Enaknya hidup di negara dengan standar emisi semu, yang diuji cuma satu contoh saja dari semua produksi, di negara maju tiap tahun harus di uji


Emisi itu ada dua, satu emisi gas buang, dan satu lagi emisi suara. Yang emisi gas buang sudah benar benar dituruti. Toh kalau nggak mampu, pemerintah baik hati mengolor ngolor waktu implementasi standar baru sampai pabrik motor mau.

Yang jadi perhatian penulis adalah emisi suara.
Selama ini penulis sering mengeluh soal suara motor yang berisik. Bukan dari knalpotnya, karena knalpotnya sekarang sama sekali nggak asik karena senyap sekali. Dengarnya cuma hembusan angin saja.

Yang masalah adalah berisiknya suara yang lain lain seperti misalnya suara mesin, suara CVT, suara rantai, dst. Di jalan suara berisik memang nggak bikin telinga sakit, cuma nggak enak didengar saja. Yang lebih tersiksa lagi saat penulis terpaksa harus mengalami sendiri, punya motor yang mesin dan CVTnya punya bakat kuat untuk bersuara berisik.

Untungnya dengan pakai modif pro capacitor dan oli mesin ditambahi minyak goreng, berisiknya sekarang sudah dalam taraf tidak mengganggu. Sebelumnya di awal awal penulis sempat merasakan terganggu juga. Yang punya pendapat seperti penulis sepertinya sedikit, karena toh terbukti motor yang mesinnya berisik tetap laris. Grup oli pun tidak menganggap berisik sebagai sesuatu yang perlu dibasmi.

Berisik itu sebenarnya sudah ada batasan yang diatur oleh peraturan pemerintah. Namun penulis baru sadar bahwa aturan tersebut ternyata tidak terlalu ketat, atau bisa disebut tidak mengikat.

Aturannya sebagai berikut
Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Tentang Ambang Batas Kebisingan Kendaraan Bermotor Tipe Baru
Emisi tahap ii untuk sepeda motor yang dikatakan mulai berlaku 1 Juli 2013:

Penjelasan kewajiban:

Pasal 3
(1) Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib melakukan uji tipe kebisingan dan memenuhi ambang batas kebisingan kendaraan bermotor tipe baru.
(2) Kendaraan bermotor tipe baru yang diimpor dalam keadaan utuh (completely built-up) dengan akumulasi mencapai lebih dari 10 (sepuluh) unit dari populasi nasional wajib dilakukan uji tipe kebisingan.
(3) Uji tipe kebisingan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) merupakan bagian dari persyaratan teknis dan laik jalan kendaraan bermotor.

Disebutkan bahwa kendaraan bermotor wajib diuji untuk memenuhi persyaratan teknis laik jalan.

Sementara itu batasan dari kendaraan tipe baru:

Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan :
1. Ambang batas kebisingan kendaraan bermotor tipe baru adalah batas maksimum energi suara yang boleh dikeluarkan langsung dari mesin dan/atau transmisi kendaraan bermotor tipe baru.
2. Kendaraan bermotor tipe baru adalah kendaraan bermotor yang menggunakan mesin dan/atau transmisi tipe baru yang siap diproduksi dan akan dipasarkan, atau kendaraan bermotor yang sudah beroperasi di jalan tetapi akan diproduksi ulang dengan perubahan desain mesin dan sistem transmisinya, atau kendaraan bermotor yang diimpor tetapi belum beroperasi di jalan wilayah Republik Indonesia.

Jadi yang perlu diuji adalah kendaraan dengan mesin/transmisi baru, yang ada perubahan desain mesin/transmisi, atau motor diimpor.

Enak banget tuh. Batasannya cuma di mesin/transmisi baru. Tidak disebut soal ECU, soal mapping software, soal knalpot, soal bodi, dst.

Artinya bila ada akal akalan macam seperti yang dilakukan oleh Volkswagen saat mencurangi uji emisi mesin diesel maka di Indonesia dianggap tidak masalah. Toh mesin sama, yang beda cuma softwarenya.

Kasus kecurangan volkswagen itu terjadi karena VW membuat softwarenya bisa mendeteksi pengujian emisi. Saat uji emisi otomatis mesin akan dibuat boros sehingga keluaran NOx jadi berkurang. VW diwajibkan merecall produknya oleh negara yang ketat uji emisinya. Produk yang kena adalah yang pakai mesin TDI seperti mobil merek VW, Audi, Porsche dan Saab.

Di aturan diatas juga tidak disebut apakah ada sampling random untuk kendaraan yang di produksi. Artinya walau nantinya mesin diproduksi dengan kualitas nggak layak ekspor maka tetap saja kendaraan dianggap lolos uji emisi. Karena toh kendaraan yang diuji emisi mesin/transmisinya sama ngeplek persis nggak ada bedanya kecuali dari kualitas mesin yang baik karena dapat impor dari thailand atau china.

Di aturan diatas juga tidak disebut soal kendaraan yang sekarang ini ada di jalan. Jadi artinya walau kendaraannya polusinya jadi amit amit misalnya karena kualitas komponen mesin yang jelek, karena oli mesin yang cuma ngejar bening dan encernya, karena bensin yang nggak sip, maka ya tetap kendaraan dianggap lulus uji emisi. Karena toh kendaraan contoh yang dipakai lolos uji emisi.

Di luar negeri pengecekan dilakukan berkala. Nggak lulus nggak boleh dipakai di jalan motornya.
Vehicle inspection, From Wikipedia, the free encyclopedia

Japan: Under the Japanese shaken program, personal cars and 2 wheeled motorcycles have the first shaken (automobile inspection) last 3 years with every 2 years requiring a new shaken.

Singapore: Motorcycles and mopeds must be inspected annually starting in the third model year.

Nggak adanya aturan untuk pengujian periodik ini yang sip. Jadi nggak akan ada biaya pengujian emisi tiap kalau mau perpanjang STNK. Juga nggak perlu susah payah mencoba merawat atau mempertahankan emisi kendaraan. Mau keluar asap cuek, mau makin boros cuek, mau makin berisik cuek, suara kayak kereta api no problem. Toh satu contoh sempurna yang diuji tipe terbukti lolos hasil pengujian.

Juga ribet bila emisi suara akan diujikan. Lha wong satu Indonesia tempat ujinya cuma ada di AHM saja:

Untuk penulis sendiri sih tidak ketatnya aturan emisi di Indonesia adalah sesuatu yang disyukuri. Toh pembatasan emisi sendiri tidak kelihatan manfaatnya:

Cuma risih juga mendengarkan pabrikan pada mengklaim motornya sudah lulus Euro 3 tapi di jalan motornya pada berisik semua dengan knalpot senyap. Sama sekali bukan selera penulis.

Penulis sih lebih suka kalau knalpotnya yang ada suaranya, yang merdu enak didengar. Mesin dan lain lain dibuat senyap. Jadi berkendara itu jadi sesuatu yang dinikmati, bukan jadi suatu siksaan.

Kalau misalnya pabrikan nggak mampu buat mesin senyap, paling tidak suaranya dibuat lebih merdu sedikit lah.

Iklan

8 thoughts on “Enaknya hidup di negara dengan standar emisi semu, yang diuji cuma satu contoh saja dari semua produksi, di negara maju tiap tahun harus di uji

  1. hooo kayanya motor saya jaman kakek muda dulu mesinnya senyap senyap semua yaaa baik yg 2tak maupun 4 tak, kalo knalpot ditutup bener bener senyap,, jadi asyik di jalan hanya dengar suara knalpotnya saja yg merdu…

    Suka

      • motor terakhir dengan suara enak ya old vixion sama ni GSX 150…mesin senyap,,suara knalpotnya ngebas mirip old vixion,,
        kl NVA,NVL,,sudahlah..mirip verza,CB,CBR,,,mesin sik,,sik,,sik…rantai kricik2,,dari jauh sport skrang terdengar rantainya dulu,,,sport Honda paling parah,,kl yg punya gk ngakalin ya makin berisik..bikin stres….

        Suka

        • Terima kasih infonya. baru tahu beda suara antara old dan new vixion. Kalau suara sik sik, heran juga karena sik sik pertanda nggak pakai forged piston. Untuk rantai, aneh juga karena dulu pernah baca kalau rantai tiger itu ada peredamnya. masa ya mundur?

          Suka

    • cuma membandingkan seberapa ketat uji emisi Indonesia dengan negara maju. Standar Euro 4 yang mewajibkan kendaraan untuk emisinya tetap sesuai walau sudah 20 ribu km bakal susah dicapai untuk pabrikan yang cuma bisa lolos pengujian emisi di Indonesia. Kalau pabrikan di luar negeri sudah fasih karena emisi di cek secara berkala tidak seperti di Indonesia.

      Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s