Mengapa rem belakang bisa menstabilkan motor dan walau keith code bilang balapan nggak butuh rem belakang tapi nyatanya rider juara dunia pada pakai


Banyak rider Indonesia yang mengacu pada Keith Code, pembalap yang sekarang jadi pengajar sekolah balap. Ia mengajarkan bahwa rem belakang itu nggak perlu. Namun penulis menemui bahwa ternyata ada rider rider juara dunia yang pakai rem belakang.

Alasan pemakaian rem belakang sendiri sering disebut sebagai pembantu kestabilan.
Sport Rider Riding Skills Series: Using The Rear Brake, Track versus Street, By Bradley Adams April 17, 2013

Dikatakan bahwa rem belakang itu sering salah dipergunakan padahal rem belakang sangat membantu meningkatkan kestabilan motor saat berhenti mendadak dan membantu menyesuaikan kecepatan di tengah tikungan.

Penulis terus terang kurang paham mengapa kok rem belakang bisa membantu kestabilan. Untungnya menemukan informasi berikut ini:
Motorcycle Handling and Chassis Design: The Art and ScienceBy Tony Foale

Pada saat pengereman maka pengereman ban depan akan menghasilkan gaya yang membuat motor tidak stabil, sementara itu pengereman ban belakang akan memberikan gaya koreksi. Untuk kestabilan normal, maka gaya koreksi harus lebih besar daripada gaya tidak stabil. Pada pengereman ringan ini mudah dilakukan karena ban belakang punya banyak kontribusi pada pengereman.

Pada pengereman ekstrem pengereman ban depan yang banyak berperan, atau bahkan sepenuhnya, sehingga menimbukkan situasi tidak stabil. Untuk mengurangi resiko ini, load transfer perlu dikurangi bisa dengan wheelbase yang panjang atau titik berat yang lebih rendah.

Lebih berat di depan juga bisa membantu menstabilkan namun posisi titik berat akan membatasi sudut pengereman sebelum motor akan spin.

Untuk kasus pengereman di jalan lurus, ini yang terjadi:

– rem belakang saja, terkunci dan tidak: Roda belakang akan menghasilkan gaya penyeimbang sehingga membuat motor lebih stabil
– rem depan saja, terkunci dan tidak: Situasi terbalik dimana muncul gaya yang membuat motor tidak stabil. Ban depan yang terkunci juga menghilangkan kendali kemudi dan menghilangkan stabilitas keseimbangan, memperparah hilangnya kestabilan kemudi.
– kedua rem ditekan, ban belakang terkunci: Segera sesudah ban terkunci, maka ban kehilangan grip dan bisa menimbulkan dua efek. Yang pertama adalah kehilangan gaya penyeimbang. Yang kedua adalah karena gaya pengereman berkurang, maka load transfer akan berkurang, yang artinya beban di ban depan juga berkurang. Bila pengereman sudah mendekati limit, maka ban depan juga akan bisa ngelock, yang sangat berbahaya.
– kedua rem ditekan, ban depan terkunci: disini ada kestabilan yang dihasilkan ban belakang, juga disertai berkurangnya load transfer yang pada akhirnya akan meningkatkan grip di ban belakang. Namun walau stabilitas motor meningkat, ban depan akan kehilangan kendali kemudi dan kestabilan seperti diatas.
– kedua ban terkunci: walau secara arah stabil, tapi keseimbangan motor tidak ada.

Situasi akan berubah bila pengereman dilakukan di tikungan. Karena bila salah satu roda terkunci, maka roda tersebut akan selip keluar. Tergantung pada kemampuan dan luck dari pengendara, biasanya lebih mudah untuk bisa mengendalikan ban belakang yang selip daripada yang depan.

Seperti disebutkan sebelumnya, keseimbangan keseluruhan dari motor tergantung pada kemampuan mengendalikan yang bergantung pada ban kendali yaitu ban depan, sehingga penting sekali untuk mencegah ban depan terkunci.

Dari penjelasan diatas, yang penulis tangkap adalah kestabilan dan kemampuan mengendalikan membutuhkan semua roda untuk tidak ngelock. Makin kuat daya pengereman maka akan makin berkurang kestabilan motor. Mengerem belakang saja akan akan lebih stabil daripada mengerem depan saja.

Penjelasan diatas memperkuat alasan untuk mendahulukan pemakaian rem belakang demi alasan keamanan. Karena dengan memakai rem belakang dulu maka motor akan lebih stabil. Mendahulukan rem depan akan mengurangi kestabilan motor, dan baru akan mulai distabilkan setelah pakai rem belakang juga.

Sehingga dalam kondisi motor sedang tidak stabil, maka rem belakang yang perlu diandalkan, tapi jangan sampai ngelock. Ini juga sepertinya yang jadi trik dari pembalap dunia. Dibilang sebagai settle the bike atau stabilize the bike. Mungkin itu juga alasan mengapa pembalap motogp berusaha agar roda belakang tidak terangkat, agar bisa lebih stabil dan siap masuk tikungan.

 

Yang sering jadi acuan untuk menghindari pemakaian rem belakang adalah ungkapan dari Keith Code, yang tercantum di bukunya
A Twist of the Wrist II: The Basics of High-Performance Motorcycle Riding

The obvious mathematics of the situation are that the front wheel can do 100 percent of the braking and the back at that point just locks up no matter who you are. Learn to totally rely on the front brake for quick, clean stopping; then, if you still have a use for the rear, go ahead and use it. But realize that the rear brake is the source of a huge number of crashes both on and off the track. I’ll leave the final decision up to you. While it is true for most riders that a motorcycle will come to a full stop quicker with both brakes applied, in racing, you don’t come to a full stop until you’re done.

Katanya hitungan matematikanya rem depan bisa melakukan 100% pengeremanm dan belakang pada saat itu hanya akan terkunci siapapun ridernya. Belajarlah untuk hanya mengandalkan rem depan untuk bisa berhenti cepat dan bersih. Lalu, jika masih merasa rem belakangada manfaatnya, silahkan pergunakan. Tapi harus tahu bahwa rem belakang itu sumber celaka dari banyak kecelakaan baik di sirkuit ataupun diluar sirkuti. Ia menyerahkan keputusan terakhir pada kita. Walau benar bahwa untuk banyak pengendara suatu motor akan berhenti lebih cepat dengan mempergunakan kedua rem, di balapan motor tidak butuh berhenti sampai selesai.

Contoh didikan Keith Code seperti berikut ini:
California Superbike School Level 1 Training

Code mentioned that we should avoid the rear brake. He laughed at the MSF’s claim that the rear wheel has 30% of a motorcycle’s braking power.

Katanya Code berkata bahwa kita harus menghindari rem belakang. Ia ketawa pada klaim MSF (Motorcycle Safety Foundation, amerika) bahwa rem belakang itu punya 30% daya pengereman. Di kutipan sebelumnya Keith Code itu bilangnya 100% pengereman ditentukan ban depan.

Di buku itu Doug Chandler juga memberikan komentar yang menakut nakuti:

People using the rear brake hard are scary to me. You can see the shiny spot on their tire where it locked up. It’s a waste of time, you spend too much effort getting just a little of braking from the rear, I don’t even put my foot on it except coming into the garage.

Katanya orang yang pakai rem belakang secara keras itu menakutkannya. Ia bisa melihat bagian mengkilap di ban yang terkunci. Buang buang waktu dan terlalu banyak usaha hanya untuk mendapatkan sedikit efek pengeraman ban belakang. Ia bahkan tidak pernah menginjak rem selain waktu masuk ke garasi.

 

Banyak yang membantah Keith Code, diantaranya:
The Motorcycle Back Brake Is There For A Reason. Use It!

We would however argue that rear brake lock-ups are a result of poor technique rather than an inherent flaw in motorcycle design. You also have to remember that A Twist of the Wrist II was published over 20 years ago and not only has technology improved so that rear brake locks-ups are less common, they don’t even happen at all on an ABS equipped bike. Unfortunately, many riders decided to transfer the above quote from the track to the road. They told their mates that you don’t need to use the rear brake on a sportsbike and the wrong information ended up being presented as fact. by using both the front and rear brake, stopping distance reduces by around 4 meters or 13 feet. Put another way, a reduction in stopping distance from the front brake alone of over 23 percent.

Kutipan diatas berargumentasi bahwa roda belakang terkunci itu lebih karena skill kurang dan bukan karena problem bawaan dari motor. Juga disebutkan bahwa bukut itu diterbitkan 20 tahun yang lalu dimana teknologi sudah berkembang sehingga ban belakang terkunci itu jadi jarang. Bahkan tidak pernah terjadi pada motor yang dilengkapi ABS. Namun sayangnya banyak rider yang memutuskan untuk mengaplikasikan kutipan tersebut yang harusnya hanya untuk sirkuit untuk dipakai di jalan. Mereka bilang pada teman temannya bahwa mereka nggak perlu pakai rem belakag di motor sport, dan informasi yang salah pada akhirnya dianggap sebagai fakta. Padahal dengan memakai rem belakang dan remp depan bersamaan bisa membuat jarak pengereman berkurang 23%, yaitu 4 meter di percobaan.

 

Penulis tidak tahu bahaya model apa yang bisa lebih parah daripada kalau jatuh gara gara ban depan ngelock. Apa maksudnya high side?
MSF Basic RiderCourse(tm) manual:

The biggest danger in any rear-tire skid is releasing the rear brake when the rear wheel is out of alignment with the front wheel. If the rear wheel stops skidding and resumes rolling when it is out of line with the direction of travel [i.e., if you release the rear brake], the motorcycle will immediately straighten and could result in loss of control. You could be thrown off in what is commonly called a “high-side” fall, and it is very likely to produce serious injury.

Dikatakan bahwa bahaya terbesar dari roda belakang yang terkunci atau ngelock adalah bila pada saat rem dilepas roda belakang tidak sedang sejajar dengan ban depan. Roda belakang yang berhenti sliding akan mendapatkan kembali traksi dan berputar ke arah yang tidak sama dengan ban depan, motor bisa langsung tegak dan menyebabkan lepas kontrol. Kejadian ini sering disebut jatuh high-side, dan bisa menyebabkan cedera serius.

Jadi bahaya terjadi bukan karena selipnya, tapi karena pengendara melepas rem setelah ban belakang selip tapi tidak meluruskan ban belakang dulu. Kalau benar yang dimaksud keith code itu yang ini, maka ini cuma berbahaya kalau dilakukan selagi jalan kencang di tikungan, di mana ngerem depan pun sama bahayanya kalau di jalan umum. Beda dengan sirkuit yang lintasan itu jauh dari tembok atau parit.

Kalau di pengereman di jalan lurus mestinya high side bisa lebih bisa dicegah.

 

Selain itu soal ban yang mempengaruhi pengereman, walau motor sport memungkinkan daya pengereman 100% terjadi di ban depan, di jalan raya beda lagi. Artikel Sport Rider menunjukkan grafik perbedaan antara mengendarai di lintasan balap dan di jalan raya. Diperlihatkan perbedaan weight transfer dan grip ban belakang dari keduanya.
Sport Rider Riding Skills Series: Using The Rear Brake, Track versus Street, By Bradley Adams April 17, 2013

Ban motor balap punya grip lebih kuat, itu menjadi salah satu alasan mengapa motor balap punya daya pengereman lebih kuat. Daya pengereman lebih kuat ini membuat weight transfer lebih kuat. Karena kuatnya weight transfer ini bisa terjadi ban belakang tidak menapak. Di saat ini rem belakang jadi tidak berguna. Namun anehnya, juara dunia motogp pun nyatanya pakai rem belakang juga.

Sebelumnya penulis sudah membahas bagaimana Lorenzo menyesal tidak dari dulu dulu memanfaatkan rem belakang. Setelah terpaksa harus pakai rem belakang di Ducati, ia merasakan bagaimana pentingnya pemakaian rem belakang. Karena nggak cukup pakai rem depan saja kalau mau menghentikan motor dengan cepat. Rem belakang juga untuk membantu menikung. Ia juga bilang Maverick Viñales bisa konsisten karena memanfaatkan rem belakang. Casey Stoner terkenal dengan teknik slidingnya yang juga butuh rem belakang. Berikut beberapa rider lain yang pakai rem belakang, beberapa diantaranya juara dunia motogp.
Daftar juara dunia Grand Prix Sepeda Motor

 

Penulis kurang tahu apakah Keith Code dan Doug Chandler pernah jadi juara dunia. Dari wiki katanya juara dunia Wayne Rainey pernah belajar dari Keith Code. Tapi Wayne Rainey sendiri ternyata mengakui pentingnya rem belakang. Ia menyebutkan:
people power

Wayne Rainey: “Kevin’s advantage has always been on the braking, he brakes harder than Barros, and he’s real hard. There is no one harder on the brakes than Kevin. I don’t know if it is the Suzuki, the brakes or just Kevin but he is late. I think one of the reasons he can do that is that he is good with the rear brake, but then that heats up the rear.”

Wayne Rainey mengatakan bahwa Kevin Schwantz itu selalu unggul dalam pengereman. Ia mengerem lebih keras dari (Alex) Baros, padahal Baros ngeremnya sudah ekstrem. Tidak ada yang mengerem lebih keras dari Kevin Schwantz. Ia tidak tahu apa itu karena motor Suzukinya, remnya atau karena Kevin Schwantz. Ia merasa bahwa salah satu alasan Kevin Schwantz bisa mengerem dengan baik itu karena Kevin Schwantz jago pakai rem belakang, tapi itu juga bikin ban belakang panas.

Kevin Schwantz sendiri mengatakan seperti ini:
Cycle World Magazine Jan-Nov 1997

When I was racing, I only used the rear brake if I got into trouble, or if I was trying to outbrake someone.

Ketika ia balapan, ia hanya mempergunakan rem belakang ketika mengalami masalah atau sedang berusaha adu pengereman dengan yang lain.

Menarik karena Kevin Schwantz butuh pakai rem belakang ketika adu ngerem. Itu dipakai saat ngerem di jalan lurus atau trail braking ya? Selain itu Ia mengaku tidak pakai rem belakang sama sekali
Learning from Kevin at the Schwantz Suzuki school, 2002

Schwantz grins: ” I never use the rear brake at all, I just use the throttle to control the rear.

Sengaja penulis sertakan tahun artikelnya karena Kevin Schwantz mundur dari motogp di tahun 1995.

 

James Toselan pernah mengeluh bahwa rem belakangnya bermasalah:
Corser leaves mark on Toseland’s turf

“We had a clutch problem, then we had a problem with the rear brake,” he said. “When we fixed that and put a qualifying tyre on, we had a problem with the front under-braking.”

James Toseland pernah crash dan rem belakangnya lepas:
Donington Park MotoGP: Casey Stoner wins; James Toseland crashes

James Toseland wasn’t quite so lucky however. The Brit already had an uphill struggle starting from 16th on the grid, but a high-side at the first corner put him totally out of contention. The plucky reigning World Superbike Champion did finish the race riding without a right footpeg or rear brake, but circulated in last position and was lapped by many of the front-runners by the end of the race.

Cara Ben Spies pakai rem belakang disebutkan berikut ini, namun maaf, nggak paham.

And after his eighth finish in his home race at Laguna Seca recently, Spies said: ”It’s just so different than a Superbike. When you’re going into a corner, you’re trying everything to make your bike go into the corner. You’re using the rear brake, having to adjust how much clutch you’re letting out and brake application to actually hit your line. With a GP bike, it’s a full stop, hit the brake, grab a couple of gears and throw it in, and everything stays in line. The aspect of actually going fast on a GP bike is hard.

 

Let’s take a lesson from the roadracing community to increase the use and effectiveness of the rear brake, By Nick Ienatsch April 26, 2017

This is YCRS instructor Chris Peris NOT using the Army of Darkness BMW rear brake because the rear tire is off the ground. But Chris tells us, “If the rear tire is on the ground, it can help slow me, even if it’s a tiny bit.” The faster your bike, the more important slowing becomes: This S1000RR makes 202 horsepower.

Dikatakan bahwa pada foto ditunjukan ban belakang sedang melayang. Intruktur YCRS (Yamaha Champions Riding School) Chris Peris tidak pakai ban belakang saat ban tidak menyentuh tanah. Tapi ia bilang bahwa bila ban menyentuh tanah, maka rem belakang akan membantu memperlambat walau efeknya kecil. Makin kencang motornya makin penting ngeremnya.

 

Scott Russell, juara dunia AMA superbike dan World Superbike, yang juga pelatih di Yamaha Champions Riding School and Rickdiculous Racing, juga meyakinkan bahwa pembalap profesional pun pakai rem belakang.
PSA: Please Reconsider Using Your Rear Brake

Dikatakan bahwa pendapat umum adalah di motor sport nggak perlu pakai rem belakang, Scott Russell membantah hal itu. Ia mengatakan bahwa ia mempergunakan rem belakang lumayan sering bahkan juga di jalan umum. Dicontohkan salah satunya setelah menyalip rem belakang dipergunakan untuk membuat motor tenang saat akan masuk tikungan. Penggunaan tergantung pada sirkuitnya. Ada yang butuh lebih banyak pemakaian rem belakang juga.

Video juga menunjukkan cara pemakaian rem belakang yang pakai kaki. Ditunjukkan bahwa kaki tidak boleh diangkat lalu diinjakkan ke rem, tapi cara yang benar ada dengan menggunakan foot step sebagai tumpuan putar untuk menekan rem. Dikatakan juga bahwa di dunia balap justru mereka mencoba mengurangi kekuatan rem belakang salah satunya dengan mengurangi permukaan kampas rem. Ada juga yang menambah per sehingga rem belakang jadi lebih keras. Tujuannya adalah untuk membuat rem belakang tidak terlalu ringan sehingga tidak mudah terkunci.

 

Mick Doohan saking butuhnya rem belakang sampai memilih memasang tuas rem belakang di setang saat kakinya terluka. Nicky Hayden juga sering pakai rem belakang juga.
Nicky Hayden looking for rear brake solution

Doohan needed the thumb system with movement in his ankle so severely restricted by the Assen crash, and he went onto win five 500cc world championships to achieve iconic status in MotoGP.

Hayden’s dirt track background meant he spent a lot of time using the rear brake when he first arrived in MotoGP, and he used it so much that his Repsol Honda team used to fit a big rubber band on it to stop him putting so much pressure on the rear brake.

Dikatakan bahwa Doohan membutuhkan rem belakang yang diaktifkan dengan jempol tangan kiri karena ankle kaki kanannya cedera, tapi dengan kondisi seperti itu bisa memenangkan kejuaraan motor 500cc dunia lima kali dan mencapai status iconic di motogp.

Hayden dengan latar belakang pembalap offroad juga banyak memakai rem belakang, saking parahnya sampai tim Repsol Honda sampai harus mengakali dengan pasang karet ban untuk mencegah Hayden terlalu membebani rem belakang.

 

Marco “Lucky” Lucchinelli, juara dunia motogp 500cc, yang katanya belajar dari Barry Sheene dan Keeny Robert, yang keduanya juga juara dunia motogp 500cc.
Cycle World Magazine Jan 2004

You should use rear brake. Using the rear brake helps settle the bike entering corners, and allows you to scrub off speed mid-corner where applying the front brake could result in a low-side

Kita harus pakai rem belakang. Menggunakan rem belakang membantu membuat motor tenang saat masuk tikungan dan memungkinkan kita mengurangi kecepatan di tengah tikungan yang mana menggunakan rem depan dapat mengakibatkan jatuh low side.

 

Rossi:
Rossi unhappy with Friday practice pace, June 13, 2014 Aaron Rowles

“The braking has changed a lot in the last years; in the past the biggest problem was lifting the rear, now with more changes to weight distribution and setting, the rear tyre is more on the ground. The engine brake also helps a lot and is a lot better than five years ago. I don’t use the rear [brake] a lot, just in the corner. One of his [Marquez] strongest points is the braking and entry in the corner because he has very good control of the bike and a lot of skills to control the bike, so he can continue to brake on the edge of the corner when entering the corner.”

Pengereman banyak berubah di beberapa tahun terakhir. Di masa lalu masalah utama adalah bagian belakang terangkat. Sekarang dengan perubahan distribusi berat dan setingan, ban belakang lebih berada di tanah. Engine brake juga makin lama makin membantu daripada lima tahun yang lalu. Rossi tidak banyak mempergunakan rem belakang, ia menggunakan hanya pada tikungan. Salah satu keunggulan utama Marquez adalah pengereman dan saat masuk tikungan karena ia punya kontrol yang sangat baik pada motornya dan punya banyak kemampuan untuk mengendalikan motor, sehingga ia bisa tetap melakukan pengereman di tepi tikungan saat memasuki tikungan.

 

Marc Marquez:
Rossi vs. Marquez: opposites compared in an analysis by Brembo

Marc Marquez adopts a style that involves moving his body and head within the curve to open the gas as much as possible. Correcting the trajectories with the rear single disc he is able to maintain a higher speed through the corners. The result is the spectacular skidding of the rear tyre that leaves striking marks on the asphalt.

Marc Marques memakai gaya yang melibatkan pergerakan badan dan kepaka di tikungan untuk bisa membuka gas sesering mungkin. Dengan mengkoreksi arah dengan rem belakang ia bisa mempertahankan kecepatan tinggi di tikungan. Ini sering ditunjukkan dengan tanda ban belakang yang meninggalkan bekas sliding di aspal tikungan.

Marquez sendiri latihannya tanpa pakai rem depan.
Marquez’s Oval vs. Rossi’s Ranch: Which Is Best for MotoGP? 12/08/2014 @ 1:30 PM, BY DAVID EMMETT

The Rufea layout is simple: a short oval (two left turns), where Marquez, his brother Alex and friend of the family Tito Rabat train regularly. Their training is aimed at several things: first, at gaining feeling on the bike, understanding how the bike reacts when it is sliding, how to use the power to help turn the bike. Marquez trains without a front brake, using the rear brake and throttle to help control the bike and slow it for a turn. Tito Rabat hailed the practice sessions at the circuit as one of the keys to his championship victory in Moto2, not just in terms of riding skills, but especially in terms of race craft, and aggression during the race.

Tatanan sirkuit Rufea itu sederhana, sirkuti oval dengan dua tikungan kiri. Marquez, adiknya Alex, dan kenalan dari keluarga Tito Rabat berlatih teratur. Latihan mereka mengutamakan bagaimana merasakan feel dari motor, mengenali reaksi motor saat sliding, dan bagaimana menggunakan tenaga untuk memutar motor. Marquez berlatih tanpa rem depan, hanya menggunakan rem belakang dan gas untuk membantu mengendalikan motor dan melambat sebelum menikung. Tito Rabat mengklaim latihan pada sirkuit ini adalah salah satu kunci ia bisa juara di Motor2, tidak hanya di kemampuan berkendara tapi juga di sisi kemampuan bersaing dan agresifitas saat balapan.

 

Lorenzo:
Rear brake use helping Jorge Lorenzo on Ducati’s MotoGP bike

“With the other bike that I used for nine years, I didn’t need to use the rear brake, especially on braking, to stop the bike. With this one, I need to use it, it helps much more to stop the bike.”

Di motor lain yang sudah Lorenzo gukanan 9 tahun ia tidak butuh pakai rem belakang, apalagi saat mengerem, untuk menghentikan motor. Di Ducati, ia harus pakai, rem belakang sangat membantu dalam menghentikan motor.

MotoGP: Lorenzo speaks out on the Ducati

he bike right now just does not stop when you pull the brakes. That’s why Ducati riders use the rear brake much,

Lorenzo mengatakan bahwa motor tidak berhenti walau sudah menarik tuas rem (mestinya cuma rem depan yang bisa ditarik). Oleh karena itu pengendara Ducati memakai rem belakang lebih banyak.

2017 Sepang MotoGP Test Monday Round Up: The Flying Fisherman, And Lorenzo Learning To Brake Again

On the Yamaha, Lorenzo had started braking early, then released the brake shortly after turning in, and then carrying as much corner speed as he could through the middle of the corner. That method did not work on the Ducati. “If you try to brake and release the brake before entering the corner, like on the Yamaha – carrying corner speed, without braking – the bike doesn’t turn,” Lorenzo said. Instead, he was having to learn to brake later, and hold the brake all the way to the apex, the way that Dovizioso rides. That was the only way to get the bike to turn properly.

Di Yamaha Lorenzo memulai pengereman lebih awal, dan melepas rem segera saat mulai menikung, lalu dilanjutkan dengan menjaga kecepatan menikung setinggi mungkin melewati tengah tikungan. Cara ini tidak bisa diterapkan di Ducati. Jika rem dilepas sebelum masuk tikungan seperti pada Yamaha, menjaga kecepatan tikungan tanpa mengerem, maka motor Ducati tidak mau belok. Oleh karena itu Lorenzo belajar mengerem lebih telat, dan melakukan pengereman sampai di tengah tikungan, seperti yang dilakukan Dovizioso. Itu cara satu satunya untuk membuat motor bisa berbelok dengan baik.

2017 Argentina Sunday Round Up, Part 1: Explaining Factory Crashes, Aliens Old & New, And It’s Only Round 2

more like you have to ride the Ducati, using the rear brake to stop, I improve so much in the braking.

Lorenzo mengatakan bahwa di Ducati harus menggunakan rem belakang untuk berhenti sehingga ia banyak mengalami peningkatan di bidang pengereman.

 

Viñales:
What is Maverick’s secret? by Mat Oxley on 18th April 2017

Viñales uses a technique that’s different from Yamaha’s most recent winners. Lorenzo stopped his M1 almost entirely in a straight line, with no real movement from the machine, then he let the bike roll into the corner, taking very wide lines to achieve devastating corner speed. Rossi has a more conventional technique: more aggressive on the brakes and trail-braking into the corner. Viñales also does most of his braking in a straight line, then sweeps into the corner, somewhat like Lorenzo, but with more load on the front. During straight-line braking he also uses more rear brake than Rossi and much more than Lorenzo, with some movement from the bike, so his braking technique is somewhat like that of Marc Márquez.

Di motor Yamaha Viñales menggunakan teknik yang berbeda dari Lorenzo. Lorenzo menghentikan motor Yamaha semuanya di jalur lurus, tanpa ada gerakan motor, lalu ia mengarahkan motor ke tikungan, dengan mengambil sudut yang sangat lebar untuk bisa mendapatkan kecepatan menikung yang besar. Rossi lebih konvensional, lebih ekstrem di pengereman diteruskan dengan teknik trail braking. Viñales melakukan sebagian besar pengereman di jalan lurus, lalu masuk ketikungan sebagaimana Lorenzo, tapi dengan lebih banyak beban di ban depan. Ketika di jalur lurus ia menggunakan lebih banyak rem belakang dari Rossi, dan jauh lebih banyak daripada Lorenzo namun disertai pergerakan motor, sehingga tekniknya lebih mirip Marc Marquez.

 

Andrea Dovizioso.
Exclusive interviews with Brembo engineer Lorenzo Bortolozzo and Ducati factory rider Andrea Dovizioso.

A.D.: I use the rear brake quite a lot. In MotoGP, we use the rear brake on the exit to control the spinning. If you use the rear brake well, you can use less traction control because you can tame a big spin by reducing it but not eliminating it. I use the rear a lot also on the braking even though with the four-stroke there is enough engine braking so that many riders do not use the rear. But this is my style, and I always use the rear brake.

Dovizioso mengatakan bahwa ia banyak menggunakan rem belakang. Di motogp rem belakang biasa dipergunakan saat keluar tikungan untuk mengendalikan putaran roda. Jika rem belakang dipakai dengan baik, traction control bisa dikurangi karena spin bisa dikurangi. Ia sering menggunakan rem belakang walau mesin 4 tak punya engine brake yang kuat, sehingga banyak pembalap yang nggak pakai rem belakang. Tapi itu gayanya dan ia selalu tetap pakai rem belakang.

Catalunyan GP: Honda race report, 13/07/2010 06:39

Andrea Dovizioso (Repsol Honda RC212V): 14th
“Today we had a really good race pace and we could have fought with Lorenzo for the win at the end of the race. Unfortunately though, from lap one my rear brake was not really working properly in the last part of the corner entry and this gave me some problems entering corners and mid-corner. I was still able to be fast, but this issue put more weight on the front, it was very difficult to control – I was always at the limit. Then at turn nine of 15th lap I went a little bit over the limit and crashed. “

Dikatakan bahwa Davizioso mengeluh karena mulai dari lap pertama rem belakang tidak bekerja sempurna pada bagian akhir corner entry dan ini membuatnya mengalami kesulitan saat masuk tikungan dan di tengah tikungan. Cepat bisa tapi ini lebih membebani depan, yang sangat sulit dikendalikan. Ia selalu di limit. Pada belokan ke 9 di lap 15 ia sedikit melebihi limit dan crash.

Danilo Petrucci:

Ia menjelaskan bahwa rem belakang banyak dipakai di lintasan yang butuh kerja keras. Tuas rem belakang ia pasang pula di bawah setang kiri, diaktifkan dengan menekan dengan jempol tangan kiri.

Berikut demo video penggunaan rem belakang di sirkuit. Sepertinya rem belakang dipergunakan untuk trail braking di tikungan panjang

 

Jadi walau Keith Code bilang balapan itu nggak perlu rem belakang tapi buktinya banyak pembalap motogp Juara Dunia yang memanfaatkan rem belakang. Beberapa pembalap memilih rem belakang untuk trail braking (Keith Code pakai rem depan), rem belakang juga jadi pilihan untuk memperlambat di tengah tikungan. Rem belakang sepertinya sudah tidak lagi dipakai untuk mengendalikan spin ban belakang, untuk mencegah spin lebih mengandalkan kendali gas dan setelan mesin (misalnya throttle control dan big bang).

Untuk harian dan keamanan, menurut penulis unsur kestabilan membuat pemakaian rem belakang penting. Rem depan bisa dipergunakan segera setelah rem belakang aktif atau setelah motor condong kedepan. Bodi motor condong ke depan itu tandanya load transfer sudah terjadi. Ini artinya grip ban depan akan lebih kuat saat rem depan mulai ditekan. Disertai juga dengan efek semacam mesin big bang, grip ban depan yang masih fresh tentu akan lebih besar daripada bila sebelumnya rem depan sudah dipakai duluan.

Bila sebelumnya ada yang pakainya cuma rem depan saja karena menuruti Keith Code, menurut penulis perlu coba juga pakai rem belakang karena terbukti banyak juara dunia motogp yang pakai.

Contoh contoh diatas menunjukkan bahwa rem belakang itu penting untuk bisa kompetitif dalam balapan. Tapi tentu saja rem depan juga penting. Di balapan itu harus mengadu nyawa untuk bisa mengerem depan mendekati limit. Salah sedikit saja bisa jatuh. Kalau nggak mendekati limit maka jadi nggak kompetitif.

Beda sama harian dimana kita lebih butuh selamat. Nggak penting nggak kompetitif. Tapi juga ngeremnya jangan sampai molor molor amat. Dan cerita cerita diatas jadi alasan penulis kalau ngerem belakang dulu.

Ingat bahwa mendahulukan rem belakang tidak berarti hanya pakai rem belakang. Rem depan segera digunakan setelah motor condong ke depan. Ada yang lebih memilih pakai engine brake. Boleh. Untuk penulis engine brake itu tearasa ada jedanya. Gas dilepas kadang nggak langsung engine brake.

Iklan

21 respons untuk ‘Mengapa rem belakang bisa menstabilkan motor dan walau keith code bilang balapan nggak butuh rem belakang tapi nyatanya rider juara dunia pada pakai

  1. Kalo ane saat mengerem extrem pake semua rem; rem depan, rem belakang, engine break.
    Kalo cuma 80kpj cukup rem depan belakang, dibawah 60kpj cukup depan ajah…

    Sebenarnya lebih ke kebiasaan aja… Ala bisa karena biasa.
    Malah ada teman yg cuma pake rem belakang, apalagi kalo balapan liar rem depan dicopot. Yg ngeri kalo ketemu jalan berpasir, harus siap mental hehehe….

    Suka

  2. Apa iya tenaga motor lebih besar di ban belakang daripada ban depan,makanya rem belakang lebih di sarankan daripada rem depan

    Suka

    • Grip pertama itu yang sangat penting. Karena seringnya masalah terjadi di grip pertama.

      Grip ban depan itu lemah saat di jalan lurus, apalagi saat akselerasi. Beban harus dipindah ke depan dulu agar grip ban depan kuat. Oleh karena itu pakai rem belakang

      Grip ban depan sudah mepet ketika di belokan, apalagi disertai akselerasi, kalau dibebani rem maka beban akan kelebihan dan ban berkurang traksinya. Oleh karena itu pakai rem belakang.

      Suka

      • Ga masuk akal. Kalo biasa pakai motorsport harusnya ga komen gini teorinya. Banyakan yg baru pindah dari bebek ke motorsport pasti mengalami toda belakang goyang dombret ketika hard breaking. Dan belajar pakai rem belakang lebih terukur dan gunakan rem depan yg utama.

        Suka

  3. situ juara teori..
    PRAKTEKNYA N000LLLL BESAR
    diajakin blog kondang Nyentul Gak ada nyalii… … MALU…
    komen diblok laen cuma titip jemuran sempak… cari hit ya…
    bwahahaha…

    Suka

    • tinggal dicoba. Kalau melakukan klaim tapi belum pernah coba sendiri, baru itu namanya cuma teori, prakteknya nol besar. Saya share berdasarkan apa yang saya praktekkan sendiri.

      Sampai sekarang saya bingung, yang nggak setuju itu apanya. Apa yang nggak setuju itu beneran sudah membandingkan dengan praktek atau cuma teori saja?

      Kalau yang diomongkan sama pembalap diatas dianggap cuma teori ya terserah. Karena beberapa sudah saya praktekkan sendiri.

      Suka

  4. […] Banyak juga yang menganut ajaran dari Keith Code, padahal pembalap yang katanya pernah jadi murid Keith Code sendiri ada yang pakai rem belakang. Rasanya juga pembalap pembalap tersebut belajarnya nggak cuma di sekolahnya Keith Code saja Mengapa rem belakang bisa menstabilkan motor dan walau keith code bilang balapan nggak butuh rem bel… […]

    Suka

  5. […] Selama ini dipercaya bahwa rem belakang itu nggak ada gunanya di MotoGP selain untuk sliding untuk membantu belok. Beberapa juga mengacu pada ajaran mantan pembalap Keith Code (tidak pernah juara dunia). Ajarannya ekstrem. Sebelumnya sudah pernah dibahas: Mengapa rem belakang bisa menstabilkan motor dan walau keith code bilang balapan nggak butuh rem bel… […]

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.