Valentino Rossi mengeluh soal carcass karena ban motogp sama sama soft compoundnya bisa beda handlingnya bila carcass beda


Penulis sebenarnya ingin membahas soal pemilihan ban di motogp. Penulis tidak menyangka bahwa ternyata topiknya luas banget. Untuk ban saja banyak sekali pembahasannya. Oleh karena itu kali ini penulis ingin membahas hanya soal carcass dari ban Michelin yang dikeluhkan sama Valentino Rossi.

Carcass itu adalah rangka dari ban yang merupakan kemampuan roda untuk mempertahankan bentuk. Sementara itu bagian yang menyentuh jalan adalah compound. Jadi bisa terjadi ban punya carcass stiff tapi compoundnya soft, dan juga sebaliknya.

Contoh dari konstruksi ban:

Penjelasan dari Michelin tentang fungsi carcass:
Michelin Tyre Glossary :

Carcass: The internal part of the tyre that makes up its structure. This is the part that absorbs all of the forces applied to the tyre.

Dikatakan bahwa carcas adalah bagian dalam ban yang membentuk strukturnya. Bagian ini akan menyerap semua gaya yang dialami oleh ban.

Yang dipermasalahkan rossi adalah carcassnya. Kalau dijelaskan secara singkat, berikut komentar rossi soal efek dari carcass:
MotoGP, Rossi: Michelin, bring us just one carcass

Valentino Rossi: “The compounds are needed to adapt to different temperatures but the carcass affects riding”.

Kata Rossi compound dibutuhkan untuk menyesuaikan dengan temperatur, namun carcass akan mempengaruhi (perilaku) berkendara.

Dari penjelasan tersebut, penulis simpulkan carcass ini akan menentukan seberapa banyak roda akan berubah bentuk ketika menerima gaya. Carcass yang soft akan membuat ban mudah berubah bentuk misalnya pada saat pengereman ekstrem:

Karena carcass yang soft mudah berubah bentuk inilah yang kurang cocok untuk Rossi.
Why Rossi must reinvent himself once again

Michelin insists the tyre’s construction is no softer than last year’s but some within Rossi’s crew aren’t so sure. They believe its carcass compresses and deflects too much under load, so when Rossi tries to do what he likes to do, which is brake deep into the corner rather than gently trail-braking, the tyre squishes and won’t support him, so he loses his line.

“Valentino is not so bad braking in a straight line and he’s not bad at full lean, the problem is the transition between the two,” said Galbusera. “being big and gangly can be a disadvantage, because he sometimes overloads the front.

Dikatakan bahwa Michelin ngotot bilang bahwa konstruksi roda tidak lebih soft dari tahun lalu, tapi kru Rossi tidak yakin. Mereka percaya bahwa ban penyet dan mleot terlalu banyak pada saat dibawah tekanan, sehingga saat Rossi mencoba seperti biasa, mengerem ekstrem saat mau masuk tikungan, bukan trail braking, maka roda jadi kepenyet dan tidak bisa menahan sehingga ia jadi keluar jalur.

Rossi tidak mengalami kesulitan di jalan lurus ataupun saat menikung tajama, masalahnya terjadi di transisi keduanya. Badan Rossi yang tinggi kurus bisa jadi kelemahan karena kadang dapat memberi tekanan berlebihan ke roda depan.

Ini dijelaskan lebih lanjut di kutipan berikut:
MotoGP, Michelin: Stability is the Key

“Valentino likes a very stable tire, while our new front moves (flexes) more compared to last year and this has made Rossi uncomfortable. He told us this in the winter test but the other riders approved it. This new front was developed to reduce the vibrations (‘vibration’ is the latest rider-speak for chatter) some riders reported last year.”

“Marc Marquez, Cal Crutchlow and Jack Miller have a more aggressive riding style.”

Dikatakan bahwa Rossi suka ban yang stabil, sementara itu ban depan Michelin mleot lebih banyak daripada tahun lalu, dan ini membuat Rossi nggak pede. Ini dikatakan pada tes di musim dingin tapi rider lain tidak masalah. Roda depan baru (carcass lebih soft) dikembangkan untuk mengurangi vibrasi (chatter). Marc Marquez, Cal Crutchlow dan Jack Miller mengendarai lebih agresif.

 

Berikut penjelasan soal mengapa Michelin merubah carcass ban:
MotoGP: Michelin front tire controversy in Argentina

This “special” tire, the #70 Michelin, is the one that the French manufacturer retired after pre-season testing in late 2016 after the riders—especially Yamaha’s riders—complained that it generated front end chatter. In view of these problems, Michelin decided to keep the new profile that came with this tire, but return to the less rigid carcass used throughout the 2016 season, the #6, and there began Rossi’s problems with a lack of feedback with his Yamaha M1’s front end. when he said that only Rossi and Iannone had complained about the #6 front tire. In Termas, this morphed into a group of 7 or 8 riders, among whom included Marc Marquez, Aleix Espargaró, Cal Crutchlow, Dani Pedrosa and others, who complained about that tire.

Dikatakan bahwa Ban Michelin #70 dihentikan pemakaiannya setelah pengujian pre season dari rider terutama Yamaha mengeluh karena ban depan jadi chatter (vibrasi). Untuk menyelesaikan ini maka Michelin memutuskan untuk mengganti carcass dengan yang kurang kokoh seperti model #6 yang dipakai selama season 2016, dengan sifat lain tetap sama dengan yang sekarang. Ban ini membuat Rossi jadi tidak bisa merasakan feedback dari depan motor Yamaha M1 nya. Asalnya cuma Rossi dan Iannone, lalu beberapa lainnya menyusul.

 

Ketidakpedean rossi dijelaskan di kutipan berikut:
MotoGP: The back story of Valentino Rossi’s crisis

Rossi’s main complaint is of the front tire’s instability under braking. As a very hard braker, he really needs a front tire with a carcass that is capable of handling the tremendous weight transfer load without squirming.

If that tire carcass squirming happens, the entire sequence of braking and throwing the bike into the corner while still trailing the brakes as the rider searches for the apex is drastically affected. It’s a move that needs the rider to perform it with maximum confidence in order to be efficient. The result of that lack of confidence has caused the enormous difference that has been seen between him and his teammate.

Dikatakan bahwa keluhan utama Rossi adalah ban depan yang tidak stabil saat pengereman. Sebagai orang yang mengeremnya sangat ekstrem, ia butuh ban depan dengan carcass yang mampu menahan load transfer yang sangat besar tanpa mleat mleot.

Jika carcass dari ban mleot, maka pengendalian akan jadi terganggu, urutan mulai pengereman, menikung sambil trail braking saat mencapai apex jadi terganggu. Di tahap ini rider butuh kepercayaan diri yang tinggi untuk bisa efisien. Nggak pede ini yang sepertinya memberikan perbedaan besar antara Rossi dan timnya.

 

Sementara itu alasan mengapa rider lain suka dengan carcass yang soft dijelaskan di kutipan berikut:
How does the construction of a Michelin qualifying tyre differ from a race tyre?

Usually, qualifying tyres use a softer carcass because our aim is always to create the biggest contact patch possible, and you’ll get a bigger footprint if the carcass flexes more. In these circumstances that’s okay, because the durability of the carcass isn’t a real concern. Of course, you can’t go drastically different because that would require changing bike settings and teams don’t have time to do that in qualifying. So we play a little with construction but not too much.

Dikatakan bahwa roda untuk kualifikasi punya carcass yang lebih soft karena tujuannya adalah untuk meningkatkan contact patch yang sebesar mungkin, tapak yang lebih besar akan didapat bila carcass mleot lebih banyak. Pada kualifikasi ini boleh karena durabilitas carcass bukan masalah besar. Tentu perubahan tidak bisa banyak karena ini akan mempengaruhi setelan motor dan tim tim tidak punya waktu untuk menyetel pada saat kualifikasi. Jadi setelan carcass dirubah tapi tidak banyak.

Jadi bisa disimpulkan bahwa ban dengan carcass yang lebih soft bakal punya grip yang lebih besar karena ban punya kontak lebih besar karena mleotnya ban akan menambah permukaan kontak ban ke jalan.

Jadi wajar bila pembalap yang tidak mengalami beban di ban depan lebih suka dengan carcass yang lebih soft, karena grip nya lebih besar. Sementara itu Rossi lebih suka carcass yang lebih stiff karena yang soft terlalu mleot yang justru merusak handling.

Jadi grip bisa karena compound yang soft, tapi resikonya cepat aus.
Grip juga bisa karena carcass yang soft, tapi resiko ban jadi gampang mleot.

 

Berikut data rider motogp, sengaja penulis urutkan dari tinggi badan, karena kok yang mengeluh sepertinya pembalap tinggi duluan:
ITA 46, Valentino Rossi, Movistar Yamaha MotoGP, Weight: 65 kg, Height: 182 cm
SPA 41, Aleix Espargaro, Aprilia Racing Team Gresini, Weight: 71 kg, Height: 180 cm
ITA 29, Andrea Iannone, Team SUZUKI ECSTAR, Weight: 67 kg, Height: 178 cm
SPA 25, Maverick Viñales, Movistar Yamaha MotoGP, Weight: 64 kg, Height: 171 cm
GBR 35, Cal Crutchlow, LCR Honda, Weight: 70 kg, Height: 170 cm
SPA 93, Marc Marquez, Repsol Honda Team, Weight: 59 kg, Height: 168 cm
SPA 26, Dani Pedrosa, Repsol Honda Team, Weight: 51 kg, Height: 160 cm

Iklan

7 thoughts on “Valentino Rossi mengeluh soal carcass karena ban motogp sama sama soft compoundnya bisa beda handlingnya bila carcass beda

  1. […] Dari balapan balapan sebelumnya kecelakaan akan banyak terjadi di saat aspalnya dingin karena pembalap terpaksa harus pakai ban soft. Sementara itu sebelumnya pernah dibahas bagaimana ban soft Michelin itu dianggap terlalu empuk oleh pembalap karena rangkanya terlalu soft. Semoga tidak banyak kecelakaan di saat balapan nanti. Valentino Rossi mengeluh soal carcass karena ban motogp sama sama soft compoundnya bisa beda handlin… […]

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s