Takut pakai rem belakang di motor sport bisa jadi karena pabriknya mendesain rem belakang terlalu ngawur pakemnya, berikut ini trik ala pembalap


Ini sambungan artikel sebelumnya namun sekarang membahas kendala yang bisa terjadi bila rem belakangnya cakram.
Mengapa rem belakang bisa menstabilkan motor dan walau keith code bilang balapan nggak butuh rem belakang tapi nyatanya rider juara dunia pada pakai, 29 Mei 2017

Inti dari artikel sebelumnya adalah membahas mengapa rem belakang itu penting untuk membantu kestabilan, dan menunjukkan bahwa pemakaian rem belakang pun bisa membantu pembalap menjadi kompetitif. Entah mengapa kok sampai ada yang salah paham, sampai bilang penulis ini nggak suka dengan pembalap yang nggak pakai rem belakang. Penulis juga nggak ingat kapan penulis bilang bahwa pakai rem depan saja saat balapan itu salah.

Yang penulis nggak setuju itu adalah yang bila pada pemakaian harian, terutama bila mengerem mendadak, nggak pakai rem belakang. Penulis menyarankan untuk pakai rem belakang dulu, lalu diikuti dengan rem depan. Penulis tidak mengajurkan mendahulukan pemakaian rem depan, apalagi di motor matik dengan CBS murahan seperti yang ada pada Honda Vario atau Honda Beat, dst. Penulis anggap itu cari mati. Tapi ya untungnya (?) yang mendahulukan rem depan saat ngerem itu seringnya nggak pakai rem belakang.

Entah mengapa kok sampai dibuat rancu antara pemakaian harian dan balapan. Di balapan sudah jelas terbukti bahwa nggak pakai rem belakangpun bisa jadi juara dunia. Juga tidak bisa dipungkiri bahwa ada pembalap yang jadi juara dunia dengan mengandalkan rem belakang. Jadi kalau di balapan, pemakaian rem belakang itu bukan kunci penentu juara atau tidak. Ada faktor faktor lain yang juga penting. Misalnya kalau nggak ngerti lintasan atau nggak hapal limit motor, ya nggak ngefek ngerem bisa lebih jago. Tetap saja bakal dibantai sama yang sudah hapal lintasan dan hapal limit motor.

Tapi kalau untuk harian, dimana keselamatan menjadi prioritas utama, maka menurut penulis rem belakang itu penting. Penting agar motor bisa berhenti lebih cepat. Penting untuk membuat motor lebih stabil (sudah dijelaskan di link diatas). Penting untuk membuat grip ban depan lebih pakem.

Kalau itu untuk balapan, terserah mau pakai cara apa. Tapi kalau untuk harian penulis anggap rem belakang itu penting.

Ada yang bilang penulis cuma bicara teori. Entah ini asumsi darimana. Di artikel diatas penulis sharing omongnya para pembalap dunia. Apa dianggap mereka bohong? Yang penulis sarankan juga berdasarkan apa yang penulis alami. Penulis sudah bandingkan sendiri. Penulis nggak tahu apa yang nggak setuju itu sudah coba sendiri?

Banyak yang bilang pakai rem depan ok ok saja. Iya deh. Tapi kalau belum pernah coba pakai rem belakang, membandingkannya pakai apa dong? nggak setuju berdasarkan teori? Bila belum coba, silahkan coba, lalu share. Bila masih tidak setuju, juga silahkan share atau lewat komentar. Biar bisa jadi pertimbangan yang lain. Biar yang pembaca lain jadi ngerti perbedaannya.

Ada yang bilang penulis dibilang merasa paling benar sendiri. Mungkin ini karena penulis menganggap alasan yang dipakai oleh aliran “rem depan dulu” itu mengada ada atau nggak pas.

Argumentasi kalau pakai rem belakang dulu nggak berhenti berhenti itu kan jelas ketahuan terjadi karena orangnya nggak pakai rem depan.

Argumentasi bahwa ban depan yang paling berperan saat pengereman juga nggak mengena. Kan jelas bahwa seandainya pakai rem depan dulu sekalipun nggak boleh langsung dikuatkan? Pakai rem harus lembek dulu. Di tahap awalan ini justru pakai rem belakang banyak keunggulannya. Dengan mendahulukan rem belakang pun setelah itu tetap rem depan yang diutamakan. Rem belakang cuma awalan.

Argumentasi kalau ngerem depan berhenti lebih cepat juga nggak pas. Apa memang sudah coba sendiri? Dari yang penulis coba sama saja. Malah kalau pakai rem belakang dulu rem depan terasa lebih pakem, apalagi saat boncengan. Yang rem depannya terasa nggak pakem silahkan coba pakai rem belakang dulu dan coba dirasakan.

Dari debat yang pernah penulis lakukan soal pengereman, penulis tidak pernah mendapatkan penjelasan memuaskan mengapa kok pakai rem depan dulu lebih aman.

 

Namun penulis baru kepikiran bahwa rem cakram belakang motor sport itu bisa jadi terlalu pakem. Jadi rem belakang itu gampang ngelock bukan gara gara weight transfer atau kecepatan tinggi, tapi karena pabriknya mendesain rem belakang secara ngawur. Rem belakang dibuat terlalu pakem sehingga jadi membahayakan. Disentuh sedikit sudah ngelock, apalagi banyak.

Saking pakemnya sampai bikin para rider motor sport pada takut memakainya. Saking takutnya maka para pengajar safety riding pada memutuskan bahwa kalau pakai rem belakang maka motor dijamin akan ngelock dan motor akan meluncur tidak bisa berhenti (Penulis nggak ngerti mengapa mereka kok nggak kepikiran pakai rem depan saat itu terjadi). Mereka nggak menyalahkan pabriknya, tapi cari cara lain, yaitu dengan melarang mendahulukan rem belakang. Tapi anehnya kalau ada orang celaka karena ngerem depan dulu, yang disalahkan kok ridernya.

Ada pembaca yang berkomentar bahwa habis pindah dari motor matik ke motor sport banyak yang sering kelebihan pemakaian belakangnya, sehingga jadi goyang dombret saat hard braking. Menurut penulis wajar karena dari biasanya pakai rem tromol mendadak jadi pakai rem cakram. Sama lah kasusnya dari setelah biasa pakai rem depan pakai tromol lalu jadi pakai rem cakram. Ada proses “pembelajaran” juga. Cuma kalau rem depan ngelock itu resikonya jatuh. Kalau rem belakang ngelock itu motor berhentinya lama kalau nggak dibantu rem depan.

Bila pindah dari rem depan tromol ke rem depan cakram itu butuh penyesuaian, maka normalnya pindah dari rem belakang tromol ke rem belakang cakram juga butuh penyesuaian. Namun ternyata, rem belakang motor itu ada yang ngawur juga. Ini diakui oleh beberapa pembalap dunia. Beberapa pembalap dunia beranggapan bahwa rem belakang yang ada di motor sekarang itu pakemnya terlalu berlebihan, dianggap nggak masuk akal.

Sebelumnya penulis sudah bahas sekilas:

Dikatakan juga bahwa di dunia balap justru mereka mencoba mengurangi kekuatan rem belakang salah satunya dengan mengurangi permukaan kampas rem. Ada juga yang menambah per sehingga rem belakang jadi lebih keras. Tujuannya adalah untuk membuat rem belakang tidak terlalu ringan sehingga tidak mudah terkunci.

Mulai dari problemnya dulu, ditulis oleh intruktur utama sekolah balap yamaha:
Let’s take a lesson from the roadracing community to increase the use and effectiveness of the rear brake, By Nick Ienatsch, Lead Instructor – Yamaha Champions Riding School, April 26, 2017

This column was on my mind because of what racers do to their rear brakes: they make them smaller and weaker. They modify them so it takes more pressure to lock them. They want to use them, but not abuse them. I believe these mods are a great idea for all riders of non-cruisers. In my priority scale, these rear-brake mods to increase feel and decrease power are second on my must-do list, after fitting capable tires.

Factory racebikes, like Yamaha’s TZ250 or Honda’s RS250 (1995 TZ pictured), come with little bitty rear calipers clamping tiny rotors. The factory knows a locked rear brake is worthless so they build them to be almost lock-proof. Ducati and Triumph have this figured out as well.

Freddie Spencer used to joke that there was a Honda engineer whose job was to make the CBR600RR rear brake stronger each year (2003 pictured), and because of that strength, comments like “Never touch the rear brake” started to pervade the sport-bike side of our industry. You can see the difference in rotor and caliper size when compared to the TZ. This is a call-out to all manufacturers: We need usable rear brakes, not stronger rear brakes!

Dikatakan bahwa Nick membuat artikel karena teringat bahwa yang dilakukan pembalap pada rem belakang adalah membuatnya lebih kecil dan lebih lemah. Pembalap merubahnya sehingga lebih susah untuk membuat roda belakang ngelock. Mereka ingin pakai rem belakang tapi tidak ingin sampai berlebihan. Ia percaya bahwa modifikasi ini penting untuk semua pengendara motor non cruiser (mungkin yang berat di belakang). Di skala prioritas, ia menganggap modfikasi rem belakang untuk meningkatkan rasa dan mengurangi kekuatan rem sebagai urutan kedua setelah pasang roda yang bagus.

Motor balap pabrikan, seperti Yamaha TZ250 atau Honda RS250 dilengkapi dengan caliper belakang kecil menjepit cakram yang kecil pula. Pabrikan tahu bahwa membuat ban belakang ngelock itu nggak ada gunanya sehingga mereka membuat rem belakang hampir tidak bisa ngelock. Ducati dan Triumph juga tahu ini.

Freddie Spencer dikatakan sering bercanda dengan mengatakan bahwa ada ahli Honda yang tugasnya adalah untuk membuat rem belakang CBR650RR makin kuat setiap tahunnya. Dan karena terlalu kuat, akhirnya jadi mulai muncul komentar “Jangan pakai rem belakang” di kalangan pemakai motor sport.

Bisa dilihat perbedaan ukuran di rotor dan caliper bila dibandingkan dengan yang ada pada TZ. Permintaan untuk pabrikan: Kita butuh rem belakang yang bisa dipakai, kita nggak butuh rem belakang yang kuat!

 

Solusinya:

These are the rear brake pads from my R1 track bike, and my FZ1 rear pads look just the same: by removing some of the top and bottom pad material the mechanical grip is reduced and it takes more pressure to lock the rear brake. You can also cut the pads in vertical stripes, as my friend Shane Turpin does on his track bikes.

Gambar menunjukkan kampas rem belakang dari motor R1 punya Nick, sama juga seperti yang ada pada FZ1. Dengan menghilangkan bagian atas dan bawah dari kampas rem maka daya cengkram rem jadi berkurang dan jadi butuh tenaga lebih kalau mau mengelock ban belakang.

 

See the short spring Graves Motorsports installed on the rear-brake pushrod? This additional spring requires more boot pressure to depress the brake lever, effectively building feel. Another trick is to lower the rear brake pedal so your ankle is further in its movement, which some riders believe adds feel and puts the point of lockup further in the ankle’s range of movement.

Dikatakan bahwa Graves Motorsports memasang per tambahan pada mekanisme di rem belakang. Per tambahan membuat rem jadi lebih susah ditekan, harus butuh tenaga ekstra. Ini membuat rem jadi ada rasanya.

Trik lain adalah dengan merendahkan tuas rem belakang sehingga tungkai jadi harus menekan lebih jauh. Beberapa pengendara percaya bahwa ini menambah feel dan membuat titik ngelock ban jadi lebih jauh dari pergerakan tungkai kaki.

 

Here is a Braking rear rotor with significantly less metal than most stock rear rotors so that the pads have less material to grip. In my mind, this safety margin is significant because a locked rear brake is worthless, but a useable rear brake adds another degree of control to speed, radius, wheelie, weight-transfer and spin control.

Ditunjukkan cakram rem belakang yang logamnya jauh lebih sedikit daripada standar, sehingga permukaan grip jadi berkurang. Penambahan safety margin ini penting karena ngelock ban belakang nggak ada gunanya, dan kemudian rem yang jadi bisa dimanfaatkan akan menambah kendali kecepatan, radius, wheelie, weight transfer dan spin.

 

The rear brake on Ryan Burke’s R1 Superbike (current and two-time defending MRA #1 plate) is a perfect example of what the best roadracers are chasing. This lightweight rotor and miniscule caliper from superbikeunlimited.com give Burke a chance to use but not abuse that rear brake. This guy set five track records in ’16 “using all the controls.

Gambar menunjukkan rem belakang dari motor superbike R1 punya Ryan Burke dua kali Juara MRA (Motorcycle Road Racing colorado). Cakram yang kecil dan ringan, lalu caliper yang kecil dari superbikeunlimited.com, membuat Burk tidak sampai berlebihan pakai rem belakang. Ia membuat 5 kali rekor lintasan di 2016.

 

Trik trik diatas memang dilakukan oleh pembalap tapi Nick berpendapat bahwa trik tersebut juga bisa diterapkan di motor harian. Penulis setuju. Kalau remnya terlalu pakem maka justru rem jadi bahaya.

Penulis jarang banget pakai motor dengan rem belakang cakram. Jadi maaf bila penulis tidak merasakan ketakutan seperti yang dirasakan pemakai motor sport. Bila rem belakang terlalu sensitif memang susah untuk bisa mengendalikan kekuatan. Dan memang kalau susah mengendalikan kekuatan lebih aman kalau tidak dipakai. Rem belakang yang terlalu sensitif pun berbahaya.

Mungkin ini alasannya mengapa ada yang lebih suka pakai engine brake. Karena kalau pakai rem belakang susah sekali mengatur kekuatan pengeremannnya.

Bukan salah ridernya. tapi salah pabriknya.

Pabriknya ngawur.

Iklan

23 thoughts on “Takut pakai rem belakang di motor sport bisa jadi karena pabriknya mendesain rem belakang terlalu ngawur pakemnya, berikut ini trik ala pembalap

  1. sedikit sharing..
    dulu wktu mau ambil motor budget 18jt antara verza baru,cb150 bekas,vixion bekas,,,
    kegunaan buat bawa barang (pakan bebek) telur dll.
    cb150 dihantui problem kualitas mesin, vixion bnyak yg haus oli,komstir oblak,deltabox seng tipis ringkih.
    yg sbnrnya jdi prhatian rem belakang cakram.
    saya fikir buat apa motor 150cc dikasih rem belakang cakram? mau lari berapa km/h? buat gaya? jd bnyk upping price..scorpio 225cc rem belakang tromol jg aman,,
    akhirnya pilih verza,,body lumayan,kuat buat angkut2,buat jln2 jg oke (modif striping).
    rem tromol verza sudah jauh lebih dari cukup.
    terbukti rem blkang tromol sudah sangat cukup untuk mesin 150cc.
    dari 100km/h( rata2 pngndara sport 150cc jg sgitu max djln raya) darurat/ndak, rem blkang tromol sngt baik dlm memindah weight trasfer ke ban depan, gk seserem cakram terasanya.

    Suka

    • terima kasih sharingnya. wah jadi banyak tahu. Iya, pakai rem tromol pun kalau di belakang sudah cukup. Rasanya rem belakang cakram itu lebih untuk marketing saja. Kalau nggak besar dianggap nggak sporty.

      Suka

      • iya, sport 150cc sprtinya skrang wajib dengan cakram belakang,bebek pun sudah cakram depan belakang,,wlaupun saya rasa bebek dngan cakram belakang itu lucu.
        sekenceng2nya bebek ttp bebek, limbung,geal geol, tntu berbeda dengan motor laki walaupun entry level(verza,byson,Mp).

        Suka

        • Setuju, apalagi bebek lebih nggak stabil belakangnya dibanding motor sport. Beberapa juga punya “insting” belakangnya ngepot kalau jalan licin. Ada beberapa kendaraan lewat berbarengan, bebeknya kompak ngesot padahal yang lain nyantai.

          Suka

          • Kalau pengalaman saya pernah pake tromol & cakram, di feeling saya rem cakram itu lebih konsisten pakem nya antara masih dingin, panas, habis kena hujan. Kalo tromol cenderung ga stabil kepakemannya, jd tromol menurut saya kurang “komunikatif” dgn rider nya

            Suka

    • Setuju, CB 150 Old saya dulu PP Bogor Bandung via Puncak tiap ada momen rem ngedadak langsung “goal geol” wehehe. Terlalu pakem belakangnya. Pake Gixxer sejauh ini belum ada momen begitu, belum coba.

      Suka

  2. rem belakang padahal sangat penting di lalu lintas harian.. sering kulihat hanya pakai rem depan tapi kurang kuat ngeremnya/takut takut barangkali? jadinya nggak nutut akhirnya brak hehehe…
    yah kupikir 90% rider di jalan raya tidak punya ketrampilan yg mumpuni… yah mungkin karena disini negara bebas kali ya.. asal punya duit ya bisa beli dan bawa motor walopun masih bau baby oil hehehhe…
    yah kupikir regulasi pembuatan sim seperti di luar negeri hanya sekedar impian…

    Suka

    • setuju, itu problemnya kalau pakai rem depan. terlalu lemah pakainya bisa nggak nutut, terlalu keras juga takut jatuh.

      Soal sim, rasanya nggak ada bedanya ada tes atau tidak, dibuat jujur jujuran sekalipun pengereman tidak ikut kurikulum, yang diuji cuma slalom dan sepeda lambat macam yang diacara lomba slalom.

      Suka

  3. Untuk penulis, mau nanya dikit, rem belakang di dahulukan lalu rem depan. Nah pada saat rem depan aktif, apakah rem belakang di lepas atau tetap aktif?

    Suka

    • Pengen jawab, gpp ya T.T Kalau saya rem belakang selalu tetap ditekan, cuma setelah tekan yg depan yg belakang dikurangi dikit dari sebelumnya. Untuk beberapa sikon dilepas total entah karena hanya lagi rem pada kecepatan rendah atau sebagainya.

      Suka

    • ren belakang tetap aktif. pakai rem belakang nggak perlu maksimal. Saya beberapa hari yang lalu rem belakang butuh disetel, rem sudah nggak pakem. tapi pemakaian rem belakang masih tetap sangat mempengaruhi grip ban dan pakemnya rem depan.

      Kalau cara saya, sesudah bodi mentok condong ke depan, sesudah rem depan dipakai juga, baru kedua rem dicoba dimaksimalkan.

      Suka

    • kalau rem harian biasanya dirancang untuk bisa langsung dipakai, karena memang pakainya tidak sering, ada waktu pendinginannya. Sementara itu rem balap (cakram keramik/karbon) butuh pemanasan, tapi lebih tahan panas daripada rem harian.

      Suka

      • untuk bnyak stop & go dalam kota,,menurut saya lebih baik pakai rem belakang saja,,biar rem cakram depan gk trllu panas..kl trllu sering dipakai kaliper depan panas..takutnya butuh rem mendadak yg ada malah ngempos,,,

        Suka

        • Menurut saya dua dua nya tidak masalah. Karena kalau stop and go kan putaran cakram pelan, nggak akan bikin panas. Yang bikin panas itu rasanya bila rem depan menggantung, dipakai terus menerus.

          Suka

          • Sepertinya memang harus rem belakang di stel kurang pakem.
            Kalau planning brake kita bisa ngatur kekuatan rem belakang agar tidak lock.
            Kalau sudah panic brake, otak ngirim sinyal ke tangan dan kaki untuk tekan rem sekuat2nya alhasil ban belakang nge-lock.

            Suka

  4. […] Banyak yang mengaku kalau pakai rem belakang pasti ngelock. Kalau rem nya terlalu gampang ngelock maka sebaiknya diperbaiki. Kita nggak bisa apa apa kalau pabriknya lebih mementingkan strategi pemasaran daripada keselamatan pengendara. Kita nggak usah menuruti omongan pabrikan. Takut pakai rem belakang di motor sport bisa jadi karena pabriknya mendesain rem belakang terlalu ng… […]

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s