Agar blog pakai wordpress bisa cepat tanpa overload ataupun time out


Agak keluar topik tapi kok rasanya perlu juga karena blogger motor pada Indonesia hebat hebat, saking ramenya kunjungan pembaca sampai servernya overload. Nggak cuma sekali dua kali saja tapi termasuk lumayan sering.

Banyak blog motor yang memilih program wordpress. Keunggulan wordpress itu adalah plugin yang sangat banyak dan relatif mudah dipakai. Kelemahannya gampang dibobol dan lambat. Lambatnya ini yang bisa jadi masalah kalau websitenya punya trafik lumayan.

Oleh karena itu penulis mencoba membahas apa saja langkah yang bisa dilakukan kalau mau hostingnya nggak pernah overload. Penulis akan bahas kalau servernya biasa, bukan yang ada wordpress acceleratornya seperti yang dibahas di link berikut ini:
Review WordPress Hosting dari Rumah Web Indonesia

Saya pribadi, lebih suka CloudLinux, karena tidak ada Suspend sama sekali, jika Blog saya berat, maka saya akan tau dengan Error Message selain Suspended, yakni Internal Server Error (Akibat RAM kepenuhan) dan atau Resource limit is reached (Akibat CPU Usage kepenuhan). Maka, saya bisa mengoptimasi Blog saya agar lebih Efisien terhadap penggunaan Resource, dan jika Optimasi tidak banyak membantu, saya tinggal Upgrade Limit Resource.

Kecepatan WordPress yang terinstall didalam Server yang menggunakan LiteSpeed Web Server menjadi 10x lebih cepat daripada LiteSpeed Web Server yang tidak menggunakan WordPress Accelerator, apalagi jika dibandingkan Apache Web Server biasa.

Penulis akan menjelaskan berdasar pengalaman penulis pernah menangani sebuah website yang cpu utilizationnya mentok 100% setiap kali ada postingan baru:

Memperkecil javascript, memperkecil ukuran css adalah suatu yang sia sia karena yang memperlambat server itu bukan ukuran file yang diakses terlalu besar, tapi karena terlalu banyak yang harus dilakukan setiap kali ada yang akses server.

Harus diketahui bahwa wordpress adalah software blog yang rumit. Untuk menyajikan satu halaman maka webserver harus membaca ratusan file yang berisi puluhan ribu baris code sebelum bisa menyimpulkan apa yang bakal ditampilkan. Itu satu halaman, untuk satu orang pembaca. Kalau yang buka website ada sepuluh, ya tinggal dikalikan sepuluh.

Ini kadang diperparah dengan adanya plugin. Plugin itu macam macam. Nggak semua plugin itu memperlambat. Ada plugin yang tidak begitu membebani server tapi membebani pembaca. Halaman yang dibuka pembaca jadi harus membaca banyak file hanya gara gara misalnya untuk fitur thumb up. Kode javascript yang diberikan juga kadang kejam bisa sampai lebih dari 500kb, ngalahin ukuran gambar. Tapi tetap, bukan ini yang membebani server.

Yang berat itu misalnya plugin yang membutuhkan kita untuk menaruh suatu kode di halaman yang kita tulis. Plugin tersebut akan mengecek keberadaan kode aktivasi pada halaman yang kita tulis dengan mengecek baris demi baris. Ada ataupun tidak, tahunya setelah mengecek satu demi satu. Kalau pluginnya banyak, ya halaman yang sama di cek berkali kali.

Ada juga plugin yang isinya puluhan ribu kode, sehingga saat diaktifkan, maka terpakai atau tidak maka wordpressnya harus melewati puluhan ribu kode tersebut.

Ada juga plugin yang kejam, walau sudah didisable tapi tetap saja memaksa wordpress untuk melewati puluhan ribu kode. Baru beneran aman kalau pluginnya di uninstall.

Dengan kondisi seperti itu maka memperkecil ukuran file tidak banyak membantu. Karena bukan ukuran file yang jadi masalah, tapi banyaknya kode yang harus diproses oleh wordpress sebelum bisa menampilkan halaman. File javascript dan css itu file yang bakalan diakses sama pembaca. Memperkecil ukuran keduanya tidak akan mempercepat kecepatan proses wordpress karena saat proses, kedua file tersebut tidak ikut diakses. Sekalipun diakses, harus diketahui bahwa program untuk memperkecil file tersebut cuma menghilangkan spasi dan enter, berkurangpun nggak bakalan banyak. Jadi dari sisi pembaca pun nggak banyak membantu. Jauh lebih menguntungkan pembaca kalau dikurangi plugin yang nambah nambahin file yang harus ke download pembaca.

Kembali lagi ke mengurangi beban wordpress, solusi yang biasanya ditawarkan sama hostingnya biasanya upgrade paket jadi yang lebih tinggi. Mungkin membantu. Tapi menurut penulis tidak akan menyelesaikan masalah. Trafik tambah dikit maka paket lebih tinggi tersebut bisa saja tetap nggak cukup. Bahkan nanti sekalipun satu server dipakai sendiri pun bisa saja masih nggak kuat.

Cara yang menurut penulis paling efektif adalah dengan pakai cache. Dengan memakai cache maka halaman yang akan diakses oleh pembaca akan disimpan oleh pluginnya. Sehingga saat pembaca mengakses halaman maka wordpress nggak perlu membaca berpuluh puluh ribu kode lagi tapi langsung ambil dari cache.

Cepat tidak? Sangat cepat.

Semenjak pakai program cache tersebut, website yang biasanya ngedrop atau bahkan time out dan overload jadi lancar lancar saja dengan CPU utilization atau disk utilization nggak pernah mentok. Selalu dibawah 5%.

Sayangnya memasangkan cache itu susah. Buanyak yang mengaku sudah pakai cache tapi ternyata cachenya nggak fungsi. Tahunya bagaimana? Biasanya kalau cachenya fungsi maka di bagian bawah source code halaman akan muncul tulisan seperti berikut ini:

</body>
</html>
<!– Dynamic page generated in 0.940 seconds. –>
<!– Cached page generated by WP-Super-Cache on 2017-04-29 01:27:22 –>

<!– super cache –>

Kalau nggak fungsi maka nggak akan keluar tulisan itu. Ini berlaku untuk plugin cache WP Super Cache dan W3C.

Penulis pakai supercache karena cuma itu yang penulis sanggup install dan jalankan. Plugin cache W3C penulis nggak berhasil install. Penulis juga pernah lihat ada dua website yang sering overload ngaku sudah install W3C tapi dibagian source code websitenya tidak terlihat kode seperti diatas.

Cache modelnya macam macam. Ada yang cepat, ada yang lambat. Di WP super cache ditawarkan 3 mode.

– Use mod_rewrite to serve cache files.
– Use PHP to serve cache files. (Recommended)
– Legacy page caching.
Mod_rewrite is fastest, PHP is almost as fast and easier to get working, while legacy caching is slower again, but more flexible and also easy to get working. New users should use PHP caching.

Yang penulis bisa sukses install cuma yang nomer 2. Katanya cuma sedikit lebih lambat dari yang nomer 1.
Dari hasilnya pun sudah memuaskan.

 

Cache lain ada banyak, tapi penulis cuma coba dua yang populer saja. WP Super Cache dan W3C tertulis aktif diinstal lebih dari 1 juta website. Super cache itu fiturnya cuma cache saja. Sementara W3C ada fitur memperkecil file juga.

Sebagai perbandingan LiteCache plugin cuma 60 ribuan. Kalau bro kebetulan hosting wordpressnya ada fasilitas litespeed cache untuk wordpress, jangan lupa pasang pluginnya di wordpressnya juga. Karena kalau nggak ada nggak akan bisa fungsi cache.

 

Jadi kalau mau mengurangi overload, maka yang utama adalah menginstall plugin cache. Pastikan benar benar jalan sesuai dengan petunjuknya. Lalu uninstall plugin yang tidak perlu. Pilih satu plugin yang bisa banyak fungsi daripada pakai banyak plugin. Kalau pluginnya cuma untuk keindahan, coba pertimbangkan lagi, karena nggak semua orang perduli dengan keindahan. Mungkin sekali dua kali terlihat bagus. Kalau sudah bosan dan merasa malah memperlambat maka justru jadi dibenci.

 

Sebagai tambahan, untuk meringankan pembaca, di halaman yang dibaca, ukuran file gambar jangan dibuat terlalu besar. Ini ukuran file gambar ya, yang satuannya kilobyte. Kalau ukuran gambar dalam satuan pixel jangan dikecilkan, kasihan pembacanya. Kecuali kalau banyak bisa pakai model thumbnail.

Untuk membuat ukuran file kecil tapi ukuran gambar tetap besar bisa dengan menggunakan file tipe JPG dengan kualitas yang dikurangi. 90% menurut penulis sudah lebih dari cukup, penulis sendiri seringnya pakai ukuran kurang dari itu. Kalau merasa perlu kasih gambar yang ukuran besar, maka kasih link ke file aslinya. Kalau yang tampil ke pembaca cuma kecil, maka ya jangan pakai ukuran yang besar. Buat yang pas saja.

Untuk membantu mengetahui berapa banyak dan berapa besar file yang harus didownload oleh pembaca saat membuka halaman, kita bisa menggunakan fasilitas debug di browser. Kalau di Google Chrome namanya developer tools / inspect, di tab network. Di Firefox juga ada, namanya Firebug, juga di tab network. Setelah developer ini dibuka, kita refresh halamannya. Nanti detil file yang didownload akan kelihatan satu satu.

 

Nggak semua kode yang didownload asalnya dari wordpressnya. Kalau kita pasang kode embed, maka pembaca akan download juga dari kode embednya. Dari pengalaman penulis, meng embed kode dari website lain sering memperlambat. Kode embed dari website lain misalnya adalah facebook, twitter, youtube, google plus, pinterest, instagram, dst. Silahkan pakai tapi jangan banyak banyak, kasihan pembacanya. Karena kode mereka besar besar. Web servernya mungkin nggak kerasa, tapi di pembaca buka jadi lambat. Kalau nggak butuh live mending dikasih link atau gambar saja.

Tapi kalau itu untuk iklan, ya mau bagaimana lagi. Tapi jangan kejam kejam, ukuran sebaiknya dibatasi. Jangan sampai dibuat besar hanya untuk bisa naruh gambar kiri kanan. Mending dipisah, kiri ada sendiri, kanan ada sendiri. Dengan begitu kualitas dan bandwith jadi bisa optimal.

Semoga berguna.

7 respons untuk ‘Agar blog pakai wordpress bisa cepat tanpa overload ataupun time out

  1. Very good explanation 🙂
    Anyway, baru install wp cache kemarin soalnya server sering kehabisan resource. Kita lihat hasilnya ntar kalo pageview lagi peak.

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.