Mengapa alat pengirit bensin yang mengubah sifat bensin seperti magnet dan cemenite nggak cocok untuk kendaraan boros


Beberapa waktu yang lalu ada yang tanya mengapa cemenite nggak cocok dipakai di kendaraan yang setelannya boros. Sebenarnya ini juga berlaku pada banyak alat pengirit bensin yang lain.

Banyak alat penambah tenaga yang dibahas di grup free energy mewajibkan pemsangan alat yang mengutak atik ECU yang namanya EFIE, Electronic fuel injection enhancer. Alat ini paling sering ditawarkan pada solusi pengirit bensin HHO, yaitu alat yang merubah air jadi uap campuran hidrogen dan oksigen untuk disedotkan ke intake.

EFIE ini dibutuhkan juga untuk pemasangan alat yang merubah sifat bensin seperti magnet dan cemenite.

Contoh pemasangan cemenite:

Butuhnya EFIE di pemasangan HHO dan HCS mudah dijelaskan. Karena sistem HHO itu ada oksigennya, sebagai hasilnya oksigen yang keluar makin banyak. selain itu keberadaan hidrogen juga membuat pembakaran makin bersih, oksigen makin banyak. Oksigen yang lebih banyak ini membuat ECU berpikir bahwa bensinnya kurang banyak, sehingga bensin bukannya dikurangi tapi malah digelontor. Sebagai hasilnya, pemasangan HHO tidak bikin lebih irit, tapi bikin lebih boros.

Sementara itu HCS itu menambahkan uap bensin sehingga otomatis campuran udara-bensin jadi banyak bensinnya. Kalau kendaraannya irit, maka tenaga bertambah. kalau kendaraannya boros maka tenaga malah berkurang, karena untuk bisa maksimal tenaganya atau iritnya, rasio udara-bensin harus sesuai nilai tertentu.

Karena keluaran HHO dan HCS itu konstan, maka efek pengurangan tenaga atau pengurangan irit itu terutama di rpm rendah. Sementara itu di rpm menengah atau tinggi, bisa lebih irit atau lebih bertenaga (nggak selalu dua duanya sekaligus).

Nah yang agak susah dijelaskan itu efek dari magnet dan cemenite. Padahal dari penelitian universitas banyak hasil positif dari pemasangan magnet. Mengapa kok banyak yang kendaraannya boros coba pasang magnet nggak ada hasilnya?

Sementara itu kalau cemenite dipasang di kompor gas jelas jelas api jadi lebih biru. Diputar cuma sedikit tapi apinya sudah panjang. Mengapa kok tidak bikin tambah irit kalau dipasang di kendaraan yang setelannya boros?

Hasil pemasangan cemenite di kompor gas, lebih irit sekitar 30%:

Awalnya penulis berpikir bahwa itu terjadi karena pembakaran lebih sempurna, karena dari yang penulis alami atau pemakai cemenite lain share, busi jadi lebih putih. Di Honda Supra Fit (gen awal) yang businya terkenal hitam, setelah dipasangi cemenite busi jadi putih kekuningan, sampai mekaniknya takut banget nggak berani nyetel irit karbunya (padahal butuh banget disetel irit).

Namun tabel berikut memberikan penjelasan alternatif:

Perhatikan kolom energy value (kandungan energi) dan power stoichimetric (campuran udara-bensin untuk memaksimalkan tenaga). Terlihat bahwa kandungan energi makin banyak campuran bensin harus makin sedikit, alias campuran udara harus diperbanyak.

Nah ini pula yang terjadi saat cemenite dipasang pada selang bensin, bensin akan lebih besar energinya sehingga jadi butuh campuran udara-bensin yang lebih kering, bensin dikurangi atau udara ditambah. Jadi efek memasang cemenite jadi mirip dengan kalau rasio udara-bensin dibuat basah. Ini yang menyebabkan cemenite jadi tidak efektif di kendaraan yang boros.

 

Ini juga sepertinya yang jadi penyebab mengapa yang kendaraannya boros tidak bisa merasakan efeknya pasang magnet (walau bisa juga karena pasang magnetnya kekecilan). Juga mengapa pasang HHO dan lain lain di kendaraan injeksi berumur nggak terasa efeknya. Di kendaraan injeksi, kalau sudah berumur biasanya sensor oksigen sudah soak. Kalau sudah soak efeknya akan jadi boros. Kalau sudah boros maka alat alat pengirit diatas jadi tidak efektif.

 

Namun ada keanehan. Yaitu pro capacitor:

Kalau pakai cemenite itu efek maksimal bisa dicapai bila ukurannya pas, bisa diketahui dari akselerasi atau suara knalpot yang lebih tegas. Kalau ukurannya kelebihan, maka efek irit atau penambahan tenaga nggak maksimal. Cuma dapat efek mesin lebih halus, knocking berkurang dst. Nah efek pasang satu pro capacitor efeknya sudah mirip dengan bila ukuran cemenitenya pas. Tapi kalau dipasang lebih banyak efeknya meningkat, tidak terasa overdose, entah mengapa.

Iklan

14 thoughts on “Mengapa alat pengirit bensin yang mengubah sifat bensin seperti magnet dan cemenite nggak cocok untuk kendaraan boros

  1. Absen malam Pak Admin, saya sebetulnya ga paham akan bahasan di atas. Hehe. Tapi saya menyamakan teorinya dengan laptop saja.

    Buat saya pribadi, selama belum kebeli laptop mahal maka setelan pabrikan mesti diotak-atik biar nyaman, pas, dan awet. Karena biasanya pabrikan ga pikirin banget durability atau hal lain di produk murahnya. Lain kali saya pelajari ini pengirit, sekarang masih belum paham, salam satu aspal!

    Suka

    • Agak susah kalau menjelaskan rasio udara bensin pakai laptop. Yang lebih mendekati itu soal oktan. Yang sering terjadi adalah kendaraan pakai bensin yang oktannya terlalu rendah, ini sama seperti bila pasang memori untuk 800MHz di sistem yang butuh memori kecepatan 1000MHz. Jadinya kalau panas sering error / heng. Pakai magnet atau cemenite itu ibarat dipasangi kipas.

      Intinya sih modif beginian cocoknya untuk kendaraan injeksi yang masih baru atau kendaraan lama yang pakai karbu. Untuk kendaraan injeksi yang sudah berumur / boros, perlu diiritkan dulu baru efektif.

      Yang paling nggak cocok itu bila dipakai di kendaraan yang disetel tenaganya bisa maksimal pakai pertamax turbo tapi bensinnya pakai pertamax atau premium. Cocoknyauntuk kendaraan yang setelannya irit.

      Suka

  2. Yg hidrogen generator klo di motor yg masih pakai karburator kerasa khasiatnya. klo injeksi ane setuju sama mas bro bahas tp yg close loop ( ada O2 sensor), klo injeksi yg open loop sih kemungkinan bisa bikin irit.

    Suka

    • Iya. kalau sistemnya rapi, HHO cocok untuk motor karbu. Tapi karena kebanyakan coba coba sendiri, hasilnya sering malah negatig. Yang sering jadi masalah biasanya karena arus listrik terpakai terlalu banyak atau karena busa dari NaOH/KOH masuk intake dan mengotori mesin.

      Suka

      • Klo generator hidrogen’y ga pake buffer sih bisa jadi.

        Klo injeksi tipe close loop ( Ada O2 sensor) mungkin harus paket Piggyback ato ECU stand alone buat remapping BB’y.

        Suka

            • Kalau menurut saya Piggy back itu jauh lebih komplit, sehingga harganya mahal. Selain itu juga biasanya tidak ada setelan diluar, atau kalau ada maka bentuknya digital, pakai opsi. Sementara EFIE biasanya kerjanya terbatas, sehingga lebih murah, cuma dipakai untuk mengakali sensor O2 atau vakum, biasanya diberikan juga satu atau dua potensiometer untuk mengatur efeknya.

              Suka

    • pro capacitor tidak saya patenkan. Sebelumnya juga open source, beberapa orang ada pernah yang buat. tapi karena makin lama makin rumit cara buatnya dan yang meniru banyak yang salah, maka jadi closed source. Kalau ditelusuri, bisa dicari kok cara buatnya. Kalau digabungkan dengan cara buat cemenite, pasti siapapun bisa meniru. Dilema juga kalau nanti ada yang meniru, ha ha. Kalau punya saya sudah nggak laku, mungkin sekalian di open source kan.

      Kalau tujuannya pingin irit, pakai cemenite pun sudah cukup, cuma memang harus pas ukurannya.

      Disukai oleh 1 orang

  3. Pernah pakai alat pengirit bensin di mio karbu 2006, pengen lbh irit aja tp wkt mobile mtr jd sering mogok tiba2, setengah jam an br mau hidup lg gitu seterusnya. bentuknya spt saringan bensin bermagnet, mmg akselerasi jd ringan tp bikin masalah, pengen irit mlh bikin perkara akhire alat sy buang

    Suka

    • terima kasih sharingnya. Apa karena bensin terhambat ya? memang kalau magnet paling efektif dibuat model saringan. Namun kalau magnetnya atau dayanya cukup kuat nggak perlu seperti itu. seperti contohnya cemenite, cukup ditaruh di jok saja bisa terasa efeknya.

      Disukai oleh 1 orang

  4. Maap om, kalo punya motor / mobil bisa dibilang sulit untuk irit… Enak pake sepeda pancal atau naik kuda… Hehehe

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s