Mudik pakai motor jangan bawa kerdus, jangan pakai oli encer, jangan beli pertalite, jangan mendahulukan rem depan


Biasanya kalau orang mudik itu selalu trennya bawa kerdus.

Menurut penulis sebaiknya kalau mudik jangan bawa kerdus, berikut beberapa alasannya:
Kardus itu dari kertas, kalau hujan selain jadi basah, juga bisa mudah robek.

Bentuk kardus itu kotak, menempatkannya lebih susah karena jadi harus diikat atau butuh tempat datar. Ukuran bisa tidak cocok dengan bodi motor. Kalau nggak diberi tempat datar, sering jadi miring di tengah perjalanan. Menaruh kerdus di bagian depan motor matik atau bebek itu sering butuh perhatian dari pengendara atau penumpang. Lengah sedikit bisa jatuh berhamburan.

Kardus juga nggak ada tempat sangkutan. Kardus harus diikat dengan banyak tali kalau mau aman.

 

Ada yang menyarankan bahwa kalau mudik lebih cocok pakai pannier atau givi atau boks. Namun problemnya sering bentuk boksnya nggak kotak. Jadi cuma cocok untuk bawa baju dan yang lemes lemes. Nggak bisa muat banyak kalau untuk bawa barang yang keras.

Menggunakan boks juga butuh modif. Modifnya seringnya dari logam tipis yang goyang goyang. Nggak lebih aman daripada bawa kerdus pakai kayu.

Braket box mending yang bagus sekalian

Pemasangan boks juga justru bisa mengurangi ruang penumpang. Apalagi kalau konstruksinya rapuh, penumpang justru jadi capek kalau sampai harus menghindari bersandar. Dari asalnya bisa bawa anak jadi nggak cukup tempatnya. Contoh yang berikut nggak fair, bawa anak kok dibandingkan dengan menyetir sendiri.

Boks juga bikin bodi motor jauh lebih lebar, Jadi harus lebih hati hati kalau selap selip antar kendaraan.:

 

Menurut penulis lebih mending bawa semacam ransel atau tas lemas yang ada tempat pengaitnya. Penempatan bisa lebih fleksibel dan kalau perlu anti basah bisa di bungkus kresek besar. Atau pakai sekalian pakai tas plastik yang kuat.

Bila diperhatikan ada posisi yang tidak termanfaatkan dari foto foto pembawa barang diatas. Yaitu kiri kanan tangki motor sport. Di bawah kaki pengendara dan di bawah kaki penumpang.

Untuk membantu pemasangan barang barang maka lebih baik bila memasang kaitan di banyak baut motor. Bisa yang model sederhana:

Atau yang model bisa menjepit:

 

Untuk memasang barang di tangki motor, maka kaitan dibuat di sisi sebaliknya. Menaruh barang di kanan tangki butuh menempatkan kaitan di kiri tangki, menaruh barang di kiri tangki butuh menempatkan kaitan di kanan tangki.

Menaruh barang di bagian tengah motor matik dan bebek juga perlu ditambahkan kaitan bila belum ada. Kaitan tidak harus di depan, juga bisa di baut bagian penutup mesin atau jok.

Menaruh barang di bawah kaki pengendara bisa memanfaatkan kaitan helm untuk motor matik atau bebek. Namun terkadang lebih aman bila diberi penguat kalau kaitan helmnya dari plastik. Untuk motor sport, pemasangan sebaiknya pakai kaitan di sisi berlawanan seperti cara di tangki.

Menaruh barang di bawah kaki penumpang butuh pengaman. Bisa pakai kerdus untuk melapisi atau bahan lain yang lebih kuat.

Pengait bisa ditambahkan di bawah jok. Tapi kalau ingin posisi barang lebih tinggi maka kaitan perlu pakai dari sisi yang berlawanan.

Kerdus bisa juga dimanfaatkan seperti sari guard. Tapi harus diingat bahwa dari contoh contoh orang celaka karena baju tersangkut roda itu terjadinya karena baju menyangkut pada rantai. Jadi menutupi roda saja masih tidak cukup. Rantainya juga harus ditutupi, misalnya dengan pakai triplek. Ini penting terutama untuk motor bebek. Kalau tidak bisa maka sebaiknya hindari baju panjang atau misalnya diakali dengan mengikat bajunya agar tidak menyebar kemana mana. Yang berikut ini masih tidak aman:

 

Pastikan bahwa cara pemasangan barang harus benar benar aman dengan memperhatikan kestabilan kendaraan dan ketahanan pemasangan. Jangan sampai barang bisa lepas bila beberapa kali kena jebakan lubang dijalan atau saat dipakai selap selip. Jangan sampai barang membutuhkan kita untuk menahan pakai kaki atau tangan. Usahakan sehingga barang bisa terpasang aman dan tidak mengganggu.

 

Usahakan agar distribusi berat dari motor tetap seimbang, baik kiri kanannya ataupun depan belakangnya. Bila tidak seimbang maka perhatikan juga perubahan distribusi berat motor.

Seringnya motor jadi lebih banyak beban di belakang, contohnya bila pakai boks atau semua barang berat ditaruh belakang. Ini menyebabkan roda depan jadi berkurang gripnya.

Dalam kondisi seperti ini, maka dalam melakukan akselerasi harus lebih hati hati agar ban depan tidak sampai terangkat. Dalam mengerem juga jangan niru cara safety riding Indonesia atau inggris. Sebaiknya dahulukan mengerem belakang dulu lalu diikuti dengan rem depan. Ini akan memastikan grip ban depan sudah lebih pakem sehingga tidak gampang selip.

Mengerem juga jangan nuruti rasio. Saat beban di belakang bertambah, maka rem depan tidak dikurangi, tapi justru harus ditambah. Tapi tetap rem belakang yang harus didahulukan. Kekuatan rem belakang juga harus ditambah.

Mengerem jangan langsung kuat tapi makin lama makin kuat, sebisa mungkin mendekati limit kalau butuh mengerem ekstrem. Kalau pakai rem belakang dulu, ini akan lebih mudah dilakukan.

Selain perubahan handling, menaruh terlalu banyak barang di belakang juga bisa beresiko merusak struktur kendaraan. Ini terutama untuk kendaraan dengan monoshock. Beberapa motor sering jadi ambles suspensinya setelah pernah dipakai bawa beban berat. Ada juga yang sampai harus minta maaf sama pabrik motor gara gara swing arm belakang motornya tidak kuat menahan beban setelah kena beberapa lubang.

 

Saat membawa barang yang banyak sering kali suspensi akan jadi mentok, terutama untuk motor yang suspensinya empuk. Karena ini termasuk kondisi darurat, maka pertimbangkan untuk membeli ganjal per.

 

Untuk hal lain, sebaiknya kalau servis jangan mepet dengan hari keberangkatan. Jaga jaga kalau servis bikin masalah. Motor diservis belum tentu akan makin baik. Tergantung sama ketelitian dan kemampuan mekaniknya. Walau servis dilakukan di bengkel besar sekalipun sama saja.

Kalau perjalanannya jauh, maka sebaiknya jangan ngejar performa tapi utamakan keawetan. Filter udara dan knalpot sebaiknya pakai yang standar, apalagi bila butuhnya motor disetel irit. Bila disetel irit maka kebutuhan oktan bensin meningkat. Mesin bisa makin panas. Karena jarang jarang pulangnya, mending jangan diiritkan.

Bensin kalau bisa hindari pakai pertalite. Tapi seandainya terpaksa, sebaiknya siapkan tool untuk bisa buka busi. Kalau mesin mati tengah jalan, coba cek businya. Nggak usah memaksakan pakai pertamax turbo bila nggak beneran butuh. Kalau oktan terlalu tinggi malah resiko mesin panas dan fouling saat macet atau pakai rpm rendah. Untuk amannya, pakai pertamax saja. Untuk menambah tenaga / irit, meningkatkan oktan dan mengurangi fouling bisa juga dibantu pro capacitor, sekalian mengurangi pusing kalau mengendari siang siang :).

Tekanan ban jangan lupa. Jangan cari empuknya. Kalau bawa barang itu justru tekanan angin harus ditingkatkan. Apalagi bila mau dipakai kencang. Pakai ban kempos justru membuat ban beresiko meletus.

Oli mesin jangan pakai yang encer, tapi pakai yang paling tidak 10W40. Pilih oli yang bagus. Jangan pilih oli yang 100km saja suara mesin sudah berisik. Referensi oli silahkan browsing, tapi kalau kemahalan ya paling tidak ditambahi minyak goreng 10%.

Jangan lupa bawa jas hujan, jaga jaga hujan. Mungkin kita tahan sama air, tapi keluarga kita bisa masuk angin. Walau cuma jalan siang hari, jangan lupa pakaikan jaket untuk istri dan anak. Kalau bisa pelindung dari terik matahari juga. Ditutup lengkap, tapi jangan sampai sesak napas.

Siapkan air minum. Bisa untuk menambah stamina seandainya berhenti puasa, membasuh mata yang kena debu atau untuk menyegarkan muka bila mengantuk.

21 respons untuk ‘Mudik pakai motor jangan bawa kerdus, jangan pakai oli encer, jangan beli pertalite, jangan mendahulukan rem depan

  1. Thank’s berat infonya min, tapi saya ga mudik hehe. Mungkin bakal digunakan ilmunya saat mudik ke rumah mertua, ehhh haha.

    Btw, nambah MG kalau oli kemahalan, berarti nambah volumenya dong. Apa gpp ke mesin?

    Suka

    • sama sama :). Idealnya sih pas, 90% oli mesin + 10% mg. Tapi ditambah langsung mestinya tidak masalah, kan cuma kelebihan sedikit. Bisa dilihat di meteran oli di tutup olinya. biasanya setelah ganti oli itu sedikit dibawah.

      Suka

  2. keselamatan di utamakan,jangan mengikuti arus,bila ingin bertemu ortu/saudara di kampung halaman di hari lain saja,bukan di hari besar.rame,macet,rawan kecelakaan,memang mudik sudah tradisi,tapi keselamatan berawal dari kita juga

    Suka

  3. yg simpel sih beliin aja bronjong terpal mirip yg dipake pak pos itu, simpel muat banyak
    lebih aman lagi ikut program mudik, gratis naik bis motornya juga dikirim lagi kurang apa coba…

    Suka

  4. Enak’y sih barang2 yg mau dibawa dipaketin aja. orang’y sih terserah, mau pake motor silahkan, pake angkutan umum boleh.

    Suka

  5. Siap gan…lebaran mau je bali soalnya,nasib gak pnya mobil.kasian anak istri,tapi gimna lagi,naek bis malah mabok semua

    Suka

    • Paling enak ya barang via kurir dikirimnya, kita touring pake motor mudiknya (jadi bisa dinikmati setiap momen perjalanannya) ahaha.

      Suka

  6. Pak Admin, boleh request artikel lagi ga hehe …. Saya penasaran mengenai pengaruh jumlah silinder terhadap performa/karakter/keawetan sebuah mesin motor dengan cc yang sama. Atau jawab saja di sini kalau memang ga perlu penjelasan panjang. Thanks! ^^

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.