Trail braking dan memanfaatkan rem belakang saat menikung agar bisa cepat atau aman di beda situasi beda caranya .


Kali ini penulis mencoba membahas soal trail braking dan pemanfaatan rem belakang saat menikung. Penulis akan membandingkan antara penggunaan di motogp yang menuntut kecepatan dengan penggunaan harian yang menuntut keamanan.

Trail braking, From Wikipedia, the free encyclopedia

Trail braking is a motorcycle riding and driving technique where the brakes are used beyond the entrance to a turn and are gradually released up to the point of apex.

Dikatakan bahwa trail braking adalah teknik untuk motor dan mobil dimana pengereman dilanjutkan dari corner entry sampai corner apex.

Tujuannya adalah untuk memaksimalkan grip roda. Kemampuan untuk menikung itu dipengaruhi oleh grip roda. Makin miring makin dibutuhkan banyak grip. Dengan melakukan trail braking, maka transisi antara pengereman dan menikung akan jadi lebih mulus. Bisa dilihat di gambar pertama trail braking disebutkan berhubungan dengan sudut kemiringan. Saat motor makin miring maka kekuatan pengereman makin dikurangi.

 

Jadi intinya adalah untuk memaksimalkan pengereman dan menikung.

Yang perlu diperhatikan adalah grip roda itu tekanan yang diterima harus pas. Kalau kelebihan akan selip, kalau kurang maka gripnya kurang.

Selain dipengaruhi tekanan, grip juga dipengaruhi kondisi jalan, jalan ada yang punya grip kuat ada yang licin:
Estimation of tire–road friction coefficient and its application in chassis control systems

Dan juga kondisi ban, ban ada yang punya grip kuat ada yang nggak punya grip:

 

Yang juga berbeda adalah situasinya. Di balapan maka tujuan utamanya adalah bisa mencapai grip yang maksimal, sangat beresiko selip. Sementara itu bila di jalan umum tujuan utamanya adalah agar bisa aman, jangan sampai selip.

Selain itu konfigurasi mesin atau desain motor juga berpengaruh. Distribusi berat ataupun ketinggian center of gravity juga mempunyai pengaruh. Ini sudah dibahas sebelumnya:

Dengan kondisi berbeda maka cara pengereman trail braking jadi berbeda juga. Bila pakai contoh motop, maka dengan berat yang cenderung di depan dari Yamaha maka pada saat cuaca dingin dan bisa memakai ban soft dengan grip besar maka trail braking bisa dilakukan dengan rem depan. Sementara itu bila di cuaca panas yang menuntut ban keras dengan grip lebih lemah maka pembalap yang pakai trail braking rem belakang seperti Vinales akan jadi lebih cepat. Ini karena bila pakai rem depan maka tekanan yang diterima ban grip lemah jadi terlalu berlebihan.

Motor Ducati dengan berat cenderung di belakang mempunyai masalah sebaliknya. Beban yang kurang pada ban depan membuat ban jadi lemah gripnya. Untuk meningkatkan grip, perlu dibantu dengan pengereman. Rem depan bisa dipakai di lebih banyak situasi, namun untuk pengereman maksimal, diperlukan rem belakang juga.

Bahkan ekstrimnya diterapkan oleh Casey Stoner, sliding brake, yaitu mengerem dengan membuat ban belakang selip hingga mendekati corner apex.

Tanpa trail braking, maka pengereman yang bisa dilakukan adalah seperti berikut ini, braking on bias, dimana motor diarahkan tikungan lalu dilakukan pengereman ekstrim sebelum belokan. Braking on bias cocok diterapkan bila akan masuk ke tikungan lambat atau segmen berikutnya yang tidak butuh cepat.

Metode braking on bias tersebut bisa dikombinasikan dengan kiddy drift juga, membuat ban sliding sehingga motor berputar lebih cepat:
Gara gara CBS teknik rem tikungan tajam Rossi tidak bisa diterapkan di Honda Vario atau Beat atau CBR yang dilengkapi combi brake

Teknik kiddy drift ini bukannya tanpa resiko. Bila terlalu keras menekan rem belakang maka ban belakang bisa selip dan lepas kendali. Yang membuat bahaya pada situasi ini bukan karena selipnya tapi setelah ban ngegrip kembali:
Power Braking

MSF Basic Rider Course(tm) Maximum Braking manual:
The biggest danger in any rear-tire skid is releasing the rear brake when the rear wheel is out of alignment with the front wheel. If the rear wheel stops skidding and resumes rolling when it is out of line with the direction of travel [i.e., if you release the rear brake], the motorcycle will immediately straighten and could result in loss of control. You could be thrown off in what is commonly called a “high-side” fall, and it is very likely to produce serious injury. To prevent a “high-side,” keep the rear brake locked and skid to a stop.

Manual Motorcycle Safety Foundation Rider Course di bagian pengereman maksimal menyebutkan bahwa bahaya terbesar dari ban belakang selip adalah ketika melepas tuas rem pada saat roda belakang masih tidak lurus dengan roda depan (ini ceritanya lagi berjalan lurus). Jika ban belakang berhenti selip dan kembali berputar maka roda akan berputar tidak sama dengan arah yang sedang dituju. Motor akan langsung tegak dan bisa lepas kendali. Pengendara bisa terlempar (biasa disebut dengan jatuh high-side), dan sangat mungkin menyebabkan cedera serius. Untuk mencegah high-side tetap biarkan ban belakang selip sampai berhenti.

 

Harus diingat bahwa cara diatas hanya cocok untuk balapan. Dalam kondisi sehari hari kita tidak bisa meniru cara mengendarai motogp mentah mentah. Selain kondisi jalan yang gripnya nggak konsisten, ban yang dipakai juga yang gripnya lemah. Teknik trail brake harian kita pergunakan untuk meningkatkan keamanan.

Karena untuk keamanan, maka kita tidak menggunakan rem depan. Kita lebih memanfaatkan rem belakang. Dengan menggantung rem belakang maka kita membuat ban depan punya grip lebih besar karena bertambahnya tekanan di ban depan. Karena kita tidak menggunakan rem depan maka ban depan tidak akan terlalu terbebani. Bila ban depan selip maka resiko jatuh akan sangat besar:

If the front wheel locks, the rider is likely to crash due to loss of stability. If such a front-tire skid occurs, immediately release the front brake to allow the wheel to resume rolling, and then reapply the brake properly. Improper application could lead to a “low side” fall.

Dikatakan bahwa bila roda depan terkunci, maka rider kemungkinan akan jatuh karena hilangnya kestabilan. Di saat ban depan selip terjadi, segera lepaskan ban depan untuk memungkinkan ban depan kembali berputar, lalu tekan lagi rem dengan pas. Penerapan yang tidak benar akan mengakibatkan jatuh low-side.

Selain dari mengurangi resiko jatuh tersebut, bila kita terlalu cepat, penggunaan rem belakang akan sedikit memberikan tekanan pada ban belakang sehingga motor akan cenderung oversteer. Ini akan membantu pengendalian di tikungan terutama untuk motor yang susah belok baik karena desain setir yang butuh counter steer:

Atau karena bobot motor cenderung berat di belakang seperti ducati.

 

Perlu diperhatikan bahwa sebagian besar pengereman dilakukan sebelum masuk tikungan. Bisa dilihat ilustrasinya berikut ini dimana pengereman maksimal dilakukan jauh sebelum masuk tikungan. Saat masuk tikungan dan motor mulai membelok rem sudah dikurangi.

Untuk lebih aman, dahulukan penggunaan rem belakang. Penggunaan rem belakang ini dibilang penting untuk motor Ducati oleh Jorge Lorenzo. Rem belakang ini juga yang katanya bikin Viñales cepat.
SportRider – MotoGP: Lorenzo speaks out on the Ducati, April 27, 2017

Viñales is consistent at all the circuits and it’s because he knows how to use the rear brake. I didn’t use it with the Yamaha, it wasn’t as necessary as it is with the Ducati, for example, but Viñales does, and that helps him not to weight the front so much.

Di tahun ini Viñales terbukti lebih cepat dari Rossi. Jadi pakai rem belakang itu nggak bikin lambat (saat penulis debat soal mendahulukan rem belakang, intruktur safety riding / CBT inggris pakai rem belakang bikin lambat). Asal jangan rem belakang sendirian yang dipakai ngerem. Rem depan juga dipakai. Tapi dilakukan sesudah rem belakang.

Iklan

11 thoughts on “Trail braking dan memanfaatkan rem belakang saat menikung agar bisa cepat atau aman di beda situasi beda caranya .

  1. bagi motor manual,,sebaiknya gunakan rem belakang lalu depan..diiringi thortle blip,,,masuk tikungan stanby halus di rem belakang,,
    untuk matic CBS,,sebaiknya rem sebelum masuk tikungan smpai kira2 kcpatan aman,,lalu lepas rem ketika masuk tikungan,,,
    CBS berbahaya bila digunakan ketika motor tdk dlm kondisi tegak,,,

    Suka

  2. Motor manual/matic saya lebih dominan memakai rem belakang,kecuali kalo mendadak baru di bareng rem depan.kadang saya liat pengendara lain tangan stand by di handle rem depan,padahal itu berbahaya,kalo rem mendadak pasti yg di belakang bisa nyeruduk,apalagi kalo ada pasir/kerikil bisa jatuh pakai rem depan

    Suka

    • Standbynya tidak masalah sih, asal belakang yang didahulukan. Iya, kalau jalan licin makin bahaya lagi. Lha wong di balapan motogp yang jalan dijamin lengket gitu banyak yang jatuh gara gara pakai rem depan.

      Suka

    • traction control nya matik sepertinya cuma bisa untuk akselerasi, tidak untuk engine brake. Kalau untuk pengatur tenaga engine brake cuma dengar ya di motor sport 1000cc

      Suka

      • Tc sepengetahuan ane, bukan buat akselerasi n engine brake deh gan, tapi menjaga agar supaya roda depan n belakang ttp mendapatkan grip yg diingikan pada setiap kondisi.

        Suka

        • traction control setahu saya untuk membatasi tenaga dengan mengurangi injeksi bensin atau mematikan busi sehingga tenaga nggak berlebihan, nggak spin, nggak wheelie. Cuma untuk ban yang disaluri tenaga saja.

          Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s