik dari blender, saingan sama truk diesel tua berisiknya.

              Soal aturan, itu tergantung pemahaman masing masing. Pemahaman saya:

              – lebar paling sedikit selebar telapak ban:
              kalau ada bagian yang kurang dari lebar telapak ban ya melanggar.

              – harus mampu mengurangi percikan air atau lumpur ke belakang Kendaraan:
              kalau dipakai lewat jalan becek tetap nggak mengurangi kotornya yang belakang ya melanggar.

              – harus mampu mengurangi percikan air atau lumpur ke badan Kendaraan:
              kalau dipakai lewat jalan becek tetap nggak mengurangi kotornya bagian bodi ya melanggar.

              Suka

  5. Sekarang mah jamannya junjung gengsi, konsumerisme sm hedonisme, bukan jamannya tepo seliro & peduli sm orang laen.

    Gengsi & tampang nomor satu lebih penting daripada esensi & fungsi.

    Ga pduli orang lain rugi/ susah kecipratan, yg penting gw jd lbh keren, lepas spakbor.

    Lampu diganti yg paling terang & nyorot, ga peduli orang dr depan susah ngeliat jalan.

    Knalpot std udh adem2 ganti sm yg berisik ganggu orang, yg penting gw puas bisa paling sangar.

    Klo pabrikan sih cuman manfaatin peluang bisnis, klo skrg yg dicari konsumen gengsi ya dibuatinlah motor yg bisa muasin hasrat konsumerisme mereka biar bisa dianggap tampil keren bergengsi.

    Contohnya spakbor tadi, dengan ngasih spakbor lebar mungkin bagi konsumen skrg bisa dianggap mengurangi ke-keren-an trus jd menciderai angka penjualan, mknya pabrikan main aman, kasi aja yg ga fungsi tp dianggap keren.

    Makanya salut buat Suzuki, secara barang standar dia tetep menuhin regulasi pke spakbor pelepah, tapi juga ngasih pilihan ke konsumen: klo bagi anda gengsi & keren lbh penting dr fungsi silakan saja bisa dilepas koq, tapi do it with your own risk.
    Sudah bukan urusan kita lagi, kita sebagai pabrikan udh kasih yg terbaik yg sesuai aturan.

    Suka

  6. Tertarik melihat diskusi pemilik blog & tamu2nya soal aturan perundangan, sy mo tambahin sudut pandang:

    Esensi peraturan kan ada di manfaatnya ngurangi chaos dari kepentingan banyak pihak yg saling bersebrangan, biar si A kepentingannya bisa terlaksana tanpa merugikan kepentingannya si B maka dibuat peraturan yg membatasi gimn si A & si B bisa masing2 melaksanakan kepentingan tapi tanpa ngerugiin si B atau sebaliknya. Contoh:

    1. Di perempatan lampu merah si naik motor A dari selatan mau ke utara, si B naik motor dari Timur mau ke barat, kalo si A dan si B sama2 ngejalanin kepentingannya tnpa ada aturan/ batasan yg terjadi chaos, mereka ketemu di sana tabrakan, ngagetin, senggolan, makanya dibikinin aturan, batasan berupa lampu merah, A boleh melaju dari selatan ke utara tapi harus diem dulu Selama bbrp meter dr jarak yg ditentukan, Selama beberapa menit yg ditentukan. Bgtu juga sebaliknya.

    Disini aturan hadir secara formalitas-tertulis dlm bentuk undang2 tapi juga hadir dalam bentuk yg lebih penting yaitu secara esensi & fungsinya di jalanan kita itu saat jalanan kota itu dipakai penghuninya.

    Sekarang kita asumsikan, satu bulan kemudian kota itu jadi kota mati, semua penghuninya sudah cabut dari sana, lalu si A sendirian iseng datang kesana, naik motor, dia ktemu perempatan yg sama, dengan lampu merahnya yg masih berfungsi. Dia satu2nya manusia di jalanan itu di kota itu.

    Masih perlu ga dia brenti di lampu merah? nunggu smpe nyala ijo by timer Padahal udah jelas2 dia satu2nya manusia disana? Si A pun akhirnya milih nerobos.

    Secara aturan formalitas tertulis dia melanggar aturan terobos lampu merah, tapi secara ESENSI & FUNGSI aturan dia ga menerjang aturan, dia benar krn ga merugikan/melanggar kepentingan siapapun walau lampu nyala merah dia tetap jalan.

    Nah sekarang soal spakbor, dua2nya bisa benar, tinggal sudut pandang ngeliat nya saja, ada2:
    1. Klo kita mengganggap sisi aturan FORMALITAS tertulis itu lebih penting  daripada sisi ESENSI dan fungsinya si aturan melindungi pihak lain tentu kita ga akan ambil pusing kalo spakbor itu pada REALITAnya masih merugikan kepentingan pihak lain (dlm Hal ini pengendara lain di belakang), yang penting kan sudah sesuai dengan yg TERTULIS di Undang2, lebih lebar dari ban & bisa MENGURANGI, perkara pada prakteknya masih juga nyipratin orang di belakang ya kita ora urus lagi.

    2. Klo kita mengganggap sisi ESENSI dan fungsi aturan itu lebih penting dari pada FORMALITAS tertulisnya ya pasti kita akan protes dan mempertanyakan gimana barang itu bisa tetap keluar, padahal secara Realita di lapangan masih merugikan orang lain. Mungkin bagi golongan yg ini akan lebih puas Dan sreg dgn aturan yg bunyinya diubah, TIDAK mencprati pengendara di belakangnya minimal jarak 70cm misalnya, jadi bukan lagi pakai minimal selebar ban.

    Jadi seandainya pabrikan bikin spakbor yg cuma seukuran sendok juga dibolehkan & lulus uji asalkan pokoknya bisa bikin lumpur & air ga nyipratin orang dibelalakangnya.

    Suka

    • Terima kasih sharingnya. Iya, pertimbangan bisa dari formalitas ataupun esensi. Saya berpendapat untuk spakbor baik secara formalitas dan esensi sama sama nggak sesuai.

      Untuk fungsi sebenarnya bukan cuma untuk orang lain juga tapi juga untuk pemilik. Perlu diperhatikan bahwa secara formalitas ada tiga syarat: lebarnya, cipratan ke pengendara lain, dan cipratan ke badan motornya.

      “lebar paling sedikit selebar telapak ban” ada yang menterjemahkan jadi “boleh ada bagian yang tidak selebar telapak ban”. Anggap saja itu masuk akal, tetap masih jadi pertanyaan apakah keberadaan spakbor model begitu bisa mengurangi cipratan ke pengendara lain atau cipratan ke badan motornya.

      secara esensi, nggak penting lebarnya berapa, yang penting cipratan tidak sampai mengganggu kerja motor. Jangan sampai radiator atau suspensi jadi cepat rusak gara gara kena cipratan lumpur / air kotor / pasir.

      Kalau soal orang di belakang, semua motor begitu. Harusnya sudah paham kalau jalan becek perlu pakai jas hujan murahan. biar nggak kena lumpur motor depan, sama menjaga jarak. Kita jangan memotong jalan orang dan menghujani yang dibelakang dengan air lumpur.

      Suka

  7. Jadi inget astrea grand . dimana ujung spakbor belakang kaya ada bagian seperti ujung topi . Biar pantulan cipratan bisa diredam . Kadang ada pula yg ngakali pake karet penahan cipratan nya truk tp dipotong sesuai ukuran ..

    Suka

  8. […] Motor matik itu nggak bikin kotor baju. Spakbor motor sport itu bagian depan kependekan, bagian belakang nggak berguna. Kalau lewat jalan becek berlumpur, jalan sendirian pun baju bisa kotor. Kaki dan sepatu jadi kotor, yang dibonceng bisa basah semua baju belakangnya. Beda sama matik. Kaki nggak kecipratan, penumpang juga nggak khawatir baju belakang kotor. Spakbor motor sport itu ternyata pada melanggar peraturan semua […]

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.