Traction control itu ada kwnya juga, meningkatkan akselerasi vs cuma mencegah selip vs membahayakan, tapi mengapa di Xmax 250 dan 300 ada, di Xmax 400 malah nggak ada?


Kehadiran Traction control di Yamaha X-Max membuat penulis tertarik untuk membahas ini. Ada yang bilang bahwa traction control di Yamaha X-Max tidak ada gunanya:
Fitur Traction Control Di Skutik 250cc? Gak Perlu But Nice To Have!

Ya sebenernya kalau bicara keperluan alias perlu apa gak, butuh atau gak, wajib apa gak.. ya gak wajib, gak perlu, apalagi butuh.. wasted dan redundant! Mubazir! Cuma bikin jadi lebih Mahal doang. Untuk safety Lah kang..Lah Mau segede apa sih tenaga dan torsi dari sebuah skutik berkapasitas 250-300cc? Mau bakal sliding gitu kalau digenjot? Bakal tergelincir saat belok? Itu sih gimana rider nya wkwkw.. Persis kaya CBR250RR dikasih Throttle by Wire dan Riding mode.. gimmick doang!

Di sini penulis tidak membahas apakah perlu atau tidak, namun penulis akan membahas bahwa traction control system TCS itu kw nya macam macam serta penjelasan cara kerja TCS di Yamaha X-Max.

Penjelasan Traction control system TCS adalah sebagai berikut:
Traction control system, From Wikipedia, the free encyclopedia

A traction control system (TCS), also known as ASR (from German Antriebsschlupfregelung, engine slippage regulation), is typically (but not necessarily) a secondary function of the electronic stability control (ESC) on production motor vehicles, designed to prevent loss of traction of driven road wheels. TCS is activated when throttle input and engine torque are mismatched to road surface conditions.
Intervention consists of one or more of the following:

  • Brake force applied to one or more wheels
  • Reduction or suppression of spark sequence to one or more cylinders
  • Reduction of fuel supply to one or more cylinders
  • Closing the throttle, if the vehicle is fitted with drive by wire throttle
  • In turbocharged vehicles, a boost control solenoid is actuated to reduce boost and therefore engine power.

Typically, traction control systems share the electrohydraulic brake actuator (which does not use the conventional master cylinder and servo) and wheel speed sensors with ABS.

Dikatakan bahwa TCS dikenal juga dengan ASR. Biasanya merupakan fungsi tambahan dari ESC pada kendaraan yang fungsinya untuk mencegah hilangnya traksi pada roda penggerak. TCS diaktifkan ketika masukan gas dan torsi mesin tidak cocok dengan kondisi jalan.

TCS akan mencegah selip dengan melakukan hal berikut:
– mengerem satu roda atau lebih
– mematikan pengapian dari satu silinder atau lebih
– mengurangi semprotan bensin di satu silinder atau lebih
– mengurangi gas bila kendaraan dilengkapi throttle by wire
– mengurangi boost dari mesin yang dilengkapi turbo

 

Sebelumnya penulis sudah membahas bagaimana sistem rem ABS itu ada beda kw juga. Dari yang murahan ABSnya nyendat nyendat, sampai yang mahal yang ngerem sambil belok pun bisa mantap.
Rem ABS dari kebanyakan motor itu ternyata cuma kw 2 yang masih bisa jatuh kalau nggak hati hati, walau memang nggak separah ABS kw 3

Ternyata Kawasaki punya penjelasan lebih bagus yang menjelaskan perbedaan ABS kw2 (bisa saat tegak saja) dan ABS kw3 (ditambah nggak bisa maksimal), yaitu bagaimana reaksi ABS terhadap perubahan kecepatan. Kalau yang kw3 pengukurannya kasar sementara yang kw2 lebih halus (kw1 sudah pakai prediksi menikung juga).

Penjelasan Kawasaki juga menunjukkan beda antara traction control yang kw2 (cuma mencegah selip) dan yang kw1 (yang menjamin akselerasi optimal).

Dijelaskan bahwa sistem TCS kw1 dari Kawasaki menjamin bahwa ban berada di kemampuan grip yang optimal. Sehingga bisa tidak selip dan tidak sampai kurang tenaga. Sistem ini rasanya juga diterapkan di motor motor kencang pabrikan lain termasuk punya Honda, Kawasaki dan Suzuki.

Walau memang ada kasus dimana traction control system yang kurang canggih gara gara unified software kurang mumpuni di motogp membuat Honda terpaksa harus merubah mesin jadi bersifat seperti motor dua silinder, pakai big bang:
Motor MotoGP bagian 2: Pengaruh firing big bang vs screamer pada wheelspin dan wheelie .

 

Karena perkembangan teknologi dari TCS masih baru, ada juga kasus dimana TCS justru menimbulkan masalah. Seperti yang dialami oleh Petep berikut di Vespa GTS 300 FL.
300 GTS Super FL Traction Control – Useful or not?

I almost got cleaned up twice in two days when I took off only for the back wheel to lose power for a second which meant that the 4WD behind me caught up with me and had to hit his anchors. Wasn’t pretty, I can tell ya… So now I turn it off.

2015 GTS 300 FL Traction Control kicks in

Well, this morning I had my GoPro on. When I took off, the traction control kicked in, removed all power to the back wheel with such force that my head almost hit the flyscreen! Here’s the video of it – you can hear the control kick in, and see my head bob like a muppet… I wonder if I can get it permanently turned off??

PeteP mengatakan bahwa calam dua ia hampir dua kali disantap kendaraan lain ketika ban belakang kehilangan tenaga selama sedetik saat akselerasi. Mobil 4WD di belakang menyusul dia ia tertabrak bemper tanduknya. Pengalaman yang sangat tidak mengenakkan dan ia memilih untuk mematikan TCSnya.

Lalu di suatu pagi saat ia pakai gopro, saat akselerasi traction control menyala, menghilangkan semua tenaga di ban belakang dengan kuat sehingga kepalanya hampir terbentur windshield.

Videonya:

Yang seperti itu penulis anggap TCS kw 3. TCS yang responnya terlalu kasar. TCS yang nggak cuma mengurangi akselerasi saja tapi sampai bikin motor seperti ngerem.

 

Yang punya Yamaha X-Max 250 dijelaskan sebagai berikut:
Bedah Sepuluh Fitur dan Teknologi Unggulan Yamaha XMAX 250, Ada Apa Saja?

“TCS XMAX 250 ini generasi 1.5G, yang dibaca ECU adalah putaran mesin, kecepatan roda dan sistem injeksi. Ketika selip, untuk mengurangi tenaga maka ECU akan memundurkan ignition timing dan mengurangi semprotan bensin,” urai Ridwan Arifin, Staf Service Education PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM).

Disebutkan untuk mengurangi selip, jadi tidak untuk meningkatkan performa akselerasi. Jadi termasuk TCS yang kw2.

Penjelasan fungsi dari traction control di Yamaha X-Max 300 juga menyebutkan hal yang sama:
X-Max 300 Yamaha Kosovo

The X-MAX 300 comes with a Traction Control System (TCS) as standard equipment. This advanced electronic system prevents the rear tyre from losing traction by reducing drive to the wheel if the sensors detect any slip – giving added levels of confidence and feelings of safety on slippery surfaces.

X-Max 300 dilengkapi dengan perlengkapan standar TCS. Sistem elektronik canggih ini akan mencegah roda belakang traksinya hilang dengan mengurangi tenaga yang lari ke roda bila sensor mendeteksi selip, ini akan memberikan tingkat kepercayaan dan perasaan aman di permukaan licin.

 

Yang aneh Yamaha X-Max 400 justru tidak pakai traction control:

Spesifikasi Yamaha X-Max 300: Single cylinder, liquid-cooled, 4-stroke, SOHC, 4-valves, 20,6 kW @ 7.250 rpm, 29,0 Nm @ 5.750 rpm, 179 kg.

Spesifikasi Yamaha X-Max 400: Single cylinder, liquid-cooled, 4-stroke, DOHC, 24,5 kW @ 7.000 rpm, 36,0 Nm @ 6.000 rpm, 215 kg.

Bedanya ada di SOHC vs DOHC, torsi dan berat. Yang bikin nggak perlu traction control itu DOHCnya, torsinya atau beratnya ya?

 

Yang agak kurang jelas itu soal implementasinya. Penjelasan dari YIMM diatas katanya saat TCS bekerja maka semprotan bensin dikurangi. Sementara itu di grafik berikut dijelaskan semprotan bensin dihentikan:

Penjelasan berikut juga mengatakan suplai bahan bakar diputus.
Mengenal Traction Control di Motor

TCS 1.5G
Di Yamaha, TCS terbagi dalam 3 generasi: Generasi 1 (1G), Generasi 2 (2G) dan Generasi 3 (3G). Tapi pada Xmax, Yamaha mengadopsi Generasi perantara antara 1G dan 2G, yakni 1.5G. Artinya, TCS ini lebih canggih dari Generasi 1 tapi belum secanggih Generasi 2. Perbedaan tiap Generasi akan terjadi pada input dan outputnya.

Jika Generasi 1, TCS mengambil input hanya dari putaran mesin, Generasi 1.5 sudah menambahkan dengan perbedaan putaran roda depan dan belakang. Bila komputer pada Generasi 1 hanya mendeteksi jika ada putaran mesin dan roda penggerak tidak lazim, maka komputer akan memundurkan waktu pengapian agar tenaga menurun. Jika masih kurang atau ban tetap slip, maka suplai bahan bakar ke mesin akan turut diputus.

Tapi di Generasi 1.5, input terhadap selisih putaran ban depan dan belakang juga turut di deteksi. Jadi tidak hanya putaran mesin dan roda belakang yang tak lazim aja. Outputnya akan tetap sama, yakni memundurkan waktu pengapian dan memutuskan suplai BBM.

TCS 2 G
Sedangkan TCS 2G, outputnya lebih canggih lagi. Di generasi ini, Yamaha sudah mengadopsi throttle by wire alias tidak menggunakan kabel gas lagi untuk menggerakan throttle body. Jadi, saat putaran ban depan dan belakang terdeteksi berbeda, otomatis komputer turut mengatur bukaan throttle body lantaran sudah tidak terkoneksi lagi secara langsung. Pengendara tidak akan sadar kalau skep di throttle body menutup secara otomatis meski gas tetap dipelintir oleh pengendara.

TCS 3G
TCS paling canggih tentu ada di 3G yang saat ini baru diterapkan di Yamaha R1 M. Dimana input sudut kemiringan motor disertakan untuk memudahkan komputer dalam membatasi saluran tenaga ke roda belakang sehingga ban tetap mencengkeram dengan baik.

Dari demonya, TCS dari Yamaha X-Max 300 ditunjukkan sebagai berikut.

Saat standby:

Memang terdengar suplai bensinnya diputus. Jadi sepertinya yang benar bukan mengurangi semprotan bensin tapi menyetop.

Berikut saat diuji di jalan lumpur:

Terlihat bahwa TCS bisa banyak mengurangi selip tapi tidak sepenuhnya. Terlihat bahwa roda sebentar sebentar berhenti berputar pada saat selip saat diakselerasi saat masih berhenti.

Update:
Ternyata yang versi 2018 XMax 400 akan dilengkapi dengan traction control:

Mengapa kok harus menunggu yang versi 2018 ya?

Iklan

16 thoughts on “Traction control itu ada kwnya juga, meningkatkan akselerasi vs cuma mencegah selip vs membahayakan, tapi mengapa di Xmax 250 dan 300 ada, di Xmax 400 malah nggak ada?

  1. woi admin, kenapa sih ente saat komen di blog orang lain sering gak nyambung sama yang di bahas? udah sok tahu , sok pinter lagi, jadi kalau komen mohon yang nyambung ya.. sama kalau sedang membahas masalah seperti di judul sebisa mungkin coba benda yang anda bahas.

    Suka

    • Ini blog ilmiah cung….pake sumber buat pendukung opininya, beda pendapat itu oke asal ada dasar nya gak asal mangap, asal ngebacot, ini blog bisa buat referensi tugas2 anak kuliah, bisa jd literatur mahasiswa teknik cz lengkap disertai data. Lu puyeng cz banyak bahasa inggrisnya ya? Shg lu bilang admin sok pinter? He broo….ini mah biasa, diluar sono byk ilmu buat nambah khazanah keilmuan, liat tuh TMC jg sering pake literatur luar, bahkan pake kontributor dr luar semacam Manuel Pecino…sono TMC lu bilang sok tahu/sok pinter. Makin keliatan rendahnya etika komunikasi ama wawasan lu….skrg coba bikin sanggahan/komentar di blog ini pake nalar ilmiah/literasi..iso po ora?

      Suka

  2. Lama lama berkendara dgn spd motor jadi no fun n no pleasure… Semua diatur elektronik, lebih cocok buat yg baru belajar naik motor…
    Padahal ada ke-asyik-an tersendiri saat motor slip…. Lihat pembalap motogp melakukan rear wheel drift, atau slidding, atau wheelie, dan stoppie… Jadi kedepannya no soul riding motorcycle.

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s