Konsentrasi stearic acid dan oleic acid di beberapa minyak nabati sebagai friction modifier yang bisa meningkatkan film strength oli mesin


Selama ini penulis selalu menyarankan penggunaan minyak goreng / minyak kelapa sawit sebagai aditif oli mesin. Pilihan ke minyak kelapa sawit itu karena minyak kelapa sawit mudah didapat dan cukup murah. Selain itu minyak kelapa sawit juga satu satunya yang dianjurkan di forum malaysia bila ingin menggunakannya 100%:

 

Namun bila penggunaannya tidak 100%, bila hanya dipergunakan sebagai aditif saja, maka rasanya minyak kelapa sawit bukan satu satunya pilihan. Akan penulis bahas apa yang harus diperhatikan bila menggunakan bahan minyak nabati yang lain.

Sebelumnya penulis sudah membahas bagaimana minyak nabati itu diketahui punya daya pelicin lebih baik daripada oli mesin dari bahan minyak bumi atau gas alam. Ini juga diakui oleh akademisi, seperti misalnya yang disebutkan di materi kuliah pelumas di teknik kimia UI:
PELUMASAN DAN TEKNOLOGI PELUMAS (Dosen Sukirno), DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA FT-UI

On the positive side, vegetable oils can have excellent lubricity, far superior than that of mineral oil.

Dikatakan bahwa di sisi positifnya, minyak nabati punya daya lumas yang sangat baik, jauh lebih baik daripada oli dari bahan minyak bumi atau gas alam.

Ini pernah penulis bahas di artikel berikut:

 

Menurut penulis kandungan dari minyak nabati yang bisa mempengaruhi daya pelicin terutama adalah oleic acid dan stearic acid. Keduanya di sebutkan pada referensi berikut soal pengaruh friction modifier oli mesin:
FRICTION MODIFIER ADDITIVES, Hugh Spikes, Tribology Group, Imperial College London, UK

Chapter 5: Tribological behavior of C18 fatty acids blended in PAO 4

Di kedua referensi tersebut diperlihatkan bahwa penambahan linoleic acid, oleic acid dan stearic acid bisa meningkatkan daya licin / film strength oli secara signifikan. Dimana hasil terbaik diperoleh dari stearic acid. Di referensi terakhir ditunjukkan hasil terjelek adalah dari linoleic acid.

 

Di minyak kelapa sawit, berikut konsentrasinya

Linoleic acid kode kimianya C18:2. Oleic acid kode kimianya C18:1. Stearic acid kode kimianya C18:0.

 

Berikut kandungan dari minyak nabati yang lain:

Di situ terlihat bahwa konsentrasi dari macam macam minyak nabati berbeda beda. Dari grafik pertama, minyak kelapa sawit dua kali penyaringan (yang disarankan penulis) dicantumkan sebagai palm superolein, punya kandungan stearic acid 3,8%, kandungan oleic acid 45,1%, kandungan linoleic acid 13,4%. Sebagai perbandingan, minyak zaitun (olive oil) punya kandungan stearic acid 2,9%, kandungan oleic acid 74,6%, kandungan linoleic acid 8,4%.

Yang beda sendiri itu minyak jarak (castor oil), ada kandungan ricinoleic sebesar 81,1%, selain itu kandungan stearic acid 1,1%, kandungan oleic acid 3,6%, kandungan linoleic acid 5,6%. Sayangnya penulis tidak punya referensi seberapa bagus efek ricinoleic sebagai friction modifier.

 

Dari sisi kekentalan minyak nabati biasanya lebih encer. Sayangnya penulis masih belum menemukan data kekentalan dari beberapa minyak nabati diatas. Untuk minyak kelapa sawit, ada data sebagai berikut:

Typical properties SAE 20W40 Palm oil
Specific gravity @ 20°C 0.855 0.865
Kinematic viscosity, cSt @ 40°C 120 40.24
Kinematic viscosity, cSt @ 100°C 14–16 7.89
Viscosity index, 110 188
Flash point, °C 220 280
Pour point, °C -21 9

Sebagai perbandingan berikut data spesifikasi Mobil 1™ 0W-20

Mobil 1 0W-20  
SAE Grade 0W-20
Viscosity, @ 100ºC, cSt  (ASTM D445) 8.7
Viscosity, @ 40ºC, cSt  (ASTM D445) 44.8
Viscosity Index 173
Flash Point, ºC (ASTM D92) 224

Minyak kelapa sawit masih lebih encer dari oli mobil 1 yang 0W20 sekalipun. Viscosity index juga lebih tinggi. Tapi anehnya saat dipakai di motor suara mesin jadi lebih halus. Padahal biasanya kalau oli lebih encer maka suara mesin lebih kasar. Ini menunjukkan bahwa film strength dari minyak kelapa sawit itu bagus.

Untuk castor oli penulis bahas di artikel berikut:
Walau castor oil itu dari bahan nabati, ternyata beda dari yang lain dan aslinya tidak boleh ditambahkan ke oli mesin biasa

Iklan

17 thoughts on “Konsentrasi stearic acid dan oleic acid di beberapa minyak nabati sebagai friction modifier yang bisa meningkatkan film strength oli mesin

  1. banyak yg masih ragu soal penambahan minyak goreng sbagai aditif oli,,
    mngkin mereka tidak melek internet,,
    pngLaman brtahun tahun pakai fastron hijau+ minyak goreng,,tarikan motor enteng,transmisi halus,masa pakai 5000km,,mesin tdk kasar walau habis dipakai kencang,,

    Suka

    • Fastron hijau itu kaya gimana ya? Saya mau dipake di Suzuki GSX R150. Sama minta langkah-langkah penerapannya juga dong …

      Suka

      • fastron techno hijau..beli di toko oli mobil,,,
        itu oli mobil,,75ribu/botol..
        GSXR oli 1,3lt…fastron 1lt+minyak goreng sunco/bimoli(minyak sawit)300ml..kira2 1,5 aqua gelas..

        Suka

        • Beli fastronnya dua aja berarti ya? Kalau maks 10% berarti nambahnya 100 ml gpp?

          Sama kalau sisa yg belum dipakai dari fastron itu nanti dipakai pas ganti berikutnya gapapa kah? G akan ‘basi’ atau sebagainya?

          Suka

      • bantu jawab, fastron hijau = pertamina fastron techno 10W40. Kalau mau coba aditif minyak goreng bisa dari saat oli masih fresh atau sudah terpakai. Ditambah atau di paskan sesuai kapasitas mesin, campuran minyak kelapa sawit maksimal 10%.

        Suka

  2. Untuk penambahan minyak goreng di motor mio j ane bagusnya gimana min?

    Oli 800 ml murni + 5% minyak jadi 800.05 ml
    Atau
    Oli 800 ml tapi sudah dicampur minyak?

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s