Memasang ban dengan arah kembangan terbalik itu lebay dan nggak aman kalau hujan


Penulis jadi tertarik membahas ini karena saat sedang membahas motor Kawasaki Z125 melihat ada yang janggal.

Bisa melihat apa yang janggal di gambar tersebut?

Di gambar tersebut ban belakang arahnya normal, sementara ban depan arahnya terbalik.

Bisa terlihat lebih jelas bila di lihat dari depan atau belakang:

Kembangan ban sama sama mengarah ke atas padahal arah pandangnya berlawanan. Di Z250 tidak begitu:

Pemasangan ban sepertinya standar begitu untuk semua negara:

 

Penulis juga menjumpai pemasangan ban arah terbalik di motornya Masaru Abe yang memecahkan rekor dunia untuk wheelie:
Hebat banget Masaru Abe bisa wheelie 500km selama 13 jam pakai motor matik

 

Apa alasannya ya?

Keunggulan pemasangan ban secara terbalik disebutkan sebagai berikut:
Efek Memasang Ban Rotasi Terbalik

Ada teori dari Chandra Alim, pebalap nasional, seputar rotasi berlawanan. “Kondisi rotasi di balik dapat membantu pengereman lebih pakem,” ujar Chalim, sapaan akrabnya. Informasi tersebut didapat dari mekanik saat mengikuti Australian Touring Car Championship pada 1990-an.

Teori tersebut bisa dilakukan pada mobil penggerak belakang dengan tenaga yang besar. Itu pun hanya berlaku untuk ban depan saja. “Karena saat dibalik menimbulkan efek lebih mencengkram saat di rem. Dengan begitu jarak pengereman bisa lebih dekat,” ungkap Chalim. Tetapi, lanjutnya teori ini tidak berlaku untuk mobil gerak roda depan karena sebagai pusat traksi di mana tempat beban berkumpul.

Kontroversi Alur Ban Terbalik, Roda Depan Boleh Ke Mana Aja?

“Biasanya itu ditemukan di ban-ban motor sport berkapasitas besar buatan luar negeri. Misalnya, Pirelli atau Dunlop,” ujar Risa, Manajer Marketing PT Suryaraya Rubberindo, produsen ban FDR.

Untuk menjelaskan kenapa roda depan motor sport kapasitas besar mengaplikasi ban dengan alur terbalik, baik Dodi dan Risa sepakat, itu benar. Ini ada penjelasan secara teknisnya. Karena fungsinya justru pada saat mengerem, berdasarkan teori, dengan arah terbalik, grip roda depan justru menguat. Jadi, jarak pengereman makin bagus, dan tetap stabil.

“Teorinya, saat mengerem, walaupun arah roda tetap bergerak ke depan, tapi, akibat pengereman agak gerak ke belakang sebagai kontranya. Ini berarti ada tenaga yang diterima oleh roda belakang. Makanya, dengan alur coakan terbalik, gigitan dan grip ban makin baik. Tapi, ban belakang tidak boleh dibalik,” kata Dodi dan Risa lagi.

Jadi pemasangan ban terbalik itu gunanya untuk meningkatkan daya pengereman ban depan. Cara ini tidak bisa diterapkan di ban belakang. Berikut ada contoh di Kawasaki Z1000.

 

Namun pemasangan terbalik ini ada kelemahannya. Yaitu waktu hujan:
Efek Memasang Ban Rotasi Terbalik

“Langkah tersebut tidak dibenarkan terlebih saat melintas di lintasan yang basah. Karena dapat menyebabkan adanya aquaplanning berlebihan sehingga dapat menghilangkan stabilitas,” jelas Adang. Apalagi, lanjutnya, kecepatan berada di atas 40 kpj. Sebab, kembangan ban sudah didesain untuk membuang air. Dengan kondisi terbalik maka fungsinya berubah menjadi menampung air. Akibatnya air akan berkumpul dan membentuk lapisan air antara ban dengan aspal.

Lain halnya ketika digunakan pada lintasan kering. “Efeknya, suara gesekan ban lebih berisik dan kembangan ban lebih cepat habis,” papar Adang. Stabilitas, menurutnya tidak terlalu berpengaruh.

“Jangan sekali-sekali melakukan saat lintasan basah karena akan mengurangi stabilitas cukup besar dan bisa sangat berbahaya karena mobil kehilangan kontrol. Saya melakukan ini hanya untuk di lintasan balap, tidak di jalan raya,” tegas Chalim.

Kontroversi Alur Ban Terbalik, Roda Depan Boleh Ke Mana Aja?

Menurut Dodiyanto, coakan berfungsi untuk membuang air atau kotoran. “Sehingga saat melintas jalan basah atau berpasir, roda masih menggigit. Biasanya, alur coakan tadi untuk membuang kotoran atau air ke luar jalur ban,” jelas pegawai PT Gajah Tunggal, produsen ban IRC bagian New Product Development itu.

 

Jadi menggunakan ban dengan kembangan terbalik itu berbahaya. Penjelasannya sebagai berikut:
Pilih Ban Berdasarkan Kembangan

“Bila alur ban semakin banyak tentu akan lebih bagus untuk membuang air. Bedanya hanya arah buang airnya saja. Ban dengan garis tengah akan membuang air ke belakang. Sedangkan ban kembangan yang berakhir di bibir ban, akan membuang air ke samping,” tambahnya.

Menurut penulis itu masuk akal. Karena dengan kembangan arah normal, maka air yang ada di tengah ban akan diarahkan ke samping oleh kembangan. Sementara itu bila dipasang terbalik maka air akan diarahkan ke tengah. Air yang mengumpul ke tengah ini akan menyebabkan aqua planning dan membuat ban jadi serasa melayang atau geser sendiri.

Penulis pernah merasakan ban yang kembangannya ngaco seperti ini dan rasanya ngeri banget waktu hujan. Nggak dibelokkan bisa geser geser sendiri kalau jalan agak kencang. Padahal saat pakai ban yang pemasangannya arahnya benar dipakai kencang nggak terasa seperti itu.

 

Menurut penulis nggak ada gunanya pasang ban dengan arah kembangan terbalik. Klaimnya bisa bikin grip pada saat pengereman lebih baik. Tapi kalau di motor yang lebih berpengaruh adalah kemampuan ridernya. Dan menurut penulis banyak rider yang skill pengeremannya kurang atau cara pengeremannya salah.

Sepertinya kebanyakan ngerem nggak berani nekan keras karena takut jatuh, karena mereka ikut aliran kalau ngerem yang depan dulu. Jadi percuma pasang kembangan terbalik karena mereka nggak pernah memanfatkan grip ban secara maksimal.

Pemasangan ban depan terbalik juga nggak akan membantu saat panik. Bila mereka nekat ngerem yang depan dulu saat panik, saat ban depan terkunci tetap bakal ndelosor walau ban dipasang terbalik.

Apalagi dalam situasi jalan basah. Dipakai jalan motor nggak akan stabil. Dipakai ngerem justru makin lebih cepat hilang gripnya. Bahaya jadi meningkat. Bila ban terasa kurang grip maka lebih baik beli ban yang punya grip lebih baik daripada pasang ban secara terbalik.

Pasang ban secara terbalik itu lebay karena manfaat sangat kecil dibanding dengan kerugiannya. Lebay dan bahaya.

Tapi ada saja ban yang terlihat kembangannya seperti terbalik tapi sudah dirancang untuk hujan juga. Jadi perhatikan betul rekomendasi pabrikan. Kalau motor bakal dipakai harian maka sebaiknya pilih ban yang bisa untuk jalan basah.

Mungkin acuan bisa dilihat dari bagian yang menapak jalan bila motor tegak. Bisa dilihat di contoh ban Pirelli Diablo Rosso Corsa berikut:

Terlihat bahwa walau pada bagian tengah ada alur yang mengarah ke tengah, di sebelumnya ada alur yang mengarah ke samping. Sementara itu kembangan dengan arah berlawanan lokasinya ada di bagian luar ban yang mestinya cuma kena pada waktu menikung saja. Pada saat menikung air akan dibuang ke luar tikungan, bukan ke dalam.

Tapi bingung juga lihat pola ban bidgestone:

Maaf penulis nggah pernah merasakan pakai moge dengan kembangan terbalik saat hujan. Barangkali ada yang bisa share? Yang kembangan di bagian yang napak jalan mengalirnya ke dalam?

Iklan

18 thoughts on “Memasang ban dengan arah kembangan terbalik itu lebay dan nggak aman kalau hujan

  1. pemasangan trbalik untuk harian itu ya ngawur,
    memang bnyak orang kebanyakan lebay,,udah gk tau tehnik mengerem yg benar,,eh,,alur ban dibalik pula.
    knyakan jg rider motor sport kyak gitu gk ngrti thortle bliping,,,turun gigi cklak nggung,,cklak nggung,,pdahal yg bener kan ngung clep,,ngung clep,,,

    Suka

  2. Ban2 eropa bgtu.
    Ane pake pirelli angel ct buat bebek stadar jga kebalik. Ane gk sreg, ane balikin melawan rotasi (jadi huruf V tampak depan).
    Kemerin bru pasang jga micelin moto gp buat metik 14″. Kembang depn jga kebalik. Tpi kata mekaniknya, memang bgtu alur nya. Aman ko pa.

    Yg psti pas pake pireli buat bebek, posisi V lebih enak ngikutin jalan. Klo posisi alur ban A, sperti terlalu bnyk gesekan karena alur bertntangn dngn jalan.
    Yg micelin baru 1 hri pake. Blum kerasa efek

    Suka

    • Terima kasih sharingnya. Wah, berarti ada yang didesain begitu tapi bikin ban berisik ya? Di desainnya apa juga memperhitungkan ban dipakai di jalan licin macam di Indonesia ya?

      Kalau sudah sempat merasakan di jalan basah, bisa share juga? terima kasih.

      Suka

      • Ya itu pirelli angel kn bkin di Indo. Harusnya sudah sesuai dngn segala karakter jalan di Indo.
        Klo micelin gp, buatan Thai.
        Tpi kemrin kn launching besar2an di Indo. Beratti jga sdah disesuaikn dngn karakter indo.
        Jalan basah ya ane lebih ke defense. Apapun ban nya, ya ane sendiri yg hati2.

        Suka

        • Iya, saya bingung juga. saya coba cari cari ada komentar berikut, tapi pasang yang depan pakai V:
          Pirelli Angel CiTy Motorbike Tires – Review

          Great Wet Handling too!

          We live in Malaysia and we have rain that happens suddenly even during dry hot season. In Malaysia, when it rains, it pours – and that was exactly what happened after day 3 of the tire change. The Pirelli lives up to it’s name on the wet as well. While this is NOT their top end motorbike tires, the rubber compound provides great grip in the wet over heavy rain and I was riding with a lot of confidence even through corners and roundabout in the wet. I would say this rubber compound provide good grips and assurance both wet and dry!

          Yang menarik, biasanya ban dijejer itu menunjukkan arah ban saat menggelinding ke arah kita. Seperti berikut ini:

          Tapi yang angel kok begini?

          Suka

  3. sy pernah pakai ban ke balik ga sengaja (tukang ban teledor) lebih dari setahun, ban belakang merk corsa di scorpio, ini motor dan bannya udah turing ke solo jogja, cilacap dsb dari jakarta dan ‘ga masalah’, bahkan lebih ngegrip dibanding ban irc standar ninja 250 yg ngesot2 parah waktu turing bareng lewat pegunungan n hujan deras… don’t try this at home 😀

    Suka

      • Teman saya yang matic itu juga pas hujan justru nempel banget pas belok. Padahal sesama beat 2010. Pas belok yg dia kaya full grip. Sedang yang saya? Ngesot berkali-kali ban depan, tapi untung masih selamat.

        Itu kenapa saya minta pembahasan ini, ternyata pabrikan bilang ga efek y.

        Suka

        • Terima kasih banyak sharingnya. Ngeri juga ya.

          Yang saya pernah bandingkan sih yang antara kembangan kotak dengan yang V. Yang V dipakai top speed pun nggak masalah asal air nggak terlalu tinggi (jadi seperti nabrak pasir). Nggak kebayang kalau yang kembangan kotak saja bisa bikin motor geser sendiri padahal cuma 70kpj, yang A bakal serasa melayang mungkin.

          Jadi saya lebih cenderung pakai mode A berbahaya di jalan berair.

          Klaim dari testernya begini:
          ATA Testing on Directional Tires Published

          ATA Associates’ paper “Effect of Directional Tires on Wet Traction” was recently published by Rubber and Plastic News in their July 27th 2009 Technical Notebook.

          The study was litigation related and designed to test reversed rotation with regard to wet braking and wet lane change. At issue in Poole v. Pep Boys (No. 06-03657-E, District Court of Dallas County, Texas 101st Judicial District) was the claim that improper mounting of a directional tire was responsible for an unfortunate motor vehicle accident.

          “ATA performed straight-line braking tests and lane change maneuvers with various brands of tires and plotted the trajectory of the vehicles. Testing at the site and two additional testing locations revealed no significant decrease in performance associated with directional tires and wet surface handling,” according to Swint. The paper further addresses hydroplaning, tread depth and pattern, as well as the coefficient of friction of road surfaces.

          Yang agak meragukan, pengujian dilakukan untuk menyanggah tuduhan dari pengadilan bahwa pemasangan roda terbalik menyebabkan celaka.

          Suka

  4. wkt masih pake njmx”11 alur terbalik yg roda depan ga da masalah sih yg ane rasain wkt jalan masih basah, cornering kec 100 kph ban depan tetep ngegrip, cm ban belakang rada ngesot dikit ( ban depan belakang pake Michelin pilot street ukuran standar njmx)

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s