Standarisasi ECU di WSBK dilema antara sesuai kenyataan vs membuat semua motor setara, apakah fair bila motor aslinya lambat jadi cepat di balapan?


Penulis tertarik membahas ini setelah membaca berita soal kemungkinan besar disetujuinya standarisasi ECU di WSBK:
World Superbike Considering Spec-ECU, Officially

The various members of the Superbike Commission discussed whether a spec-ECU should be introduced for the 2018 season.

Dikatakan bahwa beberapa anggota dari komisi superbike mendiskusikan perlunya spec-ECU diperkenalkan untuk sesi 2018.

Alasan dari standarisasi ECU adalah karena balapan yang sekarang berat sebelah:
Will WorldSBK Introduce a Spec-ECU?

With Kawasaki and Ducati having shared all but four wins since the start of the 2015 season, there have been calls to grant other manufacturers some avenues with which to improve performance. The biggest reason for Kawasaki and Ducati dominating proceedings is manpower and resources. Regulating that all bikes run the same specification of electronics will close the gap but not eliminate it.

“Right now if you’re not on a green bike or a red bike you’re not going to win,” said Camier. “At the moment Yamaha, MV, Aprilia, BMW, and Honda all have good riders, but at best we’re really fighting for fifth or sixth position.”

4 kali kemenangan yang diraih oleh Kawasaki dan Ducati sejak 2015 membuat pabrikan lain merasa butuh bantuan untuk menyamakan performa. Alasan utama dari dominasi Kawasaki dan Ducati adalah di man power (teknisi) dan resources (duit dan R&D). Membuat semua motor pakai sistem elektronik yang spesifikasinya sama akan mengurangi gap tapi tidak menghilangkannya.

Kata Camier, sekarang ini kalau nggak naik motor hijau atau motor merah nggak akan bakalan bisa menang. Sekarang ini Yamaha, MV Agusta, Aprilia, BMW dan Honda punya pembalap yang bagus, tapi sebaik baiknya mereka mencoba menang, paling cuma bisa dapat posisi 5 atau 6.

Hambatan utama datang dari Kawasaki:

The biggest stumbling block to that would appear to be Kawasaki, which has said consistently in the past that electronic development is one of their key reasons for racing in WorldSBK. With electronic development restricted in MotoGP the only series that allows manufacturers to flex their mental muscles with software development is WorldSBK. It is one of the single-biggest reasons why Kawasaki races in the championship and puts huge resources into it. As a result, the Japanese manufacturer is against the series bringing in a unified electronics software package.

Dikatakan bahwa hambatan utama datang dari Kawasaki yang seringkali dibilang kunci kemenangannya adalah pengembangan sistem elektronik. Karena pengembangan sistem elektronik di MotoGP dihambat, maka satu satu nya seri lomba yang memungkinkan pabrikan untuk mengembangkan software adalah di WSBK. Ini adalah satu satunya alasan paling besar mengapa Kawasaki ikut balapan di WSBK dan investasi besar besaran. Sebagai akibatnya, pabrikan jepang ini menolak kehadiran software elektronik unified di WSBK.

 

Menurut penulis, yang menjadi keunggulan dari software yang tidak distandarkan adalah konsumen jadi bisa ikut merasakan teknologi yang sudah dimatangkan di dunia balapan. Pabrikan jadi punya tempat untuk mengembangkan teknologi yang bakal dipakai di motor jalanan. Teknologi semacam pengendali akselerasi, pengendali pengereman, pengendali tenaga, dst sangat membantu membuat motor kompetitif, dan enaknya konsumen bakal juga bisa merasakan kalau pabrikan merasa teknologinya bisa disertakan. Dan bisa dilihat bahwa motor Kawasaki banyak teknologi yang bersumber dari WSBK.

8 September 2015 Kawasaki set to unveil WSBK influenced Ninja ZX-10R for 2016

“This is not a “clean sheet” design as the current Ninja ZX-10R is such a good base to develop from”, commented Project Leader for KHI, Yoshimoto Matsuda. The input the KHI development team has received from the Kawasaki Racing Team, and riders, Jonathan Rea and Tom Sykes has created what we are sure many will feel is the most competitive and potent Ninja ZX-10R yet.

Pemimpin proyek dari KHI (Kawasaki Heavy Industry) Yoshimoto Matsuda mengatakan bahwa motor Ninja ZX-10R berpotensi untuk bisa dikembangan. Ia mendapat masukan dari tim balap Kawasaki dan dari pembalap pembalapnya Jonathan Rea dan Tom Sykes, sehingga yakin bisa bikin motor yang paling kompetitif dan berpotensi

Ninja ZX-10R 2017

The feedback from Kawasaki’s WSBK factory race machine and ongoing development research contribute to increased power and Euro 4 emissions compliance. The Ninja ZX-10R features a new front fork jointly developed with Showa in the WSBK championship.

Dikatakan bahwa masukan dari tim motor balap WSBK pabrikan Kawasaki dan r&d yang terus menerus memungkinkan peningkatan tenaga dan memenuhi batas emisi Euro 4. Ninja ZX-10R menawarkan fitur suspensi depan hasil kerja sama dengan Showa di balapan WSBK.

Kedua contoh diatas menunjukkan bagaimana Kawasaki mengembangkan mesin di WSBK dan mengimplementasikannya ke versi berikutnya dari Ninja ZX-10R.

Kalau ECUnya distandarkan rasanya ini tidak mungkin terjadi.

 

Tujuan memang bagus untuk penyelenggara. Standarisasi membuat balapan jadi bisa setara. Semua merek jadi punya kesempatan yang sama. Tapi menurut penulis sebagai pemakai motor, itu jadi justru nggak fair. Motor yang harusnya sistemnya unggul malah jadi nggak unggul. Motor yang harusnya kalahan, bisa jadi menangan.

Kalau performa motor di balapan nggak sesuai dengan performa di jalan, maka menurut penulis yang rugi itu konsumen. Yang bisa dinikmati konsumen mungkin cuma stikernya saja yang dimirip miripkan (seperti motogp). Dari sisi performa dan teknologi jadi tidak bisa ikut merasakan.

Kita coba pakai contoh nyata. Sekarang ini di ARRC yang unggul adalah Honda CBR250RR. Dari sisi performa di jalan memang sudah terbukti bahwa performanya hebat. tenaga 38hp berat 168kg.

Sebentar lagi bakal hadir motor sport Suzuki GSX250R. Tenaga cuma 25hp berat 181kg.

Di dunia nyata, performa maksimal dari Suzuki GSX250R bakal kalah jauh sama Honda CBR250RR. Tapi dengan standarisasi dan penyetaraan, maka motor GSX250R beratnya jadi sama dengan CBR250RR, dengan tenaga yang bisa jadi akan sama juga.

Apakah yang begitu itu fair? Apa untungnya bagi konsumen kalau motor aslinya di jalan tetap lambat?

Memang kalau untuk pemasaran bakal heboh banget. Salesnya bilang “Ini lho motor yang kencang di balapan”, padahal aslinya di jalan bisa dibantai sama motor yang lebih kecil.

Atau justru begitu yang konsumen inginkan? Nggak penting performa di jalan nggak sip, nggak perduli bahwa mesinnya sebenarnya biasa saja, nggak ada yang spesial, nggak mirip aslinya, yang penting dilabeli teknologi motor balap.

 

Aturan WSBK untuk ECU sekarang ini:
MotoGP vs World Superbike (WSBK) Differences Explained

MOTOGP vs WORLD SUPERBIKES DIFFERENCES
MOTOGP DETAILS WORLD SUPER BIKE
1000cc Displacement minimum 750cc / Max 1000cc
Four Cylender with max 81 bore Engine three or four cylender / four stroke, 2 cylender engine (max 1200cc)
158kg Minimum Weight 168kg
Prototype (highly midfield) Bike type Production based (available in market)
flexibility in chasis design and allowed the use of carbon fibre, titanium and magnesium alloys Chasis Designs must retain original production chassis constructions & designs very limited use of carbon firbre & titanium is allowed.
 Use standardized ECU & Software system supplied by Magentti Marelli Spec ECU and tuning restrictions Electronics used in superbikes are open and free available regulated by price during championship
Iklan

11 thoughts on “Standarisasi ECU di WSBK dilema antara sesuai kenyataan vs membuat semua motor setara, apakah fair bila motor aslinya lambat jadi cepat di balapan?

    • lebih murahnya relatif. karena jadinya harus menginvest biaya untuk ECU yang nggak bakalan kepakai untuk produksi masal. Atau malah bisa jadi nasibnya seperti Honda di Motogp, sampai sekarang nggak bisa beres beres nyetel ECUnya. Padahal biaya motogp nggak murah juga.

      Suka

  1. Penyeragaman ecu atau software ecu om?
    Mengingat wsbk harus menggunakan produksi massal yg beredar, sangat tidak tepat penyeragaman ini. Kalo motogp masih okelah krn motornya bukan untuk dijual, hanya pengembangan teknologi motor…

    Syarat motor yg bisa dipakai wsbk kan harus laku 1000unit lebih, dan menggunakan produk aftermarket yg dijual bebas.
    Masalah yg menang kawasaki atau ducati itu karena motor lama pasti part racing aftermarket udah banyak beredar. Di tahun mendatang bisa dilihat yamaha r1m atau honda rc213vs akan merajai, krn motornya pakai teknologi motogp, untuk sekarang mungkin belum ketemu part racing dan setting yg cocok.

    Suka

    • Kalau untuk memrogram rasanya tidak masalah disamakan yang penting bisa membaca / menulis semua tipe data. Software rasanya mengacu ke dalaman ECUnya.

      Iya, kalau dibuat seragam, softwarenya harus sangat banyak fiturnya. Masalahnya kalau terlalu banyak fiturnya jadi mirip windows, makin banyak fitur makin lambat. Beda dengan yang spesialisasi macam BSD, hardware lambat tapi tetap bisa cepat.

      Iya, membuat setingan atau part yang pas itu yang butuh waktu. Katanya juga yang lain nggak bisa kompetitif karena waktu uji cobanya kurang.

      Suka

    • Yang penting sebenernya pada softwarenya.
      Inget pada tahun 2014.
      Sudah make single ecu, tapi software by factory.
      Honda pada tahun itu make mesin screamer, forward rotating. Kalo softwarenya jelek, pasti dah liar banget motornya.
      Tapi 2014 mm93 begitu mendominasi.
      Sekarang software seragam, honda harus rubah ke big bang,backward rotating, karena saking strugglenya rcv

      Suka

  2. Electronics used in superbikes are open and free available regulated by price during championship

    udah d batasi ama harga, mau d batasi dengan ecu sama? emang d motor massal ecunya sama? ada yg pake MM, Bosch malah ada yang punya sendiri.

    klo mau kompetitif ya bikin motor massal yang bagus.., inget lho zx10r itu cuman ada 1 tipe doank sampe kmrn keluar versi rr single seater, suzuki 2 tipe, sedangkan honda ama yamaha berapa tipe tuh yang keluar?

    mv agusta sama ducati malah bikin motor khusus homologasi bukan pake produk massalnya malah

    Suka

    • Setuju. Iya, kalau distandarkan juga bisa malah menguntungkan satu pihak saja. Apalagi kalau software ecu nanti justru jadi harus pakai yang ketinggalan jaman. baru tahu motornya cuma satu jenis saja.

      Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s