Baju rider yang dilengkapi dengan air bag pada saling bilang lebih bagus dari yang lain


Motorcycle.com barusan memberitakan bahwa baju rider alpinestar mendapatkan penghargaan sebagai inovasi top di acara Consumer Electronics Show Asia Innovation Awards yang diselenggarakan di Shanghai, China.

Alpinestars Airbag Technology Wins CES Asia Top Innovation Award

Tapi artikel tersebut nggak banyak informasinya sehingga penulis coba cari sendiri. Ternyata pembuktian di websitenya sangat menarik karena memakai contoh crash pembalap motogp Jorge Lorenzo, di Laguna Seca di 2011:

Gambar urutan aktivasinya sebagai berikut:

Di penjelasan artikelnya, Alpinestar Tech-Air Airbag dijelaskan punya keunggulan sebagai berikut:

Alpinestars Tech-Air™ is the world’s first and only independent airbag system providing complete critical full upper body protection. It functions without relying on external sensors, including GPS and can be used with any make or model of motorbike. Tech-Air™ uses a sophisticated algorithm which has been evolved over a decade of research and development, hundreds of thousands of miles of road testing and a multitude of full-scale crash tests in order to detect all types of crashes and ensure the airbag is fully inflated before the rider suffers an impact.

Alpinestars Tech-Air™ dikatakan adalah sistem airbag pertama dunia dan satu satunya yang benar benar independen yang menyediakan perlindungan kritis untuk bagian atas badan. Bisa berfungsi tanpa mengandalkan sensor dari luar, tidak pakai GPS dan dapat dipergunakan untuk segala macam motor. Tech-Air™ mengandalkan algoritma rumit yang dikembangkan dari penelitian lebih dari satu dekade, ratusan ribu mil uji jalan, dan berbagai level uji crash skala penuh untuk bisa mendeteksi segala macam crash dan meyakinkan bahwa air bag akan mengembang penuh sebelum pengendara mengalami benturan.

Mengapa kok sampai ngomong begitu? Ini karena menyindir saingannya.

 

Yang pertama adalah Dainese.
Dainese v. AlpineStars – The Battle Over Airbag Safety Systems

Dainese levied two injunctions against Alpinestars in a German court stating that the Tech-Air systems infringe upon two of the Dainese European patents, specifically the construction of the airbag itself and and the physical material piece that dictates or controls the inflation from the gas system.

The AlpineStars Tech-Air system is fully self-contained and relies solely on sensors for deployment in the event of a crash or unscheduled dismount. In contrast, the Dainese D-Air system requires technology support mounted to the motorcycle that communicates the deployment of the system.

Dikatakan bahwa Dainese melakukan dua tuntutan terhadap Alpinestars di pengadilan Jerman yang menyatakan bahwa sistem Tech-Air telanh melanggar dua paten Eropa dari Dainese, terutama yang berkaitan dengan konstruksi dari airbag dan bagian dari bahan fisik yang mengendalikan pengembangan dari sistem gas.

Alpinestars Tech-Air sistem bekerja sendiri sepenuhnya dan hanya mengandalkan sensor untuk mendeteksi crash atau jatuh tanpa disengaja. Sebaliknya, sistem Dainese D-Air mengandalkan dukungan dari teknologi yang dipasangkan di motor yang akan berkomunikasi dengan sistem airbag.

Sistem pengembang udara airbag dari Dainese dikatakan menggunakan teknologi cold air:
Dainese D-Air FAQS

“Cold technology” is a gas injection system that offers considerable benefits in terms of inflation speed, volumes attained and product safety in comparison with other previous technologies (Pyrotechnic Inflater / Hybrid Pyrotechnic / Heated Gas) and was therefore adopted by car manufacturers for airbags.

“Cold technology” dikatakan adalah sistem injeksi gas yang menawarkan keuntungan lebih bila dibanding dengan teknologi sebelumnya (Pyrotechnic Inflater / Hybrid Pyrotechnic / Heated Gas), sehingga telah dipergunakan oleh pabrik mobil untuk aplikasi airbag.

Dikatakan juga bahwa kendaraan harus dipasangi M-Kit yang merupakan alat elektronik pembantu. Pemasangan harus dilakukan di dealer yang sudah ditunjuk untuk meyakinkan bahwa pemasang alat benar benar yang sudah ahli sehingga bisa memastikan sistem akan bekerja sempurna.

Dikatakan bisa aktif dalam 80ms. Berat dari sistem Dainese ini lumayan juga, 6.5 Kg untuk ukuran 44 hingga 9 Kg untuk ukuran 60. Wah padahal mengangkat beras 5kg saja sudah terasa.

Demo sistem Dainese:

 

Dainese juga punya sistem airbag yang independen yang namanya Dainese D-air Misano 1000.
Dainese announces new stand-alone motorcycle airbag jacket

Completely independently operated, without the need of any sensor kit to be fitted to the motorcycle, the Misano 1000 contains the sensors, control electronics and a GPS unit in the back protector.

Dikatakan bahwa versi ini benar benar independen, tanpa butuh ada sensor yang dipasang di motor. Misano 1000 mengandung sensor, kendali elektronik dan unit GPS di pelindung belakang.

 

Yang kedua adalah Halite. Yang ini pakai cara mekanik. Air bag baru akan aktif kalau kawat slingnya ditarik. Keunggulan juga dibuat menyindir sistem sistem yang lain:
Halite FAQS

WHY CHOOSE A MECHANICAL AIRBAG SYSTEM?
The main advantages of a “100% mechanical” system are:
– the trigger reliability
– ease of use (attaches / detaches with quick clip)
– it’s speed of installation and adaptability to all vehicles (strap installed only once on one or more bikes, for driver and passenger)
– it’s no maintenance, worry free use (no battery recharging)

Dikatakan bahwa keunggulannya adalah:
– aktifasi lebih pasti
– mudah dipakai (pasang / lepas klip)
– mudah dipasang dan diadaptasikan di semua kendaraan. Strap dipasang hanya sekali di kendaraan, untuk pengendara dan penumpang.
– tanpa perawatan, dipakai tanpa khawatir, tanpa harus mengecharge batre

Jadi untuk pemasangan, ada kaitan yang dipasang di motor yang terhubung dengan tali oloran dari airbagnya. Saat tali ketarik maka airbag akan aktif:

Demo sistem Halite:

Satu lagi perbedaan sistem Halite dari yang lain adalah setelah terpakai tidak harus diganti di dealer tapi cukup mengganti cartridge CO2 bila kantong udaranya masih bagus. Katanya aktif dibawah 100ms, bisa awet selama 10 tahun.

 

Sistem dengan batre memang ada kelemahan butuh ngecharge. Yang untuk Dainese tidak menemukan informasinya. Penulis hanya nemu info dari Alpinestars:
AlpineStars Tech-Air FAQS

Once fully charged the battery will last for 25 hours. Like your mobile phone Tech-Air™ requires regular recharging according to volume of usage. One hour’s charging ensures four hours of riding time. When the LED display shows a red indication for low battery, customers need to recharge the system.

To switch on all that is required is to close the outer jacket’s zip and thereafter check the LED display panel on the arm to ensure system is activated correctly.

Setelah diisi penuh maka batre bisa bekerja selama 25 jam. Tech Air juga membutuhkan mengecharge secara berkala sesuai dengan waktu pemakaian. Satu jam ngecharge bisa dipakai untuk mengendarai selama 4 jam. Lampu LED akan berwarna merah ketika batre sudah butuh dicharge.

Untuk menyalakan sistem, ada tombol di dekat resleting bagian luar, sesudah itu perlu di cek tanda led di lengan untuk memastikan sistem sudah bekerja.

Dikatakan juga bahwa airbag bisa mengembang penuh dalam 25 ms, dengan waktu deteksi antara 30 sampai 60ms.

 

Setelah crash, sistem harus di cek ulang. Perlakuannya berbeda sesuai dengan sistemnya:

Alpinestars:
Following a crash Alpinestars can replace the airbag and inflators. Post-crash the system should be returned for evaluation and assessment from an Alpinestars technician, who will advise the customer of the appropriate next steps.

Dainese:
The D-air® Street system can be replaced following deployment. D-Air® Street garments (i.e. the Gilet or Gore-Tex® jacket) must be sent to Dainese by an authorised Dainese D-Air® Street dealer. N.B. The M-kit (electronic accident detection system fitted to bike) must be checked by an authorised Dainese installer as it is vital to ensure that system is working properly.

Helite:
The airbag will de-flate automatically after about 2 minutes and recover its shape. Before reactivating the system with a new cartridge, make sure the vest is in good condition: no holes, or damage. If you are unsure of the status of your motorcycle airbag, you may return it to our after sales service in Emeryville, CA for inspection and repair.

Untuk Alpinestars, airbag dan inflator (pompanya) harus diganti. Setelah crash baju harus di evaluasi dan dinilai oleh teknisi Alpinestars yang akan memberikan saran ke konsumen apa langkah selanjutnya.

Untuk Dainese, baju nya harus dikirim ke dealer Dainese untuk di cek. Perangkat M-Kit yang dipasang di motor juga harus dicek lagi ke yang pasang untuk memastikan sistem bekerja sempurna.

Untuk Helite, air bag akan kempes sendiri setelah dua menit dan balik asal lagi. Sebelum memasang cartridge CO2 pengganti, harus dipastikan bahwa bajunya aman, tidak berlubang atau rusak. Bila tidak yakin, bisa menghubungi dealer untuk pemeriksaan dan perbaikan.

 

Baik merek Dainese dan Alpinestars punya produk khusus untuk jalan raya dan khusus untuk balapan. Pemakaian tidak bisa ditukar tukar. Tidak disarankan untuk pemakaian offroad.

Untuk yang pakai batre repot juga harus memastikan batrenya sudah dicharge sebelum dipakai. Karena pakai sensor, nggak boleh sembarangan berguling guling atau koprol saat pakai jaket. Untuk yang mekanik repot juga kalau lupa turun motor nggak lepas harnesnya dulu. Bisa aktif airbagnya.

Semua airbag juga nggak bisa dipakai lebih dari sekali. Harus di refil atau di cekkan dulu ke dealernya. Nggak ada yang sempurna.

Iklan

One thought on “Baju rider yang dilengkapi dengan air bag pada saling bilang lebih bagus dari yang lain

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s