Safety riding motor itu beda dari mobil, jadi keampuhan dan keamanan teknik mengerem pakai tekan lepas atau mengocok rem perlu dipertanyakan .


Artikel tentang perbedaan rem ABS kw 1 di motor 1000cc keatas dan rem ABS kw 2 di motor yang lebih murah membuat penulis jadi mempertanyakan keampuhan dan keamanan dari teknik mengerem dengan berulang kali menekan lepas.

Teknik mengerem tekan lepas itu dikatakan meniru ABS, mengerem dilakukan dengan sambil menekan lepas berulang ulang, dikocok. Tujuannya agar roda tidak terkunci. Dan kalau ban tidak terkunci katanya belok jadi aman.

Teknik didasarkan pada video macam berikut, diperlihatkan bahwa dengan sistem ABS, mobil masih bisa berbelok pada saat melakukan pengereman:

Penulis tidak setuju. Motor beda dengan mobil. Apa pernah perhatikan bahwa dalam demo pengereman ABS untuk motor itu selalu dilakukan dalam keadaan lurus? Tidak pernah di demokan sambil menghindar juga?

Contohnya berikut ini:

Banyak yang memberi kesan bahwa kalau sudah mengocok rem atau kalau sudah pakai ABS kw 2 motor boleh dibelokkan saat mengerem. Contohnya:
Test Ride Yamaha NMax – Rem ABS nya Bikin Nyaman Ke Hati

kerja Anti-lock Brake System alias ABS itu mirip-mirip dengan pengereman dengan gaya mengocok.. jika di roda empat, mengocok rem artinya menginjak rem berkali-kali dengan cepat (saat panic braking)..

Nah jika di roda dua, berarti menarik (atau menginjak) tuas rem dengan cepat berkali-kali.. artinya si piston dan kanvas akan jepit-lepas sehingga mencegah ban/ roda terkunci dan kendaraan pun bisa diarahkan ke yang lebih aman tanpa harus ngepot..

Ngerem Motor ala ABS

Sekiranya disekitar aman, tarik tuas rem depan berulang-ulang /dikedut sambil dibantu rem belakang. Jika si penyeberang jalan sudah dekat, dan ada celah untuk berkelit, segeralah menuju celah itu. Tapi, usahan roda depan – belakang nggak mengunci.

Kalau sudah faham maksudnya, coba aja sobat praktikan. Dijamin ngerem ala ABS jauh lebih aman..

 

Padahal nggak ada contoh demo pengereman ABS kw 2 yang dilakukan untuk menghindari rintangan. Yang menunjukkan menghindari rintangan itu adalah demo pengereman ABS kw 1, yang ABS nya mampu bekerja normal saat membelok juga:

Jadi sebenarnya mengerem sambil membelok itu tetap nggak boleh walau sudah pakai ABS. Karena kebanyakan ABS itu masih kw 2, yang kalau sambil belok ABSnya nggak bisa bekerja normal. Nah kalau yang ABS kw 2 saja nggak boleh dipakai sambil belok, maka teknik ngerem yang niru niru ABS kw 2 juga seharusnya tidak boleh juga dibuat sambil belok.

 

Kalau dari teori, tenaga pengereman itu harus dibagi dengan belokan. Belok makin tajam maka tenaga pengereman harus makin dikurangi. Ini biasanya ditunjukkan di teori trail braking.

Trail braking dan memanfaatkan rem belakang saat menikung agar bisa cepat atau aman di beda situasi beda caranya .

Praktek dari mengerem metode diatas ditunjukkan sebagai berikut, dimana pengereman dengan treshold braking bisa jauh lebih pendek jaraknya daripada saat mengandalkan ABS. Bahkan untuk sambil belok pun bisa lebih cepat dan lancar saat pakai treshold braking.

Menurut penulis cara yang lebih benar untuk bisa berbelok sambil mengerem itu adalah mengacu pada teknik trail braking diatas, dan tidak mengandalkan teknik mengocok rem.

 

Beberapa orang sepertinya terjebak dengan kata kata “modulate the brake”.
HOW TO BE A FASTER DRIVER – WHAT IS TRAIL BRAKING?

With trail braking what you want to do is to still brake hard at the end of the straight, but instead of fully coming off the brakes at the corner entry, you modulate the brakes in such a way that you come off the brakes gradually whilst turning into the corner.

Arti kata modulate dijelaskan sebagai berikut:

Arti dari kata modulate disebutkan sebagai:

  • usaha untuk merubah atau mengendalikan pengaruh pada, sinonimnya adalah regulasi, mengatur, menyetel, merubah, mengendalikan
  • merubah kekuatan, nada atau pitch dari (suara seseorang), sinonimnya adalah mengatur, merubah nada, memperkeras, melembutkan
  • merubah amplituda atau frekuensi sesuai dengan variasi sinyal kedua, yang biasanya frekuensinya lebih rendah

Dari beberapa arti diatas maka kata kata dari kutipan “you modulate the brake” diartikan sebagai “anda mengatur rem”. Jadi terjemahannya bukan “anda mengocok rem”.

Terjemahan lengkap dari kutipan diatas:
Dengan trail braking maka yang harus anda lakukan adalah tetap mengerem kuat di akhir lintasan lurus, tapi bukannya lepas rem secara penuh pada saat masuk tikungan, anda mengatur rem sedemikian rupa sehingga anda melepas rem secara bertahap ketika masuk ke tikungan.

Modulate diatas mengacu pada “melepas rem secara bertahap”. Kalau modulate diterjemahkan pakai kata mengocok jadi nggak pas terjemahannya.

 

Sering juga istilah modulate muncul di artikel tentang motor atau motogp. Tapi modulate itu artinya bukan mengocok. Contoh pemakaian kata modulate:
2017 Jerez MotoGP Friday Round Up: Quick Hondas, Back Brake Bonanza, And Off-Track Rumors

Probably why Stoner wanted less electronics. He knew how to modulate throttle and rear brake to sublimely control the bike.

Itu komentar adalah pembaca yang mengatakan bahwa ada sebabnya Stoner ingin lebih sedikit driving aid elektronik. Ia tahu bagaimana cara mengatur (secara presisi) gas dan rem belakangan untuk mengendalikan motor secara hebat.

Apa ya Stoner drifting / sliding itu dengan mengocok gas dan rem belakang?

 

Mengocok rem juga bukan sesuatu yang mudah. Apa bisa dijamin bahwa kekuatan yang kita gunakan selalu konstan? Terus bagaimana bila kekuatan pengereman itu butuh divariasikan? Apa ada jaminan bahwa bila kita nggak sengaja menekan terlalu keras motor nggak akan jatuh?

Menurut penulis mengocok rem itu butuh skill yang sangat tinggi, yang artinya nggak aman dan tidak bisa diandalkan untuk penggunaan sehari hari. Rasanya pembalap sekalipun tidak mengandalkan teknik mengocok rem. Jadi lupakan cara mengerem dengan mengocok rem. Kalau mau pakai, maka latihlah yang sering, dan jangan sampai jarak pengereman lebih panjang daripada treshold braking. Kalau ternyata lebih panjang, nanti kalau panik malah makin kacau.

Untuk pemakaian sehari hari, menghindar mendadak sebaiknya dilakukan tidak sambil ngerem. Bila terpaksa harus ngerem, lakukan dengan ringan. Awali dengan rem belakang dulu, baru diikuti rem depan. Kalau rem belakang gampang terkunci, perbaiki segera.

Iklan

14 thoughts on “Safety riding motor itu beda dari mobil, jadi keampuhan dan keamanan teknik mengerem pakai tekan lepas atau mengocok rem perlu dipertanyakan .

  1. Kalo ane si, waktu ada rintangan mendadak, ya rem mendadak tapi motor usahakan lurus jangan sampai ngelock, tekor ngerem tanpa ngelock itu lebih bagus daripada memaksa tapi akhirnya malah ngelock

    Kalo masih tekor, pas waktu mau nabrak (sudah dekat), lepas rem lalu belokkan dengan tajam
    Begitu lepas langsung belokkan, sebelum shock kembali naik. Insya Allah aman

    Suka

    • terima kasih sharingnya. iya, kadang kalau mepet susah juga menentukan. jadi penting untuk menjaga agar ban tidak ngelock.

      kalau dari anjuran katanya melepas remnya tidak boleh mendadak juga.

      Suka

  2. Hmmmm… Kira2 para instruktur safety riding yang berangkat berkompetisi dijepang pakai teknik mana ya om??
    Banyak teknik safety riding yang om sangkal.. Mestinya si om yang berangkat kejepang…

    Suka

    • Kompetisi itu kan bukan safety riding tapi lomba slalom? adu kencang (slalom) dan adu lambat (titian kecil)? Itu menghalalkan semua cara yang penting bisa cepat atau lambat. Skill harus tinggi. Sementara itu menurt saya safety riding itu adalah teknik yang bisa tetap aman walau skill rendah.

      Kalau teknik pengereman, di acara lomba instruktur jepang katanya ngerem yang benar depan belakang bersamaan (sama seperti MSF amerika), nggak seperti yang diajarkan safey riding indonesia, nggak juga disuruh mengocok rem:

      Ajaran lokal seperti berikut:
      Begini Tips Cara Ngerem Mendadak Tapi Gak Bikin Ngesot, 20 Mei 2017

      Johanes Lucky, chief instructor safety riding PT Astra Honda Motor (AHM) mengatakan “Cara melakukan pengereman mendadak yang tepat itu, tutup gas dengan cepat, kemudian tarik rem depan, kemudian injak rem belakang. Makanya jangan biasakan kedua jari nempel di tuas rem depan saat sedang berkendara. Karena ketika melakukan pengereman maka secara spontanitas akan cepat memencet rem depan”

      Jadi ajaran AHM beda sama ajaran di Jepang.

      ujinya juga ngerem di jalan lurus, bukan sambil menghindar.

      Suka

  3. Hmmm…., ane jadi agak sedikit paham tentang maksud “modulate braking” ini, intinya ini sih IMO soal ketajaman feeling dari pengendaranya aja dengan braking system dari motor yg dia naiki, tentu tak lepas pula dengan sistem pengereman dari motor itu sendiri yang harus mampu memberikan feedback yang baik dan mampu memberikan rasa confident kepada pengendaranya, serta bagaimana respon motor disaat “under braking” apakah menjadi liar atau tetap stabil nurut apa yang dimau oleh pengendaranya.
    Menurut ane ini permasalahan yg cukup kompleks, ngga melulu soal gimana cara ngeremnya, atau ABSnya, tapi keseluruhan dari paket motor itu sendiri, sistem pengeremannya, dan ketajaman feeling pengendaranya.

    Suka

    • Iya, ketajaman feeling penting. Makin pakem bannya harus makin sensitif feelingnya, oleh karena itu pembalap motogp sering komplin soal ban yang mengurangi feeling.

      Suka

  4. Susah mmg ngatur porsi rem dpn-blkg motor yg pas, kondisi jln ketemunya jg beda2, sejauh ini cm ngandelin feeling sj menyesuaikan track sambil atur persneling bt bantu deselerasi tp kalo sdh ketemu namanya panik..pengalaman ngatur rem sesuai feeling susahnya ampun, apalagi saat mtr miring /ditikungan super ngerinya, mgkn ga recommended cara sama jg sy terapin wkt nyetir luar kota, bagi porsi antara rem dan engine break kl darurat sj

    Suka

  5. Kenali motor anda.. seberapa limitnya.
    Kenali rem depan sama rem belakangnya. Grip motor.
    Beda motor, beda limitnya.
    Dulu pake motor a, rem belakang cuma ditowel dikit aja dah ngelock.
    Pake motor b, hampir 100% tekan depan belakang,ga ngelock.

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s